logo ppid
Para Peserta dan Pembicara ISIC 19th

Indonesian Scholars International Convention (ISIC) 2019 mengusung tema utama Embracing Indonesia Resilience 2045: A triple-helix approach of economic, social and infrastructure developments from Indonesia-UK perspective”. ISIC sendiri merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Inggris (PPI UK). ISIC menjadi kesempatan bagi akademisi, kalangan praktisi dan profesional Indonesia di  kancah internasional untuk berbagi ide dan membangun kolaborasi. Tahun ini, 19th ISIC diselenggarakan tanggal 22 – 23 Juni 2019 di University of Nottingham. Acara dibuka oleh Duta Besar Indonesia untuk Britania Raya dan Irlandia, Dr. Rizal Sukma, dan Vice Chancellor University of Nottingham, Prof. Shearer West. Dr. Rizal Sukma menjabarkan bahwa ISIC merupakan kegiatan besar yang memberikan manfaat kepada segenap pelajar Indonesia di Inggris dan negara lainnya. Prof. Shearer West menekankan bahwa kerjasama University of Nottingham dengan 19th ISIC dari PPI UK merupakan salah satu bentuk dukungan dan kerjasama antara Inggris dan Indonesia dalam membangun resiliensi Indonesia 2045 melalui pendekatan triple-helix. Sebagai student-led-activity, kepanitiaan ISIC beranggotakan para pelajar dan peneliti dari berbagai universitas se-Inggris Raya. Lury Sofyan, selaku ketua Panitia dari 19th ISIC menjelaskan bahwa 19th ISIC merupakan kesempatan untuk menyongsong momentum Indonesia emas, sehingga seluruh komponen bangsa terutama pemerintah, akademisi dan industri perlu meningkatkan kolaborasi untuk mendorong inovasi dan kerja nyata bagi Indonesia.

Pembukaan ISIC 19th oleh Dubes RI untuk Inggris, Dr. Rizal Sukma

Pada 19th ISIC, lebih dari 100 peserta dari beberapa universitas di Indonesia dan Inggris menghadiri beragam sesi selama dua hari. 27 pembicara yang berasal dari beragam latar belakang dan bidang keahlian mengisi dua sesi plenary dan 12 sesi paralel. Komite tim ilmiah yang diketuai oleh Wahyudin P. Syam melalui peer-review telah memilih 76 tulisan ilmiah terbaik dari 235 jumlah total yang diterima tim panitia Call for Paper. Dari 18 tulisan terbaik, ada delapan yang dipresentasikan dan jumlah peserta poster presentation mencapai 40. Angga Fauzan, Koordinator tim Eksternal menyampaikan bahwa antusiasme peserta ISIC tahun ini sangat tinggi. Pendaftar general participant dan submission paper meningkat tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. Panitia menerima 235 paper dari delapan  negara. 225 paper berasal dari lembaga universitas dan sepuluh lainnya berasal dari industri perusahaan, institusi  pemerintahan maupun lembaga riset. Tidak hanya peserta Call for Paper yang menunjukkan animo tinggi, panitia sempat membuat skema waiting list untuk pihak yang mendaftar sebagai general participants.

Persembahan tari Paduppa dari Makassar pada sesi Gala Dinner oleh PPI Nottingham

Kegiatan tanggal 22 Juni dimulai dengan sesi plenary oleh beberapa pembicara kunci mengenai berbagai perspektif landasan dari tema utama, seperti Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti yang memaparkan mengenai rencana jangka panjang pendidikan tinggi. Beliau mengatakan bahwa pendidikan tinggi merupakan salah satu pondasi penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia sehingga mereka mampu beradaptasi dengan rencana pembangunan Indonesia demi mencapai resilien 2045. Beliau menyatakan bahwa, “…the role of education is to escape middle income…by improving competitiveness and increasing people’s prosperity through higher education”. Lely Pelitasari Soebekty SP., ME., Wakil Ketua Ombudsman RI pun menyampaikan topik mengenai peran pemerintah dan governance urgency dalam mempersiapkan 2045 bagi Indonesia, terutama dari sisi aspek penyedia public services atau pelayanan publik yang berintegritas. Ombudsman ada untuk mengawasi bahwa good governance dilaksanakan dengan baik oleh pihak-pihak yang terlibat, “to achieve good governance and good public service in Indonesia, we need to start now, we need to start from ourselves,…. Integrity is all”.

Salah satu sesi Parallel Session pada 19th ISIC tentang Science Acceleration and Translation

Rangkaian ISIC pun memiliki 12 parallel session dengan tema yang meliputi  pendidikan dasar, perkembangan ilmu pengetahuan, keberlanjutan lingkungan, korupsi dan kemiskinan, sistem kesehatan, manajemen bencana alam, transportasi, ekonomi kreatif, hingga Big Data. Seluruh tema penting tersebut menjadi lebih menarik dengan pemaparan dari para pembicara yang berasal dari berbagai sektor. Dalam sesi ini, para peserta dapat mendengarkan penjelasan para narasumber sekaligus berdiskusi secara langsung dengan mereka, seperti diskusi dalam sesi kesehatan bersama Prof. Ali Ghufron Mukti dan Dr. Dono Widiatmoko, yang membahas mengenai perbandingan sistem asuransi kesehatan di Inggris dan Indonesia, “NHS yang telah mapan secara sistem pun tidak lepas dari perubahan dan adaptasi, sehingga BPJS pun perlu dipandang sebagai proses perubahan dan adaptasi menuju sistem yang dapat meningkatkan aksesibilitas kesehatan yang lebih merata”. Di setiap sesi paralel, peserta oral presentation yang merupakan peneliti dari bermacam-macam latar belakang, baik pelajar, akademisi, maupun kaum professional mendapat masukan yang berguna bagi perkembangan riset mereka dari pembicara utama di masing-masing sesi. Mengingat pentingnya acara ini, Revian Wirabuana, General Secretary dari 19th ISIC mempersiapkan student convention ini dengan sebaik-baiknya sejak akhir tahun 2018.

Pada acara penutupan yang merupakan kegiatan terakhir dalam rangkaian ISIC 19th dan dihadiri oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Aminudin Aziz, dilakukan pemberian penghargaan kepada dua peserta terbaik di tiap kategori oral dan poster Presentation. Pemenang kategori Best Oral Presentation adalah tim yang beranggotakan Yoni Atma, Hanifah Nurul Lioe, Endang Prangdimurti, Hermawan Seftiono, Moh. Taufik, Dita Fitriani, dan Apon Zaenal Mustopa dengan penelitian berjudul “Gelatin Hydrolysate from Bone of Indonesian Pangasius Catfish (Pangasius Sutchl) as Dipeptidyl Peptidase IV (DPP-IV) inhibitor for Anti-diabetes”; dan tim I Nyoman Gede Maha Putra dan Ida Bagus Gede Parama Putra dengan “Reinventing Place-Identity and Embracing New Economic Opportunities”. Kategori Best Poster Presentation dimenangkan oleh tim Muhammad Riyansyah, Pratama Budi Wijayanto, Bambang Riyanto Trilaksono, Seno Adi Putra, Dina Shona Laila dengan “Real-time Bridge dynamic Response: Bridge Condition Assessment and Early Warning System”. Pemenang lain di kategori ini adalah Amaliyah dengan “Analysing Fraud Causes: Individual or organization Culture”. Head of Operational dari 19th ISIC, Teguh Adinugroho,  mengatakan bahwa dukungan dari University of Nottingham memegang peranan penting dalam kegiatan ini, misalnya untuk memfasilitasi berbagai ruangan hingga konsumsi selama berlangsungnya penyelenggaraan acara. Ekawati Sudjono, Head of Program of 19th ISIC menyebutkan beberapa elemen penting yang turut mendukung suksesnya kegiatan ini selain KBRI dan PPI UK adalah Persatuan Pelajar Indonesia Nottingham (PPI Nottingham), Keluarga Islam Indonesia Britania Raya (KIBAR), Lingkar Studi Papua (LSP), Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4), dan Nusantara Innovation Forum (NIF). Selain itu kolaborasi antara Dr Bagus Muljadi selaku Director of the Indonesia Doctoral Training Partnership (IDTP), University of Nottingham dan Jason Feehily selaku Director of Knowledge Exchange Asia, University of Nottingham dalam mendukung penyelenggaran the 19th ISIC sangat patut untuk diberi apresiasi yang tinggi. Hal lain yang sangat penting untuk digarisbawahi dan selayaknya diteruskan dalam penyelenggaraan ISIC berikutnya adalah 19th ISIC menggandeng beberapa jurnal yang sudah memiliki indeks scopus untuk menerbitkan tulisan ilmiah terbaik dalam ajang ini dan menerbitkan e-prosiding yang memiliki ISSN.

Lury Sofyan,
Ketua Panitia 19th ISIC PPI-UK

Elbrus merupakan singkatan dari Elaborasi dan Edukasi dan dicetuskan oleh koordinator PPI kawasan Amerika & Eropa, Tubagus Aryandi Gunawan sebagai kelanjutan dari program di periode sebelumnya bernama Sharing Session. Terinspirasi dari nama gunung tertinggi di wilayah Eropa yang berlokasi di Rusia, Elbrus diharapkan bisa menjadi tempat berbagi ilmu tidak hanya untuk pelajar di kawasan Amerika & Eropa tetapi juga untuk seluruh pelajar Indonesia pada umumnya. Program Elbrus yang terlaksana pertama kali di bulan November 2018 ini mengupas berbagai hal mulai dari tips dan trik terkait edukasi, pengalaman berkuliah dengan bahasa lokal, dan program-program mengenal lebih dekat PPI negara. Semua program tersebut dibawakan oleh para pelajar yang belajar di kawasan Amerika & Eropa.

Dikoordinasi oleh Betharie Cendera Arrahmani dari PPI Jerman dan Radita Liem dari PPI Estonia, Elbrus hadir setiap satu hingga dua minggu sekali dengan durasi berkisar satu jam. Elbrus sendiri sudah berganti format beberapa kali, pertama dengan menggunakan layanan telepon & presentasi online, Zoom dan kemudian berganti menggunakan Youtube Live hingga pada akhirnya terus konsisten menggunakan Instagram live milik akun PPI kawasan Amerika Eropa (https://www.instagram.com/ppiamerop/). Platform Instagram dipilih karena popularitasnya di kalangan anak muda Indonesia dan diharapkan bisa meraih banyak penonton yang tertarik untuk memperluas wawasan dan ilmu pengetahuan terkait kehidupan pelajar di kawasan Amerika & Eropa. Interaksi dan pertanyaan langsung dari penonton Instagram Live adalah bagian yang tidak bisa terlepaskan di setiap acara Elbrus.

Beberapa poster kegiatan Elbrus yang pernah diadakan

Sejauh ini, sudah melibatkan 20 negara di kawasan PPI Amerika & Eropa sebagai narasumber dan juga bintang tamu. Latar belakang narasumber berasal dari berbagai macam jenjang pendidikan mulai dari S1 hingga mahasiswa doktoral dan juga berasal dari berbagai macam program studi seperti sejarah, kedokteran, pendidikan jasmani, teknik, dan banyak lagi. Jumlah narasumber juga bervariasi dengan narasumber terbanyak berjumlah empat orang di program Elbrus yang berjudul “Kuliah Pakai Bahasa Lokal, Siapa Takut”. Keempat narasumber dari berbagai PPI Negara yang perkuliahannya menggunakan bahasa lokal membagikan pengalaman unik mereka menguasai bahasa asing ketiga atau keempat mereka untuk berkuliah. Acara Elbrus terakhir di periode 2018/2019 akan ditutup oleh PPI Azerbaijan membagikan pengalaman berkuliah di negara Azerbaijan yang jarang terdengar namanya di Indonesia.

Program yang baru dimulai akhir tahun 2018 cukup meninggalkan banyak kesan untuk pengikut akun Instagram PPI kawasan Amerika & Eropa. Survei terhadap kinerja program yang diselenggarakan menyebutkan bahwa konten pengembangan diri merupakan topik yang ingin lebih banyak dimunculkan ke depannya. Walaupun masa kepengurusan Elbrus akan segera berakhir, tim Elbrus tetap semangat untuk terus meningkatkan kualitas dan menyiapkan evaluasi supaya dapat diteruskan di periode kepengurusan PPI Kawasan Amerika & Eropa berikutnya. “Saya berharap Elbrus dapat menjangkau lebih banyak teman-teman pelajar di seluruh kawasan Amerika & dan Eropa untuk tertarik mengikuti kegiatan dari PPI” demikian penjelasan Betharie selaku penanggung jawab utama program Elbrus.

Salam perhimpunan untuk seluruh calon relawan!

Di Tahun 2019 ini, PPI Dunia bekerjasama dengan PPI Belanda kembali menggandeng Ruang Berbagi Ilmu untuk mengadakan kolaborasi baik dengan tujuan menumbuhkan gerakan Pendidikan yang positif di daerah-daerah di Indonesia. Dengan semangat mengajak kembali seluruh insan cendekia untuk berbagi ilmu yang sudah dimiliki kepada guru-guru di daerah, kami membuka kesempatan untuk berkontribusi di 5 daerah sebagai berikut:

1. Salatiga

2. Jailolo, Halmahera Barat

3. Toraja

4. Tulin Onsoi

5. Wilayah 1 Nunukan

Kemudian, berdasarkan formulir yang sudah diisi oleh seluruh calon relawan, berikut ini kami umumkan nama-nama relawan yang terpilih untuk mengikuti kegiatan RuBI x PPI Dunia dan PPI Belanda. Yuk cek segera, jika ada nama kamu di dalam daftar ini, ayo kita bersiap-siap!

A. Relawan Narasumber

Nama Lokasi Materi
Rathasya Marvelarani Halmahera Barat Motivasi guru
Yovian Halmahera Barat Motivasi guru
Gufran Usman Halmahera Barat Motivasi guru
Anggriawan Sugianto Halmahera Barat MBK Paud
Hotgantina Sinaga Halmahera Barat MBK Paud
Fitri Dianasari Halmahera Barat MBK Sains
Darius Arkwright Halmahera Barat MBK Sains
Ilona Christina Kakerissa Halmahera Barat MBK Sains
James Frederich Kurnia Jaya Toraja MBK Bahasa
Dona Niagara Dinata Toraja MBK Bahasa
Dian Sulistiani Toraja MBK Matematika
Angginta Ramdani Ibrahim Toraja MBK Matematika
Alfi Syukrina Amir Toraja MBK IPA
Andari Puji Astuti Toraja MBK IPA
Sri Utami Rustam Toraja MBK IPA
Sonny Satriyono Edi Wibowo Toraja Disiplin Positif
Piala Agellery Toraja Disiplin Positif
Dorothea Andang Kadembo Toraja Disiplin Positif
Sherlinda Octa Yuniarsa Toraja Motivasi guru
Daeff Bisri Zulkarnain Toraja Motivasi guru
Citra Wulandari Palangan Toraja Motivasi guru
Adrea Rosita Tulin Onsoi Konseling
Alinda Putri Dewanti Tulin Onsoi Konseling
Azmi Nisrina Umayah Tulin Onsoi Konseling
Aridanto Tulin Onsoi MBK Matematika
Andina Nabila Irvani Tulin Onsoi MBK Matematika
Asri Pratitis Tulin Onsoi MBK Bahasa
Ninette Putri Mustika Tulin Onsoi MBK Bahasa
Meysella Anugrah Asih Purwadhi Tulin Onsoi MBK IPA
Nurnita Yanuaris Tulin Onsoi MBK IPA
Indra Wahyudin Nunukan Konseling
Yuliana Bastini Nunukan Konseling
Kurniawan Taufiq Kadafi Nunukan Menulis
Samudra Eka Cipta Nunukan Menulis
Tentrem Restu Werdhani Nunukan Menulis
Malik Akbar Mulki Rahman Nunukan Menulis
Astria Eka Santi Salatiga Psikologi Anak - Deteksi ABK
Retno Wulandari Salatiga Psikologi Anak - Deteksi ABK
Riskia Murad Salatiga Psikologi Anak - Deteksi ABK
Veva lenawaty Salatiga Manajemen Kelas Inklusif
Mahayu Ismaniar Salatiga Manajemen Kelas Inklusif
Afriza Firlana Ghany Salatiga Brain Based Teaching
Tanti Sugiharti Singgih Salatiga Manajemen Kelas Inklusif
Lisa Sunaryo Putri Salatiga Metode Belajar Kreatif
Agung Nugroho Adi Salatiga Metode Belajar Kreatif
Mariska Nurwulandari Salatiga Metode Belajar Kreatif

B. Relawan Dokumentasi

Nama Lokasi
Hardian Cahya Wicaksono Tulin Onsoi
Zakia Ayu Alvita Abidin Putri Tulin Onsoi
Alif Nur Ramadhan Tulin Onsoi
Tiara bambang ginanti Nunukan
Tri Ambarwati Nunukan
Desi Ike Sari Nunukan
Khorido Hidayat Halmahera Barat
Chintya Wintari Noor Halmahera Barat
Anggi Tri Damayanti Halmahera Barat
Diaz krisnayoga Halmahera Barat
Enjang Nurdiansyah Halmahera Barat
Zulyamin Kimo Toraja
Shinta armeilia Toraja
NUR IQBAL Toraja
DONI hanafi Adnand Toraja
Fitrawan Mufly Haskari Toraja
Supriadi Toraja
Wahyu Prakoso Salatiga
Ferry Dwi Winata Salatiga
Aryo Saptono Bayu Aji Salatiga
Moch Fachrish Rizha H Salatiga
didi mugitriman Salatiga

Selanjutnya, kami ingin menginformasikan tentang kegiatan selanjutnya berkaitan dengan Ruang Berbagi Ilmu. Kegiatan Ruang Berbagi Ilmu berikutnya:

1. Jelajah Rubi

22 - 23 juni 2019

Di GOR Bulungan, Jakarta Selatan

pendaftaran melalui: http://goers.co/jelajahrubi

2. Rubi Kaimana

Dengan tema "Guru adalah Sahabat Siswa".

Pendaftaran ditutup tanggal 13 Juni 2019.

Pelaksanaan tanggal 18-20 Juli 2019.

Link pendaftaran:

https://rubimandirikaimana.typeform.com/to/NDHhtE

Sekian dari kami, sampai jumpa di lokasi pelaksanaan!

Salam hangat,

Tim Rekrutmen RuBI x PPID dan PPIB 2019

Sebanyak 66 delegasi mahasiswa berbagai jenjang pendidikan yang mewakili 20 Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di kawasan Amerika dan Eropa berkumpul di Barcelona, Spanyol dari tanggal 25 sampai dengan 27 April 2019 untuk membahas dampak dan harapan atas percepatan tumbuhnya kunjungan wisatawan mancanegara yang mencapai 26% per tahun. Selama 6 bulan, para mahasiswa telah mengkaji berbagai tantangan dalam pengembangan industri pariwisata Indonesia yang berkelanjutan sehingga dapat memberi dampak lebih besar lagi terhadap kesejahteraan rakyat Indonesia. Semua pemikiran dan usulan mahasiswa ini disebut dengan “Rekomendasi Barcelona”.

Rekomendasi BarcelonaDownload
Rekomendasi-Barcelona

"Kemajuan Pariwisata Indonesia yang Berkelanjutan"

Oleh: Arif Rahmansyah Darana (Koordinator Publikasi SAE) dan;

 W. Kurniawan (Ketua PPI Spanyol 2015-2016)

Bertempat di Facultat d’Economia i Empresa, Universitat de Barcelona, Barcelona, Kerajaan Spanyol para pelajar Indonesia yang berada di kawasan Amerika Eropa (Amerop) mengadakan sebuah simposium yang punya tema besar tentang pariwisata Indonesia yang berkelanjutan. Sebanyak 66 delegasi dari PPI masing-masing negara di kawasan ini sangat antusias melaksanakan kegiatan ini.

Gambar 1 Penampilan Angklung oleh Wildan Qodaris

Acara ini dibuka dengan penampilan Angklung yang merupakan seni musik tradisional asal Jawa Barat yang sangat gemilang oleh Wildan Qodaris yang juga salah satu pengajar di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Acara ini pun diresmikan oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Spanyol, Hermono, MA.

Gambar 2 Pembukaan Acara oleh Duta Besar RI untuk Kerajaan Spanyol

Ditemui di sela acara Duta Besar RI untuk Kerajaan Spanyol memberikan apresiasi terhadap Simposium ini karena mengangkat tema yang tepat mengenai pebangunan sektor pariwisata yang sustainable dengan menghadirkan pembicara – pembicara yang kompeten di bidang ini. Beliau pun ingin bahwa Para Pelajar Indonesia yang hadir disini bisa mengidentifikasi masalah – masalah dan berkontribusi dengan ide untuk pariwisata yang berkelanjutan di Indonesia.

Kajian dalam SImposium ini pun terbagi kedalam tiga bagian dengan pembicara-pembicara yang luar biasa:

Pembicara pertama Mr. Guilermo Martinez Tabrerner, Ph.D, guru besar Universitat de Pompeu Fabra sekaligus koordinator ekonomi dan bisnis dari Casa Asia, menyatakan Konsep sustainable yang diikuti dengan responsible akan menjadikan sebuah keutuhan dalam menunjang pariwisata itu sendiri yang tentunya berasal dari visitors, pemangku kepentingan dan host. Pembicara kedua ialah Masrura (CEO RabbaniTour) yang menyoroti kearifan budaya lokal yang bisa disajikan kepada para wisatawan dengan segmentasi dari luar negeri, sedangkan Pembicara ketiga ialah Arra’di Nurrizal, ketua Poliglot Indonesia yang menyoroti tentang upaya apa yang harus dimiliki untuk menyambut keterbukaan orang asing, budaya asing tanpa menghilangkan jati diri.

Gambar 3 Pemaparan Sesi pertama (kiri ke kanan, Moderator, Mr. Guilermo Martinez Tabrerner, Ph.D, Masrura, Arra’di Nurrizal, Moderator)

Pembicara keempat, guru besar dari ITB, Dr. Teuku Abdullah Sanny. Menelaskan mengenai geoturisme dimana bencana alam menjadi isu penting dalam pergerakan wisatawan. Dia pun menambahkan untuk bagaimana kita mengubah presepsi menjadi sesuatu yang menarik. Pembicara kelima, Murni Amalia co-founder dari IWasHere.id, mengingatkan kita tentang partisipasi masyarakat dalam nature-based tourism. Harapan kepada generasi muda untuk ikut serta, bekerja sama membangun industri yang berdampak besar. Para kedua pembicara ini dihadirkan melalui telekonfrensi.

Pembicara keenam Lorenzo Cantoni (guru besar di sebuah kampus di Swiss) menyatakan rums sakti ABCDE dalam membangun Smart tourism. A (Access), B (Better), C (Connect), D (Dis-intermediate) dan E (Educete), hal tersbut untuk menunjang penggunaan teknologi informasi untuk mendukung keberlangsungan arus budaya, komunikasi, sosial, masyarakat dalam kaitannya dengan pariwisata. Pembicara ketujuh ialah Aditya Amaranggana, M.Sc (Perwakilan UNWTO) yang menyoroti mengenai dampak positif dan negatif dari Industri pariwisata. Ia pun menyatakan ada dampak yang harus dipelajari, dicarikan solusi dan dikembangkan cara terbaik guna menunjang keberlangsungan pariwisata itu sendiri. Pembangunan sarana dan prasarana dasar, penyediaan air bersih, public utility services, dan komitmen kebijakan terhadap keseriusan menjaga tourism destinations.

Gambar 4 Pemaparan Sesi terakhir (Kiri Ke Kanan: Moderator, Aditya Amaranggana, Prof. Lorenzo Cantoni, M.Sc. Esthy Reko Astuti, M.Si., Moderatot)

Paparan terakhir diberikan oleh Staf Ahli Menteri dari Kementerian Pariwisata Dra. Esthy Reko Astuti, M.Si. menyatakan mengenai dalam dunia pariwisata karena di mata internasional, Indonesia meraih pelbagai penghargaan level internasional. Pertumbuhan pariwisata Indonesia juga membaik dalam lingkup negara-negara ASEAN. Hal ini tak terlepas dari peranan Wonderful Indonesia Promotion yang mana adalah sebuah bungkus bingkai keindahan Indonesia untuk dimasyarakatkan dan dinilai sangat berhasil menghasilkan devisa pada tahun 2016 mencapai 12 juta dollar. Ia pun menambahkan peran besar pemerintah dalam menjaga, memayungi dan membungkus keaslian dan kearifan lokal agar tidak pudar dan hilang ditelan arus globalisasi. Beliau pun juga menyoroti tentang penanggulangan dampak ekonomi yang terfokus pada enam cara, diantaranya: 1. Diversifikasi jangkauan produk; 2. Mereduksi jumlah wisatawan di beberapa area, persebaran merata.; 3. Eco-tourism; 4. Green tourism; 5. Tatalaksana hukum yang mengikat dan menunjang; 6. Kebutuhan akan manajemen dan tanggungjawab yang baik.

Gambar 5 Pemaparan oleh ibu Esthy

Koordinator PPI Dunia Kawasan Amerika Eropa Tubagus Aryandi Gunawan menyatakan bahwa Simposium ini dihadirkan sebagai bentuk kepedulian Pelajar Indonesia di luar negeri khususnya wilayah Amerika Eropa untuk membahas isu-isu yang hangat saat ini yang akan dijadikan poin poin utnuk melahirkan rekomendasi yang nantinya akan diserahkan kepada pemangku kebijakanj terkait.

Pada Tanggal 27 hingga 28 April 2019 Para Delegasi PPI negara se Amerika-Eropa berembuk untuk mengidentifikasi dan melahirkan ide-ide untuk melahirkan “Rekomendasi Barcelona Untuk Kemajuan Pariwisata Indonesia yang Berkelanjutan”

Gambar 6 Focus grup Discussion untuk melahirkan Rekomendasi Barcelona)

Rekomendasi Barcelona ini berisi poin-poin masalah dan ide-ide alternatif untuk pembangunan pariwisata Indonesia dari perspektif para pelajar di Amerika – Eropa yang berkesimpulan:

Berdasarkan uraian rumusan masalah dan rekomendasi yang ditawarkan, maka dapat disimpulkan bahwa potensi pariwisata berdasarkan alam menjadi prioritas utama dalam program pemerintah. Akan tetapi, pentingnya kelengkapan informasi khususnya di lokasi rawan bencana dan dukungan dana yang berkelanjutan menjadi langkah tepat dalam memajukan pariwisata Indonesia yang berkelanjutan.

Untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0, industri pariwisata Indonesia harus melakukan digitalisasi. Transportasi yang mudah dan akomodasi yang berstandar adalah salah satu hal yang menjadi fokus pembangunan. Tentunya masyarakat dan pihak yang terkait perlu dilibatkan dalam setiap proses dari perencanaan hingga penerapan pembangunan.

Sistem keberlanjutan sangat penting untuk keberlangsungan pariwisata di Indonesia dimana akan memberikan dampak positif terhadap lingkungan, sosial, dan finansial. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan generasi milenial dapat mempercepat dan mempermudah penerapan sistem keberlanjutan. Pihak-pihak terkait harus dapat terus bersinergi dengan baik dalam memajukan pariwisata di Indonesia.

Dengan kepedulian para Pelajar Indonesia di Amerika – Eropa ini terhadap bangsanya mereka tidak ingin rekomendasi ini hanya menjadi kertas arsip belaka, maka rangkaian acara ini ditutup dengan penyerahan “Rekomendasi Barcelona” ini kepada Ibu Esty sebagai perwakilan pemerintah di Kementerian Pariwisata yang dilakukan oleh Koordinator PPI Dunia Kawasan Amerika – Eropa.

Gambar 7 Penyerahan Rekomendasi Barcelona oleh Koordinator PPI Dunia Kawasan Amerika Eropa kepada Staf Ahli Menteri Pariwisata RI

Foto bersama delegasi, panitia dan narasumber Simposium Amerika Eropa 2019

Hongaria maupun Budapest ibukota-nya, terkenal cantik dengan Sungai Danube yang membelahnya serta bangunan-bangunan di sisinya misalnya Gedung Parlemen, Buda Castle, Fisherman's Bastion, Thermal Bath, dll. Namun tentunya lokasi traveling di Hongaria tidak hanya itu, banyak lokasi-lokasi dan kota-kota lainnya yang menyajikan keindahannya masing-masing. Salah satunya adalah jalur-jalur pendakian / hiking di bukit (dalam bahasa Hongaria disebut Hegy) dan hutan Hongaria yang banyak digunakan untuk beraktivitas oleh masyarakat umum pada kawasan-kawasan ini.

Sebagai seseorang yang senang menikmati alam, saya dan teman-teman PPI Hongaria berkesempatan menelusuri beberapa jalur pendakian bukit dan hutan di Hongaria. Dari kesempatan-kesempatan penelusuran jalur pendakian tersebut, selain kesenangan pribadi kami pun mendapat pembelajaran yang belum diperoleh saat melakukannya di tanah air. Salah satunya adalah kita sangat mudah menemui keluarga (orang tua yang membawa anak-anaknya), remaja, hingga orang tua yang melakukan trekking / trail run di weekend maupun waktu libur.

Orang tua yang melakukan aktivitas trekking di kawasan Hármashatár-hegy
Keluarga yang mengajak anak-anaknya bermain kereta luncur di kawasan Bükk Mountains saat winter (dok: Faisal Fadhil)

Mudahnya menemui aktivitas masyarakat di jalur pendakian bukit dan hutan di Hongaria ini disebabkan oleh beberapa hal positif yang mendukung. Berikut adalah beberapa hal positif tersebut hasil pengamatan pribadi.

1.Informatif dan interaktif

Jalur pendakian bukit dan hutan Hongaria ini sangat informatif dan interaktif bagi masyarakat / para pendaki. Jalur pendakian di seluruh Hongaria dirawat oleh Magyar Természetjáró Szövetség, sebuah lembaga independen dengan visi pengembangan olahraga rekreasi di alam bebas (http://www.mtsz.org/).

Informatif yang dimaksud adalah terdapat berbagai tanda yang menunjukkan arah jalur termasuk tingkat kesulitannya. Tanda yang digunakan pada jalur pendakian ini menggunakan Czech Hiking Markers System yang umum digunakan di negara-negara kawasan Eropa Tengah dan Timur. Sehingga kita pun dapat dengan mudah mengikuti jalur yang kita inginkan dengan resiko kehilangan arah akan lebih kecil. Jalur-jalur ini pun telah dicatatkan melalui global positioning system (GPS) secara elektronik dan online yang dapat diakses dengan mudah melalui berbagai situs (seperti http://turistautak.hu) yang dapat disinkronisasi pada aplikasi (seperti Locus Map) di gawai kita.

Tanda dengan Czech Hiking Markers System di kawasan Hárshegy

Adapun interaktif yang dimaksud adalah terdapat 3 jalur pendakian jarak jauh yang menghubungkan berbagai kota dan mengelilingi negara Hongaria yang dikenal dengan nama Kéktúra / Blue Trail. Tiga jalur tersebut yaitu Országos Kéktúra (dengan panjang rute 1.128 km), Alföldi Kéktúra (847,5 km), dan Rockenbauer Pál Dél-dunántúli Kéktúra (541 km). Jalur-jalur ini juga terhubung dengan European Long Distance Walking Route ke jalur pendakian negara lainnya. Adapun berbagai lokasi dan bentang alam yang indah di Hongaria dilewati oleh jalur-jalur ini. Terdapat ratusan lokasi check-point di sepanjang jalur pendakian, dan terdapat stampel / cap di masing-masing lokasi tersebut. Jika seseorang dapat mengumpulkan stampel / cap dari semua lokasi check-point dalam buku / peta Kéktúra pribadinya, maka orang tersebut secara resmi berhasil menyelesaikan rute Kéktúra tersebut dan berhak untuk memperoleh lencana badge. Tentunya lencana badge tersebut akan sangat berasa spesial bagi pemiliknya karena tidak sembarang orang dapat memilikinya.

Tiga jalur pendakian jarak jauh Kéktúra / Blue Trail (http://www.kektura.hu/)
Beberapa lokasi check-point (https://turizmus.zirc.hu)
Salah satu stampel di Banküt, Bükk Mountains

2. Objek infrastruktur wisata di puncak dan kawasan bukit

Objek infrastruktur wisata yang dimaksud adalah menara observasi (dalam bahasa Hongaria disebut kilátó) untuk melihat pemandangan di setiap puncaknya. Menara-menara ini sebagian besar didesain unik dan memiliki pandangan 360 derajat ke sekeliling bukit.

Selain menara observasi, diantara perbukitan dan hutan Buda juga terdapat salah satu jalur kereta api yang spesial yaitu Children’s Railway (Gyermekvasút). Spesial karena jalur kereta api ini berbeda dengan yang lain yaitu jalurnya yang melewati hutan-hutan serta dioperasikan oleh anak-anak. Anak-anak belajar bekerjasama dan bertanggung jawab dengan bekerja di berbagai posisi tentunya dengan pengawasan pekerja dewasa.

3.Fasilitas yang sangat terjaga

Terjaga yang dimaksud adalah mulai dari kebersihan, transportasi, hingga telekomunikasi. Kebersihan di sepanjang jalur pendakian bukit dan hutan ini merupakan hasil kebiasaan masyarakat Hongaria. Sebuah adat kebiasaan yang terus dijaga masyarakat sehingga para pelancong pun ikut menghargai kebiasaan dalam menjaga kebersihan ini. Selain itu bukit dan hutan di Hongaria umumnya juga memiliki fasilitas transportasi yang cukup baik, dengan adanya bus-stop pada lokasi titik awal jalur-jalur pendakian pada umumnya. Pun fasilitas sinyal komunikasi umumnya masih dapat diperoleh pada jalur-jalur pendakian.

Adapun di Hongaria, setiap musim merupakan waktu yang tepat untuk menelusuri jalur-jalur pendakian ini karena memiliki keindahannya masing-masing. Tentunya menelusuri jalur pendakian bukit dan hutan ini sangatlah mengasyikkan dan bisa sedikit mengobati kangennya terhadap hijaunya alam Indonesia, namun jangan lupa untuk tetap perlu memperhatikan persiapan dan kesehatan. Ayo kita eksplor lagi buat teman-teman yang berminat merasakan alam Hongaria!

Penulis adalah Hadi Prasojo (MSc Student in Economic Analysis, Corvinus University of Budapest) @ppihongaria

Pelajar Indonesia membentuk asosiasi Pelajar dan Alumni Nordik Baltik untuk mengawal agenda SDGs

Nordic Baltic Indonesian Scholar Conference (NBISC) adalah acara konferensi tahunan yang digelar oleh Perhimpunan/Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) yang berada di wilayah Nordik dan Baltik yaitu PPI Denmark, PPI Finlandia, PPI Swedia, PPI Norwegia, dan PPI Estonia. Konferensi ini merupakan konferensi kelima yang akan dilaksanakan di Copenhagen, Denmark selama dua hari, pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 16 dan 17 Maret 2019. Secara umum, konferensi ini bertujuan sebagai ajang bertemu dan berdiskusi antar para akademisi, peneliti, dan pelajar Indonesia yang berada di wilayah Nordik dan Baltik.

Tema yang diangkat dalam konferensi kali ini adalah Sustainable Development Goals (SDG), yang merupakan agenda global untuk mendorong perubahan-perubahan kearah pembangunan berkelanjutan berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan untuk mendorong pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup. Tema tersebut sangat bersesuain dengan bidang studi pelajar Indonesia di kawasan nordik baltik yang kebanyakan di bidang terkait dengan SDGs.

Ketua PPI Denmark, Luthfi Nur Rosyidi dalam kata sambutannya mengawali acara konferensi mengatakan bahwa konferensi tersebut penting sekali, karena bisa mengkolaborasikan dan mensingkronkan berbagai studi yang dilakukan para pelajar, seklaigus untuk membangun jejaring diantara mereka. Ada 19 poster hasil penelitian dan 10 foto terkait SDGs yang dilombakan dalam acara ini.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Denmark dan Republik Lithuania, bapak M. Ibnu Said turut hadir memberikan sambutan sekaligus membuka acara konferensi. Beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada para pembicara yang telah berkenan untuk berpartisipasi dalam konferensi ini. Dalam sambutannya, bapak M. Ibnu Said juga memaparkan beberapa kerjasama yang telah terjalin antara pemerintah Indonesia diantaranya program hutan harapan. Diakhir sambutannya, beliau berharap konferensi ini dapat menghasilkan rekomendasi yang dapat berkontribusi dalam pencapaian pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.

Pembicara NBSIC pada panel pertama menampilkan bapak Rahmat Witoelar yang merupakan Utusan Khusus Presiden RI dibidang climate change, dalam presentasinya, beliau mengemukakan bahwa hal terpenting dalam meningkatkan kepedulian climate change adalah perubahan aksi dari pemerintah ke non-state actors, hal ini memungkinkan terbukanya kekuatan baru dari bawah untuk meningkatkan kepedulian terhadap climate change. Senada dengan beliau, aktivis muda Nick Fitzpatrick yang aktif dalam Youth Climate Lab (YCL) pada presentasinya menekankan dan mengajak bahwa kepedulian ini harus juga dimiliki oleh generasi muda dengan memulai dari diri sendiri hingga level internasional. Pembicara lain yang juga diaspora Indonesia di Denmark memaparkan bahwa terdapat 3 aspek yang merupakan tantangan dalam produksi clean energy yaitu commercial aspect, regulation from government, and social aspect. Tantangan tantangan ini tentunya tanpa solusi, Denmark sebagai negara produsen energi terbarukan mengkolaborasikan secara bersama antara industri, universitas dan pemerintah dan semua stakeholders sebagai solusi menghadapi tantangan ini.

Pada panel 2, menghadirkan ibu Dr. Andi Erna Anastasjia Walinono, co-chair filantropi Indonesia dan mantan duta PBB untuk MDGs, menyatakan bahwa penting untuk membangun kemitraan dalam keterpaduan dengan tata kelola yang partisipatif, transparan dan akuntabel. Christian Lund, Head of Section Global Development, IFRO, University of Copenhagen dalam presentasinya menekankan pentingnya membangun research collaboration antara akademisi dengan praktisi SDGs, dengan demikian akan tercipta sinergitas yang akan mempercepat proses pencapaian tujuan tujuan pembangunan yang berkelanjutan.

NBSIC 2019 kali ini juga dimeriahkan dengan presentasi poster dan lomba fotografi yang diikuti oleh peserta dari PPI negara negara Nordic baltik, dimana ada 19 presenter poster dan 7 peserta lomba fotografi. Poster yang dipresentasikan adalah hasil dari penelitian di bidang studi masing-masing, terkait dengan sutainable development goal. Masing-masing presenter menyajikan perkembangan SDG dari disiplin ilmu mereka, dan menghasilkan suatu dialog yang saling mencerahkan bagi para hadirin.

Konferensi diakhiri dnegan pernyataan bersama dan deklarasi pembentukan forum komunikasi untuk menindaklanjuti-poin-poin yang telah disepakati. Beberapa poin tersebut adalah:

  1. Mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) diperlukan kerja sama kemitraan antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, akademisi, swasta, dan filantropi untuk memajukan ekonomi dan pembangunan sosial.
  2. Mendorong seluruh pemangku kepentingan di atas untuk berperan aktif dalam mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan mengatasi perubahan iklim.
  3. Perlu memobilisasi seluruh potensi dan sumber daya untuk mewujudkan SDGs.
  4. Meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya SDGs.
  5. Berkomitmen untuk berkontribusi dan bersinergi dalam mewujudkan target SDGs di Indonesia pada tahun 2030 sesuai dengan kapasitas, pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan bidang yang dikuasai sesuai dengan 17 pilar yang ditetapkan dalam SDGs.
  6. Penguatan kerja sama antara diaspora dan pelajar Indonesia di wilayah Nordik Baltik dengan akademisi, profesional, peneliti, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengembangkan penelitian dan mengimplementasikan ilmu yang didapat untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
  7. Untuk mengawal poin-poin di atas, serta mengembangkan relasi dan kolaborasi sesama pelajar Indonesia di wilayah Nordik Baltik, kami bersepakat untuk berhimpun dalam Wadah Komunikasi Alumni dan Pelajar Indonesia di wilayah Nordik Baltik.

Hai teman-teman PPI Dunia! Kali ini kita akan membahas tentang lokasi-lokasi travelling di Denmark. Jika pertama kali mendengar tentang Denmark, pasti akan langsung teringat dengan kota Copenhagen yang merupakan ibukota dari Denmark, dengan kawasan Nyhavn yang unik dan patung Little Mermaid-nya. Tetapi jangan salah, di Denmark ada banyak lokasi wisata lain yang tentunya tidak kalah menarik dari Copenhagen. Untuk itu, tulisan kali ini akan membahas beberapa tempat-tempat tersebut.

Yang pertama adalah Møns Klint yang merupakan tebing kapur sepanjang 6 km di pesisir selatan Pulau Zealand. Tebing kapur ini cukup tinggi, mencapai sekitar 120 m dari permukaan laut. Untuk mencapai pantai di tepi tebing, ada beberapa jalur tangga yang dapat dilalui dimana jalur yang paling terkenal berjumlah 497 anak tangga! Møns Klint sangat menarik untuk dikunjungi, karena selain pemandangan alamnya yang indah, terutama jika dikunjungi saat musim gugur. Terdapat formasi batuan yang cukup unik dan menyimpan banyak informasi terkait sejarah geologi di wilayah Denmark. Wilayah hutan di atas tebingnya pun menyimpan banyak keindahan, dan tentunya titik-titik yang keren untuk berfoto.

Dari ujung selatan Denmark, kita berpindah ke ujung paling utara daratan utama Denmark, yaitu di Grenen yang dalam bahasa denmark memiliki arti cabang pohon. Terletak sekitar 3 km dari Skagen, kota paling utara di Semenanjung Jutland. Grenen merupakan titik pertemuan antara 2 laut, yaitu Skagerrak di sebelah barat yang merupakan bagian dari Laut Utara, dan Kattegat di sebelah timur yang merupakan bagian dari Laut Baltik. Pertemuan kedua laut ini membawa pasir yang terdeposisi membentuk suatu semenanjung kecil, yang selalu bergerak setiap tahunnya. Waktu terbaik untuk mengunjungi Grenen adalah saat musim panas, dengan adanya kemungkinan kita dapat melihat batas antara kedua laut yang bertemu, ditandai dengan perbedaan warna kedua laut. Selain itu, Grenen juga sering dikunjungi berbagai satwa yang menarik, seperti anjing laut, lumba-lumba, dan burung-burung endemik wilayah Skandinavia.

Tidak jauh dari Skagen, terdapat Råbjerg Mile, yang merupakan lahan gumuk pasir, kira-kira seperti Parangkusumo di Indonesia. Uniknya, Råbjerg Mile selalu berpindah lokasi setiap tahunnya, dengan perpindahan rata-rata 15 meter ke arah timur laut. Diperkirakan dalam waktu satu abad, Råbjerg Mile akan mencapai pusat kota Skagen dan menutupi kota tersebut. Tempat ini sangat indah, kita akan seperti berada di tengah gurun pasir sekalipun udaranya cukup dingin. 

Lokasi lain yang cukup terkenal di Denmark adalah Legoland Billund. Legoland ini merupakan Legoland pertama yang dibangun di dunia dan berada di sebelah pabrik pertama LEGO. Di Legoland Billund, terdapat banyak sekali minatur-miniatur lokasi terkenal Denmark maupun dunia. Tidak hanya itu saja, tetapi juga terdapat beberapa wahana permainan yang seru untuk dimainkan, terutama jika kita berkunjung bersama keluarga. Lokasinya sangat strategis, hanya beberapa menit saja dari Bandara Billund yang merupakan bandara tersibuk kedua di Denmark.

Bagi penggemar wisata arsitektur, tidak akan lengkap mengunjungi Denmark apabila tidak mendatangi Kota Aarhus. Aarhus adalah kota kedua terbesar di Denmark, dengan 13% dari seluruh populasinya yang berjumlah 315.000 orang berupa pelajar, yang menjadikannya sebagai kota dengan rata-rata usia termuda di Denmark. Meskipun demikian, menurut sejarahnya Aarhus adalah salah satu kota tertua di wilayah Skandinavia dan merupakan salah satu kota pelabuhan kaum Viking. Maka dari itu, jika kita berkeliling Aarhus kita akan disuguhi pemandangan bangunan-bangunan klasik yang diselingi gedung-gedung bernuansa modern. Salah satu ikon utama Aarhus adalah Museum ARoS, sebuah museum seni modern yang terkenal dengan instalasi permanen ”Your Rainbow Panorama” karya Olafur Eliasson. Instalasi ini berupa lorong melingkar sepanjang 150 meter yang dilingkari kaca dengan menampilkan seluruh warna dalam spektrum cahaya. Bukti lain inovasi arsitektur di Aarhus adalah kawasan Isbjerget di Aarhus Ø, yang merupakan kompleks apartemen yang didesain menyerupai gunung es.

Namun demikian, banyak juga kegiatan lain yang dapat dilakukan di Aarhus. Salah satunya mengunjungi Moesgaard Museum di selatan Aarhus. Moesgaard Museum adalah museum prasejarah dan arkeologi Denmark yang dilengkapi dengan berbagai sarana multimedia interaktif, yang membawa kita berjalan-jalan menelusuri sejarah Denmark dan Skandinavia tidak hanya melalui pandangan, tetapi juga indera-indera kita lainnya. Sungguh, butuh satu hari penuh untuk menikmati seluruh media dan pameran di Moesgaard Museum.

Sebagai pelajar di Denmark, masih banyak lagi atraksi yang belum saya kunjungi, seperti museum Hans Christian Andersen di Odense, mengambil tiram liar di pesisir Ribe di Jutland Barat, Kepulauan Faroe, dan masih banyak lainnya. Jadi, tunggu apa lagi? Masukkan Denmark dalam daftar wajib dikunjungi Anda selanjutnya jika mampir di Eropa!

Tulisan ini ditulis oleh Theodorus Felix D. Abik yang merupakan mahasiswa MSc in Molecular Nutrition and Food Technology – Aarhus University, Denmark

Musim dingin memang menjadi salah satu kenikmatan ketika tinggal di negara empat musim. Melihat indahnya butiran salju turun menyentuh tanah adalah hal yang tidak bisa kita dapatkan di negara tropis. Meskipun, suhu dingin juga terkadang membuat kita malas melakukan aktivitas di luar. Tetapi, bagaimana jika ganjarannya adalah pemandangan alam yang luar biasa?

Saya dan empat orang teman memutuskan untuk menjelajahi Taman Nasional Bohemian Switzerlanddi akhir Januari lalu. Taman nasional ini terletak di bagian barat laut Republik Ceko. Taman ini adalah bagian dari Elbe Sandstone Mountains yang terbentang dari wilayah Saxon di Jerman hingga wilayah Bohemia di Republik Ceko. Karenanya, taman nasional di bagian negara Jerman dikenal dengan nama Taman Nasional Saxon Switzerland.

Untuk mengunjungi taman nasional tersebut, kami bertolak dari kota Děčín. Kota ini hanya berjarak 1,5 jam dari kota Praha jika ditempuh dengan kereta api. Harga tiketnya mulai dari 109 CZK (~4 EUR) untuk tiket dewasa atau 27 CZK (~1,20 EURO) untuk pelajar di bawah 25 tahun dan memiliki kartu ISIC. Tiket dapat dibeli melalui website České dráhy (https://www.cd.cz/) atau di stasiun.

Destinasi hiking kami di taman nasional tersebut adalah Pravčická brána (Gerbang Pravčická), sebuah formasi bebatuan melengkung berbentuk seperti gerbang. Tempat ini juga dikenal sebagai salah satu lokasi shooting film The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch, and the Wardrobe. Tentu saja banyak destinasi lain yang bisa dikunjungi di taman nasional ini, seperti Labirin Batu Tisá dan Jurang Edmund. Tetapi beberapa tempat hanya dapat diakses pada bulan April-Oktober.

Sebelum berangkat, kami menanyakan informasi mengenai bus menuju destinasi kami di Pusat Informasi Děčín. Kami diberitahu bahwa halte destinasi kami ialah Hřensko,Pravčická brána dan kami bisa ke sana dengan bus 434. Kami juga diberitahu kalau halte bus terdekat dari lokasi kami saat itu adalah Masarykovo náměstí, lalu di mana kami harus menunggu bus, jam keberangkatan bus selanjutnya (pukul 13.15) dan jam keberangkatan bus dari Pravčická brána menuju Děčín (pukul 17.05 dan 19.05). Salah satu kekurangan berkunjung di saat musim dingin ialah jadwal bus yang lebih sedikit, yaitu hanya sekali dalam dua jam.

Kami sempat berbincang sejenak dengan wanita yang bertugas di pusat informasi tersebut karena dia sangat senang mengetahui bahwa kami berasal dari Indonesia. Dia bilang bahwa belum pernah ada turis Indonesia yang berkunjung ke kota tersebut. Ternyata dia pernah melihat penampilan angklung dan sangat terpukau dengan alat musik tradisional kita itu. Sebagai kenang-kenangan kami pun berfoto bersama dan bertukar kontak. Dia juga memberi kami suvenir dari Děčín. Sayangnya kami hanya punya kopi jahe sachet dari Indonesia yang bisa kami berikan kepadanya. Tips untuk traveling selanjutnya, selalu bawa sesuatu yang bisa dijadikan suvenir dari Indonesia, entah itu kartu pos, uang koin, gantungan kunci, dan sebagainya.

Kami masih punya waktu 45 menit dan kami memutuskan untuk mengunjungi Kastil Děčín (Zámek Děčín) sejenak. Lokasi kastil ini berada di atas bukit, sehingga kita bisa melihat kota Děčín dari atas. Meskipun menurut saya kastil ini lebih cantik jika dilihat dari jauh, dari seberang sungai Lebe atau Via Ferrata.

Lima menit sebelum bus datang kami telah tiba di halte yang berada di pusat informasi halte. Merasa ganjil karena jalur yang tertulis di papan jadwal bus justru menuju arah yang berlawanan, kami pun menunggu di halte seberang. Papan jadwal bus di sini menunjukkan jalur yang benar. Tetapi bus yang kami tumpangi yaitu bus 434 tak kunjung datang pada pukul 13.15 sehingga kami pun menunggu hingga 20 menit kemudian. Pada akhirnya, kami memutuskan untuk bertolak dari stasiun utama karena salah satu teman kami sudah pernah mengunjungi destinasi yang akan kami kunjungi tersebut dari stasiun utama. Untuk menuju ke stasiun utama, kami harus naik bus lagi selama 10 menit.

Karena bus selanjutnya masih 1,5 jam lagi, kami menyempatkan lagi berjalan-jalan di kota tersebut untuk menghibur diri menghilangkan rasa bosan menunggu di halte karena hal yang berjalan tidak sesuai rencana. Kami sempat melewati museum daerah (Oblastní muzeum) dan sinagoga. Pukul 3 sore kami menaiki bus yang kami tumpangi menuju Hřensko. Tiket bisa dibeli dari supir seharga 25 CZK (~1 EUR) per orang. Bus ini melewati halte tempat kami menunggu sebelumnya dan kami akhirnya mengetahui bahwa kami menunggu di halte yang berseberangan. Pantas kami tidak melihat bus yang kami harapkan tersebut.

Perjalanan menuju tempat destinasi hanya memakan waktu sekitar setengah jam. Kami tiba pada pukul 15.40, waktu yang sebenarnya sangat terlambat untuk mulai mendaki. Pada hari itu matahari tenggelam pukul 16.50. Bus pulang pada pukul 5 sore tidak mungkin terkejar. Jadi kami pun mengusahakan agar sudah tiba di bawah lagi sebelum benar-benar gelap.

Rute menuju Pravčická brána termasuk rute yang ringan dan sangat aman untuk pemula. Jalannya adalah bebatuan yang ukurannya tidak teratur, sehingga sangat disarankan menggunakan sepatu yang sesuai. Di musim dingin ini, jalan tersebut ditutupi lapisan salju. Beberapa bagian jalan bahkan sudah menjadi es yang agak licin, sehingga kami harus berhati-hati agar tidak terpeleset. Setengah perjalanan pertama kami menelusuri hutan dan jalannya tidak terlalu curam. Kemudian rute pun berbelok ke arah yang jalan lebih terjal dan lebih sempit, serta terdapat dinding bebatuan yang besar sehingga sesekali kami harus menundukkan kepala. Berjalan dalam suatu kelompok memudahkan pendakian karena kita bisa saling tolong-menolong jika ada jalur yang sulit dilewati.

Saat perjalanan ke puncak, kami berpapasan dengan pendaki lain yang sudah turun karena hari sudah beranjak gelap. Tak heran ketika kami tiba di puncak, kami adalah satu-satunya yang masih berada disana. Kami berfoto-foto sebentar, menikmati pemandangan matahari yang perlahan tenggelam, dan tentu saja mengagumi formasi batu unik yang menjadi destinasi kami. Dan yang terpenting dari perjalanan alam adalah memanjatkan puji kepada Yang Menciptakannya, bersyukur kita dapat diberikan kesempatan menikmati keindahan alam tersebut dan keselamatan dalam perjalanan. Setelah cukup puas, kami pun berjalan kembali menyusuri jalur yang tadi kami lewati dan berhasil tiba di bawah sebelum langit gelap total sekitar pukul 17.30.

Lagi-lagi kami harus menunggu bus selama 1,5 jam. Bedanya kali ini kami menunggu dalam kegelapan dan udara yang dingin di sebuah pondok kecil di pinggir jalan. Sesekali ada mobil yang melewati jalan besar di hadapan kami sehingga ada sedikit perasaan lega bahwa kami tidak benar-benar di daerah terisolasi. Kami pun menghabiskan waktu dengan bercerita sambil menghabiskan perbekalan. Sesekali kami menggerakkan tubuh agar tetap merasa hangat sampai akhirnya bus yang kami nanti tiba. Supirnya adalah supir bus yang juga membawa kami dari Děčín. Karena sangat senang akhirnya bisa pulang dan tidak lagi kedinginan, kami mengekspresikan rasa terima kasih kami dengan sedikit berlebihan kepada Pak Supir. Mungkin merasa lucu melihat ulah kami, dia hanya menyuruh kami membayar 50 CZK untuk tiket bus pulang. Lagi-lagi kami bertemu warga Ceko yang baik hati.

Penulis adalah Meisyarah Dwiastuti, tukang coding yang sedang mengambil program European Master in Language and Communication Technologies. Sekarang sibuk mengerjakan tesisnya di Charles University, Praha, Republik Ceko. Anggota PPI Ceko.

Banyak orang menjuluki Inggris sebagai negara yang gloomy. Julukan ini didapat Inggris karena langit di Negeri Ratu Elizabeth tersebut sering kali dilingkupi awan kelabu. Meski begitu, ada satu kota yang disebut-sebut sebagai tempat paling cerah di Inggris. Ia adalah Brighton, kota di mana saya sedang menempuh studi postgraduate saat ini.

Brighton sendiri adalah kota pinggir laut yang berada di selatan Inggris, tepatnya di East Sussex. Untuk menuju Brighton, cukup menempuh perjalanan selama satu jam naik kereta dari pusat kota London. 

Julukan sebagai kota paling cerah di seantero Inggris yang disematkan pada Brighton pertama kali saya dengar dari Professor Adam Tickell, vice chancellor University of Sussex, kampus tempat saya belajar. “It is said that Brighton is the sunniest city in the UK.” Kira-kira begitu kalimat Professor Adam saat menyampaikan welcoming speech untuk menyambut mahasiswa baru, pertengahan September lalu.

Terlepas dari benar atau tidaknya klaim tersebut, Brighton memang paling enak dinikmati saat hari sedang cerah. Kegiatan favorit saya pada saat sunny days adalah pergi ke pantai untuk menunggu waktu sunset. Penat di kepala selepas kuliah rasanya langsung hilang begitu melihat keindahan matahari tenggelam dari pantai Brighton.

Menikmati Brighton sebagai Pelajar

Tidak butuh waktu yang lama buat saya untuk merasa kerasan tinggal di Brighton. Kota ini punya energi dan karakter unik yang tidak saya temukan di kota besar seperti London. Dinding bangunan di Brighton banyak dihiasai dengan mural dan graffiti. Orang-orang dengan ekspresi fesyen yang beragam tumpah ruah di jalanan. Belum lama ini, Brighton dinobatkan sebagai “the most hipster city in the world.”

Buat saya, Brighton juga tempat yang ideal untuk tinggal dan belajar. Sebab, kota yang juga mendapat julukan sebagai 'London by the sea' ini tidak terlalu sibuk, tapi tidak juga terlalu sepi.

Berdasarkan sensus terakhir yang dilakukan pemerintah Inggris pada 2011, populasi pelajar di Brighton sekitar 14 persen dari total jumlah penduduk. Angka ini jauh di atas presentase rata-rata jumlah pelajar di England yang sebanyak 8,2 persen.

Di Brighton ada dua universitas dan beberapa college. Yang paling besar adalah University of Sussex. Berdiri sejak tahun 1960-an. Sussex memiliki lebih dari 17 ribu mahasiswa. Sekitar 24 persen di antaranya adalah pelajar internasional yang berasal dari 120 negara. Jadi, tak heran jika sedang berada di kampus, atau bahkan di seluruh penjuru kota Brighton, saya sering mendengar orang berbicara dalam beragam bahasa yang berbeda. 

Bicara soal suasana kampus, University of Sussex memiliki lingkungan yang tenang dan sangat kondusif untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar. Ini karena lokasinya yang dikelilingi South Downs National Park. Dari jendela perpustakaan, saya bisa melihat perbukitan hijau yang dihuni sapi dan kuda.

Jika butuh rehat setelah berjam-jam belajar di perpustakaan, saya bisa dengan mudah pergi ke pantai atau pusat kota dengan menaiki bus. Biasanya, setelah puas duduk-duduk di pantai, saya suka menyusuri gang-gang sempit di The Laines yang dijejali kafe, pub dan toko-toko mungil yang menarik.

Brighton juga terkenal dengan beragam festival seni dan budaya yang digelar sepanjang tahun. Mulai dari Brighton Art Fair, Brighton Film Festival, Brighton Fringe, Paddle Round the Pier, Brighton Kite Festival, Brighton Pride, hingga Burning the Clocks, festival akhir tahun yang ditandai dengan parade lentera.

Jadi, tertarik untuk studi dan tinggal di Brighton?

Brighton, Januari 2019

Halimatus Sadiyah, mahasiswa program Media Practice for Development and Social Change, University of Sussex.

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920