Ritus-Ritus Kebahagiaan

  •   
  •   

Mari kita mulai dengan sebuah pertanyaan. “Pada umur berapa rata-rata manusia mulai bisa mengingat?”. Aku kira, untuk mengingat kapan kita mulai dapat mengingat cukup sulit. Aku sendiri tidak ingat. Tapi bagaimana dengan pertanyaan ini, “Siapa nama gurumu di kelas 1 SD”?. Aku akan menjawab “Bu Neneng” dan aku dapat menggambarkan perawakannya dengan cukup baik. Lalu bagaimana dengan pertanyaan ini, “Siapa nama gurumu ketika kamu masih di Taman Kanak-kanak (TK)?”. Aku tidak dapat mengingat siapa guruku pada waktu itu, tapi aku dapat mengingat beberapa keping gambar abstrak bersama beberapa temanku terekam di dalam memori. Bagaimana denganmu?. Jika kita sepakati, dua pertanyaan terakhir menunjukkan bahwa rata-rata manusia mulai dapat memfungsikan daya ingatnya sekitar umur 5 sampai 6 tahun. Dan ingatan serta kemampuan berfikir mulai berfungsi sempurna pada umur 7 sampai 8 tahun. Maka dari itu sekolah dasar biasanya memiliki batas umur minimal untuk menerima siswa baru, yaitu  7 tahun. 

Kemampuan mengingat dan berpikir adalah salah satu ciri yang paling menonjol yang dimiliki manusia. Tidak ada satu pekerjaan manusiapun yang tidak berangkat dari hasil olah pikirnya sendiri, baik secara sukarela maupun terpaksa. Pada umumnya, manusia cenderung melakukan sesuatu yang ia suka, ia butuhkan, dan atau ia inginkan. Semua ini dipengaruhi oleh naluri dan informasi yang ia miliki. Naluri manusia membutuhkan makanan, sehingga ia akan selalu terdorong untuk mencari makanan dan memakannya ketika ia lapar. Sama halnya dengan informasi, seseorang yang membutuhkan makanan berprotein tinggi dan ia tahu bahwa salah satu makanan yang mengandung protein tinggi adalah ikan, ia akan menjadikanya sebagai salah satu yang masuk ke dalam daftar makanan sehatnya. Begitu seterusnya pada setiap kelakuan hewan berakal ini. Dan pada akhirnya, apa-apa yang dikerjakan oleh manusia bermuara pada satu naluri mendasar, ialah kebahagiaan. 

Semua manusia ingin bahagia. Aku, kamu, dia, mereka, kita dan kata ganti lainnya menginginkan kebahagiaan. “Apa itu kebahagiaan?” adalah salah satu pertanyaan yang percuma diungkapkan, seperti memukul udara kosong. Sama halnya dengan orang yang bertanya “Apa itu manis”?, karena kedua pertanyaan tersebut tertuju kepada rasa, dan rasa tidak pernah cukup terwakilkan dengan kata-kata. Di salah satu tweet, aku pernah mengutip kata-kata Prof. Dr. Quraish Shihab, di dalam salah satu karya tulisnya beliau mengatakan “Jangan bertanya apa itu jeruk manis, tidak perlu juga membawanya ke laboratorium untuk mengukur kadar manisnya. Makan dan rasakanlah!”. Dengan demikian, kita tidak dapat mengurai hakikat makna kebahagiaan itu sendiri. Tapi mari mencoba mengais sisa-sisa yang dapat kita lakukan untuk membahasnya.

Benar, kita akan membahas kebahagiaan.

Jika kata-kata tidak mampu untuk mengungkapkan yang satu ini, maka tersisa bagaimana cara kita mencapainya. Sebenarnya, tanpa perlu menanyakan apakah seseorang sudah menempuh jalan untuk mencapai kebahagiaan, mereka pasti telah dan sedang menempuhnya. Hanya saja, karena ini adalah sebuah naluri, sehingga kebanyakan manusia merasa tidak perlu untuk membahasnya. Dari kebanyakan manusia ini, ada segelintir orang yang rela berpikir keras untuk mencapai kebahagiaan hakiki. Aku yakin kalian juga sudah mulai menebaknya. Benar, mereka adalah para filsuf. Dan sekali lagi benar, mereka berasal dari Yunani. Mungkin kalian sudah tidak asing dengan nama-nama seperti: Socrates, Plato, Aristoteles. Jika demikian, maka itu adalah kabar baik karena pembicaraan ini akan terasa lebih relate untuk kita semua. “Siapa mereka?”, mereka adalah para pencari kebahagiaan. Dan “Apakah mereka menemukannya?”, mungkin. Yang jelas, mereka memiliki pandangan dan cara yang berbeda untuk mencapainya. Tiap-tiap dari mereka telah menggagaskan cara berpikir yang baru untuk mencapai apa yang dinamakan kebahagiaan. Setelah ketiga orang ini berlalu, pikiran mereka tetap kekal. Gagasan-gagasan yang pernah diusung rupanya tidak berhenti dengan berhentinya kehidupan mereka. Tapi maaf, aku tidak dapat menuliskan pikiran apa yang mereka gagas di kehidupan ini. Hanya sekedar menyinggung ketiga tokoh tersebut karena apa yang terjadi setelahnya lah yang akan menjadi poin penting untuk kita.

Kalian tahu apa yang terjadi setelah mereka berlalu?

Semasa hidup, ketiganya adalah seorang filsuf yang juga seorang guru. Dengan begitu, jelaslah bahwa mereka memiliki murid. Dari murid-murid mereka inilah kemudian berbagai ide dan gagasan yang pernah mereka ciptakan berkembang. Aktifitas olah pikiran yang berlangsung di Yunani ini rupanya membuat mereka menjadi bangsa yang dikenal dunia. Bahkan, sejarah mencatat bahwa ada satu masa dimana masyarakat dunia banyak berperilaku seperti orang Yunani, berbicara dengan bahasa mereka dan berlaku dengan budaya mereka. Periode ini yang berlangsung selama kira-kira 300 tahun, dikenal dengan Helenisme. Karakter dari filsafat helenistik adalah selalu berusaha untuk mengatasi masalah-masalah yang dikemukakan oleh Socatres, Plato, dan Aristoteles. Ciri umum dari filsafat tersebut adalah menemukan cara bagaimana untuk menjalani kehidupan dan menghadapi kematian sebaik mungkin. Tekanan terbesar diberikan pada upaya menemukan apakah kebahagiaan itu dan bagaimana mencapainya. Setidaknya ada empat aliran filsafat Helenistik yang memiliki ide dan kiat-kiat yang berbeda. 

Kita mulai dengan Kaum Sinis atau Sinisme

Konon, suatu hari Socrates sedang memandangi sebuah kedai yang menjual berbagai barang, kemudian ia berujar, “Betapa banyak benda yang tidak aku butuhkan!”. Ungkapan ini bisa jadi merupakan moto dari aliran filsafat ini.

Kaum Sinis adalah satu dari aliran filsafat Helenistik yang dipelopori oleh Antisthenes di Athena sekitar 400 SM. Warna yang menjadi ciri dari filsafat ini adalah bahwa kebahagiaan tidak terletak pada kelebihan materi, kekuasaan, dan atau popularitas. Dan karena kebahagiaan tidak terletak pada hal-hal seperti disebutkan, maka semua orang dapat mencapainya. Jadi, kecenderungan mayoritas manusia saat ini yang bergantung kepada materi dan popularitas merupakan arus balik terhadap aliran ini. Bagi mereka, kebahagiaan sejati terletak pada sesuatu yang tidak mengambang, fundamental dan sederhana. Bahkan kata sederhana disini mungkin melampaui makna sederhana yang kebanyakan orang pahami. Paradigma mereka yang anti-mainstream akan kesederhanaan membuat orang-orang memandangnya dengan aneh. Bagaimana bisa?

Salah satu tokoh terbesar dari  kalangan ini ialah Diogenes, seorang filsuf dari Sinope yang hidup di dalam sebuah tong di tengah kota Athena. Siapapun dapat menyaksikan kesehariannya. Makan, minum, tidur, buang air, berjemur, melamun. Pakaiannya adalah dua helai kain yang hanya cukup untuk menutupi sebagian tubuhnya. Diogenes tidak memiliki apa pun kecuali sebuah mantel, tongkat dan kantong roti. Maka cukup sulit untuk merenggut kebahagiaan darinya. Kisah yang paling masyhur tentangnya ialah ketika Alexander Agung, Raja Macedonia saat itu menghampiri Athena untuk melihat filsuf besar ini. saat tu, Diogenes sedang berjemur, lalu Alexander Agung bertanya, “Apakah ada yang bisa aku lakukan untukmu?”. Lalu ia menjawab, “Ya. Menyingkirlah! Kau menghalangi matahari”. Dengan demikian, Diogenes telah membuktikan bahwasanya ia tidak kalah bahagia dibandingkan dengan pria agung di hadapannya.

Mereka juga beranggapan bahwa kebahagiaan tidak terletak pada kesehatan yang baik. Hal ini tidak berarti mengharuskan mereka untuk selalu berada pada keadaan tubuh yang tidak sehat, melainkan lebih kepada ketidakpedulian terhadap kesehatan itu sendiri. Dengan begitu, tidak ada lagi kekhawatiran pada diri mereka akan sebuah penyakit. Begitu juga dengan penderitaan dan kematian tidak boleh menggangu mereka. 

Lantas, mengapa mereka dinamakan Kaum Sinis?

Disebut sebagai kaum Sinis karena apatisme mereka terhadap penderitaan orang lain. Hal ini menjadi tidak mengherankan setelah mengetahui bahwa penderitaan yang ada pada diri mereka pun diabaikan, apalagi penderitaan orang lain. Kalangan ini juga cenderung tidak mempercayai ketulusan manusia dan kebenaran teoritis. Sama seperti kata “sinis”, yang berarti ketidakpercayaan yang mengandung cemooh, seperti jika kalian mengatakan suatu kebenaran kepada teman-teman, dan satu di antara mereka ada yang memandang sinis seakan tidak percaya dan merendahkan.

Praktek kehidupan sosial yang berdasarkan sikap apatis terhadap penderitaan dan ketidaktergantungan terhadap materi menjadikan mereka seorang asketik. Ketika seseorang telah mencapai tingkatan ini, maka -menurut mereka- kebahagiaan sejati telah didapat.

Selanjutnya adalah Kaum Stoik atau Stoikisme

Aliran filsafat ini dipelopori oleh filsuf asal Syprus bernama Zeno pada sekitar 300 SM. Setelah kapalnya karam, ia bergabung dengan kaum Sinis di Athena. Zeno sering kali mengumpulkan para pengikutnya di sebuah serambi. Nama stoik sendiri berasal dari kata Yunani (stoa) yang berarti serambi atau beranda.

Para pengikut Stoikisme terbilang kosmopolitan, dalam artian mereka lebih mudah menerima kebudayaan kontemporer ketimbang para ”filosof tong”. Jika kaum Sinis krisis akan kepedulian terhadap orang lain, maka kaum Stoik adalah sebaliknya. Mereka banyak memberikan perhatian terhadap persahabatan manusia, sibuk dalam dunia politik dan kebanyakan dari mereka adalah negarawan yang aktif. Salah satu tokoh terbesar dari kalangan ini adalah Cicero (106-43 SM), sang orator, filsuf, sekaligus negarawan. Beberapa tahun kemudian, seorang tokoh Stoik bernama Seneca (4 SM- 65 M) mengatakan bahwa “Bagi umat manusia, manusia itu suci”. Ungkapan ini kemudian menjadi slogan humanisme sampai sekarang.

Ajaran Stoik yang paling menonjol adalah bagaimana manusia bertindak menurut keteraturan hukum alam yang diselenggarakan Sang Ilahi. Penyakit, penderitaan, kematian adalah bagian dari sebuah rangkaian hukum alam. Tidak ada sesuatu yang terjadi kebetulan, seperti yang dikatakan Holmes bersaudara, “Alam semesta tidak malas”. Segala sesuatu terjadi karena ada sebabnya. Oleh karena itu, mereka menegaskan bahwa manusia hendaknya menerima dengan lapang dada apa-apa yang terjadi padanya. Manusia tidak akan pernah bisa menghindari takdir. Dalam istilah awam, stoikisme kadang-kadang disebut sebagai “menderita dalam kesunyian”. Kini istilah stoic digunakan di dalam bahasa Inggris yang berarti “orang yang sangat tabah”

Kebahagiaan versi stoikisme tidak akan pernah tercapai bagi para pemberontak. Penolakan demi penolakan terhadap apa yang terjadi pada diri seseorang hanya akan menjadikannya semakin sengsara. Sebaliknya, mereka yang berusaha sedikit demi sedikit untuk menanam  sebuah praktek “tawakkal”, yaitu menerima segala yang telah dan akan terjadi, maka suatu saat akan menuai kebahagiaan yang hakiki. 

Dari uraian berikut, dapat ditentukan sebuah titik temu antara kedua aliran diatas bahwasanya keduanya sama-sama menghendaki bahwa manusia harus membebaskan diri dari kemewahan materi. Meski keduanya bertolak dari ide seorang filosof yang sama, yaitu Socrates, tuan dari proyek filsafat “Bagaimana cara manusia menjalani kehidupan dengan baik”, ia -Socrates- juga memiliki seorang murid yang mana gagasannya sedikit berbeda dengan para pendahulunya. Ialah Aristippus. Ia percaya bahwa tujuan hidup adalah kenikmatan indriawi setinggi mungkin. Katanya, “Kebaikan tertinggi adalah kenikmatan dan kejahatan tertinggi adalah penderitaan”. Tujuan dari ungkapan ini ialah usaha untuk menghindari penderitaan, yang mana bertolak belakang dengan dua aliran terdahulu yang berpedoman denagan “menahan penderitaan” tersebut.

Gagasan Aristippus ini kemudian menjadi salah satu corak yang paling menonjol dari kaum selanjutnya, yaitu  kaum Epikurian atau Epikurianisme.

Sama seperti pendahulunya, Epikurianisme juga merupakan aliran filsafat yang berkembang pada periode Helenisme yang didirikan oleh Epicurus (341-270 SM) di Athena sekitar 300 SM. Filsafat ini menggabungkan dua mega ide dari Aristippus dan teori atom Democritus. Mereka juga dikenal sebagai “para filosof taman” karena di sana lah mereka hidup. Di atas gerbang masuk menuju taman, tertulis kalimat yang seakan-akan menginformasikan bahwa taman ini merupakan tempat terbaik bagi mereka yang sudah terlalu gerah dengan anggapan bahwa menahan penderitaan adalah baik untuk mereka, kalimat itu bertuliskan “orang asing, di sini kalian akan hidup senang. Di sini kenikmatan adalah kebaikan tertinggi”. 

Seperti yang telah disinggung, filsafat ini mengandung gagasan seorang Aristippus. Kenikmatan indrawi menjadi sangat penting untuk dipenuhi demi mencapai kebaikan dan kebahagiaan tertinggi. Kaum Epikurian juga menekankan bahwa kenikmatan tidak lantas hanya kenikmatan indrawi saja, nilai-nilai seperti persahabatan dan penghargaan terhadap kesenian termasuk di dalamnya. Akan tetapi, hasil-hasil yang menyenangkan dari suatu tindakan harus dipertimbangkan efek sampingnya. Jangan sampai hanya karena kalian menginginkan iphone 11, kemudian menangguhkan uang saku dan membuka tabungan yang pas-pasan untuk membelinya. Lalu kebutuhan lain yang terbilang primer malah terbengkalai, tidak dapat tercukupi. Juga jangka waktu dari kenikmatan tersebut, jika kenikmatan itu berjangka pendek, maka lebih baik ditahan demi kemungkinan mendapatkan kenikmatan yang lebih hebat, lebih kekal dan lebih besar dalam jangka panjang. Bukankah lebih menyenangkan pergi berlibur ke Inggris, mengunjungi 221B Baker Street tempat tinggal Si Detektif Sherlock Holmes dan temannya dr. Watson (yaa aku tahu dia hanya tokoh fiksi) dari pada menghabiskan uang jajan dan tabungan untuk membeli 200 bungkus pecel lele dalam satu waktu?! (fyi, aku suka pecel lele). 

Mega ide lainnya berasal dari Democritus dengan teori atomnya. Democritus percaya bahwa ada yang dinamakan “atom jiwa” yang mana jika manusia mati, maka atom jiwa akan terurai menyebar ke seleruh penjuru. Dengan ini, ia juga percaya bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian. Rupanya, teori inilah yang menjadi obat bagi para Epikurian untuk menanggulangi ketakutannya terhadap kematian. Mereka berpedoman bahwa untuk menjalani kehidupan yang baik, manusia perlu mengatasi rasa takutnya terhadap kematian. Epicurus mengatakan, “Kematian tidak menakutkan kita. Sebab selama kita ada, kematian tidak bersama kita. Dan ketika ia datang, kita tidak ada lagi”.

Kemudian, Epicurus meringkas filsafatnya dengan apa yang dinamakannya empat “ramuan obat”: Dewa-dewa atau tuhan bukan untuk ditakuti. Kematian tidak perlu dikhawatirkan. Kebaikan itu mudah dicapai. Ketakutan itu mudah ditanggulangi. 

Maka, dengan uraian dan empat “ramuan obat” di atas, manusia dapat mencapai apa yang dinamakan dengan kebaikan tertinggi dan kebahagiaan sejati, setidaknya itu yang dipercaya oleh Epikurian. Kalian percaya itu?

Tersisa satu aliran filsafat, dan yang satu ini adalah yang paling berbeda dari sebelumnya dan bisa dibilang perlu sedikit tambahan tenaga untuk memahaminya secara komprehensif. Maka aku sarankan jika kalian sudah cukup lelah membaca ritus-ritus ini, ambillah segelas air segar dan minumlah secukupnya. Aku juga tidak melarang jika kalian ingin minum teh atau kopi, karena yang terpenting ketika membaca dan mencoba memahami sesuatu adalah kenyamanan. 

Baiklah, jika kalian sudah cukup nyaman untuk membaca kembali, aku perkenalkan aliran filsafat ke empat yang mengalir pada periode Helenisme, aliran filsafat yang paling berpengaruh di akhir periode ini. 

Namanya Neo-Platonisme

Jika tiga aliran filsafat terdahulu semuanya berakar pada ajaran Socrates dan tokoh-tokoh sebelumnya seperti Democritus, maka yang satu ini memiliki kecenderungan filsafat terhadap apa yang diajarkan oleh Plato. Oleh karena itu dinamakan Neo-Platonisme. Tokoh paling penting pada filsafat Neo-Platonisme adalah Plotinus (sekitar 205-270 M) yang berasal dari Alexandria, kota yang menjadi titik temu antara filsafat Yunani dan mistisme timur selama berabad-abad. 

Untuk memahami filsafat Neo-Platonisme, kita perlu memulai dengan gagasan Plato mengenai “Dunia Ide”. Plato percaya bahwa segala sesuatu terdiri dari dua bentuk, yaitu materi dan ide. Ide disini menjadi asal muasal terbentuknya materi. Dimisalkan dengan kue jahe yang berbentuk manusia, atau binatang atau bentuk apapun. Jika kalian ingin membuat banyak kue dengan bentuk yang sama, maka kalian membutuhkan sebuah cetakan kue. Setelah kue jadi, kita dapat melihat bahwa kue satu dengan lainnya memiliki persamaan bentuk, meski juga tidak seratus persen sama. Mungkin salah satu dari kue itu memiliki bagian tangan yang kurang sempurna, dan yang lainnya kehilangan mata, atau perutnya berlubang. Dan itu tidak terjadi pada cetakan kue, kita akan mendapati cetakan kue dalam bentuk sempurna, lebih sempurna dari pada kue-kue tersebut. Kue-kue ini disebut sebagai raga dan cetakan kue yang lebih sempurna itu disebut sebagai ide. Karena itu bagi Plato realitas tertinggi adalah ide. Penjelasan ini juga mengantarkan kita pada sebuah perbedaan antara raga dan jiwa. Maka dari itu manusia disebut sebagai makhluk ganda karena memiliki raga yang temporer dan jiwa yang kekal.

Plotinus sampai kepada pemahaman semisal. Seperti sebuah api unggun besar yang percik cahayanya berterbangan di tengah malam. Baginya, api adalah Tuhan, percikan cahaya adalah jiwa manusia, dan benda-benda lainnya yang dingin karena malam adalah raga. Yang paling dekat dengan Tuhan adalah jiwa, sebagaimana yang paling dekat dengan api adalah percikannya.

Jika plato percaya dengan realitas gandanya, Plotinus tidak demikian. Ia memberikan banyak perhatian terhadap “pengalaman tentang kesatuan”, atau yang disebut dengan “pengalaman mistik”. Ia percaya bahwa segala sesuatu itu berasal dari Tuhan, dan semuanya mangandung pijaran lemah cahaya-Nya. Seperti setetes air yang mengalir menuju samudra, jiwa yang naik menuju Tuhan dan “menjadi Tuhan”. Karena Tuhan adalah sumber segala sesuatu dan pemilik kekuatan terbesar, maka “bersatu dengan-Nya” dapat diterjemahkan dengan apa yang dimaksud dengan kebahagiaan sejati. Itu karena sifat Tuhan yang tidak memiliki ketergantungan terhadap apapun, juga tidak membutuhkan apapun. Ia juga kekal, pantas bukan jika mereka yang berhasil naik dan “menyatu dengan-Nya” merasakan kebahagiaan tertinggi?!.

“Pengalaman mistik” atau “penyatuan” ini dapat dicapai melalui tiga langkah. Langkah pertama adalah penyucian, dimana manusia melepaskan diri dari materi dengan laku tapa. Langkah kedua adalah penerangan, dimana ia diterangi dengan pengetahuan tentang ide-ide akal budi. Lalu, langkah ketiga adalah “penyatuan” dengan Yang Esa yang melebihi segala pengetahuan. 

Dengan begitu, manusia akan sampai kepada tujuan hidup yang paling mulia, sebagaimana yang dituju adalah Tuhan, dan ia adalah Yang Paling Mulia. Berbahagialah bagi mereka yang dapat sampai kepada-Nya di dunia ini. 

Demikian adalah empat aliran filsafat paling masyhur pada periode Helenisme dengan segala gagasan dan ritus kebahagiannya. Masing-masing memiliki jalan yang berbeda untuk menjalani kehidupan dengan baik. Mana yang benar dan mana yang salah bagi manusia akan selalu kembali pada keyakinan. Sejarah juga telah mencatat bahwa mereka semua telah mencapai apa yang mereka anggap sebagai kebahagiaan hakiki. Masih banyak gagasan lain dari aliran yang berbeda yang membahas tentang kebahagiaan. Tapi cukup sampai di sini dulu, kalian mungkin sudah cukup lelah membaca. Terimakasih sudah mau menyempatkan untuk membaca tulisan ini. Sudah waktunya untuk beristirahat. Dan jangan pernah takut untuk berubah.

Sumber:

Gaarder, Jostein. Tanpa tahun. Dunia Sophie. Bandung: Penerbit Mizan PT Mizan Pustaka Anggota IKAPI. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sinisisme, http://wikipedia.org/wiki/Epikurianisme

Penulis: Ferdi Setiawan, PPMI Mesir

Editor: Budi Waluyo, Devisi Mass Media, Pusat Media dan Komunikasi PPI Dunia 2019/2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.