logo ppid

Kalian pelajar Indonesia yang tertarik untuk melanjutkan studi di University of Oxford, Oxford Brookes University dan University Cambridge?

Teman-teman mahasiswa di kampus tersebut akan membagikan pengalaman mereka tentang:
1. Kiat sukses dalam proses penerimaan mahasiswa (S1, S2, S3).
2. Bagaimana menyusun personal statement dan proposal riset yang efektif
3. Kekhususan program studi dan kampus, serta beasiswa apa saja yang tersedia
4. Serba-serbi kehidupan akademis dan sosial mahasiswa di kota Oxford dan Cambridge

Kita juga menghadirkan pembicara yang ahli dibidangnya untuk kalian yang tertarik mengikuti program Summer School, International Baccalaureate (IB), Pre-University, dan Program Kepemimpinan di Oxford.

Jadi, jangan ragu lagi, catat tanggal & waktunya!
Sabtu, 5 Agustus 2017
15.00 - 18.30 WIB

Live streaming (dalam bahasa INDONESIA) dari Larkin Room, St John's College, University of Oxford. (kita juga berencana untuk live streaming dengan komunitas mahasiswa/ pelajar di beberapa kampus di Indonesia)

Untuk bergabung dalam live streaming, silakan klik laman FB kami: https://goo.gl/B5p2As

Setiap informasi terbaru akan ditampilkan di laman tersebut.

Ditulis oleh Hatta Bagus Himawan

Tidak semua ditakdirkan memiliki kecerdasan verbal-linguistic yang bagus, sehingga perlu waktu yang cukup lama untuk mendapatkan score IELTS / TOEFL iBT yang biasa menjadi persyaratan kampus-kampus di luar negeri maupun sponsor beasiswa.

Saya adalah salah satunya, dimana belajar bahasa baru adalah momok tersendiri buat saya, jadi ya memang harus go the extra mile. Saya cukup menyadari kemampuan saya, sehingga saya harus menemukan cara efektif untuk menaklukan IELTS ini. Ada 4 section dalam IELTS yaitu Listening, Reading, Writing dan Speaking. Saya akan mencoba sharing pengalaman saya siapa tau bisa membantu teman-teman semua

Listening

Section ini tidak begitu membutuhkan keterampilan khusus, kuncinya cuma konsentrasi dan fokus. Bagaimana melatihnya ? Latihan setiap hari, tidak ada cara lain. Apakah mendengarkan musik, berita atau film berbahasa inggris membantu ? Tergantung, seperti yang saya katakan sebelumnya, verbal-linguistic saya kurang bagus. Jadi cara itu kurang efektif buat saya tetapi untuk beberapa teman itu sangat membantu.

Reading

Untuk section ini, sebenarnya tantangan kita adalah waktu karena kita hanya diberikan waktu 1 jam untuk menjawab 40 soal (klo gak salah, rada lupa). Awalnya saya latihan menggunakan bukunya barron, akan tetapi tingkat kesulitan soal ujian aslinya lebih berat. Jika saya menggunakan soalnya barron, saya bisa mendapatkan poin 7,5 dengan mudah akan tetapi beda ceritanya jika menggunakan referensi cambridge (fyi, soal ujiannnya menggunakan cambridge). Dapat nilai 6,5 saja susahnya minta ampun.

Jadi jika teman-teman masih memulai preparation (pemanasan) IELTS tidak ada salahnya menggunakan referensi Barron, akan tetapi jika mau tes IELTS sungguhan, ada baiknya untuk latihan menggunakan referensi Cambridge. Untuk mendapatkan referensi tersebut silakan baca paragraf saya paling akhir

Oh ya, jangan keras kepala untuk melewati soal yang dirasa sulit, segera move ke soal selanjutnya karena sayang waktu kalau menghabiskan waktu di hal yang memang susah dijawab. Selain itu jangan segan-segan untuk memberi mark/coretan di lembar soalnya untuk poin-poin yang penting misal nama orang, tahun kejadian dsb. Hal itu sangat membantu untuk mempersingkat skimming.

Poin terakhir sering-sering latihan, usahakan 1 hari mengerjakan 1 bacaan atau lebih bagus lagi kalau 3 bacaan sekaligus.

Writing

Section ini terbagi menjadi 2 task, untuk melihat poin-poin penilaiannya silakan cek disini dan disini. Untuk task 1, kuncinya banyak-banyak pembendaharaan kata untuk conjunctions. Selain itu, biasanya soalnya mengenai grafik, jadi perbanyak pembendaharaan katanya jangan hanya terpaku dengan increase atau decrease, jangan segan untuk menggunakan fluctuate atau stabilize. Selain itu tidak jarang grafik tersebut menampilkan tahun / bulan kejadian sehingga jangan lupa menggunakan past tense dalam menjelaskan grafiknya. Selain grafik / tabel, tidak ada salahnya latihan menulis untuk menjelaskan alat karena terkedang intruksi soalnya adalah menjelaskan alat-alat tertentu

Pada task 2, gampang-gampang sulit. Masalah terbesar adalah haram hukumnya menggunakan I think. Jadi untuk kasus ini saya mengakali dengan seolah-olah opini saya adalah perkataan orang terkenal misal Steve Jobs, SBY ataupun siapa saja yang berkorelasi dengan topik tersebut. Jadi secara gak langsung teman-teman harus menggunakan kalimat langsung dan kalimat tidak langsung. Awalnya sih saya berfikir bener gak ya memberikan “opini palsu”, tetapi setelah saya pikir ulang toh ini bukanlah tulisan yang dinilai “isi tulisannya” jadi saya rasa gak ada masalah.

Selain hal tersebut, pada task 2 saya memasukkan Bibliography atau References. Saya kurang tau bekerja atau tidak tetapi saya mendapatkan poin cukup memuaskan saat menggunakan itu

Speaking

Pada Speaking, ada beberapa poin yang harus diperhatikan, poin penilaiannya ada disini. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan

1. Haram hukumnya menjawab tidak tahu, karena saat menjawab tidak tahu kemungkinan kecil kita dapat mengembangkan jawaban kita. Yang berarti untuk poin Fluency and coherence bakalan kecil. Untuk section ini saya terpaksa menceritakan bukan kondisi real. Pada saat saya disuruh menjelaskan tetangga saya, saya sedikit kesulitan karena saya tinggal di apartemen yang di mana saya kurang begitu mengenal penghuni di lantai saya sehingga saya menceritakan tetangga rumah orang tua saya yang di surabaya. Karena kalau saya jawab tidak tahu, sedikit kesulitan mengembangkannya

2. Untuk mempermudah menjawab, gunakan poin-poin. Misal : Jelaskan pekerjaan kamu, jelaskan step – step pekerjaan teman-teman jangan di-summary. Karena jika di-summary maka penjelasan menjadi singkat dan cukup sulit untuk mengembangkan lebih lanjut

3. Gunakan Idiom, silakan cek disini. Silakan cek di poin Lexical resource pada bandscore 7, menggunakan idiom. Sebelum saya melakukan tes speaking, saya menyimpan amunisi (idiom) dulu untuk disampaikan, minimal hafalkan 7 idiom yang siap ditembakkan (digunakan) saat menjawab pertanyaan. Bagaimana jika idiom yang disiapkan tidak cocok dengan topik ? Giring supaya cocok, misal teman-teman menyiapkan kalimat PULL A RABBIT OUT OF A HAT padahal ditanyakan tentang hobi kamu. teman-teman bisa mengarahkan bahwa teman-teman punya hobi yang sama dengan teman lain dan teman lain tersebut punya kemampuan PULL A RABBIT OUT OF A HAT

Kurang lebih itu sharing pengalaman dari saya, semoga bermanfaat dan dapat membantu teman-teman. Oh ya ada file yang cukup membantu untuk belajar (kumpulan soal cambridge), jika berminat, bisa email saya di hatta.bagus22[at]gmail.com untuk mendapatkannya

Disadur dari http://hattabagus.com/tips-trik-dapat-score-ielts-memuaskan-giliran-ala-saya/

Memulai hidup baru sebagai mahasiswa S1, S2, maupun S3 di luar negeri pasti membawa tantangan tersendiri bagi setiap orang. Perubahan kondisi adalah hal yang tidak terhindarkan, dan penyesuaian di berbagai sisi perlu dilakukan. Penyesuaian ini biasanya tidak hanya dibutuhkan di awal, karena seiring berjalannya waktu, tantangan-tantangan baru sangat mungkin bermunculan terkait studi, pergaulan, dan penyesuaian budaya secara umum. Fenomena ini umum dialami oleh mahasiswa yang menempuh studi di luar negeri, termasuk mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di Groningen.

Oleh karena itu, Bidang Layanan Konseling Psikologi yang baru dibentuk pada kepengurusan PPIG 2016/2017 di bawah Divisi Kelembagaan dan Pelayanan Anggota berinisiatif untuk menyusun modul “Stress Management” yang dipersembahkan untuk seluruh anggota PPIG khususnya dan mahasiswa Indonesia di Belanda dan sekitarnya pada umumnya. Adapun modul ini membahas stres dan pengelolaannya yang bersifat umum, dilengkapi dengan lembar kerja untuk mendukung latihan mandiri.

Pertanyaan yang muncul kemudian mungkin seperti berikut ini: “Bukankah masalah yang dialami setiap orang pasti berbeda-beda? Lalu, bagaimana modul “Stress Management” yang bersifat umum dapat menjawab kebutuhan masing-masing orang?”. Pertanyaan ini sangat relevan dan sangat mungkin muncul di kepala banyak orang. Bidang Layanan Konseling Psikologi menyusun modul ini berlandaskan dasar berpikir pengelolaan stres yang umum diaplikasikan. Ketika sedang berada di bawah stres, biasanya kita akan mengalami penurunan kemampuan fungsi di berbagai aspek, misalnya menjadi lebih mudah menyerah saat menghadapi tantangan terkait studi, menjadi kurang cekatan dalam mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari, menjadi lebih sulit mengendalikan emosi saat berkonflik dengan orang lain, dan lain-lain. Oleh karena itu, modul ini berusaha menyajikan cara mengelola stres secara umum yang dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing terkait stres yang sedang kita hadapi.

Harapannya, dengan difasilitasi oleh modul ini, masing-masing dari kita dapat mengelola stres yang sedang kita alami secara lebih baik hingga level stres tersebut menurun. Setelah level stres menurun, secara perlahan fungsi yang sempat terganggu di berbagai aspek tadi akan ikut membaik, dan kita akan kembali lebih siap menghadapi berbagai tantangan hidup yang harus kita hadapi.

Semoga modul “Stress Management” ini dapat bermanfaat untuk semua yang menggunakannya.

Modul stress management PPIG 2017 <--- silakan di download disini

Sekitar satu tahun yang lalu saya membuat keputusan yang sangat besar, yaitu melanjutkan kuliah S2 ke luar negeri. Ya, saat itu saya sudah bekerja selama kurang lebih 2 tahun di Indonesia. Tidak terbayangkan memang saat itu bagaimana rasanya menjadi mahasiswa dan duduk di bangku kuliah lagi. Tapi setelah membulatkan tekad akhirnya saya memutuskan untuk tetap berangkat. Tidak sulit bagi saya menentukan negara tujuan untuk kuliah S2 saya. Satu negara yang pertama kali muncul di kepala saya adalah Inggris (United Kingdom – UK). Alasan utamanya jelas, karena kuliah disini hanya memakan waktu selama satu tahun, yang mana ini cocok dengan career plan saya kedepannya. Selain itu, sebagai fans Chelsea tentunya bisa kuliah di Inggris makin mendekatkan impian saya untuk nonton bola langsung di Stamford Bridge, hehe.

Tapi perlu saya akui kesulitan saya saat itu adalah menentukan universitas mana yang akan dituju di UK. Awalnya pencarian memang dimulai dari Inggris, tapi kemudian saya coba perluas pencarian saya ke universitas-universitas lain yang masih masuk ke dalam wilayah UK seperti Irlandia Utara, Skotlandia dan Wales. Saya memang cukup perfeksionis, jadi saya benar-benar coba mencari universitas yang cocok dengan latar belakang saya sebagai sarjana hukum. Iya, meskipun background saya hukum dan sempat kerja di sebuah kantor hukum tapi saya ingin melanjutkan kuliah dengan jurusan bisnis. Oleh karena itu saya mencari universitas yang menawarkan modul yang mana saya bisa menerapkan ilmu hukum saya di modul tersebut. Setelah melakukan research, tanya sana dan sini, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah S2 saya di Leeds University Business School (LUBS) dengan program MSc International Business. Alasannya karena selain modul yang ditawarkan menarik, reputasi LUBS ini juga sangat bagus di UK.

Tapi jangan khawatir untuk teman-teman yang saat ini sedang bingung mencari universitas mana yang bagus dan cocok untuk S2 kalian. Hasil research saya dulu sebelum kuliah menyimpulkan kalo universitas di UK itu ya cuma dua pilihannya, antara bagus atau bagus banget. Jadi saran saya jangan terlalu memusingkan diri sendiri dengan pertanyaan “universitas ini sama itu bagusan mana?”. Belajar dari pengalaman saya dulu, karena kelaman mikir, urusan administrasi (e.g. visa) jadi ikutan molor.

Singkat cerita, akhirnya saya mulai kuliah di Leeds pada bulan September 2013. Banyak hal yang menarik perhatian saya selama berkuliah di sini. Yang pertama adalah saya salut bagaimana sikap universitas-universitas di UK dalam mencegah plagiarism. Karya cipta seseorang disini amat sangatlah dihargai. Mereka tidak sungkan-sungkan menindak tegas mahasiswa yang diduga ataupun terbukti melakukan plagiarism atas suatu karya ilmiah, terlebih sebagian besar universitas top di UK sudah menggunakan software bernama Turnitin. Software ini bisa mengecek apakah assignment yang dibuat mahasiswa itu plagiat atau tidak. Jadi setelah mahasiswa submit suatu assignment melalui Turnitin, dan ternyata di Turnitin report-nya tertulis similarities-nya lebih dari 40% (range similarities tergantung kebijakan 12 universitas), maka mahasiswa tersebut akan dipanggil oleh pihak universitas dan disidang untuk mempertanggungjawabkan kerjaannya karena dia diduga melakukan plagiarism. Nggak main-main, ancamannya drop-out. Jadi disini tidak bisa asal copy paste seperti di Indonesia, bisa repot nanti urusan.

Hal menarik lainnya adalah kuliah disini tidak menggunakan sistem GPA (Grade Point Average), atau di Indonesia kita familiar dengan istilah IPK (Indeks Prestasi Kumulatif). Untuk master’s degree di UK, universitas mengklasifikasi pencapaian mahasiswa dalam 4 tahap, yaitu fail (<50), pass (50-59), merit (60-69) dan distinction (70+). Range nilai untuk pengklasifikasiannya kadang berbeda antar satu universitas dengan universitas lainnya. Mungkin teman-teman berpikiran, “wah gampang dong dapat distinction cuma perlu dapet 70!??”. Itu yang saya pikirkan dulu, tapi ternyata untuk dapat 70 disini itu ibaratnya dapat 90 di Indonesia hehe. Sulit memang karena standar penilaiannya tinggi sekali, tapi bukan berarti tidak mungkin karena cukup banyak juga kok ternyata yang bisa dapat distinction, jadi tenang saja.

Berdasarkan pengalaman saya, time management juga akan ikut menentukan kesuksesan kuliah kalian di UK. Seperti yang sudah saya sampaikan di awal, kuliah di UK ini (untuk yang master) hanya satu tahun, jadi kebayang kan bagaimana padatnya kuliah di sini. Tapi sebenarnya padat atau tidaknya itu juga tergantung program dari universitasnya sih, tapi satu yang pasti kalian akan disibukkan dengan banyaknya assignment dan/atau tugas bacaan, jadi harus pinter-pinter me-manage waktu kalian. Tapi satu hal juga yang perlu kalian catat (terutama untuk yang berencana kuliah di sini ataupun yang baru memasuki awal perkuliahan), study-life balance guys!! Tubuh kalian bukan robot jadi juga akan perlu yang namanya istirahat/refreshing. Belajar boleh (banget!), tapi jangan lupa bersosialisasi juga, kalian akan (atau sedang) berada di UK, get a life, make the most of it! hehe. Saya juga meskipun jadwal kuliah sangat padat tapi masih sempet kok ikut organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Leeds.

Last but not least, hal-hal di atas ini cuma secuil dari segudang cerita saya kuliah di UK. Masih banyak hal-hal menarik lainnya yang kalau saya ceritakan semua bisa jadi novel nanti. Tapi satu hal yang perlu teman-teman ingat kalau sedang kuliah di luar negeri (di UK atau di mana 13 pun juga). Tolong jaga nama Indonesia di mata dunia. Ingat, secara tidak langsung kalian adalah duta Indonesia di luar negeri. Apa yang teman-teman internasional kalian lihat pada diri kalian adalah apa yang mereka pikirkan dan bayangkan tentang Indonesia. Selain itu, gunakanlah kesempatan kuliah di luar negeri kalian untuk berkontribusi kepada negara Indonesia, salah satu cara yang paling mudah adalah dengan meningkatkan nilai dan nama Indonesia di mata dunia, bisa melalui people to people interaction seperti yang baru saja saya sebutkan, berpartisipasi di event-event internasional dengan membawa nama Indonesia ataupun membuat acara sendiri yang bertema Indonesia.

Saya teringat dengan kata-kata Muhammad Hatta, “hanya ada satu negara yang pantas jadi negaraku (Indonesia), ia tumbuh dengan perbuatan dan perbuatan itu adalah perbuatanku.”
Selamat berkuliah, kawan!!

Dicky Faizal Aprianto
MSc International Business, Leeds University Business School

sumber : http://ppiuk.org/tantangan-kuliah-di-britania-raya-uk/

Tanah Britania, sejak April 2014 menjadi tujuan saya sebagai rumah kedua. Saya menyebut kuliah di Inggris itu paket lengkap. Lengkap dari segi kualitas pendidikan, pilihan jurusan, fasilitas, dan hiburannya. Perguruan tinggi tertua di dunia banyak didominasi oleh negara ini. Dipastikan saya ingin menimba ilmu langsung dari sumurnya atau sumbernya. Ketika itu, saya menemukan kesulitan mencari program studi yang sesuai dengan spesifik minat saya, namun untungnya saya menemukan di salah satu Universitas di Inggris yang memiliki profesor di bidang minat tersebut. Itulah alasan paling utama saya bersedia tidak pulang 1 tahun dan membiayai kuliah dari kantong sendiri. Pelajar setelah tahun 2012 memang jauh lebih beruntung dengan adanya beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang memberikan kesempatan lebih untuk teman-teman. Pada kesempatan ini saya ingin berbagi kepada teman-teman yang sudah memiliki rencana namun belum ada bayangan mengenai pengalaman hidup, pengalaman studi, serta pengalaman lainnya selama berada di sana. Mudah-mudahan dapat memberikan gambaran.

Saya menikmati banyaknya komunitas orang Indonesia di Inggris. Awalnya saya hanya tahu satu orang teman SMA yang sedang berkuliah di Manchester saat saya masih menyiapkan keberangkatan. Melalui dia saya mendapat banyak sekali informasi. Selain itu keberadaan PPI UK sangat membantu proses belajar. Di minggu awal saya sampai di Manchester sangat jarang berpapasan dengan orang Indonesia sewaktu itu. Akan tetapi setelah mengikuti acara yang diselenggarakan PPI Greater Manchester (GM), perasaan kangen seketika berkurang. Ternyata orang Indonesia di kota Manchester tidaklah sedikit. Disambut dengan ‘bahasa rumah’ (Bahasa Indonesia), kehangatan wajah Indonesia, dan makanan khas Indonesia pada pertemuan PPI GM sangat mengobati homesick.

Setelah sebulan proses adaptasi sudah terlewati dan melewati fase homesick awal, saya mulai penasaran untuk lebih banyak bermain dengan teman-teman lokal dan internasional. Pertama dengan teman satu flat yang terdiri atas multi bangsa, Cina, Inggris dan Jamaika. Meskipun dikarenakan kesibukan masing-masing yang mengharuskan kami hanya bisa mengobrol saat bertemu di dapur, saya sempatkan untuk mengobrol dan belajar masak dari masing-masing sesuai menu negara asal mereka. Saya pun mengusulkan agar kita saling berbagi informasi mengenai diri masing-masing agar bisa lebih mengenal, dari hal yang ditakuti sampai kesukaan sehingga suasana mulai cair dan bisa saling bertoleransi. Kami pun saling bekerja sama dalam membersihkan dapur sehingga saya banyak belajar dengan teman yang sangat higienis dalam bersih-bersih. Terbiasa dalam kultur rumah tangga Indonesia yang memiliki asisten rumah tangga saya kagum dengan Romana (anak lokal) yang sudah cekatan mengerjakan pekerjaan rumah. Dengan biaya asisten rumah tangga yang sangat mahal, anak lokal sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah termasuk memasak.

Selain itu, didorong oleh rasa kangen dengan masakan Indonesia, kebanyakan pelajar memang mendadak jadi koki. Mulai berani mencoba beragam resep nusantara lalu menjadikan teman satu flat sebagai tester. Oleh karenanya, selain menjadi tambah mandiri mengatur diri sendiri, bekal yang saya dapat setelah sekolah ke luar negeri adalah mendadak bisa masak lho, percaya deh 😉
Di samping kaya akan pengalaman tinggal sendiri yang berwarna-warni, saya merasakan pengalaman belajar yang seru dan menantang. Standar kualitas fasilitas pendidikan yang modern, saya merasakan fasilitas perpustakaan dan ruang belajar yang nyaman, khas arsitektur Inggris. Pengajar pun professional dan terlatih mengajar mahasiswa internasional. Kesempatan kerja kelompok dengan teman dari negara yang berbeda memberikan tantangan tersendiri. Hasil kesimpulan saya setelah mencoba dengan teman dari kultur berbeda, kultur negara terkadang mempengaruhi perilaku seseorang. Tetapi secara keseluruhan perilaku seseorang ditentukan oleh watak orang tersebut sendiri. Memang kita terkadang bisa menggunakan stereotype bahwa teman dari Jerman lebih tepat waktu dari teman negara lain, tetapi semaunya tergantung orangnya. Ada teman yang rajin dan tidak sedikit yang kurang rajin. Ada yang enak buat kerjasama kelompok ada yang kurang. Semua tergantung motivasi masing-masing.

Selain soal tinggal mandiri dan belajar, ada hal yang paling jadi incaran pelajar internasioanal di Inggris yaitu jalan-jalan dan nonton bola. Waktu jalan-jalan memang harus diatur dengan sangat cepat dan bijak. Baru sehari di sana, saya dari Manchester langsung ke London untuk jalan-jalan dan mengurus surat lapor di keduataan. Kemudian ke Liverpool dan yang jelas stadium di Manchester sendiri. Kebetulan saya suka bola.

Setelah itu, kita bisa menjadwalkan liburan setiap akhir pekan. Dengan adanya libur panjang satu bulan di bulan Desember untuk Natal dan Paskah di akhir bulan April hingga Mei, pelajar di Inggris bisa lebih lega jadwal jalan-jalannya dibanding pelajar di Eropa daratan lainnya. Saya menyempatkan untuk ‘menyeberang’ ke Eropa Daratan yakni Belanda, Jerman, dan Berlin menemui teman lama yang sedang sekolah di sana. Kebetulan perjalanan saya adalah single trip. Saya terbang sendirian dari Manchester ke Amsterdam dan dijemput teman di sana. Saya sekali-kali ingin merasakan serunya jalan-jalan sendiri mumpung masih single. Setelah selesai pengumpulan disertasi saya memanfaatkan waktu untuk ke utara Inggris ke Scotlandia dan jalan-jalan hingga ujung utara. Dikarenakan sudah homesick berat saya memutuskan pulang dan membatalkan beberapa perjalanan ke Eropa daratan dengan teman-teman. Saran saya jika ingin jalan-jalan ke suatu tempat segera lakukan, karena terkadang kita bisa tidak sempat lagi. Tapi saat itu tempat-tempat prioritas yang ingin saya kunjungi sudah terpenuhi semua 

Di ujung perjalanan, saat kuliah keluar kita dengan mudah akrab dengan teman-teman baru. Dikarenakan sama-sama merantau dan jauh dari keluarga, saya merasakan sangat sedih ketika harus berpisah dengan teman satu flat dan teman seprogram studi. Satu tahun terkadang terasa lambat saat kita terjangkit homesick, sebaliknya terasa sangat cepat ketika sudah tiba-tiba farewell dengan teman-teman di sana. Kami saling berpelukan dan berharap bisa bertemu lagi di belahan dunia lain. Saling mengajak satu sama lain datang ke negara masing-masing dan siap menjadi pemandu wisata.

Saya menyempatkan pulang sebentar pasca pengumpulan disertasi (tesis S2) di akhir September 2013, kemudian kembali lagi untuk menghadiri wisuda di bulan Desember 2013. Setelah menyelesaikan seluruh agenda, saya pulang kembali ke Indonesia dengan sebuah harapan. Ilmu yang telah saya dapatkan dapat bermanfaat untuk teman-teman sekitar dan bangsa nantinya. Saya berharap semakin banyak teman-teman yang berkesempatan merasakan pendidikan yang lebih tinggi dan pengalaman hidup yang lebih berwarna serta merasakan indahnya ciptaan Tuhan YME di belahan dunia lain. Kelebihan dari bersekolah di luar negeri memang membuka wawasan seluas-luasnya dengan menjadikan kita mandiri, lebih dewasa, lebih berani, dan lebih toleransi terhadap budaya atau kepercayaan lain. Kita jauh lebih paham budaya negara lain secara global. Berkunjung ke negara lain membuat saya bisa membandingkan negeri sendiri dengan negara maju lain. Saya semakin sadar potensi negara kita, baik dari segi potensi alam dan budaya. Kita tidak kalah, dan saya yakin dengan bertambahnya pelajar kita per tahun menuntut ilmu ke luar semakin banyak lulusan master dan doktor. Semakin banyak transfer ilmu ke pelajar Indonesia yang dapat meningkatkan kompetensi pemuda kita sehingga mudah-mudahan bangsa kita bisa semakin maju dan semakin besar, demi Indonesia Raya…

Larastri Kumaralalita
Master of Science (Msc) in Management and Information Systems,
Institute for Development Policy and Management (IDPM)
University of Manchester, Manchester, UK

sumber : http://ppiuk.org/master-di-tanah-britania-membuka-mata-membuka-wawasan-demi-negeri/

Oleh. Muharram Atha Rasyadi

Atha dan KeluargaMengejar mimpi untuk kuliah di luar negeri? Siapa yang tidak mau?

Terlebih dalam 4 tahun terakhir ini, kesempatan untuk meraih impian itu melalui berbagai macam program beasiswa terbuka seluas-luasnya. Anak-anak muda Indonesia pun berlomba-lomba untuk mendapatkan “kemewahan” tersebut.

Namun, bagi mereka yang sudah berkeluarga, mengambil keputusan untuk melanjutkan studi di luar negeri bukan merupakan keputusan yang mudah. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan.

Oleh karena itu, saya mencoba untuk menyusun beberapa tips singkat yang dapat menjadi panduan bagi kamu yang ingin membawa keluarga (untuk menemani) selama studi di luar negeri.

Semoga bermanfaat!

  1. Diskusikan dengan pasangan

Sebelum melanjutkan pada tahap-tahap berikutnya, ada baiknya rencana besar ini didiskusikan bersama dengan pasangan terkasih. Siapkah untuk mengajak keluarga dengan segala konsekuensinya?

Meninggalkan kampung halaman, bahkan tanah air tercinta, untuk satu, dua, tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ada hal-hal yang pastinya harus dikorbankan jika ingin mengajak keluarga untuk menemani kita selama studi di negara tujuan. Pekerjaan, jumlah tabungan, pendidikan anak, pendapat orangtua mungkin merupakan contoh hal-hal yang dapat dipertimbangkan dengan baik sebelum mengambil keputusan besar ini. Dan pastinya ingat, setiap keluarga punya kondisi yang berbeda. Tidak selamanya mengajak pasangan dan buah hati untuk mendampingi kita ke negara tujuan menjadi lebih baik dibandingkan meninggalkannya (sementara) di Indonesia. Dan kamu yang lebih tahu kondisi keluargamu dengan pasti, bukan orang lain. J

  1. Kenali beasiswamu!

Masih terkait dengan poin pertama, namun kali ini fokus pada aspek beasiswa yang kamu dapat.

Bagi kamu yang berkesempatan untuk kuliah di luar negeri melalui beasiswa, harap cermati fasilitas apa saja yang bisa didapat ketika mengenyam pendidikan di sana. Caranya? Googling, cek website beasiswa terkait, tanya penerima beasiswa yang sama di gelombang/tahun sebelumnya, serta perhatikan buku panduan/kontrak yang diberikan jika sudah didapat. Pastikan kamu mengetahui apakah beasiswa tersebut memberikan tunjangan keluarga selama kalian hidup di sana atau tidak. Beda beasiswa, mungkin beda kebijakan. So, pastikan diri kamu benar-benar tahu terkait hal ini, bukan karena katanya-katanya.

Alasannya tentu karena tunjangan hidup keluarga menjadi salah satu konsideran penting dalam mengambil keputusan besar ini. Kalau sudah yakin untuk membawa keluarga, sila lanjutkan membaca ke bawah. J

  1. Biaya hidup, kampus, dan kota tujuan

Tiga hal ini berkaitan, namun jangan sampai prioritasmu terbalik!

Sebagai (calon) mahasiswa S2 ataupun S3, tentu kamu mau mendapatkan kampus terbaik sesuai dengan keinginan dan kemampuanmu saat ini. Pastikan kampus yang menjadi tujuanmu memiliki jurusan/bidang yang benar-benar kamu minati dan memiliki modul yang sesuai untuk mengembangkan diri dan menambah pengetahuanmu.

Namun ketika membawa keluarga, pertimbangan lain harus ditambahkan. Sebisa mungkin gali informasi sedalam-dalamnya mengenai standar hidup di kota yang menjadi tempat kampus target studi kamu. Banyak website yang menyediakan informasi sejenis ini, atau mudahnya kamu bisa tanyakan langsung ke mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang/pernah kuliah di kota tersebut. Pastikan kamu mendapat gambaran berapa jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan hidup bulanan, tiap kota memiliki standar yang berbeda.

Untuk di UK (dan negara-negara lain pada umumnya), biaya akomodasi menjadi faktor yang paling perlu diperhatikan karena porsinya yang bisa mencapai 50-70% dari pengeluaran kamu setiap bulannya. Apalagi dengan membawa keluarga, otomatis kamu tidak bisa menempati akomodasi/asrama yang disediakan oleh kampus bagi mereka yang masih lajang. Boleh jadi ada kampus-kampus yang menyediakan fasilitas akomodasi untuk keluarga, namun biasanya jumlahnya hanya sedikit sekali. Jadi jangan terlalu banyak berharap dari sini. Biasanya, mereka yang membawa keluarga akan mencari private accommodation berupa flat maupun rumah dengan biaya yang lebih tinggi. Saya pun salah satunya.

Selain biaya akomodasi, cari tahu juga informasi mengenai biaya makan dan keperluan sehari-hari, termasuk transportasi. Dengan begitu, kamu bisa mulai membuat perkiraan anggaranmu dengan lebih matang.

  1. Lagi-lagi soal akomodasi

Bagi saya, hal ini sangat penting. Selain mengetahui kisaran biaya yang perlu kamu habiskan untuk menyewa sebuah flat atau rumah di negara tujuan, kamu juga harus memastikan apakah kamu bisa mendapatkan sewa tersebut sebelum berangkat dari Indonesia.

Misalnya, kalau kamu berencana berangkat pada akhir bulan Juli 2018, ada baiknya kamu sudah mendapatkan kontrak untuk menyewa akomodasi di kota tujuan pada awal bulan Juli 2018. Jadi ketika kamu mendaratkan kaki di sana, kamu bisa langsung merebahkan badan di rumah yang kamu sewa setelah mengambil kuncinya dari landlord atau agen. Pastinya kalian ingin beristirahat dengan nyaman kan setelah melewati penerbangan yang tidak sebentar?

Apa saja yang harus dilakukan? Mulailah mencari akomodasi-akomodasi yang tersedia mulai sekitar tanggal kedatangan kamu ke sana. Gumtree, Zoopla, Rightmove merupakan layanan-layanan yang bisa kamu manfaatkan untuk mencari akomodasi di UK. Jangan lupa untuk tetap memanfaatkan situs pencari andalan kamu ya, Google! Atau kalau kamu beruntung, kamu bisa mendapatkan akomodasi “lungsuran” dari mahasiswa di sana yang akan kembali ke Indonesia tak jauh sebelum kamu datang ke sana. Manfaatkan jaringanmu dan terus aktif mencari informasi terkait ini, jangan menyerah! Untuk pengalaman saya (dan istri) mencari akomodasi di UK, boleh lihat di tautan ini: http://sawitriwening.blogspot.co.uk/2016/09/pertemuan-dengan-hathaway-house.html

Jika kamu belum mendapatkan akomodasi sebelum terbang ke negara tujuan, konsekuensinya kamu akan menghabiskan beberapa malam pertamamu di hotel/penginapan/airbnb ketika mendarat di sana sambil mencari akomodasi-akomodasi yang bisa disewa per bulan. Jadikan situasi ini sebagai kemungkinan terburukmu, karena tentunya dana tambahan yang dihabiskan akan jauh lebih banyak dibandingkan kamu sudah mendapatkan akomodasi sebelum terbang ke sana.

  1. Before you book your flight…

Memesan tiket pesawat memang mudah, namun mengurus visa soal lain. Apalagi visa untuk satu rombongan keluarga; kamu, pasanganmu, dan anak. Cari tahu sebanyak-banyaknya informasi mengenai syarat visa dependant negara tujuanmu.

Untuk visa UK, beberapa hal yang perlu dipersiapkan adalah: translasi dokumen-dokumen yang relevan ke dalam bahasa inggris seperti surat nikah, kartu keluarga, dan akta lahir anak, dana mengendap dalam jumlah tertentu, serta pemeriksaan TB di rumah sakit yang khusus ditunjuk oleh pemerintah UK. Info lebih lengkapnya, kamu bisa coba lihat di sini: https://www.gov.uk/apply-uk-visa

Walaupun proses aplikasi visa baru bisa dimulai 3 bulan sebelum masa studi, ada baiknya kamu mulai mencicil syarat-syarat yang dibutuhkan jauh-jauh hari untuk meringankan beban pada mau melakukan aplikasi. Apalagi kamu tidak hanya mengurus dirimu sendiri saja kali ini. Lagi-lagi, coba cari tahu dari mereka yang sudah pernah menjalani semua proses ini. J

Good luck with your preparation!

**) penulis merupakan mahasiswa S2 jurusan International Development di University of Bristol

 

sumber : http://ppiuk.org/membawa-keluarga-ke-uk/

Oleh. Hanif Azhar

HanifKabar gembira untuk kita semua! LPDP, sudah buka portalnya!!

Studi lanjut bukan sekedar asa! Cetak SDM untuk Indonesia!!!

Yeay! Akhirnya beasiswa LPDP resmi dibuka lagi! Sebuah kesempatan emas bagi para pemburu beasiswa untuk melanjutkan studi. Kabar buruknya, proses seleksi LPDP 2017 bakal jadi super ketat. Bahkan Pak Eko Prasetyo, Dirut LPDP, memperkirakan pendaftar LPDP tahun ini akan mencapai lima kali lipat dari tahun sebelumnya (Detik Finance). Hal ini dipicu oleh pamor LPDP yang semakin semakin prestis dan kesempatan pendaftaran hanya dibuka dua kali dalam setahun, masing-masing sekali untuk pelamar dalam negeri dan luar negeri (sebelumnya empat kali dalam setahun). Tahun ini LPDP berencana memberikan 5000 beasiswa dengan pendaftar lebih dari 300.000 orang (FYI, pendaftar tahun 2016 sudah mencapai 60.000 orang). Kuota keluar negeri juga dibatasi sekitar 40%. Jadi, peluang yang ingin melanjutkan studi abroad adalah 0.006. Semakin tertantang kan? Oleh sebab itu, bagi kalian yang akan mendaftar beasiswa sejuta umat ini, hendaknya mempersiapkan diri dengan matang. Bagi saya, ada beberapa point utama yang perlu diperhatikan selama proses pendaftaran!

1.Kalibrasi Niat

Niat merupakan sepertiga dari usaha, begitu kata pepatah. Bagi teman-teman yang ingin mendaftar beasiswa LPDP, coba refleksi dulu; cek niat kita, berdialoglah dalam hening, jujurlah pada hati sanubari. Sudah luruskah niat kita? Jangan sampai kita mendaftar LPDP hanya supaya terlihat keren, apalagi korban gaya hudup ala lagu parodinya Awkarin Feat. Young Lex, Kuliah pun gue tetap OK! Lulusan cumlaude dari ITB! Lanjut ambil MBA di UK! Pakai beasiswa LPDP! (Istighfar berjamaah).

Please! Beasiswa ini dari uang rakyat! bukan sebagai pemuas nafsu gaya hidup pemuda kekinian sesaat. Coba kita cek kembali visi besar LPDP, Menjadi lembaga pengelola dana terbaik di tingkat regional untuk mempersiapkan pemimpin masa depan serta mendorong inovasi bagi Indonesia yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan. berat kan? Menyiapkan pemimpin Indonesia masa depan bro! Sudah siapkah kita mengabdi buat ibu pertiwi? Melanjutkan studi tidak hanya sekedar hura-hura, selfie pamer petualangan ke berbagai negeri. Ini merupakan tugas mulia belajar, menggali ilmu sebanyak mungkin untuk diaplikasikan di Indonesia di masa depan. Sebagaimana pesan Ibu Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan RI dalam acara Welcoming Alumni LPDP 2017, “…it’s time for you membayar kembali, tidak dalam bentuk rupiah, tapi mengembangkan diri, mengambil level pendidikan di atas rata-rata dan universitas terbaik di dunia adalah suatu kenikmatan langka”.

2. IQRO’! Bacalah!

Tahap pertama sebelum kita mendaftar, mohon, bacalah! Semua informasi dasar terkait pendaftaran LPDP sudah lengkap di website resminya. Mulai dari persyaratan, alur proses seleksi, sampai daftar kampus tujuan, sudah dijadikan buku panduan digital yang siap untuk diunduh dan dibaca kapan saja.

Budaya literasi kita memang belum tinggi. Kebanyakan orang lebih suka langsung bertanya tanpa berusaha mencari informasi dulu. Bahkan, tidak sedikit yang masih bertanya, “Kak, persyaratan LPDP itu apa saja?” “Kak, cara daftar LPDP itu bagaimana?” “Kak, TOEFL saya belum sampai persyaratan, bias tetap daftar tidak?” dan pertanyaan-pertanyaan konyol lain yang notabenenya sudah tersedia lengkap di situs resmi LPDP! Kalau tidak percaya, silahkan cek komentar-komentar konyol di fanpage facebook LPDP.

Harapannya, kita semua proaktif berusaha mencari informasi dasar beasiswa LPDP. Apabila ada hal lain yang belum jelas, para awardee sampai customer service LPDP sangan siap untuk menjawab semua pertanyaan kok. Banyak juga tulisan-tulisan di blog dan berbagai social media tentang pengalaman mengejar beasiswa ini. Jadi tenang saja, kita tidak akan pernah kekurangan sumber informasi selama kita mau berusaha. Selain itu, kita juga harus proaktif membuat observasi pribadi terkait persyaratan-persyaratannya, misal Letter of Acceptance dari universitas tujuan. Silahkan kepoin website resminya; cari persyaratan pendaftaran programnya, temukan timeline yang dibutuhkan selama studi, berapa lama durasi perkuliahan, berapa skor TOEFL iBT atau IELTS yang dibutuhkan, apakah diperlukan GRE/GMAT, bagaimana kondisi geografi dan social budaya tempatnya, dan lain sebagainya. Setelah membuat daftar tersebut, silahkan membuat tabel lain untuk kampus alternatif kalian. Cermati programnya, bandingkan kualitasnya, lihat peringkatnya, dan silahkan diprioritaskan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita.

Mengapa saya menekankan untuk proaktif dalam mencari informasi? Silahkan teman-teman bayangkan, untuk melanjutkan studi pasca sarjana baik di tingkat master maupun doctor itu kita dituntut untuk proaktif dan berfikir super kritis. Sekedar berbagi cerita pengalaman kuliah master di Britania Raya saja, setiap minggu kita dituntut untuk membaca minimal tiga jurnal internasional setiap pertemuan. Apabila dalam seminggu kita lima mata kuliah, berarti kita harus membaca 12 jurnal dan beberapa chapter buku bacaan. Oia, kita tidak hanya dituntut untuk membaca dan memahami saja, namun juga mengkritisinya. Belum lagi tugas-tugas essai lainnya. Masih ogah-ogahan untuk membaca? Yuk mulai dari sekarang kita pupuk budaya literasinya.

3. Atur Strategi

Kata Om Alexander Graham bell “Before anything else, preparation is the key of success”. Persiapan adalah segalanya. Tidak ada istilah keberuntungan. Karena sejatinya, keburuntungan adalah kerja keras (persiapan) yang bertemu kesempatan. Oleh sebab itu, Ketika niat kita sudah lurus, informasi yang dikumpulkan cukup mumpuni, yuk segera AKSI dan MENGATUR STRATEGI!

Sekedar cerita, awal tahun baru 2016, saya bersilaturahmi ke rumah sahabat saya awardee LPDP yang sedang libur musim dingin dari Belanda. Dia memaparkan pengalamannya mengejar cita untuk studi di Belanda yang penuh dengan keringat dan air mata. Selama dua tahun, sudah tak terhitung tetes air mata yang keluar, mempersiapkan Bahasa Inggris sampai tes IELTS berkali-kali, dan masih gagal. Belum lagi perjuangan untuk memenuhi persyaratan LPDP lainnya. “Pejuang sejati tak kan pernah menyerah” begitulah mottonya. Itulah yang membakar semangat saya untuk segera mematangkan strategi LPDP untuk melanjutkan studi ke UK September 2016. Supaya lebih jelas, berikut saya contohkan timeline saya.

Rencana di atas adalah proposal saya kepada Tuhan untuk tahun 2016. Alhamdulillah, hasil tak pernah mengkhianati usaha. Doa dan usaha saya diijabah oleh Allah. Walaupun, saya juga sudah menyiapkan beberapa alternative pilihan rencana seandainya, kemungkinan terburuk, saya gagal. Begitupun teman-teman, silahkan membuat timeline dan alternative sesuai kebutuhan. Apabila gagal, silahkan coba lagi, karena LPDP memberi dua kali jatah gagal tahap tes substansial. Kalaupun tetap gagal, itu bukan akhir dunia kok, jadi jangan sampai gelap mata sampai menghalalkan segala cara, memalsukan sertifikat Bahasa asing misalnya. Kita harus ingat bahwa LPDP itu dikelola oleh para professional di bidangnya. Jangan sampai kita menyesal dimasukkan daftar hitam karena kecurangan sesaat. Pernah membaca artikel-artikel tentang perjuangan para pengejar beasiswa kan? Ada yang 7 kali gagall tes IELTS, 10 kali ditolak beasiswa, dan berbagai macam drama lainnya. itu kisah nyata, sebagai pemicu semangat kita. Amin!

4. Konsep 3A: Appearance, Achievement, Attitude

“I’m intrigued by the way in which physical appearance can often direct a person’s life; things happen differently for a beautiful woman than for a plain one.” — Penelope Lively

Appearance: Kata pepatah sih kita tidak boleh menghakimi sebuah buku dari sampulnya. Namun, menjaga penampilan itu tetaplah sesuatu yang penting. Dalam proses seleksi LPDP misalnya. Coba bayangkan kita sebagai interviewer menghadapi pendaftar dengan pakaian yang tidak rapi, rambut acak-acakan, celana jins robek-eobek, dan bau apek keringat. Bagaimana asumsi kita? Okay poinnya adalah konsep adil dalam berpenampilan, kemampuan menjaga penampilan menyesuaikan situasi. Mengetahui waktunya dress up maupun dress down. FYI, Smart appearance bukan berarti harus memakai semua barang branded seperti mall berjalan lho ya!

Achievement: Untuk mendaftar LPDP, kita harus punya achievement, baik yang sudah dicapai, yang sedang dilakukan, dan yang mau dicapai di masa depan. Itu semua akan terbaca dalam essay kita dan akan direkonfirmasi oleh interviewer. “Kak, tapi saya ga punya penghargaan? lomba lari kelereng aja ga pernah menang, apalagi lomba kejar gebetan?” Satu hal yang perlu teman-teman ketahui, tidak selamanya pencapaian itu berupa piagam penghargaan atau piala emas bersilauan. Achievement dapat berwujud aksi nyata. Bagi pelaku organisasi dan komunitas kepemudaan, optimalkan prestasi dengan membuat perubahan nyata. Bagi peneliti, buatlah riset yang bermanfaat dan aplikatif! Bagi pecinta kegiatan kerelawananan, silahkan optimalkan aksi sosialmu! Tidak hanya berlaga seperti pahlawan di social media doang. Intinya, definisi achievement setiap orang berbeda. Manfaatkan passionmu disana!

Attitude: Kecerdasan dalam bersikap dan menunjukkan moral yang baik merupakan kuncinya. Sepintar apapun kita kalau attitude NOL, maka bukanlah apa-apa. LPDP akan berinvestasi kepada pemimpin Indonesia masa depan yang punya attitude baik. Karena tidak semua orang dengan tingkat pendidikan tinggi berbanding lurus dengan tingkat moral. Sebagaimana kata pepatah, “two things define you: Your patience when you have nothing, and your attitude when you have everything”.

5. Ikhlas & Doa

Bab ikhlas merupakan bagian paling sulit. Setelah kita melaksanakan semua poin di atas, hal terakhir adalah ikhlas, menerima apapun hasilnya. Ikhas memang mudah diucapkan, namun sangat sulit diaplikasikan. Tidak sedikit kisah depresi dan kecewa yang mendalam karena kegagalan dalam mengejar beasiswa. Usaha terakhir yang dapat kita lakukan tinggal doa. Orang tua, bapak ibu guru, dosen, pemuka agama, minta maaflah atas kesalahan baik sengaja maupun tidak, dan mintalah mereka ikut mendoakan hasil terbaik untuk kita. Karena kita tidak tahu, dari mulut siapa doa kita dikabulkanl! Perbanyak amal jariyah, shodaqoh, dan berbagi kepada orang yang membutuhkan. Dekatkan diri pada Sang Pencipta. Pendekatan yang terakhir memang lebih ke arah spiritual dan emosional.

Jaga semangat untuk teman-teman yang sedang berjuang mengejar mimpi. Apabila butuh diskusi dan feedback, silahkan mengirimkan pesan ke hanifazhar@live.com. Semoga tulisannya bermanfaat. Jabat erat dari Glasgow, UK

Timeline Hanif

**) penulis merupakan mahasiswa S2 jurusan Creative Industry & Cultural Policy di University of Glasgow

 

sumber : http://ppiuk.org/lanjut-studi-di-uk-dengan-beasiswa-lpdp-why-not/

Disabilitas masih menjadi hal yang tabu di masyarakat kita. Sampai hari ini masih banyak orang yang beranggapan bahwa penyandang disabilitas tidak layak untuk menempati posisi-posisi penting di masyarakat. Akibatnya, banyak diantara mereka yang pada akhirnya tersingkirkan dari kehidupan sosial. Sebagai salah satu dari mereka, aku pun tidak lepas dari stereotipe terhadap kaum difabel. Tantangan demi tantangan harus kulewati demi bisa diterima layaknya teman-temanku yang ‘sempurna.’ Salah satu tantangan terbesar yang harus kulewati adalah berhadapan dengan dunia pendidikan yang kurang memadai untuk kaum difabel.

Aku terlahir dengan gangguan saraf motorik di tubuhku. Dampaknya aku tak mampu untuk melakukan beberapa aktifitas, termasuk menulis. Keterbatasan inilah yang membuat orang tuaku harus banting tulang kesana kemari agar aku mampu bersekolah di sekolah umum seperti teman-temanku ‘normal’ yang lainnya. Untuk sekolah di sekolah umum, orang tuaku harus menemui beberapa orang ‘penting’ dan lembaga, cara logis dan umum yang dilakukan oleh banyak orang Indonesia. Anda punya masalah? Temui mereka orang-orang ‘penting,’ syukur-syukur berakhir dengan solusi dan ‘sedikit’ rasa iba. Namun, berkat keteguhan dan kesabaran ayah dan ibuku, aku diberi jalan. Meskipun harus melakukan beberapa ujian tes masuk untuk meyakinkan bahwa aku memiliki kapabilitas yang sama dengan mereka yang ‘normal,’ aku akhirnya bisa diterima di sekolah yang kuinginkan pada waktu itu.

Apa yang kualami juga dihadapi oleh banyak anak-anak difabel lainnya. Mereka harus berkerja keras melewati beberapa tes masuk untuk membuktikan bahwa mereka mampu berfikir dan berkerja seperti layaknya mereka yang ‘normal.’ Bagi mereka yang beruntung, bersekolah di sekolah umum adalah anugerah bagi kaum difabel. Bagi mereka yang gagal, mau tidak mau mereka harus rela dianggap sebagai manusia ‘tidak normal’. Penghukuman yang sungguh tidak adil terhadap kami kaum difabel.

Berulang kali ku berucap syukur, entah apa jadinya jika saat itu tak satupun sekolah ‘normal’ mau menerimaku. Barangkali Sekolah Luar Biasa (SLB) adalah satu-satunya jalan pilihan yang harus ditempuh. SLB yang sebetulnya tidaklah ‘luar biasa’ bagi kami kaum difabel. Karena di sekolah-sekolah itulah biasanya otak kaum difabel dikerangkeng, hati dan fisik mereka dipisahkan dari komunitas luas. Teringat ketika aku berkunjung ke salah satu SLB di daerah Jawa Tengah tidak lama ini. Sedih rasanya melihat anak-anak yang seharusnya mampu belajar Aljebra di bangku kelas 6 SD malah masih diajarkan menghitung angka 1 sampai 10 karena guru yang tidak berkompeten dan beranggapan bahwa anak-anak ini tidak mampu mencapai tingkat kecerdasan yang diinginkan. Sekolah yang seharusnya membuat anak ‘tidak biasa’ menjadi ‘luar biasa’ malah memberikan ‘keterbatasan’ yang sesungguhnya, bagi kaum difabel untuk lebih menikmati kehidupan.

Hari-hari di sekolah kujalani dengan penuh cerita. Cerita yang berbeda. Jika boleh jujur, dari hati yang paling dalam, sungguh ku tak ingin mengulang kembali detil cerita luka yang kualami sewaktu sekolah. Awalnya aku berpikir, cukuplah ini menjadi hikmah dalam hidupku yang harus kutimbun dalam-dalam di lubuk hati. Namun belakangan aku sadar. Ini sesungguhnya bukanlah cerita menyedihkan, harusnya ini menjadi cerita membahagiakan tentang kekuatan dan keberhasilanku melawan keterbatasan. Harusnya ini menjadi cerita hikmah yang sepatutnya didengarkan oleh setiap orang yang penuh kesempurnaan di dunia ini, agar kaum difabel bisa berjalan beriringan dalam setiap cerita-cerita hidup mereka.

parents stop the bullying
Bullying.’ Sebuah kata yang terus menghukum jantung hatiku semenjak belasan tahun yang lalu. Hari-hari disaat dilecehkan teman, didorong hingga kepalaku penuh jahitan, dikucilkan dari pergaulan, dan pulang ke rumah penuh tangisan. Yang ku ingat, tak ada yang bisa kulakukan selain berdiam diri di kelas di saat yang lain berlarian di jam istirahat. Datang ke sekolah selambat mungkin dan pulang secepat mungkin. Datang lebih awal adalah membuka kesempatan mendapatkan ciutan dan pulang lebih awal adalah satu-satunya jalan untuk melarikan diri dari pergaulan.

Dari semua cerita, satu hal yang masih kuingat jelas karena yang paling menyakitkan, mereka yang selalu meragukan kemampuanku. Ada satu pertanyaan yang sering kuterima. ‘Apa cita-citamu?’ Pertanyaan yang sebetulnya standar buat anak-anak SD yang waktu itu belum tahu apa-apa. Dengan penuh keyakinan ku selalu menjawab bahwa cita-citaku adalah menjadi seorang guru. Sejak kecil, Ayahku selalu menanamkan di diriku bahwa orang-orang terbaik adalah mereka yang bermanfaat bagi orang-orang disekitarnya. Dan menurutku guru adalah salah satunya. Tapi sayang sekali beberapa dari mereka meragukannya dan ada yang menertawakannya, dan ada juga yang mengatakan ‘gimana jadi guru nulis di papan tulis aja nggak bisa?’

Aku selalu berharap bahwacerita-cerita yang kualami di bangku sekolah tidak lagi dirasakan oleh adik-adikku yang juga mengalami keterbatasan fisik. Tapi sepertinya, harapan itu masih jauh dari kenyataan. Beberapa kali aku diundang untuk berbagi cerita di beberapa sekolah dan cerita-cerita yang tidak jauh berbeda ku dengar kembali dari mereka.

Aku pernah ditanya, “Memangnya ada hubungan antara ‘bullying’ dengan prestasi di sekolah?’ Dengan lantang aku menjawab ‘Iya.’ Aku tahu betul karena aku mengalaminya. Tahun 2007, seusai menamatkan SMP, aku mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan SMA di Qatar, negara kecil di padang gurun Timur Tengah. Walaupun mencari sekolah yang bersedia menerima kekuranganku masih terbilang susah pada waktu itu, ada satu hal yang berbeda; tak ada lagi bullying. Pada saat bersamaan percaya diriku tumbuh dan bisa bersaing secara akademik dengan murid normal lainnya.

Jika boleh jujur, hari-hari yang penuh kebahagiaan justru kudapatkan setelah pergi ribuan kilometer dari bumi pertiwi. Hari-hari yang kulewati bukan lagi saat-saat mendendam rasa benci terhadap teman yang membully, perjuanganku jauh lebih membahagiakan. Perjuangan yang ditemani oleh sahabat-sahabat yang memberikanku dukungan tiada tara. Dukungan mental yang luar biasa sebagai jawaban atas kelemahanku. Setelah 18 tahun, akhirnya kunikmati apa itu makna persahabatan. Persahabatan yang menjadi asa dan semangatku yang sebenarnya. Efeknya, ku memahami menjadi manusia yang utuh, percaya diriku mulai tumbuh, dan nilaiku melonjak drastis. Berbekal nilai IPK hampir sempurna kuselesaikan kuliah sarjana dengan predikat lulusan terbaik dan salah satu yang tercepat dari Universitas Qatar dan akhirnya bisa melajutkan sekolah di tanah Eropa.

Disini, aku sangat terkesan dengan bagaimana masyarakat memahami kaum difabel dan melindungi hak-hak mereka. Sekolah-sekolah diwajibkan untuk menerima dan menyediakan fasilitas kepada siswanya yang berkebutuhan khusus. Murid-murid ini tidak dipandang sebelah mata. Mereka dinilai melalui apa yang mereka lakukan, bukan dari apa yang mereka tidak bisa lakukan. Mereka dianggap sama, walaupun dengan cara yang berbeda. Masyarakat disini percaya bahwa dibalik kekurangan yang dimiliki kaum difabel, tersimpan potensi besar dalam diri mereka. Kepercayaan tersebut mendorong kaum difabel disini untuk terus menggali potensi yang mereka miliki. Hebatnya lagi, guru-guru disini mampu mengajarkan arti perbedaan pada siswa-siswanya dengan cara yang sederhana seperti memberikan catatan pelajaran tertulis kepada siswanya yang tidak bisa menulis, memberikan waktu tambahan kepada mereka yang membutuhkannya, atau memberikan kelas tambahan untuk mereka yang memiliki learning difficulties. Proses inilah yang memberikan rangsangan kepada kaum difabel untuk terus percaya diri dari waktu ke waktu dalam meraih mimpi dan cita-citanya.

Ceritaku bukanlah cerita yang istimewa karena ada banyak orang di luar sana yang mengalami hal yang sama atau bahkan jauh lebih luar biasa. Tetapi hari ini ku merasa menjadi manusia paling beruntung di dunia. Keberuntungan yang mungkin tidak didapatkan oleh banyak teman-teman difabel lainnya di Indonesia. Untuk semua perumus kebijakan, ahli pendidikan, atau bahkan pejuang pendidikan di Indonesia, harusnya kita sepakat bahwa pendidikan seharusnya menjadi rumah bagi semua orang. Pendidikan juga adalah titik awal dimana manusia dapat berjalan maju dan menikmati indahnya kehidupan. Jika titik awal ini buruk, maka yang seterusnya pun akan buruk. Kami kaum difabel memang berbeda, tetapi perbedaan itu bukanlah alasan mutlak untuk menolak kami mengenyam pendidikan di sekolah yang layak. Jika memang kami harus berjuang melawan keterbatasan, kami pasti akan lakukan, tapi jangan pernah halangi hak kami dan mimpi-mimpi kami.

Yang masih ingin menjadi guru,

Fikar – Manchester (Mei, 2015).

 

sumber : http://ppiuk.org/aku-sekolah-dan-disabilitas/

“Ibu, tanganmu yang mengepal adalah kepak sayap burung-burung. Yang membawa benih dan menebarkannya di belantara matahari”

Kalimat di atas adalah kalimat pembuka buku “La Tahzan for working mothers” (2008), yang merupakan kumpulan tulisan dari ibu-ibu muda yang memilih untuk berkarya di luar rumah. Working mom, istilah kekinian masa itu. Saya turut menulis di sana. Menceritakan salah 1 episode menarik dalam hidup, yaitu ketika harus dinas jauh beberapa waktu meninggalkan bayi kecil. Saat-saat ketika seorang working mom dihadapkan pada konsekuensi logis atas sebuah pilihan hidup yang dibuat dengan penuh kesadaran. Tanggung jawab professional sebagai pegawai yang disiplin. Tanggung jawab keilmuan sebagai seorang penjelajah oase ilmu pengetahuan. Dan tanggung jawab sebagai seorang ibu kesayangan. Semuanya berkejar-kejaran seiring berlarinya sang waktu. Setiap kita punya kisah yang unik, bukan? Kebetulan kisah seru saya di antaranya adalah menyiapkan ASIP di perjalanan, termasuk di pesawat dan di sudut ruang-ruang rapat nun jauh di belahan bumi yang lain.

Siapa sangka 6 tahun kemudian saya kembali dihadapkan pada situasi yang mirip, walau dengan tingkat kerumitan yang jauh lebih melilit. Dua koper besar yang sudah dipenuhi dengan peralatan tempur 2 bocah yang hendak ikut berpetualang membuka wawasan di negeri yang asing, mendadak hanya bisa teronggok membisu. Seiring sebuah peristiwa fenomenal yang membuat suami saya tidak bisa ikut ke Negeri yang Oren. Setiap kita punya kisah yang unik, bukan? Kebetulan kisah unik saya di antaranya adalah berusaha membesarkan hati saat mengantarkan kedua cahaya mata ke ranah minang.

Maka kemudian saat rindu melanda, saat sibuk menghitung ratusan hari menuju perjumpaan berikutnya, saya sampaikan gumam mesra melalui angin.

Bergembiralah Nak, terus bergembira. Semoga kaki, tangan dan badanmu semakin kuat.

Pun hati dan jiwamu.

Cerialah Nak, terus ceria. Semoga do’a-do’a kami sanggup membuka pintu-pintu langit, memohonkan penjagaaan kepada Yang Maha Menjaga.

Tersenyumlah Nak, terus tersenyum. Mulai belajarlah riang menapaki mushola-mushola ranah minang, mengikuti pemuda-pemuda Surau kampung halaman. Sebuah kemewahan yang jarang ada di kota-kota besar. Salam rindu emak.

Staying abroad mom

Jadi mana bagian dari tulisan ini yang menyangkut tema Laskar Van Holland? Pada dasarnya ini adalah tulisan mengenai Laskar pencari ilmu di segmen tertentu, yang mungkin jarang dibahas karena dianggap tabu (mungkin). Yaitu para ibu yang kebetulan dihadapkan pada kondisi harus berpisah dengan sang buah hati. Sebutlah studying abroad mom. Tidak hanya di Belanda. Saya mungkin termasuk yang bawel dan lebay, karena setiap saat sibuk sekali membuat puisi dan prosa menceritakan kerinduan kepada anak-anak. Namun saya yakin ada banyak sekali kaum ibu yang bahkan tidak kuasa menuliskan kerinduan itu. Ada banyak sekali para ibu yang bahkan harus setiap saat menyibukkan diri di kampus menepis rindu. Ada banyak sekali para ibu penuntut ilmu yang diam-diam menangis di kesendiriannya setiap mengingat kesayangan. Ada banyak sekali para ibu-ibu penuntut ilmu itu yang tertegun kelu setiap mengunyah makanan lezat sambil berfikir “andai bisa kubagi ini dengan anakku”.

Tulisan ini saya persembahkan khusus buat ibu-ibu ini. Tapi tolong. Tolong jangan tanya mereka mengapa tega meninggalkan Ananda jauh di mata. Percayalah, setiap orang punya kisah yang unik. Sungguh, ada banyak kisah. Dunia tidaklah putih dan hitam saja dengan garis batas yang tegas antara keduanya. Ada banyak warna. Cukup kaum-kaum tertentu yang sibuk berpolemik working mom vs staying at home mom. Cukup kaum-kaum tertentu yang meragukan dan mempertanyakan kesohihan naluri keibuan jutaan wanita yang meninggalkan anaknya > 8 jam sehari. Tulisan ini juga tak hendak membela diri. Tidak, tidak perlu. “Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu” (Ali bin Abi Thalib).

Satu tahun saya ditakdirkan untuk berpisah dengan anak-anak. TarbiyahNya untuk kami luar biasa. Kaki dan tangan mereka yang biasa lemah karena jarang berinteraksi dengan alam, dalam setahun menjadi jauh lebih kuat karena sehari-hari bermain-main di belukar mengejar belalang, jalan kaki jauh ke sekolah, bahkan buat mereka nyemplung dan nyungsep di sawah itu keren abis. Mereka yang awalnya hanya mengerti hewan ternak dari buku-buku, jadi paham sekali segala jenis hewan ternak, bahkan gembira bermain dengan cacing dan ulat. Akan halnya saya, tentunya harus mengisi hari dengan kegiatan belajar. Tak dapat saya pungkiri bahwa saya senang sekali kembali ke nuansa akademis. Berenang-renang di lautan ilmu pengetahuan yang rasanya seperti tak bertepi. Di balik beratnya perkuliahan, senantiasa merasa takjub setiap menemukan fenomena keilmuan yang baru. Sungguh, bagi penuntut ilmu rasanya pertanyaan-pertanyaan di kepala itu tak ada habisnya. Dan jawaban akan setiap misteri akademis seolah berisi lapisan-lapisan yang selalu menunggu untuk dipahami.

Dibanding mahasiswa lain, saya termasuk yang paling tua. Atau mungkin memang yang paling tua. Rata-rata beda usia dengan teman sekelas mencapai 7 – 11 tahun. Tertekan gak? Wah sempat banget. Takut banget otak yang tua dan lelah ini bakal tertinggal habis-habisan bersaing dengan usia-usia muda yang imut dan cemerlang. Namun kemudian saya teringat tempaan budaya kiasu selama 5,5 tahun kuliah dan kerja di Singapura. Sekuat tenaga saya panggil kembali ruh kiasu yang mestinya bersemayam di sebuah persembunyian di aliran darah ;-). Dan untuk melecut diri, saya berusaha mengingat bahwa saya punya tanggung jawab besar terhadap instansi yang menyekolahkan saya ke Belanda. Setiap orang punya kisah yang unik bukan? Kebetulan kisah saya adalah sebuah tekad untuk menyandingkan hasrat menjadi mahasiswa yang cemerlang, dengan tetap memegang impian menjadi ibu tersayang.

Academic culture

4 tahun kuliah di Singapura dan hampir 2 tahun kuliah di Belanda, mau gak mau alam bawah sadar melakukan perbandingan. Perbedaan yang paling terasa adalah student culture. Aura kiasu sangat kental di Singapura. Suasana mulai mencekam 1 bulan menjelang ujian. Iya, 1 bulan. 30 hari. Saat di mana segala sudut perpustakaan penuh, tutorial room fully booked, segala bench dipenuhi manusia, kantin-kantin tumpah ruah dari sore sampai pagi, bahkan bawa bantal segala. Wajah-wajah ngantuk hilir mudik di kampus. Kampus seolah 24 jam hidup. Mesin-mesin kopi berisik. Asrama mahasiswa heboh, di dapur, di selasar, di taman. Tampang-tampang jutek lelah belajar menggurita. Membuat jantung kadang tertekan, merasa diri onggokan kuah rendang yang lupa ditaburi rengginang. Rengginangnya bahkan gak ada!

Sebaliknya, mahasiswa di Belanda itu ramah banget, dan tidak terasa aura persaingan yang mencekam. Setiap orang sharing bahan-bahan ujian, summary, atau alat bantu belajar lainnya. Persaingan kita adalah bertempur melawan kemalasan diri dengan alasan segala ke-unyu-an cuaca. Terhadap nilai-pun mereka cenderung ‘santai’. Mungkin saya salah, tapi persepsi yang saya tangkap adalah mereka sangat menikmati hidup dan jarang sekali membicarakan stress-nya kuliah. Mereka kadang bingung menghadapi kita (saya?) yang kadang tak puas dengan nilai ujian dan sibuk membahas ‘mestinya saya bisa lebih baik’. Pernah ada yang nyeletuk ‘bukannya yang penting kamu sudah lulus ya, abis itu liburan, have fun-lah’. Mungkin di dalam hati mereka “stress amat sih emak-emak satu ini”…. pantes gemuk. ~_~

Saya pernah kerja kelompok dengan 4 orang students selama 2 minggu. Dan selama 2 minggu itu pula mereka ber-4 gantian liburan ke luar negeri. Hal yang gak akan bisa dijumpai kalau sekelompok kerja dengan Sporean. Can not lah. Namun demikian, mereka rata-rata sangat bertanggung jawab. Selama liburan bergilir itu senantiasa hadir online meeting untuk rapat harian. Dan rapat dilaksanakan dengan serius dan efektif. Selesai rapat ya mereka liburan lagi, sementara fikiran kiasu saya rasanya susah diajak se-asyik itu. Setelah nilai keluar, kalau bagus ya mereka senang. Kalau hasilnya kurang bagus juga cuma pundung sejenak, lalu abis itu ketawa-ketawa lagi. Terus, tahu-tahu pasang status facebook udah berjemur di benua mana. Beda banget dengan saya yang kalau nilai ujian gak sesuai harapan bisa karokean lagu minang sendirian non-stop 2 hari 2 malam mengobati sedih. Di sana lah saya kemudian berkesimpulan bahwa mereka menganut prinsip play hard party hard. Di sisi yang ini saya takjub.

Falsafah kuah rendang

Tentang dosen juga menarik. Dosen-dosen di NTU-Singapura akan nyaris selalu ada kapanpun kita perlukan. Kalau ada pelajaran yang gak ngerti? Tinggal email atau datangi aja ruangannya. Jarang sekali ada kejadian susah nyari dosen. Makanya tak jarang di saat-saat tertentu kita berbondong-bondong antri di ruang dosen untuk minta penjelasan tentang pelajaran. Ditambah pula dengan budaya ‘tak mau kalah’, nunggu giliran bertanya sambil menyimak yang ditanyakan teman ;-).

Di sisi lain, dosen Belanda punya jadwal yang sangat sangat disiplin. Kalau gak email dulu, jangan GR bisa ketemu kapan saja. Jangan kaget juga di saat-saat tertentu mereka ada agenda liburan yang gak bisa kita ganggu gugat. Maka bagi mahasiswa thesis seperti saya, masa-masa yang sangat menegangkan adalah ketika mencari jadwal kick off meeting, green light meeting (rapat yang menentukan kelulusan), dan jadwal sidang akhir. Susah! Sebab perlu menyatukan jadwal 3 dosen yang mazhab liburanya beragam. O iya, tambahan lagi, dosen Belanda cenderung ketat soal nilai, maka siap-siapin mental aja ya, saat sudah GR membayangkan 3 kg rendang, namun yang diterima hanyalah kuah-kuah gulai nangka di ujung nasi putih rumah makan Padang. Namun dampaknya adalah kitapun jadi berusaha keras menjadi pribadi yang disiplin dan berusaha mencapai target, agar segala kesempatan yang ketat itu bisa membuahkan hasil maksimal. Ingat, rendang yang enak itu adalah yang warnanya menghitam legam karena lama bertempur di dalam kuali menghadapi bara api. Itu falsafahnya!

Jadi kesimpulannya? Memang gak untuk disimpulkan. Hanya deskriptif. Masing-masing punya daya pikat yang khas. Yang jelas saya bersyukur pernah mengalami keduanya, dan masing-masing academic culture punya kontribusi signifikan dalam menempa ketangguhan jati diri kita. Tinggal kita mau memilih untuk ditempa atau tidak? Sebenarnya mau kuliah di manapun akan kembali lagi ke tekad individu. Ya, gak sih?

Belajar sejarah di PPI Leiden

Kenapa memilih Belanda? Salah 1 alasannya adalah saya penasaran seperti apa sebuah negeri yang begitu lama mendiami nusantara. Apa sih yang membuat bangsa yang relatif kecil secara geografis mampu begitu lama mendiami negeri lain yang jauh lebih besar, bahkan mendirikan kekuasaan segala. Maka gembira sekali rasanya ketika ada kesempatan mengikuti acara keren by PPI Leiden. HistoRun.

Oleh-oleh acara ini gak sekedar keindahan kota serta sejarah berdirinya universitas Leiden. Atau “semata” deskripsi napak tilas tentang tautan sejarah Indonesia di kota yang cantik itu. Leiden. Tidak “sekedar” mengetahui lokasi-lokasi yang menjadi sejarah perjuangan bapak-bapak bangsa. Acara itu berhasil menjadi trigger untuk memaknasi kembali catatan-catatan historis bangsa dan meninjau kembali tujuan perjalanan kita. Kita jadi memaksa diri untuk menyelami konsep memori kolektif sebuah bangsa dan imbasnya terhadap sikap mental masa kini. Kita juga jadi merenungkan kembali bagaimana sebaiknya menempatkan diri kita terhadap semua sejarah panjang masa lalu. Juga pada pemikiran bahwa leverage sebuah bangsa akan terjadi ketika ada orang-orang yang tidak hanya memikirkan diri sendiri, tapi memikirkan diri sebagai suatu kesatuan bangsa, suatu peradaban, yang mempengaruhi konsep berfikir secara kolektif. Menanggalkan sejenak identitas mikro.

Sampai juga pada sebuah pertanyaan menarik “Sepulang dari sini, apa sih yang mau kamu sumbangkan kepada tanah air? Selain ijazah dan foto-foto cantik?”

Maka kemudian saya mendapati diri saya sering sekali menceritakan tentang Histo-run kepada 2 bocah kecil di rumah. Sampai-sampai dalam imajinasi saya, belasan tahun ke depan ketika hendak masuk universitas, anak-anak mengatakan ingin kuliah ke Belanda, lalu ketika ditanya alasannya mereka akan jawab “ingin ikut Histo-run PPI Leiden”. Persis emaknya puluhan tahun sebelumnya ketika ditanya kenapa ingin kuliah S1 di ITB, jawabnya “ingin ikut Unit Kesenian Minangkabau, ITB”. Somehow, saya percaya bahwa tujuan ‘sampingan’ yang menyenangkan, akan menambah semangat belajar. Ini sungguh cara special saya mengungkapkan pujian kepada acara tahunannya PPI Leiden yang bagi saya sangat berkesan.

Epilog

Sebelum tulisan ini menjelma menjadi novel saking panjangnya, maka saya tutup dengan persembahan kembali untuk staying abroad mom. Semangatlah bunda, teruslah semangat. Semoga segala perih perpisahan itu kelak akan menjadi kisah yang manis ketika kita menengok ke belakang saat semuanya lewat. Sepemahaman saya, tak ada ibu yang berbesar hati berpisah jauh dengan anak-anaknya. Tak ada. Namun tak semuanya perlu dijelaskan, sebab kita bukanlah seporsi kapsalon pasca ujian, yang pasti disambut perut-perut lelah dengan suka cita. Lagian tetap lebih enak lontong sayur… *eh*. InsyaAllah semua penantian perjumpaan dengan buah hati akan membuahkan hasil yang manis.

Saya kemudian teringat perjumpaan kembali dengan anak-anak setelah ratusan hari tak bertemu. Kalimat pertama mereka “kenapa kok Bunda nangis?”Gak bisa jawab. Bisu beberapa menit. Jumpa lagi setelah ratusan hari gak ketemu, malah kehabisan kata-kata. Manusia memang aneh. Kemudian saat mereka terlelap malam harinya, saya tuliskan buat mereka ungkapan hati.

“Dalam sekejap, duniaku yang sunyi kembali hingar bingar. Tiba-tiba ada remah-remah biskuit di karpet, tumpahan yoghurt di bawah meja, papan tulis penuh gambar, alat tulis di 8 penjuru angin, wajah cemong-cemong yang cengar cengir, posisi benda-benda berubah-ubah, ada jeritan-jeritan, kejar-kejaran. Heboh. Mendadak ada banyak pembagian peran. Gak lagi sekedar masak bareng, atau gotong royong bersihin rumah. Di dalam dunia khayal mereka, diriku menjelma menjadi dinosaurus, monster lumpur yg gemuk, penyihir besar atau pohon raksasa (entah kenapa perannya harus big size semua ~_~)”

Menjadi ibu. Bukan lagi ibu jarak jauh. Tapi ibu yang bisa memegang tangan anaknya.

.. yang berkesempatan mendengarkan cerita2 dan gelak tawa mereka, tanpa masalah gangguan sinyal.

.. yang berkesempatan memastikan mereka menjemput malam dalam keadaan tersenyum dan bahagia.

Percayalah, staying abroad mom, saat itu akan tiba.

-Reni uNisA-

catatan: Gambar diambil dari Google

Pada tanggal 15 Mei 2017, sebuah media online yaitu kompas.com telah menerbitkan berita bertajuk “Berbaju Serba Hitam, Mahasiswa RI di Leicester Gelar Aksi Bela Ahok”. Aksi ini digalang oleh sekelompok mahasiswa di Leicester untuk merespon isu yang berkaitan dengan Ahok di tanah air. Inisiatif dari teman-teman ini adalah sebuah hal yang lumrah dilakukan, karena sejatinya setiap orang atau kelompok berhak menyuarakan aspirasi mereka.

Akan tetapi, sesuai dengan yang diberitakan, kelompok yang menyampaikan aspirasi adalah bagian dari Perhimpunan Pelajar Indonesia Leicester (PPI Leicester). Sementara saya pribadi sebagai ketua tidak pernah menerima informasi terkait aksi yang dimaksud, begitupun dengan pengurus lainnya. Untuk itu pada kesempatan ini, atas nama PPI Leicester saya ingin menyampaikan bahwa inisiatif dan aspirasi yang telah disampaikan pada tanggal 15 Mei 2017 oleh beberapa mahasiswa sebagaimana dimaksud, tidak merepresentasikan suara dari PPI Leicester.

Sikap kami di sini bahwa PPI Leicester adalah organisasi yang bersifat independen, kami tidak ingin terlibat dengan isu kontroversial yang berbau politik dan sara. Permohonan maaf kami jika ada yang merasa dirugikan dengan adanya berita ini.

Ketua PPI Leicester

Mohamad Arif Ismail

 

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920