logo ppid

Pelajar Indonesia membentuk asosiasi Pelajar dan Alumni Nordik Baltik untuk mengawal agenda SDGs

Nordic Baltic Indonesian Scholar Conference (NBISC) adalah acara konferensi tahunan yang digelar oleh Perhimpunan/Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) yang berada di wilayah Nordik dan Baltik yaitu PPI Denmark, PPI Finlandia, PPI Swedia, PPI Norwegia, dan PPI Estonia. Konferensi ini merupakan konferensi kelima yang akan dilaksanakan di Copenhagen, Denmark selama dua hari, pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 16 dan 17 Maret 2019. Secara umum, konferensi ini bertujuan sebagai ajang bertemu dan berdiskusi antar para akademisi, peneliti, dan pelajar Indonesia yang berada di wilayah Nordik dan Baltik.

Tema yang diangkat dalam konferensi kali ini adalah Sustainable Development Goals (SDG), yang merupakan agenda global untuk mendorong perubahan-perubahan kearah pembangunan berkelanjutan berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan untuk mendorong pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup. Tema tersebut sangat bersesuain dengan bidang studi pelajar Indonesia di kawasan nordik baltik yang kebanyakan di bidang terkait dengan SDGs.

Ketua PPI Denmark, Luthfi Nur Rosyidi dalam kata sambutannya mengawali acara konferensi mengatakan bahwa konferensi tersebut penting sekali, karena bisa mengkolaborasikan dan mensingkronkan berbagai studi yang dilakukan para pelajar, seklaigus untuk membangun jejaring diantara mereka. Ada 19 poster hasil penelitian dan 10 foto terkait SDGs yang dilombakan dalam acara ini.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Denmark dan Republik Lithuania, bapak M. Ibnu Said turut hadir memberikan sambutan sekaligus membuka acara konferensi. Beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada para pembicara yang telah berkenan untuk berpartisipasi dalam konferensi ini. Dalam sambutannya, bapak M. Ibnu Said juga memaparkan beberapa kerjasama yang telah terjalin antara pemerintah Indonesia diantaranya program hutan harapan. Diakhir sambutannya, beliau berharap konferensi ini dapat menghasilkan rekomendasi yang dapat berkontribusi dalam pencapaian pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.

Pembicara NBSIC pada panel pertama menampilkan bapak Rahmat Witoelar yang merupakan Utusan Khusus Presiden RI dibidang climate change, dalam presentasinya, beliau mengemukakan bahwa hal terpenting dalam meningkatkan kepedulian climate change adalah perubahan aksi dari pemerintah ke non-state actors, hal ini memungkinkan terbukanya kekuatan baru dari bawah untuk meningkatkan kepedulian terhadap climate change. Senada dengan beliau, aktivis muda Nick Fitzpatrick yang aktif dalam Youth Climate Lab (YCL) pada presentasinya menekankan dan mengajak bahwa kepedulian ini harus juga dimiliki oleh generasi muda dengan memulai dari diri sendiri hingga level internasional. Pembicara lain yang juga diaspora Indonesia di Denmark memaparkan bahwa terdapat 3 aspek yang merupakan tantangan dalam produksi clean energy yaitu commercial aspect, regulation from government, and social aspect. Tantangan tantangan ini tentunya tanpa solusi, Denmark sebagai negara produsen energi terbarukan mengkolaborasikan secara bersama antara industri, universitas dan pemerintah dan semua stakeholders sebagai solusi menghadapi tantangan ini.

Pada panel 2, menghadirkan ibu Dr. Andi Erna Anastasjia Walinono, co-chair filantropi Indonesia dan mantan duta PBB untuk MDGs, menyatakan bahwa penting untuk membangun kemitraan dalam keterpaduan dengan tata kelola yang partisipatif, transparan dan akuntabel. Christian Lund, Head of Section Global Development, IFRO, University of Copenhagen dalam presentasinya menekankan pentingnya membangun research collaboration antara akademisi dengan praktisi SDGs, dengan demikian akan tercipta sinergitas yang akan mempercepat proses pencapaian tujuan tujuan pembangunan yang berkelanjutan.

NBSIC 2019 kali ini juga dimeriahkan dengan presentasi poster dan lomba fotografi yang diikuti oleh peserta dari PPI negara negara Nordic baltik, dimana ada 19 presenter poster dan 7 peserta lomba fotografi. Poster yang dipresentasikan adalah hasil dari penelitian di bidang studi masing-masing, terkait dengan sutainable development goal. Masing-masing presenter menyajikan perkembangan SDG dari disiplin ilmu mereka, dan menghasilkan suatu dialog yang saling mencerahkan bagi para hadirin.

Konferensi diakhiri dnegan pernyataan bersama dan deklarasi pembentukan forum komunikasi untuk menindaklanjuti-poin-poin yang telah disepakati. Beberapa poin tersebut adalah:

  1. Mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) diperlukan kerja sama kemitraan antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, akademisi, swasta, dan filantropi untuk memajukan ekonomi dan pembangunan sosial.
  2. Mendorong seluruh pemangku kepentingan di atas untuk berperan aktif dalam mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan mengatasi perubahan iklim.
  3. Perlu memobilisasi seluruh potensi dan sumber daya untuk mewujudkan SDGs.
  4. Meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya SDGs.
  5. Berkomitmen untuk berkontribusi dan bersinergi dalam mewujudkan target SDGs di Indonesia pada tahun 2030 sesuai dengan kapasitas, pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan bidang yang dikuasai sesuai dengan 17 pilar yang ditetapkan dalam SDGs.
  6. Penguatan kerja sama antara diaspora dan pelajar Indonesia di wilayah Nordik Baltik dengan akademisi, profesional, peneliti, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengembangkan penelitian dan mengimplementasikan ilmu yang didapat untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
  7. Untuk mengawal poin-poin di atas, serta mengembangkan relasi dan kolaborasi sesama pelajar Indonesia di wilayah Nordik Baltik, kami bersepakat untuk berhimpun dalam Wadah Komunikasi Alumni dan Pelajar Indonesia di wilayah Nordik Baltik.

Hai teman-teman PPI Dunia! Kali ini kita akan membahas tentang lokasi-lokasi travelling di Denmark. Jika pertama kali mendengar tentang Denmark, pasti akan langsung teringat dengan kota Copenhagen yang merupakan ibukota dari Denmark, dengan kawasan Nyhavn yang unik dan patung Little Mermaid-nya. Tetapi jangan salah, di Denmark ada banyak lokasi wisata lain yang tentunya tidak kalah menarik dari Copenhagen. Untuk itu, tulisan kali ini akan membahas beberapa tempat-tempat tersebut.

Yang pertama adalah Møns Klint yang merupakan tebing kapur sepanjang 6 km di pesisir selatan Pulau Zealand. Tebing kapur ini cukup tinggi, mencapai sekitar 120 m dari permukaan laut. Untuk mencapai pantai di tepi tebing, ada beberapa jalur tangga yang dapat dilalui dimana jalur yang paling terkenal berjumlah 497 anak tangga! Møns Klint sangat menarik untuk dikunjungi, karena selain pemandangan alamnya yang indah, terutama jika dikunjungi saat musim gugur. Terdapat formasi batuan yang cukup unik dan menyimpan banyak informasi terkait sejarah geologi di wilayah Denmark. Wilayah hutan di atas tebingnya pun menyimpan banyak keindahan, dan tentunya titik-titik yang keren untuk berfoto.

Dari ujung selatan Denmark, kita berpindah ke ujung paling utara daratan utama Denmark, yaitu di Grenen yang dalam bahasa denmark memiliki arti cabang pohon. Terletak sekitar 3 km dari Skagen, kota paling utara di Semenanjung Jutland. Grenen merupakan titik pertemuan antara 2 laut, yaitu Skagerrak di sebelah barat yang merupakan bagian dari Laut Utara, dan Kattegat di sebelah timur yang merupakan bagian dari Laut Baltik. Pertemuan kedua laut ini membawa pasir yang terdeposisi membentuk suatu semenanjung kecil, yang selalu bergerak setiap tahunnya. Waktu terbaik untuk mengunjungi Grenen adalah saat musim panas, dengan adanya kemungkinan kita dapat melihat batas antara kedua laut yang bertemu, ditandai dengan perbedaan warna kedua laut. Selain itu, Grenen juga sering dikunjungi berbagai satwa yang menarik, seperti anjing laut, lumba-lumba, dan burung-burung endemik wilayah Skandinavia.

Tidak jauh dari Skagen, terdapat Råbjerg Mile, yang merupakan lahan gumuk pasir, kira-kira seperti Parangkusumo di Indonesia. Uniknya, Råbjerg Mile selalu berpindah lokasi setiap tahunnya, dengan perpindahan rata-rata 15 meter ke arah timur laut. Diperkirakan dalam waktu satu abad, Råbjerg Mile akan mencapai pusat kota Skagen dan menutupi kota tersebut. Tempat ini sangat indah, kita akan seperti berada di tengah gurun pasir sekalipun udaranya cukup dingin. 

Lokasi lain yang cukup terkenal di Denmark adalah Legoland Billund. Legoland ini merupakan Legoland pertama yang dibangun di dunia dan berada di sebelah pabrik pertama LEGO. Di Legoland Billund, terdapat banyak sekali minatur-miniatur lokasi terkenal Denmark maupun dunia. Tidak hanya itu saja, tetapi juga terdapat beberapa wahana permainan yang seru untuk dimainkan, terutama jika kita berkunjung bersama keluarga. Lokasinya sangat strategis, hanya beberapa menit saja dari Bandara Billund yang merupakan bandara tersibuk kedua di Denmark.

Bagi penggemar wisata arsitektur, tidak akan lengkap mengunjungi Denmark apabila tidak mendatangi Kota Aarhus. Aarhus adalah kota kedua terbesar di Denmark, dengan 13% dari seluruh populasinya yang berjumlah 315.000 orang berupa pelajar, yang menjadikannya sebagai kota dengan rata-rata usia termuda di Denmark. Meskipun demikian, menurut sejarahnya Aarhus adalah salah satu kota tertua di wilayah Skandinavia dan merupakan salah satu kota pelabuhan kaum Viking. Maka dari itu, jika kita berkeliling Aarhus kita akan disuguhi pemandangan bangunan-bangunan klasik yang diselingi gedung-gedung bernuansa modern. Salah satu ikon utama Aarhus adalah Museum ARoS, sebuah museum seni modern yang terkenal dengan instalasi permanen ”Your Rainbow Panorama” karya Olafur Eliasson. Instalasi ini berupa lorong melingkar sepanjang 150 meter yang dilingkari kaca dengan menampilkan seluruh warna dalam spektrum cahaya. Bukti lain inovasi arsitektur di Aarhus adalah kawasan Isbjerget di Aarhus Ø, yang merupakan kompleks apartemen yang didesain menyerupai gunung es.

Namun demikian, banyak juga kegiatan lain yang dapat dilakukan di Aarhus. Salah satunya mengunjungi Moesgaard Museum di selatan Aarhus. Moesgaard Museum adalah museum prasejarah dan arkeologi Denmark yang dilengkapi dengan berbagai sarana multimedia interaktif, yang membawa kita berjalan-jalan menelusuri sejarah Denmark dan Skandinavia tidak hanya melalui pandangan, tetapi juga indera-indera kita lainnya. Sungguh, butuh satu hari penuh untuk menikmati seluruh media dan pameran di Moesgaard Museum.

Sebagai pelajar di Denmark, masih banyak lagi atraksi yang belum saya kunjungi, seperti museum Hans Christian Andersen di Odense, mengambil tiram liar di pesisir Ribe di Jutland Barat, Kepulauan Faroe, dan masih banyak lainnya. Jadi, tunggu apa lagi? Masukkan Denmark dalam daftar wajib dikunjungi Anda selanjutnya jika mampir di Eropa!

Tulisan ini ditulis oleh Theodorus Felix D. Abik yang merupakan mahasiswa MSc in Molecular Nutrition and Food Technology – Aarhus University, Denmark

Musim dingin memang menjadi salah satu kenikmatan ketika tinggal di negara empat musim. Melihat indahnya butiran salju turun menyentuh tanah adalah hal yang tidak bisa kita dapatkan di negara tropis. Meskipun, suhu dingin juga terkadang membuat kita malas melakukan aktivitas di luar. Tetapi, bagaimana jika ganjarannya adalah pemandangan alam yang luar biasa?

Saya dan empat orang teman memutuskan untuk menjelajahi Taman Nasional Bohemian Switzerlanddi akhir Januari lalu. Taman nasional ini terletak di bagian barat laut Republik Ceko. Taman ini adalah bagian dari Elbe Sandstone Mountains yang terbentang dari wilayah Saxon di Jerman hingga wilayah Bohemia di Republik Ceko. Karenanya, taman nasional di bagian negara Jerman dikenal dengan nama Taman Nasional Saxon Switzerland.

Untuk mengunjungi taman nasional tersebut, kami bertolak dari kota Děčín. Kota ini hanya berjarak 1,5 jam dari kota Praha jika ditempuh dengan kereta api. Harga tiketnya mulai dari 109 CZK (~4 EUR) untuk tiket dewasa atau 27 CZK (~1,20 EURO) untuk pelajar di bawah 25 tahun dan memiliki kartu ISIC. Tiket dapat dibeli melalui website České dráhy (https://www.cd.cz/) atau di stasiun.

Destinasi hiking kami di taman nasional tersebut adalah Pravčická brána (Gerbang Pravčická), sebuah formasi bebatuan melengkung berbentuk seperti gerbang. Tempat ini juga dikenal sebagai salah satu lokasi shooting film The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch, and the Wardrobe. Tentu saja banyak destinasi lain yang bisa dikunjungi di taman nasional ini, seperti Labirin Batu Tisá dan Jurang Edmund. Tetapi beberapa tempat hanya dapat diakses pada bulan April-Oktober.

Sebelum berangkat, kami menanyakan informasi mengenai bus menuju destinasi kami di Pusat Informasi Děčín. Kami diberitahu bahwa halte destinasi kami ialah Hřensko,Pravčická brána dan kami bisa ke sana dengan bus 434. Kami juga diberitahu kalau halte bus terdekat dari lokasi kami saat itu adalah Masarykovo náměstí, lalu di mana kami harus menunggu bus, jam keberangkatan bus selanjutnya (pukul 13.15) dan jam keberangkatan bus dari Pravčická brána menuju Děčín (pukul 17.05 dan 19.05). Salah satu kekurangan berkunjung di saat musim dingin ialah jadwal bus yang lebih sedikit, yaitu hanya sekali dalam dua jam.

Kami sempat berbincang sejenak dengan wanita yang bertugas di pusat informasi tersebut karena dia sangat senang mengetahui bahwa kami berasal dari Indonesia. Dia bilang bahwa belum pernah ada turis Indonesia yang berkunjung ke kota tersebut. Ternyata dia pernah melihat penampilan angklung dan sangat terpukau dengan alat musik tradisional kita itu. Sebagai kenang-kenangan kami pun berfoto bersama dan bertukar kontak. Dia juga memberi kami suvenir dari Děčín. Sayangnya kami hanya punya kopi jahe sachet dari Indonesia yang bisa kami berikan kepadanya. Tips untuk traveling selanjutnya, selalu bawa sesuatu yang bisa dijadikan suvenir dari Indonesia, entah itu kartu pos, uang koin, gantungan kunci, dan sebagainya.

Kami masih punya waktu 45 menit dan kami memutuskan untuk mengunjungi Kastil Děčín (Zámek Děčín) sejenak. Lokasi kastil ini berada di atas bukit, sehingga kita bisa melihat kota Děčín dari atas. Meskipun menurut saya kastil ini lebih cantik jika dilihat dari jauh, dari seberang sungai Lebe atau Via Ferrata.

Lima menit sebelum bus datang kami telah tiba di halte yang berada di pusat informasi halte. Merasa ganjil karena jalur yang tertulis di papan jadwal bus justru menuju arah yang berlawanan, kami pun menunggu di halte seberang. Papan jadwal bus di sini menunjukkan jalur yang benar. Tetapi bus yang kami tumpangi yaitu bus 434 tak kunjung datang pada pukul 13.15 sehingga kami pun menunggu hingga 20 menit kemudian. Pada akhirnya, kami memutuskan untuk bertolak dari stasiun utama karena salah satu teman kami sudah pernah mengunjungi destinasi yang akan kami kunjungi tersebut dari stasiun utama. Untuk menuju ke stasiun utama, kami harus naik bus lagi selama 10 menit.

Karena bus selanjutnya masih 1,5 jam lagi, kami menyempatkan lagi berjalan-jalan di kota tersebut untuk menghibur diri menghilangkan rasa bosan menunggu di halte karena hal yang berjalan tidak sesuai rencana. Kami sempat melewati museum daerah (Oblastní muzeum) dan sinagoga. Pukul 3 sore kami menaiki bus yang kami tumpangi menuju Hřensko. Tiket bisa dibeli dari supir seharga 25 CZK (~1 EUR) per orang. Bus ini melewati halte tempat kami menunggu sebelumnya dan kami akhirnya mengetahui bahwa kami menunggu di halte yang berseberangan. Pantas kami tidak melihat bus yang kami harapkan tersebut.

Perjalanan menuju tempat destinasi hanya memakan waktu sekitar setengah jam. Kami tiba pada pukul 15.40, waktu yang sebenarnya sangat terlambat untuk mulai mendaki. Pada hari itu matahari tenggelam pukul 16.50. Bus pulang pada pukul 5 sore tidak mungkin terkejar. Jadi kami pun mengusahakan agar sudah tiba di bawah lagi sebelum benar-benar gelap.

Rute menuju Pravčická brána termasuk rute yang ringan dan sangat aman untuk pemula. Jalannya adalah bebatuan yang ukurannya tidak teratur, sehingga sangat disarankan menggunakan sepatu yang sesuai. Di musim dingin ini, jalan tersebut ditutupi lapisan salju. Beberapa bagian jalan bahkan sudah menjadi es yang agak licin, sehingga kami harus berhati-hati agar tidak terpeleset. Setengah perjalanan pertama kami menelusuri hutan dan jalannya tidak terlalu curam. Kemudian rute pun berbelok ke arah yang jalan lebih terjal dan lebih sempit, serta terdapat dinding bebatuan yang besar sehingga sesekali kami harus menundukkan kepala. Berjalan dalam suatu kelompok memudahkan pendakian karena kita bisa saling tolong-menolong jika ada jalur yang sulit dilewati.

Saat perjalanan ke puncak, kami berpapasan dengan pendaki lain yang sudah turun karena hari sudah beranjak gelap. Tak heran ketika kami tiba di puncak, kami adalah satu-satunya yang masih berada disana. Kami berfoto-foto sebentar, menikmati pemandangan matahari yang perlahan tenggelam, dan tentu saja mengagumi formasi batu unik yang menjadi destinasi kami. Dan yang terpenting dari perjalanan alam adalah memanjatkan puji kepada Yang Menciptakannya, bersyukur kita dapat diberikan kesempatan menikmati keindahan alam tersebut dan keselamatan dalam perjalanan. Setelah cukup puas, kami pun berjalan kembali menyusuri jalur yang tadi kami lewati dan berhasil tiba di bawah sebelum langit gelap total sekitar pukul 17.30.

Lagi-lagi kami harus menunggu bus selama 1,5 jam. Bedanya kali ini kami menunggu dalam kegelapan dan udara yang dingin di sebuah pondok kecil di pinggir jalan. Sesekali ada mobil yang melewati jalan besar di hadapan kami sehingga ada sedikit perasaan lega bahwa kami tidak benar-benar di daerah terisolasi. Kami pun menghabiskan waktu dengan bercerita sambil menghabiskan perbekalan. Sesekali kami menggerakkan tubuh agar tetap merasa hangat sampai akhirnya bus yang kami nanti tiba. Supirnya adalah supir bus yang juga membawa kami dari Děčín. Karena sangat senang akhirnya bisa pulang dan tidak lagi kedinginan, kami mengekspresikan rasa terima kasih kami dengan sedikit berlebihan kepada Pak Supir. Mungkin merasa lucu melihat ulah kami, dia hanya menyuruh kami membayar 50 CZK untuk tiket bus pulang. Lagi-lagi kami bertemu warga Ceko yang baik hati.

Penulis adalah Meisyarah Dwiastuti, tukang coding yang sedang mengambil program European Master in Language and Communication Technologies. Sekarang sibuk mengerjakan tesisnya di Charles University, Praha, Republik Ceko. Anggota PPI Ceko.

Banyak orang menjuluki Inggris sebagai negara yang gloomy. Julukan ini didapat Inggris karena langit di Negeri Ratu Elizabeth tersebut sering kali dilingkupi awan kelabu. Meski begitu, ada satu kota yang disebut-sebut sebagai tempat paling cerah di Inggris. Ia adalah Brighton, kota di mana saya sedang menempuh studi postgraduate saat ini.

Brighton sendiri adalah kota pinggir laut yang berada di selatan Inggris, tepatnya di East Sussex. Untuk menuju Brighton, cukup menempuh perjalanan selama satu jam naik kereta dari pusat kota London. 

Julukan sebagai kota paling cerah di seantero Inggris yang disematkan pada Brighton pertama kali saya dengar dari Professor Adam Tickell, vice chancellor University of Sussex, kampus tempat saya belajar. “It is said that Brighton is the sunniest city in the UK.” Kira-kira begitu kalimat Professor Adam saat menyampaikan welcoming speech untuk menyambut mahasiswa baru, pertengahan September lalu.

Terlepas dari benar atau tidaknya klaim tersebut, Brighton memang paling enak dinikmati saat hari sedang cerah. Kegiatan favorit saya pada saat sunny days adalah pergi ke pantai untuk menunggu waktu sunset. Penat di kepala selepas kuliah rasanya langsung hilang begitu melihat keindahan matahari tenggelam dari pantai Brighton.

Menikmati Brighton sebagai Pelajar

Tidak butuh waktu yang lama buat saya untuk merasa kerasan tinggal di Brighton. Kota ini punya energi dan karakter unik yang tidak saya temukan di kota besar seperti London. Dinding bangunan di Brighton banyak dihiasai dengan mural dan graffiti. Orang-orang dengan ekspresi fesyen yang beragam tumpah ruah di jalanan. Belum lama ini, Brighton dinobatkan sebagai “the most hipster city in the world.”

Buat saya, Brighton juga tempat yang ideal untuk tinggal dan belajar. Sebab, kota yang juga mendapat julukan sebagai 'London by the sea' ini tidak terlalu sibuk, tapi tidak juga terlalu sepi.

Berdasarkan sensus terakhir yang dilakukan pemerintah Inggris pada 2011, populasi pelajar di Brighton sekitar 14 persen dari total jumlah penduduk. Angka ini jauh di atas presentase rata-rata jumlah pelajar di England yang sebanyak 8,2 persen.

Di Brighton ada dua universitas dan beberapa college. Yang paling besar adalah University of Sussex. Berdiri sejak tahun 1960-an. Sussex memiliki lebih dari 17 ribu mahasiswa. Sekitar 24 persen di antaranya adalah pelajar internasional yang berasal dari 120 negara. Jadi, tak heran jika sedang berada di kampus, atau bahkan di seluruh penjuru kota Brighton, saya sering mendengar orang berbicara dalam beragam bahasa yang berbeda. 

Bicara soal suasana kampus, University of Sussex memiliki lingkungan yang tenang dan sangat kondusif untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar. Ini karena lokasinya yang dikelilingi South Downs National Park. Dari jendela perpustakaan, saya bisa melihat perbukitan hijau yang dihuni sapi dan kuda.

Jika butuh rehat setelah berjam-jam belajar di perpustakaan, saya bisa dengan mudah pergi ke pantai atau pusat kota dengan menaiki bus. Biasanya, setelah puas duduk-duduk di pantai, saya suka menyusuri gang-gang sempit di The Laines yang dijejali kafe, pub dan toko-toko mungil yang menarik.

Brighton juga terkenal dengan beragam festival seni dan budaya yang digelar sepanjang tahun. Mulai dari Brighton Art Fair, Brighton Film Festival, Brighton Fringe, Paddle Round the Pier, Brighton Kite Festival, Brighton Pride, hingga Burning the Clocks, festival akhir tahun yang ditandai dengan parade lentera.

Jadi, tertarik untuk studi dan tinggal di Brighton?

Brighton, Januari 2019

Halimatus Sadiyah, mahasiswa program Media Practice for Development and Social Change, University of Sussex.

Apakah kalian berencana untuk mengunjungi Italia? Kebanyakan dari pelancong yang berniat untuk mengunjungi Italia akan menyusun rencana untuk mengunjungi kota-kota mainstream seperti Roma, Venice, dan Florence. Kota-kota tersebut memang diakui cantik, tetapi jumlah turis yang datang ke tempat tersebut juga sangat membludak sehingga membuat kamu terkadang tidak bisa menikmati suasana kota dengan nyaman. Karenanya, perlu bagi para pelancong untuk menambahkan satu tempat lagi dalam daftar destinasi yang wajib dikunjungi di Italia, dengan kecantikan yang tidak kalah dengan tempat-tempat lainnya namun masih belum terdeteksi radar jutaan turis lainnya. Sehingga, di tempat ini kamu dapat lebih leluasa untuk mengambil foto dan mengagumi keindahan alam Italia tanpa terganggu dengan keramaian pengunjung yang memusingkan. Ya, tempat ini bernama Porto Venere.

Pemandangan Kota Porto Venere (dok. pribadi)

Porto Venere adalah kota yang terletak di pantai Liguria Italia di provinsi La Spezia. Tempat ini dikenal sebagai “Gulf of Poets” yang artinya Teluk Penyair karena banyak penyair, penulis, dan seniman terkenal yang mencari inspirasi di tempat ini dan menghabiskan hari-hari mereka di desa-desa dan pulau-pulau di sekitar teluk. Di dalam Porto Venere  sendiri terdapat beberapa situs yang wajib untuk dikunjungi seperti Doria Castle yang menakjubkan, Grotto Byron, dan Chiesa di San Pietro. Keistimewaan lain dari tempat ini yang tidak boleh dilewatkan adalah status UNESCO World Heritage Site yang ditetapkan pada  Porto Venere dan desa-desa Cinque Terre saat tahun 1997.

Untuk menuju Porto Venere, perjalanan akan dimulai dari kota La Spezia. Di antara semua jenis transportasi, bus 11/P adalah pilihan termurah untuk sampai ke tujuan. Biaya satu tiket hanya sebesar 2.5 euro untuk waktu tempuh 30 menit dan kita akan turun di halte terakhir dari rute bis ini. Tiket tersebut dapat dibeli di Tabaccheria. Sesampainya di Porto Venere, kamu akan langsung disuguhi pemandangan Pelabuhan Porto Venere yang menawan. Pelabuhan ini dikelilingi oleh dinding bangunan penuh warna. Sejak saat pertama tiba, kamu akan langsung jatuh cinta dengan desa nelayan tua ini. Pelabuhan kecil ini memiliki lokasi yang indah karena menghadap ke Pulau Palmaria di dekatnya. Kalian dapat duduk bersantai di bangku-bangku yang disiapkan untuk melihat laut yang begitu biru dan burung-burung camar beterbangan.

Salah satu sudut kecantikan di Porto Venere (dok. pribadi)

Memasuki saat makan siang, kamu bisa menemukan berbagai restoran atau café yang terletak di kota tua Porto Venere. Pusat kota tersebut tersembunyi di balik bangunan yang kalian lihat dari pelabuhan. Kalian dapat memasuki kota abad pertengahan melalui Porta del Borgo atau gerbang kota Porto Venere. Begitu masuk, kalian akan menemukan labirin jalan-jalan sempit, tangga dan lorong-lorong kecil yang cantik. Luangkan waktu sejenak untuk menjelajahi kota tua tersebut sebelum waktu makan siang kalian.

Perjalanan di tempat ini dapat dilanjutkan dengan mengunjungi Doria Castle, yang merupakan destinasi wajib dari tempat ini. Kastil ini terletak tinggi di atas bukit dan menghadap Bay of Poets di satu sisi dan Laut Liguria di sisi lainnya. Benteng militar ini berasal dari abad 12-14 dan berdiri sebagai contoh luar biasa dari arsitektur militer Genoa. Untuk mencapai kastil ini deiperlukan pendakian yang cukup curam, namun kecantikan yang ditawarkan tempat ini akan sepadan dengan usaha yang dikeluarkan di awal. Pemandangannya sangat fenomenal dan biaya masuknya relatif terjangkau, hanya sekitar €5. Kamu dapat mencapai puncak melalui teras samping yang menghadap ke laut yang membentang dari barat daya ke barat laut. Tepat di sebelah kastil ini, kamu juga dapat menemukan Gereja San Lorenzo dimana setiap bulan Agustus terdapat prosesi White Madonna. Prosesi ini dirayakan karena kisahnya yang dikenal sebagai santo pelindung Porto Venere.

Keindahan laut yang mengelilingi Porto Venere (dok. pribadi)

Setelah puas dengan Doria Castle, kita dapat lanjut berjalan menuju Chiesa di San Pietro. Sebelum sampai di tempat tujuan akhir, jalan setapak ini juga akan membawa kamu ke tepi teluk yang berbatu bernama Grotto Byron. Nama ini diambil dari seorang penyair Inggris Lord Byron berenang menyeberangi teluk Portovenere untuk mengunjungi rekannya sesama orang Inggris, Shelley, yang tinggal di desa San Terenzo.

Pada sore hari, tempat terbaik untuk menghabiskan waktu untuk melihat matahari terbenam adalah Chiesa di San Pietro.Tempat ini adalah sebuah gereja yang berdiri di atas batu yang dikelilingi oleh air biru dari tiga sisi.Eksteriornya yang menyerupai benteng menawarkan keindahan yang luar biasa. Tetapi, pastikan juga untuk melihat ke dalam karena interiornya yang sederhana mampu menghadirkan suasana abad pertengahan yang sangat istimewa.

Senja di Porto Venere (dok. pribadi)

Tips terakhir untuk kalian yang ingin ke sini adalah jangan lupa untuk membeli tiket bus pulang ke La Spezia dan sebaiknya jangan terlalu malam saat memutuskan untuk kembali pulang. Hal ini perlu diingat untuk menghindari tidak adanya transportasi untuk kembali. Semoga artikel jalan-jalan ini berguna untuk kalian semua. Selamat Natal dan Tahun Baru ya. Ciao!

Tulisan ini ditulis oleh David Andiwijaya, PPI Italia, Politecnico Di Milano, Management Engineering 2018 (@david_andiwjy)

Berkunjung ke Azerbaijan, tidak lengkap rasanya kalau kita tidak mendatangai ibukota negara ini, Baku. Nama Baku sendiri diambil dari bahasa Persia kuno yang berarti “deburan angin”. Tidak salah memang, karena angin kencang selalu berhembus mengenai kota ini. Kota seluas 2.130 km persegi yang mempunyai jumlah penduduk sebanyak 2.5 juta ini juga dikenal akan peninggalan sejarah dan peradaban manusianya serta bangunan-bangunan yang serba modern, bahkan lebih modern dari negara-negara dikawasan Kaukasus dan Laut Kaspia lainnya.

Salah satu ikon kota Baku yang cukup menarik perhatian wisatawan adalah Flame Towers. Flame Towers adalah gedung tertinggi di Baku, berbentuk api sebagai simbol negara Azerbaijan yang juga berasal dari histori yang panjang dari kaum Majusi atau Zoroastrianism, sang pemuja api. Azerbaijan dianggap sebagai tempat lahir seorang nabi kaum Majusi yang bernama Zoroaster. Bahkan, kuil Majusi bernama Ateşgah Temple juga terletak di Baku dan hingga kini difungsikan sebagai museum. Ketika malam hari, Flame Towers akan terlihat menonjol dengan lampu LED yang terpasang di seluruh permukaan gedung dan akan menampilkan berbagai gambar yang bergerak layaknya sebuah video raksasa ketika dilihat dari jauh. Ikon lain kota Baku adalah Heydar Aliyev Centre. Tempat ini merupakan gedung pameran yang juga merangkap sebagai museum dan aula pertemuan yang biasa digunakan untuk acara berskala international. Keunikan gedung ini adalah bentuknya yang tidak bersudut, dimana hal ini terinspirasi dari tanda tangan presiden pertama Azerbaijan, Heydar Aliyev. Gedung ini dirancang oleh seorang arsitek ternama dunia, Zaha Hadid. Dibangun pada tahun 2007 lalu, bangunan ini teah memenangkan penghargaan design museum terbaik dunia pada tahun 2014 dan Zaha Hadid menjadi arsitek wanita pertama yang memenangkan penghargaan tersebut.

Tempat lain yang harus dikunjungi di kota Baku adalah Old City (İçəri Şeher). Old City merupakan inti sejarah yang ada di kota Baku dan dibangun pada sekitar abad ke-11 atau 12. Pada tahun 2000, situs ini dinobatkan oleh UNESCO sebagai World Heritage Site. Dengan komplek-kompleknya yang memiliki jalanan yang berbatu serta kondisi bangunan-bangunan tua yang masih kokoh dan cantik, di tempat ini kita dapat mengunjungi berbagai situs bersejarah seperti Maiden’s Tower, Castle Synyk Gala, Shirvanshah Palace, Caravan Saray, Juma Mosque dan masih banyak lagi. Menariknya, Old City sendiri terletak di tengah kota Baku, sehingga nampak seperti kota di dalam kota.

Tak jauh dari situs Old City, terdapat sebuah tempat layaknya alun-alun terbuka bernama Fountain Square. Tempat ini dipenuhi dengan pertokoan, butik, kedai shisa, berbagai restoran lokal dan mancanegara, hingga pub yang dibalut dengan bangunan-bangunan khas Eropa-Rusia. Berlantaikan keramik khas lokal di seluruh area tersebut, tempat ini biasa dijadikan lokasi pertemuan kasual bersama teman atau untuk menghabiskan waktu akhir pekan bersama. Dengan letaknya yang strategis di jantung kota Baku, tempat ini menjadi salah satu destinasi wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke Azerbaijan. Kelebihan lainnya adalah tempatnya yang bersih serta suasana yang nyaman, sehingga pantas rasanya jika kawasan ini menjadi destinasi yang tidak boleh dilewatkan.

Dari Fountain Square, kita bisa sedikit berjalan menyeberangi jalan utama dan akan berjumpa dengan salah satu taman terpanjang di Eropa, Park Boulevard. Tempat ini adalah salah satu taman nasional yang membentang di sepanjang laut kaspian di Baku yang berusia lebih dari 100 tahun. Disepanjang taman ini kita bisa menikmati indahnya Laut Kaspia sembari menikmati “çay”, teh khas Azerbaijan,  ditemani dengan beberapa manisan lokal seperti paxlava, halva, badambura, şəkərbura, dan lain sebagainya. Masyarakat lokal Azerbaijan biasanya menikmati segelas çay saat berkumpul bersama teman-teman dan kerabat dekat. Harga hidangan ini pun beragam. Untuk 1 teko çay yang bisa dinikmati untuk 3 4 orang seharga kisaran 3-8 manat dengan kurs Rp8.500 per manat. Relatif mahal namun sangat worth it untuk ditebus sembari menikmati indahnya pemandangan laut Kaspia. Tidak hanya itu, kita juga bisa menikmati pemandangan dari laut Kaspia dengan menaiki kapal yang mampu menampung kurang lebih 200 penumpang dengan membayar sekitar 3 manat untuk tempat duduk ekonomi dan 10 manat untuk kelas VIP yang terletak di bagian depan dan atas kapal.

Terkenal dengan peninggalan-peninggalan sejarahnya, kota Baku sendiri mempunyai beberapa museum terkenal untuk dikunjungi seperti National Art Museum of Azerbaijan yang sudah berdiri sejak tahun 1936 dan memiliki 15 ribu karya seni bersejarah yang dapat kita nikmati. Terdapat juga National History Museum yang menampilkan sejarah sosial kehidupan masyarakat Azerbaijan sejak peradaban kuno hingga sekarang. Bangunan museum dibangun pada periode tahun 1893-1902 dengan gaya arsitektur bangunan renaisans Italia dan dirancang oleh arsitek Polandia, Josef Goslawski. Selain itu, ada juga museum karpet Azerbaijan yang berisikan berbagai koleksi karpet Azerbaijan dari masa ke masa dengan tekhnik tenun karpet yang berbeda-beda. Dan, yang paling terkenal adalah Museum of Miniature Books yang merupakan satu-satunya museum miniatur buku di dunia. Koleksi yang terdapat di museum ini dikumpulkan oleh Zarifa Salahova selama 30 Tahun. Koleksi miliknya tersebut  kurang lebih sekitar 6500 eksemplar miniatur buku dari 64 negara, termasuk berbagai buku karya tokoh besar dunia seperti Fyodor Destoyevski, Barto dan Gogol, Vagif dan masih banyak tokoh-tokoh bersejarah lainnya. Tiga buku terkecil di museum ini berukuran 2mm x 2mm yang tentunya hanya dapat dibaca menggunakan kaca pembesar. Menarik bukan?

Karena keindahan kota Baku yang juga memiliki 140 taman di seluruh penjuru kota ini, maka tak salah jika kota ini dijadikan sebagai salah satu sirkuit balap mobil F1 Grand Prix Eropa yang diselenggarakan setiap tahunnya hingga tahun 2020. Dan kabar baiknya, pada tahun 2019 ini, Baku Olimpic Stadium akan menjadi tuan rumah final pertandingan sepak bola Eropa, European League juga lho !

So, ayo datang ke Baku! Kami tunggu teman-teman semua! Поехали в Баку! Biz sizi gözləyirik

Tulisan ini ditulis oleh :

Alif Paramardhika Putera 

Mahasiswa Hubungan International , Khazar University, P3I Azerbaijan

IG: @alv.pp @pppi_azerbaijan

Terkait dengan beredarnya informasi mengenai hasil seminar “Menjadi Bagian Dalam Masyarakat Dunia” tentang pendidikan dan kehidupan di Estonia yang diadakan oleh salah satu grup beasiswa di instagram dan diisi oleh narasumber terkait, terdapat beberapa ketidaksesuaian informasi yang diberikan dalam seminar tersebut. Surat pernyataan berikut dirilis untuk memberikan klarifikasi terhadap ketidaksesuaian informasi yang beredar. Surat pernyataan tersebut dapat diakses melalui tautan berikut : Surat Klarifikasi PPI Estonia terhadap Informasi Beasiswa yang Tidak Sesuai dari Salah Seorang WNI yang Tinggal di Estonia

Jika ada informasi lain yang dibutuhkan, kami bersedia untuk membantu memberikan.

Dengan hormat,

Dewi K.A.Kusumahastuti
Ketua PPI Estonia periode 2018-2019
PPI Estonia

PPI-EStonia_klarifikasi

Kalian punya rencana berlibur ke Paris? Pasti di pikiran kalian berkunjung ke menara Eiffel bukan ? Ah, itu sih sudah biasa. Selain menara Eiffel yang sudah menjadi destinasi umum dari pelancong yang datang ke kota Paris, ada baiknya jika kamu mulai memikirkan destinasi lain yang tidak kalah unik seperti kota Strasbourg. Kota kecil ini menawarkan suasana yang tidak kalah asyik, khususnya pada bulan Desember seperti ini. Apa yang membuat kota ini wajib dikunjungi pada akhir tahun ini ya ?

Salah satu hal yang unik ada pada bulan Desember adalah Pasar Natal, atau dalam bahasa lokal disebut Marche de Noël, dimana hampir seluruh kota yang tersebar di negara Perancis mengadakannya. Salah satunya di Strasbourg dan event ini sudah dimulai semenjak tanggal 24 bulan November lalu hingga nanti menjelang natal, yaitu pada tanggal 24 Desember 2018.

Gerbang Masuk Kota Strasborg

Kota yang terletak di timur Perancis ini adalah salah satu tempat yang tepat untuk menikmati pasar natal yang disebut-sebut sebagai salah satu yang tertua dan terbesar di seluruh penjuru Eropa. Pasar Natal di kota ini pertama kali digelar pada tahun 1570. Tidak heran, kota ini dijuluki sebagai Christmas Capital karena saking kentalnya suasana christmas eve di kota ini. Julukan ini semakin diperkuat dengan tulisan Capital de Noël, yang artinya pusat atau ibu kotanya natal, di pintu masuk kota ini.

Kota ini akan dikunjungi banyak pengunjung dari berbagai negara pada bulan Desember, yang tentu datang untuk menikmati suasana bulan Desember di kota kecil ini. Pasar Natalnya sendiri diadakan di alun-alun kota serta di berbagai lorong-lorong jalanan kota dengan ratusan kios yang berjajar. Ada banyak sekali pilihan toko yang mengundang pengunjung untuk masuk ke dalamnya. Banyak sekali hal yang bisa kamu temukan disini, mulai dari aksesoris, makanan, minuman, pakaian, oleh-oleh, dan masih banyak lainnya. Warga lokal pun tidak kalah antusias menunggu event ini setiap tahunnya, dimana warga akan menghabiskan waktu untuk mengobrol satu sama lain sembari menikmati minuman lokal berupa anggur hangat yang dicampur dengan rempah-rempah. Kecantikan kota ini akan semakin semarak dengan berbagai hiasan lampu yang dipasang di berbagai sudut kota. Semarak lampu dan keramaian pengunjung tersebut akan semakin menambah kentalnya suasana natal di kota kecil yang cantik ini. Oh iya, jangan lupa untuk melihat kemegahan pohon natal raksasanya ya ! Dijamin, kalian tidak akan menyesal ketika datang kesini.

Suasana Pasar Natal

Kamu bisa mulai mengunjungi pasar natal ini pada pukul 11.00 hingga 20.00. Jangan lupa untuk menegenakan jaket tebal, thermal, gloves, syal, dan penutup kepala wol. Usahakan juga untuk mengenakan sepatu khusus musim dingin yang hangat dan nyaman. Namun, kamu bisa juga mengakali dengan mengenakan kaus kaki berlapis-lapis untuk menghadapi terpaan dinginnya hawa dingin bulan Desember. Kaki yang hangat juga merupakan salah satu modal utama untuk menikmati pasar natal ini dengan baik, karena suhu kota Strasbourg rata-rata akan berada di bawah nol derajat khususnya pada malam hari.

Beberapa tahun yang lalu, memang sempat terjadi aksi terorisme di tempat ini dan ramai diberitakan oleh berbagai media lokal. Tapi, jangan takut ! Aksi terorisme tersebut telah ditangani oleh pihak berwajib dan hingga saat ini terdapat penjagaan yang lebih baik untuk menjaga keamanan kota ini. Marché de Noël juga mulai dibuka kembali sehari setelah kejadian terorisme tersebut dan justru semakin ramai dikunjungi oleh wisatawan. Jadi, tunggu apa lagi ? Masih belum punya rencana liburan selama liburan natal ? Yuk kemari berkunjung di Strasbourg, untuk menikmati pasar natalnya, arsitektur kota, serta kecantikan alam yang ditawarkan di dalamnya. Selamat berlibur!

Pohon Natal Raksasa yang Terletak di Alun-alun Kota

Tulisan ini ditulis oleh Arum Faizatul Umami

Mahasiswa Universitas Paris 13, Perancis

Bagi sebagian besar pelancong, Belgia selalu identik dengan kue wafel (waffle) dan Atomium yang berada di Brussels. Tidak dapat dipungkiri, keduanya memang merupakan ikon negara Belgia. Sebagai ibukota negara, Brussels menjadi destinasi utama para turis yang melancong ke negara Belgia. Namun, jarang terdengar oleh para wisatawan bahwa sekitar 90 kilometer dari ibukota Belgia tersebut terdapat sebuah kota cantik yang juga wajib untuk ditengok, Dinant.

Citadelle de Dinant and cathedral (dok. pribadi)

Dinant adalah sebuah kota klasik yang terletak di wilayah Walonia, yaitu wilayah di Belgia yang sebagian besar masyarakatnya menggunakan bahasa Perancis sebagai bahasa pengantar sehari-hari. Berada di kawasan lembah Ardennes dan merupakan titik temu antara sungai Meuse dan sungai Lesse, sayang rasanya jika kota ini luput dari daftar destinasi wisata kita selama berkunjung di Belgia. Kota Dinant ini dapat dicapai dengan menggunakan kereta dari stasiun Brussels Central dengan waktu tempuh sekitar kurang dari dua jam.

Salah satu destinasi yang wajib dikunjungi saat berada di Dinant adalah Citadelle de Dinant (Citadel). Citadelle de Dinant merupakan benteng yang terletak diatas tebing, dibangun pada abad ke-11 dengan tujuan untuk memantau dan melindungi lembah Meuse. Dari benteng Citadel ini pula kita dapat menikmati pemandangan kota dari ketinggian. Dalam sejarahnya, Citadel pernah dihancurkan oleh para tentara Perancis pada tahun 1703, namun akhirnya dibangun kembali pada tahun 1821. Saat ini, benteng tersebut juga merangkap sebagai museum yang menceritakan kelamnya kota ini saat terjadinya Perang Dunia I. Di dalam museum terdapat area yang didedikasikan secara khusus untuk menceritakan detail kondisi kota Dinant pada tahun 1914. Kota Dinant merupakan saksi sengitnya pertempuran antara pasukan Jerman dan pasukan Perancis kala itu, dimana salah satunya adalah pembantaian massal terhadap ratusan masyarakat Belgia di kawasan Dinant oleh pasukan Jerman. Peristiwa kelam tersebut meninggalkan luka yang mendalam dalam perjalanan sejarah Belgia. Peristiwa bersejarah tersebut dikenal dengan Pertempuran Dinant atau “Battle of Dinant” yang juga termasuk dalam rangkaian fenomena “Rape of Belgium” pada masa Perang Dunia I.

Pemandangan dari Citadel (dok. pribadi)

Terletak hanya 750 meter dari stasiun kereta api, perjalanan menuju Citadel akan lebih menyenangkan jika ditempuh dengan berjalan kaki. Selain jaraknya yang dekat, kemegahan panorama yang disuguhkan selama kita bejalan, seperti perpaduan gereja Collegiale Notre-Dame de Dinant dan tebing kota Dinant, akan sangat sayang jika dilewatkan. Dalam perjalanan tersebut, kita akan disambut oleh jembatan Pont Charles de Gaulle. Jembatan ini menghubungkan dua bagian kota Dinant yang terpisah oleh sungai Meuse. Disinilah salah satu titik lokasi terbaik jika para turis ingin mengambil foto. Yang lebih menarik, sepanjang jembatan tersebut dihiasi replika alat musik saksofon yang berwarna-warni dan berukuran besar.

Untuk dapat mengunjungi Citadelle de Dinant yang terletak di atas tebing, tersedia cable car yang dapat diperoleh dengan membeli tiket seharga € 8.50 untuk orang dewasa (€ 6.50 bagi anak-anak berusia 4-12 tahun). Tiket tersebut sudah termasuk dengan tiket masuk menuju Citadel. Selain tiket untuk individu, pengelola Citadel juga menyediakan dua macam tiket lainnya, yaitu tiket 3-in-1 dan tiket grup. Tiket 3-in-1, seharga € 14.00 bagi orang dewasa, mencangkup fasilitas cable car, biaya masuk ke Citadel, dan boat trip – wisata menggunakan kapal menyusuri lembah Meuse. Tiket grup, seharga €7 per orang, diperuntukan bagi para turis yang datang secara berkelompok dengan jumlah minimal 20 orang.

Di dalam Museum Adolf Sax (dok. pribadi)

Selain Citadelle de Dinant, tidak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi rumah Adolf Sax. Ya, kota ini merupakan kampung halaman dari sang penemu alat musik saksofon tersebut. Itulah sebabnya keitka kita melewati jembatan Pont Charles de Gaulle, kita akan menjumpai banyak replika saksofon. Kini rumah Adolf Sax tersebut telah diabadikan sebagai museum. Terletak sekitar 200 meter dari gereja Collegiale Notre-Dame de Dinant, museum yang berada dibawah Citadel ini dapat dikunjungi secara cuma-Cuma.

Di balik kecantikan kotanya, Dinant menyimpan cerita kelam yang membuat siapapun akan bersyukur hidup di masa kini. Kota Dinant sangat cocok bagi kalian yang menyukai panorama alam dan wisata sejarah. Jadi pastikan kota Dinant tidak luput dari daftar wisata kalian saat mengunjungi Belgia ya!

 

Tulisan ini ditulis oleh Fathyah Hanum Pamungkaningtyas

Thanksgiving adalah hari libur nasional di Amerika Serikat yang jatuh pada setiap hari Kamis minggu ketiga pada bulan November. Hari Thanksgiving sendiri di masa lalu adalah perayaan panen bagi orang-orang Eropa. Sekarang, hari tersebut dirayakan untuk memberikan kesempatan kepada orang-orang di Amerika Serikat untuk pulang kampung dan berkumpul kembali dengan keluarga dan kerabat terdekat. Salah satu keunikan dari perayaan ini adalah hidangan kalkun yang akan dimasak oleh setiap rumah untuk disajikan sebagai sajian utama.

Untuk liburan Thanksgiving kali ini, saya akan mengunjungi the Big Apple – ya saya akan berlibur ke New York City! Dari Philadelphia, yang merupakan tempat saya tinggal sekarang, menuju ke New York City diperlukan waktu perjalanan kurang lebih dua jam perjalanan darat. Saya sendiri melakukan perjalanan menggunakan moda transportasi bus.Jika kalian ingin travelling menggunakan bus jangan lupa untuk membawa cemilan ya! Karena mereka biasanya tidak akan menyediakan makanan maupun minuman untuk dijual.

Berada di Washington Square Park (dokumentasi pribadi)

Ada beberapa alasan mengapa saya memutuskan untuk mengunjungi New York tahun ini. Salah satunya, adalah banyak sekali parade yang kita bisa lihat di kota ini. Salah satunya adalah Macy’s Parade. Parade ini akan menampilkan 26 balon raksasa yang ditarik oleh ratusan orang secara beriringan. Salah satu yang menarik perhatian adalah balon raksasa Son Goku (Dragon Ball Z) yang tingginya setara dengan gedung tingkat lima, bayangkan! Penonton parade ini datang dari berbagai penjuru negara wilayah Amerika Serikat dan mereka sangat menikmati pertunjukan ini. Ditambah, pengunjung anak-anak dapat bercengkrama langsung dengan badut-badut yang lucu dan juga marching band yang sangat bersemangat. Pengunjung yang menonton parade ini biasanya akan menginap dari subuh untuk mendapatkan tempat terbaik. Yang lebih mencengangkan lagi adalah ketika mereka mau menunggu berjam-jam di luar ruangan ketika suhu udara kota New York berada dibawah nol derajat Celcius! Apakah kalian sanggup?

Menjelang sore, orang-orang biasanya akan pulang ke rumah masing-masing untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk “pesta” mereka. Akan tetapi, berbeda dengan saya dan teman-teman saya. Kami pergi ke Chelsea Market untuk mencoba vegetable beef noodle soup di booth makanan Very Fresh Noodles. Di dalam Chelsea Market terdapat food court dan juga toko-toko seperti pusat perbelanjaan pada umumnya. Banyak orang biasanya mulai mengantri untuk berbelanja pada perayaan Black Friday Sale yang diadakan keesokan harinya. Penasaran?

Di tengah-tengah keramaian Times Square (dokumentasi pribadi)

Black Friday adalah hari dimana semua pusat perbelanjaan memberikan potongan harga atau penawaran yang menarik kepada pengunjung. Banyak dari pengunjung kota New York datang ke 5th Avenue untuk berbelanja. Destinasi lainnya yang patut dikunjungi adalah SoHo. Suasana di SoHo sangatlah berbeda dengan pusat kota yang gemerlap seperti Times Square. SoHo dibangun pada masa revolusi industri dan gedung-gedungnya bergaya antik-modern karena sudah dipulihkan berulang kali. Banyak dari gedung-gedung tersebut pernah diubah menjadi galeri-galeri kecil. Jika kalian tertarik dengan arsitektur dan seni atau berbelanja sekalipun, kalian harus menyempatkan diri untuk datang!

Menjelang matahari terbenam, kami memilih untuk menggunakan subway ke Times Square. Ada beberapa hal yang membuat kita para traveler lebih memilih menggunakan kereta bawah tanah atau Metro untuk pergi berkeliling. Pertama, jalur dari kereta bawah tanah yang tidak terlalu rumit. Kedua, transportasi umum sangatlah murah jika dibandingkan menggunakan taksi kuning atau Uber. Ketiga, jalanan biasanya dipenuhi pejalan kaki dan juga kendaraan yang akan menahan laju kendaraan alias macet! Jadi pikirkan kembali transportasi apa yang kira-kira sesuai dengan kebutuhan kalian.

New York City di malam hari (dokumentasi pribadi)

Hampir semua orang mengenal New York dengan sebutan ‘the city that never sleeps’. Suasana kota yang cepat dan sibuk membuat diri ingin mengikuti tempo yang sama. Menurut saya semua terpusat pada satu titik, yaitu Times Square. Tempat ini bagaikan jantung kota New York. Banyak yang menghabiskan waktu dengan bersantai, bercengkrama, maupun yang mengejar taksi. Semua ada pada satu tempat. Suasana malam dengan gemerlap billboard akan membuat kalian ingin berada disana. Untuk kalian para Instagramers, Times Square adalah tempat terbaik untuk merasakan suasana New York. Maka siapkanlah kamera kalian!

Setelah berkeliling di Manhattan sepanjang hari, kami berbalik menuju Jersey City - New Jersey yang merupakan tempat tinggal kami selama berada di kota New York. Kenapa kami memutuskan untuk menyewa tempat tinggal disini? Salah satu sebabnya adalah kita bisa melihat langsung tepian sungai Hudson. Sungai Hudson yang lebar membuat air yang mengalir menjadi lebih tenang dibandingkan sungai-sungai berukuran kecil. Selain itu, suasana malam hari disini juga tidak kalah indah karena pantulan sinar rembulan yang dengan lembut menyentuh sungai Hudson. Di kejauhan gemerlap kota New York membentuk permata-permata kecil yang elok.

Melihat pemandangan itu membuat saya menjadi mengerti arti dari Thanksgiving pada perjalanan saya kali ini. Saya merasa sangat berterimakasih karena saya tidak hanya ditemani oleh orang-orang terdekat pada saat saya berkeliling di New York akan tetapi juga pada keseharian saya. Nah, kira-kira apa makna yang kalian bisa ambil dari liburan terakhir kalian?

 

Tulisan ini ditulis oleh Gracelynn Soesanto (ig: @gracelynn_s) dan Dewa Parandita (ig: @dewaparandita)

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920