Hari Dokter Nasional

  •   
  •   

Resume Siaran RRI World Service

Hari Dokter Indonesia diperingati setiap tanggal 24 Oktober. Tahun ini, menjadi hari perayaan ke-69 sejak peresmian Ikatan Dokter Indonesia pada tahun 1950. Dari penuturan Silvester Hendry Leresina (Endy), seorang pelajar Indonesia yang sedang mengenyam pendidikan sarjana di Chongqing Medical University, Tiongkok, melalui program siaran KAMU (Kami yang Muda) bersama RRI VOI, bahwa masih banyak hal yang menjadi personal di dunia kedokteran di Indonesia meskipun hari dokter sudah cukup lama diperingati. Hal yang sama juga dituturkan oleh Langgeng Agung Waskito (Langgeng), yang baru saja menyelesaikan program doktoral di Department of Environemtnal and Preventive Medicine, Oita University, Jepang, melalui program siaran  Youth Forum. Dalam wawancaranya pada hari Senin, 21 Oktober 2019, Endy menyertakan beberapa contoh seperti masalah stunting, pelayanan kesehatan, begitupun dengan isu permasalahan BPJS, yang juga menjadi spotlight bagi kawan-kasiaranwan di Komisi Kesehatan PPI Dunia.

Pemeratan Jumlah Dokter dan Peningkatan Fasilitas Kesehatan di Indonesia
Sebagai Ketua Komisi Kesehatan di PPI Dunia sekaligus calon dokter, Endy menyatakan bahwa pemeratan jumlah dokter di Indonesia sudah bisa dikatakan cukup rata dengan merujuk data per bulan Mei 2016, ada 110 ribu jumlah dokter yang mana bila dikalkulasi ada sekitar 2000 pasien yang harus ditangani oleh satu orang dokter. Meskipun sudah terbilang cukup, Endy berharap jumlahnya bisa ditingkatkan sehingga seorang dokter hanya menangani 1000 pasien saja.

Endy berpendapat, masalah pemeratan jumlah dokter di Indonesia datang dari masing-masing individu dokter yang lebih memilih untuk tinggal di kota besar karena fasilitas (rumah sakit) yang lebih lengkap juga insentif yang cukup untuk memenuhi keperluan hidup apabila dibandingkan dengan kota-kota kecil dan daerah terpencil. Begitupun tutur Langgeng, berdasarkan pengalamannya pergi ke beberapa daerah terpencil seperti Merauke dan Palu, fasilitas dan infrastuktur di kota-kota di luar Pulau Jawa masih sangat tertinggal, padahal tanpa fasilitas dan infrastuktur yang menunjung, mengakomodasi pasien pun jadi lebih sulit. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah sudah mengadakan sebuah program bersnama “Nusantara Sehat”, yang bertujuan untuk mertakan jumlah dokter di setiap daerah. Endy sangat mengapresiasi inisiatif pemerintah, meskipun sampai saat ini jumlah dokter belum betul-betul merata.

BPJS dan Persoalannya
Defisit menjadi salah satu persoalan yang saat ini sering didengar dari program BPJS. Dari keterangan yang Endy berikan, menurutnya defisit ini dikarenakan manajemen yang kurang baik antara program BPJS dan rumah sakit. Meskipun begitu, ia melihat usaha pemerintah untuk menaikan iyuran bulanan menjadi jalan yang cukup baik untuk mentupi defisit ini. Menurutnya, kenaikan iuran BPJS mungkin dinilai sebagai sesuatu yang memberatkan bagi rakyat, khususnya rakyat kalangan menengah kebawah, meski jika dibandingkan dengan asuransi kesehatan dari pihak swasta yang jauh lebih mahal, Ia yakin perlahan-lahan rakyat Indonesia bisa menerimanya. Langgeng pun membandingkan, dengan program kesehatan yang ada di Jepang, yang mana pasien tetap harus membayar 30% dari treatment. Pasalnya, program BPJS ini pun belum mampu memberikan insentif yang sesuai kepada dokter yang menangani, bahkan bisa dikatakan dokter dihargai sangat murah. Jadi program BPJS ini memang bukan saja menimbulkan masalah kepada pengguna BPJS (pasien), tapi juga pihak rumah sakit, dan dokter itu sendiri, atau dapat dikatakan menimbulkan permasalahan ke berbagai sisi.

Apa yang Bisa Dipelajari dari Tiongkok dan Jepang
Sebagai mahasiswa kedokteran di Tiongkok, Endy menuturkan bahwa ada perbedaan yang cukup menarik antara sistem kesehatan di Indonesia dan Tiongkok. Menurutnya, setiap individu di Tiongkok, dari berbagai kalangan, sekalipun miskin, sudah dipastikan memiliki asuransi kesehatan. Pelayanan untuk setiap inidividunya pun sangat baik dikarenakan manajemen asuransi yang sudah baik. Berbeda dengan di Indonesia, yang mana pasienlah yang harus mendaftarkan diri untuk mendapatkan asuransi.

Harapan untuk Bidang Kesehatan di Indonesia
Besar harapannya kelak Indonesia bisa meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dari tingkat primer seperti Puskesmas dengan menyediakan tenaga kesehatan yang memadai. Saat ini Endy dan kawan-kawan di Komisi Kesehatan PPI Dunia, secara khusus, dan PPI Dunia secara umum, sedang mengusahakan realisasi sebuah program di bidang kesehatan. Diantaranya program Bantu Puskesmas dan Susu untuk Ibu yang nantinya akan dilaksanakan dalam kepengurusan 2019-2020 ini. Dengan begitu meskipun tidak berada di Indonesia, para pelajar tetap bisa berkontribusi untuk membantu dan meningkatkan kualitas kesehatan di Indonesia.

Dirangkum oleh:
Mutiara Syifa (PERPIKA) dan Selsa (PPMI Mesir)
PIC RRI, RPD, dan PPI TV, Pusat Komunikasi, Pusmedkom PPI Dunia 2019/2020

You may also like...

1 Response

  1. FIRNA NAHWA says:

    Masyaa Allah
    Tabarakallah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.