logo ppid

Malam itu, Bibliotheken Universiteit Leiden terlihat lebih lowong dari biasanya. Maklum, sudah lewat musim ujian. Di salah satu sudut perpustakaan Universitas Leiden itu, saya bertemu dengan sesosok kakek. Ia terlihat sudah sangat tua. “Pakaiannya” terlihat lusuh. Dia bisa berbahasa Indonesia, walau dengan bahasa Indonesia Jaman dulu. Sepertinya dia masih menggunakan ejaan yang belum disempurnakan.

Dia adalah tokoh revolusioner yang cukup berpengaruh di jamannya. Sosok kontroversial. Namanya, Tan Malaka.

Saya mencoba berkenalan dengannya. Lebih tepatnya mengenalkan diri saya. Saya pun memulai percakapan. Nama saya, Ali Salmande. Saya sedang mengambil master European Law di Universiteit Leiden. Universitas yang fakultas hukumnya konon katanya terbaik se-Belanda (atau ada yang bilang se-Eropa daratan). Saya ambil program ini karena saya ingin “mengajak” masyarakat Indonesia (dan ASEAN) untuk membentuk supranational seperti Uni Eropa, dan bla bla bla.

Tan Malaka hanya tersenyum mendengar dongengan saya itu. Hingga, akhirnya, kami berdialog. Dia pun menyampaikan pesan untuk saya, dan juga anak Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri. Khususnya, di negeri barat. Berikut adalah dialog saya dengan Tan Malaka, malam itu, sambil berbisik-bisik di sudut perpustakaan Leiden.

Saya: Bung, kondisi dunia pendidikan Indonesia sudah mengarah semakin baik saat ini. Beasiswa untuk anak Indonesia di luar negeri semakin banyak. Itu tentu berbanding lurus dengan terciptanya semakin banyak kaum terdidik. Bagaimana, bung, melihat fenomena ini?
Tan Malaka: Ah, biasa saja. Itu sudah ada sejak zaman saya dulu. Mereka kaum acedemici itu kadang menyebalkan.
Saya: Loh, kok? Maksudnya?
Tan Malaka: Timboelnja satoe golongan jang bangga menamai dirinja “acedimici” di Indonesia ini soedah moelai mentjoba memonopoli semoea pengetahoean jang berdasarkan ilmoe. Di Filipina dan Hindoestan, memangnja pertjobaan memonopoli itoe soedah memperlihatkan hasilnja.

Disana soedah termasoek betoel paham diantara segolongan Rakjat, bahwa oempamanja jang memimpin politik itoe mestinja satoe Mr (Baca: Mesteer in de rechten) dan memimpin ekonomi itoe mestinja satoe Dr dalam ekonomi.

Saya: Hmmmm. *berusaha terus menyimak*. Terus dampak negatifnya apa, Bung?
Tan Malaka: Kalau kita ikoeti logika sematjam itoe, djadinja, seorang leek, boekan bertitel tak boleh meraba-raba ilmoe. Selandjoetnja poela seorang Drs (jang baroe 75% atau 75,5% Dr) dalam ekonomi, mestinja takloek kepada seorang Dr dan Dr ini mestinja takloek poela pada seorang Professor dalam ekonomi.

Djadi menoeroet pikiran pasar, The men on the street, dengan logika sematjam ini kalau seorang Drs (ekonomi) oempamanja menoelis 3 boekoe, maka seorang Dr (ekonomi) mestinja sekoerangnja menoelis 4 boekoe dan satoe Professor djaoeh lebih banjak dari jang dibelakang ini.

Dilaksanakan di Indonesia ini, kalau ahli ekonomi kita jang seodah “diakoei” itoe, ialah Drs. Moh Hatta menoelis setengah loesin boekoe tentangan ekonomi, maka Dr. Samsi mestinja menoelis sekoerangnja 9 bidji dan Prof. Soenarto Kalopaking seloesin ataupoen lebih.

Saya: Ohh. Dari tiga nama yang disebut di atas, saya cuma tahu Bung Hatta. Memang faktanya bagaimana, bung?
Tan Malaka: Tidak seperti itu. Sedangkan Drs. Moh Hatta menoelis lebih setengah loesin, Dr. Samsi dan Prof. Soenario Kalopaking sedikit sekali kelihatan boeah penanja. Didoenia politik sedangkan Mr. Iwa Koesoema Soemantri oempamanja sedikit terdengar soearanja dan tjoema dalam kalangan P.B.I-nja sadja, tetapi warga negara sedjawat kita Mr. Slamet, soedah sampai soearanja ke Sri Ratoe dan seloeroeh rakjat Nederland serta doenia imperalist lainnja.
Saya: Bung, tapi kan memang ada cabang ilmu yang butuh keahlian dan pendidikan khusus. Yang tidak bisa sembarangan diserahkan kepada orang yang tidak punya latar belakang keilmuan tentang itu.
Tan Malaka: Kita membenarkan sama sekali keperloean latihan academi dalam ilmoe seperti kimiah, listrik, dan teknik. Tetapi inipoen tak berarti bahwa jang oeloeng dan berhak bersoeara dalam ilmoe sematjam itoe mestinja keloearan academi sadja. Tjoekoeplah disini diseboetkan bahwa pembikin beberapa teori jang amat berharga dalam hal listrik, dizaman listrik ini seperti Michael Faraday, tjoema keloearan sekolah sebenggol (rendah) sadja.

Thomas Edison, pendapat (inventor) listrik dioesir oleh goeroenja dari klas satoe atau doea disekolah rendah tadi poela karena ..... bodoh.

Penoeh tjontoh lain-lain dalam hal ilmoe seperti terseboet diatas: teknik, kimiah, matematika ataupoen Biology. Banjak ilmoe jang dilajani dan teori penting jang dibentoek oleh boekan academici. Sebaliknja poela banyak poela tjontoh jang memboektikan, bahwa academici itoe tjoema toekang apal sadja, toekang “tjatoet” ilmoe orang lain sadja. Semoeanja memboektikan bahwa titel itoe tjoema satoe soerat pas sadja, dalam doenia ketjerdasan, boekanlah ketjerdasan sendiri!

Apalagi dalam ilmoe masjarakat, seperti politik dan ekonomi!

Saya: Hmm, bener juga sih, bung. Saya lihat teman-teman di sini kadang juga suka memonopoli ilmu seperti yang bilang. Mahasiswa sejarah seakan memonopoli sejarah. Mahasiswa hukum merasa paling jago sendiri ketika berbicara hukum. Saya kadang-kadang juga sering meng-underestimate teman-teman dari jurusan lain ketika mereka berbicara tentang Uni Eropa. Perasaan paling paham sendiri itu kadang masih ada, walau pun saya nggak jago-jago amat sih. Buktinya, saya masih sering re-sit kok, Bung.
Tan Malaka: Nah, benar kan? Jadi, kamu kasih tahu ke teman-teman kamu yang belajar di Belanda ini ya. Tetaplah menunduk dengan ilmu yang kalian pelajari. Jangan merasa paling “sotoy” dengan ilmunya.
Saya: Loh, kok Bung ngerti “sotoy” juga? Itu kan bahasa alay.
Tan Malaka: Ya iya lah. Masa’ ya iya dong. Duren aja dibelah, bukan dibedong. Kalau kamu bertanya begitu, berarti kamu sudah memonopoli ilmu (bahasa). Bahasa alay itu bukan monopoli milik generasi kalian, saya juga bisa.
Saya: Oh oke deh kalau begitu, Bung. Maaf ya kalau saya agak underestimate. Habis tadi pas kita dialog serius, Bung pakai bahasa Indonesia edisi jadul sih. Terima kasih atas diskusinya yang mencerahkan.
Tan Malaka: Iya. Kamu sudah paham belum? Coba disimpulkan hasil diskusi kita?
Saya: Insya Allah sudah, Bung. Saya ambil ada dua kesimpulan. Pertama, para mahasiswa Indonesia di Belanda jangan memonopoli ilmu yang dipelajarinya. Kedua, mereka harus sering-sering menulis (atau menghasilkan produk yang bermanfaat) seperti bung Hatta dan bung sendiri.

Untuk yang pertama, saya sudah menyadari itu. Dan untuk yang kedua, saya sekarang sedang mulai bikin projek blog pribadi tentang www.hukumunieropa.wordpress.com, supaya kayak Bung Hatta, rajin menulis dan ilmunya bisa langsung bermanfaat untuk orang lain. Semoga bisa konsisten seperti Bung dan nggak “hangat-hangat t*i ayam”. Mohon dikunjungi dan kasih komen kalau ada waktu ya, Bung.

Tan Malaka: Iya kira-kira begitu. Oke, nanti saya cek blog kamu kalau saya ada waktu senggang.
Saya: Saya pulang dulu ya, Bung. Sudah malam. Tempat tinggal saya lumayan jauh dari perpustakaan ini. Saya juga nanti mau mampir beli kapsalon dulu di Ak Mir atau Doner Company.
Tan Malaka: Oke. Memangnya, di mana kamu tinggal?
Saya: Di Rijnkade, Bung. Dekat Hoegewoerd 49, rumah yang dulu jadi tempat dibentuknya organisasi Perhimpoenan Hindia.
Tan Malaka: Oh, organisasi yang dulu kerjanya cuma dansa-dansi itu ya. Kalian jangan ketularan mereka ya. Oke kalau gitu, sana pulang, nanti kemalaman. Oh iya, nanti kalau ketemu Bro Harry Poeze, saya titip pesan ya. Nggak usah serius-serius bingits meneliti tentang saya.
Saya: Hahaha. Siap, Bung. Saya pamit dulu ya. Assalamu’alaikum.
Tan Malaka: Wa’alaikum Salam wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

Catatan:

Tulisan ini dibuat dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2016. Kutipan Tan Malaka yang berhuruf miring adalah asli pendapatnya, diambil dari bukunya yang bertajuk ”Thesis” (Kata Pengantarnya ditulis di Lawoe, Jawa Tengah, 10 Juni 1946). Di luar dari itu adalah dialog imajiner.

Ditulis oleh: Ali Salmande

Dewasa ini, hal terakhir yang diharapkan oleh para pengguna listrik adalah suplai listrik yang byar-pet. Kurang konsistennya suplai listrik di tanah air semakin terasa ketika kebutuhan suplai listrik semakin besar diimbangi dengan kemajuan teknologi serta masukan daya. Kecenderungan pasokan listrik yang “sebentar nyala, sebentar mati” merisaukan sebagian besar masyarakat Indonesia. Kadang-kadang menyala hanya 8 jam sehari, sisanya tidak ada daya. Ini khususnya sering terjadi di daerah-daerah luar Jawa yang belum tereksplorasi secara penuh, dengan kapasitas listrik terbatas dan sangat minimnya fasilitas infrastruktur (pembangkit listrik daya kecil dan menengah). Utamanya, karena komponen sistem pembangkit yang sudah termakan usia sehingga mengalami derating, kurang handal dan efisiensi yang kurang signifikan.

Di dunia pendidikan, terputusnya listrik dapat sangat mengganggu proses belajar-mengajar dan berlangsungnya proses penelitian. Kala ini, banyak tenaga pendidik yang menggunakan alat bantu mengajar dalam bentuk digital, baik itu presentasi powerpoint ataupun laser projector. Pada kasus lainnya, pada fasilitas umum seperti rumah sakit dan bandara, sebagian besar peralatan bantu yang digunakan harus tersambung dengan suplai listrik dengan asupan daya yang cukup besar dan stabil.

Begitu pula di sektor industri. Bayangkan kerugian yang diperoleh ketika proses produksi harus terhenti sejenak karena fluktuasi atau terputusnya asupan daya listrik atau proses transisi ketika penggunaan generator pada sebuah industri. Masalah ini menjadi perhatian utama, mengingat segala hal bisa terkait dengan resiko kematian. Oleh karena itu, wajarlah jikalau masyarakat membutuhkan suplai listrik yang reliabel dan minim sekali byar-pet.

Kenaikan tarif listrik sendiri setiap periodenya menjadi isu keresahan utama, baru-baru ini dengan diberhentikannya subsidi untuk pengguna dengan daya 900 VA. Mahalnya tarif listrik semakin memberatkan masyarakat yang sudah memiliki permasalahannya sendiri, belum lagi listrik merupakan bahan dasar utama dalam kehidupan pada era sekarang. Ada beberapa faktor yang menyebabkan tarif listrik mahal, salah satu yang paling mendasar adalah pemilihan moda pembangkit listrik yang kurang efisien dan reliabel, baik dalam bentuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) maupun Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

Kemudian beberapa faktor tersebut mendasari pertimbangan dari beberapa kalangan ahli dan pemerintah; “Adakah alternatif pembangkit listrik yang sebisa mungkin sangat reliabel dan juga murah?” Jawabannya, ada, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), jika mengacu dari kemajuan teknologi nuklir di dunia saat ini. Selanjutnya, pembahasan dalam artikel ini akan mengungkap kehandalan dan efisiensi energi nuklir dari segi operasional.

Reliabilitas pembangkit listrik umumnya dapat diartikan dalam faktor kapasitas. Secara sederhana, faktor kapasitas merupakan definisi dari berapa energi yang dibangkitkan dalam setahun dibandingkan dengan energi yang bisa dibangkitkan dalam kondisi full power selama setahun. Faktor kapasitas sendiri bisa dikaitkan dengan definisi dari efisiensi terhadap daya pakai dalam periode tertentu (satu tahun). Sebagai contoh, dalam suatu pembangkit listrik secara teoretis bisa membangkitkan listrik sebesar 876.000 kWh per tahun. Namun nyatanya, dalam setahun pembangkit listrik itu hanya mampu menghasilkan listrik sebesar 750.000 kWh. Artinya, pembangkit listrik ini memiliki faktor kapasitas sebesar (750.000/876.000)*100% = 85,6% (dalam persentase).

Selisih antara pembangkitan listrik teoretis dengan kenyataannya disebabkan oleh beberapa faktor yang disebut kerugian-kerugian (losses). Salah satu kerugian yang sangat signifikan adalah proses downtime. Waktu yang terhabiskan ketika pembangkit listrik dimatikan untuk melakukan perawatan, perbaikan atau penggantian bahan bakar. Pada kasus energi terbarukan, downtime ini disebabkan tidak adanya sumber energi kinetik (angin) atau panas (surya) yang dapat dikonversi untuk menghasilkan energi listrik.

Dibandingkan pembangkit listrik lain, PLTN memiliki faktor kapasitas yang jauh lebih tinggi. Sebagai contoh, pada gambar 1 ditujukkan nilai faktor kapasitas rerata dari berbagai pembangkit listrik di Amerika Serikat pada tahun 2015.

Gambar 1. Faktor kapasitas berbagai moda pembangkit listrik di Amerika Serikat pada tahun 2015 (diolah dari data US Energy Information Administration)

Dikonversi dalam jam, maka jam operasi tahunan masing-masing pembangkit daya tersebut adalah sebagai berikut:

(diolah dari data US Energy Information Administration)

Semakin lama jam operasi, semakin banyak listrik yang bisa dihasilkan dan semakin minim listrik byar-pet. Menurut data di atas, PLTN tetap menjadi pembangkit listrik yang paling reliabel dibandingkan dengan sistem pembangkit lainnya.

Dalam hal ini, faktor kapasitas PLTN tiap negara memang bisa berbeda-beda, tergantung seberapa baik manajemen, kondisi geografis dan fakor internal lainnya. Namun, tetap saja PLTN masih dapat diunggulkan dalam segi stabilitas asupan daya dan kehandalannya daripada pembangkit listrik lainnya, seperti yang diungkapkan oleh World Nuclear Association. Faktor kapasitas realistis PLTN antara 70-90%, dengan rerata dunia berkisar 80%. Performa ini jauh peningkatannya dari era 1980-an yang hanya berkisar 50-60%, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. Hal ini membuktikan kemajuan teknologi nuklir sangat menjamin hasil dan operasional yang maksimal. Belum lagi jika hal ini dikaitkan dengan isu global warming yang sangat menjadi perhatian dunia saat ini, ketika PLTN dinyatakan sebagai pembangkit listrik dengan zero carbon emission.

Gambar 2. Rerata faktor kapasitas PLTN di seluruh dunia dari tahun 1980-2015. Jepang tidak dimasukkan pasca 2011. (sumber: World Nuclear Association)

PLTU dan PLTG membutuhkan proses downtime yang cukup lama dalam hal perawatan. Bahkan untuk pembangkit yang sudah tua, waktu kosong operasinya seringkali memakan waktu lebih lama. PLTU batubara sendiri memiliki faktor kapasitas antara 55-65%, sementara PLTG diantara 40-60%. Menurut data Kementerian ESDM, performa PLTG di Indonesia malah lebih buruk, hanya mampu mencapai faktor kapasitas pada angka kisaran 33%.

Dalam kasus ini kenapa PLTN mampu beroperasi dengan faktor kapasitas tinggi? PLTN itu sendiri memiliki rekam jejak yang relatif minim gangguan (seperti sirkulasi bahan bakar) dan hanya membutuhkan waktu perawatan lebih sedikit. Untuk penggantian bahan bakar, PLTN tipe Light Water Reactor (LWR) hanya perlu mematikan reaktor dalam periode 18 bulan sekali. Bahkan tipe Canadian Deuterium Uranium (CANDU) tidak perlu mematikan reaktor sama sekali, karena pengisian ulang bahan bakar dapat dilakukan ketika reaktor beroperasi. Begitu pula pada PLTN generasi terbaru (Generasi IV) yang diusulkan seperti Molten Salt Reactor (MSR). Sehingga, faktor kapasitas MSR secara teoretis bisa mencapai 95%!

Lebih dari itu, faktor kapasitas PLTN hampir tidak terkait dengan usia reaktor, mengingat PLTN baru ataupun lama (>30 tahun) memiliki performa yang relatif stabil, seperti ditampilkan pada Gambar 3.

Gambar 3. Rerata faktor kapasitas PLTN berdasarkan usia, antara tahun 2006-2015. (sumber: World Nuclear Association)

Pada PLTN, pengalaman operasional menjadi catatan atau rekam jejak pada siklus penggantian bahan bakar berikutnya, sehingga proses ini bisa mengadaptasi untuk dilakukan secara lebih efisien dan mengurangi proses downtime. Dampak yang terlihat ialah semakin lama performa operasi justru semakin baik. Buktinya, PLTN di Amerika Serikat rerata sudah berusia lebih dari 30 tahun, tapi tiap tahun konsisten mencapai faktor kapasitas sangat tinggi.

Oleh karena itulah, PLTN memiliki usia pakai yang sangat lama, bisa mencapai 60 tahun. Bahkan di Amerika Serikat ada perencanaan untuk memberi lisensi hingga 80 tahun! Bandingkan dengan waktu keekonomisan rerata PLTU batubara dan PLTG yang hanya ± 30 tahun, maksimal 40 tahun.

Pada unit-unit PLTN baru, vendor-vendor reaktor nuklir memberi proyeksi faktor kapasitas hingga 90% dengan usia pakai mencapai 60 tahun. Bersamaan dengan manajemen yang baik, angka ini bukanlah hal mustahil, bahkan bisa saja meningkat hingga 95%, sehingga pasokan listrik yang dibangkitkan bertambah dan listrik byar pet bisa diminimalisir sampai sekecil mungkin.

Reliabilitas ini juga terkait dengan biaya listrik. Di berbagai negara, biaya pembangkitan listrik dari PLTN lebih murah daripada PLTU dan PLTG. Sudah hukum alam bahwa, semakin banyak listrik yang dihasilkan dalam periode tertentu, semakin murah biaya pembangkitan totalnya.

Selain itu, murahnya tarif listrik pada PLTN disebabkan sangat rendahnya biaya bahan bakar nuklir, yang merupakan imbas dari energi spesifik uranium yang sangat tinggi. Satu kilogram uranium alam mampu menghasilkan energi 28 ribu kali lipat lebih tinggi daripada batubara dalam jumlah yang sama! Biaya bahan bakar hanya mencakup 14% dari biaya produksi total. Bandingkan dengan PLTU dan PLTG yang biaya bahan bakarnya mencakup 78-89% dari biaya total. Sekalipun biaya investasi untuk PLTN lebih mahal dari keduanya, tetapi hal tersebut dapat terkompensasi dengan sangat rendahnya biaya bahan bakar pada keberlangsungan operasi. Sehingga, secara kalkulasi, tarif listrik dari PLTN tetap terjaga pada kisaran yang rendah.

Pertanyaan berikutnya, seberapa murah tarif listrik dari sokongan PLTN tersebut? Analisis dari Pusat Pengembangan Energi Nuklir-Badan Tenaga Nuklir Nasional (PPEN-BATAN) tahun 2011 memberikan proyeksi biaya pembangkitan listrik PLTN di Indonesia sebesar US$ 4,8 sen/kWh, atau sekitar Rp. 624/kWh (asumsi kurs Rupiah terhadap Dollar AS = 13.000). Penelitian lain di tahun 2013 memberikan proyeksi US$ 5,56 sen/kWh atau Rp. 728/kWh. Salah satu vendor PLTN Generasi IV, ThorCon, memberi proyeksi bahwa biaya produksi listriknya ada pada kisaran US$ 3,3 sen/kWh atau Rp. 429/kWh. Sebagai perbandingan, pada analisis yang sama, PPEN-BATAN menunjukkan bahwa PLTU batubara menghasilkan listrik dengan biaya US$ 6,125 sen/kWh atau sekitar Rp. 796/kWh. Artinya, biaya listrik yang dihasilkan PLTU hampir 1,5 kali lipat lebih tinggi dari biaya listrik PLTN.

Sebagai contoh, satu unit PLTN tipe APR-1400 berdaya 1,4 gigawatt, dengan konsumsi listrik penduduk Indonesia saat ini sebesar 911 kWh/kapita, mampu menghasilkan listrik untuk lebih dari 12 juta orang dengan tingkat byar-pet yang sangat rendah dan biaya produksi listrik kurang lebih Rp. 600/kWh. Ketika konsumsi energi listrik meningkat menjadi 2000 kWh/kapita, suplai listrik yang dihasilkannya masih cukup untuk dikonsumsi oleh sekitar 5,5 juta orang. PLTN tipe ThorCon berdaya 1 gigawatt mampu menghasilkan listrik untuk 8,6 juta orang dengan konsumsi 911 kWh/kapita dan 3,9 juta orang untuk konsumsi 2000 kWh/kapita, dengan biaya pembangkitan listrik Rp. 429/kWh.

Pada era kemajuan teknologi ini, adalah tidak berlebihan jika menganggap bahwa PLTN merupakan opsi pembangkitan listrik paling reliabel dan murah yang pernah ada. PLTN mampu menyuplai listrik dalam jumlah besar, murah dan reliabilitas tinggi. Menilik krisis listrik yang seringkali menimpa banyak daerah, khususnya luar Jawa, serta mahalnya biaya listrik yang harus ditanggung warga, sudah selayaknya PLTN diimplementasikan untuk mengatasi persoalan-persoalan listrik tersebut.

Referensi:

  1. Jack Devanney dkk. 2015. ThorConTM The Do-able Molten Salt Reactor: Executive Summary. Tavernier: Martingale Inc.
  2. Kementerian ESDM. 2014. Sektor Pasokan Energi Pembangkit Berbahan Bakar Fosil: Indonesia 2050 Pathway Calculator.
  3. Mochamad Nasrullah. 2011. Analisis Komparasi Ekonomi PLTN dan PLTU Batubara Untuk Bangka Belitung. Jakarta: Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Energi Nuklir IV PPEN-BATAN.
  4. Mochamad Nasrullah, Nuryanti. 2013. Studi Perbandingan Biaya Pembangkitan Listrik Teraras Pada Pembangkit Energi Terbarukan dan PLTN. Bandung: Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Nuklir PTNBR – BATAN.
  5. Perusahaan Listrik Negara. 2014. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik – Perusahaan Listrik Negara 2015-2024. Jakarta: PLN.
  6. US EIA. Electric Power Monthly Capacity Factors for Utility Scale Generators Not Primarily Using Fossil Fuels, January 2013-October 2016. https://www.eia.gov/electricity/monthly/epm_table_grapher.cfm?t=epmt_6_07_b
  7. US EIA. Electric Power Monthly: Capacity Factors for Utility Scale Generators Primarily Using Fossil Fuels, January 2013-October 2016. Diakses dari https://www.eia.gov/electricity/monthly/epm_table_grapher.cfm?t=epmt_6_07_a
  8. World Nuclear Association. The Economics of Nuclear Power. Diakses dari http://www.world-nuclear.org/information-library/economic-aspects/economics-of-nuclear-power.aspx
  9. World Nuclear Association. 2016. World Nuclear Performance Report 2016. London: WNA.

 

Ditulis Oleh: R. Andika Putra Dwijayanto,

Rando Tungga Dewa, Dwi Rahayu, Nugroho Adi S.

Tim Kajian Nuklir – PPI Dunia

Hari yang telah dinanti pun tiba. Saya, layaknya mahasiswa yang hendak merantau jauh, diantar oleh keluarga menuju bandara Soekarno-Hatta. Tak lama kemudian, Saya pun berpisah dengan keluarga karena pesawat yang akan Saya tumpangi hendak lepas landas dalam waktu yang singkat.

Menit demi menit dilalui dengan rasa gelisah. Gelisah karena ... entah... Saya pun tak mampu menguraikan segala hal yang berputar-putar dalam benak Saya. Segala fasilitas yang disediakan oleh maskapai tersebut telah Saya coba. Hanya untuk sekedar menghibur diri. Namun, kegelisahan Saya tak mudah untuk dilenyapkan.

Singkat kata, pesawat pun mendarat di negeri kincir angin. Bukan hal yang lazim bagi Saya untuk berinteraksi dengan orang asing. Inferioritas muncul dalam benak Saya yang membuat Saya terlihat canggung untuk berinteraksi dengan orang asing ataupun mengikuti prosedur sebelum keluar dari bandara.

Hari demi hari, minggu demi minggu telah dilalui. Banyak hal menarik yang Saya alami dan Saya renungkan.

Saya yang dulu dan Saya yang sekarang

Selama duduk di bangku kuliah program sarjana, Saya merupakan seorang yang, bisa dibilang, dihormati. Dihormati karena segudang prestasi akademik, pengalaman berorganisasi, serta lingkaran pertemanan yang cukup luas. Saat itu, Saya merupakan gambaran nyata dari profil mahasiswa ideal dari sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia. Tak heran jika Saya mampu melanjutkan studi di perguruan tinggi ternama pula di Belanda. Dalam menjalankan aktivitas akademik, Saya tetap berusaha untuk menunjukkan bahwa Saya adalah mahasiswa yang terbaik. Tak hanya terbaik, melainkan layak untuk dihormati.

Hari demi hari pun berlalu. Tugas demi tugas dapat Saya selesaikan. Namun, mimpi untuk menjadi yang terbaik dan layak dihormati tampak hanya sekedar khayalan. Kenapa?

Saya pun dihadapkan dengan tugas kelompok. Sudah bertahun-tahun Saya selalu menjadi panutan dalam setiap pekerjaan yang diberikan. Ketika ada kesempatan, Saya selalu mencari aman dengan hanya mau bekerja dengan rekan satu negara. Tentu saja Saya akan sangat senang. Dan kembali merasa terhormat. Teman-teman Saya akan menganggap bahwa Sayalah yang paling dapat diandalkan. Saya seorang yang superior. Saya pun merasa aman, karena Saya tak perlu bersusah payah menggunakan bahasa asing, yang memang asing bagi Saya, untuk berkomunikasi dengan rekan kerja.

Namun, ketika sebuah pilihan tak lagi terbuka, Saya pun harus bekerja sama dengan rekan asing, yang memang asing bagi Saya. Tak ada lagi superioritas yang nampak pada diri Saya. Ketidakmampuan Saya untuk menghadapi kenyataan bahwa Saya sedang berada di lingkungan asing membuat Saya tampak inferior. Ketidakmauan Saya untuk beradaptasi atau keluar dari zona nyaman membuat Saya selalu merasa asing, inferior, dan kehilangan kebahagiaan menjadi seorang mahasiswa internasional. Saya pun mengakui bahwa Saya belum berhasil hadir dalam kekinian.

Asing pada budaya yang tak seharusnya asing

Sampai pada akhirnya Saya berkesempatan untuk menunjukkan warisan atau budaya yang harusnya dapat dibanggakan. Saat itu hari batik nasional. Tentu saja banyak notifikasi dari media sosial yang mengajak seluruh mahasiswa Indonesia di Belanda mengenakan baju batik lalu berfoto bersama. Entah apa tujuan dari ajakan tersebut. Apakah hanya program kerja semata. Ataukah ada tendensi untuk mengingatkan para mahasiswa Indonesia makna dari karya seni tersebut. Saya pun beraktivitas di kampus menggunakan kemeja batik.

Ketika Saya menggunakan kemeja Batik di Indonesia, orang-orang tak peduli dengan apa yang Saya kenakan. Batik bukanlah hal yang asing lagi apabila dikenakan di Indonesia. Dari sejak taman kanak-kanak, batik telah diperkenalkan. Baik pejabat, karyawan, ataupun tunakarya sekalipun tak asing dengan batik. Namun, ketika batik dikenakan ketika sedang berada di luar negeri, sudah menjadi kewajiban bagi seorang yang mengenakan untuk mampu menceritakan, paling tidak, sejarahnya atau arti di balik motif tersebut. Sayangnya, Saya tak mampu memuaskan rasa penasaran dari kawan internasional yang ingin mengetahui lebih dalam tentang arti corak yang terlukiskan pada kemeja yang sedang Saya kenakan. Saya memang, bisa dikatakan, mengecewakan karena masih asing dengan budaya yang seharusnya tak asing.

Pribadi yang seharusnya berdikari

Layaknya mahasiswa pada umumnya, tugas merupakan salah satu bahan evaluasi apakah mahasiswa sudah menguasai materi yang seharusnya mereka kuasai. Tiba saatnya hari pengumpulan. Saya diminta untuk mengumpulkan dokumen cetak. Untuk mempercantik dokumen tersebut, Saya berinisiatif untuk menjilid dokumen tersebut. Mengacu pada apa yang sering Saya lakukan di negara Saya, tentu saja Saya berharap agar petugas fotokopi yang menjilidkan tugas Saya dan Saya tinggal membayar sesuai tarif. “Penjilidan hanyalah sebuah pekerjaan remeh dibandingkan melakukan penelitian dengan menggunakan teori-teori serta simulasi dengan perangkat lunak yang canggih,” pikir Saya.

Namun, Saya pun terperanjat karena Saya hanya diberikan ring, kertas karton, serta kertas transparan untuk kover tugas Saya. Petugas fotokopi hanya memberi arahan singkat bagaimana mengoperasikan alat jilid. Ya betul! Saya harus mengerjakannya sendiri. Tak ada lagi pahlawan yang sebetulnya berkontribusi dalam kehidupan akademik Saya. Lalu, mampukah Saya mengerjakan pekerjaan remeh tersebut?

Individu yang ternyata tak selalu individualis

Beberapa doktrin atau informasi banyak yang mengatakan bahwa orang-orang Belanda adalah orang yang memiliki sifat egois. Hanya mementingkan diri sendiri. Mungkin benar. Mungkin salah. Mungkin Saya salah tafsir. Pertanyaannya adalah sejauh mana mereka bersikap individualis.

Suatu saat, Saya, yang selama ini lebih sering belajar di apartement, harus belajar di dalam perpustakaan. Minggu ujian merupakan minggu yang sakral sehingga Saya cukup sulit untuk mendapatkan kursi kosong. Setelah mencari-cari tempat yang nyaman untuk belajar di dalam perpustakaan, akhirnya Saya menemukan satu kursi kosong tetapi harus berbagi meja dengan orang lain. Orang lain itu tidaklah terlalu asing bagi Saya. Dia kawan Saya satu jurusan, namun berbeda kewarganegaraan. Dia orang Belanda. Ya Belanda. Yang terkenal dengan individualismenya. “Ya sudahlah,” pikir Saya. Akhirnya Saya memutuskan untuk belajar di tempat itu.

Menit demi menit berlalu tanpa suara karena Saya dan kawan Saya fokus dengan materi kuliah yang akan diujikan. Hingga tiba pada akhirnya Saya dan kawan Saya memulai percakapan ringan. Pertanda rehat sejenak akibat jenuhnya belajar. Tak Saya duga, kawan Saya menawarkan Saya secangkir kopi. Paling tidak, Saya tak harus beranjak dari tempat duduk karena kawan Saya yang akan mengambilkan secangkir kopi buat Saya. Apakah dia cukup individualis untuk menjadi seorang Belanda? Apakah dia terlalu Belanda untuk tidak menjadi individualis? Ataukah Saya yang belum mengerti paham individualis?

Tunggu. Kenapa Saya harus bingung? Selama Saya bisa berbagi, kenapa Saya terhambat dengan kekakuan Saya?

Salahkah Saya jika Saya minoritas?

Ketika Saya masih berada di negara Saya, Saya selalu berinteraksi dengan orang yang segolongan, sehingga Saya tak pernah merasa kesulitan. Bahkan Saya selalu dengan mudahnya menjalankan kebiasaan yang lazim dilakukan oleh Saya dan keluarga Saya. Pada intinya, Saya sering mendapat kemudahan karena Saya merupakan bagian dari mayoritas.

Namun, tidak semua kemudahan itu didapatkan ketika Saya hidup sebagai minoritas. Di Belanda, semua berbeda. Tidak semua seperti Saya. Tidak semua seperti yang Saya harapkan. Kawan-kawan asing, terutama tuan rumah, akan berbicara dengan bahasa ibunya dengan kawan senegaranya ketika dalam satu kelompok kerja jumlah mereka mendominasi. Sempat terbersit dalam benak Saya, “Mengapa mereka tidak menghormati Saya?” Padahal mereka mayoritas dan Saya minoritas. Lalu siapakah yang salah?

Epilog

Lalu siapakah Saya? Entahlah.. saya pun tidak mampu menguraikan. Yang dapat saya tegaskan adalah bahwa Saya merupakan rekonstruksi subyek baik dari pengalaman pribadi maupun pengalaman pribadi dalam mengamati perilaku beberapa kawan yang patut dijadikan bahan renungan.

Beberapa intisari dari goresan tinta di atas adalah

  1. Ketika seseorang hendak menuntut ilmu apalagi di luar negeri, hendaknya ia mampu mengosongkan dirinya. Ia akan berada di lingkungan yang berisi orang-orang yang setara atau bahkan lebih hebat dari dirinya. Di sinilah saatnya ia untuk mengembangkan diri dengan belajar dari orang lain.
  2. Saat seseorang akan pergi merantau, ia akan menjadi simbol dari golongannya. Maka dari itu, sudah sepatutnya ia mengerti budaya yang secara tidak langsung akan ia perkenalkan di lingkungan barunya.
  3. Ketika seseorang hendak tinggal jauh dari orang tua, sebaiknya ia sadar bahwa ia tidak dapat bergantung terus menerus dengan orang tuanya. Seharusnya ia mampu hidup mandiri. Mandiri dalam mengerjakan berbagai hal, baik hal sederhana maupun hal rumit.
  4. Mandiri di sini tidak berarti sama dengan egois. Saat seseorang hendak hidup di lingkungan yang baru, hendaknya ia sadar bahwa ia akan bertemu dengan orang-orang baru. Ia sudah selayaknya untuk saling berbagi dan saling menolong karena tak ada yang tau kapan ia berada di atas dan kapan ia berada di bawah.
  5. Ketika sesorang akan pergi meninggalkan kampung halamannya, hendaknya ia untuk belajar berbaur dengan lingkungan barunya. Ia sebaiknya sadar bahwa ia akan berada dalam kebudayaan yang berbeda. Alangkah indahnya apabila ia mampu menghargai siapapun serta budaya dimana ia tinggal. Ia selayaknya larut namun janganlah ia hanyut.

Akhir kata, saya mohon maaf apabila ada yang merasa tersinggung, tersindir, ataupun tersakiti. Namun, saya juga berterima kasih kepada seluruh kawan yang menjadi inspirasi penulisan esai ini.

Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. (2008, February 4). Kemdikbud. Retrieved from Kemdikbud Web Site: http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/

Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia. (2000). Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (3rd ed.). Jakarta: Pusat Bahasa Department Penidikan Nasional. Retrieved from http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/sites/default/files/pedoman_umum-ejaan_yang_disempurnakan.pdf

Ditulis oleh: Adrian Promediaz

Penerima beasiswa perguruan tinggi di luar negeri tidak harus bermodalkan segudang prestasi atau berasal dari sekolah negeri.

Dengan kata lain, tidak ada kata terlambat bagi siapapun di dunia ini untuk bermimpi kuliah di luar negeri sekaligus mewujudkannya.

Kemudian, kenapa harus luar negeri? Tentu salah satunya adalah bisa keliling dunia atau setidaknya ke terbang ke luar negeri itu sebagai hal yang sesuatu banget.

Alasan lainnya, kita bisa berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai negara sekaligus menikmati empat musim dengan berbagai keunikan di dalamnya. (more…)

Ibarat minyak dan air. Begitulah anggapan sebagian besar orang tentang prestasi akademis dan aktivisme di masyarakat. Tetapi pria bernama lengkap Anindito Kusumojati, atau sering disapa dito telah membuktikan hal itu salah. Lelaki kelahiran Surabaya 25 tahun silam ini merupakan mantan Ketua Himpunan Elektro ITS 2010 dan Sekjen BEM ITS 2010-2011, saat ini mas dito ikut aktif juga di kegiatan PPI Belanda. Mas dito yang saya kenal adalah sosok orang yang hampir tidak pernah absen di dalam gerakan sosial semenjak mahasiswa. Berbagai aktivitas seperti menjadi pengajar IECC (ITS education care center) dan turut aktif dalam gerakan melukis harapan dimana gerakan tersebut memiliki cita-cita mengubah citra dolli menjadi kampung wisata dalam hal positif. Selain mengikuti banyak aktivitas sosial, mas dito tidak pernah absen dalam menorehkan prestasi, tercatat mas dito tidak pernah absen mengikuti kegiatan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) selama menjadi mahasiswa. Selain itu mas dito juga merengkuh juara 1 dalam LCEN - Lomba Cipta Elektroteknik Nasional.

Makhluk sosial

Cita-cita awal mas dito adalah menjadi dokter akan tetapi takdir mengantarkan mas dito untuk mendalami ilmu elektro. Dari situ mas dito tersadar, bahwa untuk memberikan manfaat ke orang lain tidak harus menjadi dokter. Yang saya kagumi dari sosok mas dito adalah selalu memegang prinsip hidup yaitu Harus Punya Manfaat. Karena mas dito yakin bahwa manusia adalah makhluk social, mas dito juga melanjutkan bahwa jika semua orang hanya memikirkan diri sendiri maka tidak akan pernah terjadi sebuah perubahan. Dibutuhkan orang yang memiliki inisiatif dan niat yang kuat, jika menginginkan perubahan maka kita harus berani menjadi orang tersebut, tidak bisa hanya menunggu.

Merajut Asa

Setelah lulus S1, mas dito sadar bahwa membutuhkan kenaikan level keilmuan dari diri mas dito untuk melakukan perubahan. Karena jika ingin membuat perubahan, ada hal penting yang harus dimiliki yaitu ilmu. Mas dito menyadari saat menjadi aktivis kita juga harus punya ilmu, kalau kita hanya mahir di sofskill tetapi hardskill nya rendah, kita menjadi ideology frustatif. Ideology frustatif banyak ditemui di diri para aktivis dimana kita punya mimpi-mimpi tetapi kita tidak mengimplementasikan, akhirnya cuma menjadi wacana saja. Sebaliknya jika hardskill tnggi tidak punya softskill, kita cuma menjadi manipulator opportunities, kita hanya punya ilmu tetapi tidak tahu harus diarahkan kemana. Yang paling ideal adalah menjadi aktivis transformative, dimana kita punya ilmu dan softskill yang seimbang.

Oleh sebab itu mas dito memutuskan untuk mendalami ilmu, dan pilihan jatuh kepada Biomedical engineering. Biomedical engineerin adalah kombinasi social dan engineering yang secara tidak langsung memiliki korelasi terhadap mimpi mas dito saat SMA. Selain itu faktor belum ada penelitian yang serius di bidang ini menjadi pertimbangan tersendiri. Selain itu, bukan rahasia umum jika Professional di bidang kesehatan dengan engineer kerjasamanya kurang berjalan baik, dan itu merupakan tantangan tersendiri. Harapan terbesar mas dito tidak terlalu besar yaitu minimal kita tahu bagaimana membuat system rumah sakit yang bagus dan memudahkan pasien maupun rumah sakit

Menapak Harapan

Untuk mendapatkan beasiswa dan mendapatkan LoA dari Delft, tidaklah semudah membalikan telapak tangan bagi mas dito mengingat lulus S1, nilai toefl mas dito 477. Untuk mengejar ketertinggalan itu mas dito mengambil les (course) sebanyak 3 kali. Tamparaan telak didapatkan oleh mas dito saat mock test, ketika latihan speaking yang dimana satu kelas dengan anak-anak SMA, mas dito mendapatkan komentar :

I think you can speak in Indonesia because I can’t understand what you mean

Sayangnya tamparan tersebut tidak membuat mas dito menyerah, sebaliknya mas dito berjuang lebih keras. Karena mas dito yakin tidak ada yang dapat menghentikan impiannya, karena impiannya bukan hanya tentang dirinya, lebih dari itu, sebuah mimpi untuk kehidupan manusia yang lebih baik.

Setelah gagal tetes IELTS pertama, mas dito akhirnya mendapatkan hasil lulus pada IELTS kedua. Sekali lagi bukan dengan hanya menjenttikkan jari tangan semua itu bisa terjadi. Mas dito selalu meminta PR lebih banyak kepada teacher, selama lebih dari 1 bulan intens belajar dari pagi sampai malam dan sempat sakit didetik-detik tes IELTS adalah hal yang harus dibayar oleh mas dito. Sebuah kerja keras tanpa henti dan kerja keras adalah sebuah keharusan untuk menggapai mimpi, dan IELTS/TOEFL adalah syarat mutlak.

Saat proses wawancara LPDP mas dito tidak mau biasa-biasa saja, mas dito membawa kliping dan portfolio yang telah saya siapkan untuk wawancara. Dan semua air mata, keringat, tawa dan sujud mas dito terjawab pada tanggal 20 Agustus 2015, mas dito berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studi di TU DELFT dengan beasiswa LPDP

Kuliah di Belanda itu…

Di Belanda, sesuatu yg tidak diimplementasikan ternyata disini bisa diimplementasikan seperti dreams come true. Menurut mas dito belajar tidak bisa dilakukan setengah-setengah, ilmu itu mahal, untuk mendapatkan ilmu itu membutuhkan kerja keras tidak bisa menjadi kerja sampingan, harus mengorbankan waktu luang dan harus selalu fokus. Kuliah di belanda susah, mungkin ini disebabkan karena kita dulu tidak terlalu serius dalam belajar, kita tidak merasakan mahalnya ilmu dan selain itu wawasan kita kurang luas. Hal terpenting saat menapaki fase S2 adalah kontrol diri, kita punya target dan cita-cita yang dimana keberhasilan hal tersebut adalah diri kita sendiri, kita harus menempatkan sesuatu di tempat yang benar

Apa yang harus kita lakukan untuk kuliah dan mendapatkan beasiswa ?

Luruskan niat, temukan tujuan utamamu apa, jangan sampe S2 cuma untuk gengsi dan maen aja atau agar dianggap orang lain lebih hebat. Jika kamu mempunyai niat yang kuat, S2 ini merupakan alat yang tepat untuk menempah kita untuk masuk ke level yang lebih tinggi karena hal tersebut dibutuhkan untuk melakukan sebuah perubahan

Ditulis oleh Andre Prakoso, TU Delft, Belanda

sumber : ppibelanda.org

Lanjutan dari "Tenaga Nuklir untuk Indonesia: Solusi krisis energi aman yang sudah terlupakan"

Sistem Keselamatan Reaktor Nuklir Generasi Baru

Reaktor nuklir yang dibangun antara tahun 1960-1980, seperti PLTN Chernobyl dan PLTN Fukushima Daiichi, adalah reaktor nuklir Generasi II. Reaktor nuklir yang dibangun mulai tahun 1980 (Generasi III) mengembangkan desain dari reaktor Generasi II dengan memperbaiki beberapa aspek, terutama dalam hal keselamatan. Reaktor Generasi III sudah mulai menggunakan system keselamatan pasif, yaitu reaktor didesain untuk dapat stabil dengan sendirinya tanpa memerlukan sumber energi listrik eksternal. Sampai saat ini, belum ada satupun reaktor Generasi III yang mengalami kecelakaan. Contoh reaktor nuklir Generasi III adalah ABWR (Advanced Boiling Water Reactor) pada unit 6 PLTN Kashiwazaki-Kariwa di Jepang. PLTN ini dapat dimatikan dengan selamat pada dua gempa besar yang dialami Jepang pada tahun 2007 dan 2011.

Dengan mempertimbangkan kecelakaan yang terjadi di Chernobyl dan Fukushima Daiichi, PLTN yang akan dibangun di Indonesia haruslah menggunakan reaktor nuklir yang benar-benar memenuhi standar keselamatan yang terbaru saat ini. Sehingga, selayaknya dipilih reaktor nuklir Generasi III+ atau bahkan Generasi IV yang memiliki revolusi desain dan fitur keselamatan yang jauh lebih baik dibanding generasi-generasi sebelumnya. Selain itu, keekonomisan, efektivitas penggunaan bahan bakar dan teknologi anti-proliferasi (teknologi untuk menghindari penggunaan material nuklir untuk pembuatan senjata nuklir) menjadi kelebihan utama pada reaktor Generasi IV. Sampai saat ini, dari enam jenis reaktor nuklir generasi keempat, tiga diantaranya sedang diteliti kemungkinan untuk dibangun di Indonesia, yaitu VHTR (Very High Temperature Reactor), MSR (Molten Salt Reactor), dan LFR (Liquid Metal-cooled Fast Reactor).

Karakteristik Keselamatan Very High Temperature Reactor (VHTR)

VHTR merupakan reaktor nuklir yang beroperasi pada spektrum netron termal dan menggunakan pendingin gas helium pada tekanan 50-90 bar. Bahan bakar reaktor ini berbentuk TRISO (Tristructural Isotropic) dan dilapisi bola grafit (pebble). Reaktor ini dapat memanaskan gas helium sampai lebih dari 900 oC, sehingga dapat digunakan untuk proses-proses termal suhu tinggi selain untuk menghasilkan listrik. Misalnya dalam proses pencairan batubara atau radiolisis hidrogen. Lapisan grafit yang tidak dapat meleleh pada suhu sangat tinggi (hingga 2000o C) inilah yang menjamin tidak adanya lelehan bahan bakar atau material radioaktif yang keluar dari struktur pebble. Koefisien umpan balik reaktivitas VHTR negatif, sehingga jika parameter keselamatan terlampaui, reaktor dapat stabil dengan sendirinya. Dengan demikian, kecelakaan seperti Chernobyl tidak akan terjadi pada VHTR. Reaktor ini juga dapat didesain untuk didinginkan menggunakan konveksi alami. Saat reaktor kehilangan seluruh daya listrik (total blackout), seperti yang terjadi pada PLTN Fukushima Daiichi, reaktor yang sudah mati dapat didinginkan dengan aliran konveksi udara dibantu penyemprotan air dari penampungan di atas reaktor.

Karakteristik Keselamatan Molten Salt Reactor (MSR)

MSR atau reaktor garam lebur memiliki konsep yang sangat berbeda dibanding reaktor jenis lainnya. Bahan bakar berupa uranium atau plutonium dilarutkan dalam garam fluorida cair. Reaktor ini dapat didesain untuk beroperasi dalam spektrum netron termal (menggunakan moderator grafit) atau dalam spektrum netron cepat (tanpa moderator). Reaktor ini menarik karena dapat digunakan ebagai reaktor pembiak termal dengan bahan bakar berupa thorium dan sebagai reaktor pembiak cepat dengan bahan bakar uranium alam (tanpa pengayaan). MSR beroperasi dalam suhu tinggi, nominalnya 750 oC, sehingga dapat pula digunakan sebagai sumber panas pada proses termal atau proses yang membutuhkan listrik dan kalor, misalnya produksi hidrogen. Karena bahan bakar yang berbentuk cair, pengendalian reaktor dapat dilakukan dengan mengatur laju aliran bahan bakar dalam reaktor ataupun dengan menggunakan batang kendali. Dalam kondisi suhu reaktor melebihi batas keselamatan, hukum alam yaitu pelelehan material dan gravitasi akan membantu mematikan reaktor tanpa perlu pemompaan yang membutuhkan energi listrik. Bahan bakar panas akan melelehkan sumbat pipa (freeze valve) dan mengalir ke tangki penampungan darurat dibawah reaktor, yang geometrinya dibuat sedemikian rupa sehingga reaktor dapat mati dalam beberapa saat saja. Bahan bakar dan material radioaktif lain akan membeku dengan sendirinya seiring dengan turunnya suhu, sehingga tidak bocor ke dalam tanah ataupun lepas ke udara.

Seperti halnya VHTR, koefisien umpan balik reaktivitas pada MSR juga negatif. Sehingga, jika parameter keselamatan terlampaui, reaktor dapat stabil dengan sendirinya dan masih dapat dikendalikan dengan selamat. Fitur keselamatan pasif yang dimiliki MSR inilah yang dapat menjadi solusi untuk mencegah kecelakaan seperti pada PLTN Chernobyl dan Fukushima Daiichi terulang kembali.

Karakteristik Keselamatan Liquid Metal-cooled Fast Reactor/Lead-cooled Fast Reactor (LFR)

LFR merupakan reaktor nuklir yang beroperasi dengan spektrum netron cepat, menggunakan lelehan metal seperti timbal atau campuran timbal-bismuth sebagai pendingin. Karena spectrum netronnya, reaktor ini dapat menggunakan bahan bakar berupa uranium alam dan berguna untuk membakar unsur transuranik, sehingga limbah yang dihasilkan akan memiliki volume dan radioaktivitas lebih rendah dibanding limbah reaktor konvensional.

LFR beroperasi pada tekanan rendah karena titik didih lelehan metal yang sangat tinggi pada tekanan atmosfer (1.745 oC untuk timbal dan 1.670 oC untuk campuran timbal-bismuth). LFR dapat dioperasikan pada suhu 550 oC, sehingga memungkinkan untuk digunakan untuk proses termal kategori suhu sedang sampai rendah, misalnya untuk distilasi air laut. Karena menggunakan pendingin lelehan metal, kehilangan pendingin karena pendidihan seperti yang terjadi pada kecelakaan di PLTN Chernobyl dan PLTN Fukushima Daiichi (keduanya berpendingin air) hampir tidak mungkin terjadi. Hal itu disebabkan karena suhu operasi reaktor (± 550o C) masih sangat jauh di bawah titik didih lelehan metal. Batang kendali juga dapat didesain untuk turun dengan cepat ke dalam reaktor meskipun timbal memiliki densitas cukup tinggi. LFR dapat didesain untuk memanfaatkan aliran konveksi alami pada pendingin, sehingga saat pompa kehilangan daya, secara otomatis reaktor akan dingin dengan sendirinya. LFR juga didesain dengan koefisien umpan balik reaktivitas negatif, sehingga ketika parameter keselamatan terlampaui, reaktor dapat tetap terkondisi dan terkendali. Karena reaktornya berbentuk kolam (pool-type reactor), kehilangan pendingin yang berimbas pada kenaikan reaktivitas pun bisa dihindari.

Kesimpulan

PLTN merupakan pembangkit listrik dengan rekam jejak keselamatan terbaik di dunia. Sepanjang sejarahnya, insiden dalam pengoperasian PLTN hampir semuanya dapat ditanggulangi secara efektif sehingga tidak sampai menyebabkan kecelakaan yang fatal. Meskipun demikian, ada dua kecelakan fatal yang terjadi dalam sejarah pengoperasian PLTN yaitu Chernobyl dan Fukushima. Dari dua kecelakaan fatal ini, banyak pelajaran yang dapat diambil untuk meningkatkan system keselamatan PLTN agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Standar keselamatan yang lebih tinggi telah diterapkan dalam desain reactor Generasi III ke atas. Reaktor Generasi IV seperti VHTR, MSR dan LFR memiliki fitur keselamatan lebih baik dari generasi sebelumnya, mengandalkan keselamatan intrinsik alih-alih sistem eksternal. Kecelakaan-kecelakaan yang pernah terjadi sebelumnya tidak memiliki peluang untuk terulang pada reactor Generasi IV. Level keselamatan alamiah yang tinggi ini menjadikan reaktor Generasi IV layak untuk diaplikasikan secara komersial.

Ditulis oleh Abednego Kristanto

Andhika Putra Dwijayanto, Feri Wibisono, Dwi Rahayu

Tim Kajian Nuklir –PPI Dunia

Artikel selengkapnya: https://drive.google.com/file/d/0B9N1McYG6RwVQmhFYWNMdHdVTE0/view

Referensi

[1] European Nuclear Society, "Nuclear power plants, world-wide," [Online]. Available:

https://www.euronuclear.org/info/encyclopedia/n/nuclear-power-plant-world-wide.htm.

[Accessed 18 Oktober 2016].

[2] W. M. Stacey, "Reactor Accidents: Chernobyl," in Nuclear Reactor Physics, Weinheim, Wiley-

VCH Verlag GmbH & Co. KGaA, 2007, p. 297.

[3] International Nuclear Safety Advisory Group, "INSAG-7 The Chernobyl Accident: Updating of

INSAG-1," Interational Atomic Energy Agency, Vienna, 1992.

[4] Tokyo Electric Power Company, Inc., "Fukushima Nuclear Accident Analysis Report," Tokyo

Electric Power Company, Inc., 2012.

[5] A. Ryu and N. Meshkati, "Why You Haven’t Heard About Onagawa Nuclear Power Station after

the Earthquake and Tsunami of March 11, 2011," 26 Februari 2014. [Online]. Available: wwwbcf.

usc.edu/~meshkati/Onagawa%20NPS-%20Final%2003-10-13.pdf. [Accessed 17 Oktober

2016].

[6] R. Maeda, "Japanese nuclear plant survived tsunami, offers clues on safety," Reuters, 21

Oktober 2011. [Online]. Available: http://www.reuters.com/article/us-japan-nuclear-tsunamiidUSTRE79J0B420111021.

[Accessed 17 Oktober 2016].

[7] A. W. Harto, Teknologi Reaktor Maju, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

[8] S. M. Goldberg and R. Rosner, "Nuclear Reactors: Generation to Generation," 2011. [Online].

Available: https://www.amacad.org/pdfs/nuclearReactors.pdf. [Accessed 19 Oktober 2016].

[9] Wikipedia, "Kashiwazaki-Kariwa Nuclear Power Plant," Wikipedia, [Online]. Available:

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Kashiwazaki-Kariwa_Nuclear_Power_Plant. [Accessed 20

Oktober 2016].

[10] Institut de Radioprotection et de Surete Nucleaire, "Overview of Generation IV (Gen IV) Reactor

Design," 24 September 2012. [Online]. Available:

www.irsn.fr/EN/Research/publications.../Scientific.../GENIV_texte_VA_241012a.pdf. [Accessed

12 Oktober 2016].

[11] J. E. Kelly, "Atoms for Peace - The Next Generation," 29 September 2016. [Online]. Available:

https://www.gen-4.org/gif/upload/docs/application/pdf/2016-10/genivwebinar_johnkelly_9-

29-16.pdf. [Accessed 20 Oktober 2016].

12

[12] D. L. Moses, "Very High-Temperature Reactor (VHTR) Proliferation Resistance and Physical

Protection (PR&PP)," Oak Ridge National Laboratory, Oak Ridge, 2010.

Energi nuklir digunakan untuk membangkitkan listrik dan terhubung ke jaringan listrik komersial pertama kali pada tahun 1954 di Obninsk, Rusia (dulu Uni Soviet). Kemudian, pada tahun 1956, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) komersial pertama di Calder Hall, Inggris terhubung ke jaringan listrik nasional. Berdasarkan data dari International Atomic Energy Agency (IAEA) sampai pada tanggal 4 Februari 2016, PLTN yang sedang beroperasi di seluruh dunia adalah sebanyak 442 unit, terletak di 31 negara dengan kapasitas terpasang 383.513 MW. Sementara itu, 66 PLTN masih dalam tahap pembangunan dan direncanakan akan menambah daya terpasang hingga 65.028 MW

Dalam sejarah pengoperasian PLTN sejak tahun 1954 hingga saat ini, tercatat beberapa insiden terkait keselamatan operasional PLTN. Sebagian besar insiden tersebut termasuk dalam Design Basis Accident (DBA) dan dapat ditanggulangi secara efisien sehingga tidak berkembang menjadi kecelakaan yang fatal (severe accident). Meskipun demikian, tercatat ada dua kecelakaan fatal yang membuat PLTN diragukan sistem keselamatannya. Dua kecelakaan tersebut terjadi pada PLTN Chernobyl unit 4 pada tahun 1986 di Chernobyl, Ukraina (waktu itu masih dikuasai Uni Soviet) dan PLTN Fukushima I (Daiichi) pada tahun 2011 di Jepang.

 

Kecelakaan PLTN Chernobyl, 1986

PLTN berjenis RBMK (Reaktor Bolshoy Moshchnosty Kanalny, reaktor kanal berdaya tinggi) di Chernobyl ini sebenarnya beroperasi tanpa masalah sejak awal komisioningnya pada tahun 1983. Pada pagi hari, tanggal 26 April 1986, sebuah pecobaan dilakukan pada unit 4 (dari 6 unit reaktor). Tujuannya untuk mencoba menggunakan energi dari turbin setelah reaktor dimatikan secara tibatiba sebagai sumber energi listrik darurat untuk mendinginkan reaktor. Ironisnya, percobaan yang bertujuan meningkatkan keselamatan reaktor ini malah berakhir dengan kecelakaan nuklir terburuk sepanjang sejarah.

Kecelakaan ini berawal dari ditariknya semua batang kendali reaktor dan dibloknya semua sinyal yang dapat mengaktifkan fitur-fitur keselamatan reaktor untuk kepentingan percobaan. Hal tersebut diperburuk oleh desain reaktor (graphite moderated pressure tube type reactor) yang memang kurang memenuhi standar keselamatan. Desain RBMK memiliki koefisien reaktivitas umpan balik void positif, sehingga ketika muncul gelembung udara akibat aliran pendingin yang berkurang, daya termal reaktor akan naik.

Penarikan batang kendali reaktor untuk meningkatkan daya reaktor hingga mencapai level yang diinginkan untuk kepentingan percobaan berdampak pada meningkatnya penguapan air pendingin (void formation) di bagian bawah reaktor. Hal ini kemudian menyebabkan daya reactor terus meningkat akibat koefisien reaktivitas umpan balik void positif. Hanya dalam waktu 4 detik, daya reaktor mencapai 100 kali daya maksimal dari desain, kemudian turun beberapa saat dan naik kembali sampai 500 kali lipat. Akibatnya, bahan bakar pecah, memanaskan pendingin air di sekitarnya dan menyebabkan ledakan uap yang menghancurkan tembok beton pengungkung reactor serta melepaskan material radioaktif ke lingkungan.

Penyebab kecelakaan PLTN Chernobyl adalah desain reaktor yang tidak memiliki fitur keselamatan memadai. Koefisien reaktivitas void positif menyebabkan kenaikan daya termal yang dihasilkan reaktor apabila muncul gelembung udara akibat penurunan kecepatan aliran pendingin. Desain batang kendali juga turut berperan dalam terjadinya kecelakaan karena memiliki waktu turun yang lambat. Kombinasi dari dua kelemahan desain itu menyebabkan reaktor menjadi tidak stabil ketika dimatikan dan dapat melelehkan bahan bakar karena panas yang terlalu tinggi. Kelemahan desain tersebut diperparah dengan budaya keselamatan staf dan operator PLTN Chernobyl yang kala itu masih rendah sehingga banyak aturan keselamatan yang diabaikan[3]. Sistem kendali saat terjadi kecelakaan atau malfungsi yang masih sepenuhnya dilakukan oleh manusia juga terbukti dapat mengubah kecelakaan nuklir menjadi bencana.

 

Kecelakaan PLTN Fukushima Daiichi, 2011

Enam unit reaktor di PLTN Fukushima Daiichi berjenis BWR (Boiling Water Reactor, reaktor air mendidih), dengan pengungkung primer berjenis Mark-I untuk unit 1 sampai 5 dan Mark-II untuk unit 6. Keenam unit ini beroperasi dengan normal semenjak komisioningnya pada tahun 1971-1979. Pada tanggal 11 Maret 2011, Jepang diguncang gempa terbesar yang pernah tercatat di Negara tersebut, mencapai skala 9. Saat gempa terjadi, hanya unit 1-3 yang sedang beroperasi, sementara unit 4-6 sedang dimatikan untuk dilakukan inspeksi rutin. Setelah terjadinya gempa, semua unit yang beroperasi di PLTN Fukushima Daiichi telah berhasil dimatikan secara otomatis dengan selamat, tetapi seluruh fasilitas kehilangan sumber daya listrik eksternal karena kerusakan jaringan yang diakibatkan gempa bumi. Walaupun reaktor telah berhasil dimatikan, air pendingin tetap harus dialirkan untuk menghilangkan panas sisa (decay heat) reactor. Listrik yang dibutuhkan untuk memompa air pendingin reaktor kemudian disuplai dari generator diesel darurat, sehingga masalah kehilangan daya listrik ini dapat segera teratasi.

Beberapa saat setelah gempa bumi terjadi, tsunami dengan ketinggian lebih dari 13 meter melanda, membanjiri fasilitas PLTN Fukushima Daiichi yang hanya didesain untuk menahan tsunami dengan ketinggian 10 meter. Tsunami ini mengakibatkan generator diesel darurat yang mensuplai air pendingin (kecuali untuk unit 6) terendam dan mati, mengakibatkan total blackout. Imbasnya, semua pompa air pendingin tidak dapat beroperasi.

Usaha alternatif untuk mendinginkan reaktor dilakukan dengan menginjeksikan air menggunakan mesin-mesin pemadam kebakaran. Namun, untuk unit 1 sampai 3 terjadi situasi yang mana air tidak dapat langsung diinjeksikan ke dalam pengungkung reaktor (Reactor Pressure Vessel, RPV). Sehingga, selama beberapa saat, bahan bakar dalam lapisan kelongsong tidak terendam air pendingin. Akibatnya, lapisan kelongsong rusak dan material radioaktif pun keluar ke RPV. Gambar 1. Skema PLTN dengan reaktor berjenis BWR dan pengungkung Mark-I seperti yang digunakan oleh PLTN Fukushima Daiichi unit 1 sampai 5.

Selain itu, reaksi kimia antara zirkonium (yang merupakan lapisan kelongsong bakar) dengan uap air pada suhu tinggi akan menghasilkan gas hidrogen. Kemudian, material radioaktif dan gas hidrogen bersama uap air keluar dari RPV ke pengungkung primer reaktor (Primary Containment Vessel, PCV) melalui katup uap keselamatan (Safety Relief Valves, SRVs) yang berfungsi mengurangi tekanan pada RPV. Hal tersebut membuat tekanan di dalam PCV meningkat sehingga harus dilakukan venting untuk mengurangi tekanan. Akan tetapi, meskipun venting telah dilakukan, karena adanya akumulasi gas hidrogen, terjadi hydrogen explosion di service level unit 1 dan 3 PLTN Fukushima Daiichi, disusul oleh unit 4 yang pada waktu itu kosong karena sedang diinspeksi. Ledakan di unit 4 diduga karena mendapatkan aliran gas hidrogen dari unit 3. Ketiga ledakan tersebut menghancurkan struktur atas dari bangunan reaktor unit 1, 3 dan 4, mengakibatkan terlepasnya material radioaktif volátil ke lingkungan.

Secara desain, reaktor PLTN Fukushima Daiichi dapat dikatakan memenuhi standar keselamatan karena dapat dimatikan secara otomatis ketika terjadi gempa bumi tanpa menggunakan daya listrik eksternal. Selain itu, desain struktur bangunan reaktor juga dapat menahan gempa bumi sebesar itu tanpa ada kebocoran material radioaktif. Sehingga, dapat dikatakan bahwa kecelakaan PLTN Fukushima Daiichi disebabkan oleh terjangan tsunami yang membanjiri fasilitas dan merendam generator listrik darurat sehingga tidak dapat beroperasi untuk mendinginkan reaktor. Hal ini menunjukkan adanya kesalahan pada penempatan generator listrik darurat, yang seharusnya dihindarkan dari banjir, terutama jika dibangun di kawasan rawan gempa bumi dan tsunami.

Yang perlu diketahui, PLTN Fukushima Daiichi bukanlah satu-satunya PLTN di Jepang yang diterjang tsunami. Ada setidaknya empat PLTN yang paling dekat dengan episentrum gempa bumi, yaitu PLTN Onagawa yang dioperasikan oleh Tohoko Electric Power Company, PLTN Fukushima I (Daiichi) dan Fukushima II (Daini) yang dioperasikan oleh TEPCO (Tokyo Electric Power Company), serta PLTN Tokai yang dioperasikan oleh Japan Atomic Power Company. PLTN di Onagawa, Fukushima Daini dan Tokai dapat langsung dimatikan dengan selamat setelah gempa bumi dan tsunami terjadi.

Sebuah contoh yang sangat positif tentang keselamatan PLTN saat terjadi gempa bumi dan tsunami diberikan oleh PLTN Onagawa. PLTN ini memiliki jarak 60 km lebih dekat dengan episentrum gempa bumi dibandingkan PLTN Fukushima Daiichi, sehingga tsunami yang menerjang juga sedikit lebih tinggi. Desain PLTN Onagawa yang lebih baru dan lebih mempertimbangkan adanya bencana gempa bumi dan tsunami di kawasan pembangunannya terbukti dapat mengatasi bencana alam tersebut tanpa ada masalah berarti [5]. Bahkan, sebuah situs berita internasional memberitakan bahwa setelah tsunami terjadi, gedung olahraga di fasilitas PLTN Onagawa digunakan sebagai tempat pengungsian warga di sekitar Onagawa yang kehilangan rumah mereka karena diterjang tsunami. Hal itu terjadi karena fasilitas PLTN Onagawa dianggap sebagai tempat yang paling aman. Terlebih lagi, tersedia listrik yang tidak didapatkan di tempat mereka tinggal karena kerusakan jaringan listrik. Keberhasilan Tohoko Electric Power Company dalam mengatasi masalah bencana ini menjadi contoh yang dapat ditiru dalam pembangunan PLTN baru di seluruh dunia.

 

Kesimpulannya, PLTN merupakan pembangkit listrik dengan rekam jejak keselamatan terbaik di dunia. Sepanjang sejarahnya, insiden dalam pengoperasian PLTN hampir semuanya dapat ditanggulangi secara efektif sehingga tidak sampai menyebabkan kecelakaan yang fatal. Meskipun demikian, ada dua kecelakan fatal yang terjadi dalam sejarah pengoperasian PLTN yaitu Chernobyl dan Fukushima. Dari dua kecelakaan fatal ini, banyak pelajaran yang dapat diambil untuk meningkatkan system keselamatan PLTN agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Standar keselamatan yang lebih tinggi telah diterapkan dalam desain reactor Generasi III ke atas.

 

Ditulis oleh Abednego Kristanto

Andhika Putra Dwijayanto, Feri Wibisono, Dwi Rahayu

Tim Kajian Nuklir –PPI Dunia

Artikel selengkapnya: https://drive.google.com/file/d/0B9N1McYG6RwVQmhFYWNMdHdVTE0/view

img_8254

 

[Yuk dukung Janu dalam Lomba Blog Internasional 2017]

Rekan-rekan, Bapak/Ibu sekalian yang baik. Perkenalkan, saya Janu, pelajar Indonesia di University of Birmingham. Saat ini saya sedang mewakili Indonesia dalam 2017 Masdar Engage Blogging Contest. Pemenang terpilih nantinya akan menyampaikan gagasannya di Abu Dhabi Sustainability Week 2017. Mari bantu saya untuk mewakili Indonesia. Caranya mudah :

1. Masuk ke laman http://bit.ly/JANU_M
2. Baca artikelnya.
3. Vote pada 5 bintang di bawah.

Periode voting sampai 7 Januari 2017. Target kita 1100 suara (saat ini masih 600). Dukungan rekan-rekan, Bapak/Ibu sekalian sangatlah berarti. Jika berkenan, boleh juga membagikan informasi ini ke kolega atau komunitas teman-teman ya.

Terimakasih ????
Semangat berkarya untuk Indonesia.

Salam hangat.
Janu Muhammad

www.janumuhammad.com
#WorldIn2026 #ADSW2017 #Indonesia

Tahukah kawan, banyak anak bangsa yang membutuhkan setitik cahaya untuk memberikan sedikit asa di dalam hidup yang terkadang tidak berpihak kepadanya

Kita tahu kawan, bahwa perjuangan tidak pernah ada yang mudah, selalu ada usaha dan doa di setiap malam

Air mata dan keringat yang selalu menemani kita di sepanjang jejak langkah menempuh cita-cita

Bagikanlah kisah hidupmu di dalam sebuah tulisan untuk menemani keringat, usaha, air mata dan doa mereka dalam menggapai mimpinya. Menjadi titik cahaya di ujung perjalanan mereka

Kirimkan kisah perjuanganmu ke inspirasidunia@ppidunia.org dan tulisan akan dipublish di web ppidunia

Syarat Penulisan :

whatsapp-image-2016-12-14-at-6-07-19-pm

 

Kisah kamu bukan hanyalah milikmu, karena di dalam kisahmu selalu ada sahabat, cerita dan inspirasi yang menjadi pelepas dahagamu

 

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920