logo ppid

“Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa behagia baginya.” Kartini - Surat kepada Nyonya Van Kool (Agustus 1901)

Perempuan masa kini patut beterima kasih pada tokoh pejuang emansipasi wanita, RA Kartini.
Atas perjuangan Kartini, saat ini perempuan di Indonesia bisa sejajar dengan laki-laki. Bisa belajar, bekerja dan berkarir. Apa saja yang bisa dilakukan Kartini Masa Kini ?

PPI UK atau Perhimpunan Pelajar Indonesia di United Kingdom merupakan satu kesatuan organisasi yang mempersatukan PPI Cabang (anggota minimal 10 pelajar dalam satu wilayah kota) dan PPI Perwakilan (anggota minimal 5 pelajar dalam satu wilayah kota) yang ada di United Kingdom yang berada di bawah perlindungan Pemerintah Republik Indonesia. Sampai saat ini, wilayah yang dipersatukan PPI UK

Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri atau lebih dikenal dengan nama Perhimpunan Indonesia (PI) pertama kali didirikan di Belanda. PI inilah cikal bakal dari PPI. Awal didirikannya PI hanya sekedar untuk menyelenggarakan pesta dansa dan berbagai aktivitas sosial lain bagi diaspora Indonesia. Pelan namun pasti, Tjipto Mangoenkoesumo dan Soewardi Soerjaningrat mulai bisa menanamkan kesadaran akan pentingnya nasionalisme ke dalam organisasi. Haluan PI benar-benar berubah di awal tahun 1920-an terjadi tren gelombang kedatangan pelajar tanah air yang menuntut ilmu di Belanda. Beberapa diantaranya adalah Iwa Koesoemasoemantri, Achmad Soebardjo, Mohammad Hatta, dan Ali Sastroamidjojo. Kelak, mereka semua mempunyai peran penting bagi republik yang baru terbentuk. Mahasiswa-mahasiswa berusia 19-22 tahun yang sebagian besar mengandalkan kiriman uang dari keluarganya itu, mengambil sikap berani. Selain merumuskan prinsip-prinsip dasar organisasi yang terang-terangan menuntut kemerdekaan, buletin PPI “Indonesia Merdeka” diubah menjadi corong pemikiran golongan terpelajar dalam menentang kolonialisme.

“Indonesia Merdeka” merupakan kumpulan gagasan mahasiswa-mahasiswa Indonesia di luar negeri, yang bertujuan mengedukasi rakyat Indonesia. Di masa itu, metode semacam ini adalah cara perjuangan yang baru di tanah air. Selama ini, perjuangan yang dikenal adalah dengan pengerahan massa, dimana pergerakan terlalu bergantung pada figur pemimpin kharismatik, seperti Imam Bonjol, Hasanuddin, atau Diponegoro. Cara lama tersebut terbukti kurang berhasil.

Alih-alih mengandalkan satu orang Diponegoro, PI percaya bahwa akan lebih baik jika menyiapkan anggota-anggotanya untuk menjadi banyak Diponegoro dengan kualitas intelektual dan kepemimpinan yang setara. Tidak hanya di dalam negeri, PI juga berusaha membuka mata internasional tentang kejamnya kolonialisme di Hindia Belanda. Usaha tersebut dilakukan lewat pengiriman delegasi ke konferensi-konferensi yang diselenggarakan oleh Liga Melawan Imperialisme di berbagai negara di Eropa saat itu.

Berbagai macam upaya PI membuahkan hasil. Buktinya, Pemerintah Kolonial mulai waspada. Tulisan Hatta dan para aktivis PI rupanya dianggap lebih tajam dari pedang Diponegoro. Kalau Diponegoro gugur, perang akan usai. Tetapi, gagasan Hatta bakal tetap menjadi bahan perjuangan walaupun penulisnya sudah tiada. Tahun 1927, Hatta yang saat itu menjabat sebagai ketua, dan beberapa koleganya petinggi PI, dijebloskan ke Penjara Rotterdam. Di persidangan, Hatta membacakan pembelaannya yang berjudul “Indonesie Vrij”. Kelak pemikiran Hatta ini menjadi semacam bahan bacaan wajib bagi para aktivis di masa persiapan kemerdekaan.

Kembali ke organisasi sosial

Hampir satu abad kemudian, PI telah berubah nama menjadi PPI dan beranak-pinak di lebih dari 20 negara. Ditambah dengan organisasi serupa di kota-kota, jumlahnya mencapai ratusan. Masifnya perkembangan PPI disebabkan oleh tren yang sama dengan di jaman Hatta dulu, yaitu gelombang kedatangan pelajar Indonesia ke luar negeri. Tidak hanya mahasiswa pascasarjana yang menggunakan beasiswa, mahasiswa sarjana yang studi di luar negeri dengan dana pribadi pun jumlahnya cukup signifikan.

Setelah melewati berbagai proses, PPI telah berevolusi. Gagasan progresif menjadi barang langka di PPI belakangan ini. Sebaliknya, PPI telah bergeser perannya dan berputar kembali ke masa awal berdirinya dulu, yaitu sebagai organisasi sosial (dan pesta dansa).

PPI yang sekarang bisa dibilang adalah kepanjangan tangan dari KBRI/Konjen untuk melayani diaspora Indonesia. Berbagai informasi dan bantuan untuk pelajar Indonesia disediakan dengan baik. Begitu pula berbagai macam aktivitas untuk membuat pelajar betah di perantauan diselenggarakan, misalnya olahraga dan silaturahmi. Selain itu, beberapa PPI cukup giat untuk memperkenalkan budaya Indonesia bagi warga internasional.

Sudah barang tentu PPI harus mendapatkan apresiasi atas berbagai usaha yang telah mereka lakukan selama ini, karena acara-acara tersebut turut menjadi promosi tentang Indonesia bagi mata dunia. Namun, keengganan PPI untuk secara progresif memberikan gagasan untuk Indonesia seperti para pendahulunya patut disayangkan. Padahal, secara sumber daya PPI jelas mampu. Banyak mahasiswa pascasarjana berasal dari kalangan akademisi dan birokrat pemerintah, mestinya pemahaman mereka terhadap kondisi Indonesia cukup mendalam. Sedangkan mahasiswa jenjang sarjana, secara intelektualitas jelas mereka adalah orang-orang yang terpilih.

Sebetulnya segala macam bentuk aktivitas yang dipilih oleh PPI ataupun setiap individu diaspora Indonesia adalah hak masing-masing. Dulu pun di jaman Hatta, ada anggota PPI yang terang-terangan tidak ingin terlibat aktif, dengan berbagai alasan; fokus studi, beda prinsip, dan terlebih adalah keselamatan. Orang-orang semacam ini, walaupun mendapatkan stigma negatif, tetap sah untuk menjalankan pilihannya. Tetapi seperti yang Hatta bilang, jika bisa menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk negara, itu lebih bermanfaat.

Kita merindukan gagasan-gagasan yang seperti dituangkan dalam majalah “Indonesia Merdeka” seperti di zaman bung Hatta. Gagasan-gagasan yang dikaji dengan serius dan mendalam untuk mengedukasi rakyat Indonesia. Penjajahan dan kolonialisme memang sudah tiada di tanah air. Namun seperti yang kita tahu, masih banyak sekali permasalahan yang terjadi di Indonesia, mulai dari hukum, ekonomi, teknologi, maupun manajemen pendidikan tinggi. Salah satu bentuk moral adalah perhatian PPI terhadap permasalahan-permasalahan nasional tersebut. Perhatian itu disampaikan dalam bentuk kritik dan gagasan bagi pemerintah dan pihak-pihak yang bisa menentukan haluan kebijakan tanah air. Tentu saja kritik-kritik tersebut bukanlah dimaksudkan untuk mengumbar kebencian atau argumen tanpa dasar. Justru itu adalah wujud dari kecintaan seorang yang melek ilmu akan kemajuan bangsanya.

Memang, saat ini banyak PPI telah menyelenggarakan diskusi-diskusi ilmiah. Meskipun bagus, misinya belum terlalu jelas dalam kaitannya dengan politik moral. Selain itu, materi yang disampaikan dalam diskusi tersebut biasanya adalah seputar topik penelitian dari mahasiswa, sehingga tidak terlalu membumi untuk bisa dicerna oleh semua khalayak di tanah air. Terlebih lagi, media penyampaiannya masih berupa diskusi atau seminar. Padahal, cara penyampaian yang paling bisa bertahan lama adalah dalam bentuk opini/gagasan yang dituangkan dalam media tulisan yang bisa dipelajari, disanggah, atau didiskusikan.

Usaha semacam ini mungkin sekarang memang tidak populer. Tetapi untuk membawa bangsa Indonesia menuju gerbang kemakmuran, kaum terpelajar memang tidak cukup hanya dengan berpangku tangan.

Ditulis Oleh Rully Tri Cahyono & Hatta Bagus Himawan

Kisah inspiratif singkat dari Andre Prakoso, seorang pelajar Indonesia yang sedang menempuh jenjang Master di Delft University, Belanda.

Kisah inspiratif singkat dari Laila Annisafitri, seorang pelajar Indonesia yang sedang menempuh jenjang Bachelor di Multimedia University Johor Baru, Malaysia. Semoga video ini dapat bermanfaat dan menginspirasi kalian semua.

PPI TV, Dari Pelajar, Untuk Pelajar!

Ditulis oleh @hattabagus

Postcard ini saya kirimkan ke pak samsudi. Beliau adalah guru geografi saya saat SMA. Beliau lah yang mengajarkan saya mengenai luasnya dunia di kelas geografi dan mengajak
teman-teman sekelas untuk mengunjungi negara eropa dengan kata
"dolanno rene yo cah" (Kunjungilah tempat itu ya anak-anak). Sejak saat itu saya membulatkan tekad utk
mengunjunginya. Saya sekarang mengambil study S2 di kota eindhoven,
belanda, berkat ajakan beliau 12 tahun yang lalu #suratcintauntukguru.
----------------
PPI Dunia mengajak teman-teman semua secara serentak mengirimkan surat/postcard ke guru-guru kita terdahulu, bisa ke alamat sekolah atau ke alamat rumah beliau. Jangan lupa juga untuk membagikan kisah-mu bersama guru-mu ke Instagram atau Facebook dengan hashtag #suratcintauntukguru .

Izinkanlah surat kecilmu menguak kembali kenangan indah gurumu.

Beritahukanlah kabarmu, berapa belahan dunia yang sudah engkau capai karena-nya, berapa mimpi yang telah kamu rengkuh karena dimulai dengan didikan-nya.

Guru memang seorang pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi bukan berarti kita akan melupakannya.

Sapalah beliau, mungkin saat ini beliau rindu akan kabar murid-muridnya di penghujung hari tua-nya

 

Yeay..akhirnya video inspirasi dunia edisi perdana guys!

Sebagai pembuka, ada cerita inspiratif dari William Sandy dari PPI Tiongkok yang sedang mengenyam pendidikan PhD. Sebelumnya, William ini telah menyelesaikan S2 di University of Manchester.

Yuk kita simak rahasia William bisa kuliah di luar negeri 🙂

Tahukah kawan, banyak anak bangsa yang membutuhkan setitik cahaya untuk memberikan sedikit asa di dalam hidup yang terkadang tidak berpihak kepadanya

Kita tahu kawan, bahwa perjuangan tidak pernah ada yang mudah, selalu ada usaha dan doa di setiap malam

Air mata dan keringat yang selalu menemani kita di sepanjang jejak langkah menempuh cita-cita

Bagikanlah kisah hidupmu di dalam sebuah tulisan untuk menemani keringat, usaha, air mata dan doa mereka dalam menggapai mimpinya. Menjadi titik cahaya di ujung perjalanan mereka

Kirimkan kisah perjuanganmu ke inspirasidunia@ppidunia.org dan tulisan akan dipublish di web ppidunia

Syarat Penulisan :

Kisah kamu bukan hanyalah milikmu, karena di dalam kisahmu selalu ada sahabat, cerita dan inspirasi yang menjadi pelepas dahagamu

Teknologi nuklir sebenarnya memiliki potensi kebermanfaatan yang sangat luas namun sayangnya belum banyak diaplikasikan manfaatnya di tanah air. Kedepannya pengaplikasian teknologi nuklir dapat berpotensi besar dalam peningkatan sektor pangan dan sektor pertanian Indonesia. Untuk dapat mendayakan potensi tersebut Indonesia dapat memaksimalkan kolaborasi keilmuan dengan komunitas Nuklir international yang sudah terjalin dengan baik semenjak dahulu.

Indonesia telah menjadi anggota resmi dari IAEA (International Atomic Energy Agency) semenjak tahun 1957 (Wibowo, 2017). Atas hal itu, sebenarnya terbuka luas kemungkinan bagi Indonesia untuk dapat mengakses teknologi-teknologi nuklir di IAEA untuk kemajuan berbagai sektor strategis di tanah air. Dalam hal ini sektor pangandan pertanian di tanah air dapat mengakses teknologi nuklir dari Joint FAO/IAEA Division yang memang fokus terhadap sektor pangan dan pertanian Internasional.

Berdasarkan dari laporan yang diterbitakan oleh IAEA di tahun 2013, Joint FAO/IAEA Division memiliki lima bidang prioritas utama pengembangan teknologi nuklir untuk dimanfaatkan komunitas internasional. Kelima area utama itu adalah :

  1. Produksi ternak
  2. Management kelola tanah dan air yang lebih baik
  3. Rekayasa genetika dan pemuliaan tanaman untuk pertanian
  4. Pengendalian hama serangga di sector pertanian
  5. Keamanan bahan pangan

Potensi strategis teknologi nuklir pada sektor pangan dan pertanian di Indonesia

Tidak dapat dipungkiri, isu keamanan pangan serta pengendalian hama penyakit sector pertanian merupakan isu strategis. Berdasarkan laporan dari Zhang et al. (2011), dalam 45 tahun terakhir (1960 – 2005) kebutuhan pestisida sintetis terus meningkat hingga lebih dari 3 kali lipat. Dari US$ 850 juta di 1960 meningkat menjadi US$ 31,19 milyar di 2005. Sementara itu, pantauan Agrolook (2012), menunjukkan bahwa selama 2006-2012, penjualan pestisida juga meningkat dari US$ 30,2 milyar menjadi US$ 47,2 milyar. Hal ini juga didikung oleh laporan Rojas (2012), diperkirakan bahwa di tahun 2017 pestisida akan terjual mencapai angka US$ 68,5 milyar.

 

Selain penggunaan pestisida sintesis yang terus meningkat, penggunaan luas produk kimia sintesis untuk pengawet di bahan pangan juga terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Mengkonsumsi produk pangan dan pertanian yang mengandung bahan kimia sintesis tersebut berpotensi menyisakan bahan kimia yang dapat mengganggu kesehatan tubuh manusia. Penggunaan bahan pengawet di makanan juga berefek samping merubah tekstur dan rasa bahan makanan tersebut. Hal ini menjadi suatu permasalahan tersendiri karena untuk dapat menembus pasar ekspor keberadaan residu bahan kimia dituntut untuk dapat seminimal mungkin kandungannya dengan tetap menjaga kualitas produk pertanian dan bahan pangan tersebut. Untuk itu perlu adanya alterantif teknologi pengendalian hama-penyakit dan sterilisasi pengawetan bahan pangan yang lebih baik dibanding teknologi yang sudah umum digunakan sekarang.

Teknologi nuklir di bidang pengendalian hama-penyakit serta pengawetan bahan pangan dapat diaplikasikan untuk menjawab tantangan ini. Keuntungan pengawetan makanan menggunakan teknologi nuklir atau radiasi dibandingkan teknologi konvensional, menurut Hilmy (1995), ialah kemampuannya untuk dapat secara selektif. Sementara dalam penjelasan oleh Pusat Desiminasi Iptek Nuklir (2017), keuntungan lain teknologi ini ialah hemat energi serta hemat bahan material yang digunakan, mudah dikontrol, dapat diproses dalam kemasan yang tidak tahan panas, tidak meninggalkan residu dan ramah lingkungan.

Hal ini dapat terjadi karena penggunaan energi yang dihasilkan oleh sumber radiasi dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien untuk keperluan pengawetan bahan pangan tanpa melalui pemberian bahan kimia sintesis. Melalui teknik pengaturan intensitas radiasi yang tepat ke produk pangan dan pertanian yang ditarget, teknologi ini dapat difungsikan untuk menghambat pertunasan dan pematangan produk-produk pertanian, membasmi serangga, membunuh mikroba pathogen, serta membunuh seluruh jenis bakteri yang ada secara selektif dan akurat serta tanpa efek samping negatif. Dengan demikian mutu bahan pangan dapat tetap dipertahankan di dalam kemasan yang baik selama penyimpanan dan selama jangka waktu yang dikehendaki.

Pada prinsipnya penggunaan teknologi ini dapat digunakan untuk segala produk pertanian dan bahan pangan. Tidak adanya residu kimia berbahaya yang tertinggal dan hasil akhir produk yang tetap dalam keadaan segar menjadi keuntungan tersendiri teknologi ini dalam menangani produk pangan dan pertanian untuk target pasar expor maupun segmen pasar premium di Indonesia. Ini dikarenakan penggunaan teknologi ini akan mampu menjaga nilai nutrisi produk yang diradiasikan tetap dalam nilai maksimumnya.

Penggunaan komersial teknologi iradiasi produk pangan dan hasil pertanian tercatat telah berlangsung semenjak dekade 1950 an. Awalnya teknologi ini hanya terbatas digunakan untuk produk bumbu-bumbuan dan rempah-rempah (IAEA, 2014). Teknologi ini terus dikembangkan untuk kemudian dapat menjangkau produk pangan dan pertanian lainnya. Suatu capaian besar dari pengembangan ini adalah pada tahun 1980an akhirnya teknologi ini secara resmi diakui komunitas internasional sebagai suatu metode yang aman bagi kesehatan manusia oleh world health organization (WHO) (ibid.).

Menarik untuk dicermati bahwa penerapan teknologi iradiasi kini sudah banyak diaplikasikan di berbagai Negara, misalnya Vietnam, Indonesia dan Kroasia. Vietnam menggunakan teknologi ini dalam proses sterilisasi serta pengawetan buah naga untuk diekspor ke USA (IAEA, 2014). USA dikenal sebagai Negara yang menetapkan standar karantina ketat terkait pemberian izin masuk buah impor dari Negara luar. Hal ini dilakukan untuk mencegah masuknya hama penyakit non-native yang berpotensi mengganggu keseimbangan ekologi di USA. Sterilisasi dan karantina konvensional umumnya menggunakan bahan kimia berbahaya dan memakan waktu tidak sebentar. Hal ini menyebabkan buah naga yang dikirim menjadi kelewat masak dan mengandung residu kimiawi sehingga tidak terlalu disukai pasar. Di sisi lain, keberadaaan hama penyakit di buah naga mengakibatkan buah naga yang dipanen mengalami kerusakan selama penyimpanan dan pada akhirnya tidak lagi memenuhi standar minimum untuk pasar ekspor (ibid.).

Untuk mengatasi persoalan ini dikembangkanlah teknik iradiasi dengan menggunakan sinar gamma yang dikembangkan oleh IAEA. Penerapan teknik ini banyak membantu mensukseskan ekspor buah naga dari Vietnam ke USA yang memiliki regulasi ketat terkait import produk pertanian. Pada awalnya di tahun 2008 Vietnam hanya mampu mengekspor 100 ton buah naga ke USA. Namun pada 2013, nilai ekspor buah naga dari Vietnam mampu meningkat jauh menjadi 1300 ton (IAEA, 2014).

Indonesia sendiripun sebenarnya sudah mengadopsi teknologi ini untuk bidang pengawetan pangan. Pada Februari 2014, Dewan nuklir Indonesia berkolaborasi dengan Joint FAO/IAEA Division telah ikut turun tangan dalam penanggulangan bencana tanah longsor di jawa barat yang memaksa 2000 warga untuk mengungsi. Tim ini berperan dalam mendukung penyediaan ransum makanan siap santap yang dapat disimpan dalam waktu lama tanpa merusak cita rasanya dan tidak basi. Ini dapat diwujudkan menggunakan teknik pengawetan makanan yang awalnya dirancang untuk misi luar angkasa para astronot (IAEA, 2014). Teknologi ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1970 dan kemudian berkembang lebih lanjut pengaplikasiannya menjadi pasien rumah sakit dengan kondisi imunitas tubuh yang lemah. Melalui teknik ini setrilisasi dan kesegaran makanan dapat dipertahankan untuk waktu yang lebih lama dan dijamin bebas kontaminasi pathogen berbahaya (IAEA, 2014). Penggunaan teknologi ini berperan atas suksesnya distribusi bantuan panganan kuliner khas Indonesia yang lezat dan bergizi ke tempat lokasi bencana alam agar tidak sampai basi walau disimpan pada waktu yang lama.

Beda kisah sukes penggunaan teknologi nuklir di bidang pangan dan pertanian terjadi di Kroasia. Disana teknologi nuklir digunakan untuk membuat hama serangga di pertanian jeruk menjadi mandul dengan merusak organ reproduksinya. Dampaknya adalah secara signifikan mampu menekan populasi hama lalat buah yang sangat merugikan sektor pertanian jeruk di Kroasia (IAEA, 2014). Dengan penggunaan teknologi nuklir yang tersedia, produksi buah jeruk di Kroasia kemudian dapat meningkat drastis dan meningkatakan kesejahteraan hidup para bagi petani jeruk disana.

Masih banyak lagi kisah sukses perkembangan teknologi nuklir yang telah diaplikasikan pada bidang pangan dan produk hasil pertanian di berbagai penjuru dunia. Sebagai gambaran, saat ini teknologi irradiation melaluli sinar gamma setidaknya sudah dapat diaplikasikan luas untuk sterilisasi dan pengawetan lebih dari 60 macam produk pertanian segar. Tahun 2014 lalu, lebih dari 500.000 ton bumbu, rempah-rempah, daging ayam, daging sapi, kacang-kacangan, buah-buahan, sayur-mayur telah di iradiasi dengan sinar gamma untuk kemudian dikirimkan ke lebih dari 60 negara (IAEA, 2014). Produk-produk tersebut sudah dinyatakan aman untuk dikonsumsi sebagai bahan pangan di seluruh penjuru dunia.

Pengembangan serta pemanfaatan teknologi ini bagi masyarakat luas terus diupayakan lebih jauh. Agar dapat semakin meningkatkan nilai kebermanfaatan teknologi nuklir bidang pangan-pertanian ini bagi penduduk dunia, Joint FAO/IAEA Division hingga kini telah bekerja sama dengan 17 negara di Asia untuk terus mengembangkan standar pelaksanaan iradiasi lebih lanjut. Petunjuk itu kini sudah tersedia dan dapat diakses oleh masyarakat umum untuk dimanfaatkan secara luas (IAEA, 2014). Termasuk untuk masyarakat di Indonesia.

Kendala utama yang saat ini membatasi pengaplikasian luas dari penerapan teknologi ini di masyarakat umum adalah investasi awal pembangunan instalasinya yang lumayan mahal dan membutuhkan tenaga ahli khusus untuk pengoprasiannya sehari-hari. Hambatan lain adalah adanya presepsi negatif masyarakat awam yang menduga bahwa teknologi nuklir ini sangat rumit dan berbahaya bagi siapapun. Padahal asumsi tersebut tidak tepat. Karena berbagai kendala tersebut hingga saat ini hanya korporat-korporat besar dengan sokongan dari pihak pemerintahan pusat saja yang mampu memanfaatakan teknologi nuklir bidang pangan dan pertanian ini. Padahal dengan desain dan pengawalan yang tepat, pengembangan teknologi nuklir dapat mendatangkan banyak manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat luas.

Namun, seiring dengan terus dikembangkannya teknologi ini, tingkat kemanan dari penerapan teknologi nuklir kini sudah semakin sempurna. Sementara disisi lain, dikarenakan semakin banyaknya penggunaan teknologi ini pada skala industri, biaya pengoperasiannya bisa semakin ditekan sehingga semakin meningkatkan nilai ekonomis teknologi ini. Ke depannya diharapkan teknologi nuklir dalam peningkatan mutu bahan pangan serta produk hasil pertanian akan semakin menguntungkan bagi masyarakat luas. Dengan perencanaan yang tepat, seharusnya pengembangan serta penerapan lebih luas dari teknologi nuklir ini berpotensi besar mendatangkan banyak manfaat bagi petani produsen, distributor, industri pengolahan produk pangan dan konsumen di bidang pangan-pertanian itu sendiri di tanah air. Dengan catatan, pihak stake holder terkait mau untuk memanfaatkan juga menyebarkan potensi teknologi nuklir yang sudah terbukti banyak manfaatnya ini kepada masyarakat luas. Semoga!

Ditulis Oleh : Erwin Fajar Hasrianda,

Tim kajian nuklir PPI Dunia, divisi Non-Energy.

Msc di bidang genetics,

Wageningen University, The Netherlands,

 

REFFERENCES

 

Agrolook. 2012. The Global Agrochemical Market in 2012.[Online] www.agrolook.com/pdfs/agrolook-july-sept-2012.pdf diakses pada tanggal 27 Januari 2017.

 

Hilmy, N. 1995. Manfaat Radiasi Dalam Industri, Lingkungan, dan Kesehatan Masyarakat.[Online] http://www.iaea.org/inis/collection/NCLCollectionStore/_Public/33/023/33023312.pdf diakses pada tanggal 28 Januari 2017.

 

IAEA (2013), IAEA Orientations for diplomats 2013, the IAEA in Overview.

 

IAEA (2014), IAEA Success Story 2014. Nuclear Applications in Agriculture, in the ground success part II.

 

Pusat Diseminasi Iptek Nuklir. 2017. Aplikasi Teknik Nuklir dalam Pengawetan Bahan Pangan.[Online] http://drive.batan.go.id/kip/documents/Pengawetan_Makanan.pdf diakses pada tanggal 28 Januari 2017.

 

Rojas, L. 2012. International pesticide market and regulatory profile. [Online] http://wcropche-micals.com/pesticide_regulatory_profile diakses pada tangga 28 Januari 2017.

 

Wibowo, T. 2017. Pemanfaatan Kerjasama Luar Negeri untuk Peningkatan Kepentingan Nasional.[Online] http://www.batan.go.id/ref_utama/hiswara.html diakses pada tanggal 27 Januari 2017.

 

Zhang, W.J., F.B. Jiang and J.F. Qu. 2011. Global pesticide consumption and pollutant: with China as a focus. Proceedings of the International Academy of Ecology and Environmental Sciences 1(2): 125-144.

 

Dewan Presidium (DePres) Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia. Satu kalimat yang awalnya membuat saya merinding. Terkesan lebay kalau menurut bahasa Generasi Y, tapi itulah yang terjadi. Bagi aktivis organisasi kemahasiswaan yang masih cetek seperti saya ini, tidak pernah terpikirkan bisa menjadi bagian dari DePres PPI Dunia. Bahkan, mendengar namanya saja belum pernah. Barulah pada ketika saya menjadi perwakilan PPI Belgia pada Simposium Internasional PPI Dunia 2016 di Kairo, saya mengetahui apa itu DePres PPI Dunia.

So, Dewan Presidium PPI Dunia terdiri dari: Koordinator PPI Dunia, Sekretaris, Bendahara, dan tiga Divisi: Divisi Biro Pers, Divisi P2EKA, dan Divisi Dana Usaha. Dewan Presidium juga terbagi menjadi tiga kawasan yaitu: Kawasan Amerika-Eropa, Kawasan Asia-Oseania, dan Kawasan Timur-Tengah Afrika. Kawasan Amerika-Eropa berisi 24 PPI Negara, Kawasan Asia-Oseania beranggotakan 14 PPI Negara, dan Kawasan Timur-Tengah Afrika berisi 14 PPI Negara. (more info: http://bit.ly/vidPPIDunia)

Ngeri rasanya membayangkan menjadi koordinator bagi seluruh mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di luar negeri. Terkagum-kagum rasanya melihat Steven Guntur, Koordinator PPI Dunia 2015/2016 memberikan pidato pada pembukaan simposium tersebut. Di depan Menteri Agama Republik Indonesia, Deputi Syekh Universitas Al-Azhar, Prof. Mahfud M.D, beliau dengan tegap dan yakin menyebut dirinya: “Saya selaku Koordinator PPI Dunia.” Bagaimana mungkin, saya yang berbicara saja seringkali terlalu cepat, bisa memberikan pidato seperti itu? Bagaimana ya kalau saya menjadi bagian dari DePres? Mimpi yang terlalu jauh pikir saya waktu itu. Kalau kata orang Batak, “banyak kali lah mimpimu, becak!”

Si Becak Nekat

Seperti yang sudah-sudah, Koordinator PPI Amerika-Eropa dipilih dalam Simposium PPI Amerika-Eropa yang nantinya akan disahkan dalam Simposium PPI Dunia. Turki, sebagai negara yang terpilih pada Simposium Amerika-Eropa di Rijkswijk, Belanda, pada tahun 2016, mengundurkan diri dikarenakan gejolak nasional yang terjadi. Walhasil, paniklah negara-negara anggota PPI Kawasan Amerika-Eropa kemarin. Semua bertanya: “Siapa nih yang sanggup jadi Koordinator?” Ditanya satu-satu, tidak ada perwakilan PPI Negara yang menyanggupi.

Homo proponit, sed Deus disponit. Manusia boleh berencana, namun Tuhan yang menentukan. Siapa yang sangka, si ‘becak’ itu akhirnya mempunyai jabatan di Dewan Presidium PPI Dunia? Kok bisa? Iya, dia nekat aja angkat tangan pas giliran PPI Belgia ditanya kesanggupannya. Nadhira, sebagai perwakilan lain dari PPI Belgia, bahkan sampai bingung dan bertanya “gila ya kamu? Kita PPI Belgia masih bocah, cuy, di PPI Dunia. Main iya-iya aja.” Si odong-odong itu cuma menjawab, “seloow”.

Dengan mengemban jabatan Koordinator PPI Amerika-Eropa terpilih pada waktu itu, saya hanya berpikir untuk memanfaatkan jabatan ini demi memajukan kualitas kawasan dengan anggota PPI Negara terbanyak (ada 24 negara dalam kawasan Amerika-Eropa). Selain itu, ini juga kesempatan emas untuk melambungkan nama PPI Belgia di kancah internesyenel. Akhirnya, pulang lah saya ke Belgia dan memulai kehidupan sebagai Koordinator PPI Amerika-Eropa. #lebaylagi

The Undercover Dewan Presidium

Sudah terbayang di benak saya bahwa saya harus menjaga wibawa ketika bercengkrama di WhatsApp Group Dewan Presidium. Mengeluarkan ide non-konvensional nan visioner tanpa bercanda sedikitpun juga sudah menjadi makanan sehari-hari dalam perbincangan kami di grup tersebut. “Waduh bakalan kaku dan boring banget ini grup nih kayaknya,” pikirku pada waktu bergabung dalam grup komunikasi tersebut. Ternyata oh ternyata…. Kenyataan berbanding terbalik dengan yang dipikirkan. Satu kesimpulan yang saya dapat sekarang: anggota Dewan Presidium PPI Dunia 2016/2017 rata-rata sengklek semua. Terutama yang namanya Marco Nainggolan, tak lain dan tak bukan, sekretaris saya sendiri.

Hanya bertahan sekitar dua bulan untuk saya memaksa diri agar terlihat berwibawa di grup itu. Sisanya? Gesrek. Mulai dari memanggil Cahyani, Sekretaris Kawasan Afrika Timur-Tengah dengan panggilan “IcaMiluv”; Hatta yang hobinya mancing-mancing di Facebook; video Skype-ing dengan Muhammad Ramadhan (biasa dipanggil Madhan) yang hobinya meluk boneka Pikachu; ketawa ngakak mendengar suara Rama Rizana (Koordinator P2EKA) yang kalau rapat lewat skype suaranya macam tikus kejepit; nelpon ketua PERMIAS, Nadi Guna Khairi, yang ganteng tapi dia cuma nanyabro dah boker belom bro?’; sampai pada membuat proposal bersama Marco sembari mendengarkan lagu rohani yang disambung dengan perbincangan 18 tahun ke atas. “Nggilani kowe!” kalau kata Rama.

 

Belum cukup sampai di WhatsApp Group. Kegilaan kami pun berlanjut di media sosial lainnya. Facebook terutama. Now let the pictures talk:

 

 

 

 

 

Sersan: Serius Tapi Santai

Yak. Serius tapi santai nampaknya menjadi motto kami dalam bekerja. Totalitas tanpa batas dilaksanakan bagai dua sisi mata uang. Ketika rapat, kami serius. Well, diselingin bercanda sedikit, sih. Tapi, saya sendiri juga heran dengan Dewan Presidium tahun ini. Bisa-bisanya orang-orang sableng ini tahan rapat sampai 4 jam lewat skype. Apalagi koordinatornya, Intan, bisa ikut rapat kayak minum obat. Sehari tiga kali. Tidak hanya itu, Dewan Presidium tahun ini juga mempunyai terobosan baru yang sangat berkualitas yaitu divisi P2EKA. Divisi yang memiliki fokus kajian bidang Politik, Pendidikan, Ekonomi, Kebudayaan, dan Keagamaan.

Untuk Kawasan Amerika-Eropa sendiri, bahkan tahun ini kami menjalankan program kerja yang pastinya berfaedah sekali bagi pelajar Indonesia di dua benua ini. Program tersebut antara lain adalah: Kamar Pelajar, Forum PhD, Simposium PPI Amerika-Eropa, dll. Lewat Kamar Pelajar, kami berusaha menyediakan akomodasi murah (lebih murah daripada harga hostel atau airbnb) bagi pelajar Indonesia. Coba lihat, mulia banget kan idenya? Kapan lagi brosis bisa ikut konferensi atau jalan-jalan ke luar negeri tanpa pusingin biaya penginapan? Udah harganya murah, syukur-syukur Kamar Pelajar bisa jadi Pelajar Sekamar nantinya. Lol.

Forum PhD. Ini bukan Pitsa Hats Delivery yang lagi nge-trend di Indonesia ya… Program ini bertujuan untuk membangun jaringan antara mahasiswa doktoral yang belajar di Amerika-Eropa. Terakhir, simposium Amerika-Eropa. Tahun ini akan diadakan di Washington D.C loh! Mana tau bisa sekalian jumpa Donald Trump, kan? :p

Enam Bulan Penuh Makna

Tak terasa kami sudah setengah perjalanan menuju akhir dari kepengurusan. Jujur, buat saya, enam bulan di Dewan Presidium PPI Dunia merupakan momen yang ajaib. Beberapa dari kami belum pernah bertatap muka, namun kedekatan kami layaknya tim yang sudah saling mengenal belasan tahun. Jarak ratusan bahkan ribuan kilometer pun tak jarang kami tempuh untuk menemui satu sama lain. Apalagi kalau diiming-imingi akan dikenalkan dengan lawan jenis yang ganteng/cantik. Lol

Sedih ketika mengingat kepengurusan kami akan berakhir pada Simposium Internasional 2017 di Inggris nanti. Ini sedih beneran. Sambil ngetik, saya bahkan memutar lagu Kemesraan (versi Broery Marantika, tentunya) di youtube. Yah… Untungnya masih ada enam bulan lagi. Satu semester penuh kecerian di WhatsApp Group, Facebook, dan Skype. Walau bayangan saya terhadap DePres yang kaku dan boring sudah hilang, namun tiada masa di mana saya tidak membuka grup komunikasi tersebut tanpa tersenyum…. (kecuali waktu hape kecemplung di WC. Gak ada hape selama seminggu, pas buka WhatsApp Group DePres, tau-tau sudah ada 1000-an chats. Senyum engga, pegel iya bacanya.)

Well, nampaknya keputusan si ‘becak’ di atas untuk mengangkat tangan di Kairo menjadi keputusan yang tepat. Senang sekali rasanya bisa berkontribusi untuk Indonesia dan dunia sambil tertawa dan bercanda. Untuk rekan DePres, semoga persahabatan kita ga sampai sini doang ya, guys. Tetap semangat membangun Indonesia lewat PPI Dunia selama enam bulan ke depan! Do the best and let God do the rest!

Oia, biar kayak buku cerita anak-anak tempo dulu…

Pesan Moral: “Jadi pemimpin jangan kebanyakan serius. Ntar ga asik!”

 

Salam Perhimpunan!

Kreeshna Siagian

Koordinator PPI Amerika-Eropa dan Ketua PPI Belgia

 

Footnote: Siapa saja sih Dewan Presidium PPI Dunia 2016/2017? https://ppi.id/dewan-presidium-20162017/

 

 

 

 

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920