logo ppid

Asia Young Scholars Summit (AYSS2019) is an formal discussion forum, especially for Asian and open for international student. It is organized by Indonesia Student’s Association in the People’s Republic of China (PPI Tiongkok). We invite many students from all over the world to take a part in this conference. The summit has theme entitled: “Leveraging Region with Economy, Social, and Technology Collaboration”.

Scope of Articles

The conference covering broad topics, but are not limited to the following topics:

Combined with Asia-Oceania Symposium 2019, This event will be the biggest "Event of the Year" for Indonesian Student Association For People’s Republic of  China. We invite all of Indonesian & International Students or Researchers to submit an abstract.  The conference will be held on May 17-18 in Tianjin City, China

For further Information visit:

http://pukat.ppitiongkok.org

∼See you in Tianjin∼


Salam Kolaborasi Karya !

"..... Maka pilihan sebenarnya dan ini harus menjadi ruh bagi siapapun yang ingin disebut sebagai pahlawan, pastikan ia berinisiatif untuk mengabdikan diri pada hal-hal yang membawa maslahat baik bagi diri sendiri, masyarakat sekitar, bangsa dan negara."
Departemen Kajian Strategis melalui Buletin Excelenci Vol. 7 mencoba memberikan pandangan terkait narasi pahlawan di era milenial yang masih erat kaitannya dengan era Industri 4.0. Selamat membaca dan semoga tercerahkan.

Link buletin excelencia bisa diakses di sini:


Buletin-Excelencia-Vol.7-Kastrat

Perkembangan pesat teknologi informasi, khususnya teknologi otomasi, artificial intelligence (AI), robotic, teknologi sensor, maupun Internet of Things (IoT) mendorong perubahan iklim industri menjadi semakin kompetitif dan dikenal sebagai revolusi industri 4.0. Kondisi tersebut menciptakan dampak positif maupun negatif. Dampak positif berupa terciptanya lapangan pekerjaan dan keterampilan baru, namun di sisi lain menimbulkan dampak negatif berupa hilangnya peluang pekerjaan tertentu. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut meningkatkan kapasitasnya sehingga mampu beradaptasi dan menjadi aktor dalam revolusi industri 4.0 serta pada akhirnya dapat mengurangi jumlah pengangguran terdidik.

Menjawab tantangan tersebut, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Taiwan menggelar Indonesian Scholar Scientific Summit (I3S) yang bertajuk “Membangun Techno-creative Entrepreneur Ecosystem di Era Industri 4.0” yang diselenggarakan pada Sabtu, 17 November 2018. Bertempat di Conference Hall, College of Law, Tunghai University, kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 200 mahasiswa Indonesia yang sedang melanjutkan studi di Taiwan yang tersebar dari wilayah selatan sampai dengan utara, sebagaimana yang disampaikan oleh Adi Kusmayadi, Ketua Panitia I3S 2018 yang juga mahasiswa program master pada Department of Chemical and Materials Engineering, Tung Hai University. Tingginya antusias mahasiswa Indonesia yang datang dari berbagai universitas di seluruh penjuru Taiwan tentunya tak lepas dari dukungan penuh Tung Hai University sebagai tuan rumah penyelenggara, khususnya Prof. Chen-Jui Huang selaku kepala Taiwan Education Center Indonesia sekaligus wakil direktur Office of International Relations, Tunghai University.

Keynote speech pertama disampaikan oleh Prof. Chin-Yin Huang, Chairman Department of Industrial Engineering and Enterprise Information, Tunghai University yang terangkum dalam presentasi berjudul “What can Indonesia get from Industry 4.0”. Prof. Huang menyampaikan bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang cukup melimpah dan itu merupakan sebuah potensi yang dapat dikembangkan untuk mendukung kegiatan produksi industri. Selain itu, Prof. Huang menyampaikan berbagai pemanfaatan yang dapat dimaksimalkan dalam perkembangan revolusi industri 4.0 ini. Selanjutnya, sesi keynote speech kedua disampaikan oleh Dr. Warsito Purwo Taruno, M. Eng, CEO CTECH Labs EdWar Technology dengan materi berjudul “Toward Indonesian Knowledge Based Economy in the Era of Industry 4.0”. Dr. Warsito berbagi strategi inovasi dan pengalaman membangun perusahaan teknologi di Indonesia yang digunakannya sebagai salah satu upaya untuk mendongkrak daya saing industri nasional. Tak kalah menariknya dengan pembicara sebelumnya, keynote speaker ketiga Eka Sastra, M.Si, yang merupakan anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) sekaligus Bendahara Umum HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) memberikan gambaran tentang peranan pengusaha muda dalam menggerakkan perekonomian nasional yang dikemas dalam materi berjudul “The Role of HIPMI for Growing the Enterpreneurial Techno-Innovation in Indonesia”. Di akhir sesinya, aparatur pemerintahan tersebut memotivasi peserta untuk mempelajari penerapan teknologi di Taiwan dan membangun jejaring internasional dalam rangka membangun dan mengembangkan bisnis sebagai sumbangsih terhadap tanah air pada masa mendatang.

Rangkaian simposium telah selesai dengan tersampaikannya tiga materi dari para ahli di bidangnya, namun kegiatan I3S masih belum berakhir. Kegiatan I3S dilanjukan dengan sesi khusus berupa diskusi grup tentang perkembangan ilmu dan teknologi sebagai upaya untuk memberikan kontribusi dalam menjawab tantangan revolusi industi 4.0. Kegiatan diskusi grup ini menjadi ajang pencarian inovasi yang mungkin bisa diterapkan untuk menjadi solusi. Sebanyak 20 makalah ilmiah dipresentasikan dan enam reviewer disiapkan untuk menilai potensinya. Karya terbaik dipilih dengan penilaian berupa keterkaitan topik dengan tema, cara penyampaian dan hasil dari karya ilmiah. Sehingga terpilihlah empat karya ilmiah terbaik yang topiknya berhubungan dengan bidang rancang bangun, kesehatan, teknologi dan pola tingkah manusia terhadap sebuah fenomena.

Di akhir acara, Sutarsis, mahasiswa Ph.D. di Material Sciences and Engineering, National Central University selaku Ketua PPI Taiwan berpendapat bahwa kegiatan ini dapat menjadi salah satu agenda rutin tahunan PPI Taiwan yang berfungsi sebagai ajang komunikasi dan wahana bertukar gagasan ilmiah dalam rangka mengembangkan keahlian dan keilmuan lintas disiplin, dari pemuda untuk Indonesia.

Indonesian Scholars, Let’s be a part of Industrial Revolution 4.0

Beijing (13/11/2018) Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok berhasil menerbitkan majalah kajian dengan tema strategis kawasan. Hasil tulisan Pusat Kajian Strategis Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok ini merupakan majalah kajian pertama yang diterbitkan oleh PPIT. Dua belas judul yang terdapat di dalamnya merupakan hasil pemikiran, analasis, maupun penelitian dari para penulisnya.

Beberapa diantaranya membahas mengenai kebijakan China dalam melaksanakan Belt and Road Initiative. Penulis membahas kesungguhan China dalam menjalankan proyek tersebut, serta tantangan dan pengaruhnya di Indonesia. Pembebasan lahan, kurangnya koordinasi, skeptis masyarakat Indonesia terhadap Tiongkok, dan hal-hal lainnya diungkapkan penulis sebagai tantangan dalam menjalankan proyek tersebut di Indonesia. Selain itu, penulis juga menjelaskan lebih jauh mengenai upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi tantangan yang dapat menghambat tujuan optimalisasi proyek OBOR ini.

Kompetisi dagang antara China dan Amerika Serikat juga merupakan salah satu topik yang disajikan penulis dalam majalah kajian ini. Sejumlah indikator seperti meningkatnya GDP, ekspansi pasar internasional, meningkatkatnya konsumsi energi, dan meluasnya proyek infrastuktur membuat China dianggap sebagai ancaman bagi dominasi global Amerika Serikat. Dalam tulisannya, penulis mengingatkan bahwa kondisi ini menuntut Indonesia untuk memainkan peran kunci dengan baik dalam menjaga keseimbangan kekuatan kawasan. Doktrin politik luar negeri yang telah dirumuskan membuat Indonesia diperhitungkan dalam perhelatan politik Internasional.

Kembali ke dalam negeri, topik mengenai parisiwata di desa global juga menjadi salah satu judul hasil tulisan dalam majalah ini. Penulis mengatakan bahwa kesadaran masyarakat dunia akan isu-isu iklim, pemanasan global, hingga go green telah membawa mereka pada keinginan berwisata yang berbasis perdesaan dan kembali ke alam. Hal tersebut yang menjadikan desa-desa kini dipenuhi turis asing. Keberhasilan Kota Batu, Kabupaten Banyuwangi, dan Pulau Madura dalam mendatangkan wisatawan ke wilayah mereka bukanlah kerja yang mudah. Tantangan yang harus dihadapasi demi memaksimalkan potensi wilayah menarik kunjungan wisawatan harus membutuhkan ketekunan dan ketelatenan.

Beberapa topik mengenai budaya nusantara di Negeri China, kebijakan politik China, Kemerdekaan Indonesia, dan topik lainnya juga turut mewarnai keberagaman topik di dalam majalah ini. Harapannya, para pembaca dapat memperoleh ilmu serta informasi yang dibagikan para penulis melalui tulisan-tulisan tersebut.

Nadya Mara (Pengurus Pusat PPI Tiongkok)

Untuk mendownload majalah ini, bisa melalui link berikut:

Majalah-Ilmiah

Para Pembicara The 6th AASIC dan Perwakilan PPI & KBRI

Perhimpunan mahasiswa Indonesia di Thailand (Permitha), kembali menggelar konferensi internasional tahunannya yang dikenal dengan AASIC. Konferensi tahun ini diadakan di salah satu universitas di utara Thailand, Mae Fah Luang University, universitas yang asri berlokasi di Provinsi Chiang Rai pada tanggal 8-10 November 2018.

AASIC sudah diadakan sejak tahun 2012, dimulai dari Prince of Songkla University di Provinsi Songkla, Thailand Selatan, kemudian berpindah ke Kasetsart University dan Chulalongkorn University di tahun 2013 dan 2015 yang keduanya merupakan universitas di provinsi Bangkok. Tahun 2016 berpindah ke Mahidol University yang lokasinya di Provinsi Nakhom Pathon, dan 2017 di Khon Kaen University, provinsi yang berlokasi di timur laut Thailand.

Untuk tahun 2018, jumlah peserta AASIC meningkat menjadi 200 peserta yang berasal dari 11 negara yaitu: Indonesia, Thailand, Malaysia, Vietnam, Myanmar, Laos, Filipina, India, Bangladesh, Amerika serikat, dan Australia. Para akademisi yang tergabung dalam konferensi ini membahas tema besar tentang transformasi masyarakat Asia dalam dinamisasi, inovasi dan globalisasi dengan key-note speaker Prof. Alberto Gomes yang merupakan pakar sosiologi dan antropologi La Trobe University, Australia. Kemudian, acara dilanjutkan dengan plenary lecture dengan pembicara yang berasal dari 4 kluster keilmuan: Dr. Wasana (Chulalongkorn University) dari sosial sains, Prof. Dr Yunardi (Universitas Syiah Kuala) dari sains-teknologi, Prof. Dr. Nopadol dari kesehatan dan Dr. Chachaya dari ekonomi.

Fadjar Mulya, Ketua Permitha sekaligus Koordinator PPI Dunia saat memberikan sambutan

Artikel ilmiah peserta AASIC akan dipublikasikan dalam bentuk prosiding AASIC yang dapat di akses di http://aasic.org/proc/aasic/issue/archive dan beberapa jurnal yang bekerjasama dengan AASIC yaitu: Mahasarakham University, Journal of Education, Indonesian Journal of Nursing Practices, AEI Insights, International Journal of Asia-Europe Relations - University of Malaya, The Journal of Human Rights and Peace Studies, Mahidol university, Journal of Accounting and Business Dynamics dan Constitutional Review (CONSREV).

Seiring berjalannya waktu, globalitas akan terus menggerus lokalitas dan modernitas akan menggilas identitas. Bagaimanapun juga kita tidak akan mampu menahan laju globalitas dan modernitas, kitalah yang harus menjaga lokalitas dan identitas.

Buletin Excelencia hadir kembali dengan tema dan tampilan yang lebih menarik. Tema budaya diambil untuk merefleksikan kembali tentang siapa diri kita. Tanpa mengetahui tentang jati diri kita, bagaimana bisa mengerti tolak ukur untuk memahami rasa?

Selamat membaca buletin excelencia Vol. 6, semoga bermanfaat.
Link buletin excelencia bisa diakses di sini:
https://ppi.id/wp-content/uploads/2018/11/Buletin-Thailand-vol-6.pdf

Pembukaan Bersama Bapak Dubes (dok. PPI Tiongkok)

Tepatnya 25 Oktober 2018, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok menyelenggarakan kegiatan penting yakni Rapat Kerja Tengah Tahun (RKTT). Ini merupakan RKTT yang kedua, sebelumnya PPI Tiongkok telah mengadakan kegiatan serupa yang dihadiri oleh puluhan perwakilan yang berasal dari berbagai kota di Tiongkok

Agenda tahunan yang bertepatan dengan momen sumpah pemuda ini dibuka langsung oleh Bapak Djauhari Oratmangun selaku Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia di wisma KBRI Beijing. Acara dibuka dengan lantunan angklung sebagai simbol tanda dibukanya acara RKTT PPI Tiongkok 2018/2019.

Pada sesi pembukaan, Duta Besar Tiongkok yang juga merangkap Mongolia menyampaikan paparan materi tentang kepemudaan, diaspora dan isu-isu terkini mengenai hubungan Indonesia dan Tiongkok. Tidak lupa pada sesi tersebut juga dibahas tentang prospek kerjasama ekonomi dalam menghadapi masa ekonomi digital sebagai alat baru dalam kompetisi antar bangsa.

Sebagai wadah pemuda, PPI Tiongkok tentu memiliki peran dalam mengarahkan dan mengembangkan bakat mahasiswa Indonesia sebagai generasi penerus. Dalam sambutannya, Fadlan Muzakki menyampaikan pesan akan pentingnya kolaborasi antar pemuda untuk mencapai tujuan dan menjadi bangsa yang besar. ”Dulunya para tokoh bangsa harus bekerja siang dan malam dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, kita harus bercermin dari semangat juang mereka,” papar ketua umum PPI Tiongkok ini.

Dalam pemaparan materi, Bapak Djauhari menjelaskan tentang pentingnya Indonesia dalam ekonomi digital dan e-commerce agar bisa berkompetisi di era revolusi industri. ”Ekonomi Digital adalah kunci bagi Indonesia agar menjadi bangsa yang besar di masa depan,” paparnya dengan semangat.

Pelaksanaan RKTT (dok. PPI Tiongkok)

Di akhir sesi, beliau berpesan kepada seluruh pengurus PPI Tiongkok agar tetap semangat dan berkontribusi dalam proses pembangunan Indonesia. Selain itu perencanaan dan tujuan belajar bagi mahasiswa sangat penting dalam mewujudkan mimpi-mimpi untuk membangun peradaban bangsa yang besar.

Menurut informasi panitia, delegasi yang hadir dalam kegiatan tahunan ini berjumlah delapan puluh orang yang mewakili perhimpunan pelajar Indonesia Tiongkok di cabang masing-masing. Dihari terakhir panitia berencana merayakan ulang tahun PPI Tiongkok dan memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-90 di sekitar Beijing.

Delegasi RKTT (dok. PPI Tiongkok)

Bravo PPIT

Salam Perhimpunan,

 

Penulis: Auliya Fitri Nur Laili, Nanjing Institute of Railway Technology Divisi Tabloid Pusat Media Komunikasi

Editor: dewan, Beijing Jiaotong University

 

“Kita tidak bisa menyiapkan masa depan untuk generasi muda, yang bisa kita siapkan adalah generasi muda untuk masa depan” -Franklin Delano Roosevelt

Terinspirasi dari kutipan bijak F.D. Roosevelt tersebut, Akademi Berbagi Solo berhasil bekerjasama dengan Felari PPI Dunia dalam menggelar acara Scholarship Club pada hari Jumat, 12 Oktober 2018 di Solo, Jawa Tengah.

Kesadaran generasi muda untuk mempersiapkan masa depan yang cemerlang dengan memilih melanjutkan pendidikan di luar negeri serta semakin ketatnya kompetisi dalam mendapatkan beasiswa menjadi fokus utama dalam kegiatan ini. Dan pada faktanya, meningkatnya keinginan generasi muda Solo kini untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri kerap menghadapi kendala seperti ketidaktahuan tentang informasi beasiswa yang sesuai, kendala bahasa, serta kendala dana dalam mempersiapkan persyaratan beasiswa. Begitupula kurangnya teman dan kenalan yang bisa memotivasi dan membantu dalam pengoreksian persyaratan beasiswa mereka, juga termasuk kebingungan dalam menentukan langkah-langkah apa saja yang harus diambil untuk mendapatkan beasiswa dan permasalahan-permasalahan lainnya.

Informasi tentang beasiswa dipaparkan lewat presentasi

Selain membedah secara rinci persiapan dan langkah-langkah apa saja yang dibutuhkan untuk mengejar beasiswa kuliah di luar negeri, acara ini juga menjadi ajang perkenalan tentang PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Dunia. Mengingatkan kembali bahwa berorganisasi, berkumpul dengan sahabat se-tanah air merupakan hal positif yang menjadi kebutuhan bagi pelajar Indonesia di luar negeri. Apalagi sangat bermanfaat dalam membuka jejaring intelektual, dan terlebih berkolaborasi untuk tanah air merupakan salah satu kegiatan positif yang perlu dilakukan pelajar Indonesia di luar negeri, sehingga menjadikan PPI Dunia wadah yang tepat untuk mewujudkan hal tersebut.

Peserta Scholarship Club menyimak dengan antusias

Tak hanya memilih tempat yang sangat strategis, yaitu di Playground Café Manahan Solo, Scholarship Club juga memilih untuk menghadirkan narasumber yang sangat tepat, ia adalah Devi Afriyantari Puspa Putri yang telah sukses mendapatkan beasiswa LPDP untuk melanjutkan pendidikan di University of Manchester, Inggris.

Pada sesi pemaparan materi selama 60 menit, Devi menjelaskan beragam cara mendapatkan informasi beasiswa, tahap pendaftaran dan melengkapi semua persyaratan aplikasi beasiswa hingga bercerita suka-duka hidup dan belajar di Inggris. “Ketika dinyatakan lolos beasiswa, saya merasa terharu dan senang. Campur aduk! Dan tentu saja sangat bersyukur,” ujar Devi.

Apalagi tidak dapat dipungkiri bahwa pada awalnya kendala bahasa dalam bersosialisasi sehari-hari dan kehidupan perkuliahan di luar negeri menjadi salah satu tantangan yang harus dipecahkan. “Tugas kuliah yang banyak dan menumpuk terkadang membuat saya harus menginap di kampus untuk menyelesaikannya,” kenang Devi.

Narasumber pun makin bersemangat ketika sesi diskusi dan tanya jawab selama 30 menit tiba, dan sesi ini tampaknya benar-benar dimanfaatkan oleh peserta untuk mengungkap semua rahasia narasumber untuk studi lanjut.

Devi, Pembicara pada acara Scholaship Club

Hal menarik dalam Scholarship Club adalah semua kegiatan yang dilakukan bersifat volunteering atau sukarela yang bersifat non-profit, tentu saja keikhlasan dan semangat berbagi menjadi salah satu bukti keinginan kuat teman- teman untuk bersama membantu mempersiapkan generasi muda untuk masa depan. Kegiatan bermanfaat ini direncanakan dapat dilakukan secara rutin dan bertahap termasuk pelatihan dan workshop terkait pembuatan CVCurriculum vitae (daftar riwayat hidup), esai, rencana studi dan surat motivasi. Jadi kita tunggu saja! ***

 

Margaretta Christita

Tim Media Divisi Festival Luar Negeri PPID 2018/2019

felari@ppidunia.org

Tahap kedua visitasi akreditasi PKBM PPI Taiwan di KDEI Taipei [Dok: Humas PPI Taiwan]

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) PPI Taiwan adalah lembaga yang memfasilitasi Program Kejar Paket Program Paket A, Program Paket B, Program Paket C serta Kelompok Belajar atau Kejar. Lembaga ini merupakan lembaga pendidikan nonformal yang difasilitasi oleh Pemerintah Indonesia untuk siswa yang ingin menempuh pendidikan, namun tidak melalui jalur sekolah di Taiwan.

Proses ini dimulai dengan persiapan borang akreditasi dengan mengikuti standar Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Non Formal (BAN PAUD PNF) selama dua hari pada tanggal 13-14 Oktober 2018. Selanjutnya, PKBM PPI Taiwan menjalani proses visitasi, baik secara dokumen maupun observasi lapangan oleh asesor BAN PAUD PNF.

Dua asesor, Dr. Firman dan Bahrudin, melaksanakan proses visitasi melalui dua tahap yaitu pemeriksaan dokumen dengan meneliti seluruh butir-butir instrumen akreditasi PKBM dan bukti fisiknya serta melakukan wawancara dengan pimpinan, dan staff manajemen.

Tahap kedua yang dilaksanakan ditempat belajar-mengajar, yaitu di Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei. Asesor melakukan obsevarsi terhadap proses belajar-menjagar siswa, wawancara guru dan siswa, serta diskusi dengan pihak pimpinan KDEI yang memfasilitasi proses belajar-mengajar PKBM PPI Taiwan.

Menurut Ketua BP PKBM PPI Taiwan, Rekyan Regasari Mardi Putri, S.T., M.T., ada 8 standar yang dinilai dalam proses akreditasi ini. Dia berharap dari proses akreditasi pertama ini, PKBM PPI Taiwan mampu mendapatkan hasil terbaik. Dia juga menyampaikan bahwa seluruh elemen yayasan dan BP PKBM telah menyiapkan yang terbaik, dan apa yang telah dilakukan selama ini oleh PKBM PPI telah tercantum dalam dokumen akreditasi.

Di lain pihak, ketua yayasan pendidikan PPI Taiwan, Hasan Ismail, S.Pd., M.Sc., mengatakan bahwa ada harapan besar agar proses akreditasi ini menjadi momentum untuk perbaikan secara berkelanjutan dari seluruh proses dan manajemen PKBM PPI. Dengan senantiasa menjadikan standar-standar yang ada di borang sebagai acuan manajemen dan proses belajar mengajar maka PKBM PPI akan memiliki kepastian dalam jaminan mutu lulusan dan kredibilitas lembaga.

Ketua PPI Taiwan, Sutarsis, yang selama dua hari proses visitasi senantiasa mendampingi, mengatakan bahwa walaupun PKBM PPI Taiwan adalah pengabdian masyarakat bagi mahasiswa indonesia yang studi di Taiwan, namun pengabdian ini harus tetap mengikuti standar pendidikan Kementrian Pendidikan RI, agar PPI dapat menjamin kualitas pengabdiannya kepada Pekerja Migran Indonesia di Taiwan (PMI). Serta juga mengajak seluruh PMI di Taiwan memanfaatkan layanan pendidikan PPI Taiwan ini demi kehidupan yang lebih baik. [Humas PPI Taiwan]

Badan Pengurus PKBM PPI Taiwan setelah selesai proses akreditasi [Dok. Humas PPI Taiwan]

Beberapa waktu lalu dimedia sosial, viral beberapa video yang menggambarkan bagaimana anak-anak dibawah umur mengendarai kendaraan roda dua tanpa memakai helm, membonceng dua temannya padahal masih belum dewasa dan tidak mempunyai surat izin mengemudi (SIM). Selain itu, dalam video lain juga diperlihatkan anak-anak yang menangis oleh karena akan ditilang oleh polisi serta anak-anak yang ditegur oleh polisi karena mengendarai kendaraan roda dua tanpa memiliki SIM, tidak memakai helm, tidak membawa STNK dan melanggar lalu lintas.

Pemandangan yang menjadi viral tersebut pastinya bukan pemandangan yang luar biasa di Indonesia, hal tersebut justru menjadi pemandangan yang sudah biasa kita lihat. Anak-anak yang masih duduk sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) seperti sudah lumrah memakai kendaraan roda dua di jalanan tanpa helm, tidak membawa STNK dan tidak memiliki SIM.

Hal tersebut terjadi bukan hanya ada di kota-kota besar, namun juga terjadi di kampung kampung di seluruh Indonesia dan kita sebagai masyarakat sepertinya menganggap hal yang dilakukan oleh anak-anak tersebut adalah hal biasa saja. Padahal kita sangat memahami bahwa apa yang dilakukan oleh anak-anak tersebut adalah salah dan melanggar hukum. Namun, oleh karena pelanggaran tersebut dilakukan secara bersama-sama dan serta terus menerus, maka pada akhirnya pelanggaran lalu lintas tersebut dianggap hal biasa dan bukan merupakan bagian dari pelanggaran hukum.

Peran Orang Tua, Guru dan Polisi

Data dari Kepolisian Republik Indonesia terkait kecelakaan lalu lintas khususnya kendaraan roda dua yang pengendaranya anak-anak setidaknya ada sekitar ribuan anak-anak yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas oleh karena mengendarai kendaraan bermotor dan mengalami kecelakaan. Bagi orang tua yang pernah merasakan kehilangan buah hatinya karena kecelakaan kendaraan bermotor pasti akan sangat setuju untuk menindaklanjuti dan menghukum anak-anak yang mengendarai kendaraan bermotor oleh karena belum cukup umur. Kendaraan motor roda dua sepertinya menjadi mesin senjata pembunuh masal bagi anak-anak Indonesia, namun kita sebagai orang tua sepertinya dibuat tidak sadar atau malah memang sengaja tidak sadar. Orang tua merasa bangga apabila dapat memberikan kendaraan roda dua kepada anaknya, padahal dari segi usia anak tersebut belum cukup umur untuk mengendarai kendaraan bermotor.

Kepemilikan SIM untuk seorang pengemudi kendaraan sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan. Dalam Pasal 7 ayat (1) disebutkan bahwa setiap pengemudi kendaraan bermotor wajib memiliki surat izin mengemudi sesuai dengan jenis kendaraanya. Kepolisian Republik Indonesia menetapkan bahwa batas minimal kepemilikan kartu SIM yaitu berusia 17 tahun dan jika usia masih di bawah 17 tahun artinya tidak bisa membuat SIM dan juga tidak di izinkan untuk mengemudikan kendaraan bermotor. Menurut Pasal 281 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan bahwa sanksi pidana yang dijatuhkan bagi pengguna sepeda motor yang tidak memiliki SIM adalah kurungan paling lama empat bulan atau denda paling banyak Rp1.000.000.

Namun dalam prakteknya khususnya apabila pelanggaran-pelanggaran tersebut dilakukan oleh anak-anak, maka kepolisian biasanya akan melakukan proses tilang ditempat dan akan membawa kendaraan roda dua anak tersebut ke kantor polisi untuk nantinya orang tua dari anak tersebut akan mengurus proses tilang karena secara hukum anak-anak masih dalam kuasa dan pengawasan orang tuanya. Tentunya treatment tersebut akan berbeda apabila ternyata anak-anak tersebut telah melakukan pelanggaran lalu lintas yang menyebabkan kecelakaan dan kematian, maka tetap proses penyelidikan akan berlanjut hingga ke pengadilan dan anak tersebut akan tetap dikenakan sanksi pidana.

Membangun Mental Anak agar Taat Hukum

Fenomena pelanggaran hukum yang dilakukan anak-anak dengan mengendarai kendaraan bermotor yang saat ini sudah menjadi viral di dunia maya akan sangat berdampak pada psikologis anak hingga nanti mereka menginjak dewasa. Anak-anak tersebut pada akhirnya akan terbiasa melakukannya pelanggaran hukum sehingga saat mereka dewasa pastinya akan juga menjadi manusia yang senang dan bangga melakukan pelanggaran hukum. Apabila hal tersebut dibiarkan, maka akan dipastikan generasi Indonesia selanjutnya akan diisi oleh generasi yang terbiasa melakukan pelanggaran hukum, mulai dari narkoba, korupsi hingga mungkin membunuh.

Tentunya kita tidak ingin agar generasi Indonesia selanjutnya diisi oleh generasi penerus yang arogan dan kerap bangga serta terbiasa melakukan pelanggaran-pelanggaran hukum. Ini adalah pekerjaan rumah terbesar Bangsa Indonesia saat ini. Bagaimana membangun mental anak-anak yang taat hukum yang dimulai dengan taat dan tertib berlalulintas. Dibutuhkan kerjasama antara orang tua, guru disekolah dan juga polisi untuk membangun budaya sadar taat hukum dan malu melanggar lalu lintas seperti halnya yang dilakukan oleh negara Jepang, Korea bahkan Malaysia yang telah mengenalkan etika berlalu lintas sehingga semua warga negara saat berkendara bukan hanya taat hukum tetapi juga memiliki etika dan sopan santun saat berkendara.

Kita berharap Kepolisian Republik Indonesia dapat bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan serta Pemerintah Daerah untuk kembali bekerjasama membangun mental budaya sadar hukum dan malu melanggar lalu lintas untuk anak-anak Indonesia, mulai dari taman kanak-kanak hingga dibangku SMA serta mengajarkan kurikulum etika berlalu lintas, taat hukum dan tertib berlalu lintas bagi anak anak Indonesia agar anak-anak Indonesia menjadi generasi yang bukan hanya taat hukum akan tetap juga memiliki etika dan sopan santun saat berlalu lintas serta malu apabila melanggar hukum.

Semoga hal tersebut segera dapat diwujudkan oleh Kepolisian Republik Indonesia dengan bantuan dari Pemerintah Daerah di seluruh Indonesia sehingga 5 s.d. 10 tahun ke depan kita akan melihat hasilnya, dimana anak-anak Indonesia yang telah diajarkan untuk taat hukum dan memiliki mental etika berlalu lintas akan menjadi generasi emas yang akan membangun Bangsa Indonesia di masa depan. Semoga dapat terwujud.

#sadarhukum #taathukum #etika-berlalulintas.

*) Hani Adhani
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum Internasional Islamic University Malaysia (IIUM). Wakil Koordinator Bidang Hukum Dan Advokasi PPI Malaysia. Pengurus PCIM Malaysia. Bekerja di Mahkamah Konstitusi.

Email : adhanihani@gmail.com

Mobile : +62 812831 50373

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920