logo ppid

Suasana dalam kegiatan ifthar

Ramadhan telah lewat, untuk kami para perantau di negara-negara belahan bumi utara, Ramadhan adalah sebuah tantangan yang memiliki pahit-manisnya tersendiri. Buat kami yang harus rela ber-budget makanan mati-matian sehari-harinya, ada yang menyambut Ramadhan dengan girang karena akhirnya tidak harus me-budget makanannya dengan alasan yang sia-sia. Tapi di satu sisi, hiruk-pikuk deadline and ujian di musim panas ini juga menguji kesabaran dan ketangguhan kita saat berpuasa selama 18 jam (waktu berbuka menjadi semakin lama juga seiringnya musim panas berjalan) di tanah rantau.

Di Britania Raya, persoalan menjadi seorang Muslim terkadang tidak sulit dikarenakan angka penduduk imigran atau keturunan imigran yang cukup meningkat. Tetapi tentu saja, umat Muslim masih dianggap sebagai minoritas dikarenakan hanya terhitung sebagai 4.8% dari total populasi Inggris dan Wales saja di sensus terakhir (Office for National Statistics, 2011).

2017 bukan lah tahun yang menyenangkan di media bagi umat Muslim di Inggris, hal ini diakibatkan beberapa aksi teror yang mengatasnamakan ‘Islam.’ Tetapi dalam semua kejadian itu, solidaritas terus ditenun oleh negara yang terkenal dengan Keep Calm & Carry On mereka saat menghadapi kesulitan. Dimulai dari kejadian di Wesminster tanggal 22 Maret kemarin, rakyat London paham kalau yang terakhir mereka ingin sampaikan kepada pihak yang berasalah adalah pesan yang berbau ketakutan dan ketidakpercayaan dengan satu sama lain.

Tujuan rantau saya di Inggris adalah kota kecil bernama Canterbury yang bisa ditempuhi dengan kereta dari London dalam waktu dua jam. Ramadhan di tanah rantau tidak hanya menjadi alat introspeksi diri tetapi juga dijadikan sarana introspeksi komunitas. Masjid kami adalah sebuah rumah sederhana yang masih berada di dalam lingkungan kampus dan telah berdiri selama 20 tahun. Tak hanya aktif sebagai wadah organisasi ISOC (Islamic Society) untuk mahasiswa, masjid juga digunakan sebagai wadah berdialog dengan masyarakat lokal di Canterbury.

Di saat maghrib tiba, masjid kami pernah mengundang orang-orang banyak, Muslim dan non-Muslim, untuk berbuka puasa bersama. Tujuannya adalah untuk menyebarkan ilmu dan membangun kesadaran masyarakat tentang apa ang umat Muslim lakukan selama Ramadhan. Namun, disaat adzhan maghrib berkumandang dan makanan pembuka (ingat, tidak ada takjil disini) disebarkan, kesempatan untuk belajar itu tidak hanya diberikan kepada mereka yang tidak melaksanakan ibadah puasa tetapi juga kepada kami yang turut belajar dari beragam celotehan pahit dan manisnya kehidupan mereka.

Bincang-bincang dalam kegiatan Ifthar

Setelah puas bermakan-makan dan berbagi cerita, kami berkumpul di satu area di dalam masjid dimana sang imam—yang selalu kita panggil Uncle Rashid—mengumpulkan saran dan opini dari orang-orang yang telah hadir di malam itu. Beliau beranggapan bahwa sebuah inisiatif yang bertujuan untuk merubah persepsi masyarakat itu mudah dimulai tetapi lebih sulit untuk dipertahankan. Beliau berharap inisiatif ini bisa dilanjutkan kedepannya dan satu-satunya cara untuk menarik minat masyarakat untuk terus datang bisa diraih dengan upaya perbaikan yang berkelanjutan—budaya continuous improvement dan lagi-lagi juga mengangkut topik introspeksi diri. Di saat puasa selalu menjadi highlight media massa saat mendeskripsikan Ramadhan, pengalaman ini membuka mata masyarakat. Mereka, dan kami tentunya yang melaksanakan ibadah puasa, juga bisa diajak untuk memahami bagaimana Ramadhan bisa ditafsirkan sebagai medium untuk melatih diri agar bisa berempati dengan satu sama lain.

 

Penulis:

Nibras Balqis Sakkir, BA in Social Anthropology, University of Kent

PPI United Kingdom

 

Sumber yang dikutip:

Office for National Statistics (2011). Religion in England and Wales 2011 [Online]. Available from: https://www.ons.gov.uk/peoplepopulationandcommunity/culturalidentity/religion/articles/religioninenglandandwales2011/2012-12-11 [02/06/2018]

Webminar dengan pembicara Prof. Mahfud MD

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok, menggelar acara webinar yang bertemakan “Menjalankan Nilai-Nilai Pancasila di Era Milleal” pada hari Sabtu, 9 Juni 2018. Pembicara pada webinar kali ini adalah Prof. Dr. Mahfud MD, SH.SU selaku Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Antusiasme para peserta yang sangat tinggi membuat webinar ini tidak hanya berlangsung menggunakan aplikasi Zoom seperti biasanya, namun juga disiarkan secara online melalui Youtube.

Dalam penyampaian materinya, Prof. Mahfud membahas tentang sejarah kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 yang bertepatan pada 9 Ramadhan 1364 H. Pada bulan Februari 1945, Radjiman Wedyodiningrat, selaku ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mengatakan bahwa kita harus menyiapkan dasar-dasar negara terlebih dahulu untuk menjadi negara yang merdeka. Hal tersebut yang melahirkan Pancasila sebagai dasar negara pada tanggal 1 Juni 1945.

Prof. Mahfud MD saat menyampaikan webminar

Dalam paparannya, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini juga mengatakan bahwa negara Indonesia terbentuk dari Proklamasi bukan Deklarasi yang memiliki makna bahwa kemerdekaan Indonesia diraih dengan kekuatan sendiri bukan merupakan hadiah dari negara penjajah. Indonesia adalah satu-satunya negara di Dunia yang berhasil memperoleh kemerdekaannya dengan cara tersebut.

Pancasila yang diusulkan oleh Bung Karno pada saat itu berbeda dengan Pancasila yang berlaku saat ini, namun substansinya tetap sama. Pada saat itu, Bung Karno dan para pejuang berhasil menghasilkan Piagam Jakarta dimana isinya sama dengan Pancasila. Setelah pembentukan Pancasila, lahirlah UUD yang didalamnya terdapat Pancasila yang mengalami perubahaan khususnya kata yang menjurus kepada agama seperti kata “Mukadimah” diubah menjadi “Pembukaan”, dan isi dari sila pertama diubah menjadi Ketuhanan yang Maha Esa.

Beliau juga menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara yang berkeTuhanan bukan negara Islam, yaitu meyakini adanya Tuhan yang tercermin di dalam berbagai macam agama. Hal tersebut yang menghasilkan adanya toleransi diantara masyarakat Indonesia. “Silahkan menjalankan agama masing-masing tapi ketika berpakaian Indonesia maka kita tetap sama sebagai warga negara Indonesia, apapun agama Anda dan patuh terhadap ajaran-ajaran agamamu maka semua akan menjadi baik” jelasnya.

Salah satu nilai Pancasila yang penting adalah mengajarkan kemanusiaan. Tentu nilai kemanusiaan tersebut hanya dimiliki oleh bangsa yang merdeka. Seluruh masyarakat Indonesia wajib menghargai satu sama lain dan memiliki rasa kebersatuan dalam banyaknya perbedaan. Hal tersebut yang disebut sebagai 'Bhineka Tunggal Ika'.

Bangsa Indonesia memerlukan dasar Pancasila untuk menghubungkan berbagai ikatan primordial yang sangat beragam dikalangan bangsa. Dengan ribuan suku dan perbedaan agama, hal ini harus diatur berdasarkan demokrasi dan sosial yang berkeadilan. Pancasila berarti keadilan sosial yakni bagaimana membangun terciptanya pemerataan hingga mempersempit kesenjangan ekonomi.

Di akhir materi, Prof. Mahfud mengingatkan seluruh Mahasiswa Indonesia di Tiongkok untuk tetap menjaga persatuan. “Tunjukkan kita masyarakat Indonesia yang punya sifat-sifat kepancasilaan yg selalu tawadhu, berkemanusiaan / manusiawi, mau bermusyawarah, jaga nama bangsa Indonesia” tutupnya.

Setelah acara ini, Fadlan Muzakki, Ketua Umum PPI Tiongkok mengatakan bahwa Palajar Indonesia tetap bisa menjalankan nilai-nilai Pancasila selama belajar disana. Kegiatan webinar juga sebagai jawaban terkait berita hoax yang beredar beberapa waktu yang lalu terkait Pelajar Indonesia. “Kegiatan Webinar Ini sekaligus dapat dipandang sebagai counter issue terhadap berita miring yang mengatakan Pelajar Indonesia belajar ideologi tertentu” ujarnya.

Webinar ini merupakan kegiatan rutin PPI Tiongkok yang diselenggarakan sebagai media untuk berbagi pengetahuan, menambah wawasan dan forum untuk membahas isu-isu yang sedang hangat baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Bravo PPI Tiongkok.

 

Penulis: Nadya Mara Adelina, Pengurus Pusat PPI Tiongkok (Dept. Pendidikan)

Editor: Nadhirariani

Sejarah kemunculan falsafah Cina merupakan refleksi dari konflik politik yang tidak berkesudahan. Sama seperti sejarah negaranya, falsafah Cina merupakan cerminan konflik politis dan perang saudara. Konflik yang panjang disertai depresi terhadap pengelolaan negara melahirkan tokoh-tokoh berpengaruh yang terkenal hingga di kancah dunia. Contohnya, mulai dari Kong-Ze atau Konfusius (Kong Hu Chu), Lao Tze (Taoisme) sampai pada ilmu pengobatan Zhu Xi.

Dalam sejarah ilmu pengobatan, Ibnu Sina dari dataran Arab mengawali lebih dahulu pengobatan-pengobatan dunia melalui bukunya The Canon (al-Qonun Fi’l-Tibb). Terlepas dari ilmu pengobatan Timur lain, ilmu pengobatan Ibnu Sina banyak diadopsi oleh bangsa Barat, bahkan dinisbatkan sebagai peletak dasar pengobatan medis modern.[i] Ibnu Sina selain dikenal sebagai ahli pengobatan juga dikenal sebagai filsuf muslim dengan gagasan-gagasan naturalis bernafaskan Islam yang memberikan pengaruh kepada berbagai tokoh dunia lainnya. Thomas Aquinas misalnya, menyatakan dirinya banyak terpengaruh pemikiran Ibnu Sina dalam memandang “eksistensi diri” dan hubungannya dengan “dunia yang tidak menentu.”

Di sisi lain, sampai akhir masa modern, pengobatan yang berlandaskan tradisi sama sekali tidak dilirik dan tidak diminati masyarakat Barat. Pengobatan tradisional dinilai banyak melakukan khayalan (atau disebut sebagai metafisika) dibanding dengan melakukan identifikasi secara logis. Akibatnya, pada masa modern terjadi banyak penurunan mulai dari degradasi moral, atheisme, anti-spiritual sampai Agnostisme. Sebenarnya, hal ini tidak bisa dinilai hanya sebagai efek saja, namun sudah menggejala dan menjadi penyakit modern. Hasilnya, spiritualitas dan batin manusia terasa kosong dan hampa.

Ilmu kesehatan tradisional, khususnya Cina, memberikan wawasan baru terhadap pertemuan antara dunia natural (alam) dan metafisika, serta menawarkan berbagai konsep, teori dan aplikasinya pada kesehatan. Ilmu ini muncul akibat pandangan filsuf Cina dalam memandang alam sebagai sebuah keseimbangan yang hakiki. Lambat laun, ilmu ini banyak digunakan sebagai cara mengatasi berbagai penyakit yang disebabkan oleh batin manusia.

 

Memahami Alam dan Manusia

Perkembangan ilmu kesehatan di Cina telah dimulai sejak masa klasik, yaitu pada kekuasaan Dinasti Song-Ming (960-1628 CE). Perkembangan ini dipelopori oleh Zhu Xi (Chu Hsi). Ia merupakan seorang pemikir analitis dan sintesis. Filsafatnya mengalami perjalanan yang cukup panjang. Kebanyakan karyanya dipengaruhi oleh Konfusius dan Mencius.

Ia memaknai kembali pemahaman tentang ajaran Konfusius dan Mencius dalam pandangan yang lebih luas dan baru. Aliran filosofisnya lebih mengarah kepada Neo-konfusianisme. Nilai-nilai yang diajarkan, sebagai contoh, adalah pemulihan kembali penguatan moral dan penerapannya pada birokrasi pemerintahan yang berpijak pada Konfusianisme di masa awal Dinasty Han dan Tang (206 BCE-905 CE).

Zhu Xi lahir pada Oktober 1130 di Youqi, provinsi Fujian, Cina. Pada usia 19 tahun, ia ditinggal ayahnya Zhu Song (109-1143). Zhu memulai memilih dan mempelajari berbagai sumber tentang ilmu kehidupan, termasuk Budhisme. Keilmuannya diawali dari minatnya terhadap Budisme dan Taoisme sampai ia menjadi murid dari Master Li Tong (1093-1163). Ayah Zhu menyarankan ia berguru pada Master Li, namun Zhu tidak menghiraukannya sampai ia berumur 30 tahun, pada saat ia mengalami keraguan spiritual. Zhu mengkritisi polemik kebijakan pemerintah di masanya serta praktik-praktik keagamaan yang pada saat itu amat populer. Seperti para filsuf pendahulunya, ia juga mengajarkan ilmu pengobatan dan filsafat secara intensif. Titik fokus dalam filsafatnya ialah pemurnian pikiran dan implikasinya terhadap penelaahan ‘pikiran dan dunia’ menjadi sebuah drama bagi manusia.

 

Perkenalan dengan Moral ‘Kosmos’

Zhu Xi mengartikulasikan dan mensistematisasi pemikiran ideal konfusianisme untuk memandang kemanusiaan 人(baca: rén) dalam kaitannya dengan kosmos dan sudut pandang manusia. Kemanusiaan menurut Zhu Xi merupakan keterkaitan manusia dengan “kreatifitas kosmos”. Misalnya adalah “Surga dan Bumi” (Kosmos) dalam memunculkan berbagai pandangan. Keterlibatan kosmos ini memberikan berbagai sudut pandang yang amat penting dalam memahami manusia sekaligus menjadikan ia sebagai perantara akan adanya manusia itu sendiri. Meski corak filsafat Zhu Xi adalah “Human Nature” atau alamiah yang berarti ke-Alam-an, namun ia juga menjelaskan berbagai hal yang bersifat metafisis, seperti tentang jalan langit (takdir) dan kekuatan diluar manusia yang kemudian mengilhaminya menjadi sebuah konsep tentang keseimbangan segala sesuatu. Moral kosmos dalam pandangan Zhu Xi merupakan refleksi dirinya dari pemikiran pendahulunya seperti Konfusianisme dan Taoisme. Konsep naturalisme merupakan produk dirinya yang berasal dari Budhisme yang ia pelajari dimasa mudanya.

 

Moral Kosmos dan Konsep Pikiran

Pemikirannya semakin membesar karena didukung dengan pemikiran metafisiknya. Metafisika yang ia maksud adalah tentang segala hal yang bisa dirasakan meskipun itu tidak nampak, seperti udara dan energi yang menggerakkan manusia secara total.

Konsep Zhu Xi yang paling terkenal adalah “Dinamika Realitas” atau sebuah kenyataan yang dinamis, selalu berubah dan berkembang. Dinamika realitas yang dikonsepsikannya ditunjukkan dalam “sketsa pertentangan tertinggi” (Taiji tu) atau yang sering kita kenal dengan Taichi. Taichi dapat dimaknai sebagai ilmu tentang energi. Lebih luas, Zhu Xi menjelaskan tentang bagaimana dinamika realitas ini terhubung dengan segala hal yang mendasari sifat-sifat kemanusiaan yang ada. Taiji tu Shou merupakan “The Holistic System”. Pada perkembangannya, sebuah sistem tersebut mencapai tingkat bentukan dunia yang terbentuk dari ‘yang tidak terbentuk’ sampai pada Yin dan Yang pada 5 tahapan, Bumi, Kayu, Api, dan Logam dan terakhir ke surga. Ide pemikiran Zhu dikombinasikan dengan pemahaman dari “Book of Change” sebagai pemikiran filsafat yang menyeluruh antara kosmos dan kreatifitas manusia.

Seiring berkembangnya peradaban modern, kualitas pemahaman tentang 5 elemen menjadi lebih aplikatif. Misalnya saja dalam pengobatan akupunktur dan pengelolaan keseimbangan nafas. Sebagai gambaran, Refleksologi merupakan hasil dari pemikiran Zhu. Dalam tahap refleksologi, ia menggabungkan kelima elemen yang dosebut model dinamis system biologi. Sekaligus sebagai kombinsai dari sistem keseimbangan Yin-yang. [ii]

Refleksiologi

Keseimbangan dinyatakan dengan adanya alam mikrokosmos dalam tubuh manusia. Konsep Yin-Yang diaplikasikan pada hampir setiap aspek kehidupan. Misalnya saja dalam konsep etika, setiap hal yang dilakukan tidak boleh berlebihan. Hal serupa juga berlaku pada tindakan makan, minum juga bekerja. Selain itu konsep keseimbangan juga diaplikasikan untuk mengelola kondisi pikiran, hati dan jiwa manusia.

Simbol Tai-Chi (A) dan Segitiga Sierpinski (B)

Catatan Akhir

Dalam perkembangan pemikirannya, Zhu Xi memulai dengan memahami alam sebagai daya penggerak manusia dan senantiasa bergerak sendiri. Zhu Xi sangat menyukai cara berfikir abstrak dan metafisis disbanding logis, karena banginya alam lebih banyak tidak menggunakan logika untuk menjadikan dirinnya senantiasa bergerak.

Pemikiran Zhu Xi banyak digunakan sebagai basis teori pengobatan tradisional China, yang sampai sekarang dikenal dengan konsep keseimbangan Yin dan Yang. Prinsip tersebut menjelaskan keseimbangan antara manusia dan alam.

Tulisan ini merupakan pengantar tentang peran filsafat dalam perkembangan ilmu kesehatan paling awal di China. Sangat senang jika bisa berdiskusi dan mendalami akar-akar pemikiran filsafat dari Timur.

 

Penulis: Afifudin Alfarisi, Graduate Institute of Philosophy, National Central University, Taiwan.

Editor: Nadhirariani

 

[i] Sakatani, Kaoru, Concept of Mind and Brain in Traditional Chinese Medicine, Data Science Journal, Volume 6, Supplement, 7 April 2007.

[ii] http://www.iep.utm.edu/avicenna/ diakses pada tanggal 20 September 2017

PPI Kawasan Amerika-Eropa kembali menyelenggaran 'Sharing Session' pada 20 Mei lalu. Kali ini, sharing dilakukan oleh PPI Irlandia. Melalui kegiatan ini, kita dapat mengenal lebih dekat PPI Irlandia, mulai dari sejarah, struktur, hingga program kerjanya. Selain itu, dalam kegiatan ini kita juga dapat mengetahui fakta-fakta seputar satu-satunya English speaking country di kawasan Uni Eropa ini. Untuk mengetahui informasi lengkap mengenai apa yang diinformasikan pada Sharing Session bersama PPI Irlandia kali ini, yuk kita lihat dokumen-dokumen berikut.

Hasil SSE3 dgn PPI Irlandia-1-6

Hasil SSE3 dgn PPI Irlandia-7-25

Pembagian Ta'jil oleh para pelajar di Sudan

Khartoum - Setelah sebelumnya sukses mengadakan kegiatan buka puasa bersama mahasiswa/i Indonesia di Sudan, kali ini Biro Keagamaan dan Sosial PPI Sudan dan PPPI Sudan mengadakan kegiatan Takjil On The Road (TOTR) di sekitaran Pasar Induk kota Khartoum, Minggu (03/06/2018) pukul 17.15 waktu setempat.

Acara ini merupakan salah satu rangkaian dari program Semarak Ramadhan 1439 H dan merupakan program lanjutan dari tahun sebelumnya. Seperti takjil on the road yang ada di Indonesia, 20 menit menjelang waktu berbuka, panitia membagikan takjil gratis kepada para pejalan kaki dan para pengendara di sekitar jalan raya.

Pembagian Ta'jil kepada pengendara di jalan

Selain membagikan takjil, panitia pun menyediakan makanan khas Indonesia, berupa nasi kuning, opor dan rendang ayam serta mie goreng serta tak lupa berbagai makanan khas Sudan yang biasa disajikan saat berbuka puasa diantaranya Ashidah, Balilah, Balah, Ful, dan Mullah. Sajian ini bisa didapatkan apabila berbuka puasa di tikar-tikar yang digelar oleh panitia di sekitar lokasi kegiatan Takjil on The Road. Pada sesi “begal” Ramadhan kali ini pula, panitia ikut bergabung bersama Sudan Food Bank guna menyediakan hidangan berbuka puasa di pinggir jalan bagi masyarakat sekitar. Meniru kebiasaan masyarakat Sudan, sebelum azan magrib berkumandang, panitia "membegal" warga Sudan yang melintas agar berkenan berbuka di tikar yang disediakan panitia dengan menu khas Indonesia. Warga Sudan yang turut serta dalam kegiatan Takjil on The Road ini tampak sangat antusias, terlebih dengan hadirnya makanan khas Indonesia yang sangat sulit didapatkan di negara Sudan.

Gelaran tikar berbuka puasa di sekitar lokasi pembagian Ta'jil

Ketua dan Wakil PPI Sudan, yang turut ikut serta di lapangan sangat mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi oleh Panitia Semarak Ramadhan dan berharap kegiatan seperti ini akan menjadi agenda tahunan PPI Sudan kedepannya.

Selain itu, Ketua dan Wakil PPI Sudan beserta seluruh Panitia Gebyar Ramadhan 1439 H menyampaikan terima kasih yang luar biasa kepada para donatur dan dermawan yang telah memberikan sumbangsih terbaiknya pada Program Semarak Ramadan tahun ini. "Tidak lupa kami pun berterima kasih kepada para donatur yang telah memberikan donasi terbaiknya guna melancarkan Program Semarak Ramadan tahun ini. Semoga Allah swt senantiasa membalas setiap kebaikan yang tercurah."

Pertunjukan Drama Majapahit di Harbin

Harbin (27/5/18)– Kelompok Mahasiswa Indonesia dan Internasional berhasil menampilkan pertunjukan teater yang sangat menakjubkan. Opera berdurasi selama 90 menit yang bertajukMajapahit: The Golden Age of Archipelago ini berhasil memikat sekitar 500 penonton yang memadati gedung Activity Center, Harbin Institute of Technology, China.

Pementasan Drama Majapahit merupakan pertunjukan serial tiga para pelajar dari Indonesia di Harbin, China. Pertunjukan ini sejatinya merupakan hasil karya mahasiswa Indonesia dan dibantu mahasiswa asing yang berada di lingkungan Harbin. Sejak publikasi acara ini dilakukan, antusiasme penonton untuk menyaksikan pentas tahunan ini terbilang sangat besar.

Puluhan pelajar asal Indonesia dan pelajar asing (China, Korea Selatan, Rusia, Kazakhstan, India, Pakistan, Suriname, dan Bolivia.) terlibat di dalam pentas. Para aktor berhasil memerankan setiap karakter yang dimainkan pada cerita klosal ini dengan baik . Alur cerita, koreografi, musik dan tarian berpadu menghasilkan pertujukan drama yang kontemporer dan elegan.

Adegan dalam drama Majapahit

Tercatat dalam dua tahun berturut-turut, pelajar Indonesia yang tergabung dalam PPIT Harbin ini telah berhasil mementaskan lakon Rara Jonggrang (2016) dan Ken Arok (2017). "Ini merupakan pementasan ketiga para pelajar dari Indonesia di Harbin," kata Samuel Gilbert, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok Cabang Harbin.

Persiapan acara ini sudah dilakukan sejak beberapa bulan sebelumnya, seluruh panitia bekerja maraton siang hingga malam selama persiapan akhir acara ini. Hasilnya, pentas akbar yang diselengarakan di gedung teater HIT bisa berjalan dengan baik hingga mendapatkan standing ovation dari sekitar 500 penonon yang hadir pada saat acara.

Atase Pendidikan KBRI Beijing Priyanto Wibowo memberikan apresiasi kepada para pelajar Indonesia yang telah menampilkan pentas opera modern yang menunjukkan kekayaan seni dan budaya Nusantara selama tiga tahun berturut-turut. "Mudah-mudahan mereka bisa terus berkreasi untuk menyebarluaskan keanekaragaman budaya kita kepada dunia," katanya.

Adegan dalam drama Majapahit

Penonton yang menyaksikan pementasan opera ini memberikan kesan sangat baik terhadap para pemeran pada drama Nusantara yang menceritakan sejarah Kerajaan Majapahit dan pengaruh besarnya atas lahirnya Indonesia.

"That’s really great performance" Ujar Machun (22) salah seorang penonton asal Kazakhstan setelah festival ini. Bahkan, dia mengaku sangat terinspirasi dengan cerita pada malam itu.

Pada rangkaian Festival Seni kali ini, PPIT Harbin juga menyelenggarakan pameran Produk, Budaya dan Seni Indonesia. Sebelum dan pasca acara teater, antuasiame penonton terus berlanjut ke ruang eksibisi untuk mengunjungi lokasi pameran pakaian tradisional dan kuliner Nusantara.

Selain KBRI Beijing dan PPI Tiongkok, pementasan tersebut juga didukung oleh HIT, Kementerian Pariwisata RI, dan BLCI. Kegiatan ini merupakan media promosi pariwisata untuk Indonesia khususnya di kawasan China, “Semoga setelah kegiatan ini, masyarakat semakin mengenal Nusantara dan semakin banyak yang berwisata ke Indonesia” Ujar Bapak Chandra, salah satu Pejabat Kementrian Pariwisata RI yang hadir pada kegiatan tersebut.

Foto bersama seluruh pemeran dan panitia

Setelah pementasan opera berakhir, seluruh aktor dan panitia melakukan sesi foto bersama di atas panggung drama untuk mengabadikan momen penting ini. Tahun depan, PPIT Harbin berharap bisa menyelenggarakan acara yang lebih bagus dan spektakuler dengan konsep dan tema yang berbeda. Bravo PPIT Harbin.

 

Penulis: Putra Wanda, Mahasiswa Ph.D asal Indonesia, Kota Harbin, China

Editor: Nadhirariani

Suasana Pembukaan ICONIC 2018

Pada 26-29 April 2018 lalu, PPI Jerman bersama dengan PPI Amerika-Eropa menyelenggarakan dua acara secara beriringan, yaitu The International Conference of Integrated Intellectual Community (ICONIC) 2018 dan OISAA America-European Regional Symposium (Simposium PPI Amerop). Kegiatan yang diselenggarakan di Leibniz Universität Hannover dan DJH Braunschweig, Jerman ini merupakan wadah bagi para pelajar, akademisi, dan praktisi untuk berdiskusi. Sebagai hasil dari rangkaian kegiatan ini, para delegasi PPI Amerika-Eropa menerbitkan surat rekomendasi yang diharapkan dapat menjadi wujud sumbangsih bagi pembangunan negeri.

Dalam rangkaian kegiatan ini, ICONIC 2018 mengusung tema “Science and Technology for Sustainable Development”, sedangkan kegiatan OISAA America-European Regional Symposium (Simposium PPI Amerop) 2018 mengusung tema “Securing Indonesia’s Energy Sovereignty: The Security – Economy – Sustainability Nexus”. Kedua kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama dengan beberapa pihak, yaitu Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin, serta KJRI Hamburg sebagai Supporting Partner. Selain itu, kegiatan juga terselenggara atas dukungan dari Bank Mandiri, Telkom Indonesia, ITPC Hamburg, Techniker Krankenkasse, Tectona Teak, Tehbotol Sosro, Printhies, Turkish Airlines dan Khayangan Resort & Resto sebagai Sponsor, serta Radio PPI Dunia, RRI, Good News from Indonesia, Kompas, dan PPI Dunia sebagai Media Partner. Pihak panitia acara juga menjalin kerjasama dengan Social Science Research Network (SSRN), yang menjadi publishing platform dari karya ilmiah yang lolos seleksi dan dipresentasikan di konferensi ini.

Suasana Sidang PPI Amerika-Eropa 2018

Foto bersama setelah pembukaan Sidang PPI Amerika Eropa 2018

Kegiatan diawali pada hari Kamis, 26 April 2018 di DJH Braunschweig dengan rangkaian acara Simposium di Jugendherberge Braunschweig yang diikuti oleh 32 delegasi dari 17 negara di benua Amerika dan Eropa. Dalam kesempatan ini, banyak sekali yang dibahas oleh para peserta Simposium seperti pembahasan Laporan Pertanggungjawaban Pengurus, memilih Host Simposium tahun 2019, Pemilu Koordinator PPI Amerika-Eropa periode 2018/2019, serta Focus Group Discussion. Simposium PPI Amerika Eropa 2018 kali ini menghasilkan beberapa rekomendasi mengenai pembangunan bangsa di bidang energi, yang tertuang dalam SK Dewan Presidium PPI Dunia 22/SK/Presidium/PPI-Dunia/IV/2018. Pada intinya rekomendasi ini mencakup 3 sub-pokok bahasan, yaitu bidang ekonomi energi, kebijakan dan ketahanan energi, serta teknologi energi dan mencakup kurang lebih 30 butir pasal rekomendasi.

Prof. Juliana Sutanto menyampaikan keynote beliau mengenai smart parks

Bpk. Sandhy Widyasthana menyampaikan keynote beliau mengenai situasi start up di Indonesia

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan acara konferensi ICONIC yang dimulai pada hari Sabtu, 28 April 2018 di Audimax Leibniz Universität Hannover. Terdapat kurang lebih 250 peserta secara keseluruhan, dengan 49 karya ilmiah yang lolos seleksi dari 300 abstrak yang diterima. Konfrensi ICONIC kali ini dibuka dengan sambutan dari Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Federal Jerman, Arif Havas Oegroseno LL. M dan disemarakkan oleh beberapa narasumber diantara lain: Dr. Muhammad Dimyati, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti; Dipl.-Ing. Toto Suharto, Managing Director PT BOSCH Indonesia; Dr. Siswo Pramono, Kepala Badan Pengembangan dan Kebijakan Kementrian Luar Negeri; Prof. Ir. Tutuka Ariadji M.Sc. Ph.D., Ketua Ikatan Ahli Teknik Minyak Indonesia; Dr. rer. biol. bum. Boya Nugraha, Peneliti di Medisichine Hochschule Hannover; Prof. Dr.-Ing. Azhar Zam, Peneliti University of Basel; Prof. Juliana Sutanto, Profesor dari University of Lancaster; serta Sandhy Widyasthana, Portfolio Director MDI Venture Indonesia.

Berbagai informasi penting disampaikan oleh narasumber, mulai dari pentingnya sumbangsih ilmuwan Indonesia untuk proyek-proyek pembangunan berkelanjutan di tanah air, peran penelitian dan pengembangan dalam bidang energi dalam mendukung revolusi industry 4.0, tantangan dan peluang Industri di era 4.0 di Indonesia utamanya bidang manufaktur, diplomasi kelapa sawit indonesia, public health, teknologi robotik dalam pengobatan, smart parks, ekosistem start up Indonesia, serta kebijakan energi di Indonesia.

Peserta Simposium PPI Amerika-Eropa dengan Prof. Ir. Tutuka Ariadji M.Sc. Ph.D.

Kegiatan ditutup pada hari Sabtu, 28 April 2018 dengan pembacaan surat rekomendasi yang disusun oleh para delegasi PPI Amerika-Eropa sebagai produk akhir simposium, pengumuman Doorprize, serta penyeharan penghargaan karya-karya ilmiah terbaik di ICONIC 2018 (dimana mencakup Best Paper, Best Presentation, dan Most Innovative Idea), serta foto bersama. Karya tulis terbaik dalam ICONIC 2018 diantaranya adalah: (1) “Inappropriate Detailing Impact Towards Ductility of High Rise Reinforced Concrete Moment Frames Building in High Seismicity Area” karya Dennisa S.D. Purba, (2) “The Role of Islamic Financial Technology (FinTech) Start-up in Improving Financial Inclusion in Indonesia Case : Angsur” karya Hafiz B. Hermansyah, serta (3) “Smart Wet Injection Phantom Using Electrolyte Switch and Capacitive Sensor System for Dental Local Anesthesia Training” karya Eltrin Khotimah, Swastiana Eka Yunita, dan Adien Gumilang.

Penganugerahan pemenang kepada para penulis paper terbaik

Kegiatan ini telah sukses memberikan wadah untuk berdiskusi dan membangun koneksi bagi mahasiswa, peneliti, akademisi, maupun praktisi di Jerman. Kedepannya, diharapkan kegiatan ini dapat menjadi awal dari sumbangsih besar bagi perkembangan dan pembangunan Indonesia.

 

 

Kegatan Simposium PPI Asia Oseania di Thailand

Sabtu, 12 Mei 2018. Bertempat di hall Thammasat University, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Thailand (Permitha) mengadakan Simposium PPI Kawasan Asia Oseania 2018. Kegiatan ini merupakan puncak dari acara simposium yang dilaksanakan dari tanggal 11 hingga 13 Mei 2018. Kedutaan Besar Repupblik Indonesia (KBRI) Thailand melalui Prof. Dr. Mustari, M.Pd selaku Atase Pendidikan dan Budaya sangat mendukung acara ini karena merupakan ajang silaturahmi PPI dari berbagai negara di kawasan Asian Oseania serta menumbuhkan jiwa advokasi mahasiswa kepada masyarakat sekitar yang pada acara ini terfokus pada Human Trafficking and Migrant Workers.

Acara diawali dengan presentasi dua finalis kompetisi esai yaitu Siti Malikatul Mushowwiroh dan Adhitya Saputra Surbagung yang bertemakan End the Modern-day Slavery serta dilanjutkan dengan sesi diskusi. Meskipun kedua finalis masih muda namun pemaparannya sangat bagus serta dapat mengikuti sesi diskusi dengan sangat baik yang kemudian ditutup dengan coffee break. Setelah juri memberikan penilaian terhadap dua finalis tersebut, saudara Siti Malikatul Mushowwiroh dengan judul "Accomplish emancipation approach & role of youth as way to solve modern day slavery: cycle of society with unindependent economy will be like botched emancipation, no job opportunity. Suggested solutions: new creativity employment" dinobatkan sebagai juara pertama, serta saudara Adhitya Saputra Surbagung sebagai juara kedua dengan essainya yang berjudul "Globalization impact on ASEAN economic community(AEC): modern slavery, human trafficking, southeast asia hard labour migration".

Pembukaan simposium dilaksanakan setelah pemaparan esai oleh kedua finalis yang diawali oleh sambutan Ketua Panitia, Presiden Permitha, Koordinator PPI Kawasan Asia Oseania, Dean of Faculty Liberal Arts Thammasat University serta Wakil Duta Besar KBRI Thailand, laporan mengenai acara disampaikan oleh ketua panitia saudara Haerul Imam yang menyatakan bahwa segenap panitia telah mempersiapkan acara ini semaksimal mungkin sehingga acara ini dapat terlaksana dengan lancar meskipun masih ada beberapa kekurangan. Saudara Fadjar Mulya selaku Presiden Permitha mengucapkan terimakasih kepada seluruh panitia, KBRI Bangkok, seluruh delegasi PPI kawasan Asia Oseania, Thammasat University serta para undangan dan para pembicara yang telah turut andil dalam menyukseskan acara ini.

Suasana dalam kegiatan Simposium PPI Kawasan Asia Oseaenia

Zulfadli S.Kom selaku Koordinator PPI Kawasan Asia Oseania berharap hasil diskusi dari acara ini dapat menjadi bahan pembahasan pada simposium PPI dunia yang akan dilaksanakan pada tanggal 24-26 Juli 2018 serta memaparkan sejarah panjang modern slavery & human trafficking. Associate Professor Dumrong Adunyarittigun selaku Dean of Faculty Liberal Arts Thammasat University berterimakasih atas penunjukan Faculty Liberal Arts Thammasat University sebagai tuan rumah Simposium PPI kawasan Asia Oseania serta karena memperbolehkan mahasiswa Thammasat untuk ikut berpartisipasi dalam acara sebagai peserta sehingga dapat meningkatkan wawasan mengenai immigrant worker di kawasan Asia Tenggara. Selain itu, Bapak Dicky Komar selaku Wakil Duta Besar KBRI Thailand menyampaikan bahwa acara ini dapat menjadi ajang pembelajaran bagi seluruh peserta simposium sehingga dapat diimplemetasikan di masyarakat, terutama terkait immigrant worker & technical regulation of law. Beliau juga menyampaikan terimakasih kepada Thammasat University karena telah bersedia menjadi host dalam acara ini.

Prof. Dr. Ir Hj. Darmayanti Lubis selaku ahli di bidang ketenagakerjaan dan juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPD RI yang pada acara hari ini diundang sebagai keynote speaker menyampaikan perlunya goodwill dari semua pihak terkait untuk menciptakan regulasi yang tepat dan benar serta pentingnya pendataan yang menyeluruh terhadap TKI. Data sementara terkait daerah dengan jumlah penyumbang terbanyak TKI adalah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Setelah penyampaian materi oleh keynote speaker acara dilanjutkan dengan panel diskusi yang terdiri dari dua sesi. Sesi pertama disampaikan oleh Drs. H Hardi Selamat Hood selaku DPD RI - Kepulauan Riau dan Zulfadli S.Kom. Sesi kedua disampaikan oleh Asist. Prof. Dr. Sustarum Thammaboosadee selaku dosen dari Thammasat University yang bergerak di Interdisciplinary Studies dan Bapak Hartanto Gunawan selaku Coordinator Community Learning Centerfor Development of Humanity Wat Arun Rajawararam.

Pada sesi pertama, Drs. H Hardi Selamat Hood menyampaikan bahwa tenaga kerja yang merupakan skilled workers secara tidak langsung dapat meningkatkan harkat martabat NKRI sehingga patut diapresiasi dan didorong agar dapat meningkatkan kemampuan. Sebaliknya, unskilled workers biasanya selain ilegal, juga menimbulkan masalah di kemudian hari. Regulasi mengenai migrasi tenaga kerja sudah dirancang undang-undangnya di tingkat DPD, namun tetap memerlukan goodwill dari semua pihak. Selanjutnya saudara Zulfadli menekankan bahwa kita sebagai mahasiswa Indonesia di luar negeri dapat membantu hal-hal terkait immigrant worker sesuai dengan kemampuan dalam kapasitas kita, termasuk melalui pendekatan pendidikan, serta yang utama adalah melalui advokasi.

Pada sesi kedua, Asist. Prof. Dr. Sustarum Thammaboosadee menyampaikan bahwa human trafficking juga terjadi di Thailand terutama daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, sebagai contoh masuknya immigrant workers dari Myanmar. Ada pula berupa sex workers dari wanita muda Thailand. Dewasa ini banyak ditemukan pekerja legal namun digaji tanpa mendapat uang pensiun ataupun tanpa memberikan asuransi yang layak. Hal ini merupakan bentuk baru perdagangan manusia yang disebabkan oleh neo-capitalism influence. Bapak Hartanto Gunawan juga menekankan bahwa kita harus mencegah & menekan perdagangan manusia, terutama pada remaja perempuan yang mempunyai latar belakang hidup di desa yang miskin serta memiliki tingkat pendidikan yang rendah untuk menghindari mereka dari godaan menjadi pekerja seks dengan cara memberikan akses pendidikan seperti memberikan beasiswa, pelatihan, & bantuan dalam mencari pekerjaan yang layak setelahnya.

Garis besar dari seluruh rangkaian diskusi Simposium Asia Oseania tahun ini adalah human trafficking & modern slavery dapat ditekan melalui pendidikan, advokasi serta meningkatkan pembukaan lapangan kerja dan peningkatan ekonomi dalam negeri sehingga tidak perlu ke luar negeri hanya untuk mencari pekerjaan yang layak. Semua upaya ini perlu mendapat dukungan dari pemerintah, tetapi tentu dengan tidak dilibatkan ke dalam politik praktis sehingga dapat tetap berkesinambungan walaupun di bawah pergantian kekuasaan/transformasi politik.

Foto bersama seluruh peserta Simposium PPI Kawasan Asia Oseania

Kegiatan Simposium ditutup dengan rapat internal PPI Kawasan Asia Oseania yang dimulai dengan evaluasi satu tahun kepengurusan dibawah kordinasi Zulfadli (PPI Malaysia) selaku koordinator, kemudian juga dibahas hasil kajian dan rekomendasi PPI Kawasan Asia Oseania terkait masalah Human Traficking and Migrant worker. Kajian dan rekomendasi ini akan dibawa ke Simposium PPI Dunia di Moskow pada bulan Juli mendatang dan juga akan digabung bersama kajian PPI Kawasan lain (Amerika-Eropa dan Timur tengah-Afrika) yang kemudian akan dijadikan kajian dan rekomendasi PPI Dunia untuk pemerintah Indonesia. Rapat internal ditutup dengan terpilihnya PPI Tiongkok sebagai tuan rumah simposium kawasan PPI Asia Oseania 2019, serta Ester Liana (PPI Tiongkok) sebagai Kordinator PPI Kawasan Asia Oseania 2019-2020.

 

Kegiatan bersih-bersih PPI Sudan

Pada Jumat (11/05) KBRI Khartoum bekerjasama dengan PPI Sudan beserta seluruh masyarakat Indonesia di Khartoum mengadakan kegiatan yang bertajuk "Aksi Bersih-Bersih dan Senam Bersama" di Green Yard atau lebih dikenal dengan Sahoh Hodro, kota Khartoum.

Acara yang dibuka untuk umum ini melibatkan baik warga negara Indonesia maupun masyarakat Sudan. Kegiatan ini adalah wujud nyata atas kepedulian masyarakat Indonesia akan kebersihan dan kesehatan jasmani.

Dibuka dengan pembacaan surat Al Fatihah, acara dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh Duta Besar RI untuk Sudan dan Eriteria, Drs Rossalis Rusman Adenan, M.B.A.. "Saya sangat senang dengan acara ini. Aksi ini selain sebagai wadah kepedulian kita dalam hal kebersihan, juga sebagai sarana penyemangat untuk para mahasiswa/i indonesia untuk belajar, dan silaturrahmi antar warga negara Indonesia di Sudan." ucap beliau.

Acara pun kemudian dilanjutkan dengan senam bersama yang dipandu oleh saudara Faisal Syawie dan Hakim. Beragam lagu-lagu daerah dan senam khas Indonesia semakin menambah keasyikan senam pagi hari ini.

Setelah senam selesai, acara kemudian dilanjut dengan kegiatan bersih-bersih bersama dengan memungut sampah yang ada di Green Yard. Bapak Dubes secara langsung memberi arahan teknis dan menjelaskan akan pentingnya kebersihan untuk bersama serta memimpin secara langsung jalannya kegiatan bersih-bersih tersebut.

Para peserta yang mengikuti acara ini sangat bergembira karena diakhir acara panitia membagikan doorprise berupa uang tunai, voucher pulsa dan voucher makan gratis di Nusantara Resto. Acara diakhiri dengan sajian hidangan khas Indonesia. Acara makan-makan pun menjadi penutup acara pagi yang seru ini.

"Mungkin bagi peserta acara aksi bersih sudan bersih tadi pagi, membersihkan seluruh sudut green yard tidaklah mungkin, tapi setidaknya kami telah memberikan contoh bagaimana arti dari kebersihan yg sebenarnya lewat aksi tentunya" ucap salah satu peserta aksi pagi tadi.

 

Penulis: PPI Sudan

Editor: Nadhirariani

Kegiatan Futsal Cup PPI Sudan

Khartoum - Pada hari Sabtu, 5 Mei 2018, Biro Olahraga dan Kesenian PPI Sudan mengadakan kompetisi Futsal dalam rangka meningkatkan skill olah raga mahasiswa di Sudan.

Kompetisi yang diselenggarakan di Lapangan Futsal Muntazah Riyadh ini dilaksanakan pukul 07.00 CAT. Delapan tim turut berpartisipasi dalam kompetisi ini, yaitu Ghuroba FC, Tafsir FC, Mazid Club, Kahruba FC, Good End FC, Onga FC, Enqadz Prayboy FC, dan FBR Team.

Sebelum kompetisi dimulai, terlebih dahulu Ketua PPI Sudan, Muhammad Ruhiyat Haririe memberikan sambutan. Dalam sambutannya ia mengingatkan bahwa kompetisi ini ditujukan sebagai ajang silaturahmi dan refreshing dari kesibukan sehari-hari. "Ambisi dan emosi pasti ada dalam kompetisi, namun, di luar lapangan kita semua saudara", serunya. Setelah sambutan dari ketua PPI, Faisal Maulidi selaku panitia memberikan arahan dan hal-hal lain yang perlu diperhatikan saat bertanding.

Kompetisi ini berlangsung sangat meriah. Final yang cukup sengit antara Onga FC dan Ghuroba FC menjadi penutup kegiatan Futsal Cup ini. Dalam final tersebut, Onga FC menang setelah menaklukkan Ghuroba FC dengan skor 3-1. Dari tiga pertandingan yang dijalani Onga FC, mereka hanya kebobolan satu gol di laga final.

Di akhir acara, Panitia memberikan hadiah senilai 2000 SDG kepada Onga FC yang diwakili oleh saudara Isman sebagai kapten. Dilanjut dengan pemberian hadiah senilai 1500 SDG kepada tim runner up, Ghuroba FC yang diwakili oleh saudara Wafiq. Tak lupa, penghargaan pemain terbaik juga diberikan kepada saudara Ahmad Musawwir dari tim Mazid Club.

Selamat kepada Onga FC!

Semoga kompetisi ini dapat mempererat ukhuwah dan silaturahmi mahasiswa di Sudan.

 

Penulis: PPI Sudan

Editor: Nadhirariani

Copyright © 2021 PPI Dunia
All rights reserved
Mayapada Tower 1, Lt.19, Jl. Jend. Sudirman, Kav. 28
Jakarta Selatan 12920