logo ppid

Rendahnya penyerapan masyarakat difabel dalam dunia kerja, terutama yang bekerja di sektor formal seperti karyawan sebuah perusahaan swasta, menjadi salah satu tantangan yang sampai sekarang masih belum terselesaikan di Indonesia.

Padahal Undang-Undang Negara Indonesia sebenarnya sudah bersifat inklusif, yang mana isu-isu terkait kewajiban penyedia kerja seperti perusahaan untuk memberikan kuota khusus masyarakat difabel tertulis disana. Namun, kurangnya paparan informasi tentang peraturan tersebut pada masyarakat penyandang difabel juga penyedia kerja menyebabkan masih rendahnya serapan masyarakat difabel di pasar tenaga kerja.

Karena permasalahan tersebut, Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia (PPI Dunia) melalui Direktorat Pergerakan dan Pengabdian Masyarakat (Direktorat PPM) mengadakan kegiatan webinar berjudul “Career Counselling Teman Difabel (CC Teman Difabel): Maximize Your Potential: A Promising Future for Difabel” pada hari Sabtu, 12 Februari 2022.

Acara ini memiliki tujuan yang baik untuk masyarakat difabel karena memberikan informasi seputar dunia pekerjaan, mulai dari potensi sampai kepada hal spesifik seperti cara mendapatkan pekerjaan. Selain itu juga menyediakan ruang dialog dan konseling, sebagai sarana meningkatkan rasa percaya diri untuk masyarakat difabel, dan lain sebagainya.

“PPI Dunia ingin menunjukan kepada dunia bahwa dengan keterbatasan fisik tidak akan menghalangi kita semua untuk dapat berkarya dan meraih prestasi,” ungkap Faruq, Koordinator PPI Dunia dalam sambutannya.

“Saya percaya bahwa penyandang disabilitas dapat hidup secara mandiri dan memiliki hak serta kesempatan yang sama dengan masyarakat pada umumnya seperti kita semua,” sambungnya.

Ken Khansa Iftikhar selaku ketua CC Teman Difabel dalam sambutannya mengatakan “Saya berharap dengan adanya acara Career Counselling Teman Disabel ini akan membantu para teman difabel untuk lebih percaya diri dalam mencari pekerjaan dan tidak ada perbedaan antara para teman disabilitas dengan teman-teman lainnya dalam bekerja”.

Narasumber pertama yang dihadirkan dalam webinar ini adalah Putri Santoso selaku founder dari Kopi Tuli yang juga merupakan teman difabel penyandang tuli sejak lahir. Dalam kesempatannya bicara, ia berkomunikasi menggunakan Bahasa Isyarat yang di terjemahkan oleh juru Bahasa Isyarat.

Dalam pemaparannya, ia menjelaskan awal mula berdirinya Kopi Tuli hingga varian menunya dan pekerja yang didominasi oleh teman difabel. Selain menjual minuman, Kopi Tuli juga mengajarkan cara menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) agar masyarakat bukan hanya bisa menikmati kopi buatan orang tuli tapi juga bisa lebih meningkatkan komunikasi dengan orang-orang tuli.

Putri juga berharap agar masyarakat lain di Indonesia bisa memberikan pekerjaan yang layak kepada teman difabel. Karena teman difabel juga bisa melakukan kegiatan produktif seperti orang lainnya.

“Harus diingat, kami penyandang tuli juga memiliki kebutuhan yang sama yaitu kebutuhan untuk bekerja. Fokusnya itu bukan kepada kekurangan yang kami miliki, tetapi kepada apa kemampuan yang kami miliki,” ujar Putri.

Narasumber berikutnya menghadirkan founder dari PT. Disabilitas Indonesia, yaitu Hasnita Taslim Arifin. Ia merupakan penyandang disabilitas sejak ia berusia 22 tahun karena kecelakaan kendaraan bermotor.

Pengalamannya saat pertama kali transisi dari hidup normal menjadi disabilitas memiliki banyak sekali cobaan. “Ternyata support system dari masyarakat itu tidak seperti yang kita harapkan,” katanya.

Hasnita memiliki pendapat bahwa alasan penyandang disabilitas diremehkan oleh masyarakat adalah karena masyarakat tidak terbiasa melihat mereka. Ia memiliki impian agar penyandang disabilitas juga menjadi kelompok masyarakat yang produktif, seperti aktif menggunakan transportasi umum, bisa bekerja, dan melakukan banyak kegiatan lain seperti masyarakat umum lainnya.

“Saya memiliki cita-cita melihat penyandang disabilitas itu equal. Sehingga kalo kita sudah equal, kita financially independent, kita become a productive member of society, perlahan-lahan stigma dalam masyarakat itu berubah dengan sendirinya,” jelas Hasnita.

Acara ini diadakan untuk membuka mata setiap orang, bahwasanya setiap orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama bagaimanapun keadaan itu. Semoga kedepannya masyarakat kita bisa menerima dan memberikan perlakuan yang sama dengan masyarakat lain tanpa melihat status serta kekuarangannya.

Penyerahan bantuan tunai secara simbolik oleh Koordinator PPI Dunia Faruq Ibnul Haqi kepada Bupati Kabupaten Lumajang Thoriqul Haq (PPI Dunia)

Jakarta - Sebagai negara yang berada di garis khatulistiwa, Indonesia merupakan wilayah Negara dengan risiko bencana yang cukup tinggi. Hal ini menyita perhatian dari seluruh komponen masyarakat, agar meminimalisir kerugian moril maupun materil. Sebagai bentuk kepedulian dan aksi nyata, PPI Dunia turut hadir dengan mengadakan webinar bertajuk “Outlook Penanggulangan Bencana di Tanah Air: Tantangan dan Solusi” yang telah terlaksana pada Minggu (13/02) lalu.

 Prof. Ir. H. Sarwidi,Ph.D. selaku Unsur Pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana Republik Indonesia (BNPM RI) menyampaikan, bahwa ada 3 tipe bencana yakni Natural Disaster, Non Natural Disaster ( Covid 19, Flu Burung dll) , dan Social Disaster (Pertikaian dll).

“Indonesia sebagai negara dengan lebih dari 13.000 pulau, 3 zona waktu, dan lebih dari 270 juta jiwa yang terbagi didalam 34 provinsi memiliki peluang bencana yang tidak sedikit” ungkapnya. Menurutnya, pertumbuhan jumlah masyarakat yang semakin tinggi pun berperan dalam peningkatan kasus bencana yang terjadi.

Dalam webinar ini, turut hadir pula H. Thoriqul haq, S.Ag, MML. (Bupati Lumajang) yang memberi gambaran detail nyata seputar bencana erupsi Semeru yang terjadi pada 2010 dan 2020 lalu.  Kejelasan seputar mitigasi masyarakat untuk mengetahui jalur evakuasi, serta adanya balai pengungsian sebagai relokasi dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI menurutnya menjadi salah satu cara efektif dalam penanggulangan bencana.

Sesi ini kemudian dilanjutkan dengan penyerahan bantuan tunai secara simbolis kepada Bupati Lumajang oleh PPI Dunia yang diserahkan langsung oleh Koordinator PPI Dunia 20201-2022, Faruq Ibnul Haqi. Bantuan yang terkumpul sebesar Rp10.000.000,- (Sepuluh Juta Rupiah) yang berasal dari 60 PPI Negara di seluruh dunia sebagai bentuk kepedulian dan bantuan proses pemulihan dan rehabilitas pasca erupsi Semeru di Kabupaten Lumajang Jawa Timur.

Webinar kemudian dilanjutkan oleh pemaparan Prof. Dra. Fatma Lestari, MSI, PhD., yang dalam pemaparannya memberikan pandangannya tentang Dual Disaster yang terjadi di suatu daerah. Ia mengambil kasus erupsi Semeru dan badai pandemi Covid-19 yang terjadi di Lumajang sebagai contoh.

”Media komunikasi menentukan pemahaman masyarakat. Namun faktanya, prioritas pertama (early warning) bukanlah media sosial, masyarakat lebih percaya kentongan dan toa masjid” tegasnya. Bukan tanpa alasan, ini terjadi karna minimnya pemahaman masyarakat dan bentuk pengungkapan informasi dari pemerintah yang masih dinilai awam dan kurang dapat diserap dengan baik oleh masyarakat.

Dual disaster yang terjadi sekarang ini menurutnya menjadi tantangan serius. Tercatat kerugian yang terjadi akibat kejadian ini sudah berada di angka 520 Juta Dolar Amerika Serikat dan telah mengakibatkan 26 juta orang jatuh miskin. Menanggapi fakta ini, sedikitnya ada 6 permasalahan sebagai sudut pandang utama; Permasalahan Kepemimpinan, Koordinasi, Integrasi, Kekurangan Sumber Daya, Lemahnya Perencanaan, dan Kurangnya Dukungan Media.

Sebagai jawaban atas permasalahan tersebut, Drs. Pangorso Suryotomo selaku Direktur Kesiapsiagaan BNPB RI turut memperkenalkan Edurisk dan InaRISK yang hadir sebagai platform khusus penanggulangan bencana yang bisa diakses oleh masyarakat.

Sesi terakhir mengenai “Penanggulangan Bencana Berbasis Kekeluargaan” yang disampaikan oleh Yudi Ariesta Chandra, S.Kep.Ns.  rincian seputar konsep dasar dalam penanggulangan bencana, penanganan risiko bencana, peran keluarga dan masyarakat dalam penanggulangan bencana, serta 7 target global dalam penanggulangan bencana.

Ia juga memaparkan, bahwa program Keluarga Tangguh Bencana yang diusung BNPB pada tahun 2019 lalu dimaksudkan guna meningkatkan kapasitas keluarga untuk meminimalkan resiko dampak terhadap bencana  sebagai bagian dari Desa Tangguh Bencana.

Redaktur: Fina Septia (anggota BPMI PPI Dunia)

Jakarta - Pertumbuhan tekonlogi digital sudah jauh berkembang. Namun, tidak beriringan dengan pengetahuan masyarakat mengenai teknologi potensial seperti big data. Oleh karena itu, Direktorat Penelitian dan Kajian PPI Dunia Periode 2021-2022 melalui Komisi Teknologi, Informasi, dan Komunikasi Publik berinisiatif mengadakan webinar bertajuk “Big Data For Indonesian Society”.

Tujuan diadakannya webinar ini untuk mengedukasi masyarakat umum dan kaum intelektual, seperti mahasiswa dan akademisi, agar memahami peran big data di industri, terutama kesehatan dan perbankan.

“Webinar ini akan memberi wawasan bagi kita yang masih awam terkait big data untuk lebih mempersiapkan diri dengan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki. Selain itu, kita lebih siap berkompetensi di era industri 5.0 dimana big data menjadi kebutuhan pasti. Dengan banyaknya data-data dan kebutuhannya yang beragama menjadi tantangan kita untuk merespon apa yang bisa dimanfaatkan dari teknologi tersebut,” ujar Faruq Ibnu Haqi, Koordinator PPI Dunia dalam sambutannya, (30/01/2022).

Praktisi dan Akademisi Digital Health, Niko Azhari Hidayat, menjadi pemateri pertama dalam webinar ini. Ia membuka data terkait ekosistem healthcare di Indonesia. Dari data tersebut dikatakan bahwa ekosistem kesehatan Indonesia cukup rumit, sehingga teknologi terkait kesehatan diperlukan.

“Saya ingin memperlihatkan PR kita, sekarang di Indonesia sudah banyak jumlah rumah sakit, puskesmas, industri farmasi, dan asuransi jiwa. Hal ini, merupakan pekerjaan yang memerlukan penanganan besar dalam hal data. Baik data obat, dokter, pasien, dan tindakannya. Ini perlu dikembangkan komunikasi dan information sharing-nya,” terang Niko.

Ia melanjutkan, penggunaan big data di bidang kesehatan cukup kompleks, meliputi anamnesa, penegakan diagnosis, dan perumusan intervensi serta evaluasi. Meski demikian, kata Niko, pendayagunaan big data yang baik, dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan.

Beruntungnya, bidang teknologi dan kesehatan sudah mulai bergerak bersama dalam menghadapi situasi genting, seperti saat merebaknya kasus Omicron di Indonesia.

“Begitu Omicron merebak, pemerintah harus menahan sebanyak-banyaknya pasien agar tetap di rumah walaupun positif PCR. Stay di rumah, kemudian dijaga oleh platform Telemedisin,” tambahnya.

Belum lagi, tambah Niko, pentingnya meningkatkan layanan medis jarak jauh. Oleh karena itu, perlu pengembangan integrasi sistem data dan aplikasi pelayanan kesehatan yang lebih terstruktur. Pengolahan data dapat menguatkan ekosistem digital sehingga tercipta inovasi kesehatan yang memudahkan semua pihak. Penguatan sistem data yang terstruktur nantinya dapat menyaring data menjadi poros kebijakan yang lebih akurat dan informatif.

Selanjutnya, pemaparan materi dari Widyaning Chandramitasari, Business Intelligence Specialist. Ia mengakui big data merupakan solusi untuk masalah yang terjadi dari database tradisional sekaligus menjadi salah satu penopang dalam mengambil keputusan.

“Bukan hanya tentang size, tapi bagaimana kita bisa utilize data itu atau memanfaatkannya menjadi sebuah value. Adapun size atau tipe yang ada di big data melebihi kemampuan yang bisa ditangani oleh database tradisional,” ujar Data Analyst PT. Bank Rakyat Indonesia tersebut.

Widya juga menjelaskan tentang pengaruh big data dalam dunia perbankan. Saat ini, perbankan menggunakan recommender system dan Artificial Intelligence (AI) untuk menentukan keputusan sehingga perbankan sudah menjadi cukup maju.

“Misal dengan teman-teman menjadi nasabah di Bank. Kita bisa belajar dari kebiasaan finansial nasabah sehinggga punya parameter khusus untuk bisa memprediksi kira-kira customer dengan portofolio demikian memerlukan produk seperti apa, sehingga kita bisa over produk yang dibutuhkan,” terang Widya.

Widya menambahkan, dengan big data, pihak bank mengetahui seberapa besar kontribusinya di suatu wilayah dan memiliki bayangan langkah apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Kemudian, bank juga memiliki risk management hingga dapat mengetahui risiko dari setiap transaksi agar para nasabah bertransaksi dengan nyaman dan aman.  Selain itu, potential place atau customer dapat diketahui sehingga mendapatkan rekomendasi sesuai dengan profil mereka.

Meski demikian, Widya mengingatkan untuk tak perlu ragu mengirim data ke pihak bank karena keamanan data yang dikelola oleh bank akan tetap aman.

Reporter: Muhamad Alwi (Sub-Bidang Redaktur Berita Kegiatan PPI Dunia)

KHARTOUM-Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Internasional pada tanggal 24 Januari, Perhimpunan Pelajar Putri Indonesia Sudan (PPPI Sudan) bekerjasama dengan Kementrian Pendidikan Perguruan Tinggi Sudan dan KBRI Khartoum sukses menggelar acara “Educational and Cultural Festival” pada hari Ahad (23/1).

Menempuh pendidikan di negara Afrika tidaklah mudah. Banyak sekali rintangan yang dihadapi, mulai dari situasi politik di negaranya, hingga sistem pendidikannya. Dari sinilah muncul keresahan untuk mengadakan suatu konferensi, dengan tujuan membahas sistem pendidikan di negara Sudan khususnya.

Acara ini menghadirkan Dr. Ali Hammud Ali Muhammad yang merupakan Guru Besar Fakultas Pendidikan di University of Khartoum dan Dr. Thahir Mustafa (Dekan Faculty of Education) International University of Afrika sebagai pemateri. Serta Habiburrahman El-Shirazi Al-Azhari, sebagai Keynote Speaker yang disampaikan melalui video.

Dengan tujuan membangun bersama kesadaran akan pentingnya peran pendidikan, seta memperbaiki kualitas sumber daya manusia (SDM) suatu bangsa, khususnya di Sudan. Acara yang digelar di Conference Hall, Ministry of Higher Education and Scientific Research ini diawali dengan seminar pendidikan dengan mengambil tema yang bertajuk "Mengenal Ekosistem Pendidikan dari Berbagai Negara di Era Milenial". Selain itu juga menampilkan pertunjukan budaya khas Indonesia seperti Angklung Ananta, Tari Saman, Hadrah Muslimat NU Sudan dan Pencak Silat Aisyiah Sudan.

Sebelumnya, Ketua PPPI Sudan Mala Himmah Ulya dan rekannya melakukan kunjungan dan audiensi di kantor Kementrian untuk menjalin silaturahmi dan menyampaikan permohonan kerja sama. Setelah beberapa hari, akhirnya mendapat respon dan sambutan baik dari pihak Kementrian. Panitia Educational and Cultural Festival, yang di ketuai oleh Atikal Maula mengirimkan proposal dan mempresentasikannya di Kantor Kementrian untuk menggelar acara ini.

"Acara ini merupakan kali pertama acara yang diselenggarakan Mahasiswa asing yang sedang belajar di Sudan, bekerjasama dengan Kementrian." tutur Mohammed Rasyed sekretaris Menteri.

Pada kesempatan ini, terdapat dua sesi. Sesi pertama yaitu penyampaian materi dan tanya jawab. Sesi Kedua yakni diskusi panel dengan beberapa panelis para mahasiswi dari berbagai negara seperti Kenya, Palestina, Uganda, dan Indonesia yang di wakili Afina Fauziyah.

"Disini kita berdiskusi dan sharing tentang sistem pendidikan di negara kita masing-masing. semoga apa-apa yang baik dapat diaplikasikan". Tutur Atikal Maula.

"Pendidikan adalah fondasi bagi kemajuan sebuah bangsa. Sumber daya manusia yang akan mengatur, dan mengolah sumber daya alam yang ada" imbuhnya.

Perhimpunan Pelajar Putri Indonesia Sudan (PPPI Sudan) mengambil inisiatif mengadakan agenda ini, dengan harapan semoga dapat menjadi jembatan kebaikan untuk memicu semangat Mahasiswa untuk lebih bersungguh-sungguh. juga dengan harapan sistem pendidikan Sudan dan negara-negara yang hadir, dapat lebih berinovasi dan kreatif di era milenial ini. Serta mampu mengaplikasikan ilmu yang di dapat di kehidupan, dan memberikan sumbangsih nyata untuk negara.

Mala Himmah Ulya Ketua PPPI Sudan menyampaikan dengan tujuan yang sama, "melihat situasi politik Sudan yang belum stabil, karena kita belajar di negara ini dan kita sedang mengkonsumsi kebijakan pemerintahanny. kami berharap ini sebagai upaya kecil untuk sistem pendidikan Sudan kedepannya semakin baik."

Festival Pendidikan dan Budaya ini juga menggelar stand untuk makanan khas Indonesia. Beraneka ragam makanan khas Indonesia, yang dijual pengusaha mikro mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Sudan laris manis diserbu peserta asing yang hadir.

"Tidak hanya berhenti di seminar, goals dari acara ini adalah kami akan menuliskan journal hasil pembahasan dan kesimpulan untuk kemudian kami serahkan ke kantor Kementrian Kemendikti" ujar Mala Himmah Ulya Ketua PPPI Sudan.

Kegiatan ini dipungkasi dengan foto bersama.

Gusti Kanjeng Ratu Bendara (Ketua BPD AKU DIY/Pemateri I) dan Faris Apriyadi (PPI Malaysia/Moderator) dalam sesi foto bersama

Jakarta- Sektor pariwisata menjadi kekuatan roda ekonomi Indonesia, baik ekonomi berskala kecil maupun besar. Namun, jumlah wisatawan di Indonesia mengalami penurunan setelah pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Berangkat dari sana, PPI Dunia melalui Direktorat Festival Luar Negeri (FELARI) mengadakan webinar bertajuk “Revitalisasi Ekonomi Pasca Pandemi melalui Sektor Pariwisata di Indonesia” pada hari Sabtu (15/1/2022).

“Webinar ini bertujuan untuk melihat seberapa besar potensi Pariwisata Indonesia dalam merevitalisasi ekonomi pasca pandemi Covid-19, setelah adanya penurunan 50% dari jumlah wisatawan di sektor Pariwisata Indonesia.” ujar Faruq Ibnul Haqi dalam sambutannya.

Selain itu, ia pun menambahkan bahwa PPI Dunia berupaya untuk aktif membantu kebangkitan sektor ekonomi di Indonesia, “Inovasi, adaptasi dan kolaborasi adalah kunci utama dalam bertahan dan bangkit dari kondisi keterpurukan akibat covid-19. Maka bidang pariwisata juga perlu untuk ikut beradaptasi di bidang terkait,” tambah Faruq.

Selaku narasumber, Gusti Kanjeng Ratu Bendara, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (BPD DIY) menyampaikan, ekonomi dalam negeri, khususnya UMKM, mengalami penurunan drastis imbas turunnya angka wisatawan di sektor pariwisata.

“UMKM merupakan salah satu sektor yang mengalami dampak terbesar dari turunnya angka wisatawan. Jika sektor pariwisata mengalami penurunan sebanyak 50%, sektor UMKM mengalami penurunan sebesar 70%. Penguatan ekonomi di daerah oleh pemerintah, khususnya pada desa wisata merupakan salah satu kunci untuk terjadinya revitalisasi ekonomi di Indonesia pasca pandemi covid-19,” imbuh Ketua BPD DIY.

Ia menyebut, salah satu faktor terbesar dalam penurunan angka wisatawan adalah regulasi yang belum efektif dari pemerintah. Belum lagi, pemerintah belum mampu memberikan solusi yang sesuai dengan kondisi yang terjadi di daerah. “Regulasi yang diberlakukan dalam skala nasional masih melihat kondisi yang terjadi di Jakarta, padahal regulasi yang diberlakukan belum tentu sesuai dengan apa yang dibutuhkan untuk menangani masalah yang terjadi di daerah” jelas Ratu.

Kendati demikian, DIY sudah mengalami peningkatan sebanyak 60% dari jumlah wisatawan sebelum pandemi. Kenaikan ini karena adanya pelonggaran regulasi sehingga wisatawan domestik mulai berkunjung kembali ke Yogyakarta.

Pada sesi berikutnya, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB UNDIP) Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. bertindak sebagai narasumber kedua webinar ini. Ia menjelaskan bagaimana peran pariwisata dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Mencakup korelasi antara pariwisata dan perekonomian, ekonomi pariwisata dan efektifitasnya jika diterapkan di era pasca pandemi, dampak pandemi pada perekonomian di sektor pariwisata, dan revitalisasi ekonomi pasca pandemi dalam peninjauan dari sektor pariwisata.

“Ekonomi dan pariwisata itu membutuhkan pergerakan dan adaptasi. Selama ini, pemerintah telah menerapkan beberapa regulasi yang mulai menjadi kebiasaan baru selama pandemi. Namun, tetap harus terus melihat kondisi yang terjadi dalam negeri, khususnya dalam segi pariwisata. Kebijakan yang diterapkan pemerintah selain terus bergerak dan beradaptasi, tentu harus memperhatikan dan mengedepankan desain yang less-economy dan less-contact untuk mengurangi kemungkinan terburuk yang akan terjadi,” ujar Prof. Suharmono.

Setiap kebijakan pemerintah akan berdampak dalam perkembangan ekonomi, khususnya di sektor pariwisata. Menurut Prof. Suharmono, perubahan sektor pariwisata memerlukan peran pemerintah dalam menjaga dan memfasilitasi perubahan sektor pariwisata agar dapat bertahan. Dukungan tersebut berupa perbaikan infrastruktur pendukung dan kemudahan berusaha dalam bentuk insentif.

Berlanjut ke sesi ketiga. Wakil Presiden Indonesian Islamic Business Forum (IIBF), Sutrisno   membahas UMKM Pariwisata. Ia menjelaskan, UMKM adalah tulang punggung perekonomian Indonesia. “Pelaku UMKM di negara kita menyumbang 61,07% dari PDP Indonesia dan jumlahnya sangat besar, yaitu 64,2 juta atau 97% dari pelaku usaha yang ada di Indonesia.” ujar Sutrisno.

Sutrisno berharap pemerintah memberlakukan regulasi yang jelas dan berpihak kepada UMKM. Terlebih, dalam situasi pandemi sekarang ini, dengan regulasi ketat dan rumitnya prosedur untuk bepergian ke luar negeri, akan berimbas meningkatnya jumlah pengunjung domestik ke objek wisata tanah air. “Tentunya pariwisata dalam negeri akan terus tumbuh selama pemerintah terus berpihak kepada UMKM dan membuat aturan baku yang jelas.” terang Sutrisno.

Dalam kesempatan ini Sutrisno turut menyampaikan apresiasi kepada PPI Dunia, khususnya Direktorat FELARI yang berinisiatif mengadakan webinar ini. “Saya salut kepada teman-teman PPI Dunia yang mengadakan acara ini. Saya yakin melalui acara ini akan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dunia pariwisata Indonesia,” tutupnya. (Asyraf Muntazhar/BPMI PPID)

Tim Kajian Perlindungan Pelajar PPI Dunia telah menyelenggarakan focus grup discussion (FGD) sebanyak tiga kali dengan tujuan mengidentifikasi permasalahan yang terjadi di masing-masing kawasan PPI Dunia yaitu Asia-Oseania, Timur Tengah-Afrika, dan Amerika-Eropa. Bila Tim RUU Perlindungan Pelajar periode 2020-2021 telah menghasilkan Daftar Inventaris Masalah (DIM) dan draft awal Naskah Akademik, maka tujuan yang hendak diraih oleh Tim Kajian periode 2021-2022 yang diketuai oleh Tiara M. Gusman serta beranggotakan Usamah Abdurrahman dan Thariq Umar Al Haq ini ialah mengidentifikasi sejauh mana relevansi DIM yang telah disusun terhadap realitas permasalahan yang dihadapi oleh para pelajar.

FGD pertama bersama PPIDK Asiania diselenggarakan pada Senin, 15 November 2021. Dihadiri oleh perwakilan enam dari empat belas PPI Negara yang ada yaitu PPI Jepang, Perpika Korea Selatan, PPI India, PPI Brunei Darussalam, Permitha Thailand, dan PPI Taiwan, acara diawali dengan sambutan dari koordinator PPI Dunia, Faruq Ibnul Haqi, dan Direktur Penelitian dan Kajian PPI Dunia, Muhammad Aswin Rangkuti, yang sama-sama menekankan agar isu jaminan kesehatan dan kesehatan mental pelajar turut menjadi perhatian. Diskusi lantas terbagi menjadi dua sesi. Pertama, para peserta dibagi ke dalam tiga grup yang berdiskusi secara lebih intensif di ruangan zoom tersendiri. Kedua, para peserta kembali ke ruang utama dan perwakilan dari masing-masing grup menjelaskan temuannya masing-masing. Di antara permasalahan yang dialami oleh pelajar di kawasan Asiania melibatkan kampus. Terdapat fenomena mahasiswa dipekerjakan ekstra di laboratorium, oknum kampus juga ditengarai “bermain” untuk memperpanjang durasi studi mahasiswa, hingga sering munculnya informasi dadakan dari kampus yang mempengaruhi persiapan pelajar. Terdapat juga masalah penundaan beasiswa yang telah dijanjikan oleh otoritas pemerintah setempat.

FGD kedua bersama PPIDK Timtengka diselenggarakan pada Sabtu, 27 November 2021. Dari delapan belas PPI Negara yang ada sebanyak enam perwakilan yaitu dari PPI Qatar, IPI Iran, PPMI Mesir, PPI Yaman, PPI Maroko, dan PPI Sudan. Koordinator kawasan, Hafidz Lubis memaparkan secara sekilas permasalahan yang dialami masing-masing PPI Negara yang memang telah disusun oleh tim khusus. Guna efisiensi waktu, seluruh peserta langsung berdiskusi di grup yang sama dengan temuan yang tak kalah menarik. Di satu sisi terdapat para pelajar di negara yang tergolong sejahtera sehingga masalah yang dihadapi berkutat pada isu kesehatan mental. Di sisi lain, terdapat pula para pelajar di negara yang sedang berkecamuk sehingga memerlukan pendampingan yang lebih intensif dari perwakilan pemerintah RI. Hanya saja, yang mereka dapatkan justru perlakuan yang berat sebelah berbanding dengan buruh migran atau elemen masyarakat lain di luar pelajar. Radityo Pangestu, selaku Wakil Direktur Bidang Khusus Penelitian dan Kajian PPI Dunia, juga menegaskan pentingnya untuk memberikan perhatian khusus terhadap negara-negara yang memiliki jumlah pelajar sangat banyak namun tidak memiliki Atdikbud (Atase pendidikan dan Kebudayaan).

FGD bersama PPIDK Amerop diselenggarakan pada Senin, 20 Desember 2021. Sebanyak tujuh dari dua puluhan PPI Negara di kawasan Amerika Eropa ikut serta dalam agenda ini, yaitu PPI Ceko, PPI Polandia, PPI Spanyol, PPI Serbia, Permira Rusia, PPI Austria, dan PPI Rumania. Surya Gentha Akmal selaku koordinator PPI DK Amerop dalam sambutannya selain menegaskan bahwa fenomena makin banyaknya jumlah pelajar yang melanjutkan studi di luar negri membuat kebutuhan akan validitas data menjadi semakin tinggi. Dalam hal ini diperlukan sinergi harmonis antara PPI di masing-masing negara dengan perwakilan RI baik KBRI maupun KJRI. Di antara permasalahan yang muncul pada FGD ini ialah kebingungan yang dialami oleh pelajar di sebuah negara yang tidak memiliki perwakilan RI. Hendak kemana mereka mengadukan permasalahan yang mereka alami? Selain itu, terdapat pula fenomena sejumlah oknum pelajar yang karena kondisinya di luar negeri justru bisa terlibat dengan gerakan-gerakan pro-separatisme. Selain itu, terdapat pula masalah pelecehan seksual yang dialami oleh pelajar.

Di luar permasalahan yang secara khusus ditemukan di masing-masing FGD, terdapat pula temuan masalah yang merata terjadi di seluruh kawasan. Sebut saja permasalahan yang berkaitan dengan agensi pendidikan. Di berbagai negara ditemukan potensi penipuan dan penelantaran yang dilakukan oleh oknum agensi dengan kerugian materiil maupun imateriil yang berbeda-beda dialami oleh korbannya. Menyikapi isu ini, ide yang diusulkan ialah untuk mengadakan semacam lembaga pemerintah yang bertugas untuk benar-benar berfokus kepada para diaspora dari kalangan pelajar. Sebagaimana terdapat lembaga pemerintah khusus yang berfokus pada masalah yang dialami oleh buruh migran.

Selain itu, masalah umum yang ditemukan pula ialah peran perwakilan pemerintah yang dipandang belum optimal. Selain karena ketiadaan Atdikbud di sejumlah negara, juga karena cara pandang negara sendiri terhadap diaspora pelajar. Tiga sesi FGD ini menghasilkan cara pandang bersama bahwa tugas negara sebenarnya bukan sekedar melindungi para pelajar bila terkena permasalahan hukum, tetapi lebih jauh dari pada itu adalah agar para pelajar di luar negeri tidak saja dapat sukses menempuh studinya, tetapi juga hal-hal positif yang dapat diambil dari negara terkait dapat benar-benar dikapitalisir sehingga menjadi kontribusi yang signifikan untuk negeri. Di samping itu, disepakati pula bahwa terdapat sejumlah permasalahan yang sebenarnya muncul dari pribadi para pelajar itu sendiri yang tidak perlu kehadiran negara di sana.

Pangkal Pinang – Peningkatan kasus penyebaran Covid-19 di beberapa negara menjadikan pandemi semakin berkepanjangan. Di Indonesia sendiri, kasus penyebaran Covid-19 meningkat drastis sejak pertengahan bulan Juli 2021. Hal tersebut yang memaksa pemerintah untuk melakukan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di sejumlah wilayah khususnya Jawa-Bali.

Satgas PT BIMA juga meningkatkan kewaspadaan dan memaksimalkan pantauan kesehatan pada seluruh karyawan di kantor pusat dan 17 site cabang dengan membagikan vitamin juga suplemen kesehatan. Tidak hanya itu, untuk bisa berkontribusi dalam pencegahan penyebaran Covid-19 secara luas, PT BIMA menggandeng Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia (PPI Dunia) untuk dapat menyalurkan 350 paket isoman berupa obat-obatan dan vitamin kepada pasien isoman kota Pangkal Pinang, Bangka Belitung, Indonesia.

Pembagian paket isoman didistribusikan secara langsung melalui Dinas Kesehatan kota Pangkal Pinang kepada 9 puskesmas yang ada di kota Pangkal Pinang, selebihnya telah tercatat oleh Dinas Kesehatan setempat bahwa lebih dari 500 pasien positif Covid-19 sedang menjalani isoman di wilayah Pangkal Pinang.

PPI Dunia telah menggandeng organisasi setempat, yaitu HMI, GMKI, PMII. Selain itu, PPI Dunia menjalin kerja sama dengan Dinas Kesehatan untuk memastikan paket tersebut dapat terdistribusi tepat sasaran.

“Dinas Kesehatan menyambut kegiatan ini dengan antusias dan menyalurkan data warga Pangkal Pinang yang sedang dalam masa isolasi mandiri,”  ujar Azka selaku sekretaris program PARAMA PPI Dunia dalam saluran komunikasi. Kepala Biro Tata Kelola PT BIMA berharap kegiatan ini dapat diterima dan memberikan dampak yang baik pada sistem imunitas warga di masa pandemi. Juga peningkatan kolaborasi yang baik dari berbagai sisi sosial, pendidikan dan masyarakat, mengingat implementasi nilai inti AKHLAK yang harus selalu diterapkan agar tercipta sinergi harmonis dengan seluruh stakeholder.

“Kerja sama ini dilakukan sebagai bentuk dukungan atas upaya penekanan terhadap tingginya kasus positif Covid-19 juga komitmen perusahaan untuk dapat memberikan manfaat terhadap lingkungan,” jelas Donny Arif Kurniawan, Kepala Biro Tata Kelola Perusahaan PT BIMA. Kegiatan ini tentunya mengacu pada nilai Harmonis dalam nilai inti AKHLAK Kementerian BUMN. (AN/BTKP)

Istanbul, Minggu 19 Desember 2021. Untuk pertama kalinya seluruh pelajar maupun mahasiswa Indonesia yang terhimpun dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia Istanbul (PPI Istanbul) bekerja sama dengan Turk Youth Foundatioan (Yayasan Kepemudaaan Turki) sukses menyelenggarakan sebuah pentas budaya Indonesia yang di beri nama “Endonezya Gunu” (Hari Indoensia) dengan tema “The Wonderful Indonesia”.

Kegiatan ini diinisiasi oleh para pelajar maupun mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh Pendidikan di Istanbul, Turki. Adapaun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat International khususnya masyarakat Turki itu sendiri. Mengingat sedikitnya masyarakat Turki yang tahu tentang budaya Indonesia, para pelajar ini terdorong untuk menyelenggarakan “Endonezya Gunu” demi untuk mengenalkan budaya mereka kepada masyarakat luar.

Selain dari itu, kegiatan tersebut juga bertujuan untuk mempererat hubungan sosiokultural antar kedua Negara Indonesia dan Turki. Indonesia dan Turki merupakan dua Negara yang termasuk kedalam anggota G20 dan D8. Oleh karenanya hubungan sosiokultural antar kedua Negara tersebut perlu di pererat. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Bagas (Ketua PPI Istanbul 2020/2021) ketika memberi sambutan pada acara tersebut.

“Kegiatan ini kita selenggarakan sebagai bentuk terimakasih kita kepada TUGVA yang telah banyak berkontribusi terhadap program-program kita. Selain dari itu juga bertujuan untuk memperkenalkan budaya Indonesia, dan untuk mempererat hubungan sosiokultural Indonesia Turki sebagai 2 Negara anggota G20 dan D8 juga sebagai 2 Negara muslim terbesar di Dunia”. Ucap Bagas.

Acara yang dihadiri oleh 150 orang lebih partisipan baik Indonesia, Turki maupun partisipan internasional lainnya dinilai sangat sukses meskipun kegiatan tersebut dipersiapkan hanya dalam waktu 1 minggu.  Namun tetap berjalan dengan baik dan dapat memukau seluruh peserta yang hadir.

Pada acara tersebut mahasiswa Indonesia mempersembahkan beberapa penampilan seperti persentasi tentang Indonesia, tari saman, penampilan musik dan penampilan silat yang menambah kekaguman para peserta terlebih masyarakat Turki yang pertama kali dapat menyaksikan penampilan tersebut. Pada acara tersebut juga, selain menunjukkan budaya Indonesia, para pelajar/mahasiswa Indonesia menyajikan makanan khas Indonesia kepada para seluruh peserta.

Kegiatan yang diselenggarakan di Kantor pusat TUGVA, Istanbul tersebut juga, dihadiri oleh Koordinator Asia TUGVA Taha Fehmi. Ia menyampaikan terimakasih kepada para pelajar Indonesia atas terselenggaranyan kegiatan tersebut. Ia juga menyampaikan bahwa pintu TUGVA selalu terbuka untuk teman-teman Indonesia.

“Saya berterimakasih banyak kepada teman-teman Indoensia. Pintu kita selalu terbuka untuk kalian. Kita bersaudara karena Islam. Maka kita akan selalu ada untuk kalian”. Ucap Taha.

Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh wakil ketua umum TUGVA (Turk Youth Foundation) Esra KARABAL ARDA. Selaku wakil ketua umum TUGVA Esra menyampaikan kegembiraanya pada acara tersebut dan juga berterimakasih kepada seluruh pelajar Indonesia Ketika memberi saambutan.

“Saya sangat berterimakasih kepada seluruh pelajar Indonesia. Kalian datang kesini bukan hanya sebagai turis tapi sebagai pelajar yang juga mempelajari budaya kita. saya berharap dalam waktu dekat ini dapat mengunjugi Indonesia ditemani oleh kalian. Sebagai bentuk terimakasih kita, kita selalu ada untuk teman-teman Indonesia dan pintu kita selalu terbuka untuk kalian”. Kata Esra.

“Saya juga berharap kedapannya, TUGVA dapat terus menyelenggarakan kegiatan-kegiatan lainnya Bersama para pelajar/mahasiswa Indonesia sebagai langkah awal kita untuk saling bertukar informasi dan budaya antara Turki dan Indonesia Karena saya melihat potensi yang besar antara Indonesia dan Turki sebagai 2 Negara muslim Terbesar di Dunia”. Tambah Esra.

Acara yang dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan kedua Negara Indonesia dan Turki tersebut sukses diselenggrakan dan diakhiri dengan pemberian cendramata dari PPI Istanbul yang diwakili oleh Bagas (ketua PPI Istanbul 2020/2021) kepada Esra KARABAL ARDA (wakil ketua umum TUGVA).

Acara yang meriah tersebut dilanjut ramah tamah dengan jamuan makanan Indonesia yang dibuat oleh tangan para pelajar/mahasiswa itu sendiri. Untuk memerpesembahkan citra rasa Indonesia kepada masyarakat Turki. Tentunya program tersebut juga didukung oleh para donatur dermawan yang memiiliki visi yang sama dengan para pelajar/mahasiswa yaitu mengenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat luar.

Foto bersama Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir dan Jajaran bersama dengan Koordinator PPI Dunia Cendikia Apik 2021-2022, Faruq Ibnul Haqi.

Jakarta - Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia  berkolaborasi dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Forum Human Capital Indonesia (FHCI) meluncurkan program Indonesia Global Talent Internship (IGTI) 2021. Program ini merupakan bentuk inisiatif kolaborasi dan pintu gerbang bagi para pelajar Indonesia di luar negeri khususnya yang sedang menempuh S2 dan S3 untuk berkesempatan berkontribusi langsung di 44 proyek strategis yang tersebar di 7 perusahaan BUMN.

“Mewakili seluruh pelajar Indonesia di luar negeri sangat mengapresiasi Kementerian BUMN yang telah mendengarkan aspirasi para pelajar untuk diberikan kesempatan magang di perusahaan BUMN,” ujar Faruq Ibnul Haqi selaku Koordinator PPI Dunia periode 2021/2022 dalam pidato sambutannya.

“PPI Dunia pada periode ini juga berfokus pada Human Capital Development yang nantinya diharapkan turut serta dalam pembangunan bangsa melalui Kementerian BUMN,” jelas Faruq.

“Program IGTI ini adalah yang pertama kali dalam sejarah PPI Dunia. Ini adalah wujud kerjasama pentahelix antara PPI Dunia dengan Kementerian BUMN untuk memaksimalkan talenta-talenta muda yang ada di luar negeri untuk turut serta dalam membangun bangsa” ujar Kandidat Doktor dari University of South Australia, Adelaide.

Koordinator PPI Dunia ke-11 ini juga menambahkan bahwa program IGTI ini sebagai wujud link and match potensi pengembangan riset di luar negeri agar bisa dikontribusikan bagi Indonesia dalam rangka membersamai Indonesia Emas 2045.

Menteri BUMN Erick Thohir juga mengajak para pelajar di mancangera untu mengambil kesempatan emas ini. “Semoga dengan program ini, dapat meningkatkan minat para pelajar Indonesia di luar negeri untuk kembali dan berkontribusi ke Indonesia setelah menyelesaikan studinya,” ungkap Erick.

“Saya menyambut baik program ini, karena program ini sangat baik dan relevan karena perlu kita sadari, bahwa disrupsi yang sekarang ini terjadi disebabkan oleh digitalisasi dan anak muda. Ibarat kita ingin menang perang, kita harus memiliki tim yang mengerti apa yang kita hadapi. Inilah pentingnya keberpihakan untuk memberikan kesempatan kepada kepemimpinan muda,” ujar Menteri BUMN, Erick Thohir.

Erick Thohir juga menambahkan, ada dua hal yang krusial yaitu optimisme yang luar biasa dan kegundahan pada generasi muda. Oleh karena itu diperlukan kapabilitas, bekerja dengan sungguh-sungguh dan terus belajar. Dengan bonus demografi mengingatkan BUMN untuk terus berkembang dan melakukan tranformasi serta menyiapkan future leadership dan melakukan perbaikan distrupsi, ungkap Erick Thohir.

Erick Thohir menegaskan diakhir keynote-nya, agar program ini berlanjut dan berkesinambungan agar kita tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh negara-negara di Amerika Latin, yang lupa berinvestasi ada anak muda dan research and development. Selain itu, juga lupa merubah business model untuk menghadapi distrupsi.

Forum Human Capital Indonesia (FHCI) sebagai mitra Kementrian BUMN juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada Kementrian BUMN dan PPI Dunia. “Momentum ini merupakan kesempatan untuk memperluas pengalaman berkarya dan mengenal budaya lingkungan kerja di BUMN dengan talenta global yang dimiliki oleh para pelajar Indonesia di luar negeri.” ujar Alexandra Askandar selaku Ketua Umum FHCI.

Selain itu, perwakilan dari PPI Negara dan PPI Dunia Kawasan pun telah berbincang langsung dengan Ketua FHCI dan Deputi BUMN mengenai tanggapan para pelajar mengenai program ini. “Para pelajar Indonesia di Taiwan sangat mengapresiasi program ini dan menunjukkan ketertarikan yang luar biasa untuk berkontribusi langsung dalam perusahaan BUMN sesuai dengan displin ilmu yang dimiliki,” jelas Adi perwakilan dari PPI Dunia Kawasan Asia-Oseania.

Di akhir acara, perwakilan dari beberapa perusahaan BUMN melakukan mentoring dan menjelaskan beberapa proyek dan bidang ilmu yang dibutuhkan agar para pelajar Indonesia luar negeri yang tertarik mengikuti program ini dapat memilih proyek dan riset yang sesuai dengan bidang ilmu yang dimiliki dan kebutuhan perusahaan BUMN saat ini. Adapun 7 perusahaan tersebut adalah PT Pertamina, PT Telkom Indonesia, PT PLN, PT Biofarma, PT Bank Tabungan Negara, PT Perkebunan Nusantara III, dan MIND ID.

Oleh: Ahsana Nur Amalia, Kepala Sub-Bidang Redaktur Berita Kegiatan PPI Dunia

Penandatanganan MoU IGTI antara Kementerian BUMN RI dan PPI Dunia.

Ankara, Turki – Senin, 6 Desember 2021 PPI Turki memerhatikan intensitas kunjungan kerja anggota DPR RI ke Republik Turki begitu tinggi. Saat ini, PPI Turki terus berupaya mencari informasi mengenai jadwal dan agenda kunjungan komisi DPR RI tersebut.

Berkaitan dengan kunjungan kerja DPR RI ini, PPI Turki memiliki dua sudut pandang. Pertama, agenda kunjungan kerja ini menjadi kesempatan bagi pelajar Indonesia di Turki untuk menyampaikan aspirasi dan inisiasi kerja sama strategis demi kebaikan Indonesia, termasuk pelajar Indonesia di Turki.

Kedua, PPI Turki melihat kesempatan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap DPR RI melalui agenda kunjungan kerja ini. Hal tersebut akan terwujud apabila komisi DPR RI lebih transparan memberi informasi yang berkaitan dengan pencapaian selepas kunjungan kerja terlaksana sebagai bentuk akuntabilitas DPR RI. Apabila anggota DPR RI tidak mampu memberikan kejelasan informasi, dikhawatirkan timbul pertanyaan dan asumsi negatif dari masyarakat Indonesia.  

Dalam rangka mendukung inisiasi kerja sama, PPI Turki akan berusaha dalam menyiapkan sumber daya manusia dan infrastruktur pendukung demi terlaksananya pertemuan antara pelajar Indonesia di Turki dengan anggota DPR RI. Pertemuan semacam ini menjadi momentum berharga sekaligus sebuah kehormatan bagi para diaspora pelajar Indonesia karena dapat berbicara langsung dengan anggota DPR RI.

Di sisi lain, alangkah lebih baik jika komisi DPR RI memberikan informasi terlebih dahulu mengenai jadwal, maksud dan tujuan utama dari setiap kunjungan kerja ke Republik Turki melalui media informasi resmi DPR RI. Informasi tersebut diperlukan sebab menjadi bukti profesionalitas anggota DPR RI. Lebih lagi, sebagai kesempatan sosialisasi kepada masyarakat Indonesia, baik di dalam negeri maupun masyarakat Indonesia yang tinggal di Republik Turki. Masyarakat dapat memberikan kontrol atas setiap agenda kunjungan dan mampu mengukur kinerja serta tingkat kemanfaatan dari agenda kunjungan kerja anggota DPR RI tersebut.

Kami harap, press release yang dipublikasikan oleh PPI Turki ini menjadi pembuka jalan bagi pelajar Indonesia di Turki dalam menyampaikan aspirasi. Selain itu, diharapkan agenda kunjungan kerja DPR RI ke Turki menjadi lebih optimal, bermanfaat, transparan, terukur, dan berdampak konkrit kepada masyarakat Indonesia. Begitu pun sebaliknya, semoga tulisan ini dapat mengawal para anggota DPR RI untuk dapat memberikan kinerja konstruktif dan efek positif bagi Indonesia.

Penulis; Hilmy Prilliadi

Editor; Hilda Farida, Naufa Hanif.

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920