logo ppid

Perkembangan dunia kemaritiman di dunia saat ini berkembang cukup pesat, salah satu fokus dunia saat ini adalah sustainability technology dimana setiap negara berlomba-lomba untuk meminimalisir waste dari produk yang dihasilkan serta berupaya memaksimalkan hasil yang dapat diperoleh dari sistem atau produk tersebut. Saat ini, Port of Rotterdam menggunakan konsep fully automated vehicle dimana sistem itu mampu meminimalisir waste hingga menyentuh angka 0 dan meningkatkan produksi hingga 40%. Selain belanda, berbagai negara telah mengembangkan new and renewable energi dari sisi kemaritiman seperti penggunaan pembangkit listrik tenaga angin offshore, tenaga arus, tenaga gelombang, pasang surut dan potensi lainnya. Mengingat teknologi kemaritiman adalah hal yang cukup luas, maka tidak salah jika fokus dunia saat ini adalah sustainability

Di sektor perikanan, Salah satu pilar dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia adalah dengan mengenbangkan industri perikanan tangkap dan melihat betapa besarnya potensi laut kita jika didukung dengan perkembangan teknologi dan manajemen yang baik. Bukan tidak mungkin Indonesia akan berjaya sebagai negara penghasil ikan. Secara global, teknologi dalam pemanfaatan sumber daya perikanan telah banyak dikaji dan diterapkan. Sebagai contoh, di kapal dan alat penangkapan ikan, baik dari segi desain dan konstruksinya, banyak pengembangan ke arah yang lebih efisien, tentunya meminimalisir dampak lingkungan yang mungkin timbul. Kemudian berbagai teknologi untuk mengurangi waktu pencarian atau perburuan ikan, juga telah banyak diaplikasikan. Sebagai contoh, penggunaan alat pendeteksi ikan dan alat pengumpul ikan. Mengingat kesegaran ikan juga sangat penting, pengembangan teknologi dalam rantai pemasaran ikan juga terus dilakukan.

Lebih lanjut, perkembangan teknologi kemaritiman saat ini di Indonesia sudah cukup baik, namun masih ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan. Salah satu masalah yang butuh perhatian serius adalah Indonesia saat ini belum memiliki badan atau program yang dapat mengkoordinir para researcher baik yang bersifat akademik maupun swasta untuk dapat mengintegrasikan hasil penelitian mereka ke dalam suatu sistem yang dapat menghasilkan suatu solusi nyata untuk Indonesia. Saat ini masing-masing researcher jalan sendiri-sendiri tanpa framework ataupun mekanisme yang dapat mengintegrasikan penelitian mereka. Padahal banyak penelitian-penelitian dari Indonesia yang sangat menarik untuk dikembangkan. Salah satu contohnya adalah DR. Ir. Wisnu Wardhana, beliau melakukan penelitian mengenai Crocodile-Hydrofoil (KPC-H) yang dimana kapal tersebut memiliki 3 mode yaitu katamaran hingga menjadi semi sub-marine tetapi sayangnya sampai saat ini belum ada informasi lebih lanjut mengenai project tersebut. Ada juga dari IPB yaitu aerovi yang merupakan remoted robot untuk di bawah air, lagi-lagi informasi terakhir yang didapat tahapan development nya hanya sampai tahap prototype. Oleh , Indonesia membutuhkan badan/program koordinator yang dapat mengintegrasikan hasil karya penelitian para researcher (baik yang bersifat akademik maupun swasta) menjadi suatu framework yang dapat menghasilkan karya nyata, selain itu produk tersebut dapat dikomersilkan sehingga bisa memberikan pride bagi bangsa dan negara dan mengukuhkan posisi Indonesia di dunia kemaritiman

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan Indonesia untuk menjadi pemenang di persaingan dunia kemaritiman dunia. Hal yang pertama adalah data. Indonesia harus memiliki pusat data yang aktual, komprehensif, dan accountable sebagai sumber penelitian. Yang kedua adalah pendidikan, pendidikan diperlukan untuk melahirkan para ahli dari berbagai bidang untuk mendukung kesuksesan bidang kemaritiman Indonesia. Karena kemaritiman adalah bidang yang sangat multi disiplin sehingga kita tidak bisa berpangkuh pada satu ahli saja, kita membutuhkan para ahli untuk saling bekerja sama satu sama lain dan diharapkan dapat menghasilkan produk yang sustainable. Dan faktor yang paling penting adalah dukungan seluruh warga Indonesia, khususnya para pemuda yang dimana memiliki tanggung jawab untuk membawa masa depan Indonesia di persaingan global dunia kemaritiman

Menurut data terakhir dari FAO menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua setelah China sebagai negara penghasil ikan terbesar di dunia. Namun, produktivitasnya tidak selaras dengan jumlah kapal yang kita miliki. Kalau diari segi per unit kapal, produktivitas kapal-kapal di Indonesia hanya mencapai 2,3 ton per kapal. Nilai ini jauh di bawah kapal-kapal yang dimiliki oleh negara-negara di Eropa dan Amerika Utara yang mencapai 20 ton per kapal. Permasalahan utamanya adalah persentase terbesar armada penangkapan ikan di Indonesia adalah kapal-kapal kecil dengan teknologi yang relatif sederhana. Sebagai gambaran, data tahun 2014 menyebutkan bahwa di Indonesia sebanyak 643 ribu kapal penangkapan ikan, 90% dari jumlah tersebut adalah kapal kecil yang berkapasitas kurang atau sama dengan 3 gross kubik. Dari keseluruhan kapal-kapal di Indonesia, 70%nya sudah menggunakan motor penggerak, namun karena kapasitasnya yang kecil, daya jelajahnya juga sangat terbatas. Selain itu, mesin yang digunakan adalah mesin darat yang dimodifikasi menjadi mesin laut, yang tentu saja performanya berbeda. Sementara itu dari sisi alat tangkap, banyak kapal yang masih menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, sebagai contoh alat tangkap yang tidak selektif, merusak ekosistem laut, serta menggunakan bahan peledak. Kemudian dari sisu pengawetan dan penyimpanan hasil penangkapan sebagian besar masih tergantung pada es balok dan garam, bahkan masih banyak yang tidak mengaplikasikan sistem pendingin sama sekali. Dengan kondisi seperti itu, kesegaran dan kualitas ikan tentu saja tidak terjamin, apalagi kapal beroperasi dalam jangka waktu yang lama.

Dengan sumber daya perikanan yang kita miliki saat ini, potensi untuk memanfaatkan sebesar-besarnya laut kita masih terbuka luas. Hanya saja, diperlukan beberapa langkah. Di antaranya adalah:

  1. Pengelolaan perikanan tangkap yang bertanggungjawab.
  2. Peningkatan teknologi penangkapan ikan, termasuk kualitas dan kapasitas armada penangkapan ikan
  3. Peningkatan SDM, termasuk pelaku usaha perikanan.

Beberapa usaha pemerintah yang telah dilakukan untuk mengembangkan industri perikanan tangkap di Indonesia adalah:

  1. Pemberantasan ilegal fishing, seperti yang kita lihat bagaimana keseriusan Kementerian Kelautan dan Perikanan mengatasi hal ini.
  2. Pengadaan armada penangkapan ikan yang lebih modern.

Sejak 2010 pemerintah telah membangun dan menghibahkan kapal-kapal berukuran 5-30 PT kepada kelompok-kelompok nelayan di seluruh Indonesia.

Beberapa teknologi telah dikenalkan melalui program ini. Di antaranya:

  1. Penggunaan fiber glass sebagai pengganti kayu untuk bahan kapal.
  2. Penggunaan alat pendeteksi ikan dan GPS.
  3. Penggunaan solar panel untuk kelistrikan di kapal.
  4. Penggunaan marine engine yang memang khusus untuk penggunaan di kapal.
  5. Serta yang masih dalam pengupayaan pengembangan saat ini adalah mengkonversi penggunaan solar atau bensin ke penggunaan LPG.

Semua langkah-langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas perikanan tangkap di Indonesia.

Keterlibatan SDM khususnya pelaku usaha perikanan, termasuk nelayan, dalam hal ini adalah sangat penting. Kesadaran mereka untuk menjaga keberlanjutan perikanan dan kemampuan mereka dalam mengadopsi teknologi yang dikenalkan, akan memuluskan langkah menuju perikanan tangkap yang berdaulat.

Momentum Hari Maritim Nasional ini hendaknya kita jadikan sebagai alat pengingat dan penyemangat kita sebagai bangsa maritim. Bahwa Tuhan telah menganugerahkan begitu besar kekayaan laut kepada kita,termasuk perikanan. Sekarang semuanya kembali kepada kita, bagaimana kita dapat memanfaatkan kekayaan tersebut sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat Indonesia demi kemajuan industri perikanan sebagai salah satu pilar maritim Indonesia.

Mari bersama-sama membangun Indonesia sebagai kekuatan maritim dunia karena laut adalah masa depan bangsa.


Selamat Hari Maritim Nasional, Jayalah terus Indonesia

Jalas Veva Jayamahe

 

Narasumber :

Vita Rumanti Kurniawati, Ph.D. Candidate (School of Marine Science and Technology; Newcastle University)

Andre Prakoso Djojokusumo, Master Candidate (Hydraulic Engineering, Ports and Waterways; TU Delft)

Estonia, Teknologi advanced manufacture forming merupakan teknologi perangkat kemiliteran yang mulai berkembang semenjak zaman revolusi industri sampai era-milenium. Berkembangnya teknologi memberikan peluang untuk meningkatnya kwalitas perangkat kemiliteran.

Agus Pramono Pelajar asal Indonesia di Tallinn Institute of Technology Estonia saat ini sedang fokus melakukan kajian pengembangan teknologi kemiliteran ini. Candidate PhD mechanical enginering ini berpendapat, pengembangan teknologi perangkat kemiliteran mulai berevolusi ketika ditemukanya teknologi tekanan tinggi oleh ilmuwan Russia Vladimir Segal pada tahun 1980-an yang dikenal dengan Equal Channel Angular Extrusion (ECAE).

Pada tahun 1990-an Ilmuwan Russia lainnya, Ruslan Z. Valiev menyempurnakan dan menerapkannya pada industri dengan nama Equal Channel Angular Pressing (ECAP) hingga menjadi produk perangkat militer dari senjata maupun peralatan kendaraan tempur.

Teknologi ini merupakan revolusi teknologi yang telah menyempurnakan teknologi konvensional seperti proses tempa, rolling, ekstrusi maupun drawing. Sedangkan teknologi lain Self-propagating High-temperature synthesis (SHS) yang dikembangkan oleh Alexander Merzhanov untuk melengkapi teknologi pada aplikasi yang mengarah ke aplikasi senjata dan mesiu.

Military Application

Military Application

Selain untuk Aplikasi perangkat kemiliteran di Eropa perusahaan seperti Metallicum telah mengkhususkan diri dalam logam berstruktur nano. Saat ini teridentifikasi lebih dari 100 pasar khusus untuk nano-metals dalam bidang aerospace, transportasi, peralatan medis, pengolahan produk olahraga, makanan dan bahan kimia serta bahan bahan piranti elektronik.

Menurut Agus, pada penghujung akhir tahun 1999 ilmuwan Jepang Nobuhiro Tsuji mengembangkan teknologi advanced manufacture forming serupa yaitu metode Accumulative Roll Bonding (ARB), Teknologi ini lebih efektif dan efisien karena tidak membutuhkan perangkat dan cetakan yang mahal.

“Aplikasi dari teknologi ARB lebih mengarah pada spare part body tank, pesawat tempur maupun kendaraan lapis baja berkekuatan tinggi, pada eksperimen terakhirnya,” jelas Agus yang juga merupakan ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di negara tempat Ia belajar.

Dalam temuannya Tsuji telah menggunakan bahan aluminium dan baja, hanya saja teknologi ini masih memiliki keterbatasan. Untuk menghasilkan kekuatan tinggi maka proses harus dilakukan berulang bahkan sampai puluhan kali.

Penemuan teknologi perangkat kemiliteran oleh Tsuji masih menggunakan bahan logam aluminium dan sejenisnya. Cara kerjanya dengan pengulangan roll mencapai 10 kali sedangkan untuk bahan baja industri pengulangan mencapai 16 kali.

Pada tahun 2015 Agus melalui research-nya dengan metode Repetitive Press-Roll Forming (RPRF). Cara kerja metode RPRF tidak memerlukan pengulangan hingga berulang kali.

Agus yang juga merupakan Staf Pengajar di Fakultas Teknik Metalurgi Universitas Tirtayasa Banten ini sudah banyak melakukan eksperimen tentang pengembangan teknologi mulai dari ECAE, ECAP, SHS maupun ARB.

Application of SPD

“Ide RPRF diawali dari keterbatasan proses pada eksperimen ECAP, ARB dan SHS. Untuk menghasilkan kekuatan tinggi diperlukan penekanan maupun laluan siklus ekstrusi ataupun rolling berkali-kali, dengan menggunakan multiple aksial-pressing, perangkat mesin RPRF mampu mensintesa bahan logam dan komposit,” jelas pria yang hobi bermain musik ini.

Hasil dari Rancangan alat RPRF ini telah dipresentasikan di beberapa kegiatan Persatuan Pelajar Indonesia di Eropa dan Russia, diantaranya; di Helsinki pada 24 Januari 2015 dalam Forum Berbagi Ilmu yang ditayangkan secara on-line oleh PPI Finlandia, Simposium PPI Kawasan Amerika dan Eropa di Moscow, Rusia.

Menurut Agus, Indonesia perlu menetapkan secara jelas standarisasi, spesifikasi, dan perangkat kemiliteran sesuai dengan sektor pertahanan (darat, laut dan udara). Selain itu, kecakapan personil TNI berupa keahlian dalam perangkat kemiliteran perlu dimaksimalkan lagi.

Gus Pram sapaan ketua PPI Estonia ini tidak asing bagi rekan-rekan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia (PERMIRA) karena disela sela kesibukannya sebagai mahasiswa doktoral dan sebagai ketua PPI di Estonia, Gus Pram cukup aktif mengisi kegiatan-kegiatan PERMIRA.

Nordic-Baltic Simposium

Nordic-Baltic Simposium

Materi terkait teknologi hasil inovasi teknologi RPRF juga pernah disampaikan pada Konferensi Persatuan Pelajar Indonesia Nordik Baltik di Stockholm yang diselenggarakan oleh PPI Swedia pada 5 Desember 2015 lalu.

Dalam pemaparannya Gus Pram berharap agar Indonesia juga menerapkan metode RPRF untuk perangkat kemiliteran di semua sektor fabrikasi pembuatan perangkat kemiliteran.

Menurutnya hasil rekomendasi yang pernah dituangkan dalam kesepakatan pelajar-pelajar Amerika-Eropa yang berupa manivesto moskow, dalam penelusuran literaturnya teknologi Advenced Manufacture Forming akan diterapkan oleh Russia dan Negara-negara anggota NATO pada perangkat ALUTSISTA yang mulai diproduksi pada tahun 2020.

“Saya berharap Indonesia bisa menjadi negara pertama yang akan menerapkan teknologi advanced manufacture forming ini,” tutup Agus. (Red.AP, Editor Dewi)

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920