logo ppid

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Hari ini 2 (dua) mahasiswa Indonesia meninggal di perantauan. Setelah SYAHRIE ANGGARA (PPI UK), kini QISTOS HADI PURNAMA (PPMI Mesir).

Segenap keluarga PPI Dunia mengucapkan turut berduka cita atas wafatnya saudara Qistos Hadi Purnama pada Jum'at, 22 September 20017, pukul 2 sore waktu Kairo di RS.Banha University karena sakit yang diderita.

Almarhum adalah pelajar Fakultas Bahasa Arab Universitas Azhar, Kairo. Semoga Almarhum diterima disisi Allah SWT dengan diampuni segala kesalahan dan dosanya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Amin.

Khartoum – Guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam melakukan berbagai analisis, Departemen Pendidikan PPI Sudan mengadakan kajian tematik dengan mengangkat topik terhangat yang tengah diperbincangkan pada saat ini terkait tragedi kemanusian yang menimpa komunitas muslim di Rohingya. Selasa (12/9), bertempat di Aula Indonesian Students Center (ISC), kajian tematik kali ini mengangkat tema "Mari bersama Rohingya; Analisis Latar Belakang dan Penyelesaian Krisis Kemanusiaan Rohingya" yang diselenggarakan atas kerjasama dengan Persatuan Pelajar Myanmar di Sudan.

Pada kesempatan ini PPI Sudan menghadirkan 2 narasumber. Narasumber pertama adalah ustadz Asyrof (mahasiswa asal Myanmar Rohingya yang sedang menempuh studi di Sudan). Ia merupakan salah satu saksi hidup atas tragedi kemanusiaan yang tak kunjung menemui titik penyelesaian hingga saat ini. Dalam paparan yang disampaikan, narasumber menjelaskan akar permasalahan dan sumbernya serta menerangkan betapa tidak berperi kemanusiannya penindasan yang menimpa masyarakat muslim Rohingya. Beliau juga sangat menyayangkan ketidak pedulian berbagai pihak dalam kasus ini. Beliau pun berkesempatan menunjukkan berbagai macam slide yang didapatkannya langsung dari sahabat maupun kerabat yang hingga kini masih terjebak di Myanmar. Beliau pun berpandangan bahwa langkah-langkah yang selama ini diambil oleh bangsa-bangsa dan Negara-negara lain terlalu lambat dan tidak efektif dalam menghentikan krisis kemanusiaan ini secara cepat. “Negara-negara di luar sana terlalu asyik berdebat, berdiskusi, dll tanpa ada aksi nyata bagi kami. Dalam kondisi krisis seperti ini, justru aksi nyatalah yang kami butuhkan untuk menghentikan krisis kemanusiaan ini secepatnya.”

Dalam statement penutup, narasumber turut mengapresiasi bangsa Indonesia sebagai salah satu bangsa yang peduli dan memperhatikan nasib kaum muslimin di Myanmar dengan melakukan berbagai langkah diplomatik maupun pengiriman bantuan hingga saat ini. “Kami sangat berterima kasih kepada kawan-kawan Indonesia di Sudan yang telah mau memprakarsai kegiatan kajian tentang muslim Rohingya yang untuk pertama kalinya ada di Sudan, serta kepada bangsa Indonesia yang tak henti-hentinya memberikan berbagai macam support kepada kami di berbagai bidang,” pungkasnya menutup pemaparan sesi pertama pada kajian tersebut.

Di sesi berikutnya, narasumber kedua, Ustadz Ribut Nur Huda, M.A (kandidat Doktor Univ. Alquranul Karim Omdurman) yang menyampaikan pandangannya terkait langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan umat muslim untuk menyelesaikan masalah tersebut. Beberapa diantaranya adalah melalui jalur diplomatik guna menekan pemerintah Myanmar agar segera menghentikan pembantaian tersebut. Di sisi lain beliau pun mendorong umat muslim agar berpegangan dengan erat guna menyelesaikan permasalahan ini secara bersama-sama dan tidak saling menyalahkan satu dengan yang lainnya. “Permasalahan Rohingya bukan hanya sekedar permasalahan satu ataupun dua suku, bangsa, dll. Ini adalah masalah kaum muslimin. Kitalah yang paling berkewajiban untuk membela mereka dalam keadaan seperti ini,” ujar narasumber. Beliau juga tak lupa mengajak segenap pihak untuk turut mendoakan agar konflik yang terjadi segera berangsur membaik dan menemui titik damai. “Berbagai upaya telah dilakukan oleh berbagai pihak, dan sekarang langkah paling nyata yang dapat kita lakukan adalah mendoakan mereka semua serta terus memberikan support baik moril maupun materil.”

Dalam diskusi yang berlangsung hangat ini turut hadir pula para ketua dan delegasi dari Persatuan Pelajar dari berbagai negara yang yang ada di Sudan ini. Kegiatan ini berhasil mendapat banyak apresiasi sebagai kegiatan pertama yang digagas oleh Persatuan Pelajar yang ada di Sudan sebagai wujud nyata kepedulian dan kepekaan sosial terkait isu kemanusiaan yang kini masih belum dapat dibendung. [] (PPI Sudan)

Yaman - Minggu (17/09) pelajar Indonesia di Yaman menggelar istighatsah bersama untuk keselamatan dan kemenangan kaum muslimin di Burma, Myanmar bertempat di Auditorium Fak. Syariah dan Hukum, Universitas Al Ahgaff, kota Tarim.

Acara yang diprakarsai oleh Ppi Yaman bekerjasama dengan seluruh organisasi yang berbasis di Bumi Balqis ini turut dihadiri Syeikh Abdul Qadir Muhammad Alaydrus, bersama putranya yang sekaligus Direktur Madrasah Alaydrus lil Qiraat, Dr. Abdullah Abdul Qadir Alaydrus.

Acara dimulai pukul 21.05 KSA yang diawali dengan khataman Al Quran. Dalam hal ini, pembacaan kalam mulia itu dipandu langsung oleh Sekretaris Ppi Hadhramaut, Syarifuddin Turmudzi. Kemudian, acara berlanjut dengan pembacaan doa bersama; doa Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dan Hizib Nash Al Habib Abdullah Alwi Al Haddad.

Berlanjut ke kata sambutan, Dr. Abdullah menuturkan bahwa segala kemenangan di dunia ini datangnya hanyalah dari Allah swt. Begitu juga kemenangan kaum muslim di negara Myammar. Meski begitu, namun, berdoa dan beristighatsah merupakan salah satu gerbang menuju kemenangan itu. Tak sekedar itu, berdoa juga merupakan pangkal segala ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

"Ad-dua' mukkhul 'ibadah. Karena disana disebutkan nama-nama Allah swt yang Maha Agung. Dan yang sangat penting itu adanya keyakinan di hati kita bahwa Allah akan mengabulkan permintaan hamba-hambaNya," ujar dosen Al Ahgaff itu.

Beliau juga menegaskan bahwa tak selamanya doa itu cepat dikabulkan. Contoh krongkritnya seperti Nabi Musa alaihisalam, yang mana doanya baru dikabulkan oleh Allah swt setelah 40 tahun lamanya. Selain, itu untuk cepat dikabulkan doa juga perlu didukung oleh beberapa faktor eksternal, diantaranya yaitu memilih waktu dan tempat yang pantas untuk berdoa.

Sementara itu, Sekjen Ppi Yaman, Jihad El-Mulk Benthaleb dalam sambutannya berterimakasih kepada para hadirin, serta meminta maaf atas segala kekurangan. Majelis ditutup dengan pembacaan doa oleh Syeikh Abdul Qadir Alaydrus. (AR)

Pemutusan hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Qatar berdampak luas, hingga para mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Universitas Islam Madinah pun terkena dampaknya. Tiket pulang-pergi maskapai Qatar Airways yang seyogyanya ditempuh dengan rute Madinah-Doha-Jakarta terpaksa harus diubah dengan beberapa pilihan rute, antara lain:

☆ Jakarta-Doha-Muscat-Madinah

☆ Jakarta-Doha-Kuwait-Madinah

☆ Jakarta-Doha-Istanbul-Madinah

Adanya opsi transit di Istanbul memunculkan inisiatif dari beberapa mahasiswa untuk masuk ke dalam kota Istanbul jika waktu memungkinkan.

Atas berkat rahmat Allah disepakatilah untuk memilih penerbangan Qatar Airways Kamis, 14 September 2017 pukul 00:20 dini hari dari Jakarta menuju ke Doha, Qatar dengan transit selama 4 setengah jam. Selama di Doha, dilakukan pengarahan (briefing) oleh salah satu mahasiswa yang sebelumnya sudah pernah berkunjung ke Turki terkait hal-hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan setiba di Istanbul nantinya.

Dari Doha penerbangan dilanjutkan ke Istanbul dengan transit selama 9 jam 20 menit. Tiba di Bandara Internasional Sabiha Gökçen sekitar pukul 13:30, sesuai pengarahan ketika di Doha, 21 mahasiswa yang tergabung bersama grup PPMI Madinah langsung menarik uang melalui m
esin ATM bandara, mengantri imigrasi, menukar uang melalui money changer, membeli kartu transportasi (Istanbulkart), lalu menunggu bus Havataş dengan tujuan pelabuhan Kadıköy. Perjalanan darat Sabiha-Kadıköy ditempuh dengan waktu selama 1 jam 11 menit.

Sampai di Kadıköy, rombongan menuju dermaga kapal fery dengan tujuan pelabuhan Eminönü. Perjalanan laut ini ditempuh kurang lebih 25 menit. Di Eminönü dapat terlihat Galata Tower dan Jembatan Bosphorus yang menghubungkan Istanbul wilayah Asia dan Eropa. Dari Eminönü rombongan menaiki Tramvay (kereta listrik) menuju stasiun Sultanahmet.

Dikarenakan terbatasnya waktu, rombongan PPMI Madinah hanya sempat mengunjungi Basilica Cistern, Hagia Sophia, sholat di Blue Mosque, berfoto di area Hippodrome dan taman di depan Blue Mosque.

Dikhawatirkan tak dapat bertemu dengan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Istanbul, beberapa hari sebelum keberangkatan, salah satu anggota Departemen Publikasi dan Dokumentasi PPMI Madinah sudah lebih dahulu memberi kabar dan memohon maaf kepada PPI Istanbul jika nantinya tidak sempat silah-ukhuwwah. Benar saja, ternyata waktu memang tidak memungkinkan untuk berjumpa saudara seperjuangan di Istanbul.

Menjelang waktu magrib rombongan kembali ke bandara dengan rute sebaliknya dengan alat transportasi yang sama. Tiba di Bandara Internasional Sabiha Gökçen langsung mengantri imigrasi lalu melaksanakan sholat di musholla bandara. Selesai sholat, panggilan untuk masuk pesawat Turkish Airlines tujuan Madinah pun terdengar.

Setelah menempuh perjalanan udara sekitar 3 jam 25 menit rombonganpun tiba di Madinah Al-Munawwarah dengan selamat dengan membawa kenangan singkat selama di dalam kota Istanbul. Tak hanya kenangan, semangat Sahabat Rasulullah; Abu Ayyub Al-Anshori dan Sultan Muhammad Al-Fatih pun terpatri di hati. [] (Red. Ahmad Bilal Almagribi/PPMI Madinah)

Liputan Pretoria – Dalam mengisi liburan Idul Adha tahun ini, 3 hari setelah Idul Adha 5 pelajar di Darul Uloom Zakariya mengadakan penjelajahan ke pegunungan Drakensberg di Afrika Selatan, dari kelima pelajar tersebut, 2 dari Indonesia adalah Salman Farisi dan Erza Aulia Hafiz. Perjalanan menuju ke Drakensberg, dibutuhkan waktu sekitar 4-5 jam dari Johannesburg atau 2 jam dari Durban. Perlu kita ketahui, dalam bahasa Afrikaans Drakensberg memiliki arti “gunung naga”, pegunungan drakensberg ini terletak dekat dari negara Lesotho.

Salman dan Erza di Pegunungan Drakensberg

Hari pertama penjelajahan di drakensberg menghabiskan waktu 8 jam pendakian pulang pergi, adapun hari kedua menghabiskan waktu 7 jam. Ketika sampai di puncak, maka hamparan savanna terpanjang akan ada di depan mata. Tersedia permainan alam seperti berkuda dan hiking, di puncak drakensberg mereka membentangkan logo PPI Afrika Selatan. Hari ketiga mereka mengunjungi Durban, tepatnya Central North Beach dan Ushaka Resort Beach sekaligus bertemu dengan Bayu Tri Murti dan Athika Darumas Putri, pelajar Indonesia di Durban University of Technology. Bayu juga merupakan Ketua PPI Afrika Selatan atau Indonesian Students Association of South Africa (ISAAC).

Salman dan Erza bertemu dengan Bayu, Ketua PPI Afrika Selatan

Hari keempat, tim mengambil rute pendek, Sunday Falls yang memerlukan waktu 2 jam pendakian pulang pergi. Awalnya mereka ingin mendaki Tugela Falls, air terjun tertinggi kedua di dunia, namun karena tidak ada air dan jarak tempuhnya lumayan jauh (sekitar 8 jam pendakian), akhirnya mereka batalkan.

Jaket PPI Dunia di Puncak Table Mountain, Capetown

Drakensberg bukanlah pegunungan pertama yang mereka taklukkan, seminggu setelah Idul Fitri 2017 kemarin, mereka telah membentangkan logo PPI Afrika Selatan di Table Mountain, sebuah landmark kota Capetown, Afrika Selatan. Tim terdiri dari 15 orang, 3 dari Indonesia, 7 dari Malaysia dan 5 dari Capetown. Perjalanan diawali dengan menaiki kereta cepat Gautrain dari Pretoria ke Marlboro. Untuk ke puncak Table Mountain terdapat kereta gantung, namun tim lebih memilih dengan mendaki, karena dengan mendaki mereka bisa menikmati alam yang begitu indah serta angin yang sepoi-sepoi. [] (Imam Khairul Anas)

Puncak Table Mountain, Capetown

Pemandangan di Drakensberg

Pemandangan di Drakensberg 2

Howick Falls

Pemandangan yang terlihat dari Table Mountain, Capetown

Gunung Lion’s Head terlihat dari Puncak Table Mountain, Capetown

YM Duta Besar LBBP RI untuk Republik Afrika Selatan Merangkap Kerajaan Swaziland dan Kerajaan Lesotho, Bpk. Suprapto Martosetomo dengan PPI Afrika Selatan

Does this suggest that humanism doesn't really mean anything?
We don't believe so. As a student, or youngsters so called –millenials generation-, we have to keep in mind with phenomenon occurring around the world. Here we are, together try to know more and more on Rohingnya issues, what we can do, and what Indonesian government has done so far.

Warm regards,
Overseas Indonesian Student Association Alliance.


Bertempat di Hotel Lu'lu'ah 'Aziziyah, Makkah al-Mukarramah pada hari Kamis, 7 September 2017, seperti di tahun-tahun sebelumnya, PPMI Arab Saudi menjamu para tenaga musiman haji (TEMUSH) dari perwakilan PPI Negara di kawasan Timur Tengah & Afrika. Total ada 9 negara yang mendapatkan kuota TEMUSH di musim haji 1438 H/2017 M, yakni Lebanon (2 orang), Libya (2 orang), Mesir (45 orang), Maroko (5 orang), Sudan (12 orang), Syria (5 orang), Tunisia (2 orang), Yaman (8 orang), Yordania (4 orang).

Di pertemuan silaturrahmi tersebut, dibuka dengan sambutan dari tuan rumah, PPMI Arab Saudi, yang langsung diberikan oleh Ketua Umum PPMI Arab Saudi periode 2017-2019, Sdr. Byan Aqila Ramadhan. Selanjutnya, perwakilan masing-masing PPI negara memperkenalkan diri dan menceritakan kondisi negara tempat studi, disertai dengan diskusi tanya jawab singkat. Acara disambung dengan sharing singkat dari perwakilan PPI Dunia oleh Sdr. Rama Rizana, penjelasan tentang Aliansi Keputrian Timur Tengah & Afrika (AKTA) oleh Sdri. Rahmah Rasyidah, dan acara ditutup dengan sesi foto bersama, serta makan bareng. Sebelum sesi foto bersama, SekJend PPMI Arab Saudi 2015-2017 Sdr. Prabasworo Jihwakir, menyampaikan beberapa pesan pengingat, di antaranya mengenai wacana penambahan kuota TEMUSH Timur Tengah & Afrika dari Komisi VIII DPR RI yang perlu dikawal.

Coming Soon!

Setelah sukses dengan acara ICONIC (International Conference of Integrated Intellectual Community) pada tahun 2016 lalu di Hamburg dengan Prof. Dr.Ing. Dr. Sc.h.c. Bacharuddin Jusuf Habibie sebagai salah satu keynote speaker, kembali kami PPI Jerman bekerja sama dengan PPI Hannover akan menyelenggarakan ICONIC pada tahun 2018 mendatang di Hannover yang bertajuk Science and Technology for Sustainable Development.

Bersamaan dengan penyelenggaraan ICONIC 2018 akan dilaksanakan Simposium PPI Amerika-Eropa tahun 2018. Simposium ini merupakan agenda rutin delegasi pelajar-pelajar Indonesia di kawasan Amerika dan Eropa untuk saling bertukar ide dan gagasan, membahas arah dan haluan yang akan dicapai melalui program kerja serta menghasilkan rekomendasi solusi dari isu-isu yang dihadapi Indonesia. Melalui panel diskusi yang bertemakan Securing Indonesia’s Energy Sovereignty: The Security – Economy – Sustainability Nexus, kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan output yang nyata bagi Indonesia.

Nantikan informasi selanjutnya di
Website: www.iconic.ppi-jerman.de
Facebook: Iconic PPI Jerman
Twitter: @iconicppijerman
Instagram: @iconicppijerman

Panitia ICONIC dan Simposium Amerop 2018

Tim Kajian Nuklir PPI Dunia

Kami dari PPI Dunia membentuk tim khusus yang bertugas untuk mengkaji teknologi nuklir. Tim tersebut beranggotakan 32 orang yang terdiri dari pelajar dan alumni PPI Dunia dari berbagai latar belakang negara studi. Tim ini bertugas untuk menggali pemahaman yang utuh terkait bahaya dan potensi teknologi nuklir berdasarkan perkembangan iptek global terkini. Dalam rangka memperoleh pemahaman yang utuh seputar teknologi nuklir, tim kajian nuklir PPI Dunia menggali sedalam mungkin perkembangan dan pemanfaatan luas teknologi nuklir di berbagai negara lain tempat kami masing-masing menempuh studi. Hasil informasi yang kami peroleh kemudian kami kaji bersama dengan dibandingkan pada perkembangan dan pemanfaatan teknologi nuklir nasional.

Menurut kajian yang telah kami lakukan, berbagai kendala yang berkembang dalam perkembangan nuklir nasional banyak disebabkan karena kekurangakuratan informasi seputar nuklir yang beredar di masyarakat luas dibandingkan dengan perkembangan iptek pernukliran global terkini. Ketidaktahuan secara utuh terkait nuklir diduga menjadikan teknologi ini terhambat penerimaannya oleh masyarakat luas di tanah air.

Di sisi lain, harapan atas potensi pemanfaatan nuklir oleh para pelajar Indonesia di luar negeri cukuplah besar. Berdasarkan survey kami atas 566 pelajar Indonesia yang tersebar di 48 negara, diketahui bahwa hanya 4,5% dari responden kami yang menyatakan sama sekali tidak berminat terhadap potensi aplikasi nuklir di bidang apapun. Sementara 28.5% responden menyatakan tertarik pada teknologi nuklir di bidang energi dan 67% responden menyatakan tertarik pada pemanfaatan teknologi nuklir di bidang-bidang non-energi. Seperti pada bidang medis (radio farmaka, radio terapi), bidang lingkungan, bidang industri, bidang pertanian, infrastruktur dan bidang industry manufaktur. Dari survey tersebut juga diketahui bahwa mayoritas responden (66%) beranggapan bahwa energi nuklir paling efisien dibanding energi alternatif lain yang tersedia. Lebih jauh, 57% dari responden kami menyatakan setuju bahwa Indonesia perlu mempertimbangkan penggunaan teknologi nuklir dalam pemenuhan kebutuhan energi nasional (pembangkit listrik tenaga nuklir).

Dialog dan Kunjungan Tim Kajian Nuklir PPI Dunia Ke Instalasi Nuklir Nasional

Demi untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh atas perkembangan teknologi nuklir nasional, pada hari rabu, 23 Agustus 2017 dari jam 09.00 hingga pukul 12.30 perwakilan tim kajian nuklir PPI Dunia beserta rombongan mengadakan kegiatan kunjungan kerja ke reaktor nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) yang berlokasi di Serpong, Banten. Peserta dikhususkan bagi para pelajar yang tengah menempuh studi di luar negeri maupun baru saja lulus. Selain itu dibuka juga beberapa kuota undangan terbatas untuk pelajar di dalam negeri melalui jalur rekomendasi dan pihak pers mitra PPI Dunia untuk keperluan peliputan kegiatan ini. Dalam kegiatan ini hadir rekan-rekan kami para mahasiswa maupun alumni dari Belanda, Rusia, China, Iran, Italia, Romania, LIPI, pihak pers, komunitas muda nuklir nasional dan rekan-rekan dari Universitas Pertahanan. Total jumlah peserta sebanyak 25 orang dipimpin oleh Dwi Rahayu dari PEMIRA Rusia yang pada kesempatan ini sekaligus berperan sebagai ketua tim kajian nuklir PPI Dunia.

Acara ini terdiri dari dialog interaktif dengan ahli nuklir BATAN, penjabaran mengenai hasil produk penelitaian nuklir dari BATAN yang sudah ada, kunjungan langsung ke reaktor (laboratorium) nuklir serpong serta diskusi tentang pemanfaatan teknologi nuklir yang sudah dilakukan di negara lain dan yang tengah dilakukan di Indonesia.

Kunjungan kami disambut oleh Adipurwa sebagai Kepala Subbid Edukasi Publik BATAN serta tim petugas layanan informasi BATAN. Pada pertemuan tersebut disajikan sejarah perkembangan nuklir nasional. Adipurwa menjelaskan bahwa titik awal perkembangan ketenaganukliran nasional telah ada semenjak era presiden pertama Indonesia, presiden Soekarno di tahun 1954. Pada tahun tersebut presiden Soekarno membentuk Panitia Negara yang bertugas melakukan penyelidikan adanya kemungkinan sisa zat radioaktif di wilayah NKRI akibat uji coba persenjataan. Panitia Negara inilah yang kemudian menjadi cikal bakal BATAN. Perkembangan teknologi nuklir nasional terus mengalami pasang surut seiring dinamika politik yang ada. Pada kesempatan tersebut turut dijelaskan juga standar keamanan berlapis yang diterapkan di seluruh fasilitas nuklir nasional. Demi menjamin tingkat keamanannya, sistem keamanan ini distandardisasi menurut standar internasional yang rutin diinspeksi berkala oleh Badan Atom Internasional (IAEA).

Melalui kunjungan ini kami mengetahui bahwa teknologi nuklir memiliki potensi besar dalam pemenuhan kebutuhan energi nasional maupun secara strategis mendukung program-program pembangunan nasional sektor non-energi. Sebagai informasi Reaktor G.A. Siwabessy di serpong memiliki kapasitas maksimal sebesar 30 megawatt yang difungsikan sebagai reaktor riset untuk berbagai keperluan penelitian. Sampai dengan saat ini, BATAN telah mampu menghasilkan beberapa produk terkait teknologi nuklir bernilai ekonomi tinggi yang aman dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Turut dipaparkan juga bagaimana teknologi tersebut sudah dimanfaatkan secara luas oleh negara-negara lain seperti di Vietnam, Jepang, Pakistan, India dan Amerika dalam mendukung sektor pertanian, industri pangan dan industri kesehatan mereka.

Pemanfaatan Teknologi Nuklir Nasional Kini dan Potensi Masa Depannya

Saat ini BATAN mengelola tiga buah reaktor nuklir riset di Indonesia. Yaitu instalasi reaktor nuklir Kartini di Jogjakarta, Instalasi reaktor nuklir Triga di Bandung dan Instalasi reaktor nuklir G.A. Siwabessy di Serpong. Sebagai catatan, reaktor G.A. Siwabessy ini sendiri merupakan salah satu reaktor nuklir riset terbesar yang ada di Asia.

Turut diuraikan juga oleh pihak BATAN potensi pemanfaatan nuklir di masa depan dari fasilitas-fasilitas nuklir yang telah dimiliki BATAN saat ini. Untuk dapat menyebarluaskan manfaat teknologi nuklir nasional yang sudah berkembang ini, maka didirikanlah PT. INUKI. PT INUKI adalah BUMN mitra usaha BATAN yang memproduksi teknologi nuklir secara komersial untuk dapat dimanfaatkan masyarakat luas.

Beberapa teknologi nuklir yang sudah terbukti dapat dimanfaatkan masyarakat Indonesia dalam bidang berikut:

  1. Riset dan studi tapak sumber energi terbarukan;
  2. Pemuliaan benih unggul tanaman pertanian;
  3. Pembuatan isotop untuk produk obat-obatan;
  4. Irradiasi gamma untuk pengawetan bahan makanan;
  5. Irradiasi untuk mendukung pembangunan infrastruktur, dll.

Menganalisa potensi besar yang dimiliki teknologi nuklir nasional, pemanfaatan luas teknologi ini di tanah air kami nilai belum cukup maksimal. Kepemimpinan nasional yang kuat dan penyebaran informasi yang utuh seputar teknologi ini ke masyarakat luas dapat menjadi solusi dari situasi ini. Program edukasi nuklir yang transparan dan mudah dipahami oleh generasi muda bangsa dapat menjadi solusi agar pemanfaatan potensi teknologi nuklir yang sudah ada tidak ditakuti secara berlebihan ataupun disalahpahami oleh masyarakat luas.

Dengan perkembangan teknologi global terbaru dan kemampuan para ilmuwan BATAN yang ada sekarang, keamanan dan potensi instalasi nuklir nasional yang ada sudah semakin baik. Perkembangan teknologi global kini juga turut menjadikan teknologi nuklir memiliki manfaat yang semakin beragam dan strategis untuk kemajuan suatu bangsa. Atas pertimbangan itu kami Tim Kajian Nuklir PPI Dunia menilai Indonesia sudah bisa mulai melirik serta mengambil manfaat nyata dari teknologi nuklir yang ada dalam konteks sektor energi maupun bidang non-energi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Ke depan, kami dari pihak tim kajian nuklir PPI Dunia akan terus mendalami perkembangan potensi teknologi nuklir nasional dan global terkini serta pemanfaatannya untuk kesejahteraan luas masyarakat bangsa Indonesia. Kami tim kajian nuklir PPI Dunia mendukung agar potensi nuklir nasional di berbagai bidang dapat terus digali dan secara terukur dapat disebarluaskan pemanfaatannya sebagai bagian dari pembangunan kualitas hidup masyarakat Indonesia.

Jakarta, 30 Agustus 2017

Tim Kajian Nuklir PPI Dunia

Press release lengkap bisa diunduh dalam link berikut

Selamat datang September!
Mengawali bulan, dibuka kesempatan untuk pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di berbagai negara untuk bergabung bersama PPI Dunia. Organisasi dengan jaringan 53 negara di dunia baru saja melakukan pergantian kepengurusan di Simposium Internasional di Warwick, UK pada akhir Juli lalu. Sejalan dengan itu, kami membutuhkan wajah-wajah baru untuk mengisi berbagai posisi.
Bidang yang dibutuhkan yaitu:
1. Bidang Kelembagaan
2. Bidang Kesekretariatan
3. Bidang Partnership
4. Festival Luar Negeri
5. Komisi Pendidikan
6. Komisi Ekonomi
7. Komisi Sosial Budaya
8. Komisi Energi
9. Kantor Komunikasi

Salam perhimpunan!





 

 

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920