logo ppid

Sumpah Pemuda
(Sumber Gambar : https://jalandamai.org/ppid-content/uploads/2015/10/jogdas_20150807064813-600x330.jpg)

Salah satu yang patut disyukuri oleh bangsa Indonesia adalah memiliki pemuda yang bersemangat untuk bersatu. Sejarah telah mencatat bahwasanya kemerdekaan Indonesia lahir salah satunya dari gerakan pemuda, di mana juga turut mengambil peran besar pemuda (mahasiswa) Indonesia yang sedang studi di luar negeri seperti Bung Hatta, Bung Sjahrir, Tan Malaka dkk.

Mahasiswa Indonesia yang studi di luar negeri tersebut membuat gerakan bukan hanya bertujuan untuk mencapai kemerdekaan. Namun, gerakan tersebut juga menjadi gerakan yang mengisi kemerdekaan yang sudah diperoleh negara tercinta. Sosok presiden ketiga Republik Indonesia yaitu Bapak BJ. Habibie juga menorehkan tinta emas dalam sejarah melalui gerakan yang dibangunnya saat menjadi mahasiswa di Jerman 50 tahun yang lalu. Bersama kawan-kawannya, beliau menggagas seminar pembangunan yang menjadi forum berkumpulnya kawan-kawan mahasiswa Indonesia di luar negeri seperti Jerman, Ceko dan beberapa negara di Eropa.

Bung Hatta, Bung Sjahrir, Habibie muda dan beberapa mahasiswa Indonesia yang pernah mencicipi studi di luar negeri dan konsisten untuk terus berkontribusi menjadi inspirasi bagi anak bangsa untuk ikut berkontribusi mengisi kemerdekaan.

Tanpa terasa, waktu telah berjalan hingga awal abad ke-2. Negara kita telah berkembang. Pada hari ini banyak sekali anak muda Indonesia melanjutkan studi di luar negeri. Hari ini, studi di luar negeri bukan lagi sesuatu yang istimewa, karena banyak sekali beasiswa yang ditawarkan untuk studi di negara-negara tertentu. Mahasiswa yang ada di luar negeri, berkumpul dan bersatu dibawah payung Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI). Hingga saat ini ada 56 PPI yang tergabung dalam aliansi PPI se-Dunia.

PPI tidak hanya menjadi tempat untuk berkumpul dan bersilaturahim, lebih dari itu PPI menjadi motor gerakan, baik itu gerakan politik, sosial, dan juga sosial-budaya. PPI ikut memberikan gagasan dan rekomendasi kepada pemerintah untuk pembangunan Indonesia yang lebih baik. PPI juga pernah terlibat mengawal transisi kepemimpinan nasional. Gerakan sosial juga dibangun seperti aksi kemanusiaan, gerakan donasi sosial, serta gerakan sosial-budaya, yaitu bagaimana PPI hadir mengenalkan kekayaan budaya Indonesia dan objek wisata untuk menarik wisatawan asing berkunjung ke Indonesia.

Tentunya karakter yang melekat utamanya dari PPI adalah karakter intelektual. Yaitu bagaimana teman-teman PPI ini mampu memberikan gagasan yang mendalam baik berupa gagasan kebijakan ataupun gagasan ilmiah yang didapat dari riset. Selain itu teman-teman yang tergabung di PPI juga membuat gerakan bantu guru melihat dunia. Pada gerakan ini, PPI memberikan kesempatan untuk guru-guru terpilih untuk belajar ke beberapa negara yang memiliki kualitas pendidikan yang lebih baik daripada Indonesia. Sehingga, diharapkan hal-hal baik di negara tersebut dapat dicontoh dan diaplikasikan di sekolah tempat guru tersebut mengajar. Gerakan ini juga sebagai bentuk ucapan terima kasih rekan-rekan PPI, karena berkat peran guru kita dapat mengenyam pendidikan di luar negeri. Melalui program ini, ada semangat untuk membuat guru-guru kita merasakan juga apa yang kita rasakan, yaitu belajar di luar negeri.

Program-program sosial tentunya banyak juga dilakukan kawan-kawan PPI. Sebagai contoh, kawan-kawan Perpika Korea dengan program beasiswa untuk adik-adik SD, SMP, dan SMA di tanah air. Kemudian kawan-kawan Permitha Thailand yang mencoba konsisten berkontribusi dengan gerakan 1000 sepatu, yaitu gerakan yang bekerjasama dengan pengrajin sepatu lokal dimana sepatu tersebut didistribusikan untuk pelajar yatim dan dhuafa. Juga teman-teman di Taiwan, Singapura, Malaysia dan beberapa negara lain yang memiliki program belajar mengajar bersama pekerja migran Indonesia (PMI).

Semangat tokoh bangsa yang dulu banyak memberikan kontribusi lewat PPI, hari ini masih diteruskan oleh kawan-kawan mahasiswa Indonesia yang sedang studi di luar negeri juga lewat PPI. Harapannya, peran dan kontribusi ini terus berlanjut sehingga memberikan dampak yang lebih besar dan lebih luas. Kita memang sedang tidak di tanah air, tapi semangat kita, pikiran kita, dan kontribusi kita masih tetap untuk tanah air. Sehingga, media untuk menyalurkan itu semua adalah melalui PPI.

Selamat Hari Sumpah Pemuda! Ingatlah, bahwa karakter utama dari seorang pemuda adalah tingginya semangat berkontribusi untuk Indonesia.

Fadjar Mulya

Permitha Thailand.

Beberapa waktu lalu dimedia sosial, viral beberapa video yang menggambarkan bagaimana anak-anak dibawah umur mengendarai kendaraan roda dua tanpa memakai helm, membonceng dua temannya padahal masih belum dewasa dan tidak mempunyai surat izin mengemudi (SIM). Selain itu, dalam video lain juga diperlihatkan anak-anak yang menangis oleh karena akan ditilang oleh polisi serta anak-anak yang ditegur oleh polisi karena mengendarai kendaraan roda dua tanpa memiliki SIM, tidak memakai helm, tidak membawa STNK dan melanggar lalu lintas.

Pemandangan yang menjadi viral tersebut pastinya bukan pemandangan yang luar biasa di Indonesia, hal tersebut justru menjadi pemandangan yang sudah biasa kita lihat. Anak-anak yang masih duduk sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) seperti sudah lumrah memakai kendaraan roda dua di jalanan tanpa helm, tidak membawa STNK dan tidak memiliki SIM.

Hal tersebut terjadi bukan hanya ada di kota-kota besar, namun juga terjadi di kampung kampung di seluruh Indonesia dan kita sebagai masyarakat sepertinya menganggap hal yang dilakukan oleh anak-anak tersebut adalah hal biasa saja. Padahal kita sangat memahami bahwa apa yang dilakukan oleh anak-anak tersebut adalah salah dan melanggar hukum. Namun, oleh karena pelanggaran tersebut dilakukan secara bersama-sama dan serta terus menerus, maka pada akhirnya pelanggaran lalu lintas tersebut dianggap hal biasa dan bukan merupakan bagian dari pelanggaran hukum.

Peran Orang Tua, Guru dan Polisi

Data dari Kepolisian Republik Indonesia terkait kecelakaan lalu lintas khususnya kendaraan roda dua yang pengendaranya anak-anak setidaknya ada sekitar ribuan anak-anak yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas oleh karena mengendarai kendaraan bermotor dan mengalami kecelakaan. Bagi orang tua yang pernah merasakan kehilangan buah hatinya karena kecelakaan kendaraan bermotor pasti akan sangat setuju untuk menindaklanjuti dan menghukum anak-anak yang mengendarai kendaraan bermotor oleh karena belum cukup umur. Kendaraan motor roda dua sepertinya menjadi mesin senjata pembunuh masal bagi anak-anak Indonesia, namun kita sebagai orang tua sepertinya dibuat tidak sadar atau malah memang sengaja tidak sadar. Orang tua merasa bangga apabila dapat memberikan kendaraan roda dua kepada anaknya, padahal dari segi usia anak tersebut belum cukup umur untuk mengendarai kendaraan bermotor.

Kepemilikan SIM untuk seorang pengemudi kendaraan sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan. Dalam Pasal 7 ayat (1) disebutkan bahwa setiap pengemudi kendaraan bermotor wajib memiliki surat izin mengemudi sesuai dengan jenis kendaraanya. Kepolisian Republik Indonesia menetapkan bahwa batas minimal kepemilikan kartu SIM yaitu berusia 17 tahun dan jika usia masih di bawah 17 tahun artinya tidak bisa membuat SIM dan juga tidak di izinkan untuk mengemudikan kendaraan bermotor. Menurut Pasal 281 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan bahwa sanksi pidana yang dijatuhkan bagi pengguna sepeda motor yang tidak memiliki SIM adalah kurungan paling lama empat bulan atau denda paling banyak Rp1.000.000.

Namun dalam prakteknya khususnya apabila pelanggaran-pelanggaran tersebut dilakukan oleh anak-anak, maka kepolisian biasanya akan melakukan proses tilang ditempat dan akan membawa kendaraan roda dua anak tersebut ke kantor polisi untuk nantinya orang tua dari anak tersebut akan mengurus proses tilang karena secara hukum anak-anak masih dalam kuasa dan pengawasan orang tuanya. Tentunya treatment tersebut akan berbeda apabila ternyata anak-anak tersebut telah melakukan pelanggaran lalu lintas yang menyebabkan kecelakaan dan kematian, maka tetap proses penyelidikan akan berlanjut hingga ke pengadilan dan anak tersebut akan tetap dikenakan sanksi pidana.

Membangun Mental Anak agar Taat Hukum

Fenomena pelanggaran hukum yang dilakukan anak-anak dengan mengendarai kendaraan bermotor yang saat ini sudah menjadi viral di dunia maya akan sangat berdampak pada psikologis anak hingga nanti mereka menginjak dewasa. Anak-anak tersebut pada akhirnya akan terbiasa melakukannya pelanggaran hukum sehingga saat mereka dewasa pastinya akan juga menjadi manusia yang senang dan bangga melakukan pelanggaran hukum. Apabila hal tersebut dibiarkan, maka akan dipastikan generasi Indonesia selanjutnya akan diisi oleh generasi yang terbiasa melakukan pelanggaran hukum, mulai dari narkoba, korupsi hingga mungkin membunuh.

Tentunya kita tidak ingin agar generasi Indonesia selanjutnya diisi oleh generasi penerus yang arogan dan kerap bangga serta terbiasa melakukan pelanggaran-pelanggaran hukum. Ini adalah pekerjaan rumah terbesar Bangsa Indonesia saat ini. Bagaimana membangun mental anak-anak yang taat hukum yang dimulai dengan taat dan tertib berlalulintas. Dibutuhkan kerjasama antara orang tua, guru disekolah dan juga polisi untuk membangun budaya sadar taat hukum dan malu melanggar lalu lintas seperti halnya yang dilakukan oleh negara Jepang, Korea bahkan Malaysia yang telah mengenalkan etika berlalu lintas sehingga semua warga negara saat berkendara bukan hanya taat hukum tetapi juga memiliki etika dan sopan santun saat berkendara.

Kita berharap Kepolisian Republik Indonesia dapat bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan serta Pemerintah Daerah untuk kembali bekerjasama membangun mental budaya sadar hukum dan malu melanggar lalu lintas untuk anak-anak Indonesia, mulai dari taman kanak-kanak hingga dibangku SMA serta mengajarkan kurikulum etika berlalu lintas, taat hukum dan tertib berlalu lintas bagi anak anak Indonesia agar anak-anak Indonesia menjadi generasi yang bukan hanya taat hukum akan tetap juga memiliki etika dan sopan santun saat berlalu lintas serta malu apabila melanggar hukum.

Semoga hal tersebut segera dapat diwujudkan oleh Kepolisian Republik Indonesia dengan bantuan dari Pemerintah Daerah di seluruh Indonesia sehingga 5 s.d. 10 tahun ke depan kita akan melihat hasilnya, dimana anak-anak Indonesia yang telah diajarkan untuk taat hukum dan memiliki mental etika berlalu lintas akan menjadi generasi emas yang akan membangun Bangsa Indonesia di masa depan. Semoga dapat terwujud.

#sadarhukum #taathukum #etika-berlalulintas.

*) Hani Adhani
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum Internasional Islamic University Malaysia (IIUM). Wakil Koordinator Bidang Hukum Dan Advokasi PPI Malaysia. Pengurus PCIM Malaysia. Bekerja di Mahkamah Konstitusi.

Email : adhanihani@gmail.com

Mobile : +62 812831 50373

Melemahnya nilai Rupiah hingga mencapai Rp 15.000 per 1 US Dolar menjadi perdebatan publik selama satu bulan terakhir.  Meskipun pemerintah mencoba untuk meyakinkan publik bahwa melemahnya nilai Rupiah ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal dan berbeda dengan situasi serupa di tahun 1998, beberapa kalangan melihat ini sebagai potensi krisis ekonomi baru. Kendati demikian, menurut Kementerian Keuangan, situasi yang terjadi di Indonesia belum menunjukkan gejala krisis separah Turki atau Argentina dan fondasi ekonomi Indonesia lebih kuat dari tahun 1998.

Benarkah demikian? PPI Dunia mencoba untuk merespons fenomena ini dengan menggelar Webinar Policy Talk bekerjasama dengan PPI TV dan PPI Australia. Webinar ini menghadirkan 4 orang pembicara, yaitu Hadied Safarayuza (Ketua Komisi Ekonomi PPI Dunia), Sandy Arief (Mahasiswa PhD di Macquarie University dan Direktur Riset PPI Australia), Abraham El Talattov (Peneliti INDEF) serta Dr Fithra Faisal Hastiadi (Dosen FEB UI).

Webinar ini diikuti dengan penerbitan PPI Brief yang berisi analisis serta strategi kebijakan yang perlu diambil oleh pemerintah untuk merespons pelemahan Rupiah. PPI Brief ini dikelola oleh Pusat Kajian dan Gerakan PPI Dunia dan menghadirkan analisis dari mahasiswa-mahasiswa Indonesia di berbagai belahan dunia.

PPI Brief No. 1/Oktober 2018 tersebut diterbitkan dengan judul “Menyikapi Pelemahan Rupiah: Tantangan dan Prospek Kebijakan” dan ditulis oleh dua orang mahasiswa Indonesia, yakni Hadied Safarayuza (Ketua Komisi Ekonomi PPI Dunia) dan Muhammad Putra Hutama (Mahasiswa Pascasarjana di Corvinus University of Budapest, Hungaria)

Menurut Hadied dan Putra, pelemahan Rupiah di tahun 2018 memang tidak sama dengan apa yang terjadi dua puluh tahun sebelumnya. Namun demikian, hal ini tidak boleh dipandang sebelah mata. “Jika tidak disikapi dengan kebijakan yang tepat, kondisi ini bisa memukul perekonoman nasional. Kombinasi strategi kebijakan jangka-panjang, seperti Koordinasi Lintas Kementerian, dan strategi kebijakan jangka-pendek perlu dilakukan untuk menstabilkan nilai Rupia”, jelas Hadied dan Putera.

Berikut beberapa intisari dari PPI Brief yang ditulis oleh Hadied dan Putra  tersebut:

  1. Penyebab dari pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal, yang terkait dengan perbaikan twin deficit, serta Faktor ekternal yang disebabkan kenaikan tingkat suku Bunga Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve.
  2. Namun demikian, pelemahan nilai tukar rupiah sangat jauh dengan kondisi pelemahan rupiah saat mengalami depresiasi tahun 1998. Pemerintah dan Bank Indonesia telah memiliki beberapa kebijakan yang merespons krisis.
  3. Ada beberapa kebijakan – kebijakan lainnya yang harus diambil guna menahan laju dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Secara jangka-panjang, perlu adanya koordinasi kebijakan yang lebih efektif di Kementerian terkait bidang ekonomi dan kesejahteraan rakyat, serta revisi UU tentang Lalu Lintas Devisa dan Nilai Tukar.
  4. Secara jangka-pendek, pengurangan subsidi BBM secara bertahap juga bisa dilakukan, dengan catatan pemerintah juga bisa menanggulangi dampak sosial bagi masyarakat miskin.
  5. Pada intinya, masyarakat diharapkan untuk tetap tenang, dan tidak mengaitkan kondisi ini dengan politik praktis yang justru akan menghambat upaya stabilisasi nilai Rupiah saat ini.

PPI Brief akan diterbitkan oleh PPI Dunia secara rutin dengan menghadirkan analisis dari berbagai bidang, terutama ekonomi, sosial budaya, energi, pendidikan, dan kesehatan.

Policy Talk PPI Dunia, “Menyikapi Pelemahan Rupiah: Tantangan dan Prospek Kebijakan”: https://www.youtube.com/watch?v=p939ICRzOFI

Kontak: Ahmad Rizky M. Umar, Kepala Pusat Kajian dan Gerakan PPI Dunia (a.umar@uq.edu.au)

Policy Brief No. 1Download

File PDF dapat dibaca disini:

Policy-Briefs1-1

Halo Indonesia! Horas! Piye kabare? Kumaha Damang?
印尼好?

-TABLOID YINNIHAO EDISI 2 VOLUME 1-

Hadir kembali yang baru dan spesial dari kepengurusan PPI Tiongkok Tabloid YinniHao kali ini telah masuk edisi ke-2 nih.

Di momen kesaktian pancasila ini yuk kita baca tabloid Yinnihao edisi “Indahnya Kebhinekaan Indonesia.” Kalian akan rugi kalau gak baca, pasti bermanfaat dan menambah wawasan. Ayo bagi para pelajar Indonesia budayakan untuk menambah wawasan kita semua. Nantikan terus ya edisi-edisi selanjutnya.

lalu, bagaimana cara untuk membaca Tabloid Yinnihao?
- Scan QR code yang tertera di poster, atau
- Buka link bit.ly/yinnihao02

Salam Perhimpunan.
PPI Tiongkok,
Kolaborasi, Kontribusi, Inspirasi

IG: @ppitiongkok
FB: PPI Tiongkok
Twitter: @ppi_tiongkok
Web: www.ppitiongkok.org

Akhir Mei 2018, pemerintah China mengisyaratkan akan mengakhiri kebijakan two child policy yang implementasinya dimulai sejak 1 Januari 2016. Kebijakan tersebut merupakan pengganti kebijakan one child policy yang telah diterapkan China selama hampir empat dekade sejak pemerintahan Deng Xiaoping 1979.

Kebijakan tersebut belum genap 3 tahun berjalan, namun realitanya implementasi kebijakan tersebut tidak sesuai dengan ekpektasi pemerintah China untuk meningkatkan angka kelahiran yang selama beberapa tahun terakhir telah mengalami penurunan.

Data statistik menunjukkan penerapan kebijakan tersebut dirasa tidak berhasil karena angka kelahiran di China tahun 2017 mengalami penurunan 3.5 persen dibanding tahun 2016. Padahal penerapan kebijakan tersebut diharapkan akan menambah angka kelahiran sebesar 3 juta jiwa, dari target sebelumnya yang mencapai 20 juta kelahiran tiap tahunnya.

Kebijakan pembatasan jumlah anak terbukti hanya berhasil mengontrol laju pertumbuhan penduduk di China namun menghadirkan banyak masalah sosial baru yang pelik antara lain berkurangnya angkatan kerja, ketidakseimbangan gender, dan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia.

Sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, angka kelahiran yang rendah sangat berpengaruh terhadap ketersediaan angkatan kerja dan usia produktif di China. Dimana pasar tenaga kerja China satu dekade terakhir mengalami gejolak akibat ketidakseimbangan permintaan dan penawaran.

Beberapa penilitian menunjukkan bahwa China pada 2010 telah mengalami lewis turning point, dimana terjadi shortage labor di dalam pasar tenaga kerja China dibarengi dengan kenaikan upah tenaga kerja tidak terampil secara konstan. Dalam penelitiannya, IMF memprediksikan fenomena serupa akan kembali terjadi di China pada 2020 dan 2025.

Tenaga kerja merupakan faktor produksi utama yang harus tersedia untuk menjaga stabilitas industri manufaktur China yang menjadi sumber terbesar pemasukan GDP China. Faktor produksi merupakan syarat wajib yang harus tersedia untuk menjaga produktivitas industri agar tetap berlangsung.

Jika dilihat dari dependency ratio yang menghitung jumlah penduduk yang tidak termasuk ke dalam angkatan kerja atau dibawah usia 15 tahun dan di atas usia 65 tahun, maka penduduk China yang bukan angkatan kerja adalah sebesar 35.9 persen.

Tingkat rasio ini terbilang wajar karena belum mencapai 50 persen. Akan tetapi bila kebijakan pembatasan jumlah anak tetap dilanjutkan, rasio tersebut tentunya akan semakin meningkat dikarenakan jumlah bertambahnnya penduduk lanjut usia tidak sebanding dengan angka kelahiran yang ada. Secara otomatis akan menambah rasio penduduk yang bukan angkatan kerja.

Masalah sosial lain yang timbul akibat pembatasan anak adalah meningkatnya beban anak tunggal untuk menghidupi keluarga lanjut usia mereka. Generasi yang lahir pada era 1980an hingga 2000an adalah generasi anak tunggal yang tidak memiliki saudara kandung. Apabila mereka menikah dengan sesama anak tunggal dari generasinya tentunya mereka berdua akan menanggung beban hidup orang tua dari kedua belah pihak.

Selain itu masalah ketidakseimbangan gender merupakan masalah sosial lain yang sedang dihadapi China saat ini. Jumlah populasi laki-laki lebih besar dibanding perempuan, 106 laki-laki berbanding 100 perempuan. Hal ini menyebabkan laki-laki di China tidak mudah mendapatkan pasangan untuk menikah.

Saat ini pemerintah China sedang mempertimbangkan untuk menerapkan kebijakan baru dalam rangka menstimulus angka kelahiran. Kebijakan tersebut adalah independent fertility dimana masyarakat China tidak memiliki batasan jumlah anak dalam setiap keluarga.

Kebijakan tersebut diprediksikan akan diterapkan dalam kurun waktu beberapa bulan ke depan dan paling lambat awal 2019. Karena semakin meningkatnya kekhawatiran terhadap kekurangan angkatan kerja yang menghantui ekonomi China.

Sebenarnya pemerintah China telah menempuh berbagai langkah untuk meningkatkan angka kelahiran. Selain penerapan kebijakan two child policy, pemerintah China juga menerapkan pembatasan usia menikah dan izin cuti yang panjang, baik untuk cuti menikah atau cuti melahirkan.

Untuk mendorong meningkatnya angka kelahiran, pemerintah masing-masing provinsi di China menerapkan batasan umur dalam menikah. Bagi laki-laki yang menikah sebelum usia 27 tahun dan perempuan yang menikah sebelum usia 25 tahun, mereka dapat menikmati izin cuti yang panjang hingga 30 hari.

Sedangkan untuk cuti hamil dan melahirkan, pemerintah masing-masing provinsi di China memberikan izin cuti yang panjang antara 128 hari hingga 160 hari. Reward ini diberlakukan dengan tujuan untuk mendorong para pasangan di China tertarik memiliki lebih dari satu anak karena mendapatkan izin cuti yang panjang.

Namun penerapan berbagai kebijakan tersebut belum terbukti berhasil meningkatkan angka kelahiran sebagaimana yang diharapkan oleh pemerintah China. Terdapat beberapa faktor yang melatarbelakangi ketidakberhasilan kebijakan pemerintah China tersebut.

Faktor pertama, masyarakat China telah terbiasa dengan kebijakan satu orang anak selama hampir empat dekade. Untuk mendobrak norma kebiasaan tersebut tentu tidaklah mudah. Karena kebijakan tersebut telah mengakar dalam kurun waktu yang cukup lama.

Kedua, biaya hidup yang tinggi. Kesejahteraan adalah masalah krusial yang dikhawatirkan oleh masyarakat China untuk memiliki lebih dari satu anak. Biaya hidup yang tinggi tentunya menjadi pertimbangan penting bagi masyarakat China untuk memiliki lebih dari satu anak.

Semakin banyak anak akan menambah biaya perawatan yang harus dikeluarkan. Mereka khawatir tidak dapat memiliki kehidupan yang layak bila memiliki banyak anak. Apalagi nilai properti di China sangat tinggi dan tidak semua orang dapat memiliki rumah karena harganya yang selangit.

Ketiga adalah faktor kesenjangan ekonomi antar provinsi. Sudah menjadi rahasia umum bila terdapat perbedaan yang tajam antar daerah di China. Wilayah China bagian tenggara memiliki tingkat ekonomi yang lebih baik daripada wilayah China bagian barat laut.

Hal ini bisa dilihat melalui Aihui Tengchong Line yang menggambarkan densitas penduduk China yang terkonsentrasi di wilayah tenggara China dibanding wilayah barat laut. Konsentrasi penduduk tersebut terjadi karena daerah tenggara China merupakan pusat industri yang menyediakan banyak lapangan kerja dan kontur tanahnya yang datar serta tidak berbukit sebagaimana wilayah barat laut.

Keempat, semakin menurunnya jumlah wanita dalam usia subur dan keinginan untuk memiliki keturunan. Faktor ini erat kaitannya dengan meningkatkan penduduk lanjut usia di China dimana wanita termasuk di dalamnya. Selain itu bagi wanita pekerja di China, memiliki banyak anak hanya akan memaksa mereka untuk berhenti bekerja dan menghambat karir.

Masalah populasi di China ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan dan tidak mudah untuk dipecahkan. Jumlah populasi yang banyak tidak menjamin tersedianya angkatan kerja bila tidak diimbangi dengan tingkat kelahiran yang sepadan.

China sebagai negara dengan populasi terbesar di dunia memiliki kepentingan untuk menjaga stabilitas laju pertumbuhan penduduknya agar semakin positif. Hal ini terjadi karena munculnya kekhawatiran akan menurunnya permintaan konsumen di pasar global akibat menurunnya penduduk China. Dimana penduduk China merupakan konsumen manufaktur terbesar di dunia.

Selain itu penerapan kebijakan independent fertility akan menimbulkan kekhawatiran baru bila tidak disertai insentif yang menstimulus meningkatnya angkatan kerja. Faktor rendahnya gaji karyawan terampil di China dianggap menjadi alasan utama menurunnya angkatan kerja di China di tengah populasi penduduk yang padat.

Kesiapan ekonomi merupakan pekerjaan rumah yang penting bagi pemerintah China sebelum mulai menerapkan kebijakan independent fertility. Karena penerapan kebijakan tersebut tentunya akan menambah jumlah penduduk China di masa yang akan datang. Apabila tidak diimbangi dengan kesiapan ekonomi yang matang, maka akan menimbulkan kesenjangan pendapatan dan kejahteraan.

 

Penulis:

Hilyatu Millati Rusdiyah

 

*Mahasiswi Doktoral jurusan Business Administration di School of Economic and Business Administration Chongqing University China & Kepala Pusat Kajian Strategis Belt and Road Initiative PPI Tiongkok.

Seminggu setelah berlangsung Conference of Indonesian Diaspora Youth 2018 (CIDY-2018) tanggal 13 - 15 Agustus 2018 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta. PPI Dunia mendapat apresiasi dan kehormatan untuk mengemban amanat membentuk Pemuda Indonesia yang mampu berkontribusi aktif atas intelektual dan kompetesinya membangun Indonesia kedepan dengan tema "Merancang Visi Indonesia 2045". Konvensi ini mempertemukan pemuda cemerlang dari 34 Provinsi Indonesia dengan diaspora muda Indonesia dari seluruh dunia, serta dengan berbagai organisasi kepemudaan dan juga lembaga nasional.

CIDY-2018 ini telah menghadirkan 15 sesi menarik untuk membahas berbagai topik yang aktual bagi pemuda dan bagi masa depan Indonesia. Sesi-sesi tersebut dilaksanakan secara paralel. Semua peserta utusan dan delegasi berhak berbicara sesuai peraturan dan waktu yang tersedia. Semua sesi dirancang untuk memberi ruang bagi para pemuda untuk berdiskusi secara aktif dan dinamis, dan bukan lah ajang mendengarkan ceramah secara pasif dari generasi sebelumnya.

Dalam penyelenggaraan CIDY-2018, Indonesian Diaspora Network Global (IDN-Global)selain dengan bangga berkolaborasi dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia), juga berkolaborasi dengan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Asosiasi Dosen Indonesia (ADI), dan Forum Rektor Indonesia. Konferensi ini juga didukung oleh Kementerian Luar Negeri Indonesia, Kementerian Pemuda dan Olahraga Indonesia, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Indonesia, serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Konvensi ini sebagai suatu ajang membangun bangsa yang menjadi bagian dari perjalanan negara. Sebagaimana diketahui, pada tanggal 27-28 Oktober 1928, ratusan pemuda dari berbagai daerah di Nusantara berkumpul di kota Batavia (sekarang Jakarta) dan merumuskan 3 visi mengenai masa depan bangsa yang masih terjajah. Visi Sumpah Pemuda inilah yang kemudian menjiwai perjalanan bangsa melalui abad ke-20. Ketiga visi tersebut -- Satu Tanah Air, Satu Bangsa, Satu Bahasa -- telah tercapai. Kini, di abad ke-21, generasi muda tertantang untuk memikirkan Visi Indonesia ke depan yang dapat menjadi bahan acuan bangsa, sebagaimana Sumpah Pemuda pada tahun 1928 menjadi acuan bagi generasi-generasi berikutnya. Misi inilah yang dicoba untuk dirumuskan oleh "Proyek Visi 2045: Satu Abad Republik Indonesia".

Berikut pesan utama yang harus dibaca oleh seluruh pemuda Indonesia demi membangun Indonesia 2045 sebagai berikut:

VISI INDONESIA 2045

Kami, pemuda Indonesia dari 34 provinsi dan komunitas diaspora, berkumpul di Indonesia pada tanggal 13 – 15 Agustus guna merumuskan aspirasi untuk 1 Abad Republik Indonesia -- Visi Indonesia 2045.

Kami menegaskan komitmen sejarah terhadap Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia guna berpegang teguh pada pilar-pilar kebangsaan tersebut. Kami bertekad untuk melanjutkan semangat Sumpah Pemuda 1928 dengan Visi Indonesia 2045 guna membawa bangsa kita ke zaman emas.

KONDISI DUNIA 2045

Sebagaimana Republik Indonesia lahir dari reruntuhan Perang Dunia II, perjalanan 100 tahun NKRI akan selalu dipengaruhi kondisi global.

Di abad ke-21, bangsa kita akan mengalami kenaikan suhu bumi antara 2 - 3 derajat Celsius, dengan segala konsekuensi seriusnya bagi planet dan keselamatan umat manusia.

Indonesia akan terus menghadapi lingkungan geopolitik yang multipolar, dan Asia akan menjadi pusat ekonomi dunia dengan kelas menengah terbesar yang terus berkembang pesat. Di pertengahan abad ini, ekonomi dunia akan menjadi dua kali lebih besar dibanding sekarang dan pertumbuhannya akan lebih cepat bila dibandingkan dengan populasi dunia yang diperkirakan akan mencapai 9,8 miliar jiwa di tahun 2045. Shared Economy akan menjadi lebih umum, demikian pula masyarakat tanpa mata uang fisik terlebih karena modernisasi, termasuk konektivitas semakin menjalar ke berbagai negara berkembang.

Dengan segala peluang ini, bangsa Indonesia harus terus mewaspadai berbagai risiko: kita perlu mengantisipasi timbulnya sejumlah krisis finansial dan ekonomi dalam tiga dekade mendatang di mana ketimpangan (inequity) akan terus menjadi tren dunia, dan kita perlu mengantisipasi persaingan geostrategis yang diwarnai pembangunan militer dan militerisasi wilayah konflik yang akan terus bergulir, kita juga perlu mengantisipasi meletusnya perang besar di kancah internasional melihat radikalisme, ekstremisme, dan terorisme yang akan terus menghantui dunia, belum lagi ancaman pandemi dan endemi penyakit menular.

POSISI INDONESIA SAAT INI

Bangsa kita telah melangkah jauh sejak Republik Indonesia lahir di tanggal 17 Agustus 1945. Kami bangga bahwa Indonesia telah menjadi negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Indonesia telah tumbuh menjadi ekonomi nomor 16 terbesar dunia dan ekonomi terbesar, dengan kelas menengah dan pasar terbesar di Asia Tenggara. Indonesia juga telah memiliki posisi strategis di percaturan global sebagai negara anggota KTT G-20.

Kita telah berhasil mencapai angka 100% untuk akses akan pendidikan dasar, angka 98% tingkat literasi orang dewasa, angka usia harapan hidup 71 tahun untuk rakyat, serta mencapai angka tingkat kemiskinan absolut terendah dalam sejarah Indonesia.

PROYEKSI INDONESIA DI TAHUN 2045

Di tahun 2045, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 321 juta orang, dengan penduduk berusia produktif sekitar 209 juta, maka dari itu Indonesia diproyeksikan menjadi ekonomi $9 triliun dan secara otomatis masuk ke dalam lima besar ekonomi dunia.

Lebih dari 70% penduduk Indonesia akan tinggal di wilayah perkotaan mengingat pusat-pusat pertumbuhan daerah akan berlipat-ganda, terlebih karena pembangunan infrastruktur yang semakin merata.

Pembangunan Indonesia harus terus beradaptasi dengan perkembangan zaman dan perubahan kondisi rakyat. Pembangunan kita harus semakin mengedepankan etika dan berkepedulian terhadap kelompok-kelompok yang termarginalisasi, termasuk kelompok difabel. Di abad ke-21 ini, Indonesia harus melaksanakan pembangunannya dengan mengedepankan identitas dan keindonesiaan bangsa kita. Oleh karena itu, kami bertekad untuk melestarikan budaya dan bahasa lokal agar tidak ada yang punah.

Mengantisipasi semakin maraknya perkembangan artificial intelligence dan automasi, kita harus terus menjaga agar manusia Indonesia tetap menjadi pelaksana utama dalam strategi pembangunan kita ke depan. Kita juga harus menjamin agar pembangunan yang kita jalankan tidak saja dapat memberikan kemakmuran secara materil, namun juga dapat memberikan kesejahteraan bagi manusia Indonesia.

Pembangunan kita tidak cukup hanya menekankan aspek kesetaraan (equality), tapi juga pada persamaan peluang (equal opportunity). Pembangunan Indonesia ke depan juga harus semakin berbasis kearifan lokal dan memenuhi kebutuhan daerah sehingga dapat menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menjembatani disparitas regional yang selama ini masih mewarnai ekonomi Indonesia.

VISI INDONESIA 2045

Menuju seratus tahun lahirnya Republik Indonesia, bangsa Indonesia harus terus memacu perubahan dan kemajuan di berbagai sektor.

Kami menginginkan demokrasi Indonesia yang berkualitas, didukung sistem pemilihan umum yang fair dan berintegritas, yang bisa menghasilkan pemimpin-pemimpin yang bersih, akuntabel, dan berbobot, yang berorientasi pada rakyat dan dapat membawa kebaikan dan perbaikan bagi bangsa dan negara.

Perjalanan demokrasi Indonesia ke depan harus memperkokoh perlindungan dan pemenuhan hak manusia di Indonesia dan juga di kancah internasional.

Kami juga ingin agar generasi 2045 nanti dapat menikmati supremasi hukum secara murni, konsisten, dan absolut yang diterapkan di seluruh wilayah NKRI tanpa pandang bulu, bebas politik, dan bebas kepentingan. Untuk itu, reformasi hukum, guna memberikan hukum yang progresif dan berkeadilan bagi rakyat Indonesia harus terus ditempatkan sebagai agenda utama perjalangan bangsa dalam tiga dekade ke depan. Dalam satu generasi ke depan, kami memandang bahwa ini merupakan salah satu perubahan paling strategis yang harus dicapai.

Kami mendambakan pemerintah nasional dan daerah yang bersih, responsif, kompeten, dan meritokratis. Kami juga ingin putra-putri terbaik Indonesia untuk masuk ke dalam pemerintahan dan birokrasi Indonesia untuk ikut memastikan percepatan reformasi.

Menuju usianya yang 100 tahun, kami ingin Indonesia di abad ke-21 menjadi bangsa kelas menengah yang tulen dengan kualitas hidup tinggi dan beretos meritokrasi.

Kami ingin agar sumber daya manusia menjadi aset pembangunan bangsa terbesar.

Untuk itu, kami mendambakan emansipasi pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia, di mana setiap warga negara di manapun, mempunyai peluang untuk mengakses pendidikan berkualitas terlepas dari kondisi ekonominya.

Sistem pendidikan Indonesia (kurikulum, sumber daya pengajar, infrastruktur) juga harus menghasilkan manusia Indonesia yang berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan berdaya saing global. Kami ingin melihat pendidikan yang semakin disesuaikan dengan potensi kedaerahan dan memperkuat budaya daerah.

Pembangunan dan pendidikan Indonesia harus berbasis riset. Investasi untuk riset di Indonesia, baik oleh pemerintah maupun swasta harus ditingkatkan menjadi 3% per GDP. Indonesia juga harus menjadi negara termudah di Asia untuk mendapatkan paten.

Mengingat era digital akan terus berkembang, kami ingin agar setiap manusia Indonesia, di manapun, memiliki literasi digital (digital literacy). Kami juga ingin agar konektivitas digital diperlakukan sebagai bagian dari hak manusia (human rights).

Kami memiliki visi agar seluruh lapisan masyarakat dapat mengakses pelayanan kesehatan yang berkualitas terlepas dari kondisi ekonomi dan geografis. Kami juga ingin agar sistem pelayanan kesehatan nasional dapat memperluas distribusi personalized medicine kepada rakyat Indonesia.

Dan kami berkeinginan agar semua anak Indonesia mendapatkan akses vaksin, baik preventif maupun kuratif, untuk melawan penyakit degeneratif dan menular.

Kami beraspirasi agar bangsa Indonesia di tahun 2045 menjadi bangsa entrepreneur. Entrepreneur kita harus menjadi pelopor anti-korupsi yang mampu memberikan manfaat sosial dan memiliki kesadaran lingkungan.

Kami ingin Indonesia dapat menjadi ekonomi yang unggul dalam Revolusi Industri 4.0 dan seterusnya, serta menjadi bangsa pemenang globalisasi.

Di usianya yang satu abad nanti, kami ingin melihat Indonesia menjadi kekuatan maritim dunia. Guna mencapainya, Indonesia harus mempunyai kapasitas militer untuk menjaga kedaulatan dan melindungi kepentingan nasional di wilayah maritim NKRI, terlebih dengan dibangunnya Blue Water Navy yang dapat membantu menjaga stabilitas keamanan kawasan. Industri pertahanan maritim Indonesia juga harus mampu menjadi yang terdepan di Asia.

Mengingat meningkatnya ancaman siber global, kami ingin Indonesia memiliki kemampuan pertahanan siber yang tangguh di tahun 2045.

Menjelang usia Republik Indonesia yang satu abad, kami beraspirasi agar sejumlah masalah-masalah bangsa hari ini bisa dilenyapkan di tahun 2045 atau sebelumnya.

Kami ingin agar generasi 2045 menjadi generasi pertama dalam sejarah Republik Indonesia yang tidak lagi dibebani oleh separatisme.

Kami juga ingin melihat kemiskinan absolut terhapus dari bumi Indonesia dan kami ingin agar upaya pengentasan kemiskinan dapat bergeser dengan menargetkan perubahan nasib 60% masyarakat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan.

Di tahun 2045, kami ingin tidak ada lagi anak Indonesia yang mengalami stunting, tidak ada lagi kerja paksa anak dan perbudakan modern, tidak ada lagi perkawinan usia anak, tidak ada lagi buta huruf, tidak ada lagi kelaparan dan kurang gizi, tidak ada lagi desa tertinggal, tidak ada lagi sengketa batas wilayah negara yang belum terselesaikan, tidak ada lagi deforestasi, dan tidak ada lagi pungutan liar di wilayah Indonesia.

Walaupun kami menyadari beratnya tantangan-tantangan ini, kami percaya bahwa dengan upaya sistemik yang sungguh-sungguh dan konsisten, pemerintah Indonesia akan menjadi relatif bebas korupsi dalam satu generasi ke depan.

Semua visi ini membutuhkan internasionalisme Indonesia yang sepadan. Maka dari itu, kami ingin melihat politik luar negeri bebas-aktif diimplementasikan secara maksimal, agar dapat menjadikan Indonesia Major Power Asia dan pelopor global. Kami beraspirasi agar Indonesia terus menjadi jangkar Asia Tenggara, pemimpin ASEAN, serta pendekar multilateralisme.

Indonesia tidak boleh ditakuti, tetapi dihormati dan diteladani dunia. Kami juga mencita-citakan masuknya Indonesia ke dalam lima besar kekuatan perdagangan dunia, sejalan dengan kekuatan ekonomi kita pada waktunya.

PENUTUP

Kami, pemuda Indonesia, meyakini bahwa bangsa Indonesia ditakdirkan menjadi bangsa besar dunia. Kami juga meyakini abad ke-21 akan menjadi abad kejayaan Indonesia.

Naskah ini diharapkan menjadi acuan sejarah bagi perjalanan bangsa Indonesia guna menginspirasi pemimpin dan rakyat Indonesia ke depan.

Oleh karena itu, kami mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk mendukung, menyebarkan, dan mewujudkan visi yang mulia ini.

Kami yakin visi dan aspirasi yang kami torehkan ini adalah acuan ambisius yang layak dimiliki rakyat Indonesia. Maka dari itu, kami persembahkan dokumen ini bagi Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73.

Atas berkat Rahmat Tuhan yang Maha Esa dan atas nama pemuda Indonesia.

Jakarta, 15 Agustus 2018

​--------------------------------------------------

Utk PDF dapat dilihat disini:

Visi-Indonesia-2045_Konferensi-Merancang-Visi-Indonesia_15-Agustus-2018

Mahasiswa sebagai “agent of change” selalu berupaya untuk membantu dan mengabdikan dirinya agar siap selalu membantu masyarakat, bangsa dan negara. Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) sebagai wadah organisasi mahasiswa asal Indonesia yang sedang belajar di luar negeri menjadi salah satu media bagi mahasiswa Indonesia untuk menyalurlan ide-ide cerdas dan positif dengan tujuan untuk membantu mahasiswa lainnya yang sedang belajar di luar negeri, membantu masyarakat Indonesia yang sedang bekerja di luar negeri dan lebih jauh lagi membantu stake holder pengambil kebijakan negara melalui kegiatan partnership yang postif dan berkesinambungan.

Simposium Internasional PPI Dunia yang diselenggarakan setiap tahun selalu berupaya menyuguhkan berbagai ide dan masukan cerdas untuk bangsa dan negara Indonesia khususnya untuk pemerintah dan pengambil kebijakan di negara Indonesia yang nantinya akan dijadikan rekomendasi yang dapat dilaksanakan dalam dataran yang lebih praktis. Selain itu, dalam acara simposium PPI Dunia ini juga dibahas tentang dinamika organisasi PPI Dunia yang dikemas dalam bentuk kongres yang nantinya akan menghasilkan berbagai output yang dapat digunakan untuk memperbaiki organisasi dan melanjutkan program PPI Dunia yang sudah ada agar dapat digunakan untuk kebaikan warga PPI se Dunia, masyarakat dan juga bangsa serta negara Indonesia.

Momentum Simposium Moskow

Simposium PPI Dunia yang ke 10 yang diselenggarakan di Kota Moskow, Rusia, yang mengambil tema “Kontribusi Pemuda Dalam Strategi Pembanguan Nasional menuju Indonesia Emas 2045” menjadi momentum yang sangat penting untuk membuktikan eksistensinya PPI Dunia kepada masyarakat, bangsa dan negara Indonresia. Para mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam PPI Dunia yang saat ini sedang belajar di luar negeri yang pada saatnya nanti pasti akan kembali ke Indonesia dan mengabdikan ilmunya untuk bangsa dan negara Indonesia memiliki potensi besar untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi dan juga mengharumkan nama Indonesia di mata Dunia Internasional.

Sejak terbentuknya organisasi Mahasiswa Indonesia yang sedang studi di luar negeri (Perhimpunan Pelajar Indonesia) pertama yaitu sejak tahun 1922 di Kota Leiden, Belanda, yang kemudian bernama PPI Belanda, dan kemudian pada tahun 2007 oleh karena adanya keinginan yang besar untuk menyatukan dan mengkoordinir PPI di masing-masing negara untuk berbuat yang lebih untuk bangsa dan negara, maka kemudian di Kota Sydney dibentuklah PPI Dunia yang terbagi menjadi 3 kawasan yaitu Timur Tengah-Afrika, Asia-Oceania dan Amerika-Eropa yang saat ini berjumlah 56 Negara.

Menata Peran PPI Dunia

Fokus utama dari PPI Dunia yang dipimpin oleh seorang Koordinator PPI Dunia dan Dewan Presidium yang merupakan wakil dari tiap kawasan ini adalah agar terlaksananya program kerja dari PPI masing-masing negara yang dapat disinergikan dengan program PPI Dunia agar semua program PPI Negara lebih terstruktur, sistematis dan masif. Tentunya masing-masing PPI Negara memiliki program kerja dalam skala yang kecil, menengah, besar, internal ataupun eksternal.

PPI Dunia sebagaimana diatur dalam AD-ART PPI Dunia memiliki peran untuk mengelaborasi dan mensinergikan semua program yang ada di PPI Negara untuk dijadikan program unggulan yang melibatkan seluruh PPI Negara. Dalam periode kepengurusan PPI Dunia 2017-2018 yang dipimpin oleh Pandu Utama, setidaknya ada banyak program unggulan yang diusung oleh PPI Dunia diantaranya adalah, membuat kajian tentang nuklir dan kajian Papua Barat, menyelenggarakan pagelaran budaya Indonesia di berbagai negara, penyaluran bantuan dana sosial, mengikuti berbagai festival budaya Internasional, membuat berbagai acara webinar dan diksusi secara online melalui PPI TV dan PPI Radio dan banyak program unggulan lainya yang menggambarkan peran dan eksistensi dari PPI Dunia.

Acara simposium Internasional yang ke-10 di Moskow, Rusia ini menjadi momentum bangkitnya para pemuda Indonesia khsusnya mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di luar negeri menuju Indonesia Emas di Tahun 2045. Dengan jumlahnya anggota PPI Dunia yang tergabung dalam PPI Negara yang mencapai hampir 90 ribu orang, maka tentu hal tersebut menjadikan PPI Dunia begitu penting untuk disimak dan dijadikan partner bagi Pemerintah dan para pengambil kebijakan di Negara Indonesia. Ide-ide cerdas para mahasiswa yang ada di 56 negara yang tergabung dalam PPI Dunia ini tentu tidak bisa dianggap sepele, mereka memiliki kekuatan yang luar biasa untuk memberikan sumbangsih yang besar bagi masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Jangan sampai potensi yang besar tersebut kemudian diambil oleh negara lain oleh karena kurangnya perhatian Negara Indonesia kepada para mahasiswa tersebut.

Tentunya acara Simposium Internasional di Moskow yang diselenggarakan oleh PPI Rusia sejak tanggal 23 Juli s.d. 27 Juli 2018 yang lalu, yang menghadirkan keynote speaker Kapolri Tito Karnavian dan Wakil Ketua MPR Mahyudin menjadi momentum kebangkitan PPI Dunia untuk kembali merapatkan barisan dan membuktikan kepada masyarakat, bangsa dan negara Indonesia akan manfaat dan sumbangsih dari organisasi PPI Dunia untuk masyarakat, bangsa dan negara Indonesia sehingga peran dan kontribusi mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri terlihat nyata guna mewujudkan Indonesia Emas di Tahun 2045.

*****

Oleh : Hani Adhani - Presidium Sidang Kongres PPI Dunia 2018 di Moskow. Anggota Tim AD HOC AD ART PPI Dunia. Wakil Koordinator Bidang Hukum dan Advokasi PPI Malaysia. Mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum IIUM Malaysia. Email : adhanihani@gmail.com. HP:+62812-83150373. Alamat: Asrama Mahasiswa IIUM Gombak, Kuala Lumpur, Malaysia

Wellington, Selandia Baru - Tokoh Senior dari Papua datang ke Wellington, Selandia Baru untuk berbicara dan berbagi tentang perkembangan pembangunan di wilayah Papua (Provinsi Papua Barat dan Provinsi Papua), Senin (30/7). Bapak Franz Joku, Bapak Nick Messet, dan Bapak Michael Menufandu datang ke negeri Kiwi untuk berbagi pemikiran dan pengalaman langsung mereka kepada khalayak di sana tentang bagaimana pengaruh otonomi khususnya pada bagaimana Papua hari ini.
Berjudul Papua Today atau Papua Hari Ini, forum tersebut diadakan di Victoria University of Wellington (VUW). Dimulai pada pukul 16.20 waktu Wellington, diskusi ini menarik lebih dari lima puluh orang yang terdiri dari penduduk asli Selandia Baru termasuk mereka yang memiliki latar belakang Pasifik dan Maori dan orang Indonesia.
Hana Aulia, mahasiswa tahun pertama di VUW yang juga ketua panitia lokal mengatakan bahwa acara ini diadakan untuk berbagi perspektif yang berbeda tentang masalah Papua. Latar belakangnya adalah bahwa pelajar dan mahasiswa Indonesia di Wellington secara khusus telah melihat bagaimana Papua digambarkan negatif di Selandia Baru oleh beberapa kelompok.
Dikenal hanya sebagai West Papua oleh masyarakat Selandia Baru, dua provinsi di dalamnya yakni Papua dan Papua Barat telah menjadi pusat perhatian dari beberapa kelompok di Selandia Baru beberapa tahun terakhir. Beberapa kelompok tersebut seperti Peace Movement Aotearoa dan asosiasi mahasiswa Maori dan Pasifika Students.
Mereka menuduh pemerintah Indonesia dengan sengaja mendiskriminasi dan meninggalkan Papua. Beberapa bahkan percaya bahwa orang Papua masih secara konsisten hidup di bawah kekuasaan militer. Rekonsiliasi, menurut mereka, tentang sejarah kelam di masa lalu tidak pernah diupayakan oleh pemerintah Indonesia.
Dipimpin oleh staf akademik dan dosen yang sangat dihormati di kampus VUW, Prof Roberto ‘Rob’ Rabel, diskusi dimulai dengan pernyataan pengantar bahwa kampus mendukung acara-acara seperti ini. Ia percaya bahwa perspektif yang berbeda harus diakomodasi di institusi pendidikan mana pun. Dia mengatakan kepada hadirin bahwa kampus menyambut baik perspektif yang berbeda atas masalah yang sama. Adalah Penting untuk memberi orang informasi yang seimbang khususnya mengenai masalah di Papua.
Papua yang terus berkembang
Professor Rob kemudian mengundang pembicara untuk berbagi pemikiran mereka. Pak Franz, Pak Nick, dan Pak Michael berbicara bergantian selama 15 menit masing-masing. Sebagai pembicara pertama, Bapak Franz berbicara tentang kebebasan berekspresi di Papua khususnya mengenai apakah wartawan asing dapat aktif di Papua.
Sebagai mantan juru kampanye internasional untuk Organisasi Papua Merdeka (OPM), ia katakan bahwa dibanding dengan tahun 60-an, wartawan kini memiliki akses yang jauh lebih baik untuk memasuki Papua.
Tentu saja, karena Indonesia masih berkembang, beberapa aturan yang berkenaan dengan keamanan dan pengamanan berlaku. Karena, peraturan itu dibuat juga untuk keamanan jurnalis khususnya mereka jurnalis asing. Dia kemudian terus menjelaskan bahwa jika dibandingkan dengan kebebasan berekspresi di Barat, Papua akan terlihat sedikit menakutkan dengan aturan ketat.
“Tapi Anda bisa lebih bijak untuk melihat kemajuan yang terjadi (dalam hal kebebasan berekspresi di Papua). Jurnalis sudah tahu aturan sebagaimana mereka masuk negara lain. Ikuti saja aturannya,” dia memastikan.
Setelah itu, Bapak Michael melanjutkan dengan pandangannya tentang kemajuan pembangunan infrastruktur. Papua besar secara geografi sehingga berkembang membutuhkan lebih banyak waktu dan dukungan yang lebih besar. Mantan Walikota Jayapura itu menjelaskan bahwa yang dilakukan pemerintah saat ini telah membantu orang Papua dengan menurunkan biaya logistik dan memperbaiki akses antar daerah di Papua, terutama terkait pembentukan Jalan Trans Papua.
Dia juga berbagi pandangannya bahwa dengan otonomi khusus saat ini, telah dipastikan bahwa hanya orang asli Papua yang dapat memimpin Papua.
“Anda lihat sekarang semua pemimpin dari gubernur menjadi walikota adalah penduduk asli Papua. Bahkan pemimpin militer kita juga orang Papua,” kata mantan Duta Besar Indonesia di Kolombia itu.
Bapak Nick kemudian mengalihkan diskusi untuk berbicara tentang semacam kisah kehidupan nyata bagaimana dia memutuskan untuk bergabung dengan pemerintah Indonesia dan meninggalkan teman-temannya pada 'masa lalu'. Dia meninggalkan Papua di tahun 60-an ketika dia merasakan kehadiran orang Indonesia di wilayah itu adalah sebuah kesalahan. Dia tidak mengatakan bahwa Papua sekarang sudah berkembang sebagai pulau utama yakni Jawa. Tetapi dengan Papua tetap berada di Indonesia, dia melihat bahwa pembangunan sedang berkembang di sana.
Dalam hal kemajuan pembangunan, mantan Menteri Luar Negeri OPM ini percaya bahwa Papua saat ini adalah apa yang dia dan beberapa teman-temannya mimpikan dan perjuangkan.
“Papua hari ini adalah jawaban atas apa yang kami perjuangkan! Kami bermimpi tentang memiliki pemimpin dari orang-orang kami, dan sekarang ada mereka,” kata Pak Nick dengan sedikit berteriak tegas.
Sebagai tuan rumah, Perhimpunan Pelajar Indonesia mengatakan bahwa acara mereka mendapat dukungan dari universitas-universitas di Selandia Baru. PPI telah melakukan perjalanan ke universitas-universitas besar termasuk Victoria University of Wellington dan University of Auckland untuk bertemu para rektornya.
“Jawabannya menggembirakan bahwa di tengah berbagai kegiatan yang berbicara tentang Papua dari sisi negatif, Bapak-bapak itu (para rektor) mendorong kami untuk berani berbagi pendapat yang berbeda dengan dengan menyelenggarakan forum serupa,” kata Hana.
Hana melanjutkan bahwa universitas di Selandia Baru mendukung para mahasiswa dengan memberi mereka akses ke ruangan untuk menyelenggarakan acara dan membantu menghubungi dan mendorong staf akademik untuk memfasilitasi atau memoderasi diskusi.
Kembali tentang diskusi di Wellington, di antara audiens, mereka yang selama ini dianggap memiliki pandangan berbeda datang. Panitia melihat beberapa tokoh terkemuka Selandia Baru yang mendukung Gerakan Papua Merdeka atau Free West Papua juga datang, yaitu Pala Molisa dan Marie Leadbeater. Pala terkenal karena pandangannya yang konsisten tentang bagaimana Papua mengalami genosida. Sedangkan Marie baru saja menerbitkan sebuah buku berjudul 'See No Evil' yang pesan utamanya adalah kekecewaannya pada anggapan bahwa orang-orang Selandia Baru bungkam tentang isu-isu Papua.
Banyak juga mahasiswa yang datang adalah berlatar belakang Pasifik dan Maori yang dikenal sebagai pendukung utama Free West Papua di VUW.
Panitia bererima kasih
kepada moderator yang berhasil menjaga diskusi berjalan dengan baik khususnya dinamika di dalam selama sesi tanya jawab.
Salah satu pertanyaan yang ditanyakan adalah bagaimana para pemimpin Papua ini melihat masalah apakah referendum diperlukan untuk Papua. Pertanyaan lainnya adalah mengapa tidak Papua melihat kasus referendum seperti di Bougainville, Papua New Guinea sebagai contoh bahwa referendum untuk penentuan nasib sendiri dimungkinkan bagi Papua.
Dalam menjawab pertanyaan, semua pemimpin Papua mengucapkan terima kasih kepada Selandia Baru atas perhatiannya. Mereka percaya bahwa ini adalah bentuk perhatian besar dari masyarakat Selandia Baru untuk masa depan orang Papua dan wilayah Papua yang lebih baik.
Namun, mereka melihat bahwa Papua telah menikmati suasana penentuan nasib sendiri (self-determination) dengan otonomi khusus. Otonomi
khusus memang belum sempura, tetapi kita saat ini sudah melihat semua pemimpin daerah ke lokal adalah penduduk asli Papua dan mereka telah menikmati dukungan dan sumber daya finansial dan non-finansial baik dari pemerintah pusat maupun dari daerah mereka sendiri.
“(Dengan otonomi khusus) sekarang tergantung pada orang Papua (apakah mereka ingin maju). Masa depan Papua sudah ada di tangan orang Papua,” kata Pak Franz menjelaskan.
Prof Rob menutup forum dengan mengucapkan terima kasih kepada para pembicara yang datang jauh-jauh dari Indonesia untuk berbagi cerita tentang perubahan di Papua. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada Perhimpunan Pelajar Indonesia yang dengan gagah berani menggagas acara tersebut.
“Kita telah melaksanakan dialog yang sangat bagus malam ini. Komentar dan jawaban Anda sangat bagus. Kita telah sama-sama saksikan bahwa pertanyaan Anda telah dijawab dengan penuh semangat dan dengan pemikiran yang tulus,” Prof Rob menutup tepat pada pukul 18.00 waktu setempat.
Perhimpunan Pelajar Indonesia mengatakan bahwa jumlah orang yang hadir mungkin tidak banyak.
Namun, mengenai keragaman audiens yang mereka lihat, “Kami senang melihat hasilnya. Mereka yang kami tahu selama ini berada di sisi berbeda mau datang. Kami tahu mereka menyambut perbedaan pendapat dengan tangan terbuka, begitu juga kami.” Tiga Pemimpin Papua tersebut dijadwalkan untuk berbicara tentang hal yang sama di dua kampus lagi yaitu University of Canterbury di Christchurch pada Rabu (1/8) dan Universitas Auckland di Auckland pada hari berikutnya (2/8). Semua acara diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Selandia Baru dengan bantuan panitia lokal yang terdiri dari mahasiswa Indonesia yang tinggal di kota tempat acara diadakan. (*)
Otentifikasi oleh:
Muhamad Rosyid Jazuli
Ketua PPINZ 2016-2017

Suasana dalam kegiatan ifthar

Ramadhan telah lewat, untuk kami para perantau di negara-negara belahan bumi utara, Ramadhan adalah sebuah tantangan yang memiliki pahit-manisnya tersendiri. Buat kami yang harus rela ber-budget makanan mati-matian sehari-harinya, ada yang menyambut Ramadhan dengan girang karena akhirnya tidak harus me-budget makanannya dengan alasan yang sia-sia. Tapi di satu sisi, hiruk-pikuk deadline and ujian di musim panas ini juga menguji kesabaran dan ketangguhan kita saat berpuasa selama 18 jam (waktu berbuka menjadi semakin lama juga seiringnya musim panas berjalan) di tanah rantau.

Di Britania Raya, persoalan menjadi seorang Muslim terkadang tidak sulit dikarenakan angka penduduk imigran atau keturunan imigran yang cukup meningkat. Tetapi tentu saja, umat Muslim masih dianggap sebagai minoritas dikarenakan hanya terhitung sebagai 4.8% dari total populasi Inggris dan Wales saja di sensus terakhir (Office for National Statistics, 2011).

2017 bukan lah tahun yang menyenangkan di media bagi umat Muslim di Inggris, hal ini diakibatkan beberapa aksi teror yang mengatasnamakan ‘Islam.’ Tetapi dalam semua kejadian itu, solidaritas terus ditenun oleh negara yang terkenal dengan Keep Calm & Carry On mereka saat menghadapi kesulitan. Dimulai dari kejadian di Wesminster tanggal 22 Maret kemarin, rakyat London paham kalau yang terakhir mereka ingin sampaikan kepada pihak yang berasalah adalah pesan yang berbau ketakutan dan ketidakpercayaan dengan satu sama lain.

Tujuan rantau saya di Inggris adalah kota kecil bernama Canterbury yang bisa ditempuhi dengan kereta dari London dalam waktu dua jam. Ramadhan di tanah rantau tidak hanya menjadi alat introspeksi diri tetapi juga dijadikan sarana introspeksi komunitas. Masjid kami adalah sebuah rumah sederhana yang masih berada di dalam lingkungan kampus dan telah berdiri selama 20 tahun. Tak hanya aktif sebagai wadah organisasi ISOC (Islamic Society) untuk mahasiswa, masjid juga digunakan sebagai wadah berdialog dengan masyarakat lokal di Canterbury.

Di saat maghrib tiba, masjid kami pernah mengundang orang-orang banyak, Muslim dan non-Muslim, untuk berbuka puasa bersama. Tujuannya adalah untuk menyebarkan ilmu dan membangun kesadaran masyarakat tentang apa ang umat Muslim lakukan selama Ramadhan. Namun, disaat adzhan maghrib berkumandang dan makanan pembuka (ingat, tidak ada takjil disini) disebarkan, kesempatan untuk belajar itu tidak hanya diberikan kepada mereka yang tidak melaksanakan ibadah puasa tetapi juga kepada kami yang turut belajar dari beragam celotehan pahit dan manisnya kehidupan mereka.

Bincang-bincang dalam kegiatan Ifthar

Setelah puas bermakan-makan dan berbagi cerita, kami berkumpul di satu area di dalam masjid dimana sang imam—yang selalu kita panggil Uncle Rashid—mengumpulkan saran dan opini dari orang-orang yang telah hadir di malam itu. Beliau beranggapan bahwa sebuah inisiatif yang bertujuan untuk merubah persepsi masyarakat itu mudah dimulai tetapi lebih sulit untuk dipertahankan. Beliau berharap inisiatif ini bisa dilanjutkan kedepannya dan satu-satunya cara untuk menarik minat masyarakat untuk terus datang bisa diraih dengan upaya perbaikan yang berkelanjutan—budaya continuous improvement dan lagi-lagi juga mengangkut topik introspeksi diri. Di saat puasa selalu menjadi highlight media massa saat mendeskripsikan Ramadhan, pengalaman ini membuka mata masyarakat. Mereka, dan kami tentunya yang melaksanakan ibadah puasa, juga bisa diajak untuk memahami bagaimana Ramadhan bisa ditafsirkan sebagai medium untuk melatih diri agar bisa berempati dengan satu sama lain.

 

Penulis:

Nibras Balqis Sakkir, BA in Social Anthropology, University of Kent

PPI United Kingdom

 

Sumber yang dikutip:

Office for National Statistics (2011). Religion in England and Wales 2011 [Online]. Available from: https://www.ons.gov.uk/peoplepopulationandcommunity/culturalidentity/religion/articles/religioninenglandandwales2011/2012-12-11 [02/06/2018]

Sejarah kemunculan falsafah Cina merupakan refleksi dari konflik politik yang tidak berkesudahan. Sama seperti sejarah negaranya, falsafah Cina merupakan cerminan konflik politis dan perang saudara. Konflik yang panjang disertai depresi terhadap pengelolaan negara melahirkan tokoh-tokoh berpengaruh yang terkenal hingga di kancah dunia. Contohnya, mulai dari Kong-Ze atau Konfusius (Kong Hu Chu), Lao Tze (Taoisme) sampai pada ilmu pengobatan Zhu Xi.

Dalam sejarah ilmu pengobatan, Ibnu Sina dari dataran Arab mengawali lebih dahulu pengobatan-pengobatan dunia melalui bukunya The Canon (al-Qonun Fi’l-Tibb). Terlepas dari ilmu pengobatan Timur lain, ilmu pengobatan Ibnu Sina banyak diadopsi oleh bangsa Barat, bahkan dinisbatkan sebagai peletak dasar pengobatan medis modern.[i] Ibnu Sina selain dikenal sebagai ahli pengobatan juga dikenal sebagai filsuf muslim dengan gagasan-gagasan naturalis bernafaskan Islam yang memberikan pengaruh kepada berbagai tokoh dunia lainnya. Thomas Aquinas misalnya, menyatakan dirinya banyak terpengaruh pemikiran Ibnu Sina dalam memandang “eksistensi diri” dan hubungannya dengan “dunia yang tidak menentu.”

Di sisi lain, sampai akhir masa modern, pengobatan yang berlandaskan tradisi sama sekali tidak dilirik dan tidak diminati masyarakat Barat. Pengobatan tradisional dinilai banyak melakukan khayalan (atau disebut sebagai metafisika) dibanding dengan melakukan identifikasi secara logis. Akibatnya, pada masa modern terjadi banyak penurunan mulai dari degradasi moral, atheisme, anti-spiritual sampai Agnostisme. Sebenarnya, hal ini tidak bisa dinilai hanya sebagai efek saja, namun sudah menggejala dan menjadi penyakit modern. Hasilnya, spiritualitas dan batin manusia terasa kosong dan hampa.

Ilmu kesehatan tradisional, khususnya Cina, memberikan wawasan baru terhadap pertemuan antara dunia natural (alam) dan metafisika, serta menawarkan berbagai konsep, teori dan aplikasinya pada kesehatan. Ilmu ini muncul akibat pandangan filsuf Cina dalam memandang alam sebagai sebuah keseimbangan yang hakiki. Lambat laun, ilmu ini banyak digunakan sebagai cara mengatasi berbagai penyakit yang disebabkan oleh batin manusia.

 

Memahami Alam dan Manusia

Perkembangan ilmu kesehatan di Cina telah dimulai sejak masa klasik, yaitu pada kekuasaan Dinasti Song-Ming (960-1628 CE). Perkembangan ini dipelopori oleh Zhu Xi (Chu Hsi). Ia merupakan seorang pemikir analitis dan sintesis. Filsafatnya mengalami perjalanan yang cukup panjang. Kebanyakan karyanya dipengaruhi oleh Konfusius dan Mencius.

Ia memaknai kembali pemahaman tentang ajaran Konfusius dan Mencius dalam pandangan yang lebih luas dan baru. Aliran filosofisnya lebih mengarah kepada Neo-konfusianisme. Nilai-nilai yang diajarkan, sebagai contoh, adalah pemulihan kembali penguatan moral dan penerapannya pada birokrasi pemerintahan yang berpijak pada Konfusianisme di masa awal Dinasty Han dan Tang (206 BCE-905 CE).

Zhu Xi lahir pada Oktober 1130 di Youqi, provinsi Fujian, Cina. Pada usia 19 tahun, ia ditinggal ayahnya Zhu Song (109-1143). Zhu memulai memilih dan mempelajari berbagai sumber tentang ilmu kehidupan, termasuk Budhisme. Keilmuannya diawali dari minatnya terhadap Budisme dan Taoisme sampai ia menjadi murid dari Master Li Tong (1093-1163). Ayah Zhu menyarankan ia berguru pada Master Li, namun Zhu tidak menghiraukannya sampai ia berumur 30 tahun, pada saat ia mengalami keraguan spiritual. Zhu mengkritisi polemik kebijakan pemerintah di masanya serta praktik-praktik keagamaan yang pada saat itu amat populer. Seperti para filsuf pendahulunya, ia juga mengajarkan ilmu pengobatan dan filsafat secara intensif. Titik fokus dalam filsafatnya ialah pemurnian pikiran dan implikasinya terhadap penelaahan ‘pikiran dan dunia’ menjadi sebuah drama bagi manusia.

 

Perkenalan dengan Moral ‘Kosmos’

Zhu Xi mengartikulasikan dan mensistematisasi pemikiran ideal konfusianisme untuk memandang kemanusiaan 人(baca: rén) dalam kaitannya dengan kosmos dan sudut pandang manusia. Kemanusiaan menurut Zhu Xi merupakan keterkaitan manusia dengan “kreatifitas kosmos”. Misalnya adalah “Surga dan Bumi” (Kosmos) dalam memunculkan berbagai pandangan. Keterlibatan kosmos ini memberikan berbagai sudut pandang yang amat penting dalam memahami manusia sekaligus menjadikan ia sebagai perantara akan adanya manusia itu sendiri. Meski corak filsafat Zhu Xi adalah “Human Nature” atau alamiah yang berarti ke-Alam-an, namun ia juga menjelaskan berbagai hal yang bersifat metafisis, seperti tentang jalan langit (takdir) dan kekuatan diluar manusia yang kemudian mengilhaminya menjadi sebuah konsep tentang keseimbangan segala sesuatu. Moral kosmos dalam pandangan Zhu Xi merupakan refleksi dirinya dari pemikiran pendahulunya seperti Konfusianisme dan Taoisme. Konsep naturalisme merupakan produk dirinya yang berasal dari Budhisme yang ia pelajari dimasa mudanya.

 

Moral Kosmos dan Konsep Pikiran

Pemikirannya semakin membesar karena didukung dengan pemikiran metafisiknya. Metafisika yang ia maksud adalah tentang segala hal yang bisa dirasakan meskipun itu tidak nampak, seperti udara dan energi yang menggerakkan manusia secara total.

Konsep Zhu Xi yang paling terkenal adalah “Dinamika Realitas” atau sebuah kenyataan yang dinamis, selalu berubah dan berkembang. Dinamika realitas yang dikonsepsikannya ditunjukkan dalam “sketsa pertentangan tertinggi” (Taiji tu) atau yang sering kita kenal dengan Taichi. Taichi dapat dimaknai sebagai ilmu tentang energi. Lebih luas, Zhu Xi menjelaskan tentang bagaimana dinamika realitas ini terhubung dengan segala hal yang mendasari sifat-sifat kemanusiaan yang ada. Taiji tu Shou merupakan “The Holistic System”. Pada perkembangannya, sebuah sistem tersebut mencapai tingkat bentukan dunia yang terbentuk dari ‘yang tidak terbentuk’ sampai pada Yin dan Yang pada 5 tahapan, Bumi, Kayu, Api, dan Logam dan terakhir ke surga. Ide pemikiran Zhu dikombinasikan dengan pemahaman dari “Book of Change” sebagai pemikiran filsafat yang menyeluruh antara kosmos dan kreatifitas manusia.

Seiring berkembangnya peradaban modern, kualitas pemahaman tentang 5 elemen menjadi lebih aplikatif. Misalnya saja dalam pengobatan akupunktur dan pengelolaan keseimbangan nafas. Sebagai gambaran, Refleksologi merupakan hasil dari pemikiran Zhu. Dalam tahap refleksologi, ia menggabungkan kelima elemen yang dosebut model dinamis system biologi. Sekaligus sebagai kombinsai dari sistem keseimbangan Yin-yang. [ii]

Refleksiologi

Keseimbangan dinyatakan dengan adanya alam mikrokosmos dalam tubuh manusia. Konsep Yin-Yang diaplikasikan pada hampir setiap aspek kehidupan. Misalnya saja dalam konsep etika, setiap hal yang dilakukan tidak boleh berlebihan. Hal serupa juga berlaku pada tindakan makan, minum juga bekerja. Selain itu konsep keseimbangan juga diaplikasikan untuk mengelola kondisi pikiran, hati dan jiwa manusia.

Simbol Tai-Chi (A) dan Segitiga Sierpinski (B)

Catatan Akhir

Dalam perkembangan pemikirannya, Zhu Xi memulai dengan memahami alam sebagai daya penggerak manusia dan senantiasa bergerak sendiri. Zhu Xi sangat menyukai cara berfikir abstrak dan metafisis disbanding logis, karena banginya alam lebih banyak tidak menggunakan logika untuk menjadikan dirinnya senantiasa bergerak.

Pemikiran Zhu Xi banyak digunakan sebagai basis teori pengobatan tradisional China, yang sampai sekarang dikenal dengan konsep keseimbangan Yin dan Yang. Prinsip tersebut menjelaskan keseimbangan antara manusia dan alam.

Tulisan ini merupakan pengantar tentang peran filsafat dalam perkembangan ilmu kesehatan paling awal di China. Sangat senang jika bisa berdiskusi dan mendalami akar-akar pemikiran filsafat dari Timur.

 

Penulis: Afifudin Alfarisi, Graduate Institute of Philosophy, National Central University, Taiwan.

Editor: Nadhirariani

 

[i] Sakatani, Kaoru, Concept of Mind and Brain in Traditional Chinese Medicine, Data Science Journal, Volume 6, Supplement, 7 April 2007.

[ii] http://www.iep.utm.edu/avicenna/ diakses pada tanggal 20 September 2017

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920