logo ppid

Hingga 13 Maret terdapat 61 negara di Afrika, Asia, Eropa, Timur Tengah, Amerika Utara dan Amerika Selatan yang telah mengumumkan atau menerapkan pembatasan pembelajaran sekolah dan universitas. United Nations of Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menyediakan dukungan langsung untuk seluruh negara di dunia, termasuk solusi pembelajaran jarak jauh di masa COVID-19.  Berdasarkan data yang diperoleh dari UNESCO, penutupan sekolah akan melibatkan 421.388.462 anak di dunia tidak pergi ke sekolah.

Di Indonesia,  sejak diberlakukannya social distancing. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mendukung kebijakan pemerintah daerah untuk meliburkan sekolah-sekolah di daerahnya. Selain itu Nadiem juga meniadakan UN tahun ini, meniadakan ujian sekolah, bahkan membuat aturan khusus terkait kenaikan kelas dan penerimaan siswa baru sekolah. Hal ini dilakukan untuk menekan angka penyebaran COVID-19.

Semua lembaga pendidikan di semua jenjang pendidikan serempak memberlakukan kelas online, begitupun di Universitas. Langkah ini tentu bagus sekali, hanya pemerintah tetap perlu melakukan pengawasan terhadap keberlangsungan belajar di rumah, apakah efektif dan berhasil atau tidak.

Jika kita petakan secara geografis maka wilayah Indonesia berdasarkan kategorinya terbagi menjadi dua wilayah, wilayah perkotaan dan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Permasalahan proses belajar di sekolah perkotaan seperti kendala jaringan website, teknologi yang tidak memadai, lemah sinyal, juga biaya paket internet perlu ditinjau. Lalu apakah orang tua anak murid benar-benar membantu proses belajar anaknya di rumah. Jangan-jangan anak malah lebih sering memainkan game online-nya ketimbang mengikuti proses pembelajaran di kelas online.

Lalu bagaimana dengan anak murid yang tinggal di desa, di daerah 3T. Anak-anak yang tidak memiliki fasilitas teknologi dan jaringan, memiliki fasilitas buku sedikit, belum juga orang tua mereka yang kebanyakan tidak tertarik dengan pendidikan sehingga tidak acuh terhadap proses belajar anaknya di rumah. Orang tua yang lebih menyukai anaknya membantu mereka di ladang dan kebun daripada bersekolah. Ketidakadaan fasilitas membuat anak-anak yang tinggal di wilayah dalam lebih rentan mengalami putus belajar.

Yang disebutkan di atas adalah sekelumit permasalahan yang perlu diperhatikan pemerintah, yaitu tentang kekhawatiran ketidakberhasilan proses pembelajaran online selama karantina COVID-19 baik di kota maupun di daerah 3T. Hal ini tentu harus segera ditinjau dan dibenahi agar tidak berdampak panjang. Siswa yang harus tertunda proses pembelajarannya akibat penutupan sekolah akan mengalami trauma psikologis dan mengalami demotivasi belajar.

Untuk itu diperlukan sebuah kebijakan lebih lanjut dari pihak pemerintah baik pusat maupun daerah untuk memonitoring kegiatan belajar mengajar di rumah dan memikirkan strategi khusus yang mengikat orang tua terlibat aktif dalam proses belajar di rumah. Pemerintah juga perlu memfasilitasi buku pelajaran dan buku bacaan tambahan untuk anak terlebih untuk mereka yang tinggal di wilayah 3T.

Sebagai bangsa yang besar, Indonesia harus mampu beradaptasi dengan dampak pandemi ini, terutama dalam reformasi pendidikan. Dengan pengelolaan yang baik Indonesia akan tetap dapat mendidik generasi emasnya dan meneruskan mimpinya menjadi negara maju.

Penulis: Sunarto Natsir, Education Management Anadolu University. Turki

Editor: Nuansa Garini, Mass Media, Pusat Media dan Komunikasi, PPI Dunia 2019/2020

       Kehidupan manusia tidak lepas dari tempat tinggalnya, apalagi di zaman modern ini orang-orang mendabakan tempat tinggal terbaik untuk hidupnya. Ya, itu wajar karena tempat tinggal dan lingkungan dapat mempengaruhi kehidupan seseorang. Tempat tinggal yang baik bisa membuat seseorang menjadi lebih baik, begitupun sebaliknya. Namun yang jadi pertanyaan bagaimana karakteristik kota baik, di mana tempatnya. Banyak peneliti mengukur dan mendefinisikan kota paling layak huni, dinilai dari tingkat stabilitas keamanan, budaya, lingkungan, kesehatan, pendidikan dan infrastruktur. Seperti kota Wina di Austria, Sydney di Australia, Calgary di Kanada, Tokyo Di Jepang yang mendapat penilaian kota terbaik dan paling layak dihuni di muka bumi.

       Berbeda dengan imaji peneliti, menurut Islam, Al-Madinah AL-Munawwaroh adalah kota paling layak huni, disusul dengan Makkah. Kota tempat lahir agama Islam ini konon seluruh perbatasannya dijaga malaikat. Kota di mana Rasul tinggal selama kurang lebih 20 tahun. Kota yang di dalamnya terdapat taman surga dan masjid Nabawi. Sebuah masjid terbesar kedua di dunia setelah Masjidil Haram di kota Makkah. Sebuah masjid yang menjadi pusat pembelajaran kajian keislaman dan halakah tahfiz Qur’an. Kota ini dipenuhi keberkahan sebagaimana disebutkan dalam hadis Sa’ad bin Abi Waqqosh radhiyallohu ‘anh:

      "الْمَدِيْنَةُ خَيْرٌ لَهُمْ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ"

Kota Madinah adalah kota terbaik untukmu sekalian jika kamu mengetahuinya. (H.R Muslim 1363).

       Al-Madinah berarti  kota dan Al-Munawwarohartinya bercahaya, jadi Al-Madinah Al-Munawwaroh adalah kota yang senantiasa bercahaya. Selain itu kota Madinah juga memliki banyak nama lain seperti pada “Tarikh Al Madinah AL Munawwroh”  karya Syeikh AL-Mubarokfury menyebutkan Madinah memiliki nama lain sebanyak 29 nama, salah satunya Al mahabbah, An Naajiyah, Daarulhijrah, AL Mukhtaroh, Al Muharommah, Al Mubaarokah dan Thâbah atau kota yang baik dan mulia), Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:    

"إِنَّ اللهَ سَمَّى الْمَدِيْنَةَ طَابَةً"

Sesungguhnya Allâh menyebut kota Madinah dengan (nama) Thâbah. (H.R Muslim 1385).

      Nabi juga pernah bersabda dalam sebuah hadis yang menyebutkan siapa yang meninggal di tanah Madinah maka ia akan mendapat syafaat.           

“مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَفْعَلْ، فَإِنِّي أَشْفَعُ لِمَنْ مَاتَ بِهَا”

“Siapa yang bisa memilih mati di Madinah, silahkan dia lakukan. Karena saya akan memberi syafaat bagi mereka yang mati di Madinah”. (HR. Ahmad 5437, Tirmidzi 4296).

Hadis-hadis di atas menceritakan keutamaan kota Madinah dan tinggal di dalamnya. Karena terdapat keberkahan yang luar biasa banyak. Dengan ini kota Madinah dinamakan kota paling layak huni berdasarkan keterangan dari hadis-hadis tersebut.

Penulis: Muhammad Abdul Aziz, Mahasiswa Fakultas Hadis di  Islamic University of Medina, PPMI Madinah

Editor: Nuansa Garini, Mass Media, Pusat Media dan Komunikasi, PPI Dunia

Banyak fakta-fakta menarik yang sering kita dengar mengenai suatu negara tertentu. Tapi bagaimana opini pelajar Indonesia yang sedang kuliah di negara tersebut memandang dan mengalami fakta-fakta unik ini?

Dengan program kerja “Living Abroad”, tim Pusat Informasi Umum PPI Dunia 2019/2020 tiap bulannya akan membagikan fakta unik tentang sebuah negara yang dilengkapi dengan opini mahasiswa Indonesia di negara tersebut.

Setelah artikel tentang Brunei Darussalam dan Finlandia rilis, kali ini negara Arab Saudi akan dibahas. Sumber opini yang terpapar di artikel ini adalah Ka Adam Prabowo jurusan S1 Medical Applied Science di Universitas Sulaiman Alrajhi dan Ka Maysarah Zaid Abdurahman jurusan S1 English Language di Universitas King Abdulaziz.

  1. Sumber minyak bumi

Sumber minyak bumi di Kerajaan Arab Saudi ditemukan tanggal 29 Mei 1938. Sejak saat itu Kerajaan Arab Saudi mulai menopang perekonomiannya dengan hasil bumi tersebut. Berdasarkan list yang direlease oleh The World Factbook, Kerajaan Arab Saudi menduduki peringkat pertama dalam mengekspor minyak bumi (8,3 juta bbl/day). Dengan diadakannya visi Saudi 2030, tertanggal 25 April 2016 maka ketergantungan terhadap minyak bumi pun beralih kepada sektor-sektor lainnya.

2. Daerah gurun

85% dari wilayah negara Arab Saudi merupakan gurun. Negara ini tidak memiliki sungai, namun memiliki beberapa lembah.

3. Penduduk mayoritas Muslim

Penduduk Saudi mayoritas beragama Islam. Bagi non muslim yang ingin berkunjung, menetap atau bekerja di Saudi tetap diperbolehkan dengan aturan yang telah ditetapkan. Namun demikian, sesuai ajaran agama Islam dan peraturan pemerintah setempat, memang non muslim tidak boleh memasuki daerah haramain yaitu Mekkah dan Madinah.

4. Julukan “Pelayan Dua Kota Suci”

Nama ini sudah ada dari awal sebelum mulainya kerajaan Arab Saudi, dari Salahuddin Al-Ayyubi (589 hijriyah). Julukan ini juga pernah disandangkan kepada Sultan Selim I dari Dinasti Ottoman antara tahun 1512 hingga 1520. Penyematan nama “Pelayan Dua Kota Suci” kemudian dilanjutkan di pemerintahan Raja Faishal yang memerintah antara tahun 1964-1975 yang kemudian diteruskan kepada raja-raja setelah beliau, termasuk Raja Fahad bin Abdulaziz 1986 - 2005.

5. Robot berkewarganegaraan Saudi

Robot bernama Sophia yang diproduksi oleh Hongkong pada Oktober 2017 diberikan kewarganegaraan Saudi.

6. Aturan mengendrai mobil untuk wanita

26 September 2017, Raja Salman memutuskan bahwa kaum wanita akan bisa mengendarai mobil dengan beberapa catatan. Kemudian pada bulan Juni 2018, setelah melakukan percobaan dan pembelajaran yang panjang, akhirnya kaum wanita diperbolehkan untuk mengendarai mobil.

Mari kita mulai dengan sebuah pertanyaan. “Pada umur berapa rata-rata manusia mulai bisa mengingat?”. Aku kira, untuk mengingat kapan kita mulai dapat mengingat cukup sulit. Aku sendiri tidak ingat. Tapi bagaimana dengan pertanyaan ini, “Siapa nama gurumu di kelas 1 SD”?. Aku akan menjawab “Bu Neneng” dan aku dapat menggambarkan perawakannya dengan cukup baik. Lalu bagaimana dengan pertanyaan ini, “Siapa nama gurumu ketika kamu masih di Taman Kanak-kanak (TK)?”. Aku tidak dapat mengingat siapa guruku pada waktu itu, tapi aku dapat mengingat beberapa keping gambar abstrak bersama beberapa temanku terekam di dalam memori. Bagaimana denganmu?. Jika kita sepakati, dua pertanyaan terakhir menunjukkan bahwa rata-rata manusia mulai dapat memfungsikan daya ingatnya sekitar umur 5 sampai 6 tahun. Dan ingatan serta kemampuan berfikir mulai berfungsi sempurna pada umur 7 sampai 8 tahun. Maka dari itu sekolah dasar biasanya memiliki batas umur minimal untuk menerima siswa baru, yaitu  7 tahun. 

Kemampuan mengingat dan berpikir adalah salah satu ciri yang paling menonjol yang dimiliki manusia. Tidak ada satu pekerjaan manusiapun yang tidak berangkat dari hasil olah pikirnya sendiri, baik secara sukarela maupun terpaksa. Pada umumnya, manusia cenderung melakukan sesuatu yang ia suka, ia butuhkan, dan atau ia inginkan. Semua ini dipengaruhi oleh naluri dan informasi yang ia miliki. Naluri manusia membutuhkan makanan, sehingga ia akan selalu terdorong untuk mencari makanan dan memakannya ketika ia lapar. Sama halnya dengan informasi, seseorang yang membutuhkan makanan berprotein tinggi dan ia tahu bahwa salah satu makanan yang mengandung protein tinggi adalah ikan, ia akan menjadikanya sebagai salah satu yang masuk ke dalam daftar makanan sehatnya. Begitu seterusnya pada setiap kelakuan hewan berakal ini. Dan pada akhirnya, apa-apa yang dikerjakan oleh manusia bermuara pada satu naluri mendasar, ialah kebahagiaan. 

Semua manusia ingin bahagia. Aku, kamu, dia, mereka, kita dan kata ganti lainnya menginginkan kebahagiaan. “Apa itu kebahagiaan?” adalah salah satu pertanyaan yang percuma diungkapkan, seperti memukul udara kosong. Sama halnya dengan orang yang bertanya “Apa itu manis”?, karena kedua pertanyaan tersebut tertuju kepada rasa, dan rasa tidak pernah cukup terwakilkan dengan kata-kata. Di salah satu tweet, aku pernah mengutip kata-kata Prof. Dr. Quraish Shihab, di dalam salah satu karya tulisnya beliau mengatakan “Jangan bertanya apa itu jeruk manis, tidak perlu juga membawanya ke laboratorium untuk mengukur kadar manisnya. Makan dan rasakanlah!”. Dengan demikian, kita tidak dapat mengurai hakikat makna kebahagiaan itu sendiri. Tapi mari mencoba mengais sisa-sisa yang dapat kita lakukan untuk membahasnya.

Benar, kita akan membahas kebahagiaan.

Jika kata-kata tidak mampu untuk mengungkapkan yang satu ini, maka tersisa bagaimana cara kita mencapainya. Sebenarnya, tanpa perlu menanyakan apakah seseorang sudah menempuh jalan untuk mencapai kebahagiaan, mereka pasti telah dan sedang menempuhnya. Hanya saja, karena ini adalah sebuah naluri, sehingga kebanyakan manusia merasa tidak perlu untuk membahasnya. Dari kebanyakan manusia ini, ada segelintir orang yang rela berpikir keras untuk mencapai kebahagiaan hakiki. Aku yakin kalian juga sudah mulai menebaknya. Benar, mereka adalah para filsuf. Dan sekali lagi benar, mereka berasal dari Yunani. Mungkin kalian sudah tidak asing dengan nama-nama seperti: Socrates, Plato, Aristoteles. Jika demikian, maka itu adalah kabar baik karena pembicaraan ini akan terasa lebih relate untuk kita semua. “Siapa mereka?”, mereka adalah para pencari kebahagiaan. Dan “Apakah mereka menemukannya?”, mungkin. Yang jelas, mereka memiliki pandangan dan cara yang berbeda untuk mencapainya. Tiap-tiap dari mereka telah menggagaskan cara berpikir yang baru untuk mencapai apa yang dinamakan kebahagiaan. Setelah ketiga orang ini berlalu, pikiran mereka tetap kekal. Gagasan-gagasan yang pernah diusung rupanya tidak berhenti dengan berhentinya kehidupan mereka. Tapi maaf, aku tidak dapat menuliskan pikiran apa yang mereka gagas di kehidupan ini. Hanya sekedar menyinggung ketiga tokoh tersebut karena apa yang terjadi setelahnya lah yang akan menjadi poin penting untuk kita.

Kalian tahu apa yang terjadi setelah mereka berlalu?

Semasa hidup, ketiganya adalah seorang filsuf yang juga seorang guru. Dengan begitu, jelaslah bahwa mereka memiliki murid. Dari murid-murid mereka inilah kemudian berbagai ide dan gagasan yang pernah mereka ciptakan berkembang. Aktifitas olah pikiran yang berlangsung di Yunani ini rupanya membuat mereka menjadi bangsa yang dikenal dunia. Bahkan, sejarah mencatat bahwa ada satu masa dimana masyarakat dunia banyak berperilaku seperti orang Yunani, berbicara dengan bahasa mereka dan berlaku dengan budaya mereka. Periode ini yang berlangsung selama kira-kira 300 tahun, dikenal dengan Helenisme. Karakter dari filsafat helenistik adalah selalu berusaha untuk mengatasi masalah-masalah yang dikemukakan oleh Socatres, Plato, dan Aristoteles. Ciri umum dari filsafat tersebut adalah menemukan cara bagaimana untuk menjalani kehidupan dan menghadapi kematian sebaik mungkin. Tekanan terbesar diberikan pada upaya menemukan apakah kebahagiaan itu dan bagaimana mencapainya. Setidaknya ada empat aliran filsafat Helenistik yang memiliki ide dan kiat-kiat yang berbeda. 

Kita mulai dengan Kaum Sinis atau Sinisme

Konon, suatu hari Socrates sedang memandangi sebuah kedai yang menjual berbagai barang, kemudian ia berujar, “Betapa banyak benda yang tidak aku butuhkan!”. Ungkapan ini bisa jadi merupakan moto dari aliran filsafat ini.

Kaum Sinis adalah satu dari aliran filsafat Helenistik yang dipelopori oleh Antisthenes di Athena sekitar 400 SM. Warna yang menjadi ciri dari filsafat ini adalah bahwa kebahagiaan tidak terletak pada kelebihan materi, kekuasaan, dan atau popularitas. Dan karena kebahagiaan tidak terletak pada hal-hal seperti disebutkan, maka semua orang dapat mencapainya. Jadi, kecenderungan mayoritas manusia saat ini yang bergantung kepada materi dan popularitas merupakan arus balik terhadap aliran ini. Bagi mereka, kebahagiaan sejati terletak pada sesuatu yang tidak mengambang, fundamental dan sederhana. Bahkan kata sederhana disini mungkin melampaui makna sederhana yang kebanyakan orang pahami. Paradigma mereka yang anti-mainstream akan kesederhanaan membuat orang-orang memandangnya dengan aneh. Bagaimana bisa?

Salah satu tokoh terbesar dari  kalangan ini ialah Diogenes, seorang filsuf dari Sinope yang hidup di dalam sebuah tong di tengah kota Athena. Siapapun dapat menyaksikan kesehariannya. Makan, minum, tidur, buang air, berjemur, melamun. Pakaiannya adalah dua helai kain yang hanya cukup untuk menutupi sebagian tubuhnya. Diogenes tidak memiliki apa pun kecuali sebuah mantel, tongkat dan kantong roti. Maka cukup sulit untuk merenggut kebahagiaan darinya. Kisah yang paling masyhur tentangnya ialah ketika Alexander Agung, Raja Macedonia saat itu menghampiri Athena untuk melihat filsuf besar ini. saat tu, Diogenes sedang berjemur, lalu Alexander Agung bertanya, “Apakah ada yang bisa aku lakukan untukmu?”. Lalu ia menjawab, “Ya. Menyingkirlah! Kau menghalangi matahari”. Dengan demikian, Diogenes telah membuktikan bahwasanya ia tidak kalah bahagia dibandingkan dengan pria agung di hadapannya.

Mereka juga beranggapan bahwa kebahagiaan tidak terletak pada kesehatan yang baik. Hal ini tidak berarti mengharuskan mereka untuk selalu berada pada keadaan tubuh yang tidak sehat, melainkan lebih kepada ketidakpedulian terhadap kesehatan itu sendiri. Dengan begitu, tidak ada lagi kekhawatiran pada diri mereka akan sebuah penyakit. Begitu juga dengan penderitaan dan kematian tidak boleh menggangu mereka. 

Lantas, mengapa mereka dinamakan Kaum Sinis?

Disebut sebagai kaum Sinis karena apatisme mereka terhadap penderitaan orang lain. Hal ini menjadi tidak mengherankan setelah mengetahui bahwa penderitaan yang ada pada diri mereka pun diabaikan, apalagi penderitaan orang lain. Kalangan ini juga cenderung tidak mempercayai ketulusan manusia dan kebenaran teoritis. Sama seperti kata “sinis”, yang berarti ketidakpercayaan yang mengandung cemooh, seperti jika kalian mengatakan suatu kebenaran kepada teman-teman, dan satu di antara mereka ada yang memandang sinis seakan tidak percaya dan merendahkan.

Praktek kehidupan sosial yang berdasarkan sikap apatis terhadap penderitaan dan ketidaktergantungan terhadap materi menjadikan mereka seorang asketik. Ketika seseorang telah mencapai tingkatan ini, maka -menurut mereka- kebahagiaan sejati telah didapat.

Selanjutnya adalah Kaum Stoik atau Stoikisme

Aliran filsafat ini dipelopori oleh filsuf asal Syprus bernama Zeno pada sekitar 300 SM. Setelah kapalnya karam, ia bergabung dengan kaum Sinis di Athena. Zeno sering kali mengumpulkan para pengikutnya di sebuah serambi. Nama stoik sendiri berasal dari kata Yunani (stoa) yang berarti serambi atau beranda.

Para pengikut Stoikisme terbilang kosmopolitan, dalam artian mereka lebih mudah menerima kebudayaan kontemporer ketimbang para ”filosof tong”. Jika kaum Sinis krisis akan kepedulian terhadap orang lain, maka kaum Stoik adalah sebaliknya. Mereka banyak memberikan perhatian terhadap persahabatan manusia, sibuk dalam dunia politik dan kebanyakan dari mereka adalah negarawan yang aktif. Salah satu tokoh terbesar dari kalangan ini adalah Cicero (106-43 SM), sang orator, filsuf, sekaligus negarawan. Beberapa tahun kemudian, seorang tokoh Stoik bernama Seneca (4 SM- 65 M) mengatakan bahwa “Bagi umat manusia, manusia itu suci”. Ungkapan ini kemudian menjadi slogan humanisme sampai sekarang.

Ajaran Stoik yang paling menonjol adalah bagaimana manusia bertindak menurut keteraturan hukum alam yang diselenggarakan Sang Ilahi. Penyakit, penderitaan, kematian adalah bagian dari sebuah rangkaian hukum alam. Tidak ada sesuatu yang terjadi kebetulan, seperti yang dikatakan Holmes bersaudara, “Alam semesta tidak malas”. Segala sesuatu terjadi karena ada sebabnya. Oleh karena itu, mereka menegaskan bahwa manusia hendaknya menerima dengan lapang dada apa-apa yang terjadi padanya. Manusia tidak akan pernah bisa menghindari takdir. Dalam istilah awam, stoikisme kadang-kadang disebut sebagai “menderita dalam kesunyian”. Kini istilah stoic digunakan di dalam bahasa Inggris yang berarti “orang yang sangat tabah”

Kebahagiaan versi stoikisme tidak akan pernah tercapai bagi para pemberontak. Penolakan demi penolakan terhadap apa yang terjadi pada diri seseorang hanya akan menjadikannya semakin sengsara. Sebaliknya, mereka yang berusaha sedikit demi sedikit untuk menanam  sebuah praktek “tawakkal”, yaitu menerima segala yang telah dan akan terjadi, maka suatu saat akan menuai kebahagiaan yang hakiki. 

Dari uraian berikut, dapat ditentukan sebuah titik temu antara kedua aliran diatas bahwasanya keduanya sama-sama menghendaki bahwa manusia harus membebaskan diri dari kemewahan materi. Meski keduanya bertolak dari ide seorang filosof yang sama, yaitu Socrates, tuan dari proyek filsafat “Bagaimana cara manusia menjalani kehidupan dengan baik”, ia -Socrates- juga memiliki seorang murid yang mana gagasannya sedikit berbeda dengan para pendahulunya. Ialah Aristippus. Ia percaya bahwa tujuan hidup adalah kenikmatan indriawi setinggi mungkin. Katanya, “Kebaikan tertinggi adalah kenikmatan dan kejahatan tertinggi adalah penderitaan”. Tujuan dari ungkapan ini ialah usaha untuk menghindari penderitaan, yang mana bertolak belakang dengan dua aliran terdahulu yang berpedoman denagan “menahan penderitaan” tersebut.

Gagasan Aristippus ini kemudian menjadi salah satu corak yang paling menonjol dari kaum selanjutnya, yaitu  kaum Epikurian atau Epikurianisme.

Sama seperti pendahulunya, Epikurianisme juga merupakan aliran filsafat yang berkembang pada periode Helenisme yang didirikan oleh Epicurus (341-270 SM) di Athena sekitar 300 SM. Filsafat ini menggabungkan dua mega ide dari Aristippus dan teori atom Democritus. Mereka juga dikenal sebagai “para filosof taman” karena di sana lah mereka hidup. Di atas gerbang masuk menuju taman, tertulis kalimat yang seakan-akan menginformasikan bahwa taman ini merupakan tempat terbaik bagi mereka yang sudah terlalu gerah dengan anggapan bahwa menahan penderitaan adalah baik untuk mereka, kalimat itu bertuliskan “orang asing, di sini kalian akan hidup senang. Di sini kenikmatan adalah kebaikan tertinggi”. 

Seperti yang telah disinggung, filsafat ini mengandung gagasan seorang Aristippus. Kenikmatan indrawi menjadi sangat penting untuk dipenuhi demi mencapai kebaikan dan kebahagiaan tertinggi. Kaum Epikurian juga menekankan bahwa kenikmatan tidak lantas hanya kenikmatan indrawi saja, nilai-nilai seperti persahabatan dan penghargaan terhadap kesenian termasuk di dalamnya. Akan tetapi, hasil-hasil yang menyenangkan dari suatu tindakan harus dipertimbangkan efek sampingnya. Jangan sampai hanya karena kalian menginginkan iphone 11, kemudian menangguhkan uang saku dan membuka tabungan yang pas-pasan untuk membelinya. Lalu kebutuhan lain yang terbilang primer malah terbengkalai, tidak dapat tercukupi. Juga jangka waktu dari kenikmatan tersebut, jika kenikmatan itu berjangka pendek, maka lebih baik ditahan demi kemungkinan mendapatkan kenikmatan yang lebih hebat, lebih kekal dan lebih besar dalam jangka panjang. Bukankah lebih menyenangkan pergi berlibur ke Inggris, mengunjungi 221B Baker Street tempat tinggal Si Detektif Sherlock Holmes dan temannya dr. Watson (yaa aku tahu dia hanya tokoh fiksi) dari pada menghabiskan uang jajan dan tabungan untuk membeli 200 bungkus pecel lele dalam satu waktu?! (fyi, aku suka pecel lele). 

Mega ide lainnya berasal dari Democritus dengan teori atomnya. Democritus percaya bahwa ada yang dinamakan “atom jiwa” yang mana jika manusia mati, maka atom jiwa akan terurai menyebar ke seleruh penjuru. Dengan ini, ia juga percaya bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian. Rupanya, teori inilah yang menjadi obat bagi para Epikurian untuk menanggulangi ketakutannya terhadap kematian. Mereka berpedoman bahwa untuk menjalani kehidupan yang baik, manusia perlu mengatasi rasa takutnya terhadap kematian. Epicurus mengatakan, “Kematian tidak menakutkan kita. Sebab selama kita ada, kematian tidak bersama kita. Dan ketika ia datang, kita tidak ada lagi”.

Kemudian, Epicurus meringkas filsafatnya dengan apa yang dinamakannya empat “ramuan obat”: Dewa-dewa atau tuhan bukan untuk ditakuti. Kematian tidak perlu dikhawatirkan. Kebaikan itu mudah dicapai. Ketakutan itu mudah ditanggulangi. 

Maka, dengan uraian dan empat “ramuan obat” di atas, manusia dapat mencapai apa yang dinamakan dengan kebaikan tertinggi dan kebahagiaan sejati, setidaknya itu yang dipercaya oleh Epikurian. Kalian percaya itu?

Tersisa satu aliran filsafat, dan yang satu ini adalah yang paling berbeda dari sebelumnya dan bisa dibilang perlu sedikit tambahan tenaga untuk memahaminya secara komprehensif. Maka aku sarankan jika kalian sudah cukup lelah membaca ritus-ritus ini, ambillah segelas air segar dan minumlah secukupnya. Aku juga tidak melarang jika kalian ingin minum teh atau kopi, karena yang terpenting ketika membaca dan mencoba memahami sesuatu adalah kenyamanan. 

Baiklah, jika kalian sudah cukup nyaman untuk membaca kembali, aku perkenalkan aliran filsafat ke empat yang mengalir pada periode Helenisme, aliran filsafat yang paling berpengaruh di akhir periode ini. 

Namanya Neo-Platonisme

Jika tiga aliran filsafat terdahulu semuanya berakar pada ajaran Socrates dan tokoh-tokoh sebelumnya seperti Democritus, maka yang satu ini memiliki kecenderungan filsafat terhadap apa yang diajarkan oleh Plato. Oleh karena itu dinamakan Neo-Platonisme. Tokoh paling penting pada filsafat Neo-Platonisme adalah Plotinus (sekitar 205-270 M) yang berasal dari Alexandria, kota yang menjadi titik temu antara filsafat Yunani dan mistisme timur selama berabad-abad. 

Untuk memahami filsafat Neo-Platonisme, kita perlu memulai dengan gagasan Plato mengenai “Dunia Ide”. Plato percaya bahwa segala sesuatu terdiri dari dua bentuk, yaitu materi dan ide. Ide disini menjadi asal muasal terbentuknya materi. Dimisalkan dengan kue jahe yang berbentuk manusia, atau binatang atau bentuk apapun. Jika kalian ingin membuat banyak kue dengan bentuk yang sama, maka kalian membutuhkan sebuah cetakan kue. Setelah kue jadi, kita dapat melihat bahwa kue satu dengan lainnya memiliki persamaan bentuk, meski juga tidak seratus persen sama. Mungkin salah satu dari kue itu memiliki bagian tangan yang kurang sempurna, dan yang lainnya kehilangan mata, atau perutnya berlubang. Dan itu tidak terjadi pada cetakan kue, kita akan mendapati cetakan kue dalam bentuk sempurna, lebih sempurna dari pada kue-kue tersebut. Kue-kue ini disebut sebagai raga dan cetakan kue yang lebih sempurna itu disebut sebagai ide. Karena itu bagi Plato realitas tertinggi adalah ide. Penjelasan ini juga mengantarkan kita pada sebuah perbedaan antara raga dan jiwa. Maka dari itu manusia disebut sebagai makhluk ganda karena memiliki raga yang temporer dan jiwa yang kekal.

Plotinus sampai kepada pemahaman semisal. Seperti sebuah api unggun besar yang percik cahayanya berterbangan di tengah malam. Baginya, api adalah Tuhan, percikan cahaya adalah jiwa manusia, dan benda-benda lainnya yang dingin karena malam adalah raga. Yang paling dekat dengan Tuhan adalah jiwa, sebagaimana yang paling dekat dengan api adalah percikannya.

Jika plato percaya dengan realitas gandanya, Plotinus tidak demikian. Ia memberikan banyak perhatian terhadap “pengalaman tentang kesatuan”, atau yang disebut dengan “pengalaman mistik”. Ia percaya bahwa segala sesuatu itu berasal dari Tuhan, dan semuanya mangandung pijaran lemah cahaya-Nya. Seperti setetes air yang mengalir menuju samudra, jiwa yang naik menuju Tuhan dan “menjadi Tuhan”. Karena Tuhan adalah sumber segala sesuatu dan pemilik kekuatan terbesar, maka “bersatu dengan-Nya” dapat diterjemahkan dengan apa yang dimaksud dengan kebahagiaan sejati. Itu karena sifat Tuhan yang tidak memiliki ketergantungan terhadap apapun, juga tidak membutuhkan apapun. Ia juga kekal, pantas bukan jika mereka yang berhasil naik dan “menyatu dengan-Nya” merasakan kebahagiaan tertinggi?!.

“Pengalaman mistik” atau “penyatuan” ini dapat dicapai melalui tiga langkah. Langkah pertama adalah penyucian, dimana manusia melepaskan diri dari materi dengan laku tapa. Langkah kedua adalah penerangan, dimana ia diterangi dengan pengetahuan tentang ide-ide akal budi. Lalu, langkah ketiga adalah “penyatuan” dengan Yang Esa yang melebihi segala pengetahuan. 

Dengan begitu, manusia akan sampai kepada tujuan hidup yang paling mulia, sebagaimana yang dituju adalah Tuhan, dan ia adalah Yang Paling Mulia. Berbahagialah bagi mereka yang dapat sampai kepada-Nya di dunia ini. 

Demikian adalah empat aliran filsafat paling masyhur pada periode Helenisme dengan segala gagasan dan ritus kebahagiannya. Masing-masing memiliki jalan yang berbeda untuk menjalani kehidupan dengan baik. Mana yang benar dan mana yang salah bagi manusia akan selalu kembali pada keyakinan. Sejarah juga telah mencatat bahwa mereka semua telah mencapai apa yang mereka anggap sebagai kebahagiaan hakiki. Masih banyak gagasan lain dari aliran yang berbeda yang membahas tentang kebahagiaan. Tapi cukup sampai di sini dulu, kalian mungkin sudah cukup lelah membaca. Terimakasih sudah mau menyempatkan untuk membaca tulisan ini. Sudah waktunya untuk beristirahat. Dan jangan pernah takut untuk berubah.

Sumber:

Gaarder, Jostein. Tanpa tahun. Dunia Sophie. Bandung: Penerbit Mizan PT Mizan Pustaka Anggota IKAPI. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sinisisme, http://wikipedia.org/wiki/Epikurianisme

Penulis: Ferdi Setiawan, PPMI Mesir

Editor: Budi Waluyo, Devisi Mass Media, Pusat Media dan Komunikasi PPI Dunia 2019/2020

            Brunei Darussalam secara geografi merupakan negara berdaulat di Asia Tenggara yang terletak di pantai utara pulau Kalimantan, ia berbatasan langsung dengan Negara Malaysia bagian Sarawak.  Negara seluas 5.765 km2  ini dikenal sebagai negara dengan tingkat kemakmuran yang tinggi. Negara ini juga dikenal sebagai negara yang tegas menerapkan prinsip serta syariat Islam, baik dalam pemerintahan maupun kemasyarakatan.

            Secara demografis, Brunei Darussalam  penduduknya berasal dari Melayu. Brunei memiliki kemiripan budaya dengan orang Melayu di Negara Malaysia dan Indonesia. Jika berkunjung ke negara ini kita akan banyak mendapati kemiripan bahkan kesamaan budayanya dengan Malaysia pun Indonesia.

             Negara Brunei Darussalam, negara bekas jajahan United Kingdom memerdekaan dirinya pada 1 Januari 1984. Brunei Darussalam sebagai negara ASEAN menjadi salah satu negara yang menjadi tujuan belajar mahasiswa Indonesia, salah satu faktornya adalah karena Brunei tidak berlokasi terlalu jauh dari Indonesia. Biasanya mahasiswa Indonesia mengincar beberapa universitas di bawah ini untuk berkuliah:

  1. UNIVERSITY BRUNEI DARUSSALAM (UBD)

Sumber gambar : http://bruneiresources.blogspot.com/2017/10/ubd-universiti-brunei-darussalam-mega.html

            University Brunei Darussalam (UBD) adalah universitas yang didirikan pada tahun 1985. Universitas Brunei Darussalam saat ini masuk dalam Top 500 World University Ranking 2020[1]. Universitas yang saat ini memiliki sembilan fakultas ini berlokasi di Jalan Tungku Link, BE1410 . University Brunei Darussalam sebagai kampus international menggunakan bahasa pengantar di bahasa inggris. (Darussalam, 2016)

2. UNIVERSITY TEKNOLOGI BRUNEI (UTB)

            Universitas Teknologi Brunei didirikan pada tahun 1986, awalnya didirikan sebagai lembaga pendidikan tertinggi. Pada tahun 2008 universitas ini dikembangkan menjadi universitas. Sesuai dengan namanya, Universitas Teknologi Brunei berfokus dalam bidang teknologi. Ia memiliki banyak fakultas di antaranya fakultas teknik, komputer dan informatika, sains dan matematika terapan, serta fakultas bisnis.

Sumber gambar: http://borneobulletin.com.bn/wp-content/uploads/2017/02/p22-3_20170217.jpg

3. UNIVERSITY ISLAM SULTAN SHARIF ALI (UNISSA)

Sumber gambar : https://drive.google.com/drive/folders/144Pfjw3ZR-Tk_6u3oEE2Dx4R7dwN1Cly

            Universitas Islam Sultan Sharif Ali merupakan universitas Islam nasional pertama yang ada di Brunei Darussalam, didirikan pada tahun 2007. Fakultas yang ada diantaranya fakultas ushuluddin, hukum dan syari'ah, sastra arab, ekonomi dan keuangan Islam, serta menajamen Pengembangan Islam.

"Selama perjalanan ke Bandar Seri Begawan, saya memikirkan, bagaimana rasanya melanjutkan studi di negeri yang diberkati, kaya akan hasil minyak, dan bertanya-tanya dengan sistem pemerintahan yang dipimpin oleh raja. Alhamdulillah setelah menunggu selama dua tahun, akhirnya saya diterima di Universitas Islam Sultan Syarif Ali. Sebagai orang yang haus akan mencari ilmu, tentunya melanjutkan studi di luar negeri saya tahu akan menghadapi berbagai tantangan serta pengalaman tersendiri yang belum tentu bisa saya dapatkan di tempat lain."

Muhammad Ilham, mahasiswa UNISSA Brunei Darussalam

Referensi

Brunei, U. T. (2018). University Teknology Brunei. Retrieved december 18, 2019, from http://www.utb.edu.bn

CSC Corporate Domains, I. (n.d.). The World University Rankings. Retrieved December 10, 2019, from Times Higher Education: https://www.timeshighereducation.com/

Darussalam, U. B. (2016). University Brunei Darussalam. Retrieved december 18, 2019, from https://ubd.edu.bn/

University, S. S. (2017). Universiti Islam Sultan Sharif Ali. Retrieved december 18, 2019, from http://www.unissa.edu.bn/      


[1] https://www.timeshighereducation.com/world-university-rankings/2020/world-ranking#!/page/0/length/25/locations/BN/sort_by/rank/sort_order/asc/cols/stats

Isi dari tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis, tim redaksi Mass Media, Pusat Komunikasi, Pusmedkom PPI Dunia hanya melakukan editing yang bersifat minor tanpa mengubah makna dan isi tulisan.

Hakimuddin Salim seorang mahasiswa Indonesia di Madinah (18/12) telah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "Al-Asālīb At-Tarbawiyah Al-Mustanbathah minal Qoshosh Al-Qur'āni wa Madā Mumārasati Mu'allimil Ma'āhid Al-Qur'āniyah fī Indonesia Lahā Ma'a Taqdim Tashowwur Muqtarah li Ta'zīzihā" atau “Metode Kependidikan Disimpulkan dari Kisah-Kisah dalam Al-Qur'an dan Tingkat Pengamalannya oleh Para Guru di Pesantren-Pesantren Al-Qur'an di Indonesia Beserta Rekomendasi Penguatannya” di hadapan para penguji di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Hakim bahkan mendapatkan predikat Mumtāz Ma'a Martabat Asy-Syaraf Al-Ūlā (summa cum laude) dan tercatat sebagai Doktor Pendidikan Islam pertama dari Asia Tenggara di kampus-kampus Saudi.

Ustaz muda asal Klaten ini menyelesaikan jenjang pendidikannya di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Padangan (1993), Madarasah Tahzhibus Shibyan Jatinom (1999), SDN Bonyokan 1 (1999), MTs PP Al-Mukmin Ngruki (2002), dan MA Ma'had Tahfizhul Qur'an Isykarima Karanganyar (2006).

Kemudian melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas Islam Madinah dengan beasiswa. Ia lulus dari Fakultas Syari'ah di tahun 2011 dengan predikat summa cum laude, dengan judul skripsi, "Fathul Wahhāb fīl Farqi bainal Jihādi wal Irhāb" (Studi Fikih Perbedaan Mendasar antara Jihad dan Terorisme). Kemudian melanjutkan studi S2 di kampus yang sama pada Jurusan Ushul Tarbiyah dengan kembali meraih predikat summa cum laude, dengan judul tesis, "At-Tarbiyah Al-Jinsiyyah 'inda Ibni Qoyyim Al-Jauziyah" (Pendidikan Seksual Menurut Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah).

Selain mengenyam pendidikan formal di kampus, ia juga menimba ilmu dari para Ulama di luar kampus seperti di Masjid Nabawi. Hakim rutin mengaji kepada Syekh Abdul Muhsin Al-'Abbad, Syekh Muhammad Nashir As-Suhaibany, Syekh Ibrohim Ar-Ruhaily, Syekh Muhammad Mukhtar Asy-Syanqithy, dan Syekh Abdurrazaq Al-Badr dan ber-mulazamah dengan Syekh Abdulloh Al-Qodiri dan Syekh Yahya Al-Yahya.

Selain menuntut ilmu, Hakim juga aktif berdakwah. Ia pernah menjadi Da'i di Hai'ah 'Alamiyah Litta'rif bil Islam (World Islamic League), penyuluh haji di Maktab Ta'awuni (Departemen Agama Saudi), penerjemah digital Mujamma' Al-Qur'an Malik Fahd, penulis di berbagai media cetak dan daring, dan aktif membimbing jemaah haji dan umroh, serta berdakwah kepada masyarakat Indonesia di berbagai kota seperti Khobar, Dammam, Madinah, dan Riyadh.

Selama dua belas tahun di Madinah, ia aktif di organisasi dan pergerakan mahasiswa seperti pernah menjadi editor di Majalah Al-Bashiroh PPMI Madinah, Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Arab Saudi, dan tergabung dalam Komisi Sosial Budaya PPI Dunia Periode 2018-2019.

Semoga ia bisa segera pulang ke tanah air dengan berbekal ilmu yang bermanfaat dan turut serta mengemban amanah dakwah demi mencerahkan kehidupan umat dan bangsa.

Artikel ini ditulis oleh Panitia Disertasi Hakimuddin Salim dan diedit oleh
Nuansa Garini, Koordinator Mass Media, Pusat Media dan Komunikasi, Pusmedkom PPI Dunia 2019/2020

Pertama kali diselenggarakan, 7 Oktober 2019, Scholarship Expo FELARI PPI Dunia masa kepengurusan PPI Dunia 2019-2020. Bekerja sama dengan UIN Syarif Hidayatullah Expo diadakan di Aula Student Center Kampus I UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Acara ini dirancang dengan menggunakan dua format acara yaitu, Scholarship Information Stan dan Scholarship Talkshow.

Scholarship Information Stand merupakan jajaran stan yang difungsikan untuk konsultasi studi; baik studi di dalam maupun luar negeri. Pada stan, pengunjung bisa mendapatkan informasi terkait kebeasiswaan oleh beberapa lembaga, seperti: Beasiswa Monbukagakusho – Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia, Indonesian Youth for SDGs and Asian Pacific Youth Exchange, Persatuan Pelajar Indonesia sedunia (delegasi Mesir), AIESEC in South Tangerang, Beasiswa Bank Indonesia, Aspectama Alam Sutera, Beasiswa Unggulan Kemendikbud, Beasiswa Karya Salemba Empat, Kedubes Malaysia, Social Trust Fund UIN Jakarta, Pusat Layanan Kerjasama Internasional UIN Jakarta, Awardee LPDP UIN Jakarta dan Beasiswa Bidikmisi.

Sedangkan Scholarship Talkshow adalah sebuah talkshow yang membahas serba-serbi beasiswa. Penyelengara kegiatan mengundang beberapa awardee untuk berbagi pengalamannya meraih beasiswa seperti Ahmad Suhaimi – Lurah Awardee LPDP UIN Jakarta dan Intan Qomariah – APYE Phillipines Partnership Coordinator untuk berbicara seputar beasiswa. Talkshow tersebut dimoderatori Dewi Ghitsatul Hisan, penerima beasiswa KSE (Karya Salemba Empat).

Hadirnya Scholarship Expo di kampus-kampus bertujuan untuk memudahkan mahasiswa mendapatkan informasi kebeasiswaan, juga diselenggarakan dengan harapan dapat memotivasi teman-teman mahasiswa agar lebih bersemangat mencari ilmu di tempat terbaik demi Indonesia lebih baik.

Scholarship Talkshow

Scholarship Information Stan

Sesi tanya jawab peserta Scholarship talkshow

Artikel ini ditulis oleh Nuansa Garini (PPMI Mesir)
Koordinator Mass Media PPI Dunia 2019-2020

Ingin bekerja sama membuat Edufair atau mengikutsertakan delegasi narasumber dari PPI Dunia?
Informasi dapat dilihat di https://ppi.id/divisi-festival-luar-negeri-felari/

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920