logo ppid

Jangan lewatkan siaran interaktif PPI Dunia Menyongsong sinposium maritim Asinia besok 24 April 2016 pukul 12:20 wib bersma narasumber Asiania dan Pakar Maritim Indonesia

“Indonesia berada tepat ditengah-tengah proses perubahan strategis itu, baik secara geografis, geopolitik, maupun geo-ekonomi. Oleh karena itu kami menegaskan diri sebagai poros maritim dunia, sebagai kekuatan yang berada di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Posisi sebagai poros maritim dunia membuka peluang bagi Indonesia untuk membangun kerjasama regional dan internasional bagi kemakmuran rakyat,” – Joko Widodo (Presiden RI)

Hal ini lah yang menjadi landasan dan pondasi kuat bagi mahasiswa Indonesia di kawasan Asia dan Oceania untuk menyelenggarakan Simposium Asiania 2016 di Hongkong 8-10 April 2016 mendatang. Adapun Tema yang diangkat adalah “Membangun Poros Maritim Indonesia”.

“Harus kita sadari, lautlah yang mempersatukan nusantara Indonesia, sehingga wajar jika Jalesveva Jayamahe dikenal sebagai semboyan Angkatan Laut Indonesia,” Ungkap Gregorius Rionugroho, Koordinator PPI Asiania yang mengumpamakan pentingnya menjaga sumber daya laut Indonesia menjadi lebih baik.

Sementara itu, sejumlah delegasi PPI Negara yang memberikan dukungan penuh dalam agenda Simposium PPI Asia Oseania adalah PPI Thailand (Permitha), PPI Malaysia, PPI Australia, PPI Korea, PPI Jepang, PPI Singapura, PPI Filipina, PPI Srilanka, PPI New Zealand, PPI Taiwan, PPI Tiongkok, dan PPI India.

Indonesia tidak hanya daratan, tetapi juga lautan. Inilah yang menjadi simbol dari kalimat tanah air, sehingga kemaritiman yang berdaulat dalam wilayah dan pengelolaan sumber daya perlu diwujudkan.

Ungkapan tersebut disampaikan Bayu dan Candra, perwakilan dari Permitha dan PPI Jepang sebagai bentuk dukungan wujudnya Simposium PPI Asia Oseania dalam upaya kepedulian pelajar Indonesia terhadap persoalan kemaritiman Indonesia. Hal senada disampaikan PPI Korea, Taiwan, Hongkong dan Filipina, Indonesia perlu bersatu untuk dapat mengoptimalkan potensi laut yang ada sehingga menjadi armada niaga yang hebat. Sudah saatnya kemaritiman Indonesia bangkit dari tidurnya yang panjang.
Indonesia sebagai bangsa pelaut harus unggul dalam teknologi kelautan dan mampu mengelola seluruh potensi kelautan dan tentunya dengan sumberdaya manusia yang memadai, terutama armada militer untuk menjaga ketahanan wilayah laut Indonesia yang sangat luas.

“Simposium PPI Asia Oseania wujud dalam upaya kepedulian pelajar Indonesia terhadap kepulauan Indonesia yang luas. Bangsa yang kuat adalah yang jaya mengurus sumber daya lautnya. Karena laut jaya, Indonesia jaya,” ungkap Reza dan Clara sebagai perwakilan pelajar Indonesia di India dan New Zealand.
Fafan, Perwakilan PPI Sri Lanka mengungkapkan fakta bahwa 70% atau 2/3 wilayah Indonesia adalah laut, menjadikan Indonesia sebagai negara maritim terbesar sedunia. Seharusnya ini adalah potensi besar untuk menjadikan laut sebagai sumber kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Akita PPI Malaysia mengumpamakan menghitung kekayaan laut Indonesia bagaikan menghitung jumlah bintang di langit, tak terbatas. Kekayaan dan keberagaman hayati bukan untuk diekploitasi tapi juga untuk terus dijaga dan dikelola ditangan yang tepat.
“Jangan jadikan luasnya laut Indonesia sebagai celah untuk dicurangi tetapi untuk memperkokoh ketahanan dan kekuatan Indonesia di setiap jengkalnya,” jelas Akita.

Marcel PPI Singapura dan Mutia PPI Australia juga menjelaskan, meskipun negara Indonesia terpisah antara pulau-pulau, lautlah yang menyatukannya menjadi Negara Kesatuan. Majapahit di masa lalu juga berjaya dalam kekuatan kemaritimannya. Sudah sepantasnya bangsa Indonesia yang hidup di negara kepulauan menjadi ahli-ahli handal kelautan internasional.
“Masih banyak yang belum sadar akan potensi kelautan di negara kita. Wujudnya Simposium PPI Asia Oseania dengan tema Membangun Poros Maritim Indonesia adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan kita bangkit dan menguatkan potensi maritim Indonesia kedepannya,” ungkap Mutia.

Akhirnya, tuan rumah Simposium PPI Asia Oseania diwakili ketua PPI Tiongkok Grace Fiona Alethea berharap Simposium PPI Asia Oseania dapat menjadi salah satu langkah yang akan melahirkan sebuah kontribusi besar untuk pembangunan maritim Indonesia menjadi lebih baik kedepannya. Sudah saatnya kemaritiman Indonesia bangkit dari tidurnya yang panjang.

Menurut Professor Ari Purbayanto, pakar maritim dari IPB yang nantinya menjadi panel pada April mendatang turut mendukung terlaksananya Kegiatan Simposium Asiania. Ia menyatakan setidaknya pelajar dan mahasiswa sudah tumbuh kesadaran dan semangatnya untuk turut berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Prof Ari berharap agar rumusan hasil simposium april mendatang dapat disampaikan ke Presiden dan menteri terkait, untuk kemudian dijadikan acuan terhadap percepatan pembangunan poros maritim Indonesia kedepannya.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Asiania sendiri adalah bagian dari kawasan PPI Dunia yang terdiri dari 14 negara di kawasan Asia dan Oseania yang beranggotakan sebanyak 49.292 orang pelajar Indonesia dengan berbagai latar belakang ilmu yang berbeda. Pada Periode kepengurusan 2015/2016, Gregorius Rionugroho Harvianto, pelajar PhD dari Yeungnam University Korea ditunjuk sebagai koordinator kawasan Asiania dalam Simposium PPI Dunia di Singapura Agustus 2015 lalu

Liputan Taiwan, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Taiwan memastikan tidak ada korban pelajar Indonesia dari musibah gempa yang terjadi di Taiwan Selatan, Sabtu (6/2/2016). Hal tersebut disampaikan Pitut Pramuji Ketua PPI Taiwan.

Menurutnya, sebanyak 600 pelajar Indonesia yang terdata di Taiwan Selatan, hingga saat ini dalam keadaan selamat dan tidak ada yang terkena dampak gempa yang terjadi dua hari lalu. Pihak PPI Taiwan cabang Tainan juga telah berada dilokasi sebagai relawan untuk membantu korban gempa dua hari lalu.

“Sejauh ini pihak kami memastikan tidak ada pelajar Indonesia yang terkena dampak dari musibah gempa, pihak kami hingga saat ini terus berkordinasi dengan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei yang telah mendirikan posko darurat di Tainan untuk memberikan informasi korban WNI jika memang ditemukan,” Ungkap Pitut.

Dari informasi yang diperoleh melalui KDEI wilayah terparah terkena gempa bumi berkekuatan 6,4 SR adalah Taiwan Selatan. Dalam keterangan persnya yang dipantau PPI Taiwan KDEI mengimbau masyarakat Indonesia di Taiwan dalam kondisi darurat terkait bencana alam tersebut untuk menghubungi nomor +886979407214.

"Sejauh ini kami belum menemukan adanya Pelajar ataupun WNI yang menjadi korban gempa, baik meninggal dunia maupun luka," kata Isy Karim selaku juru bicara KDEI Taipei.

KDEI juga telah mendirikan posko gempa di Tainan yang dibantu PPI Taiwan cabang Tainan, pemerintah setempat dan organisasi kemasyarakatan Indonesia Taiwan. Dampak gempa dirasakan di seluruh wilayah Taiwan selatan, dengan intensitas kuat terjadi di Kabupaten Yunlin, Kota Kaohsiung, Kabupaten Pingtung, Kota Tainan dan Kabupaten/Kota Chiayi.

Getaran gempa bumi selanjutnya dirasakan sebanyak lebih dari 10 kali di Kota Tainan dengan kekuatan gempa bumi berkisar 3,7 dan 4,9 SR dengan kedalaman 21,5-33,1 kilometer yang tercatat hingga pukul 07.30.

Tainan merupakan bekas Ibu Kota Taiwan dengan struktur bangunan mayoritas berusia tua.Menurut keterangan yang disampaikan pihak otoritas setempat, hingga pkl 11.00, sekitar 10 apartmen mengalami kerusakan parah, termasuk di antaranya apartemen setinggi 16 lantai yang roboh.

Lebih dari 130 orang berhasil diselamatkan dari gedung apartemen yang runtuh. Sebanyak 55 orang dibawa ke rumah sakit di Tainan, dua orang meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju rumah sakit dan jumlah korban yang meninggal terhitung 34 orang. Hingga saat ini tim relawan gabungan masih berada dilokasi melakukan evakuasi di sejumlah gedung yang roboh akibat peristiwa gempa tersebut.(Dw/Red)

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Selandia Baru, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Wellington pada tanggal 6 Desember 2015 telah menyelenggarakan penggalangan dana (fund raising) dengan tema “We Share, We Care 2015, #Indonesia Melawan Asap”. Bertempat di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Wellington, penyelenggaraan penggalangan dana tersebut berlangsung cukup meriah dan mendapat dukungan dari masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di Wellington.

Rangkaian kegiatan penggalangan dana ini terdiri dari sambutan Bapak Dubes RI untuk Selandia Baru, theatrical performance dengan tema “Aku dan Asap”, flashmob dance dan pertunjukan musik. Selain itu juga food bazar yang menampilkan beberapa makanan khas Indonesia.

Bencana kabut asap sebagai akibat dari kebakaran hutan yang terjadi di beberapa provinsi di Indonesia pada tahun 2015 telah menarik perhatian banyak pihak, tidak terkecuali para pelajar Indonesia yang ada di Selandia Baru. Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, PPI Wellington menyelenggarakan penggalangan dana. “Kita merasa bagian dari Indonesia dan kita mempunyai tanggung jawab untuk membantu saudara-saudara kita. Oleh karena itu, kita menyelengarakan acara ini. Nanti seluruh uangnya ini akan kita sumbangkan ke PMI di Jakarta kemudian akan disalurkan untuk korban kebakaran hutan di Kalimantan dan Riau”, kata Ketua PPI Wellington, AKP Malvino Sitohang.

SL.Asap 2

Sedangkan menurut Ketua panitia penyelenggara acara ini, Putri Rukmanadi menyatakan sangat bersyukur bahwa penggalangan dana ini berlangsung cukup meriah dengan dukungan penuh dari masyarakat Indonesia di Wellington dan sekitarnya. Tantangan terbesar yang dihadapi dalam mempersiapkan acara ini adalah waktu persiapan yang cukup singkat. “Kami mempersiapkannya hanya sebentar, tidak memakan waktu yang lama”, ungkap Putri.

Ibu Didi, salah satu anggota Dharma Wanita KBRI Wellington mengungkapkan bahwa acara ini merupakan salah satu wujud kepedulian warga Indonesia yang ada di luar negeri untuk membantu korban kebakaran hutan di Indonesia. Ibu Didi juga menyampaikan apresiasi kepada PPI Wellington yang telah menginisiasi acara ini. Sebagai bentuk kepedulian bersama, ibu-ibu Dharma Wanita KBRI Wellington dan masyarakat Indonesia membuka food stall yang menyajikan makanan tradisional Indonesia seperti masakan padang. PPI Wellington juga turut berpartisipasi dengan menyajikan aneka makanan khas Indonesia seperti mie bakso, mie ayam, onde-onde, cup cake dan sayuran segar. Hasil penjualan makanan tersebut akan disumbangkan kepada korban kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan.

 

398dede6-50a8-4d52-8f6a-4df6e628dc6b

Dubes RI untuk Selandia Baru, Bapak Jose Antonio Tavares

Suasana penggalangan dana

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada kesempatan tersebut, hadir pula di tengah-tengah masyarakat Indonesia, Dubes RI untuk Selandia Baru, Bapak Jose Antonio Tavares. Menurut Bapak Dubes, kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia bukan yang pertama kalinya terjadi. Beberapa tahun yang lalu juga telah terjadi kebakaran hutan. “Pertanyaannya adalah kenapa ini terjadi? Apakah terbakar sendiri? Terbakar sendiri tentu saja kewajiban kita adalah memadamkannya. Tetapi apabila sengaja dibakar, maka kewajiban kita adalah educate”, ungkap Bapak Dubes. Oleh karena itu, edukasi akan pentingnya hutan perlu dilakukan. Hal ini karena hutan merupakan bagian dari lingkungan hidup yang crucial untuk dilestarikan.

Bapak Dubes juga menyampaikan bahwa apabila melihat dari pengalaman pengelolaan hutan di Selandia Baru, negara ini juga pernah mengalami hal yang sama beberapa ratus tahun yang lalu. “Hutan di Selandia Baru hanya tinggal 20%, tapi mereka tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama”, ungkap Bapak Dubes. Oleh karena itu Selandia Baru terus berupaya untuk merawat hutannya. Terkait dengan hal tersebut, sebagaimana telah disampaikan sebelumnya bahwa edukasi kepada semua pihak terkait pengelolaan hutan penting untuk dilakukan. (Red. Agung/Jatnika/Kodrad/Shaf Rijal)

Liputan acara bisa dilihat di sini.

 

Thailand, Tahun 2015 akan menjadi tahun bersejarah bagi seluruh mahasiswa dan masyarakat indonesia yang menuntut ilmu di negeri gajah putih. Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Thailand(PERMITHA) akhirnya berhasil menerbitkan buku "Merah Putih di Negeri Gajah Putih" yang berisikan kisah-kisah inspiratif pemuda Indonesia yang pernah berjuang di Thailand.

2015-12-04_0-08-54

Buku ini merupkana kumpulan kisah-kisah inpsiratif selama satu dekade terakhir dari mahasiswa, alumni, staff, peneliti hingga dosen asal Indonesia yang pernah berjuang di Thailand. Sejumlah kisah menarik yang menceritakan pengalaman serata kesan-kesan mereka dalam menjalani kehidupan dan menempuh pendidikan di Thailand di tulis lengkap dibuku ini.

Buku ini juga memberikan banyak inspirasi, pelajaran dan hikmah bagi siapa saja yang menimba ilmu di Thailand. Kisah inspiratif ini akan menjadi daya tarik tersendiri mengenai bagaimana suasana kehidupan di Thailand. Dan pastinya akan dapat menjadi pengobat rindu bagi mereka yang pernah berkunjung ke negeri gajah putih ini.

Saat peluncuran buku ini pada oktober lalu di Thailand, sejumlah penulis diundang langsung untuk dapat berbagi pengalaman selama hidup di Thailand, diantara penulis yang hadir adalah Hamam Supriyadi yang merupakan staf pengajar di Research Institue of Language and Culture of Asia, Mahidol University Thailand.

Dalam tulisannya Hamam bercerita tentang budaya dan kehidupan masyarakat Thailand dan bagaimana penulis menyesuaikan diri selama hidup di Thailand. "Culture Thailand sangat berbeda dengan Indonesia, tetapi ini menjadi sebuah tantangan bagi saya pribadi selama hidup di Thailand." Ungkap Hamam.

Penulis lainnya yang juga menuliskan kisahnya adalaha Sopian Hadi, yang merupakan salah seorang pelajar Ph.D candidate dari Chulalongkorn University Thailand, Ia bercerita tentang konflik yang pernah dialaminya dengan staf pengajar saat berjuang menyelesaikan kuliahnya.

Penerbitan buku ini juga dibarengi dengan launching Mars PERMITHA yang dinyanyikan bersama Duta Besar RI untuk Kerajaan Thailand, Lutfi Rauf, Atase pendidikan KBRI Bangkok Dr. Yunardi, pengurus PERMITHA beserata seluruh tamu undangan. Mars ini, diciptakan oleh salah satu penulis dalam buku Merah Putih di Negeri Gajah Putih. Dalam acara ini, lebih dari 100 eksamplar buku dibagikan secara gratis kepada tamu undangan. (Akrim)


2015-12-04_0-09-13

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920