logo ppid

Mahasiswa Indonesia di Tiongkok yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT) kembali menggelar kongres ke-7 untuk membahas beberapa agenda penting meliputi pembahasan Anggaran Dasar - Anggaran Rumah Tangga, Garis-garis Besar Haluan Organisasi dan pemilihan Ketua Umum PPIT. Pemilihan Ketua Umum PPIT kali ini dilakukan untuk masa kerja selama 2 tahun ke depan. Kali ini PPIT Cabang Xiamen, Fujian dipercaya menyelenggarakan perhelatan akbar Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok tersebut.

Tahun ini, PPIT menyelenggarakan Kongres Nasional di kampus Huaqiao University, Xiamen. Pembukaan kongres dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya secara serentak. Pada acara ini, Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Tiongkok dan merangkap Mongolia, Djauhari Oratmangun membuka Kongres Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok. Dalam sambutannya, Dubes menekankan pentingnya generasi muda Indonesia di Tiongkok memiliki sikap sebagai mahasiswa dari bangsa yang besar yang siap berkontribusi untuk rakyat dan negaranya.

“Indonesia perlu memanfaatkan hubungan bilateral strategis dan komprehensif dengan Tiongkok. Kedua negara ini diprediksikan akan menjadi negara besar di dunia pada dekade-dekade mendatang,” ujar mantan Duta Besar RI untuk Rusia itu.

Selain itu, ia menyebut berbagai indikator ekonomi yang positif bagi Indonesia untuk bertumbuh menjadi negara yang besar dan kuat. Faktor penting yang membuat negara menjadi besar adalah kecintaan warga negaranya akan bangsa tersebut. Inilah yang ditanamkan pada generasi muda di Tiongkok selama puluhan tahun belakangan ini. Dalam pidatonya, beliau yakin generasi muda Indonesia tetap mencintai dan menyayangi NKRI serta dalam bentuk sekecil apa pun ikut berkontribusi untuk kemajuan bangsa, rakyat, dan negaranya.

“Saya yakin mahasiswa Indonesia di Tiongkok akan berkontribusi pada hubungan antara Indonesia dan Tiongkok dan kelak setelah lulus akan menjadi ‘prime mover’ perjalanan bangsa ke depan termasuk hubungan yang saling menguntungkan dengan Tiongkok,” tutur Djauhari.

Kongres yang dibesut PPIT tersebut bertajuk “Menyongsong Inisiatif 'the Belt and Road’ untuk Pembangunan Indonesia” juga dihadiri oleh Konjen RI Guangzhou, beserta jajarannya, dan 21 perwakilan cabang PPIT yang mewakili sekitar 14.000 mahasiswa Indonesia di Tiongkok. Rangkaian kongres dan Simposium Nasional PPI Tiongkok telah mulai dilaksanakan pada tanggal 26 April hingga 29 April 2018 yang ditutup dengan Festival Kebudayaan bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata RI.

Peserta resmi kongres kali ini berjumlah sekitar 100 orang merupakan perwakilan PPI Tiongkok dari 21 cabang, yakni Beijing, Changsha, Chongqing, Guangzhou, Guilin, Hangzhou, Harbin, Hefei, Hong Kong, Nanjing, Ningbo, Nanchang, Shanghai, Shenyang, Shijiazhuang, Suzhou, Tianjin, Wuhan, Wuxi, Xiamen, dan Zhengzhou.

Dalam sidang pemilihan pimpinan lembaga PPI Tiongkok, prosesi ini diawali dengan pemilihan Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi (DPO), pemilihan Ketua DPO ini dilakukan setelah pengesahan pasal tentang DPO dalam konsitusi PPIT. Poin tersebut mengamatkan organisasi PPIT untuk membentuk sebuah lembaga bernama DPO yang memiliki fungsi legislasi, aspirasi dan pengawasan.

Setelah prosesi pemilihan Ketua DPO selesai, para delegasi yang hadir diberikan kesempatan untuk berdiskusi untuk menentukan seseorang yang dianggap memenuhi kriteria presyaratan calon Ketua Umum PPIT sesuai poin yang tertuang pada AD-ART. Setelah melalui sesi lobby dan diskusi, akhirnya delegasi mengajukan dua nama untuk menjadi Calon Ketua PPI Tiongkok yakni Bagas Deka (PPIT Shanghai) dan Fadlan Muzakki (PPIT Hangzhou).

Pada prosesi sidang pemilihan Ketua Umum PPI Tiongkok, Para kandidat diberikan kesempatan untuk menyampaikan Visi dan Misi serta rencana program aksi yang akan dilakukan jika terpilih nanti sebagai Ketua Umum PPIT, kedua kandidat kemudian diberikan waktu diskusi dengan para delegasi melalui sebuah sesi tanya jawab.

Setelah melalui proses diskusi dan lobby yang alot, akhirnya sidang memutuskan untuk melanjutkan tahap pemilihan Ketua Umum PPI Tiongkok, Sistem pemilihan Ketua Umum PPIT sesuai dengan amanat dalam AD-ART dilakukan melalui voting tertutup para delegasi resmi dari cabang yakni sejumlah 21 delegasi. Setelah prosesi pemungutan dan perhitungan suara berakhir, presidium sidang memutuskan Fadlan Muzakki memenangkan hasil perhitungan suara dengan perolehan 15 suara sah, sekaligus menjadikannya sebagai Ketua Umum PPI Tiongkok periode 2018-2020. Dalam pidatonya Fadlan Muzakki mengucapkan terima kasih kepada semua elemen PPIT dan pihak-pihak yang ikut dalam membesarkan PPIT. Ia menggantikan tampuk kepemimpinan di PPIT Pusat yang sebelumnya dipegang oleh Raynaldo Aprilio.

Sebagai informasi, Kota Xiamen terletak di Provinsi Fujian. Lokasi belajar bagi mahasiswa Indonesia untuk menempuh studi dengan jurusan favorit Sastra Mandarin dan Bisnis serta Perdagangan Internasional. Saat ini terdapat sekitar 400 orang mahasiswa Indonesia yg menuntut ilmu di Xiamen dan di antaranya sekitar 200 orang di Huaqiao University.

Bravo PPI Tiongkok!

Penulis
Putra Wanda
Mahasiswa Jurusan Engineering di Harbin, Tiongkok.

Kartu pos dikirim dari Jerman

Kartu pos dikirim dari Korea

Berbagi inspirasi bisa lewat apa saja, salah satunya via kartu pos. Zaman sekarang, mungkin telinga kita sudah mulai asing mendengar frasa “kartu pos” ini. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa korespondensi via media ini pernah hits di era 1900-an. Forum mahasiswa awardee LPDP Jerman sadar akan pentingnya berkirim kisah melalui kartu pos. Tulisan yang berada di halaman belakang foto landmark kota tersebut sangat menarik untuk dikisahkan. Setiap kartu pos memiliki kisah dan sejarah yang ada di dalam cetakannya. Oleh karena itu, selain menebar inspirasi, pengirim kartu pos juga secara tidak langsung turut mengabarkan apa saja yang terdapat di negaranya seperti arsitektur bangunan, kesenian, alat musik, busana tradisional, dan lain-lain.

Pelajar di Indonesia menerima kartu pos dari Nasi Padang

Program Nasi Padang (Menanam Inspirasi Pada Generasi Mendatang) sudah dilaksanakan sejak tahun 2014. Program utama Nasi Padang ada 2 yaitu berkirim kartu pos inspirasi dan memberikan beasiswa kepada adik asuh di Indonesia. Program kirim kartu pos ini prinsipnya simple banget! Pelajar Indonesia di luar negeri akan mendaftar menajdi inspirator dan penerima kartu pos yang posisinya ada di Indonesia juga akan mendaftarkan alamat lengkap mereka untuk mendapat kiriman kartu pos. Selain itu, program pemberian beasiswa juga menjadi salah satu bakti Indonesia bagi kami penerima beasiswa LPDP di Jerman. Program ini disambut baik oleh pelajar-pelajar Indonesia di seluruh dunia. Pengirim kartu pos tidak hanya dari Eropa, melainkan juga dari benua lain seperti Amerika, Asia, dan Australia.

Komentar siswa penerima kartu pos

Menuangkan cerita dengan kemasan yang menarik dan bahasa yang mudah dimengerti menjadi sebuah tantangan tersendiri, lho! Belum lagi kalau harus memikirkan ruang tulis di kartu pos yang cukup minimalis yaitu sekitar 4 x 6 inci untuk ukuran standart. Dan lebih menyenangkan lagi jika membayangkan bahwa kartu pos-kartu pos ini akan terbang hingga ke 400 institusi formal pendidikan di penjuru Indonesia. Penerima kartu pos akan membacakan isi kartu pos tersebut di depan kelas agar dampak positif dari gerakan ini bisa dirasakan oleh teman-teman lain sesama pelajar di Indonesia.

Seluruh kabar baik mengenai kegiatan ini akan diinfokan melalui sosial media Nasi Padang (facebook: Nasipadang Lpdp Jerman, twitter: @mynasipadang, instagram: @nasipadang.id). Jika ada pertanyaan lebih lanjut, bisa menghubungi Tim Nasi Padang via email mynasipadang@gmail.com. Walaupun berjarak ribuan kilometer dari tanah air, hal itu tidak menghalangi semangat kita, pelajar Indonesia di luar negeri, untuk tetap berkontribusi bagi ibu pertiwi. Karena berbagi tidak harus menunggu nanti.

 

 

PPI Dunia membuka kesempatan bagi kamu yang ingin menambah pengalaman berorganisasi sebagai Panitia Pemilihan Raya (Pemira) Koordinator PPI Dunia 2018!

Posisi yang dibuka:
-Ketua Panitia
-Sekretaris dan Bendahara
-Tim Acara
-Tim Humas dan Publikasi
-Tim IT dan Design

Syarat Aplikasi:
1. Curriculum Vitae (untuk yang melamar sebagai Ketua Panitia atau Tim IT, silahkan lihat syarat lebih lanjut dalam poster di bawah ini)
2. Melampirkan surat rekomendasi yang ditandatangani ketua PPI Negara masing-masing.
3. Melampirkan tulisan (maks. 100 kata) mengenai motivasi ingin bergabung sebagai panitia PEMIRA.
4. Diprioritaskan bagi mereka yang dapat menghadiri SI Rusia.

CV dan dokumen pendukung dikirim ke email pemirappid@outlook.com (dengan subject posisi yang ingin dilamar) paling lambat tanggal 04 Mei 2018 pukul 23.59 WIB.

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi email pemirappid@outlook.com

 

Abdullah Ahzami, Ketua terpilih (kiri) dan Faadil udaya, eks ketua (kanan)

Ppmiriyadh.com – Seiring dengan berakhirnya program kerja periode 2017-2018, PPMI Riyadh melaksanakan MUSCAB (Musyawarah Cabang) sebagai laporan pertanggung jawaban, pendemisioneran pengurus sekaligus pemilihan ketua baru. Bertempat di istirahah Ar-Rihab, Dir’iyah, pada Rabu (19/4), dilaksanakanlah program terakhir PPMI kepengurusan Muhammad Faadil Udaya tersebut. Setelah Faadil beserta jajarannya melaporkan kegiatan PPMI Riyadh yang terlaksana dan tidak terlaksana, maka secara resmi telah selesai tugas PPMI periode 2017-2018.

 

Byan Aqila, Ketua PPMI Arab Saudi (kiri) dan Abdullah Ahzami (kanan)

Pimpinan dan peserta sidang kemudian bermusyawarah untuk mengajukan nama-nama calon ketua periode selanjutnya. Lalu tersaring 4 nama kandidat dan setelahnya dipersilahkan kepada mereka untuk berdiskusi menentukan satu nama yang akan diajukan ke forum sebagai kandidat tunggal. Setelah diajukan satu nama dan disepakati oleh seluruh peserta sidang muscab, didapatlah Abdullah Ahzami sebagai Ketua PPMI Riyadh periode 2018-2019. Barakallahu fiik kami ucapkan kepada yang terpilih. Semoga bisa mengemban amanah ini dengan sebaik-baiknya dan membawa PPMI Riyadh semakin maju kedepannya.

 

 

 

 

 

Dunia perkuliahan merupakan wadah bagi mahasiswa untukss mengeksploitasi segala potensinya diberbagai interdisciplinary ilmu. Tuntutan sebagai mahasiswa yang dipredikatkan dapat menjadi agent of change dan generasi yang mempunyai peranan penting dalam proses maju dan berkembangnya suatu negara. Dari sinilah mahasiswa dituntut untuk berdiskusi dan berfikir secara kritis. Faedah dari hal tersebut adalah bagaimana mahasiswa memperoleh pengetahuan, memperbaiki teori serta memperkuat argument. Dilanjutkan dengan mengemukakan dan merumuskan pertanyaan dengan jelas serta menafsirkan informasi secara efektif dan selektif. Menurut Ennis (1962) berfikir kritis adalah kemampuan untuk berfikir jernih dan rasional yang meliputi kemampuan untuk berfikir reflektif dan independen.

Sebagai Putra-Putri Bangsa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Negeri tetangga (Malaysia) tidak lantas membuat kami apatis akan isu yang terjadi di Indonesia. Hari Kamis 12 April tepat pukul 8.30m P.M, Persatuan Pelajar Indonesia di International Islamic University Malaysia yang diketua oleh Rif’at Abdillah, melaksanakan aktifitas akademik yang sekiranya bisa membantu Indonesia dalam sumbangsih pemikiran demi kemajuan Indonesia dengan sebuah diskusi yaitu Interdisciplinary Discussion yang disampaikan oleh delapan Mahasiswa diberbagai disiplin ilmu, dimulai dari bidang Ekonomi, Politik, Hukum, Pendidikan, Komunikasi Media Massa, Teknologi, Pandangan Islam dan Psikologi.

Mengambil tema “ 2030, Indonesia Apa Kabar ” yang digadangkan didua sisi, maju dengan sistem ekonomi paling stabil di dunia atau malah collapse seperti yang dituliskan oleh P.W Singer, seorang politisi dalam novel berjudul Ghost Fleet. Sebuah prediksi dari penggambaran skenario perang Amerika dan China 2030. Walaupun kehancuran Indonesia bukan plot utama di Novel ini, akan tetapi pengaruh kutipan tersebut di Indonesia sangat menjadi menjadi viral menggingat jaman era digital berita di berbagai media sangat mudah untuk di akses.

Salah satu disiplin ilmu adalah sisi ekonomi, Saudara Ali Chamani Al Anshory memaparkan bagaimana kondisi ekonomi kita di era krisis moneter pada tahun 1997 yang dimulai dari krisis keuangan pada pemerintah Thailand dan penularan efeknya sampai ke negara-negara Asia yang lain. Indonesia adalah negara yang paling terpukul karena krisis ini tidak hanya berdampak terhadap ekonomi tetapi juga berdampak signifikan dan menyeluruh terhadap sistem politik dan keadaan sosial di Indonesia. Prediksinya lebih ke tahun 2050 oleh PWC bahwa ekonomi Indonesia akan menjadi terbesar ke 4 setelah Cina, India dan Amerika. Saudara Ali juga menambahkan bahwa itu akan terjadi kalau pertumbuhan ekonomi kita konsisten 5 % keatas continuously, dan tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan seperti perang dan krisis.

Lebih dari itu masing-masing pembicara menyampaikan sikap optimis Indonesia di 2030 dapat menjadi negara kuat dari bidang politik di sistem pertahanan dan keamanaan, teknologi dengan bonus demografi dan industry revolusi 4.0, pendidikan dengan sokongan pemerintah agar menjadikan pendidikan di Indonesia unggul sesuai dengan undang-undang nomor 20 tahun 2003 menjunjung tinggi nilai hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai budaya, dan kemajemukan bangsa dengan satu kesatuan yang sistemis dengan sistem terbuka dan multimakna. Dari sisi keagamaan, ada sifat optimis atau ta’aful yang Rasulullah SAW ajarkan kepada kita agar melihat suatu hal dengan postif. Optimisme agar masyarakat Indonesia bisa aplikasikan hubbul wathan. Bagaimana institusi islam dapat membantu dan berintegrasi dalam membangun Indonesia yang lebih sinergi contohnya dengan pengembangan Komite Nasional Keuangan Syari’ah yang diketuai oleh Presiden Joko Widiod, dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi nasional pun dengan dibarengi ilmu komunikasi bagaimana masyarakat Indonesia mampu memilih informasi yang mempunyai kredibilitas tinggi.

Berbagai manifestasi yang kami tawarkan mendapat respon dari dua Dosen yang sangat positif dengan catatan agar acara seperti ini dapat dikembangkan menjadi Forum Group Discussion dengan waktu yang kurang lebih 3 jam serta pembahasan lebih konkrit dan mendiskusikan hal-hal yang kompleks .

Penulis: Afifah Dinar, International Islamic University Malaysia, PPI Malaysia

Sumber: https://phinemo.com/wp-content/uploads/2015/07/Malaysia-tourism2.jpg

Malaysia sebagai salah satu negara yang bergabung dalam kelompok negara commenwealth (persemakmuran) baru mendeklarasikan kemerdekaanya pada tanggal 31 Agustus 1957. Meski boleh dikatakan terlambat mendeklarasikan kemerdekaannnya, namun ada upaya yang serius yang dilakukan oleh Kerajaan Malaysia untuk mengejar ketertinggalannya. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Kerajaan Malaysia adalah dengan fokus membesarkan pendidikan terlebih dahulu dengan cara menyekolahkan para guru Malaysia untuk belajar ke Indonesia.

Mungkin kita pernah mendengar pada periode dekade tahun 70 dan 80-an banyak guru-guru Indonesia yang diminta mengajar di Malaysia mulai dari giru SD, SMP sampai SMA. Sementara anak-anak muda yang baru lulus sekolah menengah atas dan guru-guru muda Malaysia disekolahkan dan kuliah di beberapa universitas di Indonesia. Program ini dilakukan oleh Malaysia pada periode era tahun 70 dan 80 an. Pemberitaan Kompas pada tahun 1971 memberitakan bahwa Indonesia memberangkatkan 48 guru berijazah sarjana untuk mengajar di Malaysia. Pengiriman guru sekolah menengah ini untuk meningkatkan mutu sekolah menengah di Malaysia yang menggunakan pengantar bahasa Melayu. Tahun 1968 dikirim 44 guru dan pada 1970 sebanyak 100 guru. Setelah tiga tahun, guru-guru tersebut harus kembali ke Tanah Air karena kebutuhan guru di Indonesia belum memadai.

Selain itu, mungkin kita juga banyak mendengar dari para orang tua kita terkait banyaknya pelajar dari Malaysia di era tahun 80-an yang belajar di IKIP (sekarang Universitas Negeri) atau terkenal juga dengan istilah sekolah calon guru. Hal tersebut adalah bagian dari visi dan misi Malaysia untuk mengejar ketertinggalnnya dimana kebijakan yang dibangun adalah dengan melakukan percepatan pendidikan khususnya untuk para guru.

Kebijakan lain yang dilakukan oleh Pemerintah Malaysia khususnya pada era Perdana Menteri Mahatir Muhammad adalah dengan mengirimkan dan memberikan beasiswa kepada semua pelajar atau mahasiswa terbaik agar kuliah di luar negeri dan diprioritaskan adalah dari rumpun melayu. Mahasiswa terbaik tersebut ada yang dikirim ke Indonesia dan juga beberapa negara Eropa khususnya Inggis. Hasil dari kebijakan tersebut pada akhirnya dapat dirasakan saat ini. Hampir semua kampus di Malaysia di isi oleh para doktor dan profesor lulusan UK dan kampus Malaysia hampir semua bertaraf internasional serta menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa standar metode belajar sehingga tidak mengherankan apabila banyak mahasiswa dari seluruh dunia yang belajar di Malaysia. Selain itu, beberapa faktor dan pertimbangan yang menyebabkan Malaysia menjadi salah satu tempat favorit untuk kuliah adalah sebagai berikut :

1. Bahasa Inggris.

Bahasa Inggris di Malaysia menjadi bahasa kedua seteah bahasa Melayu. Anak sekolah di Malaysia sejak sekolah dasar sudah belajar bahasa inggris sehingga ketika menginjak bangku kuliah bahasa Inggris mereka sudah lancar dan fasih. Hal lain yang juga menyebabkan mereka mudah berbahasa Inggris adalah karena Malaysia adalah negara jajahan Inggris yang notabene berbahasa Inggris sehingga lidah orang Malaysia sangat familiar dengan abjad dan lapal bahasa Inggris. Di Malaysia hampir semua orang dapat berbahasa Inggris karena bahasa Inggris telah menjadi bahasa resmi kedua setelah bahasa Melayu. Tentunya hal tersebut menjadikan Malaysia memiliki nilai lebih dibandingkan negara asean lainnya.

2. Sistem Pendidikan yang memudahkan Mahasiswa.

Malaysia termasuk negara yang memiliki kurikulum pendidikan yang ramah terhadap mahasiswa. Pengertian ramah adalah mudah dan tidak membuat mahasiswwa stres. Contohnya setiap mahasiswa baik S-1, S-2 atau S-3 dapat memilih metode kuliah yang mereka imginkan, apakah full course work, course work+thesis research ataupun full research. Jadi bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan untuk menulis dan membuat riset mereka bisa memilih pola kuliah full course work. Sehingga mahasiswa dapat kuliah menyesuaikan dengan kemampuan yang mereka miliki.

3. Infrastruktur Kampus yang Gemilang

Apabila kita mengunjungi Malaysia khususnya Kota Kuala Lumpur untuk pertama kali maka pasti kita akan dikagetkan dengan berbagai infrastruktur yang luar biasa bagus dan keren. Pasti kita tidak menyangka bahwa infrastruktur Malaysia gradenya sudah setara dengan negara maju di eropa, mulai dari jalan hingga bangunan dan gedung. Belum lagi kampus atau universitas yang dibangun secara serius sehingga kampus menjadi tempat yang nyaman dan menggairahkan untuk dikunjungi mahasiswa.

4. Biaya Pendidikan yang Murah.

Malaysia termasuk negara yang menerapkan pola pendidikan murah khususnya untuk universitas negeri yang langsung berada dibawah pengelolaan Kerajaan Malaysia. Pihak kerajaan memberikan semacam subsidi dan bantuan khusus untuk universitas negeri sehingga hal tersebut dapat menekan biaya kuliah sehingga biaya kuliah di universitas negeri di Malaysia pasti akan lebih murah dibandingkan dengan negara lainnya, baik itu untuk S-1, S-2 ataupun S-3.

5. Transportasi Publik yang murah dan Terintegrasi.

Sejak era Perdana Menteri Mahatir Muhammad, visi yang dibangun Malaysia adalah menjadikan Malaysia negara maju pada tahun 2020 dan untuk mendukung hal tersebut di topang oleh sarana publik transportasi yang terintegrasi, canggih, mudah dan murah. Penerapan publik transportasi yang terintegrasi tersebut diterapkan di seluruh wilayah negara bagian Malaysia. Adanya sistem publik transportasi yang terintegrasi, canggih, mudah dan murah tersebut menjadikan Malaysia memiliki daya tarik lebih untuk para pelancong dan juga para mahasiswa asal luar negeri. Mereka tidak meski pergi ke eropa atau jepang untuk menikmati publik transportasi seperti kereta cepat, MRT, LRT dan monorail karena di Malaysia itu semua sudah ada dan sudah terintegrasi.

6. Beasiswa Pemerintah Malaysia.

Malaysia juga termasuk negara yang sangat gencar memberikan beasiswa kepada mahasiswa asing dari berbagai negara dan setiap tahun biasanya angka penerima beasiswa selalu bertambah dan dana beasiswa tersebut bukan hanya berasal dari Pemerintah Malaysia namun juga dari instituis lain yang ada di Malaysia serta dari perusahaan atau BUMN Malaysia. Hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para mahasiswa luar negeri untuk datang ke Malaysia.

7. Biaya Hidup yang Murah.

Malaysia termasuk negara yang sangat konseun terhadap kemajuan ekonomi rakyatnya, sehingga Pemerintah Malaysia selalu mengupayakan agar harga makanan pokok selalu murah dan terjangkau. Hal tersebut menyebabkan biaya hidup di Malaysia murah dan hampir sama dengan biaya hidup di Indonesia. Contohnya Kota Kuala lumpur yang notabene Kota Megapolitan di Malaysia memiliki tingkat biaya hidup yang sama dengan Jakarta padahal apabila di lihat dari pendapatan perkapita masyarakat Kuala Lumpur jauh diatas masyarakat yang tinggal di Jakarta.

8. Ekosistem dan Industri Perekonomian Syariah

Hal lain yang juga menjadi daya tarik tersendiri khususnya bagi mahasiswa Muslim adalah adanya upaya yang serius dari Pemerintah Malaysia untuk menjadikan malaysia sebagai pusat percontohan penerapan ekonomi syariah secara global dan menjadi sebuah ekosistem serta menjadi industri. Hal tersebut menjadi daya tarik bagi negara-negara lain khususnya yang mayorotas muslim untuk mengirimkan warganya belajar ekonomi syariah di Malaysia. Oleh karenanya jangan kaget apabila di beberapa kampus di Malaysia banyak mahasiswa asal timur tengah dan juga afrika yang mayoritas beragama Islam menimba ilmu ekonomi syariah di Malaysia.

Itulah beberapa faktor yang menyebabkan Malaysia menjadi daya tarik dan sebagai salah satu destinasi serta tujuan belajar atau kuliah bagi mahasiswa asing dari berbagai negara di dunia. Negara Malaysia telah mengubah haluan pendidikan yang selama ini selalu di dominasi oleh pendidikan barat sehingga mengalihkan dan menjadikan pendidikan di wilayah timur menjadi alternatif untuk menimba ilmu dan pengalaman.

Semoga Indonesia yang notabene dulunya adalah guru bagi Malaysia juga dapat kembali merapatkan barisan, bekerja keras dan bekerja cerdas serta “tidak alergi dan malu” untuk belajar dari Malaysia dan mengejar ketertinggalan pendidikan dari Malaysia sehingga dalam dataran yang paling minimal kita dapat menyaingi kualitas pendidikan Malaysia yang hampir semua kampusnya sudah bertaraf Internasional.

Adanya program pengiriman guru-guru Indonesia ke Malaysia yang dilakukan oleh PPI Malaysia bekerjasama dengan PPI Dunia adalah sebagai upaya untuk kembali mengulang sejarah masa lalu yang juga dilakukan oleh Malaysia di era tahun 70 dan 80 an yang mengirimkan para gurunya untuk belajar ke Indonesia. Inilah takdir yang mau tidak mau dan suka tidak suka harus kita hadapi, so jangan malu dan alergi untuk mengatakan ayo kita belajar dari Malaysia. Insha Allah Pemerintah dan Kerajaan Malaysia akan sangat welcome menyambut kedatangan para guru asal Indonesia karena kitapun dulu sangat welcome menerima kedatangan para guru dari Malaysia. Tentunya program ini juga harus menjadi bagian tidak terpisahkan dari program KBRI Malaysia yang nantinya akan membantu membuka dan memudahkan jalan serta akses kepada Pemerintah dan Kerajaan Malaysia.

Penulis: Hani Adhani

Jika sering membaca CNN International South Asia, maka berita tentang dinamika hubungan bilateral antara Pakistan dan India diwarnai dengan berbagai konflik dan perang sangat sering menjadi headline news. Perebutan Lembah Kashmir adalah salah satu pemicu adanya perang antara dua negara ini. Walaupun seperti yang kita ketahui, asal muasal negara ini terpecah belah disebabkan adanya pemisahan wilayah antara India yang terdiri dari sekelompok sekuler dan juga menganut agama Hindu dengan Muslim Pakistan pada bulan Agustus 1947.

Satu bulan lalu, saya berkesempatan menyaksikan langsung persaingan yang memperlihatkan sisi nyata dengan adanya praktik militer upacara penurunan bendera oleh masing-masing negara atau dikenal dengan istilah beating retreat. Sore itu, kami beriringan jalan menuju gerbang perbatasan bersama turis lokal dan turis asing. Ada satu perasaan bangga kala itu, berada tepat di perbatasan dua negara yang cukup menjadi simbol rivalitas. Upacara ini terbilang unik, karena letaknya di perbatasan Pakistan dan India. 50KM dari kota Lahore (Pakistan) dan 28 KM dari kota Amritsar (India).

Suara gemuruh tagline dari sisi barat dan timur semakin lantang terdengar. Tentu tanpa suruhan siapapun, saya ikut bersorak bersama Pakistani (orang Pakistan) dan sesekali menangkap foto dan video untuk moment langkah ini. Bersahut-sahutan dari kedua sisi perbatasan membuat siapapun yang mendengar akan merasakan jiwa nasionalis mengalir deras. Pakistan bersorak “Pakistan, Zindabad “ dari tribun yang posisinya berlawanan dengan India yang bersorak “Jai Hind”.
Tak lupa hentakan sepatu yang seolah-olah memahami ritmenya dan gerakan tentara professional yang memakai baju dinas dari masing-masing negara. Pakistan Rangers memakai baju dinas hitam, dan coklat kekuningan pakaian pasukan keamanan Border Security Forces India. Kaki dan tangan yang terayun sinkron membuat mata saya tidak bisa berpaling dan tetap mengabadikan moment harian di Wagah Border ini.

Sebelum penurunan bendera secara resmi dimulai, akan ada hiburan atau atraksi dari Pakistan dan India untuk membakar semangat para turis lokal dan turis asing yang dipandu oleh tentara berperawakan tinggi menjulang. Sambil meneriakkan yel-yel dari dua sisi. Lalu mereka membuka gerbang perbatasan yang secara resmi menjadi jalur darat untuk masing-masing negara berlalu-lalang. Para tentara memasang wajah seperti memperlihatkan kemarahan dan ambisi dari dua negara yang telah melaksanakan upacara ini dari tahun 1959, lalu bertatap muka dan berjabat tangan. Berjabat tangan-pun harus memperlihatkan urat-urat di wajah.

Tiba di penurunan bendera suasana hening, hikmat dan seakan ada aba-aba dari langit. Setelah rapi terlipat dan disimpan di markas masing-masing, mereka pun berjabat tangan diikuti penutupan gerbang dan suara trompet yang menandakan berakhirnya ceremony ini. Acara yang setiap hari digelar ini, menyisakan banyak keunikan termasuk para tentara yang berjalan mengangkat kaki mereka setinggi kepala bahkan melebihi. Suasana sunset dan gemuruh berfoto bersama Pakistan Rangers menutup kepulangan para turis lokal dan turis asing meninggalkan perbatasan ini.

Output yang bisa saya bawa pulang dari ritual ini adalah bagaimana belajar sejarah panjang dari dua negara. Bukti jiwa patriotisme juga menyelimuti perasaan siapapun yang melihat ritual ini secara langsung. Awalnya saya bertanya, apakah beating retreat mampu menjadi rekonsiliasi dua negara dan apakah mereka akan mempererat hubungan kedua negara dengan adanya acara harian ini, bahkan para tentara penjaga perbatasan? Ternyata tidak! Acara ini hanya sebuah pertunjukkan drama politik yang menandakan bahwa dua negara yang sedang penuh emosional ini tetap berlangsung sampai sekarang. Secara tidak langsung pelajaran yang bisa kita petik adalah seremoni ini harusnya menjadi gambaran bahwa kerukunan lebih indah dari pada pertikaian yang tidak selesai-selesai. Permusuhan lebih tepatnya ada di kalangan politikus bukan kebanyakan dari masyarakatnya. Jadi teringat hari pertama di Pakistan Islamabad, kami dihimbau agar tidak banyak berbicara mengenai India. Iya, mereka sensitif.

Penulis: Afifah Dinar, PPI Malaysia

Pada hari Sabtu tepatnya tanggal 10 Maret 2018, Sulaiman Al Rajhi Colleges yang berada di Kota Al Bukhayriyyah, Provinsi Qassim, Arab Saudi mengadakan perlombaan memasak antar mahasiswa. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Nazaha and Social Activity Club yang bernaung di bawah Student Affairs Department. Dalam perlombaan ini diikuti 9 kelompok yang masing masing terdiri dari 6-10 orang mahasiswa. Beberapa Negara yang ikut serta dalam perlombaan ini rata rata berasal dari Timur Tengah seperti Yaman, Sudan, Suriah dan Mesir. Tidak mau kalah untuk unjuk kemampuan, 6 Mahasiswa Indonesiapun turut memeriahkan perlombaan ini. Acara ini berlangsung di perkemahan yang berada di tengah tengah padang pasir. Dimulai selepas dzuhur hingga pukul 10 malam.

Setiap grup diberikan waktu sekitar 2 jam saja. Menu utama yang diperlombakan adalah ayam dan nasi. Masing masing diberikan 3 potong ayam utuh dan 5 kg nasi. Bagi kami mahasiswa Indonesia, telah menyiapkan beberapa jenis masakan nusantara yang siap dilombakan. Walaupun kami sempat kesulitan karena keterbatasan bumbu bumbu yang ada di sini, tapi itu semua tidak membuat kami berhenti untuk menciptakan cita rasa nusantara yang penuh dengan kelezatan. Jenis makanan yang kami hidangkan adalah ayam bakar madu, ayam gule, ayam opor dan sate. Nasi tumpeng dengan berbagai lauk pauknya (Kerupuk, Mie goring, Bihun, Bakwan, Telur rebus) menjadi senjata kami sebagai makan inti atau dengan kata lain sebagai ‘gong’ nya perlombaan ini.

Dengan waktu yang sangat singkat, Alhamdulillah kami bisa menyelesaikan semua jenis masakan tersebut meski harus kewalahan karena memasak bukanlah basic kawan kawan disini. Tidak hanya itu, cuaca yang sangat panaspun membuat perlombaan ini semakin terasa menantang. Penilaian dalam perlombaan ini terdiri dari rasa masakan, kebersihan saat memasak dan ketepatan waktu dalam proses memasak.

Setelah seluruh masakan dihidangkan pergrup, mulailah juri juri menilai dan mencicipi masakan. Dari 9 kelompok yang ada, hanya kamilah yang memasak masakan dengan jenis yang paling banyak dan berbeda. Dan ini merupakan nilai tambah tersendiri untuk kami. Seluruh masakan yang dihidangkan setelah penjurian akan dimakan bersama sama. Hampir seluruh peserta merasakan lezatnya masakan khas Indonesia ini. Ya, acara ini tidak hanya sebagai mempererat hubungan antara sesama mahasiswa dengan staff akan tetapi sebagai pengenalan akan budaya dan ciri khas suatu bangsa. Sehingga kami semua dapat belajar pengalaman serta wawasan yang berbeda. Tidak lama setelah kami menyelesaikan makan bersama, barulah diumumkan siapa sajakah yang berhak mendapatkan juara. Alhamdulillah, Indonesia mendapatkan juara pertama dengan nilai tertinggi.

Selepas perlombaan memasak, untuk menghadirkan rasa persaudaraan dan menguji wawasan internasional, diadakanlah acara tanya jawab yang berisi tentang soal soal sejarah, geografi dan syair Arab. Acara ini sangat menyenangkan dan membuat kami semua merasa segar kembali setelah lelahnya memasak dicuaca yang sangat panas. Walaupun setiap hari kami berkutik dengan pelajaran medis, tapi untuk kemampuan memasak, siapa takut!

Penulis: Adam Prabowo

Chongqing, Tiongkok ~ Kota yang biasa disebut dengan kota kabut yaitu Chongqing, Tiongkok, kali ini mendapat kesempatan menjadi tempat pelaksanaan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) perdana yang dilaksanakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok region selatan periode 2017-2018. Latihan Dasar Kepemimpinan adalah sebuah ajang pelatihan untuk melatih jiwa kepemimpinan seseorang dan kerjasama serta kebersamaan para peserta. Region Selatan yang juga mencakup 9 kota di Tiongkok, terdiri dari: Changsha, Chongqing, Guangzhou, Guilin, Hong Kong, Liuzhou, Nanning, Wuhan, dan Xiamen dengan bangga mengangkat tema “Metamorfosis” yang bersub-tema kan “Transformasi Pemuda Milenials menjadi Pemimpin Bangsa” untuk LDK perdana ini. Seperti yang kita ketahui makna dari metamorfosis ini adalah suatu proses perubahan dari waktu ke waktu ke arah yang lebih baik. Sesuai dengan temanya, dari LDK ini diharapakan setiap perserta yang mengikuti kegiatan dapat bertransformasi kearah yang lebih baik, memiliki pondasi kepemimpinan yang kuat, menjadi diri mereka sendiri, mempunyai karakter yang kuat untuk menjadi pemimpin, daya juang yang pantang menyerah untuk menghadapi setiap masalah, solidaritas terhadap orang-orang disekelilingnya dan lebih percaya diri mengembangkan potensi yang mereka miliki.

Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 17-18 Maret 2018 di Daxuecheng, distrik Shapingba, Chongqing. Para peserta dan tamu undangan dari PPIT pusat maupun cabang mulai berdatangan tepat sehari sebelum dimulainya rangkaian acara LDK, sehingga membuat acara ini berjalan dengan baik dan lancar. Sambutan pembukaan yang diwarnai dengan hiruk pikuk perkenalan antara panitia dan peserta, membuat acara latihan kepemimpinan ini sangat harmonis. Pada hari pertama, agenda upacara bendera dalam Apel pagi berjalan dengan sangat khusyuk karena tiada hentinya kami para pemuda bangsa mencintai lambang dan simbol negara dari Republik Indonesia, yaitu Sang Merah Putih. Setelah Apel pagi berlangsung, dilakukan pemberian Materi “Kepemimpinan & Keorganisasian” oleh saudara Michael Siagian selaku perwakilan dari PPI Tiongkok dan Respati Anintyo selaku Ketua PPIT Cabang Guangzhou. Seusai materi pertama, panitia sudah menyiapkan sebuah permainan berjudul “Building Trust” sebagai selingan untuk membuat para peserta lebih semangat dan atraktif menyimak materi kedua, yaitu mengenai “Sejarah Indonesia & PPI Tiongkok”. Nasi kuning yang menjadi makanan ciri khas Indonesia disajikan sebagai makan siang kepada para peserta agar terus dapat mengingat cita rasa kampung halaman.

Setelah itu, kegiatan outbond yang paling dinantikan oleh peserta pun akhirnya dilaksanakan setelah makan siang, di sini para peserta telah dibagi menjadi tiga kelompok besar. Permainan outbond yang sudah diseleksi dan dipilih oleh panitia memiliki banyak tujuan dan makna, salah satunya adalah para peserta diharapkan dapat terlatih dalam cara menyelesaikan masalah dalam setiap persoalan baik di organisasi maupun kehidupan. Materi “Peran Pemuda Membangun Negeri” yang disampaikan oleh saudara Fadlan Muzaki menjadi materi terakhir dalam rangkaian acara LDK ini sebelum dimulainya agenda simulasi sidang pada malam hari. Pembahasan Anggaran Dasar (AD) dan Isu-isu yang tengah hangat di tanah air Indonesia menjadi dua agenda utama dalam simulasi persidangan di LDK region selatan ini. Suasana persidangan yang dibangun oleh para panitia dan peserta menjadi sangat seru karena semangat dan antusiasme peserta dalam menyampaikan pendapat-pendapat kritis. Selain itu, malam refleksi yang merupakan agenda penutup di hari pertama LDK region selatan ini berlangsung sangat hikmat sehingga para peserta dengan serius melakukan evaluasi diri.

Pembacaan hasil penilaian dan pemberian hadiah kepada peserta dan kelompok terbaik di hari kedua ini sekaligus menjadi closing ceremony dari LDK region selatan. Tidak lupa lembar evaluasi dibagikan kepada seluruh peserta untuk mengevaluasi acara ini agar acara LDK selanjutnya dapat berjalan lebih baik lagi. Sangat di harapkan bagi peserta yang mengikuti LDK region selatan yang bertemakan “Metamorfosis” bisa benar-benar bertransformasi menjadi pemimpin yang berguna bagi bangsa dan negara.

Dokumentasi Foto : outbond, simulasi sidang, upacara, materi, closing ceremony

Hiroshima, Rabu, 21 Februari 2018, bertempat di Aula Rektorat Universitas Hiroshima pukul 13.30 JST, Wakil Presiden H. M. Jusuf Kalla menerima gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dalam bidang perdamaian dan pembangunan. Sebelumnya beliau telah mendapatkan sepuluh gelar kehormatan dari berbagai universitas, baik dari universitas di dalam maupun luar negeri. Gelar kehormatan ini merupakan yang ke sebelas bagi beliau, dan merupakan gelar kedua yang diberikan di tahun 2018 ini. Penganugerahan tersebut dipimpin langsung oleh Rektor Universitas Hiroshima, Prof. Mitsuo Ochi. Dalam sambutannya Ochi sensei memaparkan jika apa yang telah dilakukan oleh Jusuf Kalla dalam bidang kemanusiaan sejalan dengan visi Universitas Hiroshima, yakni: Semangat yang Mendambakan Perdamaian.

Bapak H. M. Jusuf Kalla bersama Rektor Universitas Hiroshima Mitsuo Ochi sesaat setelah penganugerahan gelar Honoris Causa

Beliau mengatakan bahwa gelar Doktor Kehormatan dianugerahi kepada beliau atas prestasi yang diraihnya dalam mempromosikan berbagai kegiatan dan aksi perdamaian seperti bekerja keras menyelesaikan masalah konflik di Indonesia selama bertahun-tahun. Sudut pandang luas dari berbagai aksi kemanusiaan tersebut juga dapat membantu Universitas Hiroshima untuk lebih maju menuju era globalisasi. Beliau juga berharap agar Jusuf Kalla dapat membantu Universitas Hiroshima untuk kembali masuk dalam daftar perguruan tinggi tujuan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Indonesia, mengingat tingginya antusias calon mahasiswa dari Indonesia yang ingin melanjutkan kuliah mereka di kampus ini.
Upacara penganugerahan gelar kehormatan tersebut dimulai sekitar pukul 13.15 JST dan berlangsung dengan khidmat hingga pukul 13.45. Turut hadir dalam acara ini Ny. Mufidah Kalla, Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang, Arifin Tasrif beserta istri, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Tokyo Alinda Medria Zain, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Utusan Khusus Presiden untuk Jepang Rachmat Gobel, dan mantan Dubes RI Muhammad Lutfi beserta rombongan, 30 orang mahasiswa Indonesia, 30 orang staf akademik serta non-akademik Universitas Hiroshima, Rektor dan mantan Rektor serta beberapa staf akademik Universitas Hasanuddin Makassar, Ketua PPI Dunia, Perwakilan PPI Jepang, Ketua PPI Chugoku, Ketua PPI Kansai, Ketua PPI Hiroshima, Ketua PPI Osaka – Nara, beberapa orang pers dari dalam dan luar Jepang, serta beberapa undangan lainnya.

Bapak H. M. Jusuf Kalla menyampaikan sambutan

Acara ini tertutup untuk umum dan bagi mahasiswa yang hadir pun diwajibkan mengisi form pendaftaran terlebih dahulu. Pendaftarannya sendiri dibuka seminggu sejak acara dan ditutup beberapa hari setelahnya dikarenakan banyaknya pendaftar, akan tetapi kuota untuk mahasiswa cukup terbatas. Pendaftaran dibagi untuk dua sesi: upacara penganugerahan gelar serta kuliah umum oleh Jusuf Kalla. Terdapat jeda lima belas menit di antara kedua sesi acara. Sesi kedua rangkaian acara ini dimulai pada pukul 14.00 JST dihadiri oleh 40 orang mahasiswa lainnya di samping para undangan yang sebelumnya ikut menyaksikan acara di sesi pertama. Para mahasiswa Indonesia yang turut hadir berasal dari berbagai daerah, dari Sabang hingga Merauke, serta terdapat pula beberapa mahasiswa asing dari berbagai negara yang juga turut mendaftarkan diri untuk menghadiri acara ini.

Bapak H. M. Jusuf Kalla bersama para Mahasiswa Indonesia yang ada di Jepang

 

Dalam kuliah umumnya yang bertajuk: The Incompatibility Between Conflict and Civilization, Jusuf Kalla menyampaikan rasa simpatinya kepada masyarakat Jepang, khususnya Hiroshima dan Nagasaki, dimana pada tahun 1945 kedua kota ini dijatuhi bom atom nuklir yang memporak-porandakan hampir seluruh wilayahnya. Hal tersebut tentunya menjadi suatu mimpi buruk bagi kemanusiaan dan perdamaian dunia. Konflik merupakan hal yang tidak pernah sejalan dengan peradaban manusia karena dapat merusak tatanan hidup manusia, serta melukai harga diri kita sebagai manusia.

“Konflik tidak akan pernah memperlihatkan kepada kita betapa indahnya masa depan”, ungkap beliau dalam kuliah umumnya. Dalam sesi ini juga, dua orang hadirin diberi kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan. Sebelum mengakhiri kuliahnya, beliau mengutip sebuah ungkapan Jepang yang cukup mendalam dan tentu dapat menjadi suatu bahan pelajaran bagi kita semua: “Tiga puluh enam rencana bagaimana memenangkan peperangan tidak akan sebaik sebuah rencana untuk mundur dari pertarungan”. Di akhir seluruh rangkaian acara tersebut, Bapak Jusuf Kalla beserta rombongan menyempatkan untuk berfoto bersama mahasiswa serta masyarakat Indonesia yang hadir dalam acara tersebut, dan beliau juga mengapresiasi permintaan beberapa mahasiswa asing yang ingin mengambil gambar bersama beliau.

Bapak H. M. Jusuf Kalla berfoto bersama para Mahasiswa dan Masyarakat Indonesia di Jepang

Hak asasi manusia dan segala hal yang terkait dengan kemanusiaan tentunya dapat hancur jika kita tidak bisa menyikapi perbedaan dengan baik. Jangan mudah terhasut oleh berbagai isu yang dapat melukai keberagaman kita, dan hargailah segala bentuk perbedaan yang ada dalam lingkungan kita. Berbeda itu indah dan perbedaanlah yang membuat hidup kita berwarna. Tetap harumkan nama Indonesia di mata dunia, tetap dukung segala karya anak bangsa, dan tetap banggalah menjadi Warga Negara Indonesia dimana pun kalian berada.
Salam hangat dari negeri sakura untuk semua anak bangsa di mana pun berada!

Penulis :
Adriani Mutmainnah
Island Biology - Miyajima Natural Botanical Garden of Hiroshima University

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920