logo ppid

Jangan lewatkan diskusi mengenai Hari Radio Republik Indonesia di RRI voi Senin, 11 September 2017!

Jangan lewatkan diskusi mengenai Hari Anak Nasional di RRI Voice of Indonesia, hari Senin, 24 Juli 2017!

Liputan Harbin - Disela kegiatan PPIT Harbin yang cukup padat, beberapa waktu yang lalu, bertempat di Hotel Kempinski, Kota Harbin, Provinsi Heilongjiang, China, PPIT Harbin menggelar diskusi bersama dengan Soegeng Rahardjo, Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Republik Rakyat China dan merangkap Mongolia.

Diskusi terbatas ini dibuka dengan sambutan dari Soegeng. Ia tampak ramah dan bersahabat serta aktif berkomunikasi dengan mahasiwa/i Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia di Harbin, Tiongkok (PPIT Harbin). Percakapan yang dibahas pada kesempatan tersebut, antara lain pentingnya pelajar Indonesia untuk menuntut ilmu dan pendidikan setinggi-tingginya di Negeri Tirai Bambu ini sebagai bentuk upaya bela negara.

Saat ini banyak perguruan tinggi di China yang sudah bertaraf dunia, seperti Tshinghua University, Fudan, Shanghai Jiaotong dan lain-lain. Sehingga mahasiswa Indonesia perlu memanfaatkan pendidikan di China dengan sebaik-baiknya guna memajukan tanah air di masa yang akan datang.

Ia juga menjelaskan, perwujudan bela negara sendiri bukan hanya terbatas dalam tugas baris-berbaris dan angkat senjata saja tapi juga termasuk dalam bentuk belajar serius, ikut serta dalam bidang kegiatan olahraga dan seni maupun menjaga nama baik bangsa di kancah internasional.

Acara makan siang bersama setelah diskusi PPIT dengan Dubes RI.

Soegeng menekankan peran penting belajar di luar negeri khususnya di China untuk mempelajari bahasa mandarin dan kebudayaan setempat yang kemudian dapat diterapkan secara langsung dalam segi kehidupan untuk memberikan kemanfaatan bagi masyarakat di Indonesia.

Sepeti yang kita ketahui, pelajar Indonesia yang berprestasi tinggi saat ini banyak yang memutuskan untuk menempuh pendidikan di luar negeri . Sayangnya, mereka yang sudah memiliki pengetahuan yang tinggi banyak digunakan untuk kemajuan bangsa lain daripada memajukan tanah air sendiri.

“Mahasiswa Indonesia selayakanya selalu memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa dan negara di manapun mereka berada, baik sedang sebagai mahasiswa maupun sudah berkarir di dunia internasional,” sambungnya.

Di sela-sela kegiatan tersebut, para perwakilan mahasiswa Harbin juga berkesempatan untuk makan siang bersama Dubes RI untuk China.

Adapun Perwakilan Mahasiswa yang hadir yaitu, Joshua Mulyanto (Ketua PPIT Harbin, Harbin Institute of Technology), Albert W (Mahasiswa Harbin Institute of Technology), Herline (Mahasiswa Harbin Institute of Technology), Gilbert (Mahasiswa Harbin Institute of Technology), Nikodemus H (Mahasiswa Harbin Institute of Technology), Filananda A. (Mahasiswa Harbin Institute of Technology), Kevin (Mahasiswa Harbin Institute of Technology), M. Qodir (Mahasiswa Harbin Normal University), Andi Syahputra (Mahasiswa Harbin Northeast Forestry University), Annisa D (Mahasiswa Harbin Engineering University), Putra Wanda (Mahasiswa Harbin University of Science and Technology)

(Red, Putra Wanda/Ed, F)

Liputan Sukabumi - Bertempat di Masjid Pesantren Al-Ma'tuq, Sukabumi, Sabtu, 8 Ramadan 1438 H/3 Juni 2017, telah berlangsung dauroh dengan tema "Mengenal Lebih Dekat Universitas Islam Madinah" dengan pemateri Mumuh Mukhtaruddin, mahasiswa di Universitas Islam Madinah (UIM) yang juga Divisi Publikasi dan Dokumentasi Perhimpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia (PPMI) Madinah.

Pesantren Al-Ma'tuq Sukabumi yang baru-baru ini resmi terakreditasi oleh Universitas Islam Madinah, dauroh yang dihadiri oleh seluruh santri al-Ma'tuq ini disambut dengan penuh antusias, selain mengenalkan universitas serta pemberkasan, diakhir dauroh ini pemateri melakukan simulasi pendaftaran online di website Universitas Islam Madinah agar para santri mampu mendaftarkan dirinya masing-masing kelak jika sudah lulus pesantren.

Peserta tampak antusias mengikuti dauroh di Pesantren Al-Ma'tuq Sukabumi.

Dauroh yang berlangsung selama 3 jam ini diakhiri dengan sesi tanya jawab dan pemutaran video pengenalan universitas. "Alhamdulillah acara berjalan lancar, dari awal sampai akhir acara sangat terlihat antusias para santri pesantren al-Ma'tuq dan acara ini juga dihadiri oleh camaba (calon mahasiswa baru, red) UIM tahun 2017," tutur Muhammad Sidqi Abdurrahman, Ketua PPMI Madinah.

"Semoga dengan diadakan acara tersebut menjadikan pendorong untuk lebih banyak calon mahasiswa yang lebih siap menuntut ilmu di kota nabi," lanjut Sidqi.

 

(Red, PPMI Madinah/Ed, F)

Setelah menghadiri serangkaian acara Islamic Development Bank Group 42nd Annual Meeting yang berlangsung di Hotel Hilton Jeddah 14-18 Mei 2017, Bacharuddin Jusuf Habibie menyempatkan diri untuk mengunjungi Kota Nabi, Madinah Al-Munawwarah. Saat berada di Madinah, mantan presiden RI ke-3 itu berkenan berbagi cerita, pengalaman dan motivasi kepada para mahasiswa Universitas Islam Madinah.

Walau terbatas, pertemuan yang berlangsung di Hotel Oberoi (18/05) ini cukup hangat. Tak kurang dari dua jam penasehat presiden IDB ini berbicara di hadapan mahasiswa.

Habibie memotivasi mahasiswa untuk belajar setinggi mungkin di bidang yang diminati. Kerena menurutnya, mahasiswa-mahasiswa inilah yang berhak berkhotbah di mimbar-mimbar, bukan yang bermain politik.

Tak lupa Habibie mengingatkan mahasiswa agar jangan terjun ke dunia politik setelah lulus nanti. Ia memberikan alasan, sangat sia-sia kalau setelah belajar agama sesampainya di Indonesia terjun ke dunia politik. “Tapi kalau Anda pulang ke Indonesia kemudian bermain politik juga, itu gak bener namanya,” ungkap Habibie.

Ia menambahkan, “melihat kenyataan di Indonesia, politik itu bukan jalannya anak-anak seperti kalian.”

Habibie mengaku, selama ia belajar tak pernah berkeinginan menjadi presiden. “Eyang tidak pernah berkeinginan setelah tamat S1, S2 dan S3 langsung jadi presiden,” akunya.

Suami dari Hasri Ainun ini mengatakan bahwa dirinya merupakan konsumen para pembelajar agama. “Kami ini konsumen Anda, dan Anda pun konsumen kami. Anda mengonsumsi produk kami yang berupa pesawat, maka kami mengkonsumsi apa yang Anda khotbahkan,” ujarnya.

Pria kelahiran 25 Juni 1936 ini juga mengingatkan mahasiswa agar nanti ketika berdakwah menyampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Ia juga menyemangati mereka agar memiliki karya sendiri, sehingga kedepannya nanti bisa mandiri.

Pertemuan ini berakhir seiring dengan dikumandangkannya adzan Maghrib.

 

(Red, PPMI MADINAH/Ed, F)

 

Jangan lewatkan diskusi mengenai hari raya idul fitri di RRI Voice of Indonesia, Senin 19 Juni 2017!

Hari lanjut usia nasional diperingati dengan tujuan memberi semangat kepada lansia untuk tetap sehat, aktif, dan produktif dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Simak perbincangan menarik mengenai topik ini, Senin 29 Mei 2017 hanya di RRI Voice of Indonesia!

PPIT Harbin – Kelompok Mahasiswa Indonesia dan Internasional sukses menampilkan pertunjukan teater di Harin, China. Opera berdurasi selama 90 menit yang bertajuk “Ken-Arok, The Legend of Cursed Keris” ini tampil memukau sekitar 400 penonton yang memadati gedung Activity Center, Harbin Institute of Technology, China (20/5/17).

Pementasan Drama Ken Arok ini merupakan hasil karya mahasiswa-mahasiswa Indonesia dan dibantu mahasiswa asing yang berada di lingkungan Harbin, China. Sejak publikasi acara ini dilakukan, antusiasme penonton untuk menyaksikan opera ini terbilang sangat besar.

Para mahasiswa asal Indonesia dan mahasiswa asing (China, Rusia, dan Nigeria) berperan sebagai aktor berhasil memerankan setiap karakter yang dimainkan pada cerita kolosal ini. Alur cerita, koreografi, musik dan aktor berpadu menghasilkan pertujukan drama yang kontemporer dan elegan.

Seluruh aktor dan panitia acara berfoto bersama di atas panggung.

Persiapan acara sudah dilakukan sejak jauh hari sebelum pementasan diselenggarakan, seluruh panitia bekerja dari siang hingga malam selama persiapan akhir acara ini dilakukan. Hasilnya, kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik dari awal hingga akhir.

Setelah pementasan opera berakhir, seluruh aktor dan panitia acara berfoto di atas panggung pementasan untuk mengabadikan momen tersesbut.

Pementasan Drama Ken Arok ini merupakan hasil karya mahasiswa-mahasiswa Indonesia dan dibantu mahasiswa asing yang berada di Harbin, China.

Penonton yang menyaksikan acara pementasan opera ini memberikan kesan yang sangat baik terhadap para pemeran. Pada drama yang merupakan salah satu salah cerita rakyat di Nusantara ini.

Salah satu adegan di atas panggung.

"It’s really great!" ujar Linna (25 tahun) salah seorang penonton asal Thailand setelah festival ini. Bahkan, kelompok sosial asal China, mengaku sangat terinspirasi dengan penampilan malam itu.

Pada rangkaian Festival Budaya tahun ini, Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT) Harbin juga menyelenggarakan pameran produk, budaya dan seni Indonesia. Pasca acara teater, antuasiame penonton masih terus berlanjut ke ruang eksibisi untuk mengunjungi stan pakaian tradisional dan kuliner Nusantara.

Penyerahan cinderamata.

Joshua Mulyanto (Ketua PPIT Harbin) sekaligus sebagai salah satu aktor utama pada opera tersebut, mengaku amat bangga dengan sambutan yang diberikan oleh masyarakat internasional terhadap Festival Budaya Indonesia tahun ini.

“Saya bangga dengan semua teman-teman panitia yang sudah bekerja keras sehingga acara ini bisa terselenggara dengan baik, mulai dari tim drama, exhibition serta sie-sie lain yang mendukung berlangsungnya acara." Ketua PPIT berharap agar ke depan, kami semua bisa terus mempertahankan dan meningkatkan kualitas diri, kekompakan, kekeluargaan sehingga acara PPIT bisa lebih baik lagi.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh PPIT Harbin dan didukung Rumah Budaya, salah satu program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, KBRI Beijing, serta civitas akademika di Harbin.

Pada tahun lalu, para mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam PPIT cabang Harbin juga menggelar Opera Roro Jonggrang di tempat yang sama dan berlangsung sukses. Selain itu, suksesnya kegiatan ini juga didukung oleh Rumah Budaya, salah satu program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing, dan civitas akademika di Harbin.

Tahun depan, PPIT Harbin berharap bisa menyelenggarakan acara yang lebih bagus dan dahsyat dengan tema yang berbeda.

Bravo PPIT..

(Red, PPIT Harbin/Ed, F)

Hari Peringatan Reformasi diperingati setiap tanggal 21 Mei setiap tahunnya. Dalam kesempatan ini, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) menghadirkan, M. Ulil Albab (Wakil Ketua PPI Polandia) dalam program RRI Voice of Indonesia, Kami Yang Muda pada tanggal 22 Mei 2017 pada pukul 11.30 WIB.

Dalam program Youth Forum, Ulil berkata bahwa, “pergerakan reformasi memberikan pintu masuk Indonesia menuju ke pemerintahan yang lebih terbuka. Hanya saja, kritik dan saran seperti pada zaman sekarang dapat dilakukan lebih elegan dengan menggunakan media-media yang tersedia. Kebebasan pers terutama melalui media sosial juga ada batasnya dan harus disikapi dengan bijak.”

“Sebagai pemuda, kita dapat berkontribusi dalam membangun sistem supremasi yang lebih baik dan hasil dari produk hukum tersebut harus dihargai. Cara paling sederhana bagi pemuda untuk berkontribusi terhadap Indonesia adalah dengan sumbangan ide dan terlebih lagi ide tersebut dapat diikutkan dalam kompetisi,” lanjut mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Polandia tersebut.

Menurut Ulil, harapan ke depan adalah masyarakat Indonesia tetap menyikapi nilai-nilai Pancasila dengan pikiran dan hati yang jernih. Kelak, budaya bangsa Indonesia dapat menjadi contoh bagi bangsa lain.

 

(Red CA, Ed F)

Hari buku nasional ditetapkan setiap tanggal 17 Mei bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional pertama kali di Indonesia pada tanggal 17 Mei 1980. Peringatan hari buku nasional juga ditujukan untuk meningkatkan minat membaca masyarakat Indonesia.

Pada hari Senin (15/5/17), PPI Dunia menghadirkan dua pelajar Indonesia masing-masing dalam diskusi dua siaran RRI Voice of Indonesia mengenai Hari Hak Asasi Manusia. Dua mahasiswi tersebut adalah Gusti Chysta Sarah (PPI Finlandia) dalam program Youth Forum dan Alanda Kariza (PPI UK) dalam program KAMU (KAmi yang Muda).

“Harus diakui bahwa minat membaca di Indonesia masih jauh di bawah minat membaca di negara lain khususnya seperti di Finlandia. Indonesia dapat belajar dari Finlandia dengan menumbuhkan minat membaca sejak usia dini karena perilaku dibentuk oleh kebiasaan yang sering dilakukan,” terang mahasiswi yang melanjutkan studinya di Finlandia tersebut.

“Pada beberapa kalangan, minat membaca kurang juga disebabkan karena ketidakmampuan memiliki buku-buku. Perpustakaan sudah cukup baik tetapi harus disempurnakan dengan menambah variasi koleksi buku dan buku yang terkini,” ungkap Chysta dalam program Youth Forum.

“Jumlah buku yang dicetak di Indonesia masih jauh lebih rendah dibandingkan negara lain. Dukungan terhadap industri buku perlu terus diperhatikan agar terus meningkat, yang secara tidak langsung dapat menumbuhkan minat membaca sekaligus minat menulis di Indonesia. Harga buku diharapkan dapat disesuaikan dengan sasaran,” ungkap mahasiswi yang melanjutkan studinya di Britania Raya tersebut.

“Akses untuk membaca buku sudah terus ditingkatkan oleh berbagai pihak. Misalnya aplikasi iJakarta yang memberikan kesempatan semua orang untuk akses buku dan pembentukan taman baca oleh beberapa komunitas. Hanya saja belum seluruh masyarakat yang mengetahui dan memanfaatkannya,” terang Alanda dalam program Kami yang Muda.

Chysta dan Alanda menyatakan bahwa minat membaca harus terus dibina sejak dini. Membaca dapat memberikan banyak informasi yang kelak berguna, baik untuk kehidupan maupun karir selanjutnya. Bagi konsumen buku, diharapkan juga meningkatkan minat membaca terutama buku karangan penulis dalam negeri yang tidak kalah bagusnya dengan buku karangan penulis internasional.

 

(CA/F)

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920