Categories
Berita Festival Luar Negeri

FELARI x UIN Syarif Hidayatullah Adakan Scholarship Expo

Pertama kali diselenggarakan, 7 Oktober 2019, Scholarship Expo FELARI PPI Dunia masa kepengurusan PPI Dunia 2019-2020. Bekerja sama dengan UIN Syarif Hidayatullah Expo diadakan di Aula Student Center Kampus I UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Acara ini dirancang dengan menggunakan dua format acara yaitu, Scholarship Information Stan dan Scholarship Talkshow.

Scholarship Information Stand merupakan jajaran stan yang difungsikan untuk konsultasi studi; baik studi di dalam maupun luar negeri. Pada stan, pengunjung bisa mendapatkan informasi terkait kebeasiswaan oleh beberapa lembaga, seperti: Beasiswa Monbukagakusho – Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia, Indonesian Youth for SDGs and Asian Pacific Youth Exchange, Persatuan Pelajar Indonesia sedunia (delegasi Mesir), AIESEC in South Tangerang, Beasiswa Bank Indonesia, Aspectama Alam Sutera, Beasiswa Unggulan Kemendikbud, Beasiswa Karya Salemba Empat, Kedubes Malaysia, Social Trust Fund UIN Jakarta, Pusat Layanan Kerjasama Internasional UIN Jakarta, Awardee LPDP UIN Jakarta dan Beasiswa Bidikmisi.

Sedangkan Scholarship Talkshow adalah sebuah talkshow yang membahas serba-serbi beasiswa. Penyelengara kegiatan mengundang beberapa awardee untuk berbagi pengalamannya meraih beasiswa seperti Ahmad Suhaimi – Lurah Awardee LPDP UIN Jakarta dan Intan Qomariah – APYE Phillipines Partnership Coordinator untuk berbicara seputar beasiswa. Talkshow tersebut dimoderatori Dewi Ghitsatul Hisan, penerima beasiswa KSE (Karya Salemba Empat).

Hadirnya Scholarship Expo di kampus-kampus bertujuan untuk memudahkan mahasiswa mendapatkan informasi kebeasiswaan, juga diselenggarakan dengan harapan dapat memotivasi teman-teman mahasiswa agar lebih bersemangat mencari ilmu di tempat terbaik demi Indonesia lebih baik.

Scholarship Talkshow

Scholarship Information Stan

Sesi tanya jawab peserta Scholarship talkshow

Artikel ini ditulis oleh Nuansa Garini (PPMI Mesir)
Koordinator Mass Media PPI Dunia 2019-2020

Ingin bekerja sama membuat Edufair atau mengikutsertakan delegasi narasumber dari PPI Dunia?
Informasi dapat dilihat di https://ppi.id/divisi-festival-luar-negeri-felari/

Categories
Berita Festival Luar Negeri

Pesan-Pesan Asyik dari Wiraraja Edufair, Sumenep

Hingar binger pameran pendidikan dan informasi beasiswa tidak hanya dinikmati oleh mahasiswa di Pulau Jawa.  Wiraraja Edufair yang  diselenggarakan 20 Desember  2018 oleh Universitas Wiraraja, Sumenep, (Madura), mendapat sambutan hangat dari peserta dan narasumber pengisi materi.  Berbeda dengan lliputan-liputan sebelumnya, pada kesempatan ini tim Media Felari PPI Dunia  melakukan wawancara secara khusus terhadap dua pemateri yang sangat bersemangat dan menginspirasi.  Berikut bincang-bincang menarik dengan dua narasumber Wiraraja Edufair 2019 , Dodik Pranata Wijaya (Michigan State University College of Law) dan  Rafid Mahful (Kyushu University)

Apa yang membuat anda bersedia  menjadi narasumber dalam kegiatan   Wiraraja job and edufair talkshow , dan materi apa yang dibawakan?

Rafid : Sharing, karena melihat anak-anak muda bersemangat untuk mengejar mimpinya merupakan charge tersendiri bagi saya. Saya membawakan materi tentang “how to study in Japan” dan scholarship apa saja yg ditawarkan

Dodik : Karena saya menanggap ini sangat menarik dan memberikan manfaat besar. Mengingat kegiatannya membicarakan seluruh beasiswa dunia. Tidak berkutat pada beasiswa tertentu yang easy-listening. Saya membahas beasiswa yg ada di amerika serikat.

Bolehkan diceritakan  keseruan  pada saat acara?

Rafid : Ini merupakan acara pertama yang saya hadiri. Kebetulan buat berdampingan dengan jobfair, sehingga ada tantangan tersendiri bagi pemateri untuk mendapatkan fokus peserta. Kedua, karena bersamaan dengan jobfair maka peserta berasal dari dalam dan  luar pulau madura. Ketiga, perbedaan usia antar peserta juga unik, peserta rata-rata mahasiswa baru dan dosen Universitas Wiraraja

Dodik:  Disaat acara, ada beberapa hal yang menarik diantaranya. Menampikan seni tari khas Madura “muang sangkal”, yang artinya buang hal buruk, dan pertanyaan yang menggelitik dari peserta, contohnya apakah S2 akan menjamin pekerjaan yang baik setelah selesai?

Menurut anda, seberapa seringkah kegiatan seminar perndidikan seperti ini perlu dilakukan?

Rafid : Sangat perlu. Terutama di daerah-daerah  yang sulit mendapatkan informasi. Saya pun sedang memikirkan rencana untuk menjembatani hal ini. Semoga bisa bekerjasama dengan PPI Dunia dalam merealisasikannya

Dodik: Menurut saya, masih banyak di pelosok negeri ini yang belum mempercayai bahwa kuliah itu bisa gratis bahkan bisa mandiri. Maka  seminar, webinar dan workshop beasiswa harus sering diselenggarakan di beberapa pelosok desa.

Menurut anda, kualitas  diri seperti apa yang perlu dimiliki setiap pejuang beasiswa?

Rafid : Pantang Menyerah! Lahir di daerah paling timur Indonesia, saya mengejar ketertinggalan bahasa hingga 2 tahun, melewatkan kesempatan-kesempatan dalam berkarir dengan perusahaan ternama. Saya rasa semua itu tidak bisa saya lalui kalau tidak mempunyai semangat pantang menyerah

Dodik:  Yang dibutuhkan scholarship hunter hanya satu, “Endurance” .

Apa yang pertama kali anda rasakan (pikirkan) ketika dinyatakan bahwa anda lulus beasiswa?

Rafid : Ketika lulus beasiswa LPDP, hal pertama yang saya pikirkan adalah janji saya terhadap interviewers yaitu membagikan setiap pengalaman berharga untuk menyemangati anak-anak muda Indonesia. Janji itulah yang membuat saya selalu memantaskan diri selama studi untuk memberikan yg terbaik.

Dodik : Sangat bersyukur menjadi salah satu pemuda indonesia yang berkesempatan untuk melanjutkan studi ke Amerika Serikat.

Pernahkan anda mengalami kegagalan dalam proses selekesi beasiswa dan bagaimana menghadapi kegagalan tersebut?

Rafid : Alhamdulillah sering! dan selalu pada tahap awal. Saya percaya ketika gagal, berarti saya belum mempersiapkan yang terbaik. Maka, ketika saya mencoba lagi, saya akan berusaha memberi kualitas yang lebih baik

Dodik: Alhmduillah saya mendaftar sekali langsung dapat. Tetapi jika kegagalan, setiap manusia pasti memiliki, seperti saat ekonomi yang sangat sulit, saya tidak bisa langsung S1 bahkan saat setelah saya nganggur saya harus tidur di halte pertigaan kampus di Universitas Trunojoyo Madura, kampus S1 saya. Karena pada waktu itu uang saya tidak cukup untuk sewa kos-kosan.

Endurance seperti yang saya sampaikan, memaknai setiap permasalahan sebagai fase kehidupan yang memang harus dijalani. Karena bagi saya, apa yang saya perjuangkan masih sangat kecil dibandingkan bagaimana orang tua saya membesarkan saya hingga saya dititik ini.

Apa pesan anda terhadap teman-teman yang pernah gagal dalam proses seleksi aplikasi beasiswa?

Rafid : Semua orang di dunia ini pasti punya jatah gagal dan sukses. Maka segeralah menghabiskan masa gagalmu, dan jangan menyerah hingga kau dapatkan jatah kesuksesanmu

Dodik:  Jangan pernah menyerah untuk mengakses semua beasiswa, jika anda gagal di LPDP mungkin saja rejeki anda di Fullbrigth, jika anda gagal di Fullbright, mungkin saja di USAID atau bisa saja di AAS atau Erasmus mundus. Karena saya yakin, siapapun dia, yang benar-benar ingin mencari ilmu, maka semua pintu rizki langit akan terbuka.

Pengalaman paling menarik apa selama menempuh Pendidikan dan hidup di luar negeri?

Rafid : Banyak sekali. Networking  lebih luas, experience yang luar biasa, serta cara bertahan hidup yang berbeda. Namun paling penting adalah rasa cinta tanah air semakin meningkat

Dodik : saat bagaimana saya struggling dengan sistem pendidikan hukum di USA yang amat sangat berbeda dengan Indonesia. Bagaimana bisa membagi waktu kepada istri saya yang sedang hamil tuahingga proses melahirkan anak saya yang saat itu kami tidak didampingi keluarga dan semua itu saya lakukan sambil bekerja

Sungguh fase hidup yang mendewasakan saya saat belajar di Amerika Serikat, dan jika ada orang bertanya jika ingin S3, negara mana lagi yang akan menjadi pilihan? Saya akan jawab Amerika Serikat.

Terakhir, apa harapan anda terhadap para peserta yang tadi mengikuti acara?

Rafid : Saya berharap dengan kedatangan saya, saya bisa memberi semangat, memberikan secercah harapan bahwa semua orang mempunyai peluang yang sama. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan peluang itu.

Dodik:  Harapan kami bahwa akan ada banyak lagi mahasiswa Madura yang dengan mudah mengakses beasiswa baik dalam mapun luar negeri. Meruntuhkan stigma bahwa sekolah membutuhkan biaya berlebih.

Categories
Festival Luar Negeri PPI Dunia

Menaklukkan Batasan Diri Melalui EDUFAIR ITB 2018

Education comes from within, you get it by struggle, effort and thought- Napoleon Hill

Untuk meraih impian melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri, kita kerap dihadapkan pada berbagai hambatan baik yang bersifat internal maupun eksternal. Hambatan eksternal berupa kurangnya informasi mengenai universitas yang tepat serta beasiswa yang ditawarkan dapat disiasati dengan rajin mengikuti pameran beasiswa yang saat ini banyak diselenggarakan di kampus-kampus di Indonesia. Hambatan internal berupa batasan diri merupakan salah satu masalah yang harus dipecahkan oleh para pemburu beasiswa sebelum akhirnya memutuskan untuk berjuang menggapai mimpinya. Sebagai jawaban atas tantangan yang dihadapi para mahasiswa dalam proses menggapai masa depan, Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung ITB menyelenggarakan EDUFAIR ITB 2018.

Mengusung tema “Broaden Your Horizon”, EDUFAIR ITB 2018 bertujuan untuk membuka wawasan peserta dalam membidik peluang untuk melanjutkan studi ke luar negeri, sekaligus sebagai wadah penghubung mahasiswa ITB dan alumni dengan lembaga yang berkaitan dengan studi lanjutan. EDUFAIR ITB 2018 yang sukses diselenggarakan pada Jumat 30 November 2018 ini juga menjadi pusat aktivitas bagi seluruh mahasiswa ITB dan alumni untuk memperoleh informasi studi lanjutan dari narasumber yang kompeten dibidangnya, mengembangkan softskill melalui lokakarya, serta mendapatkan jaringan studi lanjutan dari lembaga terkait.

Suasana seminar beasiswa EDUFAIR ITB 2018

PPI Dunia tak ketinggalan dalam semangat dan kemeriahan gelaran EDUFAIR ITB 2018 dengan mengirimkan delegasinya yaitu Adis yang merupakan alumni Tohoku Univ. Graduate School of Medicine, Japan 2015-2017 dengan beasiswa LPDP. Menurut Adis, meskipun sumber informasi sudah tersedia banyak di internet, minat generasi muda menghadiri acara seminar pendidikan, pameran beasiswa tetap tinggi karena mereka ingin mendengar langsung dari yang sudah mengalami (alumni kampus, alumni beasiswa), sehingga informasi yang didapat lebih mendetail. Adis yang membawakan materi dengan topik “How to be diaspora” ini juga menjelaskan bahwa topik pembicaraan mengenai studi di luar negeri telah banyak dibahas namun belum banyak yang membahas kehidupan seluk beluk perkuliahan di luar negeri seperti pergaulan, cara adaptasi, serta mengelola stress saat studi. “Berawal dari masalah tersebut, saya ingin berbagi bukan hanya tentang mencari beasiswa, tapi juga tentang kehidupan sebagai diaspora di lingkungan perkuliahan juga di lingkungan masyarakat lokal” ungkapnya.

Delegasi PPID, adis dan narasumber lain sedang menerima piagam

Melanjutkan berbagi cerita, Adis memberikan tips untuk sukses dalam perkuliahan di luar negeri. “Kita harus mempunyai niat yang tulus untuk belajar dan berusaha menggali ilmu, bukan hanya di dunia akademik, namun juga pengetahuan baru yang kita dapatkan di luar kampus, serta di kehidupan sehari-hari saat berbaur dalam masyarakat.” Ia pun menambahkan bahwa persiapan fisik dan mental juga sangat penting. Jauh dari orang tua, keluarga dan lagi tugas kuliah, serta aktivitas yang padat kadang membuat kita lupa menjaga kesehatan. “Ini yang tidak boleh terjadi. Kuliah belum tentu selalu lancar, namanya kehidupan, pasti ada saat kita di atas, ada saat kita di bawah. Bisa jadi kita tertekan atau ada masalah dalam perkuliahan, kesiapan mental penting untuk menghadapi hal-hal tidak terduga seperti ini”.

Peserta EDUFAIR ITB 2018 antusias bertanya

Antusiasme peserta dalam kegiatan EDUFAIR ITB 2018 terekam dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan baik kepada narasumber seminar maupun kepada instansi universitas dan lembaga penyedia beasiswa yang turut meramaikan kegiatan pameran pendidikan ini. Berani bertanya dan menggali informasi mengenai jurusan dan beasiswa yang sesuai dengan kebutuhan merupakan awal dari cara menaklukkan batasan diri yang ada. Mengukur kemampuan serta meningkatkan potensi untuk dapat memenuhi persayaratan penerima beasiswa adalah langkah selanjutnya yang harus dilakukan mahasiswa untuk mempersiapkan diri menempuh studi lanjut di luar negeri. Jadi siapkah kalian menaklukkan batasan diri demi pendidikan impian dan masa depan? ***

Keceriaan Peserta, Narasumber dan Panitia berfoto bersama

 

Artikel ini ditulis oleh Margaretta Christita

Tim Media Divisi Festival Luar Negeri PPID 2018/2019

(felari@ppidunia.org)

 

Ingin juga bekerja sama membuat Edufair atau mengikutsertakan delegasi narasumber dari PPI Dunia?

Informasi lebih lanjut dapat dilihat di http://ppidunia.org/divisi-festival-luar-negeri-felari/

 

Categories
Festival Luar Negeri

Hebohnya Arek Malang dalam Parade Beasiswa 2018 Universitas Brawijaya

Salah satu kata kunci yang kerap digunakan mahasiswa dan calon mahasiswa ketika berselancar di dunia maya adalah “beasiswa”. Melanjutkan pendidikan tinggi dengan beasiswa merupakan impian sebagian besar mahasiswa dan calon mahasiswa saat ini. Semakin terbukanya informasi mengenai beasiswa tentunya akan diikuti pula oleh jumlah pendaftar beasiswa. Sebagai konsekuensinya, pemberi beasiswa juga semakin selektif dalam menyeleksi calon penerima beasiswa. Sehingga setiap mahasiswa yang ingin mencoba mendapatkan beasiswa harus memiliki strategi-strategi tertentu agar dapat dinyatakan lolos seleksi penerimaan beasiswa.

Kebutuhan informasi yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan mengenai beasiswa menjadi dasar diselenggarakannya Parade Beasiswa 2018 oleh Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya (EM UB). Parade Beasiswa 2018 diharapkan menjadi wadah kepada seluruh mahasiswa yang ada di Kota Malang dan sekitarnya, khususnya mahasiswa Universitas Brawijaya untuk mendapatkan informasi mengenai beasiswa dalam maupun luar negeri. Tema “Create A Better Future Through Scholarship” dipilih dengan tujuan memberikan informasi terkait beasiswa S1 dan S2 baik dalam negeri maupun luar negeri, mempermudah mahasiswa dalam mengakses prosedur beasiswa, dan melatih mahasiswa dalam ujian bahasa Inggris. Tidak seperti pameran beasiswa pada umumnya, kegiatan yang telah sukses diselenggarakan pada tanggal 24- 25 November 2018 ini juga dirangkai dengan kegiatan tes TOEFL secara langsung. Kegiatan yang diselenggarakan di GOR Pertamina Universitas Brawijaya ini telah sukses menarik minat 925 peserta dari sekitar 1000 pendaftar.

Sesi seminar pada Parade Beasiswa 2018, Universitas Brawijaya (doc. panitia)

Muhammad Rafid Zuhdi, panitia kegiatan Parade Beasiswa 2018 yang berhasil dihubungi tim Media Felari PPI Dunia menuturkan bahwa kegiatan Pameran Beasiswa 2018 dikemas dengan 3 rangkaian acara yang meliputi Tes TOEFL, Seminar Beasiswa dan Expo Beasiswa (S1 dan S2) baik dalam maupun luar negeri. Pemateri yang dihadirkan adalah Tasya Kamila selaku penerima beasiswa LPDP, dan Abdul Jabbar Jawwadurrahman alumni Universitas Brawijaya. Sementara delegasi PPI Dunia, Novi yang adalah anggota PPI Belanda. “Parade Beasiswa 2018 ini merupakan perdana ditahun 2018, dan kemungkinan besar akan terus berlanjut di tahun mendatang melihat antusiasme mahasiswa dalam meraih beasiswa sangatlah besar.” Kata Rafid. Masih menurut Rafid stand PPI Dunia yang dijaga oleh Novi sangat ramai diserbu peserta yang ingin tahu mengenai informasi beasiswa khususnya negara Belanda, dan kehidupan mahasiswa selama menempuh studi di luar negeri.

Novi, delegasi PPID menjawab antusiasme pengunjung di stand PPID (doc PPID)

“Secara keseluruhan kegiatan telah memenuhi target, dan panitia akan memperbaiki beberapa kekurangan untuk kegiatan mendatang”, Rafid menutup bincang-bincang dengan tim Media. Satu hal yang heboh di kegiatan ini adalah secara kebetulan pemateri Tasya Kamila berulang tahun pada hari tersebut sehingga dirayakan oleh peserta di atas panggung. Baiklah selamat berburu beasiswa untuk arek Malang dan selamat ulang tahun, Tasya!***

 

Ingin juga bekerja sama membuat Edufair atau mengikutsertakan delegasi narasumber dari PPI Dunia?

Informasi lebih lanjut dapat dilihat di http://bit.ly/dokumenpartnershipfelari1819 atau segera isi formulirnya di http://bit.ly/kerjabarengfelari.

Artikel ini ditulis oleh Margaretta Christita, Tim Media Divisi Festival Luar Negeri PPID 2018/2019 (felari@ppidunia.org)

Categories
Berita Festival Luar Negeri PPI Dunia

Mengenal Kuliah di Luar Negeri Melalui Scholarship Expo and Workshop UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Berita menarik mengenai informasi pameran beasiswa kali ini datang dari Jakarta. Scholarship Expo dan Workshop yang telah sukses dilaksanakan pada hari Rabu, 17 Oktober 2018 merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Accounting Week 2018 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah. Dengan tema “Accounting Week 2018: Grasp the World with Your Passion into Action”, diharapkan kegiatan ini mampu menciptakan calon akuntan muda yang berkompeten dan berdaya saing dengan meningkatkan kemampuan fundamental dengan merealisasikan passion melalui tindakan yang nyata. Tema ini juga diharapkan dapat mengembangkan karakter masyarakat yang profesional dan berintegritas, serta menambah informasi terbaru tentang dunia akuntansi dan ekonomi yang dibutuhkan oleh calon akuntan. Kegiatan Accounting Week 2018 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini merupakan sebuah rangkaian kegiatan dalam hal pengenalan dan pemantapan dunia akunting meliputi Seminar Nasional, Accounting Fair dan Scholarship Expo and Workshop. Kegiatan Scholarship Expo and Workshop yang dilakukan pada hari terakhir Accounting Week 2018 menjadi salah satu kegiatan yang paling diminati oleh peserta.

Lola, delegasi PPI Dunia menjadi pembicara dalam Scholarship Expo and Workshop

 

Tidak ingin ketinggalan keseruan tersebut, PPI Dunia turut berbagi informasi seluk beluk perjuangan mendapatkan beasiswa sekaligus memberikan informasi mengenai institusi-institusi pendidikan terbaik di luar negeri. Zela Lola Maretha, yang akrab disapa Lola menjadi Delegasi PPI Dunia dengan menjadi pembicara pada kegiatan yang dilaksanakan di Aula Student Centre UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Lola yang selalu antusias untuk mengisi kegiatan pameran beasiswa ini menjelaskan bahwa baginya menjadi narasumber pada scholarship event adalah salah satu bentuk tanggung jawabnya kepada negeri ini untuk mempersiapkan calon-calon pemimpin Indonesia di masa depan. Pada kesempatan ini Lola menjelaskan bahwa persiapan mental adalah hal utama bagi semua mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Kegigihan juga harus selalu ada di dalam diri para pemburu beasiswa, karena berjuang untuk menyelesaikan pendidikan itu lebih berat daripada perjuangan mendapatkan beasiswa.

Perbedaan budaya juga perlu dipertimbangkan, mengingat adat istiadat tiap negara tidak sama. Lola yang saat ini telah bekerja di Jakarta menceritakan pengalaman menariknya pada saat proses adaptasi ketika menempuh pendidikan di Rusia. “Pengalaman paling berkesan adalah pada saat saya berbelanja di sebuah supermarket di Saint Petersburg, Russia. Orang russia terkenal sangat dingin, jarang tersenyum, nada bicara yang tinggi, dan juga not customer oriented. Pada saat saya ingin membayar di kasir dengan uang tunai, kasirnya marah karena dia tidak punya uang kembaliannya. Ini adalah pengalaman pertama saya dimarahin karena kasir tidak punya uang kembalian.”

Delegasi PPI Dunia menerima piagam setelah menjadi pembicara dalam Scholarship Expo and Workshop.

Meskipun menurutnya acara ini tidak banyak berbeda dengan pameran-pameran beasiswa sejenis, tetapi Lola merasa sangat senang dengan antusiasme peserta yang sangat besar. Lola juga menceritakan hal berkesan ketika ia juga bertugas menjadi penjaga stand PPI Dunia pada kesempatan ini. “Semua yang datang ke stand tidak ada satu pun yang tahu apa itu PPI Dunia. Mereka berpikir bahwa PPI Dunia adalah salah satu lembaga penyedia beasiswa, padahal PPI Dunia sudah mengadakan acara besar tahun ini di Jakarta yaitu Sarasehan Nasional yang didatangi lebih dari 1500 orang.”

Meraih dunia dalam genggaman memang bisa kita lakukan dengan berbagai cara, tetapi pendidikan dan profesionalisme merupakan satu cara efektif yang dapat kita persiapkan sejak awal. Pameran pendidikan merupakan salah satu sarana untuk mendapatkan informasi awal akan pendidikan lebih baik. Asa dan niat untuk melanjutkan pendidikan adalah langkah awal yang perlu dijaga dengan semangat dan kegigihan. Jadi siapkah kita meraih dunia dalam genggaman? ***

 

Artikel ini ditulis oleh Margaretta Christita, Tim Media Divisi Festival Luar Negeri PPID 2018/2019 (felari@ppidunia.org)

Categories
Berita Festival Luar Negeri PPI Dunia

Cerita Seru dari 10th European Higher Education Fair (EHEF) 2018 di Jakarta

Eropa memang memiliki magnet tersendiri bagi para pemburu beasiswa dan peminat pendidikan tinggi. Sebagai benua yang tersohor dengan negeri-negeri indah yang telah menjadi tujuan pendidikan sejak masa lampau, Eropa merupakan lokasi bagi berbagai negara yang memegang peran penting dalam sejarah peradaban dunia. Selain menawarkan kualitas pendidikan yang baik, negara-negara di Eropa juga menawarkan atmosfer kenyamanan dalam kehidupan sehari- hari sehingga sangat cocok menjadi tujuan untuk menuntut ilmu. Institusi Pendidikan Tinggi Eropa menawarkan standar akademik yang tinggi, berbagai macam program internasional, fasilitas penelitian lengkap dan modern, serta beragam budaya dan bahasa. Membaca potensi Indonesia dengan populasi penduduk tinggi yang disertai meningkatnya minat generasi muda untuk melanjutkan pendidikan ke Eropa, Komisi dan Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam rutin menggelar kegiatan EHEF Indonesia setiap tahun. EHEF Indonesia merupakan pameran pendidikan Uni Eropa terbesar yang diadakan di Indonesia.

Delegasi PPI Dunia, Tyas, alumni Polandia (jilbab putih) menerima sertifikat (dok.pribadi)

Tahun ini, EHEF Committee and Delegation of the European Union to Indonesia and Brunei Darussalam sukses mengadakan EHEF Indonesia untuk yang ke sepuluh. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Pameran tahun ini dilakukan secara berurutan di tiga kota berbeda yaitu Bandung (8 November 2018), Jakarta (10 dan 11 November 2018) dan Yogyakarta (13 November 2018). EHEF Indonesia tahun ini menghadirkan stand-stand beasiswa dari 15 negara representatif tujuan belajar di Eropa, 120 Institusi pendidikan tinggi di Eropa serta dihadiri oleh lebih dari 25.000 pengunjung pada empat hari pelaksanaan pameran.

Selain sebagai ajang promosi pendidikan tinggi di Eropa, EHEF 2018 juga diharapkan memperkuat hubungan ekonomi dan budaya Uni Eropa di Asia, khususnya di Indonesia, dand memberikan kesempatan untuk perekrutan langsung mahasiswa Indonesia pada berbagai jenjang pendidikan. Melalui pameran pendidikan ini pengunjung juga dapat mencari berbagai informasi terkini seperti serba-serbi kehidupan pelajar di Eropa yang mencakup biaya hidup, biaya perkuliahan dan akomodasi.

PPI Dunia juga turut berpartisipasi dalama kegiatan ini. PPID diwakili oleh Devi Rizal yang merupakan alumni ketua PPI Finlandia. Ia menyempatkan diri berbagi kisah serunya selama menjadi delegasi dalam PPID untuk kegiatan EHEF 2018. Devi Rizal berpendapat bahwa kegiatan pameran pendidikan seperti EHEF 2018 sangat penting karena memberikan akses dan informasi yang sangat mendalam bagi calon mahasiswa yang akan kuliah di luar negeri. “Apalagi pameran yang menghadirkan alumni, hal ini dapat memberikan gambaran yang lebih nyata bagi para calon mahasiswa baru.”, ujarnya. Devi Rizal sendiri merupakan salah satu alumni universitas di Finlandia yang mendapat beasiswa dari pemerintah negara tersebut serta telah menyelesaikan pendidikan di jenjang master untuk  bidang Industrial Management di Metropolis UAS, Finlandia. Pada kesempatan kali ini, ia menceritakan bahwa pengalaman hidup dan kuliah di negeri yang asing memberikan banyak pelajaran berharga dan pengalaman berkesan. “Kita mengalami kultur yang berbeda dengan negara asal kita, sehingga kita butuh adaptasi terhadap hal tersebut. Selain itu disaat kuliah di luar negeri, kita juga berkesempatan menemui berbagai tokoh penting dari tanah air yang sejatinya susah ditemui saat kita di Indonesia.”

Delegasi PPI Dunia, Devi Rizal (kanan), sedang menjaga stand Finland University

Devi Rizal yang pada pameran ini juga menjadi representatif universitas-universitas di Finlandia menceritakan mengapa ia menjatuhkan pilihan pada negara Finlandia untuk melanjutkan pendidikannya. “Kualitas sistem pendidikan Finlandia yang sangat baik dan memberikan kesempatan kepada kita untuk berkembang sesuai dengan passion kita, plus tidak ada tuition fee (biaya perkuliahan).” tuturnya. Pria yang dalam lima tahun terakhir ini fokus dalam penyebaran informasi tentang studi di Finlandia juga memberikan tips untuk dapat menjalani masa perkuliahan dengan sukses, terutama jika memilih untuk melanjutkan pendidikan di Finlandia. “Ikuti selalu arahan profesor karena mereka akan memberikan keleluasaan bagi kita namun juga tetap memberikan arahan terbaik bagi studi kita. Banyak melakukan kerja paruh waktu juga baik untuk mendapatkan networking yang akan berguna saat bekerja setelah lulus”, ungkapnya mengakhiri perbincangan. ***

 

 

Artikel ini ditulis oleh Margaretta Christita, Tim Media Divisi Festival Luar Negeri PPID 2018/2019 (felari@ppidunia.org)

Categories
Festival Luar Negeri PPI Dunia

Berburu Beasiswa Pendidikan Tinggi Melalui Scholarship Fair Pada Ajang “SEMAR LAW FEST 2018”

Education is the most powerful weapon which you can use to change the world. -Nelson Mandela

Berdiskusi mengenai pentingnya pendidikan tinggi memang tidak akan pernah ada habisnya. Keinginan kita sebagai generasi muda untuk mengubah dunia memerlukan modal dan bekal. Pendidikan  merupakan modal utama untuk dapat mengubah dunia, tetapi untuk meraih pendidikan impian tidak semudah yang terlihat. Faktor biaya pendidikan yang sangat tinggi, mengakibatkan banyaknya anak usia sekolah memutuskan untuk tidak melanjutkan kembali pendidikan mereka, dan tidak sedikit yang lebih memilih bekerja daripada bersekolah. Ketika masuk dalam perguruan tinggi persoalannya pun tidak kalah rumit. Mahasiswa ditingkat semester akhir biasanya mulai kebingungan untuk mempersiapkan masa depannya, pilihan untuk melanjutkan studi di jenjang yang lebih tinggi atau langsung bekerja mencari nafkah. Peningkatan gerak sinergis antara lembaga pendidikan, lembaga riset, dan dunia usaha merupakan kunci majunya pendidikan di Indonesia. Pemerintah juga telah berupaya memberikan beasiswa, serta  berbagai kemudahan lainnya. Sangat disayangkan, terkadang informasi pendaftaran, ketentuan dan persyaratan, dan kualifikasi yang harus ditempuh sulit dipahami.

Mencoba menjawab tantangan tersebut Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret 2018 (BEM FH UNS 2018) telah sukses menyelenggarakan Sebelas Maret Law Festival 2018 dengan salah satu aktivitas dalam rangkaian tersebuat adalah Scholarship Fair.  Bertempat di Student Center Universitas Sebelas Maret pada Kamis 1 November 2018, Scholarship Fair bertujuan untuk meningkatkan motivasi mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan memberi pembekalan kepada mahasiswa dalam persiapan sebelum mendaftarkan diri untuk memperoleh beasiswa.

Angger, salah satu delegasi PPI Dunia, tengah berbagi cerita sebagai pembicara

Pada kesempatan ini Tim FELARI berhasil melakukan wawancara terhadap salah seorang narasumber yang sempat berbagi cerita dan motivasi pada acara tersebut. Zela Lola Maretha merupakan peraih gelar Master in Management, Saint Petersburg State University,Russia dengan beasiswa pemerintah Rusia. Lola menuturkan bahwa ia turut bersemangat dengan antusiasme para peserta yang tidak hentinya menanyakan pertanyaan, meski terkadang harus mengulang jawaban kepada orang-orang yang berbeda. Baginya menyebarkan informasi-informasi yang mungkin belum diketahui peserta merupakan kewajiban yang menyenangkan. “Seorang senior saya pernah berkata bahwa siapa yang keluar dari zona nyaman, maka dia akan mendapatkan hal lebih. Inilah yang selalu terngiang di telinga saya sampai sekarang dan membuat saya ingin sekali kuliah di luar negeri.” tuturnya memulai perbincangan. Berawal dari semangat tersebut, Lola mendaftarkan diri untuk meraih Russian Government Scholarship, dan ia sangat bersyukur karena langsung sukses pada pengalaman pertamanya mendaftarkan beasiswa ke luar negeri. Lola juga berpesan bagi yang menginginkan kuliah di luar negeri, bahwa untuk dapat mewujudkan mimpi kita mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Sementara bagi yang masih pada tahap memikirkan akan kuliah di luar negeri, ia berpesan bahwa kuliah keluar negeri merupakan pilihan yang patut untuk dicoba karena hidup hanya sekali, sedangkan dunia sangat luas dan menarik untuk di explore. “Jangan menyerah dan percayalah proses tidak pernah menghianati hasil” ujar Lola mengakhiri berbagi cerita.

Delegasi PPI Dunia ikut meramaikan kegiatan dengan menjaga stand informasi beasiswa

Untuk memfasilitasi mahasiswa agar lebih mudah mendapatkan informasi mengenai beasiswa pendidikan scholarship fair juga menghadirkan stand-stand beasiswa, sehingga mahasiswa dapat bertanya langsung dan mendapatkan informasi yang lebih akurat. Uniknya selain menghadirkan 15 stand penyedia beasiswa dari dalam dan luar negeri, Scholarship Fair juga menghadirkan 5 stand bimbingan belajar, 20 stand perusahaan, serta 6 stand makanan dan minuman untuk memeriahkan suasana. Jadi siapkah kita mengubah dunia dengan meraih pendidikan terbaik?***

Margaretta Christita

Tim Media Divisi Festival Luar Negeri PPID 2018/2019

felari@ppidunia.org

Categories
Asia dan Oseania Berita Eropa dan Amerika Festival Luar Negeri PPI Dunia Timur Tengah dan Afrika

Membedah Persiapan Kuliah Ke Luar Negeri dan Perkenalan PPI Dunia melalui Scholarship Club

“Kita tidak bisa menyiapkan masa depan untuk generasi muda, yang bisa kita siapkan adalah generasi muda untuk masa depan” -Franklin Delano Roosevelt

Terinspirasi dari kutipan bijak F.D. Roosevelt tersebut, Akademi Berbagi Solo berhasil bekerjasama dengan Felari PPI Dunia dalam menggelar acara Scholarship Club pada hari Jumat, 12 Oktober 2018 di Solo, Jawa Tengah.

Kesadaran generasi muda untuk mempersiapkan masa depan yang cemerlang dengan memilih melanjutkan pendidikan di luar negeri serta semakin ketatnya kompetisi dalam mendapatkan beasiswa menjadi fokus utama dalam kegiatan ini. Dan pada faktanya, meningkatnya keinginan generasi muda Solo kini untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri kerap menghadapi  kendala seperti ketidaktahuan tentang informasi beasiswa yang sesuai, kendala bahasa, serta kendala dana dalam mempersiapkan persyaratan beasiswa. Begitupula kurangnya teman dan kenalan yang bisa memotivasi dan membantu dalam pengoreksian persyaratan beasiswa mereka, juga termasuk kebingungan dalam menentukan langkah-langkah apa saja yang harus diambil untuk mendapatkan beasiswa dan permasalahan-permasalahan lainnya.

Informasi tentang beasiswa dipaparkan lewat presentasi

Selain membedah secara rinci persiapan dan langkah-langkah apa saja yang dibutuhkan untuk mengejar beasiswa kuliah di luar negeri, acara ini juga menjadi ajang perkenalan tentang PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Dunia. Mengingatkan kembali bahwa berorganisasi, berkumpul dengan sahabat se-tanah air merupakan hal positif yang menjadi kebutuhan bagi pelajar Indonesia di luar negeri. Apalagi sangat bermanfaat dalam membuka jejaring intelektual, dan terlebih berkolaborasi untuk tanah air merupakan salah satu kegiatan positif yang perlu dilakukan pelajar Indonesia di luar negeri, sehingga menjadikan PPI Dunia wadah yang tepat untuk mewujudkan hal tersebut.

Peserta Scholarship Club menyimak dengan antusias

Tak hanya memilih tempat yang sangat strategis, yaitu di Playground Café Manahan Solo, Scholarship Club juga memilih untuk menghadirkan narasumber yang sangat tepat, ia adalah Devi Afriyantari Puspa Putri yang telah sukses mendapatkan beasiswa LPDP untuk melanjutkan pendidikan di University of Manchester, Inggris.

Pada sesi pemaparan materi selama 60 menit, Devi menjelaskan beragam cara mendapatkan informasi beasiswa, tahap pendaftaran dan melengkapi semua persyaratan aplikasi beasiswa hingga bercerita suka-duka hidup dan belajar di Inggris. “Ketika dinyatakan lolos beasiswa, saya merasa terharu dan senang. Campur aduk! Dan tentu saja sangat bersyukur,” ujar Devi.

Apalagi tidak dapat dipungkiri bahwa pada awalnya kendala bahasa dalam bersosialisasi sehari-hari dan kehidupan perkuliahan di luar negeri menjadi salah satu tantangan yang harus dipecahkan. “Tugas kuliah yang banyak dan menumpuk terkadang membuat saya harus menginap di kampus untuk menyelesaikannya,” kenang Devi.

Narasumber pun makin bersemangat ketika sesi diskusi dan tanya jawab selama 30 menit tiba, dan sesi ini tampaknya benar-benar dimanfaatkan oleh peserta untuk mengungkap semua rahasia narasumber untuk studi lanjut.

Devi, Pembicara pada acara Scholaship Club

Hal menarik dalam Scholarship Club adalah semua kegiatan yang dilakukan bersifat volunteering atau sukarela yang bersifat non-profit, tentu saja keikhlasan dan semangat berbagi menjadi salah satu bukti keinginan kuat teman- teman untuk bersama membantu mempersiapkan generasi muda untuk masa depan. Kegiatan bermanfaat ini direncanakan dapat dilakukan secara rutin dan bertahap termasuk pelatihan dan workshop terkait pembuatan CVCurriculum vitae (daftar riwayat hidup), esai, rencana studi dan surat motivasi. Jadi kita tunggu saja! ***

 

Margaretta Christita

Tim Media Divisi Festival Luar Negeri PPID 2018/2019

felari@ppidunia.org

Categories
Berita Festival Luar Negeri PPI Dunia PPI Negara

Felari PPI Dunia: 700 Peserta Antusias Mengikuti Seminar Beasiswa Pendidikan Internasional di UINSA Surabaya

Mengambil tema “Be a Successful World-Wide Minded with Scholarship for Better Future”, seminar mengenai beasiswa pendidikan internasional sukses diselenggarakan di kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Seminar yang mengambil tempat di Gedung Auditorium UIN Sunan Ampel Surabaya pada hari Minggu 30 September 2018 ini dihadiri oleh 700 peserta yang merupakan mahasiswa dari beberapa universitas di Surabaya. Menurut penuturan panitia, tujuan dari kegiatan Seminar International Scholarship kali ini adalah untuk berbagi informasi seputar jenis-jenis beasiswa di luar negeri dan syarat-syarat untuk melanjutkan pendidikan diluar negeri menggunakan beasiswa, serta memberikan wawasan mengenai pentingnya melanjutkan  pendidikan di luar negeri untuk masa depan yang lebih baik.

 


Melanjutkan pendidikan di luar negeri tentu saja membutuhkan bekal dan informasi yang cukup, hal inilah yang menjadi fokus kegiatan seminar Pendidikan Internasional. Melalui seminar ini peserta diajak untuk lebih memahami kehidupan maupun kultur pendidikan para penerima beasiswa di luar negeri. Narasumber yang telah lebih dulu meraih impian untuk kuliah di luar negeri dengan beasiswa memberikan beberapa rahasia, tips dan tricks untuk dapat mengikuti jejak kesuksesan mereka. Pada kesempatan kali ini, Eddwi Hesky Hasdeo, alumni PPI Jepang, mengisi acara sebagai pembicara mewakili PPI Dunia. Kemudian, Dewi Mutiara Sari (Tiara) dan Muhammad Junaidi (Jun), keduanya alumni PPI Italia, mengisi acara sebagai penjaga stand PPI Dunia.

 

Eddwi Hesky Hasdeo, alumni Tohoku University Japan atau akrab disapa Mas Hesky menuturkan bahwa mendapatkan beasiswa adalah pengalaman yang mengubah hidup. “Saya masih mengingat bagaimana saya melompat kegirangan saat saya diterima sebagai awardee Monbusho untuk studi S2 dan S3. Sejak momen itu, kesempatan besar saya untuk menjadi peneliti berkelas dunia terbuka lebar. Saya mau membagikan itu kepada anak-anak muda supaya mereka juga bersemangat dalam belajar dan mencapai cita-cita yang mereka impikan. Meraih beasiswa atau sekolah tinggi bukanlah penentu kesuksesan, tetapi semangat untuk mau terus belajar adalah kuncinya.” Hesky mengawali kisahnya. Lebih lanjut Hesky yang kerap menjadi narasumber dalam seminar-seminar beasiswa berharap agar nantinya para peserta dapat pula menjadi narasumber untuk berbagi cerita inspiratif dan semangat kepada generasi selanjutnya. Antusiasme peserta tampak jelas pada saat sesi diskusi dengan narasumber dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan peserta, antara lain cara-cara memenuhi persyaratan beasiswa, tips sukses mengikuti seleksi beasiswa hingga tips untuk bertahan hidup di luar negeri sebagai mahasiswa.

Tidak hanya menghadirkan narasumber yang berkualitas, seminar ini juga menampilkan pertunjukan seni oleh mahasiswa baru. Keterlibatan mahasiswa baru dalam kegiatan seminar yang kerap kali hanya menarik bagi mahasiswa akhir sangat perlu diapresiasi. Melalui keterlibatannya, para mahasiswa baru dapat membuka wawasan dan lebih awal menyiapkan persyaratan yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas mereka di masa yang akan datang, salah satunya untuk meraih beasiswa Pendidikan di luar negeri***.

Margaretta Christita

Tim Media Divisi Festival Luar Negeri PPID 2018/2019

felari@ppidunia.org

Categories
Asia dan Oseania Berita Eropa dan Amerika Festival Luar Negeri Inspirasi Dunia PPI Dunia PPI Negara Tentang PPI Dunia Timur Tengah dan Afrika Wawasan Dunia

Karya Apik Buku Perantau PPI Dunia Siap Membantu Pelajar Indonesia Meraih Masa Depan Bangsa

Jakarta – Sabtu, 8 September 2018, PPI Dunia berhasil menerbitkan 3 buah buku refleksi dan informasi mengenai studi dan pengalaman Pelajar Indonesia di luar negeri dengan judul “Perantau Ilmu” dari tiga kawasan Benua di Dunia yaitu Asia-Oseania, Timur-Tengah-Afrika, dan Amerika-Eropa pada acara Launching Buku “Perantau Ilmu” di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta.
Acara tersebut sukses menghadirkan berbagai pembicara yang sekaligus mereka juga sebagai penulis yang turut memberikan kisah dan pengalaman apiknya dalam studi dan berkehidupan di luar negeri. Diantara seperti I Dewa Made Frendika yang sedang menempuh Doktoral di Sorbonne Université, Perancis, Hatta Himawan yang sedang menempuh jenjang Master di TU Eindhoven, Belanda, Adi Hersuni yang sedang menempuh pendidikannya University of Birmingham, UK, Fadjar Mulya yang sedang menempuh Masternya di Chulalongkorn University, Bangkok, dan lain- lain.
Hatta Himawan yang merupakan Wakil 2 Biro Pers PPI Dunia 2016-2017 ini ialah Ketua dari inisiasi penerbitan 3 buku Perantau ini. Ia berpesan bahwa dari terbitnya buku tersebut agar bisa memberikan semangat kepada Pelajar lokal di Indonesia untuk terus berusaha semaksimal mungkin menggapai cita-citanya untuk studi di Luar Negeri. “Kuliah ke luar negeri tidaklah mudah dan gak akan pernah mudah. Tetapi kata menyerah bukanlah jawabannya. Jadi kita ingin memberikan informasi, bahwa kuliah di luar negeri pasti banyak tantangannya, mulai dari mencapainya, melaluinya, hingga pulang ke indonesia. Tidak pernah ada jalan mudah intinya, tetapi yang selalu menjadi pembeda adalah kata tidak menyerah.”
Selain itu Ia juga menjelaskan mental utama dari pembaca untuk bisa studi ke luar negeri yaitu jangan takut gagal. “yang kita ingin ceritakan disini adalah gagal itu adalah hal yg biasa, jadi tak perlu berkeluh kesah, yang terpenting adalah kembali berdiri untuk bisa lagi berlari menggapainya”. Papar Pria asal Surabaya yang sedang menempuh Master Innovation Management, TU Eindhoven, Belanda ini.
Sambutan Apik pun belum padam, Fadjar Mulya selaku Koordinator PPI Dunia 2018-2019 sangat mengapresiasi dan berterima-kasih kepada kawan-kawan Demisioner Pengurus PPI Dunia sebelumnya atas dedikasi pengorbananya untuk penerbitan buku ini. Ia mengaku bahwa gagasan 3 buku ini merupakan sebuah Maha Karya yang penuh akan ide dan gagasan. Yang jelas menurutnya gagasan utama dari buku ini adalah memperkayakan Pelajar Indonesia agar bisa membangun Bangsa dan Negara menjadi lebih baik. “Melihat banyak pelajar Indonesia yang ingin terus berkarya untuk Bangsa dan Negara dengan menuju ke negara luar yang referensi keilmuannya lebih maju, seharusnya kita sebagai wadah atau kumpulan pelajar yang sedang menuntut ilmu diluar negeri ini  (PPI Dunia atau PPI Negara) memberikan informasi, pengalaman, tips & trick untuk kawan-kawan agar mudah untuk meraih apa yang diinginkannya.” Ujar Pria berkelahiran asli Kota Jambi ini.
Ia juga menambahkan bahwa langkah-langkah Pelajar Indonesia agar mampu studi di Luar Negeri, yaitu dengan bagaimana ia meletakkan niat dan tujuannya dan bagaimana ia merealisasikannya. “Intinya terletak di niat atau tujuan apa yang ia kehedaki. Setelah itu perbanyak mencari informasi dari yang paling penting hingga tidak penting. Yang paling penting adalah referensi keilmuannya, kualisifikasi bahasa asing, pengalaman senior ketika kuliah disana, akreditasi kampus dan ijazah, sosial budaya masyarakat disana hingga lain-lain harus terus digali dan dipelajari agar teman teman yang ingin studi di LN biasa merealisasikan tujuan dan niat awal belajar di sana.” Jelas Mahasiswa yang sedang menempuh Master Teori Kimia dan Komputasi di Chulalongkorn University, Bangkok ini.
I Dewa Made Frendika selaku Penulis untuk kawasan Amerika-Eropa dengan judul  “Siapkah Kita” sangat mendorong dan mengupayakan Pelajar Indonesia mampu mengoptimalkan Peluang dan potensi demi manfaat yang maksimal. “Poin terpenting adalah menyampaikan pandangan soal apa saja yang perlu diperhatikan selama menjadi pelajar di luar negeri. Hal ini tidak mudah karena setiap pelajar harus mampu mengoptimalkan berbagai peluang dan potensi yang ada sehingga mereka bisa memperoleh manfaat hasil studi yang maksimal.” Ujar Pengurus PPI Dunia Komisi Ekonomi 2016-2017 tersebut.
Adapun langkah utama bagi Pelajar Indonesia untuk sukses studi di Luar Negeri dengan mempersiapkan dua senjara utama yaitu mental dan dan intelektual. “Langkah yg pasti adalah mempersiapkan mental dan daya intelektual karena keduanya adalah modal utama untuk meraih kesempatan studi di luar negeri”. Ujar pria asal Surabaya yang sedang menyelasaikan Desertasinya di Sorbonne université, jurisan Urban and regional planning. (adam)
Galeri Foto:

Page 1 of 5
1 2 3 5