logo ppid

Liputan Purwokerto, 9 Oktober 2016. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (BEM UNSOED) yang bekerja sama dengan PPI Dunia mengadakan acara Festival of Study Abroad (FOSA) di Graha Widyatama, Purwokerto, Jawa Tengah. Acara yang bertajuk “Reinforcing Brighter Future with Study Abroad” ini bertujuan untuk memberikan informasi perihal sekolah lanjut di luar negeri dengan beberapa informan seperti delegasi dari PPI Negara, pihak beasiswa yaitu LPDP serta diskusi mengenai studi di luar negeri dengan para alumnus dan Kementrian Luar Negeri yaitu Isman Pasha.

Acara yang berlangsung selama dua hari ini diisi oleh delapan belas delegasi negara dari PPI Italia, PPI Taiwan, PPI Perancis, PPMI Pakistan, PPI Jerman, PPI Hongaria, PPI Yaman, PPMI Mesir, PPI Britania Raya, PERMIRA Rusia, PPI Brunei Darussalam, PPI Sudan, PPI Polandia, PPI Filipina, HPMI Jordania, PERMITHA Thailand, PPI Finlandia dan PPI Estonia. Setiap peserta dari delegasi memberikan presentasi selama 15 menit mengenai negara asal mereka belajar, tips dan trik kuliah di negara asal dan mengenai beasiswa di negara tersebut. Selain itu, setiap delegasi negara mendapatkan booth untuk memperkenalkan dan memberikan informasi lebih lanjut mengenai kuliah di luar negri.

Ketua panitia dari FOSA, Putri Bilqis Oktaviani mengharapkan, peserta dari acara ini, yaitu mahasiswa dan berbagai kalangan lainnya dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari informasi tentang beasiswa terkait secara gratis. Beliau juga berharap agar peserta tidak malu bertanya untuk mendapatkan informasi mengenai kuliah di luar negeri, serta mereka dapat mempersiapkan segala kebutuhan dari jauh hari.

Peserta dari acara ini tampak antusias untuk mencari informasi mengenai kuliah di luar negeri. Ajang ini juga memperkenalkan mereka tentang negara yang tidak familiar dengan mereka namun memiliki beberapa potensi beasiswa untuk mahasiswa Indonesia melanjutkan studi baik jenjang magister ataupun doktoral.

(FA,NL/F)

Bangga. Itulah satu kata yang mungkin cukup menggambarkan perasaan para mahasiswa Indonesia di Rusia terhadap tanah air tercinta, Indonesia. Sebagai wujud dari rasa bangga dan cinta terhadap ibu pertiwi, PERMIRA dengan bangga mempersembahkan Wonderful Indonesia di Kazan-Rusia yang bertemakan Taste of Indonesia. Masih sama dengan acara Wonderful Indonesia sebelumnya yang juga diadakan di Rusia, tujuan utama dari acara ini adalah untuk memperkenalkan keanekaragaman budaya Indonesia, juga menjadi ajang promosi pariwisata Indonesia. Adapun yang lebih ditonjolkan dalam Wonderful Indonesia tahun 2016 ini adalah kuliner Indonesia, sebagaimana yang kita telah ketahui bahwa cita rasa makanan Indonesia sudah sangat digandrungi oleh orang asing sekalipun. So, save the date! Jangan sampai ketingalan:)

Informasi lebih lanjut dibawah ini,

60557

(AASN)

“Anti kekerasan tidak sesederhana lawan kata dari kekerasan. Anti kekerasan memiliki makna lebih, yaitu bagaimana cara agar semua manusia hidup dalam kedamaian, menghindari konflik, atau mampu mengatasi konflik tanpa melakukan sesuatu yang dapat membahayakan maupun merugikan orang lain,” sebuah ujaran serentak disuarakan dari dua mahasiswa Indonesia dalam tema diskusi International Day of Non-violence bersama RRI Voice of Indonesia pada hari Senin (03/10/16) pukul 10.30 dan 11.30 WIB.

Hari International Day of Non-Violence ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 2007 untuk diperingati setiap tanggal 2 Oktober. Berbicara tentang sejarah singkat, hari International Day of Non-Violence sebenarnya diambil dari hari ulang tahun Mahatma Gandhi yang telah secara sukses mengantarkan India menuju hari kemerdekaannya dengan menjunjung tinggi nilai damai, toleransi, dan anti kekerasan.

Shirin Ebadi, wanita asal Iran yang juga sebagai aktivis HAM, mengajukan agar diperingatinya hari anti kekerasan. Respon ini menarik perhatian dari Partai Kongres di India (Ahimsa) dan menginspirasi PBB untuk menetapkan hari International Day of Non-Violence pada tanggal 2 Oktober. Tujuan dari peringatan hari tersebut adalah sebagai pengingat yang sangat penting dalam anti kekerasan terutama dalam bidang politik dengan tidak melupakan aspek kehidupan lainnya.

Dalam siaran Youth Forum bersama RRI Voice of Indonesia, Citra Aryanti berkata , “Budaya anti kekerasan bukan hanya untuk menciptakan dunia yang bebas perang, tetapi memiliki makna lebih komprehensif seperti menumbuhkan rasa kemanusiaan, kebersamaan, dan menghormati martabat sesama manusia. Dengan hal ini, dunia tanpa kekerasan akan membuat makna baru bagi kehidupan seluruh manusia.”

“Seluruh masyarakat harus paham bahwa kehidupan manusia tidak dibagi menjadi politik, sosial, agama, tetapi semua aspek itu harus dipandang secara komprehensif untuk menumbuhkan semangat saling menghormati satu sama lain. Kata ‘terima kasih’ adalah esensi dasar untuk menumbuhkan nilai-nilai anti kekerasan lainnya,” lanjut mahasiswi yang sedang mempersiapkan ujian penyetaraan kedokteran di Amerika Serikat tersebut.

Citra menambahkan, ”Untuk mencapai skala global dari anti kekerasan, nilai-nilai anti kekerasan harus mulai diterapkan dari diri sendiri. Seseorang dapat mencapai nilai tersebut dengan beberapa hal, misal, lebih banyak mendengar daripada berbicara, membudayakan minta maaf dan memaafkan, dan kontrol emosi yang baik dengan menghindari ekspresi kemarahan. Selain itu, saya senang tema hari anti kekerasan tahun ini yang menempatkan fokus pada lingkungan di mana manusia harus memperlakukan lingkungan sebagaimana mestinya.”

Masih bersama RRI Voice of Indonesia dengan program siaran lain bertajuk KaMU, Adam Dwi Baskoru pun ikut ambil bicara soal hari International Day of Non-Violence ini. “Dalam Agama Islam, diajarkan untuk sebisa mungkin menghindari kekerasan. Konflik adalah sumber dari perilaku kekerasan. Bila ada suatu masalah, janganlah menggunakan emosi untuk menyelesaikannya. Cobalah untuk mengatasi konflik dengan kepala dingin atau tanpa tindak kekerasan,” terangnya. Perilaku anti kekerasan pemuda tidak hanya diaplikasikan dalam hari ini saja, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mahasiswa yang sedang menggeluti bidang Islamic Law di Universitas Al-Azhar Mesir itu menyerukan bahwa, “Mahatma Gandhi berhasil menyatukan masyarakat India dengan tanpa kekerasan. Ia bahkan tidak pernah marah saat dicela orang lain. Pemuda harus meniru apa yang telah dilakukan oleh Mahatma Gandhi, bisa juga dengan mencurahkan dalam bentuk tulisan atau media lainnya. Dengan ini, pemuda dapat menjadi tulang punggung suatu negara maupun dunia dalam menciptakan suasana anti kekerasan.“

Kedua narasumber diatas memiliki pandangan yang sama bahwa kekerasan bersumber dari konflik. Konflik dapat menjadi suatu perilaku yang membuat seseorang acting out dalam bentuk ekspresi kemarahan atau lebih ekstrimnya lagi melakukan tindak kekerasan fisik. Kondisi ini dapat mempengaruhi bahkan sampai skala global. Edukasi dapat menjadi kiat untuk kontrol diri, manajemen konflik dalam ruang lingkup anti kekerasan.

Menuju Indonesia yang lebih damai dan tanpa kekerasan secara berkelanjutan, sudah barang tentu menjadi harapan seluruh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali oleh Adam dan Citra. Indonesia dapat menciptakan lebih banyak wadah bagi aktivis non kekerasan dalam satu hati, dan satu hari pada satu waktu dalam visi dan misi sama dalam menciptakan budaya anti kekerasan. Selain itu, program kesehatan hendaknya tidak hanya terfokus pada satu aspek seperti perawatan penyakit, tetapi perlu memperhatikan aspek psikologis karena aspek itulah yang mendalangi semua perilaku baik kekerasan maupun anti kekerasan. Kemudian, ciptakan perang terhadap narkoba karena ini menjadi suatu ketidakamanan yang sudah mengglobal.

“Sosial media dapat dijadikan wadah gerakan sosial dan revolusi di seluruh dunia. Banyak aktivis yang memanfaatkan media sosial untuk merangkul aktivis lain dalam tujuan meningkatkan pesan anti kekerasan dalam isu-isu kontroversial yang kemudian tidak disangka dapat mempengaruhi politik dan kehidupan sosial,” terang kedua mahasiswa tersebut mengakhiri sesi diskusi dengan RRI Voice of Indonesia. (Red CA, Ed AASN)

 

Bencana alam memang tak bisa dielakkan saat Tuhan berkendak untuk menurunkannya. Namun semua itu jelas karena latar belakang sebab-akibat. Tentu saja, jika kita berpikir lebih jauh lagi semua itu adalah hasil ulah perbuatan manusia.

Jika memang begitu adanya, pasti ada langkah-langkah, kiat untuk menanggulanginya. Setidaknya ada sedikit usaha untuk mengurangi kuantitas terjadinya. Nah, penasaran bagaimana langkah-langkah yang musti dilakukan untuk mengurangi terjadinya bencana alam?

Dalam rangka memperingati "hari internasional penanggulangan bencana" pada Senin (10/10), PPI Dunia bekerja sama dengan RRI Indonesia akan mengadakan diolog interaktif bersama Giri Fidelis Salaim dari PPI Australia dalam program 'Youth Forum' dan Bagus Ari Haryo Anugrah dari PPI Tiongkok dalam program 'KAMU'. So, jangan lewatkan dan tetap setia bersama PPI Dunia.

whatsapp-image-2016-10-02-at-15-19-36

Liputan PPI Dunia - "Jurnalistik tidak hanya berbentuk tulisan, tapi bisa secara gambar seperti grafik," adalah salah satu isi materi acara Pelatihan Jurnalistik I PPI Dunia 2016/2017 yang dipaparkan oleh Dewi Anggrayni, S3 Media dan Komunikasi, Universiti Kebangsaan Malaysia. Kegiatan yang diselenggarakan oleh tim biro pers PPI Dunia dan PPI TV ini berlangsung pada Sabtu, 24 September 2016 yang lalu, dimulai dari pukul 20.00 WIB melalui live streaming Youtube

Pelatihan yang juga dimoderatori oleh Juniar Laraswanda Umagapi dari Permira (Rusia) ini telah berlangsung dengan sukses. Hal ini tampak dari tingginya antusiasme dan partisipasi pelajar Indonesia yang tersebar di seluruh kawasan dunia. Terlebih, pada sesi tanya jawab melalui live chat, para peserta terlibat diskusi yang sangat menarik.

“Tugas jurnalis tidak hanya harus terampil dalam menampilkan informasi melalui tulisan, tetapi juga melalui gambar. Tidak hanya itu, selain memahami komunikasi, jurnalis juga harus memiliki kepekaan dinamika kehidupan yang tinggi sehingga informasi dan berita yang digali menjadi unik dan bermanfaat,” terang Dewi.

Ada beberapa jenis struktur penulisan berita. Salah satu yang paling sering digunakan adalah penulisan berita dengan bentuk piramida terbalik. “Istilah piramida terbalik dalam sebuah berita berarti menempatkan hal yang paling penting baru kemudian hal yang kurang penting, atau dari umum ke khusus. Sedangkan untuk unsur 5W+1H sendiri terdapat pada lingkaran penting atau umum,” papar Dewi.

Jurnalistik-ilustrasi (sumber: ajr.org)

Jurnalistik-ilustrasi (sumber: ajr.org)

Berita diawali dengan paparan masalah (lead), kemudian tubuh berita diisi dengan fakta dan data, dan akhir berita diisi dengan keterangan tambahan atau dampak dari peristiwa. Informasi penting dititikberatkan pada paragraf awal. Seperti misalnya pada berita kecelakaan, fakta mengenai jenis, tempat, waktu, dan jumlah korban kecelakaan terletak pada paragraf awal. Kronologi cerita baru disampaikan pada tubuh berita. Baik lead maupun tubuh berita seluruhnya harus mengandung unsur 5W+1H.

Dewi kembali menegaskan bahwa tulisan berita yang baik terdapat pada awal berita. "Yang paling penting dalam berita adalah lead-nya. Berita juga harus memenuhi kriteria 5W+1H," tegas Dewi.

Dewi menjelaskan terdapat tiga jenis model berita yang selama ini umum terdapat di berbagai media, yaitu hard news, soft news, dan feature. Hard News adalah berita lugas tentang kejadian atau peristiwa yang bersifat ‘penting’, langsung, tanpa ada opini penulis, dengan unsur 5W+1H yang menjadi inti berita,” jelas Dewi.

“Soft News adalah kemasan berita bermodelkan cerita ringan, sifatnya ‘menarik’, mengutamakan dampak akan kejadian, dan unsur 5W+1H tidak harus menjadi inti berita. Misalkan pada berita tabrakan. Biar lebih menarik dapat ditulis apa dampak dari kecelakaan tersebut, sehingga dibuatlah Soft News. Soft News bisa juga dikatakan sebagai lanjutan dari Hard news,” lanjut wanita yang juga pernah menjabat sebagai Koordinator Biro Pers PPI Dunia periode 2014/2015 dan 2015/2016.

“Di sisi lain, Feature merupakan berita yang menitikberatkan pada sisi kemanusiaan (human interest) terhadap suatu peristiwa atau kejadian yang bersifat ‘mendalam’,” tambah Dewi dengan santai.

Salah satu pertanyaan yang disampaikan Ridwan (Perpika, Korea) adalah tentang bagaimana kiat membuat berita yang akurat dan tidak memberi kesan membohongi pembaca.

“ Bagaimana jika ada berita yang judulnya tidak sesuai dengan isi berita, apakah ini tidak terkesan seperti ‘menipu’ pembaca?” Tanya Ridwan via messenger kepada host saat pelatihan berlangsung.

Menjawab pertanyaan Ridwan, Narasumber pelatihan menjelaskan bahwa, sebaiknya judul berita harus disesuaikan dengan isi berita dan tidak memberi kesan “menipu” pembaca. Akan tetapi, sebenarnya pemuatan judul dapat menjadi “strategi” bagi media untuk menarik pembaca.

“Yang paling penting adalah saat kita membuat berita, berita adalah akurat dan mematuihi kaedah jurnalistik sehingga memberikan manfaat bagi pembaca,” terang Dewi yang juga sekaligus mengakhiri sesi pelatihan Jurnalistik. (Red ADB/CA, Ed RD)

PPI Dunia bekerja sama dengan lembaga otonom, Lembaga Sosial PPI Dunia, mengadakan pengumpulan sumbangan dana untuk bencana Garut.

Mari berbagi dan ulurkan tangan untuk teman-teman kita di Garut.

Untuk teman-teman PPI Negara, bukti pengiriman sumbangan atau transfer ke Lembaga Sosial PPI Dunia dapat dikirimkan ke contact@ppidunia.org.

Kami menerima donasi teman-teman hingga 30 November 2016.

Bila ada pertanyaan lebih lanjut mengenai detail penggalangan dana ini silahkan memberi komentar. Terima kasih banyak.

Halo teman-teman semua! Kali ini, PPI Dunia bekerja sama dengan PPI TV akan mengadakan *Pelatihan Jurnalistik pertama* pada hari Sabtu tanggal 24 September 2016 pukul 20.00 WIB LIVE streaming di channel PPI TV (link menyusul).
Acara ini dibuka untuk umum dan membahas mengenai :

- reportase jurnalistik

- teknik menulis mulai dari dasar sampai mendalam
Saat pelatihan berlangsung, teman-teman dapat menanyakan pertanyaan secara langsung kepada narasumber di kolom komentar yang tersedia.
• Narasumber: Dewi Anggrayni dari PPI Malaysia (Koordinator Biro Pers PPI Dunia periode 2014/2015 dan 2015/2016, S3 Media dan Komunikasi di Universiti Kebangsaan Malaysia)

• Moderator: Laraswanda Umagapi dari PERMIRA Rusia

• Durasi: 90 Menit (20.00 WIB - 21.30 WIB)
Ayo tambah wawasanmu dan tingkatkan kemampuan jurnalistikmu dengan mengikuti Pelatihan Jurnalistik oleh PPI Dunia! 😀
Salam Perhimpunan!

Dalam rangka memperingati Hari Turisme Dunia, PPI Dunia bekerja sama dengan Radio Republik Indonesia (RRI) akan menyelenggarakan bincang-bincang dalam Youth Forum dan KAMU (Kamu yang Muda). Dengan menghadirkan Uli Amelia Septriani (Double Degree B.BA International Hotel and Tourism Burapha University International Collage/PERMITHA) dan Deni Endriani (S3 Anthropologie and Tourism Ehess/PPI Perancis) sebagai pembicara.

Acara ini akan berlangsung pada:

Hari/tanggal: Senin, 26 September 2016

Waktu: 10.30 WIB (Youth Forum)

11.30 WIB (KAMU/Kami yang Muda)

(Red/Ed,F)

21 September ditetapkan sebagai Hari Perdamaian Dunia oleh PBB atau dikenal juga sebagai World of Peace. Tujuan utama dari peringatan ini adalah untuk lebih meningkatkan perdamaian seluruh bangsa di dunia. Tema International Day of Peace tahun ini adalah pembangunan yang berkelanjutan. Masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, pusat peringatan International Day of Peace tahun ini diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa(PBB), tepatnya di kota new york, Amerika Serikat.

 

19 September 2016, RRI Voice of Indonesia, dalam kesempatannya telah mendiskusikan mengenai International Day of Peace bersama dua pelajar Indonesia : Ginda Bastari, mahasiswa S2 jurusan Manajemen Teknologi di New York University, yang juga selaku presiden Permias New York City(NYC); dan Wandari Dessy Rosidayati, pelajar SMA tingkat 2 dikelas Bisnis di Islandia.

Di New York, terdapat berbagai kegiatan yang dilakukan dalam memperingati International Day of Peace seperti dialog religius, meditasi, pameran seni, acara musik, konferensi dan seminar pengetahuan, perkumpulan komunitas, dan masih banyak lagi. Menurut Ginda, rangkaian kegiatan ini diselenggarkan oleh PBB dalam rangka mengumpulkan masyarakat di dunia bersama-sama untuk merayakan International Day of Peace. Secara tidak langsung, juga menjadi simbolis untuk memperkuat perdamaian. Menariknya, seluruh kegiatan ini dapat diikuti secara gratis oleh seluruh masyarakat di dunia. “International Day of Peace tidak hanya ditinjau secara luas seperti menghentikan kekerasan atau menghentikan perang, tetapi terdapat makna lain secara personal yang harus diperhatikan sesederhana “peace of mind” atau perdamaian dalam pikiran masing-masing”, terang Ginda. Banyak hal yang dapat dilakukan sebagai pelajar dalam meningkatkan kesadaran publik dalam perdamaian dunia, salah satunya dengan menghargai keberagaman,dan sikap saling toleransi antar sesama umat manusia. “Kontribusi pelajar dalam meningkatkan kesadaran dalam perdamaian dunia dimulai dari keinginan untuk mengerti satu sama lain. Misalnya, sebagai pelajar Indonesia di New York, kota dengan variasi etnis yang paling beragam di seluruh dunia, kita harus bisa menghargai budaya orang lain, bukan malah memaksakan kebiasaan kita pada yang lain,”terang mahasiswa tahun terakhir di New York ini. Keberagaman etnis dan budaya di Indonesia tentunya tidak menjadi penghalang untuk menciptakan perdamaian secara nasional dalam refleksi Indonesia satu, penggunaan bahasa Indonesia. Ginda menuturkan bahwa program AKAR Permias NYC yang memiliki misi mengajarkan bahasa Indonesia pada komunitas Indonesia yang tidak mampu berbahasa Indonesia di NYC sangat diminati. Indonesia juga dapat mengambil contoh penyelenggaraan acara seperti meditasi atau dialog keagamaan di radio atau televisi. Negara Islandia adalah negara dengan indeks perdamaian yang tertinggi secara global.

“Alasan mengapa Islandia memiliki kondisi yang cukup aman dan damai terkait dengan populasinya yang cukup sedikit, etnis dan budaya tidak terlalu beragam, sehingga masyarakat cukup mudah untuk beradaptasi satu dengan lainnya. Akan tetapi, kondisi keberagaman di Indonesia seharusnya tidak menjadi sebuah halangan untuk meningkatkan indeks perdamaian,”sambung Wandari. Saat ditanyakan bagaimana harapan Ginda dan Wandari mengenai perdamaian di dunia dalam 5 tahun ke depan, mereka berharap bahwa perdamaian di dunia akan lebih baik lagi. Mereka juga berharap agar lebih banyak lagi masyarakat di dunia yang memiliki pemikiran yang terbuka, yang mana tentunya akan menjunjung tinggi harkat dan martabat yang dimiliki sesama. Baik Ginda maupun Wandari menuturkan bahwa titik awal dalam menciptakan perdamaian dunia harus di mulai dari diri sendiri. Meditasi dapat menjadi salah satu cara dalam mendamaikan hati dan pikiran. Kedamaian pribadi akan memberikan pengaruh yang signifikan dalam komunitas, dalam membangun suatu perdamaian dunia yang lebih baik.

Penulis : Citra Aryanti (PERMIAS)
Editor : Aidil Aqli Saputra Noor (PERMIRA)

Liputan Jakarta, Perwakilan PPI Dunia ikut berkontribusi dalam sebuah konferensi kebijakan internasional berjudul "Conference on Indonesian Foreign Policy 2016: Finding Indonesia's Place in The Brave New World", pada Sabtu lalu (17/9). Acara yang bertempat di The Kasablanka Hall, lantai 3 Mal Kota Kasablanka, Tebet, Jakarta Selatan ini diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) besutan Dr. Dino Patti Djalal, Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Ke-5.

"Saya berharap, setelah mengikuti CIFP 2016, semoga kita semakin sadar bahwa bangsa Indonesia akan semakin maju dan kuat jika kita terus menjaga sikap nasionalisme yang disertai pula dengan semangat internasionalisme," ungkap Dino Patti Djalal dalam sambutannya.

Konferensi ini membahas pengaruh globalisasi terhadap dinamika perkembangan dan percepatan interaksi negara-negara di dunia sehingga berimplikasi terhadap persaingan internasional. Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini berisikan 20 sesi paralel dalam ruangan yang berbeda dengan menghadirkan 70 pembicara ternama baik dari dalam maupun luar negeri. Sesi yang digelar membahas kebijakan luar negeri Indonesia dalam berbagai aspek: geopolitik, maritim, perdagangan, keamanan, diaspora, pendidikan, teknologi, dan lain-lain.

Pembicara pada sesi "Connecting Indonesia's Development Needs with Global Resources". Diantaranya, Koordinator PPI Dunia Intan Irani (bangku kedua dari kiri). Sumber: Adam Dwi Baskoro

Di antara pembicaranya adalah Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden Republik Indonesia ke-6), Xanana Gusmao (Presiden Timor Leste), Jend. (Purn.) Luhut Binsar Panjaitan (Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI ke-5), Ir. Airlangga Hartanto (Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia 2005-2014), dan Rudiantara (Menteri Komunikasi dan Informatika). Prof. H. Nasarudin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal juga turut menjadi pembicara dalam pembahasan keagamaan. Sedangkan dalam sektor usaha yang duduk menjadi pembicara diantaranya adalah Sandiaga Uno, Shunamek (Garuda Food), Erik Meijer (Telkom/Telstra), Wishnutama (Net Mediatama), Noni Purnomo (Blue Bird Group), Nadiem Makarim (Gojek Indonesia). Para diplomat dari USA, EU, Korea Selatan, Polandia, Hungaria, RRC, dan Australia juga dilibatkan untuk menyampaikan materi politik dan hubungan internasional.

Intan Irani, Koordinator Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia menjadi salah satu pembicara pada sesi yang bertemakan "Connecting Indonesia's Development Needs with Global Resources: The World of FDI, Creative economy, Education, Technology, and Innovation". Sesi ini membahas perlunya koneksi antara pengembangan ekonomi, pendidikan, teknologi, dan inovasi Indonesia lewat globalisasi.

Ia mengungkapkan bahwa PPI Dunia merupakan sebuah perhimpunan yang menaungi 51 PPI Negara dengan visi untuk meningkatkan kualitas dan potensi diri yang berguna seutuhnya bagi Indonesia. PPI Dunia bergerak dalam tiga bidang utama: pertama, Creative Economy dengan meningkatkan human capital sebagai aset bangsa; kedua, Tourism yang mendidik duta bangsa agar bangga untuk mempromosikan dan memperkenalkan seni dan budaya Indonesia kepada dunia internasional; ketiga, Innovation and Technology yang bergerak di era informasi digital berupa online meeting, web based-seminar, dan e-education. "PPI Dunia melibatkan seluruh basis edukasi pelajar Indonesia yang tersebar di tiap negara," tegas Intan.

Perwakilan PPI Dunia yang hadir dalam kenferensi tersebut adalah koordinator PPI Dunia Intan Irani dari PPI Italia, anggota Biro Pers Adam Dwi Baskoro dari PPMI Mesir, dan alumni Permira Rusia, Subahagia Rendy. (AD/AA)

 

Galeri Kegiatan:

Presiden Republik Indonesia ke-5 Susilo Bambang Yudhoyono menjadi pembicara saat penutupan kegiatan konferensi.

Presiden Republik Indonesia ke-5 Susilo Bambang Yudhoyono menjadi pembicara saat penutupan kegiatan konferensi.

Koordinator PPI Dunia Intan Irani bersama pembicara konferensi.

Koordinator PPI Dunia Intan Irani bersama pembicara konferensi lainnya.

Perwakilan PPI Dunia yang menghadiri Konferensi Kebijakan Luar Negeri Indonesia 2016

Perwakilan PPI Dunia yang menghadiri Konferensi Kebijakan Luar Negeri Indonesia 2016.

Peserta Konferensi.

Peserta Konferensi saat pembukaan kegiatan.

Peserta konferensi pada sesi "Connecting Indonesia's Development Needs with Global Resources", salah satu pembicaranya adalah Intan Irani, Koordinator PPI Dunia.

Peserta konferensi pada sesi "Connecting Indonesia's Development Needs with Global Resources", salah satu pembicaranya adalah Intan Irani, Koordinator PPI Dunia.

Sumber gambar: Adam Dwi Baskoro

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920