Kesiapan Sekolah di Luar Negeri: 5 Tips Menghindari Stres Merantau di Tanah Asing

  •   
  •   

Dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih dan aktivitas user di dunia maya yang semakin tinggi, jumlah masyarakat Indonesia yang ingin melanjutkan kuliah atau memulai pendidikan di luar negeri pun meningkat. Alasan umum yang sering ditemui adalah untuk memperluas wawasan dan koneksi, serta memberikan nilai plus saat melamar pekerjaan selepas meninggalkan bangku kuliah. Alasan lain yang dapat ditemui adalah keseruan berkeliling dunia yang sering terlihat dari foto-foto yang diunggah oleh teman-teman pelajar Indonesia di luar negeri.

Namun demikian, seperti yang kita ketahui, semua manusia pasti mempunyai masalah, begitu pula pelajar Indonesia yang sedang studi di luar, yang cukup berbeda jika dibandingkan dengan tantangan pelajar Indonesia di dalam negeri. 

Dalam 5 bulan ke depan, tim Pusat Informasi Kemahasiswaan PPI Dunia 2019/2020 akan membagikan sebuah artikel tiap bulannya mengenai masalah yang sering dialami oleh para pelajar Indonesia di luar negeri dan cara menghadapinya. Harapannya, tips-tips tersebut dapat membantu teman-teman yang sedang menghadapi berbagai permasalahan yang dimaksud, juga bermanfaat bagi teman-teman yang akan memulai perjalanan kuliahnya di luar negeri agar dapat mempersiapkan dirinya lebih matang lagi. 

Sebagai artikel debut, masalah pertama yang akan dibahas yaitu lingkungan tempat tinggal, termasuk di dalamnya kehidupan sosial, culture shock, teman, dan pergaulan di negara tempat menempuh studi. Tiap negara pastinya mempunyai karakter yang berbeda dengan Indonesia, sekalipun negara itu secara geografis dekat dengan Indonesia, misalnya Malaysia atau Brunei Darussalam. Tapi, tentunya semakin jauh letak geografisnya dengan Indonesia, maka semakin berbeda pula karakter dan budayanya. Misalnya, ada beberapa negara yang sangat ramah terhadap pendatang, ada juga yang tidak. Ada yang sangat mentolerir pemakaian hijab, ada juga yang masih menganggap hal itu tidak lazim. Bahkan ada yang menganggap berdoa sebelum makan itu sebuah hal yang wajar, dan ada juga yang menganggapnya sebagai sebuah hal yang berlebihan. Persepsi-persepsi masyarakat setempat ini lah yang kerap membuat para pelajar Indonesia di luar negeri merasa “insecure” dalam bergaul dengan orang setempat.

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh para peneliti di Universitas Dundee, Skotlandia, para pelajar yang kuliah di luar negaranya akan berhadapan dengan perbedaan kehidupan personal, tingkah laku, dan identifikasi sosial. Culture shock akan terjadi ketika para pelajar ini tidak mempunyai kemampuan dan wawasan yang cukup untuk mengatasi masalah perbedaan-perbedaan ini, sehingga menimbulkan stres yang dapat berdampak pada kehidupan sehari-harinya sebagai mahasiswa. Berikut 5 tips yang teman-teman dapat terapkan untuk mengurangi atau bahkan menghindari stres yang timbul dari perbedaan lingkungan tempat tinggal.

  1. Sadar.

Sebelum memulai untuk mengatasi sebuah masalah, teman-teman harus terlebih dahulu sadar kalau diri kalian sedang mengalami stres karena perbedaan lingkungan tempat tinggal. Selain itu, ketahuilah bahwa culture shock merupakan hal yang wajar dan dialami oleh hampir semua orang yang datang ke sebuah tempat dengan budaya yang berbeda dari tempat asalnya. So, you are not alone in this hole 🤗.

2. Membaur dengan pelajar internasional dan lokal.

Artistic Friends HD Wallpaper - Wallpaper Stream

Berteman dengan pelajar atau senior internasional lainnya akan membantu teman-teman untuk mendapatkan insights dari pengalaman mereka yang sudah pernah mengalami masalah yang teman-teman sedang alami. Hal ini bisa dilakukan dengan bergabung dengan club, circle, atau organisasi lainnya yang terbuka untuk mahasiswa internasional. Join di PPI negara tersebut juga boleh banget, loh! Siapa tahu tips dari mereka juga bisa berguna bagi teman-teman. Atau jika di dalam lingkup pertemanan masih belum ada yang bisa mengatasi masalah ini dengan tuntas, setidaknya teman-teman bisa share the mutual feeling, yang pastinya akan membantu mengurangi stres yang teman-teman rasakan. Terlebih, teman-teman bisa berdiskusi dengan mereka untuk mendapatkan sebuah solusi yang terbaik untuk mengatasi culture shock.

3. Cari tahu cara kamu mengurangi stres.

Stress Relief Workshop | New Canaan Chamber

Untuk dapat mengatasi culture shock, teman-teman juga perlu tahu hal apa yang dapat mengurangi tingkat stres teman-teman. Mulai dari bercerita mengenai hal yang menyebabkan stres ke orang tua, saudara, sahabat, atau Tuhan, untuk sekedar mengeluarkan uneg-uneg dari hati. Hingga menonton film komedi yang menghibur. Perlu diingat, cara menghilangkan stres yang teman-teman ambil tetap harus berada di koridor yang benar dan sesuai dengan budaya kita. Jangan sampai teman-teman malah terjerumus ke hal-hal negatif, seperti pemakaian narkoba dan narkotika atau kecanduan terhadap alkohol, yang dapat mengganggu aktivitas kita sebagai pelajar.

4. Fokus pada tujuan utama kita.

Is a target-date fund a bull's-eye for your retirement plan?

Alasan kita berada di negara tersebut adalah untuk menimba ilmu yang pastinya akan memperkaya wawasan kita dan menambah nilai jual kita di dalam bursa lapangan kerja. Impian yang ingin teman-teman raih jangan hanya disimpan di dalam otak saja, tapi juga perlu ditulis di sebuah kertas lalu menempel kertas ini di tempat yang selalu terlihat tiap harinya. Karena dari kita menulis pun, impian-impian tersebut akan lebih direkam oleh otak kita. Selain itu, dengan tiap hari melihat daftar impian ini, secara otomatis teman-teman akan selalu berorientasi untuk meraih impian tersebut dan pada waktunya (due date), akhirnya teman-teman dapat berhasil meraih impian tersebut. Hal ini juga dapat membantu teman-teman untuk mengurangi atau bahkan menghindari hal-hal negatif atau hal-hal yang kurang produktif.

5. Dan tips yang terakhir adalah untuk membiasakan dan menerapkan open mindset.

Staying Up to Date in Design Industry – eWebDesign

Perlu diingat bahwa teman-teman berada di sebuah lingkungan dengan berbagai macam budaya. Ketika teman-teman dihadapkan pada situasi dimana orang sekitar bertindak tidak sesuai ekspektasi teman-teman, so don’t jump into conclusion directly. Sebaiknya teman-teman berpikir dahulu apa yang menyebabkan mereka bertindak seperti itu, apakah dari latar belakang mereka, budaya atau hal lainnya. Cobalah untuk menelaah dan mengerti apa yang mereka pikirkan atau rasakan. Pola pikir secara objektif dan sikap menghargai orang lain ini yang akan membuat teman-teman dapat beradaptasi dengan waktu yang lebih cepat di sebuah lingkungan yang baru. Dan kalau teman-teman masih ragu, teman-teman bisa mengajak mereka berbicara secara baik sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dari komunikasi tersebut.

Untuk teman-teman yang akan memulai perjalanan studinya di luar Indonesia, teman-teman bisa mulai mencari terlebih dahulu tentang budaya, adat istiadat, dan wawasan lainnya tentang negara yang dituju. Apa jenis hiburan yang common untuk mahasiswa di negara tersebut? Bagaimana budaya mereka ketika menyapa satu sama lain? Atau, bagi teman-teman yang sudah di negara setempat, bisa mencari wawasan ini lebih dalam lagi. Namun demikian, tetap saja perlu kita tanamkan bahwa beberapa hal yang kita baca bisa jadi tidak serupa pada praktiknya. Karena itu, keep an open mind and good luck!

Sekian tips dari Pusat Informasi Kemahasiswaan PPI Dunia 2019/2020 mengenai perbedaan lingkungan tempat tinggal. Jika teman-teman mempunyai saran, kritik, atau ide tips lainnya, teman-teman dapat mengirimkan kami email ke pusdatin@ppi.id. Tunggu seri lanjutannya di Bulan Februari 2020!

Penulis Pusat Informasi Kemahasiswaan PPI Dunia 2019/2020
Editor Zhafira Aqyla S. S., staf bidang Mass Media, Pusat Komunikasi, Pusat Media dan Komunikasi PPI Dunia 2019/2020

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.