logo ppid
Whilst I have always had this awareness and have, in fact, been enthusiatically anticipating my "fate" to spend at least 3-4 years of my academic journey in the Ozland ever since I was in primary school (thanks to my Aussie-graduate mother's repeated lectures and purposeful trips to the Go8 universities), my childhood dream to be a part of the Ivy League community that was inspired by the story about Helen Keller's success to be a part of Harvard's community which I came across when I was 7 years old, didn't resurrect/revive until my last year of undergraduate studies. As the last year of my undergraduate program commenced, to be specific, I was faced with a dilemma as I, on one hand, didn't feel that I -- a 19 years old girl then, was ready to enter the 'real'/working world, yet on the other hand, was yearning for an even more challenging academic trainings. For this reason, I packed all my belongings that one Brisbane's so-called winter day and flew 15.491km to the other side of the globe, to the city that never sleeps a.k.a the New York City bringing with me that resurrected childhood dream and that desire for a more challenging, brain-stretching, practical trainings!
Now, why Columbia University in the City of New York?
Whilst Columbia University wasn't as popular as the other Ivy League institutions like Harvard, Princeton or Yale then (well this is at least true among my circles), I decided to be a part of the Teachers College at Columbia University's Human Development Department in the year 2012 for several reasons. Aside from the rigorous, brain-stretching, dynamic academic exposures, the Teachers College's community school and the research laboratories also provide me with hands-on, practical trainings And experiences. Another priceless experience that I'm forever grateful for is the opportunity to meet numerous present-day 'Einstein' in the field of education, psychology and human development whose name I used to cite in my academic papers, like Kuhn, Brooks-gunn and Miller!
Last but not least, the City of New York, itself, has not only exposed me to various,mindblowing social or people-oriented services, ventures and projects, but has also allow me to cross paths with numerous passionate, big-hearted dreamers who consistently transfer that
unexplainable/inexpressible courage and energy to never stop dreaming and believing in beauty of our dreams!
So what?
As I reflect back and ask the "does it really worth it?" question regarding my Aussie and the USA's academic experiences today -- the day which remarks my 3rd forgood anniversary, I can be confident to say that these experiences are definitely, truly worth it and that I will never exchange it for the world!
Whilst becoming a part of one of the Go8 universities as well as an Ivy League institutions are definitely great, dream-comes-true achievements, I realize that at the end of the day, the most valuable take-home point that I should continue to live by every day is the courage and the energy to keep dreaming! To keep dreaming big! And to continue believing in the beauty of those dreams and to consistently work on it realizing that the better future depends on it!
Grace Eugenia Sameve, S.Psi, B.A, M.A
Universitas Indonesia
The University of Queensland
The Teachers College, Columbia University

Tahukah kawan, banyak anak bangsa yang membutuhkan setitik cahaya untuk memberikan sedikit asa di dalam hidup yang terkadang tidak berpihak kepadanya

Kita tahu kawan, bahwa perjuangan tidak pernah ada yang mudah, selalu ada usaha dan doa di setiap malam

Air mata dan keringat yang selalu menemani kita di sepanjang jejak langkah menempuh cita-cita

Bagikanlah kisah hidupmu di dalam sebuah tulisan untuk menemani keringat, usaha, air mata dan doa mereka dalam menggapai mimpinya. Menjadi titik cahaya di ujung perjalanan mereka

Kirimkan kisah perjuanganmu ke inspirasidunia@ppidunia.org dan tulisan akan dipublish di web ppidunia

Syarat Penulisan :

whatsapp-image-2016-12-14-at-6-07-19-pm

 

Kisah kamu bukan hanyalah milikmu, karena di dalam kisahmu selalu ada sahabat, cerita dan inspirasi yang menjadi pelepas dahagamu

 

Hari Hak Asasi Manusia: Hargailah perbedaan pendapat

Hari Hak Asasi Manusia (HAM) diperingati setiap tanggal 12 Desember sebagai bentuk penghormatan terhadap proklamasi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pada 10 Desember 1948 oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Di Indonesia, pengaduan paling banyak adalah mengenai hak atas kesejahteraan, seperti sengketa kepemilikan tanah dan kepegawaian.

Pada hari Senin (12/12/16), PPI Dunia menghadirkan dua pelajar Indonesia masing-masing dalam diskusi dua siaran RRI Voice of Indonesia mengenai Hari Hak Asasi Manusia. Dua mahasiswa tersebut adalah Leroy Christian Purnama, mahasiswa International Business di Universitas Haaga-Helia, Finlandia, dalam program Youth Forum dan Patricia Iriana, mahasiswi Political & Social Cooperation and Development di Universitas Della Calabria, Italia dalam program KAMU (KAmi yang Muda).

“Edukasi adalah sesuatu kesempatan yang sangat berharga yang harus dimanfaatkan seoptimal mungkin. Tidak ada alasan untuk meninggalkan sekolah apalagi karena bully atau perkara lainnya. Bullying di sekolah sudah merupakan pepatah lama yang termasuk kasus pelanggaran HAM. Peran guru sangat penting dalam meminimalisir hal ini untuk menciptkan lingkungan sekolah yang nyaman dan kondusif,” terang Leroy,mahasiswa yang sedang melanjutkan studinya di Finlandia tersebut.

“Sebagai seorang pemuda, kita harus paham mengenai makna dan cara menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia. Pertama kita harus tahu bagaimana cara menghargai diri sendiri dan kemudian yang paling mendasar adalah menghargai orang lain, misalnya menghargai teman yang memiliki pendapat berbeda dalam suatu hal,” tegas Leroy dalam program Youth Forum.

“Perbedaan sistem penghormatan pemerintah terhadap Hak Asasi Manusia memang lebih baik di Italia dalam konteks lebih memberikan kesempatan untuk aktualisasi diri,” lanjut Patricia, mahasiswi yang sedang melanjutkan studinya di Italia tersebut.

“Hendaknya seorang harus selalu memperhatikan toleransi terhadap hak orang lain ketika mengutarakan pendapat. Teruslah membangun dari pribadi sendiri untuk membentuk karakter yang lebih baik dan positif. Dalam bentuk pendapat berupa demonstrasi, itu lazim tetapi harus tetap didasari dengan rasa tanggung jawab dengan tidak melanggar hak asasi orang lain, dan tetap dalam satu rasa persatuan NKRI,” terang Patricia dalam program Kami yang Muda.

Baik Leroy maupun Patricia menyatakan bahwa, perkembangan dunia maya tidak terbendung dalam memberikan pengaruh positif maupun negatif terhadap hal positif dan negatif dalam cara HAM. Solusi yang paling tepat adalah edukasi agar seseorang secara individual tidak terpengaruh dengan hal-hal negatif yang disodorkan. Peran keluarga juga penting dalam menanamkan hal-hal positif dan cara menyikapi sesuatu.

Dengan ini, akan membentuk masyarakat yang bersikap cerdas dalam beropini di dunia maya.

(CA/AASN)

“Semangat Adalah Ruhnya Perjuangan”

- Mohd Enha (Penulis Buku Jalan Damai Kita)

 

Adalah sungai Bengawan Solo, saksi bisu perjalanan masa kecil saya di sebuah kampung terpencil bernama Tejoasri. Desa kecil yang terapung seperti layaknya pulau dengan dikelilingi sungai terpanjang di Jawa. Di kampung subur makmur inilah saya dilahirkan. Saya besar di lingkungan keluarga penuh kesederhanaan. Rumah berdinding kayu dan lantai telanjang tanpa ubin atau penutup lain, cukup beralaskan tanah bukan menjadikan alasan kami untuk tidak merasa bersyukur. Di sekeliling rumah adalah alam yang sejuk. Pohon asam jawa dan mangga gadung tumbuh rindang di depan rumah, bambu-bambu menjulang tinggi mencakar langit menaungi gubuk peninggalan kakek saya ini. Alam bebas telah mengajari saya hidup penuh tantangan dan bagaimana cara survive di dalamnya. Karena masa kecil saya berbeda dengan anak-anak seusia saya yang lain. Masa anak-anak yang seharusnya sepulang sekolah bisa bermain bersama teman sepuasnya, tapi itu tidak dengan saya.

Sampai akhirnya menginjak kelas tiga Sekolah Dasar (SD) hidup saya sesungguhnya pun dimulai. Di sinilah saya mulai diajari bekerja. Diajak orang tua berladang, ke sawah, dan belajar bercocok tanam. Saya juga dibelikan sepasang kambing jantan dan betina untuk dirawat dan diternakkan di rumah. Kambing betina dengan bulu putih halus, sedangkan kambing jantan memiliki tanda bulatan warna hitam di kedua kaki depannya selalu menemani saya sepanjang hari. Setiap sore sepulang sekolah saya harus pergi mencari rumput ke ladang. Kecuali pada hari Minggu atau libur sekolah saya cukup menggembalakan di tanah lapang atau tegalan yang banyak rumputnya. Begitu seterusnya sampai akhirnya berkembang biak, dijual buat biaya hidup sehari-hari dan sampai saya bisa membeli sepeda motor dan dua ekor sapi.

 

Sibuk bekerja membantu kedua orang tua tidak mengganggu semangat belajar saya. Di kelas target harus tetap rangking satu. Dan itu saya wujudkan. Bahkan teman-teman SD mengenal saya termasuk orang yang bisa dibilang memiliki ambisi besar. Meski saya adalah anak yang terlahir dari keluarga bertaraf ekonomi menengah ke bawah dan menjadi penggembala kambing, tetapi saya harus memiliki segudang mimpi yang patut kiranya untuk saya perjuangkan. Bapak saya adalah seorang buruh tani, kadang juga bekerja serabutan menjadi kuli bangunan -itupun jika ada tawaran-. Kesehariannya lebih banyak mewakafkan diri menjadi marbot masjid. Sedangkan ibu saya berprofesi sebagai guru mengaji di surau yang berada ± 50 meter dari tempat tinggal saya. Dengan penghasilan per bulan yang tidak seberapa, jika dipakai membiayai pendidikan sampai ke jenjang lebih tinggi hitung-hitungan matematikanya tidaklah cukup.

Namun, hal demikian tidak pernah mematahkan semangat saya dalam menuntut ilmu. Kita lahir di dunia ini sebagai manusia dianugerahi otak yang luar biasa. Asal kita mau mengoptimalkan otak kita untuk mencari cara, semua persoalan yang kita hadapi pasti ada jalan keluarnya. Dan bukankah Tuhan telah berjanji akan mempermudah setiap hamba-Nya yang berniat menuntut ilmu. Karena keyakinan itulah selepas Sekolah Menengah Atas (SMA) saya menjadi penggembala mimpi. Mimpi bisa sekolah tinggi, mimpi menjadi penulis, mimpi kuliah di luar negeri, mimpi menjadi orang sukses, pengusaha, dosen, peneliti, guru besar, mimpi mempunyai yayasan, dan mimpi-mimpi lain yang telah tercatat di buku catatan mimpi saya. Akhirnya Tuhan membukakan jalan buat meraih mimpi-mimpi saya. Saya diberi kesempatan untuk mengenyam bangku kuliah di Jurusan Biologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan Beasiswa Bidikmisi melalui seleksi jalur SNMPTN Tulis.

Rupanya takdir masih berpihak pada saya. Selepas dinyatakan lulus (yudisium) sebagai Sarjana Sains (S. Si) Jurusan Biologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, saya direkomendasikan oleh Dekan Fakultas untuk menjadi analis Laboratorium Mikrobiologi di salah satu perusahaan farmasi Pasuruan Jawa Timur. Dunia bekerja rupanya sangat jauh berbeda dengan dunia perkuliahan. Apalagi perusahaan besar menuntut kualitas kerja tinggi dan mampu bekerja dibawah tekanan. Namun hal demikian dapat kita asah ketika masih berstatus sebagai mahasiswa.

Sebagai mahasiswa yang menyandang “mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi” amatlah malu jika tidak berprestasi. Rasa syukur teramat dalam saat itulah saya manifestasikan dengan jalan di antaranya menggali ilmu semaksimal mungkin, mengembangkan bakat yang saya miliki melalui aktif di berbagai organisasi baik yang ada di kampus maupun di luar kampus, tentu tidak lupa tetap harus selalu mengedepankan dalam hal akademik. Lantas manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dengan turut berpartisipasi dalam event skala lokal, nasional maupun internasional. Serta mendedikasikan diri -andil dalam kegiatan pengembangan dan pengabdian masyarakat-. Karena hemat saya, sebagai mahasiswa tiada artinya jika hanya berkutat dengan buku dan penelitian. Kuliah tetap serius, tetapi harus diimbangi dengan belajar menjadi pemimpin di masyarakat melalui Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ataupun Non Government Organisation (NGO).

Pengalaman merasakan tugas kuliah menumpuk, lembur tiap malam, rapat sana-sini, disibukkan dengan penelitian, menyambi kerja part time mulai dari menjadi tentor private hingga pelayan kafe, belum lagi berangkat mengikuti pendampingan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Semua itu saya lakukan sesungguhnya demi masa depan saya juga. Sehingga demikian itu termasuk bagian dari proses meraih cita-cita dan mimpi dalam hidup saya. Prinsip organisasi oke, akademik juga oke haruslah selalu dipegang. So, sebagai mahasiswa penerima beasiswa boleh aktif organisasi di mana-mana, tetapi IPK wajib cumlaude. Caranya mudah saja, cukup belajar yang rajin, teguh pada komitmen, pintar-pintar bagi waktu, tidak boleh mengeluh, kerjakan setiap pekerjaan dengan sungguh-sungguh, dan berdoa meminta yang terbaik. Apapun itu, jika prosesnya maksimal pasti akan menuai hasil yang setara dengan perjuangannya. Karena pepatah mengatakan bahwa hasil tidak pernah mengkhianati proses, itu faktanya memang benar.

Kesimpulannya “jika kita ingin sukses, maka berusahalah lebih dari sekadar pada umumnya dan berdoalah lebih dari standarnya.” Begitu kiranya hukum timbal balik berlaku. Sebagai mahasiswa, jangan sekali-kali merasa minder dan percayalah bahwa setiap orang mampu melakukan suatu hal asal ada kemauan. Maka, saya tidak ingin menjadi orang biasa-biasa saja. Mari bersama-sama memberikan kontribusi pada bangsa ini sebagai balas budi.

Lalu bagaimana jika kita belum merasa layak? Tetaplah berjuang dan buat rekam jejak yang baik untuk mencapai impian setinggi-tingginya. Aktif di organisasi, berkarya, mandiri usaha dan bekerja serta mengabdi di tengah-tengah masyarakat pasti banyak ilmu yang didapatkan, minimal tentang manajemen waktu. Namun, menurut saya tidak cukup itu saja yang nantinya bisa kita berikan kepada bangsa dan negara ini. Akhirnya saya memutuskan bekerja hanya tujuh bulan lamanya. Saya mengajukan surat resign karena ingin mengikuti seleksi beasiswa S2 program Magister Nanosains di King Mongkut’s University of Technology Thonbury (KMUTT) Bangkok, Thailand.

Saya pun percaya, sebagai lulusan mahasiswa UIN Malang pasti tidak hanya mampu bersaing di kandang saja, akan tetapi di luar kandang tentu juga bisa. Di sini saya memberanikan gambling, meninggalkan jabatan pekerjaan demi ikut seleksi beasiswa S2. Semua pilihan pasti ada resikonya. Bismillah dan di-fatehahi saja. Setelah ikhtiar, serahkan segala urusan kepada Allah. Percayakan Dia pasti menolong setiap urusan hamba-Nya. Rupanya lagi-lagi Tuhan menunjukkan kebesaran Kun Fayakun-Nya. Ternyata saya dinyatakan lolos saat pengumuman seleksi administrasi dan interview via Skype.

Di sinilah saya bisa bertemu dengan orang-orang hebat, yang kini telah memberikan inspirasi dan motivasi besar pada diri saya. Begitupun juga, hal itu memberikan timbal balik positif sehingga mengentas ambisi saya untuk menjadi orang besar, dan yang paling penting adalah nantinya bisa bermanfaat bagi orang lain. Sehingga tiada kata selain ucapan rasa syukur yang tiada hentinya kepada Tuhan Sang pemilik kehidupan ini, karena telah memberikan saya kesempatan luar biasa. Yaitu lolos beasiswa di salah satu Universitas terbaik Thailand.

Hal semacam ini terkadang juga sulit untuk saya pikirkan. Meskipun saya hanyalah anak dari desa, sejak kecil hidup di bantaran sungai kini bisa melanjutkan kuliah di luar negeri dan gratis pula. Semua berkat doa dari kedua orang tua saya yang merupakan aset terbesar dalam hidup saya. Serta doa guru-guru yang pernah mengajar dan mendidik saya. Mereka-mereka jugalah yang selalu memberi semangat mengenai pentingnya belajar dan kewajiban menuntut ilmu. Sehingga hal itu bisa mengantarkan saya mengenyam pendidikan dalam kasta tertinggi. Saya pun duduk sederajat dengan anak-anak seorang pengusaha, pejabat pemerintah, dan anak orang-orang besar dari berbagai negara. Saya berada di lingkungan intelektual, sebuah lingkungan yang saya harapkan dapat membentuk karakter dan potensi diri saya. Mampu menempa saya menjadi pemimpin masa depan bangsa. Pulang menjadi orang yang bermanfaat bagi negara.

Kisah singkat ini hanyalah sebagian contoh dari banyak contoh lain yang lebih menginspirasi tentunya. Tapi pesan saya cukup satu. Bermimpilah setinggi-tinginya dan sudah tidak ada alasan lagi untuk mengurungkan niat tidak kuliah gara-gara terkendala biaya. Jika niat dan tekad sudah bulat disertai doa dan usaha yang kuat, maka akan mampu mendorong dan mendobrak setiap rintangan yang ada. Yakinlah kalian juga pasti bisa bahkan mungkin di atas dari apa yang saya dapatkan sekarang ini. Tetaplah bersemangat, karena semangat adalah ruhnya perjuangan. This struggle is not ending yet. Khob khun na krap!

Biografi singkat penulis:

penulis

Muhammad Nur Hasan adalah mahasiswa S2 Jurusan Nanoscience & Nanotechnology King Mongkut’s Uiniversity of Technology Thonburi, Thailand. Lahir di Desa Tejoasri Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan pada tanggal 26 Desember 1992. Selama kuliah, alumni S1 Jurusan Biologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang ini aktif berkecimpung di berbagai organisasi kampus dan luar kampus. Sekarang ia terdaftar di pengurus Persatuan Mahasiswa Indonesia di Thailand (PERMITHA) dan Moslem Student Association in KMUTT. Penulis bisa dihubungi via email: hassan.em.noer@gmail.com, +6285645959842 (WA), Facebook: Muhammad N. Hassan, Twitter: @mas_hassan, Line: @hassanemnoer, dan Instagram: @m_enha.

Setiap manusia ditakdirkan memiliki jalan hidup berbeda-beda, yang ditentukan juga oleh cita-cita dan usahanya sendiri. Begitu pula dengan saya. Setapak demi setapak fase hidup ini saya beri nama Perjalanan Mimpi, dan Perjalanan Mimpi saya dimulai sejak saya duduk di bangku Sekolah Dasar.

Cita-cita saya sejak Sekolah Dasar hingga kini tak pernah berubah: menjadi diplomat Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tak kurang gila, saya pun dari dulu selalu berujar, “Ingin sekolah di Prancis”, yang tak ayal lebih sering membuat orang lain tertawa geli dibanding berdecak kagum. “Memangnya bisa? Gimana caranya?”, pertanyaan dan pernyataan keraguan dari merekalah yang sedari dulu membuat saya merasa tertantang: saya tak hanya harus membuktikan pada diri sendiri, namun juga pada dunia, bahwa segalanya mungkin terjadi.

Prancis selalu memikat hati saya. Meski waktu kecil saya tak tahu ada hal apa disana selain Menara Eiffel yang menjulang di Kota Paris, meski saya dulu tak pernah tahu bagaimana cara untuk pergi menuntut ilmu disana, meski saya dulu tak dapat mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Prancis sama sekali, tapi kata-kata “Ingin sekolah di Prancis” tak pernah terhapus dalam ruang di hati kecil saya. Rupa-rupanya alam semesta sangat menyukai anak kecil yang bermimpi dengan lugu. Mungkin semesta tertawa, mungkin semesta terpana, mungkin semesta tak menyangka. Meski pada akhirnya semesta meluluskan keinginan masa kecil saya, Perjalanan Mimpi ini tak pernah semudah yang dikira orang kebanyakan.

Saya tak dilahirkan dari keluarga berada, saya tak pernah bisa sesuka hati memiliki apa saja yang saya inginkan. Entah boneka ketika saya masih kanak-kanak, hingga gawai terkini yang canggih saat saya beranjak remaja. Orangtua saya yang mengajarkan saya arti kerja keras dan kerja cerdas. Mereka yang membuat saya mengerti bahwa tak ada mimpi yang tak bisa dicapai apalagi jika mimpi itu kelak dapat bermanfaat bagi masyarakat luas, alam semesta pasti akan selalu membukakan jalan. Dan falsafah itu yang saya genggam erat hingga kini, justru jadi warisan paling berharga dari orangtua saya, meski mereka tak bisa menjanjikan gelimang harta seperti orangtua kawan saya yang lainnya.

Saya selalu percaya bahwa kekuatan doa restu orangtua adalah hal yang penting, namun mereka tak akan pernah segampang itu mengucap restu jika tak ada pembuktian kuat dari janji yang kita umbar, selalu seperti itu. Dan kebanyakan anak akan cepat menyerah jika sudah merasa tak ada jalan untuk mendapat restu orangtua, lalu akhirnya dengan rela tak rela harus membenamkan mimpinya dalam-dalam. Tapi tidak dengan saya. Saya memilih jalan yang lebih menantang: terus maju memperjuangkan mimpi meski restu orangtua belum diberikan seratus persen. Awalnya memang terdengar seperti anak yang durhaka, tapi mereka pada akhirnya melihat bahwa saya punya kemauan yang kuat dan saya bekerja keras untuk membuktikan bahwa saya layak dipercaya untuk mendapat doa restu.

Selepas bangku Sekolah Menengah Pertama, saya mendirikan bisnis online yang akhirnya mampu membuat saya mandiri secara finansial sejak usia 16 tahun. Termasuk juga membayar biaya sekolah, biaya konsumtif sehari-hari, hingga akhirnya setelah lulus Sekolah Menengah Atas, saya mampu membayar uang kursus Bahasa Prancis yang nominalnya tak sedikit. Namun saya harus mencukupkannya sendiri tentu karena waktu itu saya belum memperoleh restu orangtua, sehingga tak ayal saya harus melakukan semuanya sendiri: mengurus administrasi, pendaftaran kuliah, mengirim dokumen-dokumen, membayar kursus dan membeli buku penunjang... Saya berusaha keras untuk tak mengeluh di depan orang-orang, di depan teman-teman, di depan orangtua, meski kadang saya merasa sangat lelah di malam hari, dan hanya ingin menangis saja di atas pembaringan, karena saya harus mengurus semuanya sendirian sekaligus berhati-hati menjaga perasaan kedua orangtua saya yang sempat merasa marah karena keinginan kami saling berbenturan. Semua usaha ini akhirnya terbayar lunas setelah orangtua saya memberi restu dan merelakan keinginan mereka agar saya kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri favorit di kota saya, semata-mata karena semangat saya untuk mewujudkan “Ingin sekolah di Prancis” tak lagi mampu dibendung.

Setelah restu orangtua saya dapatkan, semua beban rasanya terangkat dan pintu-pintu rejeki mulai terbuka lebar satu per satu. Meski dalam berbagai kesempatan, kedua orangtua saya selalu berujar, “Kami tak ada banyak biaya untuk membayar mimpi besarmu, tapi kami akan selalu memastikan kerja tim dalam keluarga ini akan mampu membawa langkahmu kemanapun yang kamu mau”. Kata-kata itu tak pernah berhasil mengendurkan semangat saya, malah justru membuat saya makin berapi-api, “Perjalanan Mimpi ini harus berproses dan berujung dengan sama bahagianya”.

Memang tak mudah, tak ada target muluk-muluk yang saya pasang, semua hanya ingin saya jalani dengan mengalir namun maksimal. Selalu saja ada yang meragukan, sempat membuat kerja tim dalam keluarga kami goyah, ada yang membuat semangat saya timpang, namun saya ingat betul waktu SD pernah mencetak sebuah gambar Menara Eiffel pada selembar kecil kertas HVS lalu saya simpan di sisipan mika transparan dalam dompet, dengan demikian saya seakan diingatkan bahwa saya harus selalu kuat karena sedang memperjuangkan sesuatu.

Tak ada kata yang mampu menggambarkan betapa magisnya perasaan yang menyeruak dalam dada ketika pada suatu hari di musim panas tahun 2016 itu, Menara Eiffel yang sekian lama hanya saya pandang-pandangi gambarnya, akhirnya terlihat jelas wujudnya. Haru, bahagia, bangga, semua menumpuk jadi satu. Eiffel yang cantik sore itu seperti menyorot kembali memori saya tentang Perjalanan Mimpi ini. Disana ada tekad kuat yang pernah saya perjuangkan, ada tangis kelelahan yang terdengar dari balik selimut di malam hari setelah saya memastikan semua orang terlelap, ada peluh bercucuran ketika saya berlarian kesana kemari mengurus berkas-berkas (saya tak bisa mengendarai kendaraan pribadi), ada semangat dari sahabat-sahabat saya yang selalu setia, ada pancaran wajah bahagia kedua orangtua saya, dan yang paling menohok adalah ada banyak kebaikan yang saya terima selama Perjalanan Mimpi ini. Disini ada dua lagi pelajaran penting yang saya ambil. Yang pertama, proses yang berliku jika dinikmati akan membuat tujuan akhir terasa lebih indah. Ketika berproses, entah saat senang maupun sedih, saya jadi merasa lebih dapat mengenali diri saya sendiri dan dunia di sekitar saya. Saya mendengar langsung cerita dari berbagai lapisan masyarakat karena selama melakukan Perjalanan Mimpi, saya dibawa pada petualangan-petualangan baru yang mempertemukan saya dengan orang-orang baru juga. Yang kedua, tujuan akhir akan terasa sangat berharga ketika kita dulu berusaha meraihnya dengan kerja keras dari nol. Saya belajar untuk tak meremehkan kekuatan mimpi, entah saat sedang dalam proses atau saat sudah tercapai.

Selepas sebuah mimpi besar masa kecil saya terwujud, saya kembali mengatur diri karena ada banyak tanggung jawab yang kini harus dibuktikan. Saya harus dapat bertahan hidup sendirian dengan anggaran secukupnya, beradaptasi dengan materi pelajaran yang tak dapat dibilang mudah, beradaptasi dengan dosen dan teman-teman yang beragam jenis sifatnya, beradaptasi dengan sistem di Prancis yang sangat asing, menyeimbangkan waktu antara belajar dan bekerja, belajar mengurus diri sendiri dan tempat tinggal... Karena saya tahu, saya berangkat ke Prancis tak hanya sebagai pembuktian, tapi juga menjadi perwujudan dari doa dan harapan dari banyak orang, terutama yang tak sabar menagih janji saya untuk segera berhasil agar dapat pulang, mengabdi pada tanah air tercinta.

Ketauilah, tak ada mimpi yang bisa ditebus dengan mudah. Ada harga yang harus dibayar dengan doa, semangat yang berpijar membara, dan kemauan untuk terus berusaha sesulit apapun tantangannya. Sejauh cita-cita itu kelak menjadi manfaat bagi dunia, harus percaya bahwa jalan akan selalu ada.

Terima kasih semesta, saya boleh bermimpi besar untuk Indonesia...

 

 

Scholastica Asyana Eka Putri Prasetio

S1 Ilmu Hukum Universitas Lille 2 Prancis

“Sumpah Pemuda” pertama kali dicetuskan dan ditetapkan dalam Kongres Pemuda Kedua dengan dasar cita-cita akan kesatuan tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia. Pada hari Senin (24/10/16), PPI Dunia menghadirkan Pandu Utama Manggala (Ph.D di Tokyo, Jepang) dalam program Youth Forum bersama RRI Voice of Indonesia.

“Dari dahulu hingga sekarang, sumpah pemuda masih tetap dijunjung tinggi oleh para pemuda Indonesia. Perbedaannya hanya satu yaitu sumpah pemuda pada zaman dahulu diperlukan dalam perjuangan menggapai kemerdekaan, di mana pada zaman kini, semangat persatuan ini diperlukan dalam membangun Indonesia ke arah yang lebih baik,” papar Pandu.

“Nasionalisme harus diproyeksikan dalam internasionalisme, bukannya dipandang sebagai sesuatu yang terpisah. Internasionalisme bukanlah musuh dari nasionalisme. Semangat nasionalisme seperti yang ditumpahkan dalam sumpah pemuda sangat penting dalam mendukung segala aspek pemerintahan terutama sistem demokrasi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkap mahasiswa yang juga menjabat sebagai ketua PPI Jepang periode 2016-2017 ini.

“Mengutip pidato Presiden Soekarno yang bahwa internasionalisme tidak dapat tumbuh subur tanpa adanya akar nasionalisme dan sebaliknya nasionalisme tidak dapat tumbuh subur, kalau tidak hidup dalam taman internasionalisme. Bersikap terbuka terhadap globalisasi merupakan suatu langkah terbaik dalam meningkatkan level Indonesia.”

Pada penuturan berikutnya, Pandu juga memaparkan bahwa Indonesia memiliki masa depan yang sangat cerah yang didukung oleh sistem demokrasi yang begitu kuat. Pemuda sudah membuktikan bahwa persatuan tidak hanya suatu retorika ideologi belaka melainkan harapan dan masa depan bangsa. Tantangannya sekarang adalah menjadikan Negara Indonesia yang lebih terbuka dalam kehidupan dunia dan menjaga identik negara dengan mempertahankan budaya Indonesia dihadapan masyarakat dunia.

Dalam pribadi pemuda Indonesia sendiri, percaya diri, ilmu pengetahuan, dan keterampilan merupakan bekal dan modal yang tepat untuk mempersiapkan kehidupan Indonesia yang lebih baik di masa depan. Sebagai contohnya adalah dengan belajar dan lancar dalam berbahasa Inggris. Hal ini tidak dapat menutup kemungkinan bahwa bahasa Inggris merupakan salah satu kunci untuk terjun ke dunia Internasional dan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik lagi dalam kancah Internasional. (Red CA/Ed Amir )

whatsapp-image-2016-10-14-at-10-31-54-pm

Tidak pernah ada yang mudah untuk menggapai cita-cita kuliah di luar negeri
Keringat dan peluh merupakan saksi napak tilas perjalanan yang panjangmu
Semua keterbatasan bukanlah halangan, karena engkau pernah membuktikan
Cerita itu yang seharusnya bisa kau bagikan kepada anak negeri yang haus akan prestasi

Bergabung lah bersama kami dalam project video inspirasi dunia, untuk menjadi narasumber kami dan bagikan cerita kamu ke penjuru negeri dengan mendaftarkan diri ke http://bit.ly/InspirasiDunia paling lambat 24 Desember 2016

Membaca tulisan-tulisan A. Fuadi membuat aku bermimpi sejenak. Apakah pantas seorang anak kampung dari pulau nun jauh di bagian Sumatera ini untuk kuliah di luar negeri? Apakah pantas seorang yang perekonomiannya bisa di bilang “pas-pas-an” ini untuk kuliah di luar negeri ? Apa pantas ? Tak kutemukan jawabannya hingga suatu hari, di suatu detik yang menjawab segala prasangka-prasangka positif itu. Aku berasal dari SMA Negeri 1 Bintan, Kepulauan Riau. Pulau Bintan, mungkin tak banyak yang tahu tentang pulau ini. Jaraknya sekitar 50 menit dari Pulau Batam dengan menggunakan kapal Ferry. Maka akan sampai di pelabuhan Tanjungpinang dan menempuh perjalan sejauh 40 km untuk sampai di SMA Negeri 1 Bintan.

Apa yang bisa dilakukan oleh murid kampung ini? Cuma bisa bermimpi untuk kuliah di luar negeri, memang rasa-rasanya tidak mungkin. Tetapi, semakin saya membaca buku-buku kisah Pak Baharuddin Jusuf Habibie, Andrea Hirata, dan Oki Setiana Dewi. Buku-buku seputar mereka yang menemani saya ketika detik-detik Ujian Nasional SMA tiba. Setidaknya, saya masih berani bermimpi bisa S2 di luar negeri, meski S1 saja saya tidak tahu, bisa atau nggak ? Dikarenakan kondisi perekonomian keluarga, saya mengubur dalam-dalam cita-cita saya masuk kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). The most favorite campus for me. Mengubur dalam-dalam dengan penuh air mata, nggak berani mimpi kuliah S1 di luar negeri.

Kepada kisah-kisah yang menginspirasiku, kepada Pak Habibie yang berhasil mengajarkanku untuk semakin cinta pada buku, cinta aktivitas membaca dan cinta aktivitas menulis. Membaca buku apa saja, dimana saja, dan kapan saja. Mengumpulkan, megolah dan menyaring. Lalu, menginterpretasikan hal-hal positif dalam hidup ini. Yang sudah mengajarkan ku, benci kepada hal yang main-main dan sia-sia. Mengajarkan ku, semangat tinggi belajar di luar negeri, mengharumkan nama rakyat Indonesia. Kepada Oki Setiana Dewi, yang mengajarkanku bahwa nggak harus pinter dulu untuk belajar di luar negeri, justru kita ke luar negeri itu untuk belajar. Kepada Andrea Hirata, yang membuktikan bahwa anak kampung juga bisa kuliah di luar negeri dengan sukses. Kepada A. Fuadi yang selalu menyuntikkan kalimat-kalimat motivasi sehinggakan aku berani bermimpi dalam diam dan berdo’a.

Inilah jawaban atas detik-detik kekhawatiran selama 90 hari aku menunggu, dimanakah kampus peradaban yang aku tuju. Ternyata, benar ya kata orang, apa yang kita baca akan mempengaruhi cara berpikir, cara hidup, cara pandang dan another believe of us. Inilah falsafah yang tetap aku pegang, mutiara ya mutiara, dimana saja ia berada ia akan tetap jadi mutiara. Inilah jawaban dari do’a-do’a dan mimpi terpendam yang aku utarakan hanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kusampaikan pada kakak tercinta, ingin S2 di Malaysia, nanti. Pada ibu tercinta ku meminta restu, untuk kuliah di luar negeri. Inilah sayap-sayap do’a orang-orang terkasih. Anak kampung ini, kuliah di Universiti Teknologi Malaysia, Skudai, Johor Bahru (Johor Darul Ta’zhim) dengan beasiswa Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau dengan syarat mengkuti tes dan interview.

Adalah karunia Tuhan kepada hamba-Nya. Sekali lagi, anak kampung ini yang hanya mendapat tes TOEIC bahasa inggris tiga ratus-an tertatih-tatih mencoba menginterpretasikan setiap mata kuliah di kampus. Kesulitan dalam berkomunikasi ini, menjadi ketakutan karena terikat perjanjian kontrak harus mendapatkan ipk-sekian. Penuh sandiwara, mungkin. Penuh air mata, tak bisa dipungkiri. Jarak sejauh lebih dari 100 km dari rumah, membuatku merasa home sick. Pertama kalinya anak kampung ini merantau. Ada banyak pelajaran yang kudapatkan dari kuliah di luar negeri, sangat banyak. Salah satunya, ketika semester awal. Ada sistem penilaian dari mahasiswa untuk dosen, jujur aku memberi masukan, bahwa “aku nggak ngerti sama sekali apa yang bapak jelaskan di kelas”. Dengan penuh tata krama dosen tadi menghargai aku dengan menggunakan bahasa melayu saat ujian laboratorium. Ini memacu semangat ku untuk terus belajar bahasa inggris. Satu lagi yang masih terkenang adalah, the ways of people teach us. Bukan bagaimana kita dapat nilai A dikelas lalu kita dapat four flat with perfectly, tapi ini tentang keutamaan ilmu dan nilai kejujuran. Our attitudes that determine how much we are educated.

Tentang manajemen waktu di organisasi, tentang belajar kepemimpinan, tentang seni mempelajari manusia dari berbagai belahan dunia. Tentang keindahan geografis Malaysia, sehinggakan aku sudah menjelajah negeri-negeri bagian selatan di Malaysia. Tentang, perjuangan dan air mata dan disini aku tau aku tak sendiri. Ada rakan-rakan lain yang berjuang dan membuktikan untuk menjadi a good Indonesian. Sekali lagi, ini kisah anak kampung yang sedang menyusun puzzle mimpi kuliah di luar negeri. Berharap suatu hari nanti, bisa meranah di kampus peradaban negeri ber-ibu kota Berlin.

 

 

Biodata Penulis

Nama : Rakhmania

Jurusan : Biologi Industri (Bioteknologi)

Universitas : Universiti Teknologi Malaysia (UTM)

 

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920