logo ppid

Jangan lewatkan diskusi mengenai Hari Perhubungan Nasional di RRI VOI Senin, 18 September 2017!

Jangan lewatkan diskusi mengenai Hari Aksara Indonesia dalam program Youth Forum dan KAMU pada hari Senin, 4 September 2017. Hanya di RRI Voice of Indonesia!

Tanggal 17 Agustus sebentar lagi akan tiba. Sorak sorai kemeriahan peringatan hari kemerdekaan pun sudah terdengar membahana, mengabarkan kegembiraan jutaan rakyat Indonesia. Menyambut hari yang istimewa ini, jangan lewatkan siaran "Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia" pada hari Senin, 14 Agustus 2017 pada pukul 10.30 WIB untuk Youth Forum dan pukul 11.30 WIB untuk KAMU. Hanya di RRI Voice of Indonesia!

Hingga saat ini, jumlah manusia di bumi ini telah mencapai tujuh setengah milyar jiwa. Jumlah yang fantastis ini tentu tidak terlepas dari pertumbuhan penduduk yang sangat pesat dalam beberapa dekade terakhir. Hal ini tentu menyisakan berbagai permasalahan dan tantangan yang harus dihadapi umat manusia. Apa sajakah tantangan-tantangan tersebut? Lalu bagaimana perkembangan populasi dunia ke depannya? Jangan lewatkan siaran radio RRI bersama PPI Dunia tanggal 10 Juli 2017 mengenai World Population Day bersama Hestutomo Restu Kuncoro dari PPI UK dalam Youth Forum dan Imawati Harun Ruhyana dari PPI Jepang dalam KAMU (Kami Yang Muda).

Buku adalah jendela dunia. Tentu kalimat ini sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita semua. Ya, buku memang memiliki peran besar dalam kehidupan, tidak terkecuali dalam pembangunan nasional. Bahkan, pemerintah telah menetapkan 18 Mei sebagai Hari Buku Nasional. Sahabat PPI Dunia sekalian tentu penasaran kan apa saja makna Hari Buku Nasional serta serba-serbinya? Jangan lewatkan siaran PPI Dunia Senin, 8 Mei 2017 bersama Gusti Chysta Sarah Islami (PPI Finlandia) dalam Youth Forum pada pukul 10.30 WIB dan Alanda Kariza (PPI UK) dalam KAMU (Kami yang Muda) pada pukul 11.30 WIB. Tentunya hanya di Radio RRI, Voice of Indonesia!

 

Tahun 1950 menjadi tahun pertama Indonesia berhasil menerbitkan Film. Belakangan ini, minat menonton Film Indonesia semakin bertambah dengan keberagaman tema yang disuguhkan. Jangan lewatkan bincang-bincang menarik mengenai Film Indonesia hanya di RRI VOI Senin, 27 Maret 2017!

Musik tentu sudah tidak asing di telinga kita. Salah satu produk kebudayaan ini dapat dijumpai dengan mudah setiap harinya. Tak hanya itu, musik pun dapat menjadi identitas suatu organisasi, suku, bahkan bangsa, tak terkecuali Indonesia. Namun, seperti apakah musik nasional Indonesia itu? Apa pula yang dimaksud dengan musik nasional? Simak siaran RRI bersama PPI Dunia hari Senin, 6 Maret 2017 yang berjudul "Musik Nasional" dalam program Youth Forum bersama Yaza Azzahara Ulyana (PPI Malaysia) pada pukul 10.30 WIB dan dalam program KAMU (Kami yang Muda) bersama Dionisius E. Trihastama (Permira) pada pukul 11.30 WIB.

(more…)

Liputan Inggris Raya - Departemen Riset dan Kajian Strategis PPI-UK, berkolaborasi dengan King’s College London Indonesia Society mengadakan diskusi bertema pemilihan kepala daerah atau pilkada bagi WNI yang tinggal di luar Indonesia dengan tajuk: “PPI UK Roundtable Discussion: On Citizen Rights and How to Form a Good Election”.

Diadakan di kampus King’s College London pada tanggal 11 Februari 2017, diskusi ini dihadiri oleh 40 mahasiswa Indonesia, diantaranya ada 3 panelis: Dr. Syahrul Hidayat (Dosen Ilmu Politik UI, researcher di Exeter University), Ariyo Pahla (Chairman of Lingkar Studi Cendekia) dan Dwi Kiswanto (Mahasiswa PhD SOAS London). Roundtable discussion yang berlangsung sejak pukul 11.00 hingga 14.00 GMT dimulai dengan presentasi ketiga panelis, kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi.

Foto bersama peserta PPI UK Roundtable Discussion

Ketua Acara PPI UK Roundtable, Melda Magiafitri, menyampaikan bahwa acara ini diselenggarakan menanggapi pilkada serentak yang akan dilaksanakan di seluruh wilayah di Indonesia pada tanggal 15 Februari 2017. Akan tetapi, WNI yang sedang bekerja atau menempuh studi di luar negeri tidak dapat ikut berpartisipasi. Tidak seperti pemilu untuk memilih pemimpin negara, pilkada sampai saat ini belum difasilitasi oleh pemerintah Indonesia untuk dilaksanakan di luar negeri karena berbagai alasan. Syahrul Hidayat, yang juga pernah ikut membantu penyelenggaraan pemilu presiden di Inggris berapa waktu lalu, mengatakan bahwa penyelenggaraan pilkada di luar negeri belum dapat diselenggarakan karena biaya yang cukup besar, sistem pemilu yang belum sempurna, dan proporsi WNI yang berada di luar Indonesia cukup sedikit dibandingkan dengan jumlah WNI secara keseluruhan. Kenyataan ini disayangkan oleh Ariyo Pahla, yang menyatakan “berapapun harganya, hak pilih warga negara harus difasilitasi. Seperti penyandang disabilitas, tidak peduli seberapa mahal fasilitas yang harus disediakan pemerintah bagi mereka, namun harus tetap dipenuhi. Begitu pula dengan hak memilih dalam pilkada/pemilu”. Di presentasinya Ariyo juga mendukung pilkada luar negeri diselenggarakan karena, menurut analisanya, di saat pemilihan pemimpin daerah atau negara pendapatan pajak cenderung naik dan pengeluaran cenderung menurun. Pernyataannya ini didukung oleh fakta bahwa banyak negara yang mendapatkan keuntungan ekonomi karena demokrasi yang diterapkan secara penuh.

“Sistem Pemilu yang paling cost-effective dan do-able untuk WNI yang tinggal di luar negeri hanyalah dengan sistem electronic voting” ujar Syahrul Hidayat. Dari presentasi salah satu panelis, Dwi Kiswanto, sistem e-voting atau pemilihan via internet sebetulnya sedang dikembangkan oleh BPPT. Namun, pada praktiknya, pemilihan ini tidak benar-benar elektronik karena pemilih harus tetap datang ke TPU. Di masa yang akan datang, apabila sistem pemilihan elektronik telah diterapkan, tidak menutup kemungkin WNI di luar negeri dapat untuk ikut memilih pemimpinnya. Ide mengenai voting elektronik ini bukan hal mustahil, Indonesia hanya perlu untuk belajar dari negara lain yang juga menerapkan sistem ini, seperti yang dinyatakan Syahrul Hidayat, “Bosnia sudah menerapkan system voting online regional election bagi warganya yang tinggal di luar negeri. Di Indonesia, ada wacana tahun 2019 e-voting akan diterapkan untuk pemilihan presiden. Jika berhasil, maka perlahan bisa diaplikasikan untuk pilkada sehingga orang Indonesia dimana saja bisa ikut memilih dalam pilkada”.

Kepala Departemen Kajian Strategis dan Riset PPI-UK, Samuel Leonardo Putra

Acara dilanjutkan dengan diskusi bersama mahasiswa yang hadir. Salah satu mahasiswa menanyakan mengenai kemungkinan pilkada di luar negeri akan diselenggarakan di masa depan. Dwi Kiswanto, mahasiswa PhD dengan tesis berjudul “Centre-Periphery Relations and Political Accountability in Decentralising Indonesia”, menjawab “tidak terlalu penting untuk saat ini, meskipun di masa depan tidak mustahil. BPPT menjanjikan pemilihan presiden bisa segera e-voting, tidak menutup kemungkinan ini juga diterapkan untuk pemilihan kepala daerah. Kita kan lihat demokrasi dari voting participation. Untuk menolak ukur nilai demokrasi itu selain bisa dilihat dari orang, dilihat juga dari political awareness”.

Acara lalu ditutup dengan sesi foto bersama dan ramah tamah antar mahasiswa Indonesia yang hadir di acara ini.

Siapa sih yang tidak pernah mendengar University of Oxford? Ya, sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia, universitas yang terletak di Kerajaan Inggris Raya ini menjadi idaman para mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi. Simak serba-serbi kehidupan kampus dan cara mendapatkan beasiswa di University of Oxford bersama Sandoko Kosen, mahasiswa program DPhil in Condensed Matter Physics pada hari Minggu, 29 Januari 2017 pukul 21.00-23.00 WIB hanya di Radio PPI Dunia.

 

“Potensi laut Indonesia sangat besar jauh di luar yang diperkirakan. Pemerintah sudah terus mengupayakan pemanfaatan sekaligus pelestarian sumber daya laut dan perlu peran pemuda dalam lebih mendukung hal ini,” terang Aldy Muhammad Zulfikar dalam Siaran Kami Yang Muda RRI Voice of Indonesia pada hari Senin (16/01/17).

Penetapan Hari Dharma Samudera di Indonesia pada tanggal 15 Januari merupakan memorial pertempuran di Laut Aru melawan Belanda. Pada saat itu, dengan semangat “Kobarkan Semangat Pertempuran”, Yos Sudarso gugur bersama dua Kapten lain dalam perjuangan penyerahan Irian Barat kembali ke Indonesia.

“Peringatan Hari Dharma Samudera kurang diketahui, hanya diketahui oleh sedikit kalangan seperti TNI-AL. Perlu lagi dimasyarakatkan lagi mengenai peringatan hari yang bersejarah ini. Memorial hari ini penting dalam membangun patriotisme pemuda Indonesia. Tidak lupa pula penting apresiasi terhadap nelayan yang berkontribusi langsung dalam bidang kelautan,” ungkap Aldy, yang merupakan mahasiswa jurusan Hubungan Internasional dalam program beasiswa Erasmus.

“Pemuda Indonesia cukup baik dalam semangat nasionalisme dan keinginan untuk memajukan Indonesia melalui segi pendidikan dan teknologi. Terutama pelajar Indonesia di luar negeri, dengan perbedaan budaya di tempat mereka menempuh studi, tentu saja rasa kebangsaan dan jati diri akan lebih kental dengan tidak melupakan toleransi terhadap orang lain,” lanjut mahasiwa yang sedang menjalankan internsipnya di Polandia tersebut.

Harapan Aldy adalah masyarakat khususnya pemuda harus tetap menghargai hasil kekayaan laut Indonesia dibandingkan menggunakan produk luar negeri serta menjaga kelestarian dan keamanan kemaritiman. Lebih baik lagi, pada yang bergerak di bidang maritim, diharapkan kontribusi lebih dalam pengembangan teknologi kelautan.

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920