Sosbud in Action: Kebermanfaatan di Daerah 3T

  •   
  •   

Muhammad Ridho Sastrawijaya (Ketua Komisi Sosial dan Budaya PPI Dunia 2018/2019)

Pada 11-16 Mei 2019, Komisi Sosial dan Budaya PPI Dunia mendapatkan kesempatan untuk belajar memberikan kontribusi terbaik kepada masyarakat melalui program Sosbud in Action. Lokasi yang dipilih adalah Desa Aji Kuning, Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Adapun kriteria pemilihan lokasi ini berdasarkan statusnya sebagai daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Beberapa kegiatan yang diusung diantaranya semarak Ramadhan, sosialisasi pendidikan, kunjungan tokoh dan riset daerah perbatasan.

Pulau Sebatik adalah sebuah pulau kecil di sebelah timur laut Kalimantan. Secara administratif termasuk ke dalam Provinsi Kalimantan Utara. Pulau ini juga dikatakan sebagai pulau terdepan dan terluar di Indonesia. Pulau ini pun memiliki keunikan tersendiri karena adanya dua negara yang mendudukinya, Indonesia dan Malaysia. Layaknya pulau yang menjadi rebutan, Pulau Sebatik terbagi menjadi dua di tengahnya. Salah satu yang terkenal dari pulau ini adalah sebuah rumah yang ruang tamunya di Indonesia, dapurnya di Malaysia.

Cukup panjang perjalanan yang kami tempuh untuk bisa sampai ke sana. Selain menggunakan jalur udara dengan rute penerbangan Jakarta-Tarakan selama 3 jam, jalur laut juga kami tempuh dengan menggunakan speedboat dari Tarakan menuju Pulau Sebatik selama 3 jam pula. Kedatangan kami di sana disambut hangat oleh salah satu tokoh masyarakat yang bernama Pak Aji Amir Toga. Kami pun diperkenankan untuk beristirahat dan tinggal di rumah beliau selama berada di Pulau Sebatik.

Speedboat Tarakan-Pulau Sebatik.

Pak Aji termasuk tokoh masyarakat yang sangat di kenal di sana, karena selain beliau memang sudah lama tinggal di Pulau Sebatik, sejak tahun 1970an, beliau juga menjadi pengurus tetap Masjid Al-Aqsha, masjid terbesar di Desa Aji Kuning. Beliau bercerita kalau anak dan cucunya saat ini bekerja dan tinggal di Malaysia. Beberapa anaknya ada yang menikah dengan orang Malaysia. Beliau juga mengatakan selain mempunyai KTP, juga mempunyai IC atau Identity Card (KTP nya Malaysia).

Oleh Pak Aji kami dikenalkan dengan Ustadz Syukri, salah satu ustadz di Masjid Al-Aqsha, yang juga menjadi Pembina Remaja Masjid di masjid tersebut. Bersama Ustadz Syukri, kami diberi kesempatan untuk membantu kegiatan masjid selama bulan Ramadhan, seperti memimpin shalat berjamaah dan memberikan tausiah singkat. Kami juga dipertemukan dengan para remaja masjid untuk menyampaikan materi ke-Islaman tentang aqidah, akhlak dan fiqih. Ustadz Syukri juga mempersilakan kami untuk memberikan informasi dan motivasi seputar beasiswa pendidikan di luar negeri kepada siswa-siswi SMAN 1 Sebatik yang baru saja lulus di tahun ini.  

Memberikan materi fiqih perawatan jenazah kepada Remaja Masjid Al-Aqsha.
Memberikan informasi dan motivasi beasiswa pendidikan bersama Ustadz Syukri (paling kanan) dan alumni SMAN 1 Sebatik Tengah.

Selama di Pulau Sebatik kami banyak bertemu dengan masyarakat setempat. Kami juga berkesempatan untuk bertemu pemimpin masyarakat seperti Kepala Desa Sungai Limau, Bapak Mardin dan Kepala Camat Sebatik Tengah, Bapak Haji Haini. Mereka bercerita kepada kami mengenai kondisi kehidupan mereka di daerah perbatasan. Ada beberapa hal yang dapat kami tangkap berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara langsung dengan mereka, diantaranya:

Bersama Camat Sebatik Tengah, Pak Haji Haini.

  • Kesehatan

Fasilitas kesehatan yang tersedia hanya beberapa Puskesmas (pusat kesehatan masyarakat). Belakangan dibangun sebuah rumah sakit sebagai upaya meningkatkan pelayanan bagi masyarakat, namun hingga saat ini RS Pratama tersebut belum beroperasi. Fasilitas yang kurang memadai membuat warga harus menyebrang ke Pulau Nunukan untuk mendapati rumah sakit. Tak jarang warga lebih memilih untuk melintasi perbatasan dan pergi ke Tawau, Malaysia demi bisa menikmati pelayanan kesehatan yang layak.

  • Pendidikan

Tidak banyak sekolah yang dapat kita temui di Pulau Sebatik, hanya ada 5 SDN, 1 SMPN dan 1 SMAN di Kecamatan Sebatik Tengah. Sementara di Kecamatan Sebatik Barat, Sebatik Timur dan Sebatik Utara hanya terdapat beberapa SDN dan SMPN. Banyak anak yang putus sekolah dikarenakan orang tuanya bekerja di Malaysia. Mereka lebih memilih membantu orang tuanya bekerja sebagai buruh dibandingkan sekolah yang memerlukan biaya yang cukup banyak. Karena itu didirikanlah Sekolah Tapal Batas untuk membantu anak-anak Indonesia menikmati pendidikannya di jenjang pendidikan dasar di daerah perbatasan.

  • Ekonomi

Barang-barang sembako yang beredar di Pulau Sebatik kebanyakan berasal dari Malaysia, seperti beras, gula pasir, minyak goreng, gas LPG dan lain-lain. Sembako lain dari Indonesia sebenarnya ada, namun kerena kualitasnya yang sudah menurun karena panjang dan lamanya proses perjalanan dari luar pulau menuju Pulau Sebatik dengan menggunakan jalur laut, serta harga yang lebih murah membuat masyarakat lebih memilih menggunakan barang-barang dari Malaysia. Mata uang Ringgit Malaysia juga menjadi mata uang yang biasa digunakan selain mata uang Rupiah Indonesia.

Gula dari Malaysia.

  • Mata Pencarian

Berkebun dan bertani menjadi mata pencarian yang ditekuni oleh sebagian besar masyarakat di Pulau Sebatik. Beberapa masyarakat memiliki lahan yang cukup luas untuk menanam kakao dan kelapa sawit, namun karena minimnya pengetahuan dan kemampuan untuk mengolah hasil kebun dan taninya, kebanyakan mereka menjualnya kepada pengusaha di Malaysia.

  • Keamanan

Terbaginya Pulau Sebatik atas dua negara membuat banyaknya daerah perbatasan yang membatasi dua negara tersebut. Beberapa pos dibangun untuk menjaga keamanan keadaan sekitar, para Tentara Nasional Indonesia (TNI) pun siap siaga untuk menjaga daerah perbatasan selama 24 jam. Salah satu pos penjagaan yang terkenal adalah Patok 3, disana juga terdapat rumah dua negara. Namun ada saja yang memanfaatkan banyaknya daerah perbatasan ini untuk keluar masuk antar dua negara dan membawa barang-barang ilegal untuk disalahgunakan, seperti narkoba. Kasus ini selalu menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat sekitar untuk semakin memperketat daerah perbatasan.

Pos penjagaan di Patok 3.

  • Sosial Budaya

Kehidupan masyarakat di Pulau Sebatik sangat beragam dan menggambarkan kekayaan budaya yang di miliki Indonesia. Walaupun termasuk bagian dari Pulau Kalimantan, masyarakat sebatik datang dari berbagai rumpun, seperti Bugis, Makassar, Melayu, Dayak, dan sebagainya. Hidup rukun dan saling membantu sangat diterapkan di sana. Rumah-rumah di Pulau Sebatik kebanyakan berbentuk panggung dan masih menggunakan kayu sebagai pondasi utamanya.

Setelah 6 hari kami menghabiskan waktu di Pulau Sebatik, kami pun memutuskan untuk pamit kepada Pak Aji Amir Toga, Ustadz Syukri, Remaja Masjid dan masyarakat Desa Aji Kuning lainnya. Kami meminta maaf jika ada kesalahan yang diperbuat dan berterima kasih telah menerima kami di sana.

Bersama Pak Aji Amir Toga dan istri.

Terima kasih juga kami ucapkan kepada Bang Rizal dan Kak Wiwi yang telah menjadi perantara kami dengan tokoh masyarakat di Pulau Sebatik dan rela mengantar serta menjemput kami dari dan ke pelabuhan Pulau Sebatik. Juga kepada Bang Fadjar Mulya yang telah memberikan rekomendasi tampat dan membimbing kami selama kami berada disana.

Bagi kami sangat menyenangkan rasanya bisa datang dan melihat langsung Pulau Sebatik. Banyak pelajaran yang dapat kami ambil di sana. Besar harapan kami untuk Komisi Sosial dan Budaya tahun mendatang untuk melanjutkan program Sosbud in Action ini.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.