Categories
Asia dan Oseania Eropa dan Amerika PPI Dunia PPI Negara Pusat Kajian & Gerakan Timur Tengah dan Afrika

AYL Draft Resolution 2020

Ambassadors and Young Leaders Week (AYL Week) merupakan acara yang diinisiasi oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) yang merupakan wadah terbesar dalam menghimpun para pelajar Indonesia yang menempuh studi di luar negeri. Terbagi dalam 3 kawasan yang terdiri dari 57 PPI Negara, PPI Dunia mempunyai orientasi besar ke depan untuk melakukan internasionalisasi gerakan guna memberikan kontribusi untuk bangsa dan negara. Utamanya dalam menyambut bonus demografi untuk menciptakan sumber daya manusia unggul di masa mendatang. Untuk itu, AYL Week menjadi karya nyata PPI Dunia untuk menyambut potensi tersebut. AYL Week merupakan program rintisan pertama pada periode 2019/2020 untuk membuka visibilitas generasi milenial guna membuat sketsa masa depan Indonesia. Dengan mengusung tema “Breakthrough Against COVID-19 & Preparing Indonesian Global Emerging Leaders”, AYL Week pada tahun pertama ini berfokus melahirkan gagasan dan terobosan bernas sebagai kebangkitan nasional pasca pandemi COVID-19.

Sebagai rangkuman dari hasil webinar, kami telah membuat AYL Draft Resolution yang terdiri dari berbagai intisari dan hal penting yang dikemukakan oleh narasumber. AYL Draft Resolution disusun oleh Putri Ananda (PPI Jepang), Subhan Setowara (PPI Malaysia), dan Muhammad Kamal Ihsan (PPMI Mesir) yang diulas oleh Saul Takahashi (former Deputy Head of Office at Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights (UNHCR)) dan Jonathan Mills (Associate Professor at Osaka University of Economics and Law).

AYL-Draft-Resolution-23-July-2020

Categories
Asia dan Oseania Berita Eropa dan Amerika PPI Dunia PPI Dunia Publisher Timur Tengah dan Afrika

Lewat Sarasehan Nasional PPI Dunia 2020: Millenial Connect, PPI Dunia Publisher Terbitkan Buku Perdana

Dewasa ini, menuntut ilmu di luar negeri merupakan impian hampir seluruh anak muda Indonesia. Dari mulai para pelajar di kota-kota besar, hingga para dream catcher dari berbagai pelosok negeri, yang bahkan kota kelahirannya pun tidak terjamah oleh pemberitaan di media. Ada yang mengincar studi jenjang S1, Master, hingga Doctoral, baik melalui beasiswa maupun biaya mandiri. Perjuangan yang diwujudkan dengan berbagai cara untuk bertahan hidup di negeri orang pun tak luput dari sebuah metode untuk berdiplomasi ala-ala para pendahulu. Selaras dengan semangat dari kisah-kisah inspiratif yang sering kita dengar tentang The Founding Father of Indonesia yang pernah mengenyam pendidikan di luar negeri. Mereka dengan gigih berusaha mengabarkan informasi-informasi penting dari luar negeri demi memantik semangat untuk mewujudkan Indonesia yang merdeka di kala itu.
Beranjak dari spirit yang sama, buku ini hadir menjadi penyambung semangat bagi para generasi muda Indonesia. Demi mengajak para pemegang tampuk pimpinan indonesia di masa mendatang, untuk senantiasa berpikir dan ber-Kaizen, dalam menggali gagasan-gagasan potensial yang didapatkan oleh para pelajar Indonesia selama menjalani studi mereka di luar negeri. Dari sudut-sudut belahan bumi Amerika-Eropa, Asia-Oseania, hingga Timur Tengah dan Afrika, kisah-kisah diplomasi ala pelajar Indonesia masa kini dihimpun oleh PPI Dunia melalui buku yang berjudul Diplomasi Mahasiswa indonesia di Luar Negeri: Menggali Gagasan Potensial untuk Kemajuan Indonesia.
Buku perdana yang diterbitkan oleh PPI Dunia Publisher ini sekaligus menjadi warna tersendiri dalam perhelatan agenda Sarasehan Nasional PPI Dunia 2020: Millenial Connect yang diadakan awal tahun 2020.

Cover buku Diplomasi Mahasiswa indonesia di Luar Negeri: Menggali Gagasan Potensial untuk Kemajuan Indonesia terbitan PPI Dunia Publisher

Detail buku,
Judul: Diplomasi Mahasiswa indonesia di Luar Negeri: Menggali Gagasan Potensial untuk Kemajuan Indonesia
Tahun: 2020
No. ISBN: 978-602-5735-65-3
Jumlah halaman: 200 (0 color + 200 B/W)
Penulis: Tim Penulis PPI Dunia
Editor: Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha
Desain sampul: Sascha Putri Gumilar
Penerbit: PPI Dunia Publisher (melalui kolaborasi dengan salah satu percetakan buku indie)

Salam Perhimpunan!

PPI Dunia 2019/2020
Inovatif – Progresif – Aspiratif

Categories
Asia dan Oseania PPI Negara

Intip Biografi Singkat BJ Habibie

Latar Belakang

  • Nama Lengkap : Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie
  • Tempat Tanggal Lahir : Pare-Pare, 25 Juni 1936
  • Meninggal : 11 September 2019
  • Sebab : Gagal Jantung

Pendidikan

  • SD: SD Pare-Pare
  • SMP: SMP 5 Bandung
  • SMA: Kristen Dago
  • S1: Institut Teknologi Bandung, WTH Aachen (Diplom Ingenieur, Ing.)
  • S3 : WTH Aachen (Doktor Ingenieur, Ing.)

Pencapaian di Kancah Internasional

  1. Anggota Kehormatan Persatuan Insinyur Malaysia (IEM)
  2. Anggota Kehormatan Japanese Academy of Engineering
  3. Anggota Kehormatan The Fellowship of engineering of United Kingdom, London
  4. Anggota Kehormatan The National Academy of Engineering, AS
  5. Anggota Kehormatan Academie Nationale de l’Air et de l’Espace, Perancis
  6. Anggota Kehormatan The Royal Aeronautical Society, Inggris
  7. Anggota Kehormatan The Royal Swedish Academy of engineering Science, Swedia
  8. Anggota Kehormatan Gesselschaft Fuer Luft und Raumfarht (Lembaga Penerbangan & Ruang Angkasa) Jerman
  9. Anggota Kehormatan American Institute of Aeronautics and Astronautics, AS
  10. Anggota Kehormatan Masyarakat Aeronautika Kerajaan Inggris (1983)
  11. Anggota Kehormatan Lembaga Penerbangan dan Antariksa, Jerman (1983)
  12. Anggota Kehormatan Akademi Aeronautika Perancis (1985)
  13. Edward Warner Award (Setara dengan Nobel) 
  14. Award von Karman (Setara Dengan Nobel)

Pendidikan B. J. Habibie

Di Indonesia, siapa yang tidak kenal dengan “Mr. Crack” B. J. Habibie? Pria yang memiliki nama lengkap Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie, dilahirkan 25 Juni 1936 di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Beliau merupakan anak keempat dari delapan bersaudara. Pada tanggal 12 Mei 1962, Beliau menikah dengan Hasri Ainun Habibie dan memiliki dua orang anak, yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Gambar 1. Habibie dengan keluarga saat muda (dua dari kanan)

Habibie memiliki kemauan belajar yang sangat besar dan sudah terlihat ketika ia masih muda. Ketika SMA, prestasi Habibie sudah mulai menonjol, terutama di bidang matematika dan sains. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA di Kristen Dago, Beliau melanjutkan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan jurusan Teknik Mesin. Namun, Beliau tidak dapat menyelesaikannya karena mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di Jerman dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Habibie memilih untuk berkuliah di jurusan Teknik Penerbangan dengan spesialisasi Konstruksi Pesawat Terbang di Rhein Westfalen Aachen Technisiche Hochschule (RWTH). Sesampainya di Jerman, Beliau bertekad untuk bersungguh-sungguh menjalani kuliah dan bertekad menggapai kesuksesan karena mengingat usaha dan jerih payah ibunya dalam membiayai kuliah serta kehidupan sehari-hari. Pendidikan yang ditempuh olehnya bukanlah sebuah pendidikan kursus kilat, tetapi sekolah bertahun-tahun dengan praktik sambil bekerja.

Gambar 2. Habibie Muda Saat di Jerman

Perjuangan BJ Habibie untuk mencapai cita-cita dilaluinya dengan penuh rintangan dan kerja keras. Masa libur bukanlah sebagai liburan bagi Beliau, justru kesempatan emas yang harus diisi dengan ujian dan mencari uang untuk membeli buku. Sehabis masa libur, semua kegiatan yang tidak berkaitan dengan belajar Beliau kesampingkan.

Dalam biografi BJ Habibie, diketahui Beliau mendapat gelar Diploma Ing, dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 dengan predikat Cumlaude (Sempurna) dan nilai rata-rata 9,5. Setelah itu Beliau kemudian melanjutkan studinya untuk gelar Doktor di Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachen.

Habibie menemukan rumus yang diberi nama “Faktor Habibie”, yang mana rumus ini bisa menghitung keretakan atau krack propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang sehingga Beliau di juluki sebagai “Mr. Crack“. Rumus Faktor Habibie merupakan salah satu prestasi BJ Habibie yang paling terkenal. Kejeniusan dan prestasi inilah yang membuat Habibie diakui lembaga internasional.

Gambar 3. Habibie Saat Menempuh Pendidikan di Jerman

Beberapa Penghargaan Habibie diantararanya adalah Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt (Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar) Jerman, The Royal Aeronautical Society London (Inggris), The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences (Swedia), The Academie Nationale de l’Air et de l’Espace (Prancis) dan The US Academy of Engineering (Amerika Serikat). Sementara itu penghargaan bergengsi yang pernah diraih Habibie di antaranya, Edward Warner Award dan Award von Karman yang hampir setara dengan Hadiah Nobel. Di dalam negeri, Habibie mendapat penghargaan tertinggi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ganesha Praja Manggala Bhakti Kencana.

Penulis Samuel Gilbert (PPI Tiongkok), Kepala Pusat Informasi Pelajar/Kemahasiswaan, Pusat Data dan Informasi
Editor Zhafira Aqyla S. S., staf bidang Mass Media, Pusat Komunikasi, Pusat Media dan Komunikasi PPI Dunia 2019/2020

Daftar Pustaka:

Sumber Gambar:

Google, diakses 17 December 2019

Categories
Asia dan Oseania Berita PPI Dunia

5000 Mahasiswa Indonesia Terjerat Praktek Kuliah Kerja tidak Proporsional di Dua Negara Asia Timur

TIANJIN (18/05) – PPI Kawasan Asia-Oseania melalui Satuan Tugas (Satgas) Anti Kerja Paksa masih menemukan adanya praktik Kuliah Kerja Tidak Proporsional di dua negara Asia Timur dengan total mahasiswa yang menjalankan praktik kuliah ini sebanyak kurang lebih 5000 mahasiswa di Taiwan dan Tiongkok.

Satgas yang dibentuk oleh PPI Kawasan Asia-Oseania beranggotakan perwakilan mahasiswa Indonesia di Tiongkok, Taiwan, Korea Selatan dan Jepang. Badan ini telah mencari informasi dan melakukan verifikasi terhadap para mahasiswa yang menjalani program ini selama empat bulan, semenjak Februari 2019. Satgas menemukan adanya sistem yang terorganisir dalam proses perekrutan calon mahasiswa di Indonesia hingga penempatan di negara tujuan dimana mahasiswa Indonesia diperlakukan secara semena-mena.

“Satgas telah menemukan praktek ini di Taiwan serta Tiongkok, dan temuan ini cukup mengejutkan kami, karena disaat antuasisme kuliah ke luar negeri begitu tinggi, ada pihak yang tidak bertanggung jawab dan menyesatkan calon mahasiswa. Kami menghimbau kepada para mahasiswa Indonesia untuk lebih berhati-hati dalam menenetukan program kuliah ke luar negeri.” Ujar Nikko Ali Akbar, anggota Satgas Anti Kerja Paksa dari Tiongkok, dalam kegiatan Simposium PPI Kawasan Asia-Oseania 2019 di Kota Tianjin, RRT.

Kasus Kuliah Kerja di China

Satgas Anti Kerja Paksa menemukan bahwa praktek ini disalurkan oleh sebuah agen di Surabaya yang menargetkan siswa-siswi lulusan SMA. Dengan iming-iming kuliah sambil kerja, banyak siswa-siswi yang terjerat dengan tawaran ini.

Setelah agen membantu pengurusan seluruh dokumen, para korban terbang menuju salah satu kota di Tiongkok bagian Selatan dengan status visa “study working”. Setibanya disana, ada pihak yang menjemput dan membawa para korban ke sebuah kampus, namun para calon diminta untuk menyerahkan sejumlah uang dengan alasan untuk biaya visa dan akomodasi. Setelah itu mereka dibawa ke sebuah pabrik.

Selama kerja kuliah, para korban diminta untuk bekerja selama lima hari dan kuliah selama dua hari. Diadakan absensi setiap harinya dan pemotongan gaji bila tidak hadir dan diwajibkan untuk kerja lembur hingga pukul 02.00 dini hari.

Gaji setiap bulannya berjumlah RMB 500 – 1000 (kurang lebih Rp 1000.000 – 2000.000), dipotong uang kuliah RMB 700 (Rp 1.400.000). Mereka hidup di pabrik secara tidak layak dan medapat sejumlah perlakuan kasar dalam keadaan paspor ditahan pihak pabrik.

Kuliah Kerja di Taiwan Pasca Viral

Sebelumnya, terjadi kasus viral serupa yang terjadi di Taiwan yang berakhir gantung karena hingga kini belum ada langkah konkrit yang diambil oleh pihak pemerintah Indonesia.

PPI Kawasan Asia-Oseania  mendesak Pemerintah Indonesia untuk melakukan kunjungan langsung ke universitas dan mahasiswa yang saat ini sedang menjalankan program ini, untuk melihat keadaan secara langsung. Hal ini penting untuk mengetahui legalitas universitas dan program, karena menurut temuan tim Satgas, ijazah dari universitas ini tidak diakui keabsahannya.

Lebih lanjut temuan tim Satgas melihat sistem yang terorganisir dalam proses perekrutan calon mahasiswa. Fakta yang ditemukan, Agen Pendidikan sangat aktif untuk mempromosikan kuliah di luar negeri dengan iming-iming dapat memberikan beasiswa kepada calon mahasiswa ataupun tawaran kerja dan kuliah dengan beban kuliah ringan sehingga bisa sekaligus menabung.

PPI Kawasan Asia-Oseania melihat program ini bisa saling menguntungkan bagi pihak mahasiswa Indonesia yang ingin kuliah ke luar negeri dan negara penerima.

“Merasakan tingginya antusiasme mahasiswa Indonesia untuk kuliah di luar negeri tanpa membebani orang tua, sangat disayangkan bisa terjadi kasus seperti ini, kami mendesak Pemerintah Indonesia untuk turun tangan langsung. Dan mendesak Kemenristek Dikti untuk memverifikasi agen-agen pendidikan yang memberangkatan mahasiswa ke luar neger, khususnya ke daerah Asia Timur.” Tutup Galant Al Barok selaku Koordinator PPI Kawasan Asia-Oseania.

Tentang Satgas Anti Kerja Paksa PPI Kawasan Asia-Oseania

Satuan Tugas Anti Kerja Paksa merupakan inisiatif dari organisasi PPI Kawasan Asia-Oseania yang terdiri dari  PPI negara Australia, Brunei Darussalam, Filipina, India, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Selandia Baru, Singapura, Taiwan, Thailand, Sri Lanka, Bangladesh.

Satgas ini beranggotakan mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di Tiongkok, Taiwan, Korea Selatan dan Jepang dengan tugas utama mencari dan memverifikasi serta mendata mahasiswa Indonesia yang sedang mengikuti program Kuliah Kerja di negara Asia Timur.

Saat ini, Satgas masih terus bekerja mendata sembari menyiapkan rekomendasi bagi Pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan permasalahan ini.

Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi

Galant Al Barok (WA: +86 188 1322 7264)

Koordinator PPI Kawasan Asia-Oseania

PRESS-RELEASE-SATGAS-ANTI-KERJA-PAKSA-PPI-ASIA-OSEANIA

*image source: https://eu.clipdealer.com/vector/media/A:96197346?

Categories
Asia dan Oseania Pojok Opini PPI Negara

Rekomendasi Kebijakan Isu Pangan Dalam Pemenuhan Gizi di Daerah 3T

Ketahanan Pangan
Sumber: http://igj.or.id/wp-content/uploads/2015/10/pangan.jpg

Keterbatasan akses terhadap kebutuhan pangan sehari-hari berakibat negatif terhadap pemenuhan gizi di Indonesia. Sebagai contoh, data dari Departemen Kesehatan mengungkapkan, hanya terdapat tiga dari 34 provinsi di Indonesia yang menunjukkan persentase balita dengan gizi buruk berada di bawah 10%. Data yang sama menunjukkan terdapat 16 provinsi di Indonesia dengan persentase gizi buruk di atas rata-rata nasional.

Permasalahan terkait kelangkaan pangan tentu tidak selalu identik dengan adanya keterbatasan dari segi sumber daya alam saja, namun juga dapat dipengaruhi faktor-faktor sebagai berikut:

  • Fenomena perubahan iklim;
  • Terbatasnya adaptasi teknologi pangan dan teknologi informasi di daerah;
  • Aksesibilitas masyarakat dan sistem logistik akan pangan yang masih sangat terbatas;
  • Tingkat pengetahuan masyarakat terhadap teknologi pangan masih tergolong rendah;
  • Dominasi petani, peternak, dan nelayan dari golongan tua masih lebih tinggi dibanding generasi muda;
  • Tingkat sarana dan prasarana yang tidak merata dan kurang memadai di berbagai daerah; dan
  • Belum adanya integrasi yang positif antara tingkat modernisasi pertanian dan teknologi pangan dengan potensi kearifan lokal.

Sebagai contoh, di daerah Samba (perbatasan Indonesia dan Malaysia), Pulau Jawa, Merauke, Papua, dan wilayah timur lainnya yang memiliki potensi sumber daya alam khususnya komoditas pangan sangat melimpah dan potensi kearifan lokal. Namun, adanya keterbatasan modernisasi teknologi pangan, seperti tingkat teknologi diversifikasi pangan yang masih rendah menyebabkan pangan cepat membusuk dan tidak memiliki nilai tambah. Teknologi penggudangan yang kurang memadai dan efektif kemudian menyebabkan komoditas pertanian cepat rusak. Lebih jauh lagi, adanya permasalahan pada sistem transportasi dan distribusi yang kurang efisien mengakibatkan kelangkaan akan sumber pangan masih menjadi permasalahan yang serius.

Permasalahan ini diperkeruh lagi dengan kondisi tingkat pembangunan infrastruktur daerah, jaringan informasi dan komunikasi, juga pengenalan teknologi di berbagai daerah yang sangat terbatas, tidak merata dan kurang memadai sehingga menyebabkan berbagai aktivitas distribusi, akses informasi pasar, dan efisiensi pengolahan dan pengiriman produk ataupun komoditas menjadi suatu permasalahan yang masih sering ditemui. Isu akan teknologi pangan dan pemenuhan gizi di Indonesia memang masih menjadi suatu problematika yang strategis di perbatasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Hal ini mencerminkan bahwa tingkat sumber daya alam yang melimpah bukanlah jaminan bahwa kekurangan pangan dan gizi, bahkan di perkotaan, sekalipun dapat diatasi dengan mudah. Pembuat kebijakan membutuhkan strategi pembaharuan pengelolaan pangan baik dari segi peningkatan kualitas teknologi pangan, perbaikan infrastruktur yang masif, pengenalan teknologi yang efektif, serta adaptasi dan modernisasi teknologi yang bersimbiosis dengan adanya potensi lokal. Oleh karena itu, sebagai salah satu upaya dalam memerangi isu pangan dan gizi ini, tentu kolaborasi dan sinergi berbagai stakeholders di Indonesia seperti dari kaum intelektual (akademisi dan peneliti) dalam memberikan penyuluhan, pendampingan masyarakat, dan kontribusi dalam bidang penelitian sangat dibutuhkan.

Berdasarkan hal tersebut, PPI Jepang, dalam rangkaian kegiatan Annual Scientific Symposium of Indonesian Collegian in Japan 2nd (ASSIGN 2), mengadakan diskusi online melalui channel Youtube PPI Jepang serta Radio PPI Jepang dengan tema “Teknologi Pangan dan Pemenuhan Gizi di Daerah 3T”. Diskusi ini dipimpin oleh bapak Subejo, Ph.D., Alumni University of Tokyo, yang saat ini menjabat sebagai dosen di Universitas Gadjah Mada, dan dimoderatori oleh Ilham Maulidin, mahasiswa pertukaran di Tokyo University of Agriculture and Technology.

Diskusi yang diadakan pada tanggal 28 Februari 2019 yang bertepatan dengan Hari Gizi Nasional ini melahirkan beberapa strategi adaptasi dan solusi yang dapat menjadi rekomendasi perbaikan bagi pemerintah baik di pusat maupun daerah khususnya dalam upaya memerangi kekurangan pangan dan gizi di daerah 3T. Strategi adaptasi dan solusi ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Sumber daya alam yang melimpah di suatu daerah adalah potensi yang luar biasa untuk dioptimalkan. Guna memastikan adanya pemerataan ketersediaan pangan di masing-masing wilayah bahkan menciptakan lumbung pangan yang efektif di suatu daerah, maka upaya perbaikan dari aspek teknologi penyimpanan, pemrosesan, dan pendistribusian perlu untuk dilakukan sebagai langkah awal dalam memberikan peluang adaptasi teknologi diversifikasi produk di suatu wilayah berbasiskan kearifan lokal bisa tercapai. Tentu, dengan upaya-upaya strategis yang sistematis mulai dari pengkajianpotensi dan problem wilayah, perencanaan kebijakan, sampai dengan metode introduksi adaptasi teknologi yang sederhana, serta dengan menggerakan para pemangku kepentingan sampai tingkat kepala desa untuk bersama saling bahu-membahu dalam mewujudkan program daulat pangan di daerah.

2. Mendorong peran multi-stakeholder dalam pemenuhan gizi pada daerah 3T. Pemerintah sebagai core stakeholder dapat memberikan arahan dari pemerintah pusat kemudian dilanjutkan pemerintah daerah untuk mendukung program ketahanan pangan. Contoh salah satu program yang feasible dalam peningkatan ketersediaan pangan di desa adalah program dana desa yang di salah satu regulasinya dapat menunjang aktivitas masyarakat seperti mendukung pembelian benih, penyimpanan, dll, sehingga patut untuk dioptimalkan. Tentu saja dengan kembali mengevaluasi dan meninjau kembali pemberian alokasi pendanaan untuk sektor pertanian yang masih cukup terbatas diharapkan mampu mendorong akselerasi pengelolaan pangan untuk pemenuhan gizi, khususnya daerah 3T.

3. Program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan dapat digunakan untuk membangun sistem pertanian dan pemberdayaan petani sehingga mampu menjadi daya tarik dan motivasi untuk semakin meningkatkan kreativitas dan menjalin kolaborasi yang baik antara pihak swasta dan petani. Poin yang harus diperhatikan dalam pengadaan CSR adalah program yang berkelanjutan. Hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab dari perusahaan terkait saja, namun melibatkan juga pemerintah daerah sehingga program CSR dapat berjalan lebih efektif dan akuntabel.

4. Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) alias Non-Government Organization (NGO) yang bergerak dibidang pertanian, peternakan, maupun perikanan juga dapat membantu pemerintah untuk membantu pendampingan dalam pembangunan teknologi pertanian, pemasaran, budidaya pertanian, dan sejenisnya. Ilmu-ilmu yang mereka miliki dapat menjadikan mereka perpanjangan tangan pemerintahan untuk membantu memajukan sektor-sektor penting, sehingga terjadi percepatan pembangunan pada daerah-daerah tertinggal. 

5. Sistem perhutanan sosial yang dikelola dengan baik oleh pemangku jabatan terkait juga dapat menjadi sumber pangan untuk masyarakat di sekitar hutan sosial tersebut. Melalui budidaya tanaman pangan di sekitar hutan sosial serta pengawasan yang baik dari dinas pemerintahan dalam berjalannya proses penanaman dan penjagaan hutan sosial, dapat diciptakan ketersediaan pangan yang mencukupi untuk kondisi masyarakat sekitar.

6.Teknologi Informasi juga sangat dibutuhkan sebagai infrastruktur utama untuk menghubungkan desa-desa tersebut dan menyampaikan potensinya. Melalui teknologi informasi, sistem pemasaran bisa lebih maju sehingga pemerintah daerah dapat saling bertukar akses dan informasi untuk pemenuhan kebutuhan logistik maupun pemasaran tanpa harus hanya bergantung pada pemerintah pusat. Teknologi informasi yang memadai dapat memacu perkembangan teknologi sehingga permasalahan dalam bidang pertanian lainnya seperti kekurangan tenaga kerja dapat teratasi dengan adanya sistem otomasi pertanian.

7. Simbiosis mutualisme antara modernisasi teknologi pangan dengan potensi kearifan lokal perlu dilakukan untuk semakin meningkatkan efisiensi dan optimalisasi pengelolaan produk pangan. Kearifan lokal suatu daerah juga dapat diaplikasikan pada daerah lain, sehingga pertukaran pengetahuan ini dapat menjadikan semua daerah di Indonesia menjadi sama-sama maju.

Secara bertahap, upaya-upaya tersebut perlu untuk menjadi kajian bersama dalam rangka mencari solusi terbaik atas setiap isu strategis yang saat ini dihadapi terkait pangan dan pemenuhan gizi di daerah. Oleh karena itu, kami berharap akan adanya kolaborasi dan sinergi berbagai stakeholders dalam memerangi isu pangan dan gizi karena hal tersebut adalah kunci dari keberhasilan rencana program pemerintah ke depan yang akan dijalankan untuk memperoleh kedaulatan pangan bagi bangsa Indonesia.

Salam,
Biro Kajian dan Aksi Strategis
Bidang Kajian dan Gerakan
Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang

Categories
Asia dan Oseania PPI Negara

Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok meraih Rekor MURI Postcard 1001 Senyum untuk IndonesiaKu

Fadlan Muzakki – Ketua PPI Tiongkok, menerima piagam Rekor MURI

Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT) Departemen Sosial dan Pengabdian Masyarakat kembali memberikan kontribusi kepada masyarakat Indonesia dengan suksesnya kegiatan bertajuk postcard (kartu pos) 1001 senyum buat para pelajar Sekolah Dasar (SD) di beberapa pelosok tanah air.

Suksesnya kegiatan ini ditandai dengan tanggapan positif dari para pelajar SD yang mendapatkan kartu pos, dan beberapa SD diantaranya berkeinginan untuk mengirim pesan balasan. Bahkan kegiatan ini mendapat apresiasi dari Rekor MURIdari Museum MURI dengan kategori “Pengiriman Kartu Post Terbanyak dari Alamat Luar Negeri ke Sekolah di Indonesia”. Dan piagam ini diterima langsung oleh Ketua Umum PPI Tiongkok, Fadlan Muzakki pada tanggal 4 Februari 2019 di Kantor MURI, Jakarta. Saudara Fadlan langsung membawa kabar gembira ini ke Tiongkok untuk menjadi hadiah besar dari hasil kerja keras para pelajar dari tingkat pusat, cabang, hingga ranting.

PostCard 1001 Senyum” merupakan kegiatan dengan membagikan kartu pos yang ditulis oleh berbagai kalangan pelajar bahkan tenaga kerja di Tiongkok dan Indonesia untuk memotivasi pentingnya pendidikan serta semangat dalam bercita-cita kepada pelajar Sekolah Dasar di 23 sekolah dan 1 lokasi pedalaman Indonesia dari Sumatera hingga Papua. Melalui proses yang panjang hingga mengumpulkan kartu pos dari berbagai wilayah di Tiongkok. Setelah dikompilasi, kemudian surat ini dikirim ke Indonesia dan mendapat bantuan langsung dari para Pengajar Muda Indonesia, salah satunya Valentin Danuwirya yang turut membantu menampung hingga mendistribusikan kartu pos dari awal kegiatan hingga pengambilan dokumentasi di lokasi tujuan. Sejumlah 19 Pengajar Muda Indonesia turut membantu di beberapa lokasi seperti Pegunungan Bintang Papua, Natuna, Bima, Jambi, Lombok, dan Makassar.

Keikutsertaan dari berbagai pihak hingga melibatkan 19 Cabang dan 7 Ranting PPIT, beberapa organisasi keagamaan seperti Organisasi di Xiamen OMK (Orang Muda Katolik Xiamen), KBMK (Keluarga Buddhis Manggala), Garuda Choir Club, Garuda 印尼师资班, KeluargaOBM Guangzhou Istaqwa Guangzhou, serta pelajar Indonesia yang juga tergabung dalam PPIT memberi respon aktif untuk turut menuliskan kartu pos ini. Dan hasil kartu pos yang didapatkan melampaui target sebanyak 2018 kartu pos dari total 1001 lembar kartu pos yang dicanangkan.

Beberapa tanggapan para pengajar muda yang menerima kartu pos sangat beragam, salah satunya Ojan di Bima, mengabarkan bahwa “kartu posnya lucu-lucu dan pasti anak-anak akan suka”. Adanya dokumentasi para pelajar yang bergiliran membaca kartu pos menjadi bukti bahwa kegiatan ini mendapat respon yang baik di mata para pelajar Sekolah Dasar yang dituju. Juga tanggapan dari Rahmat dan Julyestri mengatakan, “kartu posnya sudah sampai, terimakasih”. Dan masih banyak tanggapan positif lainnya. Ini merupakan sebuah kerja keras dan kolaborasi para pelajar Indonesia di Tiongkok, dan pencapaian yang sangat luar biasa PPIT menjadi salah satu dari Perhimpunan Pelajar Indonesia di 56 Negara lainnya yang berhasil mendapat penghargaan Rekor MURI.

Berikut lampiran informasi wilayah pembagian kartu pos 1001 senyum

  1. Wilayah Indonesia Barat:

• Natuna, Kepulauan Riau

  • SDN 002 Kelarik, 148 siswa
  • SDN 003 Gunung Putri, 125 siswa
  • SDN 004 Pian Tengah, 64 siswa
  • SDN 003 Setumuk, 43 siswa
  • SDN Air Nusa 118 siswa
  • SDN Batu Berian 100 siswa
  • SDN 005 Kerdau, 27 siswa
  • SDN 003 Pengadah, 74 siswa

Total = 699 kartu pos • Jambi
Suku Pedalaman Jambi = 40 anak Total = 40 kartu pos

Wilayah Indonesia Timur:

• Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua

1. SD INPRES Aboding : 100 siswa

  • SD INPRES PEPERA : 100 siswa 

  • SD INPRES ABIRIP : 100 siswa 

  • SD INPRES MIMIN : 100 siswa 

  • SD INPRES BUMBAKON : 100 siswa 

  • SD INPRES ARGAPILONG : 100 siswa 


Total = 600 kartu pos
Wilayah Indonesia Tengah:

• Lombok: KABUPATEN LOMBOK UTARA

  1. SDN 1 Mumbul sari 

  2. SDN 2 nyar 

  3. SDN 4 Tegal Maja 

  4. SDN 8 Sokong 

  5. SDN 2 Medana 

  6. MI Tarbiatul Islamiyah 

  7. SDN 1 Tanjung 


Total akan dikirim 50pcs setiap sd di Lombok.

• UMA LENGGE MENGAJAR, kecamatan Wawo, Bima : 250 siswa Total = 250 kartu pos

• The Floating School – Makassar = 79 Anak Total = 79 kartu pos

Penulis: Achmad Syafii A.B – Pusmedkom PPI Tiongkok 2018/2019

Categories
Asia dan Oseania PPI Negara

Pelantikan PPI Malaysia dan Latihan Pengembangan Diri Pengurus (LPDP) PPI Malaysia Periode 2018/2019

Kuala Lumpur (22/02) Perhimpunan Pelajar Indonesia Malaysia (PPIM) menyelenggarakan acara pelantikan bagi pengurus baru periode 2018/2019 pada hari Jum’at, waktu setempat. Acara ini diadakan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur dengan mengusung tema “Kolaborasi dan Inovasi Pemuda Untuk Indonesia”.

Acara pelantikan kepengurusan baru PPI Malaysia dihadiri oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur, Mokhammad Farid Ma`ruf,Ph.D, Koordinator PPI Dunia 2018/2019, Fadjar Mulya, Chief Human Capital Officer PT Bank Muamalat Indonesia Tbk, Riksa Prakoso, Head of Learning and Talent Management PT Bank Muamalat Indonesia Tbk, Anton Hendrianto, Ketua Panitia Pemilihan Umum Luar Negeri Kuala Lumpur, Agung Cahaya Sumirat serta Ketua Pengawas Pemilihan Umum Kuala Lumpur, Yaza Azzahra.

Persatuan Pelajar Indonesia Malaysia periode ini diketuai oleh Sdr. Muhammad Ammar Naufal dengan total pengurus sebanyak 116 yang dibagi menjadi sembilan departemen. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Saudari Nadiah Nur Fadhlillah, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” oleh seluruh tamu undangan dan peserta yang hadir.

Acara selanjutnya adalah sambutan yang diberikan oleh Koordinator PPI Dunia 2018/2019, Sdr. Fadjar Mulya. Dalam sambutannya, ia memiliki harapan bahwa Indonesia emas 2045 dapat diwujudkan secara nyata, salah satunya diawali dengan menjadi diaspora yang dapat berkontribusi bagi Indonesia. Bapak Mokhammad Farid Ma’ruf,Ph.D selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur juga turut memberikan sambutan bahwa PPI diharapkan dapat menjadi organisasi yang dapat berkontribusi dalam pencerdasan bangsa dengan pemikiran-pemikiran yang lebih berfokus pada hal-hal yang nyata bagi permasalahan dan inovasi yang ada.

Tepat pukul 11.00 waktu setempat, Saudara Ammar selaku Ketua PPI Malaysia membacakan surat keputusan pengesahan kepengurusan PPI Malaysia, dilanjutkan dengan pengucapan janji yang diikuti oleh seluruh pengurus terpilih PPI Malaysia. Hal tersebut menandakan telah resmi dilantiknya kepengurusan PPI Malaysia periode 2018/2019.

Kemudian, acara selanjutnya adalah sambutan dari Chief Human Capital Officer PT Bank Muamalat Indonesia, Anton Hendrianto, dilanjutkan dengan penandatanganan MoA antara PT Bank Muamalat Indonesia dengan PPI Dunia dan PPI Malaysia. Terdapat kata sambutan dari Ketua Panitia Pemilihan Umum Luar Negeri Kuala Lumpur dan Ketua Pengawas Pemilihan Umum Kuala Lumpur.

Sebelum menyelesaikan rangkaian kegiatan pelantikan, acara ditutup dengan pembacaan do’a oleh Sdr. Afief El Ashfahany.

Acara selanjutkan dilanjutkan pada pukul 15.00 selepas ibadah sholat Jum’at. Kegiatan itu sendiri ialah musyawarah kerja dan penjabaran program kerja selama satu periode bagi setiap departemen. Musyawarah tersebut dibuka dengan sambutan oleh Ketua PPI Malaysia 2018/2019, Muhammad Ammar Naufal. Ia menuturkan bahwa dengan kolaborasi, kebersamaan, dan profesionalitas, diharapkan semua dapat bersama-sama maju. Musyawarah program kerja dilakukan sampai pukul 19.00, yang dilanjutkan dengan ramah tamah dan persiapan keberangkatan menuju lokasi Latihan Pengembangan dan Pengurus di Kuala Kubu Baru.

Perjalanan dimulai ketika acara pelantikkan selesai pada pukul 21.00 MYT  dan memulai perjalanan ke Asia Camp, Kegiatan Latihan Pengembangan Diri Pengurus (LPDP) mengusung tema “Cendekia, Kolaborasi, dan Inovasi” dimana tema ini merupakan slogan dari PPI Malaysia. Kegiatan dilaksanakan selama 3 hari 2 malam dari tanggal 22 – 24 Februari 2019 ini diawali dengan sambutan oleh Muhammad Ammar Naufal selaku Ketua Umum PPI Malaysia. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan beberapa amanat penting dan kewajiban yang harus dijalankan selama menjabat serta menjalankan rangkain acara LPDP dengan tertib. Setelah itu, untuk menambah semangat semua peserta, acara yang disusun oleh Divisi Kelembagaan PPI Malaysia memulai acara dengan melakukan senam pagi yang dipimpin oleh perwakilan dari divisi Seni, Budaya dan Olahraga. Untuk memeriahkan acara, beberapa permainan menarik juga dihadirkan ditengah acara untuk menguji kemampuan kerjasama setiap divisi.

Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan pembahasan mengenai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang diikuti oleh seluruh pengurus untuk memperdalam pemahaman mengenai peraturan-peraturan di kepengurusan PPI Malaysia, Kegiatan ini diikuti oleh 9 divisi dan Badan Pengurus Harian (BPH) PPI Malaysia. Di acara ini juga turut serta menghadirkan dua tokoh terkenal & penting PPI yaitu Fadjar Mulya, selaku koordinator PPI Dunia 2018/2019 dan Intan Irani, selaku koordinator PPI Dunia tahun 2016/2017.

Dalam sesi talkshow ini, Fadjar Mulya, koordinator PPI Dunia periode 2018/2019, menerapkan tentang bagaimana pentingnya menjadi seorang pemimpin sekaligus menjadi anggota dalam suatu kelembagaan atau organisasi. Intan Irani selaku Koordinator PPI Dunia Periode 2016/2017 membahas tentang 3 aspek yang dibutuhkan dalam berorganisasi yaitu skills, attitude, and knowledge.

Demi tercipta hubungan yang semakin harmonis, talkshow juga diselingi dengan diskusi santai dan sesi tanya jawab antara pembicara dengan para hadirin. Tidak hanya itu, tiap divisi juga memberikan penampilan yang diakhiri dengan pembagian hadiah. Pada penghujung acara, kegiatan ditutup dengan pidato penutupan oleh Ketua Umum PPI Malaysia 2018/2019 Muhammad Ammar Naufal dan perwakilan dari divisi kelembagaan. Dalam penutupan tersebut mereka menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pengurus yang telah hadir dan berharap semua program-program kerja dari setiap divisi yang sudah dibahas bisa dijalankan dengan baik dan bersinergi satu sama lain.

Categories
Asia dan Oseania PPI Negara

[ Call For Paper ] ASIA – OCEANIA SYMPOSIUM 2019 – Tianjin, China

Asia Young Scholars Summit (AYSS2019) is an formal discussion forum, especially for Asian and open for international student. It is organized by Indonesia Student’s Association in the People’s Republic of China (PPI Tiongkok). We invite many students from all over the world to take a part in this conference. The summit has theme entitled: “Leveraging Region with Economy, Social, and Technology Collaboration”.

Scope of Articles

The conference covering broad topics, but are not limited to the following topics:

  • Business and Management
  • Science and Technology
  • Social Science
  • Medical and Medicine
  • and Others…

Combined with Asia-Oceania Symposium 2019, This event will be the biggest “Event of the Year” for Indonesian Student Association For People’s Republic of  China. We invite all of Indonesian & International Students or Researchers to submit an abstract.  The conference will be held on May 17-18 in Tianjin City, China

For further Information visit:

http://pukat.ppitiongkok.org

∼See you in Tianjin∼

Categories
Asia dan Oseania

Buletin Excelencia Edisi 7 – 2018


Salam Kolaborasi Karya !

“….. Maka pilihan sebenarnya dan ini harus menjadi ruh bagi siapapun yang ingin disebut sebagai pahlawan, pastikan ia berinisiatif untuk mengabdikan diri pada hal-hal yang membawa maslahat baik bagi diri sendiri, masyarakat sekitar, bangsa dan negara.”
Departemen Kajian Strategis melalui Buletin Excelenci Vol. 7 mencoba memberikan pandangan terkait narasi pahlawan di era milenial yang masih erat kaitannya dengan era Industri 4.0. Selamat membaca dan semoga tercerahkan.

Link buletin excelencia bisa diakses di sini:


Buletin-Excelencia-Vol.7-Kastrat

Categories
Asia dan Oseania PPI Negara

Indonesian Scholar Scientific Summit 2018: Kontribusi Pelajar Indonesia di Taiwan dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0

Perkembangan pesat teknologi informasi, khususnya teknologi otomasi, artificial intelligence (AI), robotic, teknologi sensor, maupun Internet of Things (IoT) mendorong perubahan iklim industri menjadi semakin kompetitif dan dikenal sebagai revolusi industri 4.0. Kondisi tersebut menciptakan dampak positif maupun negatif. Dampak positif berupa terciptanya lapangan pekerjaan dan keterampilan baru,  namun di sisi lain menimbulkan  dampak negatif berupa hilangnya peluang pekerjaan tertentu. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut meningkatkan kapasitasnya sehingga mampu beradaptasi dan menjadi aktor dalam revolusi industri 4.0 serta pada akhirnya dapat mengurangi jumlah pengangguran terdidik.

Menjawab tantangan tersebut, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Taiwan menggelar Indonesian   Scholar   Scientific   Summit   (I3S)   yang   bertajuk   “Membangun   Techno-creative Entrepreneur Ecosystem di Era Industri 4.0” yang diselenggarakan pada Sabtu, 17 November 2018. Bertempat di Conference Hall, College of Law, Tunghai University, kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 200 mahasiswa Indonesia yang sedang melanjutkan studi di Taiwan yang tersebar dari wilayah selatan sampai dengan utara, sebagaimana yang disampaikan oleh Adi Kusmayadi, Ketua Panitia I3S  2018 yang juga mahasiswa program  master  pada  Department of Chemical and Materials Engineering, Tung Hai University. Tingginya antusias mahasiswa Indonesia yang datang dari berbagai universitas di seluruh penjuru Taiwan tentunya tak lepas dari dukungan penuh Tung Hai University sebagai tuan rumah penyelenggara, khususnya Prof. Chen-Jui Huang selaku kepala Taiwan Education Center Indonesia sekaligus wakil direktur Office of International Relations, Tunghai University.

Keynote speech pertama disampaikan oleh Prof. Chin-Yin Huang, Chairman Department of Industrial Engineering and Enterprise Information, Tunghai University yang terangkum dalam presentasi berjudul “What can Indonesia get from Industry 4.0”. Prof. Huang menyampaikan bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang cukup melimpah dan itu merupakan sebuah potensi yang dapat dikembangkan untuk mendukung kegiatan produksi industri. Selain itu, Prof. Huang menyampaikan berbagai pemanfaatan yang dapat dimaksimalkan dalam perkembangan revolusi industri 4.0 ini. Selanjutnya, sesi keynote speech kedua disampaikan oleh Dr. Warsito Purwo Taruno, M. Eng, CEO CTECH Labs EdWar Technology dengan materi berjudul “Toward Indonesian Knowledge Based Economy in the Era of Industry 4.0”. Dr. Warsito berbagi strategi inovasi dan pengalaman membangun perusahaan teknologi di Indonesia yang digunakannya sebagai salah satu upaya untuk mendongkrak daya saing industri nasional. Tak kalah menariknya dengan pembicara sebelumnya, keynote speaker ketiga Eka Sastra, M.Si, yang merupakan anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) sekaligus Bendahara Umum HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) memberikan  gambaran  tentang  peranan  pengusaha  muda dalam  menggerakkan  perekonomian nasional yang dikemas dalam materi berjudul “The Role of HIPMI for Growing the Enterpreneurial Techno-Innovation in Indonesia”. Di akhir sesinya, aparatur pemerintahan tersebut memotivasi peserta untuk mempelajari penerapan teknologi di Taiwan dan membangun jejaring internasional dalam rangka membangun dan mengembangkan bisnis sebagai sumbangsih terhadap tanah air pada masa mendatang.

Rangkaian simposium telah selesai dengan tersampaikannya tiga materi dari para ahli di bidangnya, namun kegiatan I3S masih belum berakhir. Kegiatan I3S dilanjukan dengan sesi khusus berupa diskusi grup tentang perkembangan ilmu dan teknologi sebagai upaya untuk memberikan kontribusi dalam menjawab tantangan revolusi industi 4.0. Kegiatan diskusi grup ini menjadi ajang pencarian inovasi yang mungkin bisa diterapkan untuk menjadi solusi. Sebanyak 20 makalah ilmiah dipresentasikan dan enam reviewer disiapkan untuk menilai potensinya. Karya terbaik dipilih dengan penilaian berupa keterkaitan topik dengan tema, cara penyampaian dan hasil dari karya ilmiah. Sehingga terpilihlah empat karya ilmiah terbaik yang topiknya berhubungan dengan bidang rancang bangun, kesehatan, teknologi dan pola tingkah manusia terhadap sebuah fenomena.

Di akhir acara, Sutarsis, mahasiswa Ph.D. di Material Sciences and Engineering, National Central University selaku Ketua PPI Taiwan berpendapat bahwa kegiatan ini dapat menjadi salah satu agenda rutin tahunan PPI Taiwan yang berfungsi sebagai ajang komunikasi dan wahana bertukar gagasan ilmiah dalam rangka mengembangkan keahlian dan keilmuan lintas disiplin, dari pemuda untuk Indonesia.

Indonesian Scholars, Let’s be a part of Industrial Revolution 4.0

Page 1 of 14
1 2 3 14