logo ppid

Komisi Ekonomi PPI Dunia 2019/2020 menerbitkan Hasil Kajian perdana edisi Desember 2019, dengan judul “Tinjauan Performa Ekonomi Indonesia Periode 2014-2019”.

Dalam Hasil Kajian ini kami menyajikan gambaran umum terhadap perekonomian Indonesia pada periode 2014-2019. Kajian ini terdiri atas lima tulisan pendek yang berfokus pada lima topik. Tiga topik pertama berorientasi pada performa makroekonomi, fiskal dan perdagangan. Dua kajian berikutnya berfokus pada pembangunan regional melalui dana desa dan peningkatan kesejahteraan.
Kajian dapat dibaca di preview berikut ini:

Kajian-1-Desember-2019-Komisi-Ekonomi-PPI-Dunia-2019-2020

Atau dapat juga diunduh di tautan ini.
Kritik dan saran dapat dikirimkan ke e-mail komisi.ekonomi.ppidunia@gmail.com
Selamat membaca!

Salam Perhimpunan!

Resume Siaran RRI World Service

Hari Dokter Indonesia diperingati setiap tanggal 24 Oktober. Tahun ini, menjadi hari perayaan ke-69 sejak peresmian Ikatan Dokter Indonesia pada tahun 1950. Dari penuturan Silvester Hendry Leresina (Endy), seorang pelajar Indonesia yang sedang mengenyam pendidikan sarjana di Chongqing Medical University, Tiongkok, melalui program siaran KAMU (Kami yang Muda) bersama RRI VOI, bahwa masih banyak hal yang menjadi personal di dunia kedokteran di Indonesia meskipun hari dokter sudah cukup lama diperingati. Hal yang sama juga dituturkan oleh Langgeng Agung Waskito (Langgeng), yang baru saja menyelesaikan program doktoral di Department of Environemtnal and Preventive Medicine, Oita University, Jepang, melalui program siaran  Youth Forum. Dalam wawancaranya pada hari Senin, 21 Oktober 2019, Endy menyertakan beberapa contoh seperti masalah stunting, pelayanan kesehatan, begitupun dengan isu permasalahan BPJS, yang juga menjadi spotlight bagi kawan-kasiaranwan di Komisi Kesehatan PPI Dunia.

Pemeratan Jumlah Dokter dan Peningkatan Fasilitas Kesehatan di Indonesia
Sebagai Ketua Komisi Kesehatan di PPI Dunia sekaligus calon dokter, Endy menyatakan bahwa pemeratan jumlah dokter di Indonesia sudah bisa dikatakan cukup rata dengan merujuk data per bulan Mei 2016, ada 110 ribu jumlah dokter yang mana bila dikalkulasi ada sekitar 2000 pasien yang harus ditangani oleh satu orang dokter. Meskipun sudah terbilang cukup, Endy berharap jumlahnya bisa ditingkatkan sehingga seorang dokter hanya menangani 1000 pasien saja.

Endy berpendapat, masalah pemeratan jumlah dokter di Indonesia datang dari masing-masing individu dokter yang lebih memilih untuk tinggal di kota besar karena fasilitas (rumah sakit) yang lebih lengkap juga insentif yang cukup untuk memenuhi keperluan hidup apabila dibandingkan dengan kota-kota kecil dan daerah terpencil. Begitupun tutur Langgeng, berdasarkan pengalamannya pergi ke beberapa daerah terpencil seperti Merauke dan Palu, fasilitas dan infrastuktur di kota-kota di luar Pulau Jawa masih sangat tertinggal, padahal tanpa fasilitas dan infrastuktur yang menunjung, mengakomodasi pasien pun jadi lebih sulit. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah sudah mengadakan sebuah program bersnama “Nusantara Sehat”, yang bertujuan untuk mertakan jumlah dokter di setiap daerah. Endy sangat mengapresiasi inisiatif pemerintah, meskipun sampai saat ini jumlah dokter belum betul-betul merata.

BPJS dan Persoalannya
Defisit menjadi salah satu persoalan yang saat ini sering didengar dari program BPJS. Dari keterangan yang Endy berikan, menurutnya defisit ini dikarenakan manajemen yang kurang baik antara program BPJS dan rumah sakit. Meskipun begitu, ia melihat usaha pemerintah untuk menaikan iyuran bulanan menjadi jalan yang cukup baik untuk mentupi defisit ini. Menurutnya, kenaikan iuran BPJS mungkin dinilai sebagai sesuatu yang memberatkan bagi rakyat, khususnya rakyat kalangan menengah kebawah, meski jika dibandingkan dengan asuransi kesehatan dari pihak swasta yang jauh lebih mahal, Ia yakin perlahan-lahan rakyat Indonesia bisa menerimanya. Langgeng pun membandingkan, dengan program kesehatan yang ada di Jepang, yang mana pasien tetap harus membayar 30% dari treatment. Pasalnya, program BPJS ini pun belum mampu memberikan insentif yang sesuai kepada dokter yang menangani, bahkan bisa dikatakan dokter dihargai sangat murah. Jadi program BPJS ini memang bukan saja menimbulkan masalah kepada pengguna BPJS (pasien), tapi juga pihak rumah sakit, dan dokter itu sendiri, atau dapat dikatakan menimbulkan permasalahan ke berbagai sisi.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Tiongkok dan Jepang
Sebagai mahasiswa kedokteran di Tiongkok, Endy menuturkan bahwa ada perbedaan yang cukup menarik antara sistem kesehatan di Indonesia dan Tiongkok. Menurutnya, setiap individu di Tiongkok, dari berbagai kalangan, sekalipun miskin, sudah dipastikan memiliki asuransi kesehatan. Pelayanan untuk setiap inidividunya pun sangat baik dikarenakan manajemen asuransi yang sudah baik. Berbeda dengan di Indonesia, yang mana pasienlah yang harus mendaftarkan diri untuk mendapatkan asuransi.

Harapan untuk Bidang Kesehatan di Indonesia
Besar harapannya kelak Indonesia bisa meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dari tingkat primer seperti Puskesmas dengan menyediakan tenaga kesehatan yang memadai. Saat ini Endy dan kawan-kawan di Komisi Kesehatan PPI Dunia, secara khusus, dan PPI Dunia secara umum, sedang mengusahakan realisasi sebuah program di bidang kesehatan. Diantaranya program Bantu Puskesmas dan Susu untuk Ibu yang nantinya akan dilaksanakan dalam kepengurusan 2019-2020 ini. Dengan begitu meskipun tidak berada di Indonesia, para pelajar tetap bisa berkontribusi untuk membantu dan meningkatkan kualitas kesehatan di Indonesia.

Dirangkum oleh:
Mutiara Syifa (PERPIKA) dan Selsa (PPMI Mesir)
PIC RRI, RPD, dan PPI TV, Pusat Komunikasi, Pusmedkom PPI Dunia 2019/2020

Sembilan April, adalah salah satu hari istimewa bagi Indonesia, terutama di bidang dirgantara. Hari ini diperingati sebagai Hari Penerbangan Nasional setelah sebelumnya, tanggal ini (9 April 1961) diperingati sebagai hari ulang tahu Angkatan Udara Republik Indonesia/HUT AURI. Tapi seiring berkembangnya waktu, pada akhirnya tanggal 9 April ditetapkan sebagai HAPENAS.

Nah, kali ini RRI Voice of Indonesia (VOI) telah menyiapkan topik Hari Penerbangan Nasional demi menyemarakkan peringatannya. Bersama narasumber rubrik Kami Yang Muda milik RRI VOI, Aufa Amirullah, yang saat ini tengah belajar di negeri Paman Sam dan tergabung sebagai anggota PERMIAS. Aufa mengawali dengan apresiasi bahwa perkembangan dunia dirgantara Indonesia sendiri semakin tahun semakin baik.

"Indonesia pernah mengalami masa emas kedirgantaraan, yaitu pada era Presiden B. J. Habibie. Walau setelahnya sempat mengalami penurunan geliat, namun di tahun-tahun ini kedirgantaraan tanah air kembali bangkit," ujar Aufa.

Terbukti pada bulan Januari lalu PT. Dirgantara Indonesia telah menyelesaikan pembuatan pesawat untuk TNI. Selain itu dikabarkan bahwa kini Indonesia sedang berusaha menjalin kerjasama dengan Korea, masih dalam bidang yang sama. Meski informasi ini masih dalam tahap penggodokan dan belum ada keputusan secara tertulis, setidaknya geliatnya mulai nyata.

Menurut Aufa Amirullah, yang menjadikan kendala di industri penerbangan Indonesia adalah kurangnya dukungan dari pemerintah dan sumber daya manusia yang memadai. Banyaknya fenomena mainstream mahasiswa di Indonesia, ketika lulus dari perkuliahan justru menggeluti pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidangnya. Belum lagi kurangnya sarana pendidikan di bidang dirgantara juga menjadikan faktor terhambatnya perkembangan di industri penerbangan Indonesia.

Masih berkaitan dengan dunia penerbangan, Aufa Amirullah juga turut angkat bicara ketika ditanya tentang permasalahan sederhana tapi penting: seringnya delay yang kini kerap terjadi di Indonesia. Menurutnya, " hal itu juga disebabkan karena kurang memadainya ukuran bandara di Indonesia, pun standar dan kedisipilinan dari masing-masing maskapai penerbangan. Jadi banyak faktor ya!"

Akan tetapi untuk katogori peringkat "Keselamatan Penerbangan" di Indonesia akhir-akhir ini menunjukkan statistik progresif, dari peringkat Internasional 151 menjadi peringkat ke-55. Hal itu terbukti dengan semakin berkurangnya peristiwa kecelakaan pesawat di Indonesia dari tahun ke tahun. Meski jika ditinjau lebih jauh, apa yang dimanfaatkan untuk security system masih belum menggunakan sepenuhnya teknologi terbaru, akan tetapi secara kualitas keselamatan penerbangan menunjukan stabilitas dan keamanan yang cukup baik bagi para penumpang.

Untuk berkontribusi dalam dunia dirgantara, terutama untuk mahasiswa yang sedang menekuni dunia penerbangan, adalah dengan mendukung proyek kedirgataraan Indonesia apapun bentuknya. Selain itu bergabung di PT. Dirgantara Indonesia juga bisa menjadi opsi yang tak bisa dipandang sebelah mata. Bagi masyarakat umum sendiri, dengan memberikan dukungan moral. Salah satunya dengan cara tidak merendahkah dan menyebarkan pesimistis pada kedirgantaraan di Indonesia, PT. Dirgantara Indonesia, dan elemen-elemen kedirgantaraan lainnya. Jika bisa lebih optimis untuk kejayaan Indonesia di dunia penerbangan, mengapa harus ragu untuk mendukung?

"Nantinya Indonesia harus mampu bersaing, minimal dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Bisa lebih aware untuk menjamah teknologi-teknologi yang lebih canggih dan mulai berpikir luas untuk bisa menembus bahkan menjadi penguasa luar angkasa: membuat satelit dan roket sendiri contohnya. Ya, mimpi kita seharusnya bukan sebatas di udara saja tapi di luar angkasa juga.” tukasnya.

 

Dirangkum oleh Tim Penyiaran Radio, Kantor Komunikasi PPI Dunia
Penulis: Mega Lestari Abadi - PPI Turki
Editor: Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha - PPI Taiwan

Poster Hari Arsitektur Nasional untuk RRI Voice of Indonesia

Hai sobat PPI Dunia, kali ini kita punya topik asyik nih. Di awal pekan ini kami ingin membahas tentang Hari Arsitektur Nasional bersama para pelajar Turki.

Kira-kira seperti apa sih ulasannya?

Yuk stay tune bersama RRI Voice of Indonesia!!!

Turut meramaikan Hari Anti Korupsi Sedunia yang jatuh pada tanggal 9 Desember 2017, PPI Dunia bersama dengan RRI Voice of Indonesia mengangkat tema tersebut pada siaran RRI Voice of Indonesia pagi ini (11/12). Yang menjadi narasumber di siaran kali ini adalah Bima C. Bhaskara (PERPIKA) pada Youth Forum dan M. Ubaidillah (PPI UAE) untuk rubrik Kami Yang Muda/KAMU.

Membahas tentang Korupsi tak ubahnya mengurai benang kusut, tak hanya di dunia Internasional, tetapi juga di Indonesia. Meski demikian, negara lain contohnya Hong Kong telah membuktikan bahwa praktik korupsi dapat dilawan. Seperti dilansir dari kanal Youtube milik Najwa Shihab, bahwa upaya pembersihan korporasi pemerintahan di Hong Kong dapat berjalan karena mendapatkan dukungan penuh dari setiap elemen masyarakatnya. Seperti kata Bima saat sesi siaran tadi, "korupsi adalah musuh utama negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia." untuk itulah perlu adanya upaya penanganan yang full force.

"Pemberantasan Korupsi sama seperti berperang. Perang antara negara dengan para koruptor, perlu sumber daya yang banyak dan senjata-senjata ampuh," imbuhnya.

Dan pendapat Bima tersebut (tentang senjata ampuh) ternyata selaras dengan pendapat Ubaid ketika menanggapi pertanyaan terkait adanya wacana pembentukan lembaga baru anti-rasuah di Indonesia demi menyokong kinerja KPK, Densus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kepolisian Republik Indonesia. "Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa sejak pembentukannya hingga saat ini pergerakan KPK sudah sangat nampak dan masif, akan tetapi lagi-lagi banyak kasus yang mereka tangani masih macet di tengah jalan. Sebut saja kasus-kasus seperti bank Century, Nazaruddin, Emirsyah Satar, Pelindo II, dan masih banyak lagi. Belum lagi menurut saya, fokusan KPK saat ini masih berkutat di kasus-kasus korupsi dengan nominal minimal 1 miliar Rupiah. Jadi nantinya Densus Tipikor Polri lebih baik jika bisa mengambil fokusan kasus-kasus korupsi dengan nominal yang lebih kecil. Dan sudah seharusnya juga lembaga ini menjadi supporting system untuk KPK di masa depan," papar Ubaid.

Akan tetapi tantangan selanjutnya jelas terletak pada peran pemerintah (dengan dukungan elemen-elemen lainnya) dalam mengoordinasikan dan membuat lembaga-lembaga anti korupsi tersebut bersinergi. "Antara KPK yang menangani kasus-kasus besar, dengan Densus Tipikor Polri yang nantinya bisa jadi mengambil penanganan kasus dengan nominal lebih kecil. Tak boleh ada tumpang tindih pergerakan, bahkan seharusnya nanti ada hierarki khusus koordinasi antara dua lembaga anti korupsi tersebut," tambah Ubaid.

Beranjak dari anggapan tersebut, ternyata pewawancara dari RRI memiliki studi kasus lain yang membutuhkan pendapat dari narasumber, yaitu tentang peran Pansus KPK yang dibentuk oleh DPR. "Pansus KPK yang dibentuk DPR ini menurut saya lebih cenderung pada posisi melemahkan KPK. KPK ini kan institusi penting, memiliki track record yang bagus dalam memberantas koruptor-koruptor di negeri ini. Jadi jelas sekali jika banyak pihak yang mungkin merasa terganggu dengan keberadaannya. Yang perlu kita lakukan adalah terus mendukung penuh KPK dalam upaya-upaya penguatan kinerjanya memberantas korupsi," ujar Bima.

Dan ketika ditanyakan hal yang sama, ternyata Ubaid memiliki pendapat serupa akan tetapi dengan sudut pandang analisis berbeda, "Keberadaan Pansus KPK yang dibentuk DPR ini bisa jadi mendukung kinerja KPK, tetapi sangat disayangkan ternyata dalam praktiknya peran mereka sampai sekarang masih sebatas mengkritik tanpa memberikan saran/solusi pasti dalam memberikan dukungan yang real. Harusnya tidak demikian, karena KPK dan kasus korupsi di Indonesia saat ini tidak hanya membutuhkan kritik tanpa solusi membangun."

Beralih dari lembaga-lembaga khusus tipikor tersebut, selanjutnya dalam siaran kali ini juga dibahas tentang peran serta pemerintah dalam upaya memberikan ruang preventif praktik tipikor di Indonesia. Yang menurut Bima, "peran pemerintah untuk pemberantasan korupsi bisa dimulai dengan 1)Pemberian wawasan dini kepada masyarakat dalam menghindari praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN); 2)Membumikan creative campaign for ANTI CORRUPTION in everywhere for everyone; juga 3)Menerapkan kebijakan dalam mengontrol transparansi keuangan di masing-masing level pemerintahan."

"Dan upaya transparansi tersebut dapat dimulai dengan mengoptimalkan kebijakan-kebijakan yang sudah berjalan seperti pelayanan e-government, e-planning, e-budgeting, dll. Yang otomatis semuanya itu harus detail dan ditransparansikan untuk bisa lebih dikontrol oleh seluruh lapisan masyarakat," kata Ubaid.

Pesan terakhir sebagai generasi muda, dari dua narasumber, saat menutup sesi siaran pagi ini adalah agar kita semua mampu mengambil bagian, beraksi nyata (meskipun dimulai dari hal kecil) dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi, baik di Indonesia maupun di dunia, untuk semua level masyarakat tanpa pandang bulu.

 

Oleh: Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha (Tim Penyiaran Radio, Kantor Komunikasi PPI Dunia)

Indonesia itu bangsa yang besar, banyak kebudayaan dan juga hal-hal menarik yang dapat dieksplorasi serta diperkenalkan kepada dunia. Jadi adakah alasan untuk berhenti bangga menjadi Indonesia?

Pagi ini (09/12) publik Taiwan kembali dimanjakan oleh sajian budaya Indonesia. Bertempat di National Sun Yat Sen University (NSYSU) Kaohsiung, Perhimpunan Pelajar Indonesia menggelar event terbesarnya di kepengurusan 2017/2018 yang bertajuk INDONESIAN WEEK 2017 “DIVERSITY IS OUR STRENGTH”.

“Kami sangat senang, pelajar Indonesia yang ada di Taiwan sangat aktif dalam menggencarkan upaya promosi kebudayaan Indonesia lewat acara-acara semacam ini. Dan sungguh, kami – Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei – bangga ketika melihat insan-insan muda yang telah memilih untuk jauh-jauh meninggalkan tanah air untuk menuntut ilmu, tapi masih rela meluangkan waktu untuk menjadi pioneer dalam pengenalan budaya dan pariwisata Indonesia di kancah dunia,” ujar Siswadi, Wakil Kepala KDEI di Taipei saat pidato pembukaan acara.

Para tamu undangan beserta ketua PPI Taiwan memainkan melodi angklung saat pembukaan Indonesian Week 2017 oleh PPI Taiwan

Salah satu keunikan dari Indonesian Week 2017 ini ada di letak pelaksanaannya. Seperti yang disampaikan oleh Ketua PPI Taiwan, L. Tri Wijaya N. Kusuma, saat membuka Indonesian Week 2017 bahwa pada kepengurusan ini PPI Taiwan berusaha menjalankan semboyan yang dijiwai dari sila ke-5 Pancasila, yaitu “Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat PPI Taiwan”. Yang bermakna bahwa sudah saatnya kegiatan-kegiatan dan poros-poros pergerakan mahasiswa di Taiwan tidak hanya terpusat pada wilayah utara (Taipei, Taoyuan, dan sekitarnya) saja, melainkan harus ada upaya untuk memeratakan perhatian PPI Taiwan ke seluruh wilayah yang dinaunginya.

“Itulah alasan utama mengapa kami menggeser pelaksanaan event terbesar kami kali ini ke Kaohsiung,” imbuh L. Tri Wijaya N. Kusuma.

Lewat kerjasama dan hubungan komunikasi harmonis dengan PPI Kaohsiung yang diketuai oleh Angger Baskoro, PPI Taiwan berhasil menempatkan lokasi acara ini di sebuah kampus indah dengan pemandangan tak biasa berlatarkan gunung, serta berbatasan langsung dengan laut, NSYSU.

Makanan ringan (camilan) tradisional pun tak luput dari sasaran para pengunjung booth Indonesian Week 2017

Banyak sekali sponsor yang turut meramaikan acara ini, diantaranya adalah Kementerian Pariwisata lewat tagline Wonderful Indonesia-nya yang diwakili oleh kehadiran ibu Soufie dan ibu Nining, Indomie (Indofood), Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia, INDEX, Telkom Indonesia di Taiwan, dan masih banyak lagi. Tak lupa PPI Taiwan juga menggandeng Radio PPI Dunia, Garuda Formosa TV, dan Radio Taiwan International, sebagai media partner resmi dalam acara Indonesian Week kali ini.

Pemberian souvenir Wonderful Indonesia kepada pengunjung booth

“Hari pertama dibuka dengan pengadaan booth pameran dan kuliner khas Indonesia, yang terbagi atas beberapa kategori pulau-pulau besar seperti Sumatera, Celebes, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Papua, dsb,” kata Julian Fikri, ketua panitia Indonesian Week 2017.

Tak hanya itu, bahkan hari pertama ini ternyata juga diramaikan dengan perlombaan dan pengadaan space untuk permainan tradisional dan penampilan melodi dari angklung sebagai awalan. Yang gong besarnya akan ditabuh pada keesokan harinya (10/12) yaitu dengan penampilan-penampilan sendra tari, choir lagu-lagu tradisional, serta permainan alat musik tradisional khas Indonesia di atas panggung auditorium NSYSU.

Nah bagaimana, menarik bukan? Karena sebagai bangsa yang besar tak bisa hanya mengandalkan label kebesaran saja untuk dijadikan tameng identitas, melainkan juga perlu adanya upaya serius untuk mempertahankan kebesaran yang dimiliki. Salah satunya adalah dengan pengenalan kebudayaan dan potensi pariwisata yang dimiliki. Dan para pelajar di Taiwan telah membuktikan upaya konkret mereka dalam hal ini.

 

Oleh: Rahmandhika Firdauzha Hary Hernandha

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920