logo ppid

Kajian terhadap teks merupakan bagian dari seni memahami pesan, peristiwa serta bagaimana pemahaman manusia terhadap teks tersebut, serta bagaiaan teks dijadikan sebagai kekuatan mobilisasi dalam masyakat. Islam menempatkan pesan ajarannya pada teks-teks Al-Qur’an dan hadist nabi. Dari teks ini lah Islam difahami oleh manusia. Berbeda dengan teks sejarah dan peradaban, ajaran islam yang diyakini sebagai ajaran samawi mempunyai ruang holistic yang mana pesan-pesan yang termuat dalam ajarannya terfokus pada memahami the mind of God. Ajaran agama menurut Gianni Vattimo tidak bisa dilepaskan dari wacana interpretasi. Agama sejak awal munculnya tidak bisa lepas dari dekonsruksi pemahaman terhadap teksnya. Sehingga bias-bias antropologi, sosiologi dan sejarah manusa tidak bisa dilepaskan dari proses memahami teks agama.

Teks ajaran Islam difahami mempunyai dua sisi qod’iyah (pemahaman yang besifat mutlaq )dan dhoniyah (pemahaman teks yang bersifat multi tafsir). Dua pola memahami teks Islam ini mewarnai bagaimana ajaran Islam difahami. Hegemoni serta claim terhadap pandangannya terhadap teks tersebut menjadikan Islam menjadi sebuah ajaran yang borjuis dan beberapa kelompok meyakini pemahamanya terhadap Islam sebagai pemahaman yang final. Pola pemahaman tersebut menjadikan Islam dengan teksnya sebagai ajaran yang eksklusif.

Sejarah akar ideologi eksklusif dalam Islam bermula dengan munculnya sekte khawarij yang awal munculnya merupakan respon terhadap perbedaan antara sayidina Ali dengan Muawiyah dengan mengusung gagasan la hukma illa lillah mereka melakukan interpretasi terhadap teks teks kitab suci dengan asumsi tidak ada hukum kecuali bersandar pada ketentuan syariah Allah. Khawarij berusaha melakukan doktrinitas dan absolutitas terhadap pemahamannya sebagai interpretasi yang mewakili keinginan Tuhan. Keyakinanan dan pemahamannya dianggap sebagai representasi the mind of God. Pola gerakan sekte khawarij yang awal kemunculan merupakan sikap politik kemudian masuk dalam lingkaran ideologi keagamaan. Sehingga benih radikalisme tumbuh dengan faham takfir (pengkafiran) terhadap sahabat rasulullah yang tidak sejalan dengan pemahamannya, khawarij merupakan sekte pertaman yang mengunakan legalitas agama untuk menghukumi dan melakukan tindakan kriminal terhadap golongan yang tidak sejalan dengan pemahamannya.

Ronal Dworkin dibukunya Religion Without God mengatakan tidak jarang keberagamaan ketika bersinggungan dengan politik, hukum serta kehidupan masyarakat lebih dominan dengan klaim dan sikap yang tidak jarang justru lebih dominan dari nilai-nilai Tuhan, seperti kasih sayang, memberikan kedamaaian. Keberagamaan dalam beberapa kasus justru menjadi alat mobilisasi massa yang sering menghilangkan nilai-nilai ajaran Tuhan. Ajaran Islam yang bermuara pada teks diasumsikan oleh kalangan radikal sebagai ajaran yang statis dan final. Tatanan ekonomi, politik, ideologi dianggap sudah mapan dan harus selalu diperjuangkan kebenaran finalitasnya, bahkan terkadang tidak perlu adanya rekonstruksi pemahaman umat saat ini, tapi di kembalikan pada generasi awal Islam yang sudah berhasil membangun peradaban dengan semangat syariah islam. Faham radikalisme inggin membawa teks pada sebuah sikap Qiyas syahid ma’a ghoib yaitu mengembalikan konteks umat Islam pada romantisme sejarah.

Sudut pandang teks islam tidak bisa lepas dari bacaan culture studies yang mana banyak dipengaruhi oleh struktrualisme, poststruktrualisme, dekonstruksi, psikoanalisis. Culture studies melihat berbagai fenomena kebudayaan sebagai tanda sekaligus melakukan pembongkaran terhadap kode dan struktur yang membangunnya serta melihat muatan muatan ideologi dibalik tanda tersebut. Dalam arah yang berbeda, culture studies mencoba membentangkan berbagai relasi kekuasaan, dominasi, hegemoni, ketidakadilan. Culture studies mencari format bagi kemungkinan perlawanan, subversi dan penentangan cultural. Ia mencari berbagai kemungkinan baru pemaknaan dan pembacaan yang dinamis, prospektif dan produksi terhadap ma’na teks. Gadamer mengembangkan pemahaman terhadap tanda(teks) kedalam kata lenguistik dengan pernyataan ada being yang dapat difahami adalah bahasa, tanda (teks) adalah pertemuan dengan ada being melalui bahasa. Inti tanda terletak pada alam pikir sehingga tinggi rendahnya nilai sebuah tanda terletak pada alam pikir sang pengarang, sehingga pemahaman terhadap teks bukan wajah seutuhnya dari ajaran. Hal yang fundamental bagi gadamer adalah penolakan terhadap teori “tanda” dalam hakekat bahasa, bagi gadamer bahasa adalah situasi, ekspresi dan modus eksisensi manusia. Bagi gadamer ada 4 komponen yang tidak bisa dilepaskan dari interpretasi tehadap tanda ( teks) yaiu: bildung (pra pemahaman) sensus communal (aspek aspek social, kultaral) test (keseimbangan insting, panca indra dan kebebasan ntelektual) judgment (keputusan dari sang pembaca terhadap tanda (teks).Keterbukaan dengan berbagai pendekatan terhadap keberadaan teks Islam merupakan sebuah kenistaan untuk di hindari. Islam sebagai ajaran yang rahmatan lil alamin sehinga ajarannya tidak seperti fosil ajaran dengan sikap eksklusif dan radikal. Sehingga Islam sebagai sebuah ajaran tidak hanya menjadi alat mobilisasi kekuasaan, politk tapi kehadiran ajarannya muncul dengan semangat keterbukaan wawasan, serta selalu menjadi bagian dari culture studies dalam setiap kepingan sejarah peradaban kemajuan nilai-nilai kemanusian. [Msh/AJU]

 

PPIDUNIA.ORG, Industri penerbangan di Indonesia kian lama kian berkembang, baik infrastruktur maupun keterampilan pengemudi dan teknisi pesawat. Simak perbincangan menarik mengenai Hari Penerbangan Nasional, Senin 10 April 2017 hanya di RRI Voice of Indonesia! [AJU]

PPIDUNIA.ORG, Tunisia - Acara bertajuk “Rihlah Bahagia” mengisi liburan teman-teman mahasiswa Indonesia di Tunisia. Rihlah bahagia adalah acara tour bersama yang diadakan oleh PPI Tunisia selama dua hari pada Kami-Jumat (23-24/03) perjalanan dengan empat destinasi wisata berbeda; Uthina, Zaghouan, Hammmamet dan Takrouna.

rihlah bahagia PPI Tunisia

Selain menjadi sarana mengisi liburan musim semi, acara ini juga sekaligus menjadi penutupan agenda kegiatan PPI Tunisia menjelang LPJ yang akan diadakan pada akhir bulan nanti. Acara ini pun dirancang untuk mengakrabkan kembali jalinan persatuan para anggota PPI Tunisia. Hal ini selaras dengan ungkpan ketua panitia tour Labib El Muna kepada Kominfo PPI Tunisia melalui pesan WA pada (25/03), “Tujuan rihlah kali ini sesuai dengan temanya adalah untuk memberikan refreshment teman-teman PPI sebelum pecan-pekan mndekati ujian selain juga agar tetap menjaga kebersamaan antara anggota PPI. Dengan acara-acara di dalamnya yang bisa memupuk kebersamaan. Destinasi tahun ini pun kami rancang agar serba segar dan baru.”

Diawali dengan mengunjungi Uthina, sebuah komplek kota warisan Romawi, acara tour dilaksanakan. Di Uthina peserta asyik mengikuti rangkaian-rangkain acara seru yang telah dirancang oleh panitia. Selain tentu saja peserta disuguhi dengan pemandangan alamnya yang indah khas musim semi; bunga-bunga yang mulai bermekaran dengan perbukitan hijau yang menghampar subur nan luas.

Setelah puas berfoto peserta diajak menuju ke destinasi selanjutnya yaitu Zaghuan; sebuah kuil air tempat pemujaan orang-orang romawi kuno. Letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi destinasi pertama. Perjalanan pun lancar ditempuh selama satu jam.

Di Zaghuan peserta semakin antusias dengan kejutan dan permainan-permainan ala outbond oleh panitia. Karena seperti tujuan awalnya, acara ini memang sengaja dirancang untuk semakin memperkokoh jalinan persatuan antar peserta sekaligus ajang silaturahim bersama.

Acara pun sukses berjalan dari awal hingga ahir destinasi. Dimulai dari Uthina hingga berakhir di Takrouna. Bahkan beberapa peserta merasa sangat puas dengan panitia lantaran dengan dana akomodasi yang sangat kecil namun bisa merancang sebuah agenda yang sangat luar biasa. Seperti yang diutarakan oleh salah satu peserta tour, Irham. “Rihlah tahun ini begitu berkesan bagi kami. Bagaimana tidak, dengan dana akomodasi yang sangat murah bisa berkunjung ke 4 lokasi yang berbeda dan konsumsi yang cukup. Pokoknya kalian luar biassaaaaaaa..!!”, ujar mahasiswa tingkat ahir asal Solo ini.

Acara pun ditutup dengan foto bersama sekaligus perekemanan video untuk penyambutan duta besar yang akan datang, Bapak Ikrar Nusa Bhakti. [AJU]

PPIDUNIA.ORG - Di era globalisasi dewasa ini, manusia dihadapkan pada suatu fenomena keterbukaan dan transparansi yang luar biasa. Arus informasi yang cepat beredar dan media sosial menjadi faktor utama fenomena ini. Salah satu konsekuensi yang muncul darinya adalah fenomena yang dianggap sebagai kebebasan setiap individu –siapapun itu- untuk mengekspresikan pendapatnya.

Dari fenomena ini, sangat diperlukan suatu norma yang berperan mengatur agar tidak terjadi benturan kebebasan ini. Salah satunya adalah apa yang disebut dengan toleransi. Dalam “Oxford Dictionary” kata tolerate dimaknai dengan mengizinkan suatu eksistensi, kejadian, atau praktik yang tidak disukai atau disetujui tanpa intervensi.

Dari makna yang ditinjau secara etimologis di atas jelas bahwa toleransi lawan dari setiap pemaksaan kehendak. Masalahnya, dewasa ini dalam beberapa peristiwa tercium pengaburan makna kata toleransi untuk memuluskan kepentingan golongan tertentu, memutarbalikkan makna dengan pemberitaan yang berulang-ulang agar menjadi terbiasa di telinga masyarakat luas.

Atas dasar ini, setiap muslim perlu mengetahui hakikat toleransi, batasan-batasannya, dan bagaimana islam memandangnya. Sehingga ia memiliki pondasi kuat dan tidak terbawa arus pengaburan makna kata toleransi. Dengan demikian ia juga sudah meletakkan setiap istilah sesuai tempatnya yang tepat, adil, dan tidak menyelisihi akidah.

Menelusuri Kata Toleransi

Kata toleransi merupakan hasil dari proses absorpsi bahasa dari kata berbahasa Inggris, toleration atau tolerance. Dalam “Oxford Dictionary” kisaran makna kata ini adalah mengizinkan suatu eksistensi, kejadian, atau praktik yang tidak disukai atau disetujui tanpa intervensi. Dalam bukunya “How The Idea of Religious Toleration Came to The West”, sejarawan Amerika Perez Zagorin mengartikan kata toleransi sebagai suatu praktek sengaja membiarkan dan mengizinkan hal yang tidak disetujui. Dari sini dapat disimpulkan bahwa makna kata toleransi ditinjau dari sumber bahasanya adalah praktik membiarkan dan menghormati sesuatu yang berbeda.

Adapun dalam bahasa Arab, kata toleransi diidentikkan dengan kata samâhah. Asal kata ini terdiri dari tiga huruf sa-ma-ha yang bermakna a’thâ (memberikan), adzina (mengizinkan), dan ajâza (membolehkan). Samâhah juga dimaknai dengan musâhalah (saling memudahkan) dan lîn (kelembutan). Sebagaimana perkataan Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam “Fathul Bâri” ketika mengartikan sabda Rasulullah SAW:

أحب الدين إلى الله الحنيفية السمحة
“ Makna dari as Samhah [dalam hadist] yaitu as sahlah (Mudah), artinya bahwa agama ini terbangun di atas kemudahan.”

Jelas, arti kata toleransi ditinjau dari akar bahasanya memuat perilaku yang perlu dikedepankan–selama tidak melanggar aturan dan norma yang lebih tinggi- dalam interaksi antar individu dengan latar belakang yang berbeda. Dan ini sejalan dengan nilai-nilai yang dibawa oleh islam.

Diskursus mengenai toleransi selalu dilekatkan dengan agama. Ini dikarenakan manusia dengan fitrahnya mempercayai suatu agama yang diyakini kebenarannya. Olehnya, dalam bukunya “Toleranzdiskurse”, Joachim Vahland mengutarakan bahwa secara historis kata toleransi dipakai dalam tulisan-tulisan yang menerangkan hubungan status minoritas dengan agama yang dominan di suatu negara. Di sinilah peran toleransi menjadi urgen agar tidak terjadi bentrokan klaim kebenaran yang berujung kekacauan antar pemeluk agama. Toleransi beragama yang dimaknai menghormati agama lain yang berbeda menjadi solusi konkret untuk mengatur hubungan antar umat beragama. Pemaknaan seperti ini juga mempertahankan kemurnian akidah agama yang diyakini seseorang.

Masalah mulai timbul ketika kata ini direduksi -atau bahkan didistorsi- maknanya untuk kepentingan golongan tertentu. Hal ini diakui oleh sejarawan non-muslim Australia Alexandra Walsham dalam bukunya, “Charitable Hatred: Tolerance and Intolerance in England,” ia mengatakan bahwa pemahaman toleransi saat ini boleh jadi sangat berbeda dengan makna historisnya. Lebih lanjut ia berujar bahwa toleransi dalam istilah modern telah dianalisis sebagai komponen tak terpisahkan dari pandangan liberal terhadap hak asasi manusia.

Secara sederhana, Hamid Fahmi Zarkasyi dalam kolom “Misykat” di koran harian Republika memaparkan pandangan liberal di atas, “… Menghormati agama lain kini tidak memenuhi syarat toleransi, toleransi kini ditambah maknanya menjadi menghormati dan mengimani kebenaran agama lain.” Lebih lanjut, menurutnya bahwa biang keladi dari distorsi makna ini adalah ideologi humanis sekuler yang ateis dan pluralisme agama yang bersumber dari pandangan liberal.

Pemahaman di atas jelas berbeda dengan asal-usulnya. Pandangan tersebut juga sangat bertentangan dengan akidah umat beragama secara umum, terlebih akidah agama islam yang dijaga otentitasnya oleh Allah SWT. Mustahil seseorang mengimani dua pandangan yang berbeda secara bersamaan. Iman seseorang terhadap suatu agama berkonsekuensi mengingkari agama lain.

Hal ini diakui sendiri oleh ahli teologi dan filsafat kekristenan, Kenneth R. Samples. Dalam jurnal penelitian agama Kristen yang berjudul “The Challenge of Religious Pluralism,” ia mengatakan, “ Ini penghinaan terhadap klaim kebenaran Kristen.”

Islam Memandang Toleransi

Seorang muslim yang yakin dengan keislamannya akan spontan menjawab bahwa pandangan pluralisme terhadap kata toleransi adalah keliru dan utopis. Atas dasar ini, sangat diperlukan meletakkan kata ini sesuai makna asalnya yang tidak mencederai akidah. Dari sinilah terlihat pentingnya mendudukkan kata ini secara adil dan sesuai tempatnya.

Seorang muslim pasti meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW datang sebagai rahmat bagi seluruh alam dengan agama islam yang dibawa (Al Anbiya’: 107). Oleh sebab universalitas risalah islam ini, ia tidak akan melepas begitu saja aturan yang berkaitan dengan interaksi antar umat beragama. Salah satu nilai yang dibawa untuk mengatur hal ini adalah samâhah yang semakna dengan toleransi.

Samâhah atau samhah menjadi ciri khas agama islam. Hal ini tercermin dari sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam “Shahîh”-nya,

أحب الدين إلى الله الحنيفية السمحة

“ Agama yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah yang lurus lagi toleran.”
Dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam “Al Musnad”,

إني أرسلت بحنيفية سمحة

“ Sesungguhnya aku diutus dengan (agama) yang lurus lagi toleran.”

Toleransi yang tercantum dalam sabda Rasulullah SAW ini bukan sebagai klaim belaka. Sejarah panjang umat islam membuktikan keabsahan hal itu. Rasulullah SAW sendirilah yang mengawali dan mencontohkan kepada umatnya. Ketika mendapati umat Yahudi yang telah lama tinggal di Madinah, ia pun membuat perjanjian untuk mengatur interaksi umat yang berbeda keyakinan ini. Perjanijian ini dikenal dengan sebutan Piagam Madinah. Inilah piagam pertama di dunia yang berfungsi mengatur hubungan antar umat beragama.

Menyinggung hal ini, cendekiawan muslim Mesir, Muhammad Imarah, dalam bukunya “As Samâhah al Islâmiyah” menegaskan, “Demikianlah Rasulullah SAW merumuskan piagam ini dengan persamaan dan keadilan yang sempurna dalam mengatur hak dan kewajiban warga Negara, tidak pernah ada yang menyerupainya di luar Islam baik sebelum atau sesudahnya.”

Harus diakui bahwa sejarah umat Islam diwarnai peperangan dan penaklukan negara-negara lainnya. Akan tetapi peperangan dan penaklukan yang terjadi selalu disertai dengan adab yang tinggi. Seseorang yang menilai secara adil dan objektif peperangan yang terjadi di dunia ini lalu membandingkan antara peperangan umat Islam dengan umat atau peradaban lainnya, niscaya ia akan mengakui kemuliaan adab umat Islam.

Praktik seperti ini terus berlanjut dalam rentang sejarah Islam yang begitu panjang. Pernyataan ini tidak berlebih-lebihan karena fakta sejarah berbicara demikian. Penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh khulafaurrasyidin juga khalifah ataupun sultan setelahnya seperti Muawiyah bin Abi Sufyan, Shalahudin Al Ayyubi, Abdurrahman ad Dakhil, Alp Arslan, Nuruddin Zanki, hingga Muhammad Al Fatih, semuanya tidak lepas dari adab mulia yang diajarkan oleh Sang Pemimpin umat, Rasulullah SAW.

Kemuliaan ini tercermin dari perlakuan islam terhadap eksistensi lain yang mana islam senantiasa mengakui adanya agama lain di luarnya. Fakta ini diakui oleh salah satu sejarawan non-muslim, Karen Armstrong ketika mengomentari penaklukan Al Quds oleh Umar bin Khatthab , “Ia memimpin penaklukan yang sangat damai dan tanpa tetesan darah, yang mana kota itu belum pernah menyaksikannya sepanjang sejarah karena penuh dengan kisah tragis.” (Karen Armstrong, A History of Jerussalem: One city, Three Faiths).

Seorang orientalis Jerman, Zigred Hanke dalam bukunya yang telah diterjemahkan dalam bahasa Arab dengan judul “Allah Laisa Kadzâlik,” memaparkan dengan jujur realita sebenarnya dalam penyebaran Islam. “Arab telah memainkan peran toleransi yang besar dalam penyebaran ajaran Islam, hal ini sangat bertentangan dengan apa yang selama ini dikatakan bahwa ia tersebar dengan api dan pedang.”

Redefinisi Toleransi

Dari uraian singkat ini tampak adanya pengaburan makna toleransi yang sebenarnya. Ia yang seharusnya menjadi payung bagi perbedaan yang ada dengan saling menghormati, kini memaksa semuanya melebur menjadi satu hingga akidah pun tergadaikan. Bisa jadi terdapat pemeluk agama tertentu yang menerima, tapi bagi Islam yang terjaga keasliannya, ini adalah bentuk pencederaan akidah.

Kerapkali, ketika ditinjau dari keyakinan ini umat Islam dianggap eksklusif dan intoleran sehingga sering terdengar statement- statement yang mendiskreditkannya. Akan tetapi fakta sejarah dan realita saat ini menjadi saksi bahwa yang dituduhkan sama sekali tidak benar. Sebaliknya, pihak penuduhlah yang mencoba mengaburkan kata toleransi dengan cara mendistorsi maknanya. Wallahu a’lam bish shawab.

**Tulisan ini merupakan tulisan kedua dari Tim Kajian Strategis Komisi Agama PPI Dunia yang terbentuk saat Simposium Internasional PPI Dunia 2016 di Kairo. Tim kajian ini fokus terhadap isu-isu radikalisme agama di Indonesia.

PPIDUNIA.ORG, Kuwait – Jum’at, 10 Februari 2017, pukul 13.00 waktu Kuwait, KBRI Kuwait dan Pelajar Indonesia di Kuwait yang terdiri dari 3 mahasiswa, 1 mahasiswi dan 2 siswi turut serta dalam “Hala February Festival 2017” yang diselenggarakan di Salem Al-Mubarak Street, Kuwait. Hala February Festival sendiri merupakan festival tahunan yang diselenggarakan selama sebulan penuh pada bulan Februari dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Kuwait.

“Festival terdiri dari parade masyarakat Kuwait dan negara lain seperti India lalu ada juga penampilan drumband dari Paguyuban India dan Tarian dari Palestina”, tutur Fachrul Rozy, salah satu pelajar Indonesia di Kuwait yang ikut serta dalam acara ini.

“Kami merasa senang, ini yang kedua kalinya ikut kegiatan KBRI” tambah Fachrul Rozy. “Indonesia membuka stand yang menjual pernak-pernik asal Indonesia. Para pengunjung banyak yang meminta berfoto sama kita”, ujar Muhammad Abdul Aziz, pelajar Indonesia yang ikut menjaga stand dengan menggunakan pakaian adat Nusantara.

Pada 6 Desember 1998, diumumkanlah perhetalan Hala February Festival untuk pertama kalinya, yang diselenggarakan pada 3-24 Februari 1999, dengan panitia penyelenggara dan diketuai oleh Ahmad Al-Misyari. Istilah “Hala February” ini diambil karena kegiatan ini diadakan pada bulan Februari. Di mana pada bulan ini bertepatan dengan Hari Kemerdekaan dan Hari Pembebasan Kuwait yang jatuh pada tanggal 25 dan 26 Feburari. Selain itu, cuaca yang baik pada bulan Februari menjadikan bulan ini sesuai untuk mengadakan karnaval, perayaan dan kegiatan-kegiatan outdoor.

Festival ini memiliki peran yang penting dalam mempromosikan pariwisata di Kuwait. Para wisatawan yang datang ke Kuwait pada musim semi akan mendapatkan pengalaman untuk menghadiri Hala February Festival, salah satu festival terbaik di Kuwait. Berbagai macam budaya, even, wisata belanja serta pertunjukan akan mememeriahkan festival ini. [AJU]

PPIDUNIA.ORG, Saudi Arabia - Pekan kedua semester genap di Qassim University disambut dengan perhelatan Akbar Festival Kebudayaan Bangsa-bangsa Ke-III atau dalam bahasa arab disebut sebagai "Maharajan Turats As-Syu'ub".

Perhelatan tahunan ini diikuti oleh mahasiswa dari 18 negara, salah satunya adalah mahasiswa asal Indonesia, selain sebagai pelajar mereka juga berperan sebagai duta Indonesia dalam memperkenalkan kekayaan budaya dan alam Nusantara.

Pada festival kali ini, stan Indonesia dibagi dalam dua bagian. Ada bagian untuk berbagai makanan khas, sementara lain untuk pameran kerajinan dan pakaian adat. Tampak juga layar LCD menghias bagian depan stan yang berfungsi untuk menayangkan slide tentang keindahan alam Indonesia dan keanekaragaman budayanya.

Pelajar Indonesia di Arab Saudi Menjadi Duta Pariwisata dan Budaya Indonesia

Rumah adat Tongkonan khas Toraja menjadi ikon paling menonjol yang berdiri kokoh sebagai atap stan, pun dinding-dinding bagian dalam dihiasi dengan foto-foto alam dan ragam kesenian, budaya daerah yang dibingkai dengan apik, serta berbagai kerajinan dipajang dan dihias di almari-almari pameran.

Kegiatan yang digelar pada (14-16/02) ini juga dimeriahkan dengan berbagai penampilan kesenian daerah. Salah satu yang paling menjadi pemikat pengunjung adalah pencak silatnya. Selain itu juga digelar beberapa lomba di antaranya; lomba balap bakiak, balap karung, lomba lari kelereng khas acara 17-an, yang semuanya diikuti oleh peserta dari berbagai negara dan bangsa.

Permainan lain yang ditampilkan mahasiswa Indonesia adalah permainan egrang. Ketika melalui depan stan Indonesia para pengunjung antusias untuk memainkannya. Ada yang hanya sekedar coba-coba dan ada yang serius mempelajarinya hingga pandai dua atau tiga langkah.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Riyadh pada festival ini juga ikut berpartisipasi dalam bentuk sumbangan beberapa merchandise, tabloid khusus tentang wisata Indonesia dan pinjaman beberapa pakaian adat nusantara.

PT. Indofood cabang Qassim juga turut membantu dengan menyumbang 40 dos Indomie lengkap dengan pemanas air, sehingga stan selalu ramai dikerumuni para pengunjung. Penganan khas juga siap sedia di antaranya: pisang ijo, jagung marning, kacang telor hingga martabak manis yang dipanggang di tempat sehingga masih hangat untuk dicicipi.

Pada tahun lalu mahasiswa Indonesia menempati juara ke dua dalam festival budaya ini. "Harapan kami tahun ini hanyalah untuk membuka mata dunia bahwa Indonesia dengan keanekaragaman budaya, suku dan agamanya tetap hidup rukun dalam bingkai toleransi dan kebersamaan antar penduduknya, pun kalau bisa juara satu merupakan hadiah tambahan" ujar Ketua Panitia Stan Indonesia Arif Ahmadi Yusuf.

Keikutsertaan stan Indonesia dalam kegiatan ini sepenuhnya dikoordinir oleh para mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Qassim University. Jumlah mahasiswa Indonesia yang kuliah di kampus ini telah mencapai 49 orang dari jenjang sarjana dan magister.[MB/AJU]

PPIDUNIA.ORG, Tunisia - Jika penutupan agenda ahir tahun yang biasanya diisi dengan pesta-pesta meriah maka PPI Tunisia mengisinya dengan agenda Diskusi Kebangsaan. Jumat (30/12) PPI Tunisia bekerja sama dengan KBRI Tunisia berhasil mengadakan Diskusi Kebangsaan sebagai refleksi ahir tahun dengan tema “ Merawat Kebhinekaan” di Emerald Hall, Golden Tulip Hotel Tunis.

Tema ini dipilih lantaran melihat aksi-aksi intoleransi yang mencederai keberagaman kita sebagai Bangsa. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Labib El Muna selaku ketua panitia diskusi kebangsaan dalam pesan whatsapp-nya kepada Biropers PPI Dunia, “ Acara ini adalah inisiatif dari rekan-rekan senior PPI (Tunisia) untuk mengup-grade acara pergantian Tahun Baru yang rutin diadakan pihak KBRI menjadi lebih berkesan dan berbekas. Pemilihan tema pun tidak tergesa-gesa namun melihat beberapa aspek di Negeri kita dan realitas di tempat kita belajar bahwa kita datang dari beragam daerah dan suku, juga beragam latar belakang sosial dan ekonomi maka kami merasa Refleksi Akhir Tahun dengan tema Merawat Ke-Bhinekaan menjadi tema yang pas kali ini.”

whatsapp-image-2016-12-31-at-13-15-27

Meja Paling Depan; dari kiri Ketua PPI Tunisa (M. Ariandi), Dubes LBBP RI Tunisia (Bapak Ronny Prasetya Yuliantoro), HOC KBRI Tunisia (Bapak George Junior).

Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya serempak diskusi kebangsaan pun dimulai. Ada tiga panelis yang akan memberikan pengantar diskusi senja itu. Sebagai keynote speaker Bapak Ronny Prasetya Yuliantoro selaku Dubes LBBP RI untuk Tunisia, lalu Dede A. Permana dosen tetap IAIN Banten yang juga mahasiswa doktoral Universitas Ezzitouna dan terahir Budi Juliandi dosen tetap IAIN Langsa.

Panelis pertama, Pak Ronny -sapaan akrabnya- berbicara masalah kebhinekaan secara umum. Dimulai dari ajakan beliau untuk menghidupkan ruh kebhinekaan yang sudah mengakar dalam ruh, jiwa kita hingga mengingatkan betapa pentingnya sebuah kebhinekaan dalam ranah kebangsaan ini. “ Kebhinekaan itu sudah mengakar dalam rasa dan kehidupan Bangsa Indonesia sejak nenek moyang kita dulu melalui Empu Tantular misalnya. Maka jangan cari perbedaan kita sebagi bangsa cari lah kesamaan kita. Masak kita hidup tidak ada persamannya. Jangan terus diperuncing perbedaan itu. Mari bersatu, jangan sampai kita bersatu ketika mati saja (menghadap kiblat;baca)”, pesan Pak Ronny tegas.

Diskusi semakin hangat meski suhu di luar muali menurun. Tak terasa aula hotel itu semakin sesak dipenuhi peserata. Dimulai dari mahasiswa hingga masyarakat Indonesia di Tunisia secara umum.

Adapun panelis kedua, Dede A. Permana lebih mengutamakan pesan untuk saling menjaga kerukunan antarumat beragama setelah Kang Dede -sapaan akrabnya- membuka peta konflik antarumat beragama yang cukup tinggi akhir-akhir ini. Kita sebagai bangsa harus saling bahu-membahu menjaga kerukunan ini. Seperti dalam pesan Kang Dede yang disampaikan senja itu, “ Kerukunan umat beragama merupakan kebutuhan bersama. Karena itu, pemeliharaan kerukunan umat beragama menjadi tanggungjawab semua pihak, terutama pemerintah, pemuka agama dan tokoh masyarakat”.

Selanjutnya panelis terakhir, Budi Juliandi yang tengah mengadakan riset desertasinya tentang “Hukum Keluarga di Tunisia” ini lebih mengingatkan kepada peserta betapa Islam Indonesia yang oleh Martin Van Bruinessen, peneliti asal Belanda, diidentikkan dengan the smiling face of Indonesian Islam kini telah berubah menjadi “wajah menyeramkan” lantaran hadirnya para muslim konservatif yang kini tengah mendominasi peta pergerakan di negeri kita ini dengan menunggangi kepentingan-kepentingan politik sesaat.

Pak Budi mencoba memaparkannya dengan mengambil pelajaran dari peristiwa pembuangan seorang aktivis muda, Tahir el Hadad oleh beberapa Masyayikh dan Kyai Jami’ Ezzitouna. “ Peristiwa sejarah di Tunisia paling tidak dapat menggambarkan kepada Bangsa Indonesia, betapa sebenarnya politik itu sangat mungkin sekali menunggangi konservatisme Muslim Indonesia. Membersihkan politik untuk tidak menunggangi konservatisme Islam bukanlah persoalan mudah. Namun, jika itu dapat dilakukan, tak tertutup kemungkinan kerinduan kita dan mereka para penstudi Islam Indonesia untuk dapat melihat kembali wajah Islam Indonesia yang sejatinya dari dulu memang penuh dengan senyum dan keramahan “the smiling face” dapat terwujud. Semoga. Wallahu a’lam bi al-shawab. Selamat Tahun Baru 2017. Fi kulli ‘am wa antum bi-khair”, papar Dosen Muda asal Medan.

Acara dilanjutkan dengan diskusi kebangsaan. Berbagai elemen masyarakat Indonesia di Tunisia, dimulai dari mahasiswa hingga para staff KBRI Tunisia dan masyrakat Indonesia secara umum ikut memberikan kontribusi ide dan komentarnya atas tema kebhinekaan ini.

Sugianto Amir, sebagai moderator diskusi kebangsaan senja itu juga turut menggelitik rasa penasaran para peserta hingga tak terasa dialog mengalir begitu saja. Apalagi diskusi yang cukup menguras otak dan pikiran ini dikemas oleh panitia cukup menarik dengan diselingi dengan musikalisasi puisi, lagu-lagu kebangsaan dan hingga stand up commedy yang membuat para peserta menjadi lebih rileks dan menikmati suasanya. Hal ini dilakukan agar acara bisa berjalan sehangat mungkin namun juga tak meninggalkan esensi dari diskusi itu sendiri yang penuh ketegangan dan perbedaan pendapat. Bahkan di luar dugaan peserta diskusi, Dubes LBBP RI untuk Tunisia, Bapak Ronny P. Yuliantoro juga ikut menyumbang sebuah lagu di depan peserta diskusi. Seperti yang dikatakan oleh ketua panitia yang saat ini sedang menempuh studi masternya; Labib el Muna. “Acara kami buat lebih meriah dengan pentas kesenian dari beragam elemen masyarakat Indonesia di Tunisia. Dan dalam diskusi dan penampilan ikut berpartisipasi mulai dari staff KBRI sampai ke mahasiswa. Hal ini (agar) menguatkan tali persaudaraan sebagai keluarga di tanah rantau. Selain (pemilihan) tema juga yang (umum) agar semua orang bisa ikut serta”.

whatsapp-image-2016-12-31-at-13-17-57

Keluarga Besar Masyarakat Indonesia di Tunisia

Acara yang berjalan selama kurang lebih lima jam itu lancar dan meriah. Bahkan Pensosbud KBRI Tunisia, Ibu Merita Yenni memberikan apresias yang luar biasa kepada tim panitia. “ Acaranya bagus, sukses, seminarnya mantap, yang hadir banyak dan semuanya aktif. Lalu hiburannya juga mantap dan yang lebih-lebih, makanannya juga enak”, tanggap Ibu Merrita yang juga menampilkan puisi “Perempuan-perempuan Perkasa” karya Hartoyo Andangjaya.

Acara berakhir tepat pukul 20.00 CET yang ditutup dengan ramah tamah dengan menu khas Nusantara hasil karya teman-teman PPI Tunisia. [AJU]

Oleh: Hijrian A. Prihantoro*

Antara Gerakan Politik dan Ketaksepahaman Berbangsa**

PPIDUNIA.ORG - Peristiwa jatuhnya Adam-Hawa dari taman Firdaus ke muka bumi tentu tidak akan pernah dapat kita lupakan begitu saja. Karena dari peristiwa itulah, umat manusia memasuki alam semesta tanda tanya. Semua yang ada di alam jagad raya seolah menjelma menjadi pertanyaan-pertanyaan yang hingga sampai detik ini tidak pernah berhenti.

Eksistensi manusia yang tidak bisa lepas dari ruang (space) dan waktu (time) menegaskan bahwa keberadaannya pada suatu masa senantiasa terikat dengan sebuah tempat (place) dalam satu wilayah (region) sebagai wadah untuk menjalani kehidupan sosialnya. Jika konstruksi sosial tersebut baik dan benar, maka wadah inilah yang kelak akan menciptakan berbagai macam laku politik yang terilhami dari sama rasa, sama cinta, dan kepedulian terhadap pengalaman yang sama.

ghgg

Indonesia sebagai Negara yang memiliki berbagai macam corak budaya merupakan anugerah Tuhan yang bahkan tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lainnya. Rekam jejak perjalanan bangsa membuktikan bahwa pengukuhan identitas jati diri sebagai bangsa yang berdaulat telah melindungi setiap elemen bangsa dari segenap upaya separatisme yang kerapkali bertujuan menggerogoti sistem nilai yang sudah mapan. Sedang sebagaimana termaktub pada sila pertama bahwa menjadi bangsa yang beragama merupakan asa orisinil bangsa.

Sebagaiamana termaklumi, demokrasi adalah sistem yang dipilih bangsa Indonesia sejak berdirinya Republik ini, mulai dari Demokrasi Terpimpin yang dipraktikkan Ir. Soekarno sampai Demokrasi Pancasila yang diusung oleh Orde Baru. Bahkan di era Reformasi ini demokrasi masih dianggap sebagai pilihan terbaik bagi bangsa Indonesia yang memiliki berbagai macam corak budaya. Jika memang demikian, lantas apa sebab radikalisme datang sebagai tamu yang tak diundang, bahkan juga tak diharapan kehadirannya oleh bangsa Indonesia?

Tak jauh berbeda dari tempat lahirnya di Britania Raya, radikalisme di Indonesia lahir dari keputusasaan terhadap sistem bernegara dan ketakberdayaan memahami orientasi bangsa. Ketaksepahaman berbangsa dalam laku kehidupan sosial merupakan piranti dasar yang melatarbelakangi lahirnya paham-paham radikal. Lambat laun paham-paham tersebut yang awalnya hanya sebagai ‘entitas kegelisahan internal’ menjelma ke permukaan dengan berubah menjadi kelompok-kelompok ekstrim yang kerap kali teridentifikasi melalui gerakan-gerakan intoleran.

Sederhana, disadari atau tidak, penolakan terhadap satu sistem politik bernegara merupakan antitesa dari sebuah gerakan politik itu sendiri. Ini artinya bahwa jika demokrasi diposisikan sebagai sebuah tesa, maka gerakan politik yang tidak mendukung eksistensinya disebut sebagai antitesanya. Kala demokrasi senantiasa bergandengan tangan dengan nasionalisme, maka tak heran jika radikalisme selalu bercumbu mesra dengan ekstrimisme. Bukan tanpa dasar, sebab semuanya tampak jelas berlawanan.

Berbicara mengenai bangsa (nation) dan orientasi ideologi gerakannya (nationalism) dalam sebuah negara (state) berarti juga membincang eksistensi manusia di dalamya. Ini berarti bahwa: “The people are the nation and the state exists as the expression of the national will.” Jika nasionalisme merupakan kehendak rakyat, bukankah itu berarti bahwa radikalisme merupakan kasus gagal paham akan orientasi kebangsaan? Di sini, radikalisme sebagai gerakan politik tidak dapat dibenarkan. Bukan karena semata-semata ia acapkali hadir dengan wajah yang bengis dan beringas, namun juga karena ia tidak mencerminkan pribadi bangsa yang menjadikan keragaman suku, agama dan budaya sebagai bagian integral kehidupan bernegara.

Hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah bahwa nasionalisme sebagai identitas kebangsaan merupakan media untuk sampai pada orientasi kemanusiaan. Memang benar bahwa identitas kebangsaan merupakan satu entitas yang dibatasi oleh kondisi sosial-budaya dalam sebuah wilayah tertentu. Sedangkan orientasi kemanusiaan lebih bersifat universal. Ia tidak dibatasi oleh apapun, tidak juga disekat oleh siapapun. Namun yang menarik adalah bahwa Indonesia sebagai negara beragama, sebagaimana termaktub dalam sila pertama, senantiasa menjadikan nilai-nilai kemanusian sebagai acuan prinsipil orientasi kebangsaanya.

Layaknya insan yang sedang cemburu, kebenaran tidak akan dapat diterima dengan begitu saja, apa adanya. Kita patut curiga, jangan-jangan radikalisme di Indonesia hanya sebentuk rasa cemburu terhadap nasionalisme kebangsaan kita. Jika memang benar demikian, maka kisah kecemburuan berpolitik seperti itulah yang sejatinya menjadikan radikalisme justru berada pada posisi yang tidak akan pernah dapat dibenarkan.

Negara Beragama; Keadilan Sosial, Bukan Laku Radikal

Hanya Tuhan yang Maha Sempurna. Manusia merupakan ciptaanNya yang paling sempurna. Lantas sudah sempurnakah kita beragama dalam berbangsa dan bernegara? Satu bentuk kegelisahan teologis yang memantik banyak peristiwa di bumi Ibu Pertiwi akhir-akhir ini. Dari sini, kita patut prihatin dan merasa iba sekaligus heran, mengapa laku radikal seringkali lahir dari insan yang mengaku beragama, khususnya yang ber-KTP-kan agama Islam? Miris bukan?!

Dalam sejarah umat manusia, selalu terdapat kesenjangan antara teori dan praktek. Terkadang kesenjangan itu sangatlah besar, dan kadang kecil. Apa yang oleh paham komunisme dirumuskan dengan kata “rakyat”, dalam teori dimaksudkan untuk membela kepentingan orang kecil; tapi dalam praktek justru yang banyak dibela adalah kepentingan kaum aparatchik. Itupun berlaku dalam orientasi paham tersebut, yang lebih banyak membela kepentingan penguasa daripada kepentingan rakyat kebanyakan. Karena itu, kita harus berhati-hati dalam merumuskan orientasi paham keislaman, agar tidak mengalami nasib seperti paham komunisme.

Selama ini, yang paling banyak dikacaukan orang adalah mengacaukan antara orientasi kehidupan dengan konsep sebuah bangsa dalam bernegara. Tak heran sering ada kerancuan dengan menganggap adanya sebuah konsep negara dalam Islam. Atas dasar ini, orang pandai -semacam Abul A’la Al-Maududi, beranggapan bahwa ideologi sebagai sebuah kerangka-pandang Islam. Tentu ini berhadapan dengan kenyataan bahwa sangat besar jumlah muslimin yang menerima nasionalisme, seperti mendiang Bung Karno, misalnya. Pertanyaannya, lantas dapatkah mereka dianggap kurang Islam dibanding ulama besar tersebut?

Kelompok-kelompok garis keras berpandangan bahwa konsep ‘Islam Kaffah’ memiliki konsekuensi kewajiban untuk membentuk pemerintahan atau kekhalifahan Islam. Sementara mayoritas umat Islam berpandangan bahwa kewajiban utama adalaah taat pada pemerintahannya cukup sesuai dengan bentuk dan sistem di negara masing-masing. Dua pandangan yang berbeda ini berimplikasi pada pebedaan cara memposisikan dan melihat syari’at Islam, serta bagaimana ia dioperasikan di tengah masyarakat, terutama masyarakat plural seperti di Indonesia.

Disadari atau tidak, seperti ditegaskan oleh mendiang Gus Dur, gerakan-gerakan Islam yang berorientasi pada formalisasi agama sekarang ini rupayanya telah menelikung sejarah Islam di negeri sendiri, Indonesia. Sikap rekonsiliatif yang menjadi tradisi masyarakat Muslim dalam menyikapi adat lokal pun menipis sejalan dengan masuknya pengaruh-pengaruh yang dibawa oleh para agen garis keras dengan berpretensi melakukan pemurnian secara membabi buta, yaitu menolak semua yang mereka anggap sebagai ‘tidak islami’.

Kelompok-kelompok garis keras yang tidak menerima demokrasi acapkali mendasarkan diri pada pertimbangan teologis semata. Secara teologis demokrasi dianggap sistem yang tidak Islami Karena tidak berasal dari Islam. Sebagai ciptaan manusia, demokrasi dijalankan tanpa landasan tauhid dan keimanan. Padahal dalam Islam, sistem politik harus didasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah. Asumsi yang dibangun dalam demokrasi bahwa kekuasaan di tangan rakyat, mereka anggap bertentangan dengan Islam yang menganggap kekuasaan itu mutlak di tangan Tuhan.

Namun apa guna semua itu jika pada kenyataannya justru sangat jauh dari apa yang disebut dengan ‘Islami’ dalam praktiknya. Bukankah kita semua tahu bahwa apa yang disebut ‘Islami’ adalah nilai-nilai luhur yang tersarikan dari ajaran kegamaan, seperti sikap toleran dan keadilan sosial, bukan asal tebas sembarangan dalam laku radikal?! Sebab jika hal itu tetap dipaksakan untuk diteruskan, sejatinya mereka telah menodai apa yang disebut oleh Hasan Hanafi dengan Islam as a living culture.

Salah satu ketentuan dasar yang dibawakan Islam adalah keadilan, baik yang bersifat perorangan maupun dalam kehidupan politik. Keadilan adalah tuntutan mutlak dalam Islam, baik rumusan “hendaklah kalian bertindak adil (an ta’dilû) maupun keharusan “menegakkan keadilan (kûnû qawwâmîna bi al-qisthi), berkali-kali dikemukakan dalam kitab suci Al-Qur’an. Dengan meminjam dua buah kata yang sangat populer dalam peristilahan kaum muslimin di atas, UUD 45 mengemukakan tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI): menegakkan keadilan dan mencapai kemakmuran. Kalau negara lain mengemukakan kemakmuran dan kemerdekaan (prosperity and liberty) sebagai tujuan, maka negara kita lebih menekankan prinsip kesejahteraan dan keadilan sosial.

Dengan menganggap hal tersebut sebagai tujuan bernegara, UUD 1945 jelas­jelas menempatkan kesejahteraan/keadilan­kemakmuran sebagai sesuatu yang esensial bagi kehidupan kita. Dalam fiqh juga disebutkan “kebijakan dan tindakan pemimpin atas rakyat yang dipimpin harus sejalan dengan kemaslahatan mereka’ (tasharruf al-imâm ‘alâ ar-ra’iyyah manûthun bi al-mashlahah)”. Maka menjadi nyata bagi kita bahwa prinsip menyelenggarakan negara yang adil dan makmur menurut UUD 1945, menjadi sama nilainya dengan pencapaian kesejahteraan yang dimaksudkan oleh kaidah fiqh tersebut.

Senada dengan prinsip keadilan dalam QS. An-Nahl: 90, nasionalisme pada dasarnya merupakan sebentuk ide yang memiliki tujuan untuk menciptakan keharmonisan dalam tatanan kehidupan. Kehidupan di sini tidaklah bersifat tunggal, melainkan harus bersifat komunal. Artinya, ada nilai yang ingin diposisikan sebagai gagasan utama teori keadilan (the main idea of theory of justice). Gagasan inilah yang kemudian menjelma menjadi prinsip-prinsip keadilan sebagai basis struktur kemasyarakatan yang mana ia merupakan sebentuk objek orisinal sebuah kesepakatan.

Maka, untuk melestarikan spirit Pancasila, UUD 1945, NKRI dan menegakkan warisan luhur tradisi, dan budaya bangsa, harus ada upaya terorganisasi untuk melaksanakan langkah-langkah strategis guna menjaga kedautalan bangsa Indonesia, seperti: menghentikan dan memutus -dengan cara-cara damai dan bertangungjawab- mata rantai paham dan ideologi garis keras melalui pendidikan (dalam arti kata yang seluas-luasnya) yang mencerahkan, serta mengajarkan dan mengamalkan pesan-pesan luhur budaya bangsa sehingga mampu menumbuhkan kesadaran sebagai negara beragama yang menjunjung tinggi keadailan sosial, tetap toleran dan dan penuh rasa cinta akan damai.

Akhirnya, kepulauan Nusantara merupakan wilayah yang secara terbuka mengakui dan menerima perbedaan. Karena eksistensi dan realitas tradisi keberagaman merupakan bagian penting integral kehidupan. Sebab perbedaan ada agar kita bisa saling bertutur sapa. Di atas sajadah Nusantara inilah kita mengerti bahwa perbedaan merupakan bukti keabsahan kalam Tuhan. Ia hadir di tengah kehidupan manusia yang selalu berinteraksi sebagai wujud sosial sebuah bangsa. Dengan demikian, perlu ditegaskan kembali bahwa kesadaran ini harus dimunculkan sebagai bentuk perwujudan konsep masyarakat sipil yang ideal (the ideal concept of civil society). [AJU]

_____________________________

*Adalah mahasiswa pascasarjana WISE University, Yordania.

**Tulisan ini adalah tulisan perdana dari Tim Kajian Strategis Komisi Agama PPI Dunia. Kajian komisi agama ini fokus terhadap isu-isu radikalisme agama dan sikap-sikap intoleransi yang acap kali mencederai kebhinekaan kita sebagai Bangsa Indonesia.

 

PPIDUNIA.ORG, Tunisia - Tubuh NKRI kini sedang diuji dengan wabah perpecahan dan kebencian. Berbagai masalah timbul membakar api perpecahan. Isu SARA yang paling dominan menjadi sumbernya. Alwi Shihab, seorang cendekiawan senior, politisi yang namanya sudah tak asing lagi mencoba mengalirkan hawa sejuk di tengah tugas negaranya ke Tunisia. Beliau diutus oleh Presiden Joko Widodo untuk menjalin kerjasama dengan negara-negara di Timur-Tengah. Kedatangan beliau ke Tunisia adalah dalam rangka menghadiri sebuah konferensi Internasional dalam bidang ekonomi.

Di tengah kesibukan beliau, PPI Tunisia berhasil mendapatkan kesempatan mewawancarainya pada Rabu (30/11) di Ruang Nusantara, KBRI Tunisia. Dalam wawancara ini beliau banyak membahas masalah kebangsaan, masalah keberagaman kita sebagai bangsa dan juga peran mahasiswa yang ada di Timteng yang nantinya akan berada di garda terdepan dalam mengawal NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Bagaimana pandangan bapak terkait isu SARA yang saat ini sedang kuat di tanah air?

Saya kira isu sara ini sangat berbahaya kalau tidak bisa diredam, karena dia bisa berkembang menjadi suatu isu yang merugikan kita semua, karena kita sebagai negara pancasila sudah bertekad untuk menjadi suatu negara yang menjadikan sara itu sebagai sesuatu yang tabu. Karena sebagai negara yang pluralis, kita harus bisa menempatkan diri sebagai bangsa yang menghormati perbedaan-perbedaan. Apakah itu perbedaan agama, perbedaan etnik perbedaan suku dsb.

whatsapp-image-2016-11-30-at-15-11-29-1

Wawancara Ekslusif PPI Tunisia dengan Bapak Alwi Shihab

Itu sudah kita lebur semuanya menjadi suatu bangsa yang satu dengan bahasa yang satu yaitu bangsa Indonesia yang tidak melihat dia suku mana.

Apa yang terjadi di negara timur tengah antara lain kesukuan yang kuat itu menjadikan negara itu tercabik-cabik. Tetangga Tunis ini Libya, suatu contoh yang sangat tepat dianalogikan bagaimana kesukuan itu menjadikan bangsa Libya yang tadinya bersatu, sekarang berbeda pandangan disebabkan karena kekuatan kesukuan. Ini yang founding father kita itu menghindari hal tersebut, karena menyadari bahwa Indonesia ini terbagi beragam suku, beragam agama. Dan kita harus menonjolkan kebangsaan bahwa kita ini adalah bangsa Indonesia sebelum kita menganggap bahwa diri kita ini adalah suku ini suku itu, agama ini agama itu. Kita bangsa Indonesia yang masing-masing memiliki cirinya yang khas, tetapi kita sebagai bangsa adalah satu. Jadi isu sara ini berbahaya kalau tidak diredam dan tidak dijelaskan kepada masyarakat luas bahwa ini tidak boleh menjadi suatu isu yang bisa mempengaruhi jalan pikiran kita apalagi politisi, apalagi ulama, apalagi tokoh.

Kita tidak bisa membedakan antara suku Batak, suku Jawa, kalau seandainya saya sebagai duta besar di sini seorang Jawa. Apakah saya harus pilih staff saya juga orang Jawa karna ke-Jawa-an?. Tidak,

yang penting itu adalah Indonesia. Jadi isu sara itu berbahaya kalau dipupuk. Ini harus diredam, karena pada saat founding father mendeklarasikan Indonesia, sebelumnya itu sumpah pemuda diteruskan dengan pembentukan NKRI, sara itu sudah menjadi suatu hal yang tidak boleh kita singgung sehingga ada UU-nya di Indonesia soal sara, jadi sangat mengancam. Itu yang generasi muda harus tetap menjaga warisan yang diberikan oleh pendiri republik ini, untuk kita jaga terus. Nah, isu-isu yang berkembang sekarang ini mudah-mudahan sudah bisa diredam dan sudah bisa diatasi sehingga tidak berkembang kemana-mana.

Apa yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat Indonesia yang ada di wilayah Timur Tengah dan Afrika melihat isu-isu yang berkembang di Indonesia, khususnya dalam menyikapi pemberitaan di media sosial yang kerap menjadi tempat perdebatan?

Nah, ini memang pengaruh media sosial yang sekarang banyak sekali orang menyadari bahwa sebenarnya betul ini suatu teknologi yang bagus kalau dimanfaatkan. Tapi pada saat yang sama, ini bisa menciptakan keretakan di antara keluarga besar bangsa bahkan di kalangan tertentu umat islam juga bisa terancam oleh cara-cara provokasi dan fitnah. Kita juga melihat di media sosial seorang tokoh dicaci maki. Kejadian Gus Mus yang kita ikuti bersama sehingga mereka yang merasa bersalah akhirnya datang minta maaf dan banyak orang yang diperlakukan seperti itu, sebagai tokoh yang seharusnya dihormati justru dicaci maki karna adanya media sosial yang bebas untuk berbicara.

Karena itu saya kira pemerintah sekarang memikirkan bagaimana membatasi anjuran kebencian ini untuk bisa dikurangi dengan cara-cara perundangan atau ketentuan ketentuan sehingga tidak seenaknya saja hal ini bisa memprovokasi emosi masyarakat. Apa yang terjadi sebenarnya akhir-akhir ini terhadap Ahok dimulai dengan media sosial yang meng-quote secara keliru apa yang disampaikan sehingga untuk memperbaiki quote itu sudah tidak bisa mengatasi emosi yang sudah meluap dimana-mana.

Sulit membendung disebabkan karena sosial media. Jadi kita harus berhati-hati dan saya kira memang bagus seandainya ketentuan pemerintah sekarang itu untuk mengejar siapa yang dengan sengaja menciptakan hal-hal yang menjadikan kegaduhan di antara masyarakat dan bahkan bisa menciptakan perpecahan.

Dalam kasus kali ini apakah memang sebagian besar masyarakat Indonesia kurang edukasi tentang bagaimana menjaring berita yang masuk, kemudian bagaimana cara pemerintah untuk menanggulangi masalah ini?

Ya, sekarang pemerintah menyadari bahwa hal ini bisa menciptakan kegaduhan. Dan kegaduhan itu bisa mengakibatkan instabilitas. Instabilitas bisa menciptakan suatu keadaan dimana investor itu ragu untuk masuk ke Indonesia jadi dampaknya ada ujungnya yaitu kesejahteraan masyarakat itu terganggu karena tidak adanya investasi atau kurangnya turis. Apa yang terjadi di Mesir kita tidak mau hal itu terjadi di Indonesia. Itu juga dimulai dengan sosial media yang tidak bertanggung jawab.

Baik pak, sebelumnya kami menghimpun berita-berita yang sedang hangat di Indonesia antara lain kurang lebih ada 169 negara asing yang bebas visa masuk ke Indonesia kemudian pihak asing bisa menguasai perusahaan-perusahaan di Indonesia 100%, bagaimana bapak melihat ini semua?

Yaa sebenarnya begini, kalau umpamanya kita melihat Dubai, Dubai itu lebih progresif dari apa yang sekarang di Indonesia. Di Dubai itu, Asing bisa menguasai, bisa membeli apa saja yang dia mau. Kalau di Indonesia belum se-liberal itu. Orang asing boleh membeli rumah tetapi dia ada batasan-batasannya dan tidak sebebas yang kita dapati di Dubai umpamanya. Nah, kalau bebas visa memang, kalau dibandingkan dengan negara lain memang bukan kita yang pertama. Di Malaysia juga bebas visa tentu bukan semua negara, negara-negara yang oleh pemerintah dianggap masih rawan, itu tetap masih belum bebas visa. Nah, di sini banyak pembicaraan bahwa bebas visa mengakibatkan ada bangsa tertentu yang lalu tidak kembali.

Nah, itu jangan disalahkan bangsa yang masuk itu. Disalahkan pejabat kita karena itu semuanya kan ada record nya. Kalau anda masuk suatu negara kan ada record nya. Kalau anda tidak keluar dari record nya kan berarti kan bisa dicari. Dimana-mana begitu. Jadi jangan salahkan pemerintah tetapi salahkan oknum di pemerintah yang bertanggung jawab terhadap itu, imigrasi umpamanya. Dia tahu waktu si A masuk ke Indonesia dia tahu visa nya sampai kapan berakhir. Begitu sudah berakhir dan dia tidak pulang, dia bisa dicari kan yaa. Kadang-kadang dia menghilang kemana. Tapi RT/RW dan sebagainya kalau ada orang asing di suatu daerah kan bisa dilaporkan. Jadi jangan hanya melihat bahwa ini pemerintah menciptakan suasana sehingga orang asing berbondong bondong masuk. Nah, buktinya dari kementrian tenaga kerja kan juga pada waktu yang lalu kan mentri nya sendiri menangkap beberapa orang yang datang tapi tidak mempunyai izin untuk bekerja. Jadi kita harus introspeksi. Jadi imigrasi, kepolisian itu semuanya bertanggung jawab. Kalau sudah over stay yaa sudah. Kenapa kalau orang masuk ke Amerika over stay kemudian bisa diketahui jadi dia bisa di-black list. Kalau sekali dia over stay untuk yang akan datang dia tidak masuk lagi. Yaa jadi sistem kita juga harus diperbaiki jangan hanya melihat dari satu aspek saja.

Kedatangan bapak ke Tunis sebagai Special Envoy for the Middle East and the Organization of Islamic Cooperation (OIC) yang sebelumnya berkunjung ke Arab Saudi kemudian Yordania pada Februari lalu, sebenarnya apa pesan Presiden untuk negara-negara Timur Tengah dan anggota OKI?

Yaa sebenarnya pesan presiden itu, saya memegang jabatan ini sejak presiden SBY yang oleh pak Jokowi dianggap bahwa kelihatannya posisi ini masih -atau tanggung jawab ini masih- perlu untuk dilanjutkan karena Indonesia menginginkan adanya kerjasama dengan negara-negara timur tengah dan anggota OKI yang perlu berkesinambungan dan juga perlu ditingkatkan. Kita ketahui bahwa tidak semua negara di timur tengah ini mempunyai potensi untuk investasi. Tentu ada beberapa negara yang dianggap perlu untuk saya kunjungi dan saya ajak untuk meningkatkan hubungan ekonomi. Saya tidak ditugaskan oleh presiden untuk hal-hal yang sifatnya hubungan politik, yaa karna itu tugas Menlu dan saya lebih banyak ditugaskan yang sifatnya meningkatkan hubungan ekonomi kecuali kalau ada tugas-tugas khusus dari presiden.

Nah, anda bisa mendengar bahwa saya sering ke Saudi, Emirate, Oman kalau Afrika Utara ini tidak terlalu sering, mungkin Tunis termasuk yang 2-3 kali saya datangi karna di sini juga ada potensi untuk peningkatan kerja sama ekonomi yang lebih baik dari negara-negara lain. Sebenarnya Mesir ada tetapi keadaan di Mesir kita tahu sendiri bahwa sekarang belum kondusif, Libya juga ada tapi juga belum kondusif.

Nah, sekarang di Tunis ini yang di antara negara-negara Afrika khususnya Afrika Utara ini yang termasuk menjanjikan karna alasan pertamanya adalah banyak persamaan dengan Tunis ini satu hal. Mahasiswa tentu tahu bagaimana pandangan pemahaman islam di Tunis ini sejalan dengan pemahaman islam kita di Indonesia yaitu versi yang moderat. Yang artinya menghargai perbedaan pandangan, tidak memaksakan kehendak kelompok tertentu untuk menjadikan kelompok yang berbeda itu masuk ke dalam kelompok itu. Kita di Indonesia ada Muhammadiyah, ada NU, ada Wasliyah ini yang saya lihat ada kesamaan dengan Indonesia di samping dari itu kita menggalakkan -kalau perlu- lebih banyak lagi mahasiswa yang datang ke Tunis. Kita bersyukur punya Dubes yang aktif di sini. Kita lihat kemajuan, berapa banyak mahasiswa sebelum beliau sampai di sini. Sekarang berlipat ganda. Berapa banyak hubungan-hubungan ekonomi yang tadinya tidak digarap namun berkat beliau sekarang mulai cenderung untuk berkembang. Di sini ada Medco dan juga ada rencana untuk pengembangan Universitas dengan Universitas. Itu semuanya kan tidak terlepas dari usaha KBRI.

Karena KBRI yaa sebagai, tempat atau wakil pemerintah yang mengetahui kedua belah pihak sehingga dia bisa mencari titik temu dari keduanya untuk bisa dikembangkan hubungan kerja sama.

Mengemban amanah ini sejak zaman Pak SBY hingga Pak Jokowi, seberapa antusias kah negara-negara timur tengah untuk investasi ke Indonesia?

Yaa jadi kita harus selalu juga mengingat bahwa timur tengah itu, selama ini melihat Indonesia tidak begitu serius khususnya pada masa Pak Harto. Pada masa Pak Harto kita tahu persis bahwa banyak sekali penitik beratan kepada barat sehingga timur tengah tidak terlalu difikirkan. Begitu masuk masa Gus Dur mulai ada pemikiran di timur tengah, dilanjutkan dengan SBY.

Nah, ada peningkatan-peningkatan. Pak Jokowi ini sewaktu saya diminta untuk melanjutkan, pesannya begini: “Pemerintah kita tidak boleh hanya mengandalkan barat dan timur dalam pengertian China, Jepang. Dan tugas utusan khusus untuk timur tengah untuk melibatkan proyek-proyek yang ada di Indonesia ini juga timur tengah harus mengambil bagian”.

Muammar Kadafi sedang sedang mewawancarai Bapak Alwi Shihab

Muammar Kadafi sedang sedang mewawancarai Bapak Alwi Shihab

Nah, dari itu juga berkat dubes-dubes yang ada di timur tengah juga anjuran presiden sehingga keliatan mulai ada perkembangan. Satu contoh umpamanya dengan Saudi Arabia yang sepuluh tahun ini pembicaraan soal refinery itu tidak selesai-selesai. Hanya pada masa Pak Jokowi ini ada perjanjian yang sudah ditanda tangani dan proyek refinery sudah mulai akan dikerjakan oleh Saudi Arabia. Juga kita lihat dari Qatar ada komitmen 1 miliar dolar untuk proyek infrastruktur yang sekarang sedang dicarikan proyek nya. Qatar juga sudah membuka QNB (Qatar National Bank) di Indonesia. Dubai juga sudah membuka Dubai Islamic Bank kerja sama dengan pihak Indonesia. Iran juga sekarang sudah mulai di bidang power plan. Sudah mulai di Medan dan dia akan terus, baru-baru ini menyatakan bahwa ingin juga menggarap proyek refinery dengan negara-negara. Oman juga ada pemikiran ke arah oil dan gas demikian pula Kuwait.

Nah, itu semuanya harus diimbangi keinginan dari pihak timur tengah dengan kesediaan kita untuk mencari titik temu untuk kita implementasikan.

Jadi Pak Jokowi ini menginginkan timur tengah terlibat dalam proyek-proyek sehingga jangan dianggap bahwa timur tengah ini adalah sesuatu kekuatan finansial ekonomi yang tidak diperhatikan oleh Indonesia sebagaimana masa-masa yang lalu.

Baik pak, pertanyaan terakhir yaitu pesan kepada mahasiswa Indonesia yang berada di Luar Negeri pada umumnya, khususnya Tunisia serta negara-negara timur tengah dan Afrika, apa yang seharusnya wajib kami persiapkan ketika kembali ke Indonesia?

Itu penting sekali, di Indonesia ada usaha untuk membelokkan pemahaman islam ini ke arah yang tidak selama ini menjadi bagian dari pengertian atau pemahaman kita. Kan kita itu yang direpresentasikan oleh NU dan Muhammadiyah itu sebagai mayoritas ada usaha-usaha untuk apa namanya men-Introduce, memperkenalkan pemahaman pemahaman baru. Saya kira mahasiswa tahu. Nah mahasiswa yang dari timteng ini -apakah dia dari Mesir apakah dia dari Tunis. Kenapa saya tekankan Tunis dan Mesir? karena ini ada persamaan dalam pemahaman keislaman Mesir dan Tunis ini, dan Indonesia yaitu pemahaman keislaman yang moderat tidak memaksakan kehendak dan tidak mendiskreditkan golongan yang lain. Dan saya yakin di Tunis dan di Mesir, semua aliran, semua mazhab diajarkan dan tidak pernah mengkafirkan satu mazhab, tidak pernah mendiskreditkan mazhab lain sampai kepada mazhab syiah juga diajarkan. Artinya apa? itu yang cocok dengan negara kita yang plural. Kita terbuka dan sekarang tuh tidak bisa anda mengatakan anda harus ikut imam syafii anda tidak boleh mengikuti syiah dan sebagainya.

Kita sebagai suatu masyarakat yang terbuka apalagi demokratis. Kita berhak untuk memilih apa yang kita inginkan selama prinsip-prinsip dasar yang sudah kita sepakati tidak kita lewati atau kita tidak mengingkari. Nah jadi mahasiswa yang ada di LN (luar negeri) ini -apalagi dari Tunis- ini diharapkan menjadi pelopor pemahaman islam yang plural, pemahman islam yang moderat. Dan itu kita bersyukur bahwa ada peningkatan pengiriman mahasiswa ke mari. Dan ini harus berlanjut dan ditambah lagi pengiriman mahasiswa ke Tunis.

Jadi pemikiran yang berbeda kita tetap menghormati, jangan kita bilang islam anda itu sesat dan selama mereka itu meyakini prinsip dasar islam (Ushul al-Din): Syahadat, Sholat, Puasa, selama itu dipertahankan, Quran-nya satu, kiblat-nya satu, syahadat-nya sama, lalu pemahaman-pemahaman lain umpama syiah punya imamnya begini itu jangan menjadi sebab untuk kita menyesatkan mereka.

Yaa anda berbeda dari kami tapi kita bersatu di dalam haji kita sama. Nah pemahaman semacam ini dan orientasi semacam ini yang kita harapkan dari Timteng. Jangan justru saat dia pulang ke indonesia menyuburkan perbedaan tapi justru dia harus meredam perbedaan itu khususnya dari Tunis ini, karena di Tunis kan sama sebenarnya sama al azhar yaa. Dan ini yang harus menjadi pelopor dan waktu saya ke Iran pun saya bertemu dengan mahasiswa. Saya juga katakan bahwa kita tahu bahwa syiah itu ada yang ekstrem ada pula yang moderat. Yang ekstrem itu yang memaki sahabat. Itu tidak laku di Indonesia. Tidak ada orang yang mau menerima itu. Anda harus pilih pengajaran syiah yang moderat. Yang moderat itu apa? dia menghormati sahabat nabi apalagi sekarang kan mereka juga mengoreksi pandangan-pandangan yang mendiskreditkan sahabat. Hanya itu saja sebenarnya yang menjadi masalah syiah. Jangan dibesar-besarkan. Itu justru dari Tunis dari Mesir mengajak bekerja sama. Mahasiswa ini kan pemimpin masa depan. Kalau pemimpinnya sudah memprovokasi perbedaan, masyarakat kita itu kasian, nggak tau. Jadi kalau sudah ustadznya bilang begini dia akan ikut. Nah mahasiswa yang di LN ini harus bisa bersatu untuk melestarikan ajaran Islam, pemahaman islam yang sudah turun temurun.

Orang-orang di desa itu kan umpama dilarang mauludan dia bingung, loh kenapa? sudah ikuti apalagi hal itu kan tidak bertentangan dengan prinsip dasar. Orang yang tidak mau mauludan yaa silakan tapi jangan menyatakan dia sesat. Dia berbeda dengan kita tidak berarti kalau dia bukan islam kecuali kalau perbedaan itu fundamental, yaa itu kita bisa tahu.

Kan ada OKI, OKI juga kan sebagai kumpulan negara-negara muslim juga menyatakan -umpamanya- Ahmadiyah tidak diterima nah itu ada dasarnya tapi syiah diterima karna juga ada dasarnya. Jadi ini mahasiswa penting sekali karena kita-kita yang tua ini kan akan digantikan oleh para mahasiswa.

Foto bersama seusai wawancara. Dari kiri-kanan (Muamar Kadafi, Bapak Alwi Shihab, A. Jauhari Umar, Dubes LBBP RI Tunisia Bapak Rony P. Yuliantoro)

Foto bersama seusai wawancara. Dari kiri-kanan (Muamar Kadafi, Bapak Alwi Shihab, A. Jauhari Umar, Dubes LBBP RI Tunisia Bapak Rony P. Yuliantoro) di Ruang Nusantara, KBRI Tunisia.

Para mahasiswa kalau dia membawa negara kita ini ke arah yang tidak menghormati perbedaan, kita dalam islam sendiri harus pandai-pandai, belum lagi kita menghadapi kelompok lain, sama kristen kenapa kita harus memusuhi kristen? kenapa kita jadi pengikut ISIS yang membunuh orang yang tidak sejalan dengan dia?. Itu bukan islam yang benar. Nah ini yang harus kita kembangkan. Mahasiswa ini harus jeli. Jangan dia hanya cari panggung untuk maki sana, maki sini tetapi mengorbankan kebersamaan kita sebagai bangsa.

Jadi saya datang ini supaya ingat bahwa presiden ini kan memperhatikan timur tengah. Ada konferensi penting di sini. Presiden menghendaki ada pejabat tinggi setingkat mentri yang hadir untuk menunjukkan bahwa presiden itu sama Timteng selalu menginginkan ada kerja sama, jadi saya dating. Saya bisa ketemu Menlu besok ketemu mentri perdagangan. Menghadiri konferensi ini dalam rangka -pesan awal pak Jokowi- agar Timteng selalu dilibatkan dan apa yang bisa ditingkatkan kita tingkatkan. Nah itu tugas negara.(Dafi/AJU)

 

PPIDUNIA.ORG, Kairo - 21 November 2016. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Kairo kerjasama Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia beserta PPMI Mesir sukses menyelenggarakan Grand Opening Festival Film Indonesia (FFI) di Ramses Hilton Ballroom, kota Kairo pukul 19.00 - 22.00 Clt

Sengaja acara tersebut diadakan sebagai pembukaan FFI tahun 2016 yang bakal memutarkan beberapa sinema ternama Indonesia. Yaitu sebanyak delapan judul film Indonesia akan segera ditayangkan di beberapa lokasi di Kairo dari tanggal 21 hingga tanggal 25 November 2016. Diantara lokasinya Auditorium Sholah Kamil Hay Sadis, Fustat Hall Azhar Conference Center, Indonesian Cultural Center Cairo, dan Bioskop Wonderland.

whatsapp-image-2016-11-23-at-07-29-23

Film-film yang akan diputar adalah Aisyah; Biarkan Kami Bersaudara sebagai film pembuka, Battle of Surabaya, Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Ada Surga di Rumahmu, Ketika Cinta Bertasbih, Jihad Selfie, dan Filosofi Kopi. Hingga akhiri oleh film "Soekarno" pada acara penutupan di Fustat Hall, Azhar Conference Center tanggal 25 November tersebut.

Tujuan diadakannya pekan ini, Duta Besar RI untuk Mesir, Helmy Fauzy menyatakan bahwa tema-tema film yang dipilih ini memberikan semangat patriotisme, pantang menyerah, kesetiakawanan, pendidikan, kewirausahaan, kemanusiaan, juga toleransi.

Selain itu, ia juga menambahkan bahwa pekan ini sejalan dengan misi perwakilan RI dalam memperkenalkan keanekaragaman dan pencapaian yang diraih Indonesia, maka film-film yang diputar juga memuat misi pengenalan keindahan alam Indonesia, produk unggulan Indonesia, keanekaragaman budaya, adat istiadat, kebhinnekaan, dan kemajuan industri animasi Indonesia.

Acara Grand Opening tersebut benar-benar ramai. Tamu undangan yang telah diundang hadir diantaranya pejabat tinggi Mesir seperti Menteri Kebudayaan, Helmy Namnam, para Duta Besar, korps diplomatik negara-negara sahabat, media setempat serta sejumlah warga Mesir yang merupakan Friends of Indonesia. Juga Penulis buku yang diadaptasi menjadi film "Ketika Cinta Bertasbih" Habiburrahman Shirazi pun turut hadir pada acara pembukaan tersebut. Selebihnya tamu undangan perwakilan organisasi atau perkumpulan Masisir juga menghadiri.

Salah satu sesi di Grand Opening ini memutarkan triller dari masing-masing sinema yang akan diputar, juga sekaligus menayangkan satu buah sinema pembuka berjudul "Aisyah; Biarkan Kami Bersaudara" dengan English Subtitle. Film bertemakan pentingnya toleransi antar beragama ini menjadi tontonan menarik bagi warga Mesir yang sedang hadir. Dikarenakan pula, latar belakang adegan itu menkhaskan aneka ragam Indonesia sebagai negara Hijau.

Respon positif salah satu Masisir yang hadir pada acara pembukaan tersebut menjadikan bahwa acara ini luar biasa karena jarang-jarang warga Indonesia dan warga Mesir bisa menonton bersama.
"Banyak manfaatnya, disamping memperkenalkan perfilman Indonesia yang berkualitas dengan menampilkan adegan toleransi beragama kepada warga Mesir (baca: film Aisyah; Biarkan Kami Bersaudara), dan untuk mahasiswa Indonesia di Mesir sebagai pelepas rindu akan suasana nonton di Indonesia" Jelas Ikhwan Septian salah satu mahasiswa fakultas Syariah Univ. Al-Azhar ini.

Di sela-sela pertengahan acara sesudah waktu coffee break, terdapat penampilan berupa tari zapin yang ditampilkan oleh tujuh orang dari Masisir ini. Menambah nilai budaya asli Indonesia akan warga Mesir yang sedang hadir.

Sumber: Informatika Icmi Orsat Kairo (salah satu Media Mahasiswa indonesia di Mesir)

___
Note:
-Masisir : Mahasiswa Indonesia di Mesir

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920