Covid-19 Menggerogoti Pendidikan

  •   
  •   

Hingga 13 Maret terdapat 61 negara di Afrika, Asia, Eropa, Timur Tengah, Amerika Utara dan Amerika Selatan yang telah mengumumkan atau menerapkan pembatasan pembelajaran sekolah dan universitas. United Nations of Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menyediakan dukungan langsung untuk seluruh negara di dunia, termasuk solusi pembelajaran jarak jauh di masa COVID-19.  Berdasarkan data yang diperoleh dari UNESCO, penutupan sekolah akan melibatkan 421.388.462 anak di dunia tidak pergi ke sekolah.

Di Indonesia,  sejak diberlakukannya social distancing. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mendukung kebijakan pemerintah daerah untuk meliburkan sekolah-sekolah di daerahnya. Selain itu Nadiem juga meniadakan UN tahun ini, meniadakan ujian sekolah, bahkan membuat aturan khusus terkait kenaikan kelas dan penerimaan siswa baru sekolah. Hal ini dilakukan untuk menekan angka penyebaran COVID-19.

Semua lembaga pendidikan di semua jenjang pendidikan serempak memberlakukan kelas online, begitupun di Universitas. Langkah ini tentu bagus sekali, hanya pemerintah tetap perlu melakukan pengawasan terhadap keberlangsungan belajar di rumah, apakah efektif dan berhasil atau tidak.

Jika kita petakan secara geografis maka wilayah Indonesia berdasarkan kategorinya terbagi menjadi dua wilayah, wilayah perkotaan dan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Permasalahan proses belajar di sekolah perkotaan seperti kendala jaringan website, teknologi yang tidak memadai, lemah sinyal, juga biaya paket internet perlu ditinjau. Lalu apakah orang tua anak murid benar-benar membantu proses belajar anaknya di rumah. Jangan-jangan anak malah lebih sering memainkan game online-nya ketimbang mengikuti proses pembelajaran di kelas online.

Lalu bagaimana dengan anak murid yang tinggal di desa, di daerah 3T. Anak-anak yang tidak memiliki fasilitas teknologi dan jaringan, memiliki fasilitas buku sedikit, belum juga orang tua mereka yang kebanyakan tidak tertarik dengan pendidikan sehingga tidak acuh terhadap proses belajar anaknya di rumah. Orang tua yang lebih menyukai anaknya membantu mereka di ladang dan kebun daripada bersekolah. Ketidakadaan fasilitas membuat anak-anak yang tinggal di wilayah dalam lebih rentan mengalami putus belajar.

Yang disebutkan di atas adalah sekelumit permasalahan yang perlu diperhatikan pemerintah, yaitu tentang kekhawatiran ketidakberhasilan proses pembelajaran online selama karantina COVID-19 baik di kota maupun di daerah 3T. Hal ini tentu harus segera ditinjau dan dibenahi agar tidak berdampak panjang. Siswa yang harus tertunda proses pembelajarannya akibat penutupan sekolah akan mengalami trauma psikologis dan mengalami demotivasi belajar.

Untuk itu diperlukan sebuah kebijakan lebih lanjut dari pihak pemerintah baik pusat maupun daerah untuk memonitoring kegiatan belajar mengajar di rumah dan memikirkan strategi khusus yang mengikat orang tua terlibat aktif dalam proses belajar di rumah. Pemerintah juga perlu memfasilitasi buku pelajaran dan buku bacaan tambahan untuk anak terlebih untuk mereka yang tinggal di wilayah 3T.

Sebagai bangsa yang besar, Indonesia harus mampu beradaptasi dengan dampak pandemi ini, terutama dalam reformasi pendidikan. Dengan pengelolaan yang baik Indonesia akan tetap dapat mendidik generasi emasnya dan meneruskan mimpinya menjadi negara maju.

Penulis: Sunarto Natsir, Education Management Anadolu University. Turki

Editor: Nuansa Garini, Mass Media, Pusat Media dan Komunikasi, PPI Dunia 2019/2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.